Region : Jurnal Pembangunan Wilayah dan Perencanaan Partisipatif
Region : Jurnal Pembangunan Wilayah dan Perencanaan Partisipatif, diterbitkan oleh Pusat Informasi dan Pembangunan Wilayah (PIPW) yang berada di bawah Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Sebelas Maret Surakarta, berisi tulisan tentang hasil penelitian, gagasan konseptual dan resensi buku dalam lingkup perencanaan wilayah dan kota serta perencanaan partisipatif. Jurnal terbit dua kali setahun pada bukan Januari dan Juli. Region : Jurnal Pembangunan Wilayah dan Perencanaan Partisipatif menerima tulisan ilmiah dalam bidang yang relevan dengan permasalahan tentang perencanaan wilayah dan kota serta pembangunan daerah.
Articles
21 Documents
Search results for
, issue
"Vol 20, No 1 (2025)"
:
21 Documents
clear
Identifikasi faktor kegagalan perencanaan megaproyek: Studi kasus Megaproyek Brebes Internasional Industrial Park (Kawasan Industri Brebes)
Muhammad Daffa Musyary;
Annisya Alifvia Soehartono
Region : Jurnal Pembangunan Wilayah dan Perencanaan Partisipatif Vol 20, No 1 (2025)
Publisher : Regional Development Information Center, Universitas Sebelas Maret
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.20961/region.v20i1.83674
Megaproyek Brebes Internasional Industrial Park (Kawasan Industri Brebes, KIB) merupakan salah satu proyek kawasan industri yang diamanahkan dalam Peraturan Presiden Nomor 79 tahun 2019 tentang Percepatan Pembangunan Ekonomi di Provinsi Jawa Tengah. Dengan luas 3.976 ha yang meliputi tiga kecamatan, yakni Kecamatan Bulakamba, Losari dan Tanjung, KIB akan menjadi kawasan industri terbesar se-Asia Tenggara. Namun, terdapat beberapa permasalahan yang menyebabkan pembangunan tersebut dialihkan ke Kabupaten Batang. Penelitian ini mengkaji kondisi pengelolaan megaproyek KIB dan mengidentifikasi faktor kegagalan dari perspektif pemangku kepentingan. Analisis deskriptif analitik dilakukan untuk memahami hubungan kondisi pengelolaan berbasis tinjauan literatur dan analisis skoring untuk menentukan faktor kegagalan mega proyek rencana KIB. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor tantangan keuangan pada mega proyek Kawasan Industri Brebes merupakan faktor kegagalan utama. Salah satu permasalahan utama dalam pembiayaan adalah pembebasan lahan yang mengalami permasalahan karena banyak makelar tanah yang terlibat menyebabkan lonjakan harga lahan di Brebes melebihi Nilai Jual Objek Pajak. Hal tersebut menyebabkan biaya pembebasan lahan meningkat hingga melebihi anggaran awal sehingga target pembebasan lahan tidak tercapai hingga akhir tahun 2021.
The driver of global agricultural value chains: Evidence from 6 ASEAN Countries
Ariyo Dharma Pahla Irhamna;
Muhammad Firdaus;
Bustanul Arifin;
Anny Ratnawati
Region : Jurnal Pembangunan Wilayah dan Perencanaan Partisipatif Vol 20, No 1 (2025)
Publisher : Regional Development Information Center, Universitas Sebelas Maret
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.20961/region.v20i1.93403
This study investigates the drivers of global agricultural value chain (GAVC) participation in six ASEAN countries: Indonesia, Malaysia, the Philippines, Singapore, Thailand, and Vietnam. Employing panel geographically weighted regression, the paper analyzes the spatial heterogeneity of factors influencing global agricultural value chain participation. Our findings reveal significant variations in the impact of tariffs, FDI, agricultural land area, inland waters, and trade balance across countries. Tariffs emerge as a crucial factor in enhancing competitiveness in Indonesia, Singapore, and Thailand, aligning with trade theory. FDI positively influences Malaysia's global agricultural value chain participation, emphasizing attracting foreign investment. Agricultural land area plays a pivotal role in Indonesia and Thailand, highlighting the significance of resource endowments. Inland waters contribute significantly to agriculture in the Philippines, while their impact in Indonesia suggests potential inefficiencies in water management. Trade balance in food products positively affects global agricultural value chain involvement in Thailand and Vietnam. These findings underscore the need for tailored policies to address the unique characteristics of each ASEAN country. Future research should explore the long-term implications of these factors and consider broader socio-economic and environmental contexts.
