cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
Region : Jurnal Pembangunan Wilayah dan Perencanaan Partisipatif
ISSN : 18584837     EISSN : 2598019X     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Region : Jurnal Pembangunan Wilayah dan Perencanaan Partisipatif, diterbitkan oleh Pusat Informasi dan Pembangunan Wilayah (PIPW) yang berada di bawah Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Sebelas Maret Surakarta, berisi tulisan tentang hasil penelitian, gagasan konseptual dan resensi buku dalam lingkup perencanaan wilayah dan kota serta perencanaan partisipatif. Jurnal terbit dua kali setahun pada bukan Januari dan Juli. Region : Jurnal Pembangunan Wilayah dan Perencanaan Partisipatif menerima tulisan ilmiah dalam bidang yang relevan dengan permasalahan tentang perencanaan wilayah dan kota serta pembangunan daerah.
Arjuna Subject : -
Articles 263 Documents
Hubungan perkembangan urban sprawl dan nilai tanah di barat Kota Surakarta Wibawa, Alvin; Utomo, Rizon Pamardhi; Miladan, Nur
Region : Jurnal Pembangunan Wilayah dan Perencanaan Partisipatif Vol 17, No 1 (2022)
Publisher : Regional Development Information Center, Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/region.v17i1.34839

Abstract

Kota adalah tempat yang dinamis. Suatu kota akan selalu berkembang untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang berada di dalamnya. Kota yang semakin berkembang, maka akan menjadi magnet bagi penduduk di sekitarnya untuk mencari penghidupan yang layak. Hal ini yang dialami Kota Surakarta hingga menjadi magnet urbanisasi yang mengakibatkan fenomena urban sprawl dikarenakan perkembangannya merembet ke arah luar, salah satunya ke arah barat Kota Surakarta. Perkembangan yang tinggi menuntut kawasan barat Kota Surakarta untuk memenuhi kebutuhan ruang masyarakatnya. Tingginya permintaan akan ruang menjadikan pertumbuhan nilai tanah menjadi sangat pesat. Sedangkan, jumlah tanah yang berada di kawasan tersebut tidak dapat memenuhi permintaan. Pertumbuhan nilai tanah yang tiap tahun mengalami peningkatan yang tinggi membuat kekhawatiran tanah yang berada pada kawasan tersebut tidak terjangkau oleh masyarakat sehingga dibutuhkan pengetahuan mengenai hubungan antara perkembangan urban sprawl terhadap nilai tanah. Penelitian ini menggunakan pendekatan deduktif dengan menggunakan analisis korelasi pearson. Data yang digunakan peneliti dalam penelitian ini diperoleh melalui dokumen-dokumen institusional. Hasil analisis penelitian ini membuktikan bahwa komponen kepadatan memiliki nilai 0,357 yang berarti korelasi rendah terhadap nilai tanah, komponen jarak ke CBD memiliki nilai -0,481 dan variasi guna lahan memiliki nilai 0,424 yang berarti korelasi sedang dan komponen integrasi jaringan jalan utama tidak memiliki korelasi.
Penentuan variabel prioritas perkembangan hunian vertikal Kota Balikpapan berdasarkan preferensi pemerintah Assidiq, Prayudi Brillian; Nurrahman, Farid; Sholikah, Umi
Region : Jurnal Pembangunan Wilayah dan Perencanaan Partisipatif Vol 17, No 1 (2022)
Publisher : Regional Development Information Center, Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/region.v17i1.32362