Sustainability-oriented Innovation pada Kampung Kreatif Dago dengan Pendekatan Actor Network Theory
Hediyati Anisia Sinamo
Region : Jurnal Pembangunan Wilayah dan Perencanaan Partisipatif Vol 20, No 1 (2025)
Publisher : Regional Development Information Center, Universitas Sebelas Maret
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.20961/region.v20i1.88019
Inovasi muncul dalam diskusi pembangunan sebagai sarana untuk meningkatkan kualitas hidup dan mengubah kebiasaan masyarakat, salah satunya inovasi berorientasi keberlanjutan atau Sustainability Oriented Innovation (SOI). Konsep SOI melihat inovasi dan mempertimbangkan keberlanjutan dari perspektif sosial, lingkungan, dan ekonomi merupakan proses yang melibatkan pemangku kepentingan yang saling berinteraksi. Fenomena Kampung Kreatif Dago Pojok menggambarkan konteks lain dari Sustainability-Oriented Innovation (SOI), yang mengacu pada inovasi untuk mencapai keberlanjutan ekonomi melalui upaya yang meminimalisir degradasi lingkungan dan kesenjangan sosial. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi peran aktor dalam perkembangan SOI di kampung kreatif di Kota Bandung, dengan studi kasus Kampung Kreatif Dago Pojok. Penelitian ini menggunakan pendekatan studi kasus dengan logika deduktif. Data primer melalui wawancara serta observasi dan data sekunder dianalisis dengan metode analisis isi (content analysis) dan analisis jejaring aktor dengan pendekatan actor-network theory (ANT). Temuan menunjukkan bahwa antar aktor memiliki keterlibatan yang digambarkan melalui perspektif aktor-jaringan. Berdasarkan hasil analisis yang dilakukan, dapat disimpulkan adanya peran aktor dalam perkembangan SOI di Kampung Kreatif Dago Pojok, yang terlihat pada empat tahapan yakni Problematisation, Interessement, Enrollment, dan Mobilisation.
Implementasi lokalitas berkelanjutan pada perencanaan ruang terbuka: Kasus “Nosintuvu” pada Huntap Balaroa
Irdinal Arief;
Harifuddin Thahir
Region : Jurnal Pembangunan Wilayah dan Perencanaan Partisipatif Vol 20, No 1 (2025)
Publisher : Regional Development Information Center, Universitas Sebelas Maret
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.20961/region.v20i1.79588
Dalam perencanaan berkelanjutan pada aras lokal, diperlukan partisipasi masyarakat yang aktif terlibat dalam setiap proses pelaksanaannya. Dalam penelitian ini, masyarakat tersebut adalah penduduk lokal yang tinggal di daerah terdampak bencana likuefaksi di Kampung Balaroa. Mereka direlokasi ke Hunian Tetap Balaroa (Huntap) dan mendapatkan bantuan dana stimulan untuk pemulihan dan kesejahteraan. Pasca bencana likuefaksi, terbentuk ikatan yang kuat dan keterlibatan yang majemuk pada masyarakat dan mendorong partisipasi masyarakat untuk saling bahu-membahu dan bekerja sama. Fenomena interaksi antar kerabat, maupun rasa keterikatan tersebut ternyata sudah terjadi sejak leluhur dengan filosofi “Nosintuvu”. Namun, bermasyarakat dalam Huntap Balaroa memunculkan beberapa dilema seperti tidak adanya ruang bersama untuk berkumpul (Tanalapa) untuk menciptakan rasa nyaman dan kekeluargaan. Upaya pemerintah dan lembaga donor untuk mewujudkan hal ini menggunakan pendekatan partisipasi masyarakat lokal. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif, dengan pendekatan partisipatif melalui focus group discussion. Hasil dari penelitian ini menghasilkan proses perencanaan ruang publik dan taman atau lapangan (Tanalapa) di Huntap Balaroa yang sesuai dengan filosofi Nosintuvu.