Abstract

Pertumbuhan jumlah penduduk di Kota Balikpapan diproyeksikan mencapai 833.761 jiwa pada tahun 2032. Pada tahun 2014 angka kebutuhan hunian di Provinsi Kalimantan Timur mencapai 239.964 unit hunian. Penghuni rumah susun di Kota Balikpapan hanya sebesar 75% dari total 595 unit hunian. Adanya tumpang tindih kebijakan antara Peraturan Daerah Nomor 7 Tahun 2011 tentang Rumah Susun tidak relevan lagi dengan dokumen Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Balikpapan. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan faktor prioritas berdasarkan preferensi pemerintah menggunakan teknik analisis Analytical Hierarchy Process (AHP). Analisis AHP menghasilkan faktor dan variabel prioritas berdasarkan preferensi pemerintah yaitu faktor prasarana dengan variabel jaringan air bersih, faktor hukum dengan variabel kesesuaian penggunaan lahan dan faktor kepemilikan dengan variabel sistem sewa.
Kesesuaian Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) berbasis bahaya banjir menggunakan analisis hierarki proses di Kabupaten Kuningan Haris, Fikri Dwi; Sitorus, Santun R.P; Tjahjono, Boedi
Region : Jurnal Pembangunan Wilayah dan Perencanaan Partisipatif Vol 17, No 1 (2022)
Publisher : Regional Development Information Center, Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/region.v17i1.44172

Abstract

Indonesia memiliki kondisi alam yang tergolong rawan terhadap bencana alam. Penyebab terjadinya bencana di Indonesia bisa disebabkan oleh faktor alam dan faktor manusia. Adapun faktor manusia berupa penerapan penggunaan lahan tidak mempertimbangkan karakteristik bentang alam. Kabupaten Kuningan merupakan salah satu wilayah administratif yang terkena dampak bencana (banjir) akibat penggunaan lahan yang tidak mempertimbangkan karakteristik bentang lahan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kesesuaian antara pola ruang RTRW Kabupaten Kuningan (2011-2031) dengan daerah bahaya bencana banjir di Kabupaten Kuningan. Metode yang digunakan pada penelitian ini yaitu Analysis Hierarchy Process (AHP) dan pairwise comparison untuk penentuan skor faktor penyebab banjir dan longsor, interpretasi citra Sentinel visual tahun 2018 untuk menentukan penggunaan lahan di Kabupaten Kuningan serta metode analisis spasial melalui teknik overlay untuk menentukan daerah bahaya banjir dan longsor. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor bahaya banjir yang mempunyai bobot terbesar hingga terkecil menurut para pakar berturut-turut adalah curah hujan, kemiringan lereng, penggunaan lahan, jenis tanah, dan elevasi. Bahaya banjir dan longsor terdiri atas 3 kelas, yaitu rendah, sedang, tinggi. Hasil overlay antara faktor-faktor penentu bahaya banjir menunjukkan bahwa: a) Bahaya banjir kelas rendah memiliki luasan 42.771 ha; b) Kelas sedang memiliki luas 48.034 ha; c) Kelas tinggi memiliki luas 28.767 ha. Kesesuaian pola ruang pada kawasan budidaya dengan kelas bahaya banjir menunjukkan bahwa kawasan permukiman perdesaan pada kelas bahaya sedang memiliki luasan tertinggi sebesar 7.998 ha. Pada kelas bahaya tinggi, pertanian lahan basah memiliki luasan tertinggi yaitu 7.646 ha.
Back Matter Vol. 17 No.1 (2022) Rini, Erma Fitria
Region : Jurnal Pembangunan Wilayah dan Perencanaan Partisipatif Vol 17, No 1 (2022)
Publisher : Regional Development Information Center, Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/region.v17i1.59044

Abstract

Perencanaan kolaboratif dalam penyediaan air bersih di masa pandemi Covid-19 (Studi kasus Kecamatan Batununggal, Kota Bandung) Chrisna Trie Hadi Permana; Verlina Agustine
Region : Jurnal Pembangunan Wilayah dan Perencanaan Partisipatif Vol 17, No 1 (2022)
Publisher : Regional Development Information Center, Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/region.v17i1.55553

Abstract

Di tengah mendesaknya kebutuhan air bersih akibat pandemi Covid-19, sebagian masyarakat di Kota Bandung masih belum memiliki akses air bersih yang memadai. Pada umumnya mereka tinggal di kawasan permukiman kumuh yang tersebar di 191 titik. Di sisi lain, pemerintah daerah tidak dapat bekerja sendiri apalagi di tengah tantangan realokasi anggaran dan prioritas program akibat pandemi. Berbagai pihak telah mengupayakan adanya program pendukung untuk mengatasi gap tersebut. Pada saat pemerintah masih mengandalkan kelanjutan program-program penyediaan air bersih yang eksisting, seperti program SPAM Bandung Raya dan Pamsimas, aktor-aktor lainnya mulai menyalurkan program-program alternatif yang ditujukan untuk mendukung program pemerintah, termasuk dalam pengembangan kelembagaan, kapasitas pengelolaan, dan peningkatan teknologi. Berdasarkan studi kasus Kota Bandung dan tinjauan khusus pada kawasan permukiman kumuh di Batununggal, kami mengkaji, memetakan, dan mengidentifikasi peran para pihak di dalam proses perencanaan dan pelaksanaan program, serta pengelolaan knowledge dan pembiayaan pada level kota dan kawasan. Penelitian ini menggunakan kerangka analisis Actor Network yang didukung oleh metode documentary review dan interviews mendapatkan kesimpulan bahwa proses kolaboratif dalam penyediaan air bersih sudah berkembang baik pada level kota, namun peran serta aktor eksternal diperlukan untuk memperkuat prosesnya pada level kawasan.
Faktor - Faktor yang Mempengaruhi Kinerja Bank Sampah di Kota Surakarta Berdasarkan Persepsi Masyarakat Pengguna Bank Sampah Bayu Vigintan Yuswi; Paramita Rahayu; Ana Hardiana
Region : Jurnal Pembangunan Wilayah dan Perencanaan Partisipatif Vol 14, No 2 (2019)
Publisher : Regional Development Information Center, Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.1234/region.v14i2.22950

Abstract

Jumlah penduduk berbanding lurus dengan volume sampah yang dihasilkan. Volume sampah yang terus meningkat menjadi permasalahan kota besar di Indonesia, begitu juga Kota Surakarta. Pemerintah Kota Surakarta telah menetapkan kebijakan dalam RTRW Kota Surakarta tahun 2011 – 2031 untuk mengurangi volume sampah yang dihasilkan melalui penetapan program bank sampah pada tahun 2014. Pada tahun 2017, tercatat lebih dari setengah jumlah total bank sampah di Kota Surakarta kinerjanya tidak optimal dibandingkan sejak awal dicetuskan. Kegagalan mengelola sampah kota bukan hanya disebabkan kelemahan teknis, kurangnya dukungan finansial, lembaga pengelola yang kurang efisien, atau sistem yang kurang sempurna. Masyarakat adalah faktor utama yang menentukan berhasil tidaknya kegiatan pengelolaan sampah. Penelitian ini bertujuan mengkaji faktor – faktor yang mempengaruhi kinerja bank sampah di Kota Surakarta berdasarkan persepsi masyarakat pengguna bank sampah. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan deduktif untuk menguji teori terhadap kondisi nyata. Instrumen yang digunakan berupa kuesioner untuk mendapatkan data terkait persepsi masyarakat pengguna bank sampah. Teknik analisis yang digunakan adalah teknik analisis faktor. Hasil penelitian menunjukkan faktor yang mempengaruhi kinerja bank sampah di Kota Surakarta berdasarkan persepsi masyarakat pengguna bank sampah adalah ketersediaan sarana wadah sampah dengan pemisahan organik dan organik pada setiap rumah guna memilah antara sampah yang bisa dijual atau tidak. Keuntungan ekonomi, kesadaran, dan pendapatan masyarakat menjadi faktor lokasi yang mempengaruhi kinerja bank sampah. Bank sampah akan memiliki kinerja cenderung baik apabila didukung dengan adanya kelompok masyarakat yang sadar manfaat bank sampah dan memiliki pendapatan menengah kebawah. Bank sampah yang berada pada lingkungan kelompok masyarakat tersebut cenderung memiliki kinerja baik karena meskipun keuntungan ekonomi yang berikan bank sampah hanya sedikit, masyarakat tetap memanfaatkan bank sampah sebagai pengelolaan sampah di tingkat rumah tangga.
Permodelan kerawanan tanah longsor di Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar Muhammad Arief Hartono; Rizon Pamardhi Utomo; Nur Miladan
Region : Jurnal Pembangunan Wilayah dan Perencanaan Partisipatif Vol 17, No 2 (2022)
Publisher : Regional Development Information Center, Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/region.v17i2.40500