Kajian pola pergerakan penghuni kawasan berorientasi transit Lebak Bulus terhadap prinsip Transit Oriented Development (TOD)
Muhamad Naufal Alifiansach;
Paramita Rahayu;
Candraningratri Ekaputri Widodo
Region : Jurnal Pembangunan Wilayah dan Perencanaan Partisipatif Vol 20, No 1 (2025)
Publisher : Regional Development Information Center, Universitas Sebelas Maret
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.20961/region.v20i1.86774
Transit Oriented Development (TOD) merupakan salah satu alternatif pemecahan masalah kemacetan perkotaan akibat penggunakan kendaraan pribadi yang lebih tinggi dibanding transportasi umum. Kawasan Berorientasi Transit Lebak Bulus merupakan salah satu kawasan TOD yang ditetapkan di DKI Jakarta. Penghuni kawasan TOD akan cenderung lebih menggunakan transportasi umum, berjalan kaki, ataupun bersepeda karena sarana dan prasarana dapat diakses dengan mudah. Dengan menggunakan data hasil observasi, kuesioner, dan studi dokumen, kesesuaian karakteristik kawasan terhadap prinsip TOD dianalisis menggunakan teknik analisis skoring dengan skala Guttman. Setelahnya, kesesuaian pola pergerakan penghuni kawasan terhadap prinsip TOD dianalisis menggunakan teknik analisis deskriptif kuantitatif. Hasil menunjukkan bahwa kawasan penelitian belum memiliki karakteristik yang sesuai dengan prinsip TOD, tetapi terdapat rencana kawasan yang apabila terlaksana sesuai target, maka akan ada 3 dari 7 variabel yang sesuai (42,86%). Maksud dan tujuan pergerakan penghuni belum sesuai dengan prinsip TOD karena masih bersifat eksternal ke luar kawasan (68,3%). Pilihan moda pergerakan penghuni dalam melakukan pergerakan juga belum sesuai karena masih didominasi penggunaan kendaraan pribadi berupa motor (39,6%) dan mobil pribadi (13%).
Pengembangan aksesibilitas antar pusat kegiatan pada kawasan perkotaan bagian utara Kabupaten Semarang
Ani Farida;
Khristiana Dwi Astuti
Region : Jurnal Pembangunan Wilayah dan Perencanaan Partisipatif Vol 20, No 1 (2025)
Publisher : Regional Development Information Center, Universitas Sebelas Maret
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.20961/region.v20i1.79409
Kabupaten Semarang terus berkembang seiring perannya sebagai penyangga Ibukota Provinsi Jawa Tengah serta bagian Kawasan Strategis Nasional Kedungsepur. Bagian utara yang bertampalan batas dengan Kota Semarang menjadi kawasan berkembang dengan tumbuhnya pusat-pusat kegiatan yang perlu didukung dengan arahan pengembangan aksesibilitas untuk menghubungkan antar pusat-pusat kegiatan yang ada. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi arah pengembangan aksesibilitas antar pusat kegiatan melalui pendekatan kuantitatif dengan analisis density dan kinerja jalan. Analisis density memberikan pertimbangan dalam penentuan pusat dan sub-pusat kegiatan serta analisis kinerja jalan yang meliputi perhitungan indeks aksesibilitas, indeks mobilitas, serta tingkat pelayanan jalan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kawasan terpadat yang menjadi pusat kegiatan sesuai dengan sistem pusat permukiman pada rencana struktur ruang di RTRW Kabupaten Semarang Tahun 2023-2043, dengan tiga titik pusat kegiatan yaitu PKL (Pusat Kegiatan Lokal) Perkotaan Ungaran serta PPK (Pusat Pelayanan Kawasan) Perkotaan Bergas dan Pringapus. Antara pusat kegiatan satu dengan pusat kegiatan lainnya sudah terhubung oleh jaringan jalan dengan nilai aksesibilitas dan mobilitas yang telah berada di atas standar pelayanan minimum pada kelas D dan F. Arahan pengembangan aksesibilitas pada tahun 2043 dilakukan melalui pelebaran badan jalan sesuai standar pada ruas Jalan Karangjati-Pringapus.
Analisis Tinjauan Dokumen RPJM Desa Sidoharjo, Gunungkidul, DI Yogyakarta 2016-2021
Surani Hasanati;
Raden Rijanta;
Agus Joko Pitoyo;
Adina Muliawati
Region : Jurnal Pembangunan Wilayah dan Perencanaan Partisipatif Vol 20, No 1 (2025)
Publisher : Regional Development Information Center, Universitas Sebelas Maret
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.20961/region.v20i1.92026
Pembangunan merupakan sebuah proses terencana yang digunakan untuk mengingkatkan kondisi soaial, ekonomi, dan lingkungan. Pembangunan desa dilakukan berdasarkan dokumen pembangunan, seperti RPJMDes (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa). RPJMDes Desa Sidoharjo Kecamatan Tepus tahun 2016 – 2021 disusun berdasarkan RPJMD Kabupaten Gunungkidul. Namun, proses perencanaan dokumen RPJMDes memiliki banyak tantangan dan hambatan sehingga dokumen yang dihasilkan dapat memiliki keetidaksesuaian, baik secara teknis maupun substantif. Hal ini menyebabkan perlu adanya pengkajian ulang terhadap RPJMDes Desa Sidoharjo Kecamatan Tepus tahun 2016–2021. Review terhadap RPJMDes tersebut dilakukan untuk mengetahui isi atau komponen yang termuat dalam RPJMDes serta menemukan beberapa hal yang kurang sesuai pada beberapa peraturan perundang-undangan dan NSPM (Norma, Standar, Pedoman, dan Manual). Hasil penelitian menunjukkan RPJMDes Desa Sidoharjo tahun 2016-2021 sudah selaras dengan RPJMD Kabupaten Gunungkidul tahun 2016- 2021, tetapi juga tidak terlepas dari beberapa kekurangan, baik teknis maupun substansi.
Analisis kluster pengembangan sektor pertanian di Kabupaten Bogor berbasis karakteristik kewirausahaan pertanian
Syhabuddin Al Tapsi;
Lukman Mohammad Baga;
Feryanto Feryanto
Region : Jurnal Pembangunan Wilayah dan Perencanaan Partisipatif Vol 20, No 1 (2025)
Publisher : Regional Development Information Center, Universitas Sebelas Maret
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.20961/region.v20i1.87909
Kabupaten Bogor memiliki aktivitas ekonomi dominan dan unggulan pada sektor pertanian. Akan tetapi, kontribusi sektor pertanian masih lebih rendah dibandingkan sektor lain. Kinerja ekonomi sektor dan PDRB sering digunakan sebagai pendekatan pengukuran untuk pengembangan sektor industri di kawasan, sementara pendekatan karakteristik kewirausahaan belum banyak diadopsi pada pengembangan kawasan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi karakteristik kewirausahaan yang dapat menjadi indikator potensi pengembangan wilayah serta menganalisis potensi pengembangan sektor pertanian berbasis karakteristik kewirausahaan di Kabupaten Bogor. Dengan menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif, data sekunder tahun 2021-2023 dianalisis menggunakan analisis komponen utama dan analisis kluster k-means. Hasil analisis mengonfirmasi bahwa karakteristik kewirausahaan yang menjadi pembeda utama antar kluster antara lain jumlah wirausaha pertanian, skala usaha, sub sektor usaha pertanian, asal investor, bentuk usaha dan tingkat risiko usaha. Sementara itu, wilayah Kabupaten Bogor terbagi menjadi empat kluster, dengan mayoritas kecamatan berada dalam kategori cukup.