Abstract

Kecamatan Ngargoyoso merupakan kecamatan dengan jumlah peristiwa kejadian tanah longsor terbanyak di Kabupaten Karanganyar. Dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Karanganyar 2011-2031, terdapat peta kerawanan tanah longsor yang digunakan sebagai dasar untuk melakukan tindakan penanganan kejadian bencana tanah longsor. Namun, peta kerawanan yang terdapat dalam RTRW terlihat mengelompok dan tidak menunjukkan kenampakan fisik alam yang beragam. Ketelitian peta tersebut kurang baik sebagai dasar mitigasi pra-bencana tanah longsor di Kecamatan Ngargoyoso. Penelitian ini bertujuan untuk membangun permodelan kerawanan bencana tanah longsor di Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar. Peneliti menggunakan permodelan  yang dibangun menggunakan teknik overlay dari enam variabel, yaitu kemiringan lereng, jenis tanah, struktur batuan, lokasi patahan, curah hujan, dan tutupan vegetasi. Hasil dari permodelan ini membagi kerawanan menjadi tiga kategori, yakni kerawanan rendah, sedang dan tinggi. Kategori kerawanan rendah hanya mencakup 54,87 hektar, kerawanan sedang mendominasi dengan luasan 4236,62 hektar, dan kerawanan tinggi mencakup 1657,54 hektar. Kerawanan tinggi tersebar di bagian timur Kecamatan Ngargoyoso, sedangkan lokasi yang memiliki tingkat kerawanan sedang dan rendah tersebar di seluruh desa di Kecamatan Ngargoyoso. Terdapat perbedaan yang signifikan antara peta kerawanan dari dokumen RTRW dengan peta hasil dari permodelan. Lokasi kerawanan pada peta kerawanan RTRW terlihat mengelompok, sedangkan peta hasil permodelan memperlihatkan bahwa lokasi tingkat kerawanan tanah longsor tersebar dan disesuaikan dengan kondisi lapangan. Oleh karena itu, hasil dari permodelan dapat dianggap lebih detail dan mendekati realita.
Identifikasi karakteristik pedagang keliling (studi kasus Kota Surakarta) Parithustha Mahayati; Murtanti Jani Rahayu
Region : Jurnal Pembangunan Wilayah dan Perencanaan Partisipatif Vol 17, No 2 (2022)
Publisher : Regional Development Information Center, Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/region.v17i2.46926

Abstract

Kota Surakarta sebagai salah satu kawasan perkotaan penting di Jawa Tengah menjadi tempat berdagang bagi banyak pedagang informal, khususnya pedagang keliling. Keberadaan mereka dibutuhkan oleh warga kota walaupun dengan permasalahan status legal. Pedagang keliling memiliki sifat pergerakan yang leluasa sehingga mudah dijumpai dan diakses masyarakat. Penelitian ini berfokus pada kajian karakteristik pedagang keliling di Kota Surakarta. Objek pedagang keliling yang digunakan dalam penelitian adalah pedagang sayur dan pedagang makanan siap saji. Penelitian ini menggunakan metode pendekatan kualitatif dengan analisis deskriptif yang menekankan pada realitas dan proses suatu fenomena dapat terjadi agar mampu memberikan gambaran khusus terkait pedagang keliling. Hasil dari penelitian ini berupa karakteristik pedagang keliling yang diidentifikasi dengan lima indikator, yaitu karakteristik pelaku, lokasi, sarana fisik, modal, dan aktivitas berdagang. Strategi yang digunakan pedagang keliling untuk menjaga keberlangsungan usaha dilakukan melalui dua cara, yaitu diversifikasi produk sesuai kebutuhan konsumen serta mempertahankan kepercayaan konsumen terhadap pedagang keliling.
Prediksi spasial kawasan pertanian berkelanjutan di Provinsi Jawa Timur Gatot Subroto; Agung Witjaksono
Region : Jurnal Pembangunan Wilayah dan Perencanaan Partisipatif Vol 17, No 2 (2022)
Publisher : Regional Development Information Center, Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/region.v17i2.50966