Peran stakeholder dalam pembangunan kawasan perdesaan Margomarem, Kabupaten Wonosobo
Ayu Annisa Annasihatul Ainaqo;
Zam Zam Masrurun
Region : Jurnal Pembangunan Wilayah dan Perencanaan Partisipatif Vol 20, No 1 (2025)
Publisher : Regional Development Information Center, Universitas Sebelas Maret
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.20961/region.v20i1.84668
Pembangunan kawasan perdesaan merupakan pembangunan antar desa yang dilakukan oleh banyak stakeholder secara kolaboratif sepanjang tahapan mulai pengusulan, penetapan, perencanaan, perda, pelaksanaan, hingga pelaporan dan evaluasi. Kawasan Perdesaan Margomarem mengintegrasikan lima desa (Maron, Tlogo, Menjer, Larangan Lor, dan Mlandi) di Kabupaten Wonosobo. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi para stakeholder yang terlibat dan perannya dalam setiap tahap pembangunan Kawasan Perdesaan Margomarem. Dengan menggunakan teknik analisis stakeholder mapping, hasil penelitian menunjukkan bahwa setiap tahap menunjukkan keterlibatan unsur stakeholder yang berbeda. Pada tahap awal (pengusulan dan penetapan kawasan) dan akhir (pelaporan dan evaluasi), stakeholder yang terlibat adalah unsur pemerintah dan masyarakat. Unsur swasta bergabung pada tahap perencanaan pembangunan dan penetapan kebijakan. Pada tahap pelaksanaan pembangunan, stakeholder yang terlibat yaitu unsur pemerintah, masyarakat, swasta, komunitas, dan akademisi. Pelaksanaan pembangunan merupakan tahap dengan stakeholder yang paling kompleks.
Studi aspek infrastruktur dalam penentuan pusat kecamatan pada perimeter kawasan Ibukota Negara Nusantara
Rulliannor Syah Putra;
Nadia Almira Jordan
Region : Jurnal Pembangunan Wilayah dan Perencanaan Partisipatif Vol 20, No 1 (2025)
Publisher : Regional Development Information Center, Universitas Sebelas Maret
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.20961/region.v20i1.79899
Peningkatan kebutuhan ruang bagi penduduk Kecamatan Penajam memberikan dampak terhadap perubahan fungsi guna lahan, dari yang semula kawasan pertanian, perkebunan, dan hutan rakyat, beralih fungsi menjadi kawasan non pertanian seperti fasilitas umum dan perumahan. Sebagai kecamatan dengan rata-rata laju pertumbuhan penduduk per tahun 2010–2020 sebesar 2,45%, pertumbuhan penduduk Kecamatan Penajam diperkirakan akan terus mengalami peningkatan dalam beberapa dekade yang akan datang. Salah satu indikasi yang mempengaruhi hal tersebut adalah lokasi Kecamatan Penajam yang berbatasan langsung dengan lokasi Pembangunan Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara di Kecamatan Sepaku. Perubahan fungsi lahan dan jumlah penduduk tersebut dapat mempengaruhi bentuk struktur ruang Kawasan terbangun, khususnya penambahan percabangan jaringan jalan dan blok-blok bangunan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui lokasi pusat Kecamatan Penajam sebagai titik pertumbuhan wilayah, yang berpotensi sebagai wilayah tujuan perpindahan penduduk di sekitar IKN. Analisis yang digunakan dalam penelitian adalah analisis indeks sentralitas, analisis kepadatan penduduk, kepadatan bangunan, kepadatan jaringan jalan, indeks beta dan indeks entropi. Seluruh hasil pemetaan dan pembobotan kemudian diolah menggunakan teknik overlay untuk mendapatkan hasil rangkuman analisis tentang pusat kecamatan sebagai pusat pelayanan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pusat Kecamatan Penajam hanya memiliki satu sub pelayanan perkotaan dan empat sub pusat lainnya sebagai wilayah penyangga Pusat Kecamatan Penajam yaitu Kelurahan Penajam sebagai pusat pelayanan.