Abstract

Kawasan Pertanian Pangan Berkelanjutan (KP2B) merupakan salah satu amanat untuk perlindungan pertanian pangan berkelanjutan berdasarkan Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2009. Namun, masih belum ditemukan model pengembangan KP2B dalam implementasinya. Pemerintah pusat dan pemerintah daerah cenderung hanya dapat menentukan luas KP2B dalam bentuk tabular. Padahal, diperlukan persebaran KP2B secara spasial untuk kebutuhan perencanaan tata ruang wilayah untuk menjamin akurasi pengendalian. Ketidakjelasan persebaran KP2B secara spasialmenjadi salah satu permasalahan dalam rencana peruntukan pemanfaatan ruangyang mengarah pada semakin sulitnya pengendalianperubahan peruntukan sawah ke bukan sawah. Sehingga, diperlukan model persebaran KP2B sebagai cara dalam pengendalian alih fungsi peruntukan sawah abadi untuk mewujudkan kemandirian, kedaulatan, dan ketahanan pangan. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan prediksi KP2B Jawa Timur melalui metode cellular automata. Tujuan tersebut dapat dicapai melalui tiga tahapan: (1) Menentukan sawah potensial untuk KP2B Jawa Timur; (2) Menghitung luas minimal sawah produktif Jawa Timur; dan (3) Membangun model spasial KP2B Jawa Timur. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa lahan potensial untuk pengembangan KP2B adalah sebesar 852.892,82 ha. Dengankebutuhan pangan minimum sebesar 4.983.888,5 ton, maka kebutuhan sawah minimum adalah seluas 767.617,01 ha. Model KP2B dibangun melalui metode cellular automata dan telah dilakukan validasi dengan tingkat akurasi sebesar 87%.
Keuntungan aglomerasi industri: studi kasus industri mebel di Kecamatan Kedung, Kabupaten Jepara Anggita Adelina; Paramita Rahayu; Ana Hardiana
Region : Jurnal Pembangunan Wilayah dan Perencanaan Partisipatif Vol 17, No 2 (2022)
Publisher : Regional Development Information Center, Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/region.v17i2.46549

Abstract

Industri mebel di Kecamatan Kedung memiliki persebaran spasial yang terkonsentrasi di bagian utara sesuai dengan arahan sentra kawasan industri di Kabupaten Jepara. Konsentrasi spasial membentuk aglomerasi yang berpotensi mendapatkan keuntungan-keuntungan tertentu dari kerja sama antar industri yang saling berdekatan. Tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi karakteristik industri mebel yang teraglomerasi di Kecamatan Kedung. Analisis tetangga terdekat (Average Nearest Neighbor, ANN) digunakan untuk mengetahui konsentrasi spasial industri mebel dan mendeliniasi kawasan mikro untuk dibahas lebih detail mengenai karakteristik dan keuntungan industri mebel teraglomerasi dengan menggunakan statistika deskriptif. Karakteristik industri mebel pada kawasan mikro terdiri dari industri kecil dan industri rumah tangga, yang melakukan proses terpisah setiap industrinya, diantaranya pemotongan kayu bulat, pembuatan komponen, perakitan mebel setengah jadi, dan pengepulan. Keuntungan aglomerasi yang didapat pada industri mebel di Kecamatan Kedung diantaranya lokalisasi pasar dan bahan baku, keuntungan tenaga kerja dari pengelompokkan asal tenaga kerja yang dekat dengan kawasan industri, keuntungan skala ekonomi dari meningkatnya omset dan meluasnya jangkauan pemasaran, serta limpahan pengetahuan dari kerja sama pertukaran informasi dan keterampilan. Sementara itu, keuntungan yang tidak didapat pada aglomerasi industri mebel Kecamatan Kedung adalah jenis keuntungan fasilitas dan keuntungan alam.