cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
Region : Jurnal Pembangunan Wilayah dan Perencanaan Partisipatif
ISSN : 18584837     EISSN : 2598019X     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Region : Jurnal Pembangunan Wilayah dan Perencanaan Partisipatif, diterbitkan oleh Pusat Informasi dan Pembangunan Wilayah (PIPW) yang berada di bawah Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Sebelas Maret Surakarta, berisi tulisan tentang hasil penelitian, gagasan konseptual dan resensi buku dalam lingkup perencanaan wilayah dan kota serta perencanaan partisipatif. Jurnal terbit dua kali setahun pada bukan Januari dan Juli. Region : Jurnal Pembangunan Wilayah dan Perencanaan Partisipatif menerima tulisan ilmiah dalam bidang yang relevan dengan permasalahan tentang perencanaan wilayah dan kota serta pembangunan daerah.
Arjuna Subject : -
Articles 263 Documents
Kesesuaian Komponen Kawasan Wisata Kampung Laweyan terhadap Aspek Revitalisasi Kawasan Wisata Cagar Budaya Bayu Seto Aji Pramana; Kusumastuti Kusumastuti; Rufia Andisetyana Putri
Region : Jurnal Pembangunan Wilayah dan Perencanaan Partisipatif Vol 12, No 1 (2017)
Publisher : Regional Development Information Center, Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/region.v12i1.11314

Abstract

Solo city which is formed from a long history has a distinctive character that is on aspects of culture and history. History and culture can not be separated from the development of the city because the city is also formed from past activities that become historical value in the present. One area in the city of Solo which has a strong historical and cultural character is “Kampung Laweyan”. It makes “Kampung Laweyan” become one of the unique areas and has potential that can be developed, the potential and unique characteristics of Kampung Laweyan is as a tourist attraction that presents cultural attractions and traditions that are still thick, especially the culture and tradition of batik. But the development of science and technology, making the historical and cultural aspects of urban development is increasingly lagging behind. The existence of “Kampung Laweyan” which put forward the historical and cultural aspects in its development also increasingly degenerate, so that the vitality of this region is also declining. Therefore in 2004 the revitalization began to revitalize the area into a tourist destination. This revitalization also reviewed its suitability as the Heritage Tourism Area. This research aims to determine the level of suitability Aspects of revitalization Tourism Laweyan Heritage Area. The method used in this research is deductive through scoring technique analysis. The data used are primary data through field observation and interview and secondary data through document study. The result of the research shows that only the aspect of the activity actor has the corresponding value while the other two aspects of tourist attraction and physical facility have unsuitable value. So that the overall assessment of conformity Aspect Revitalization of Heritage Tourism Area also has unsuitable value.
Potensi Klaster Industri Furniture dari Kayu di Wilayah Subosukawonosraten Rina Wulandari; Retno Widodo Dwi Pramono; Widyasari Her Nugrahandika
Region : Jurnal Pembangunan Wilayah dan Perencanaan Partisipatif Vol 13, No 1 (2018)
Publisher : Regional Development Information Center, Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/region.v13i1.15336

Abstract

Industrial cluster concept has become a policy reference for regional economic development in various countries. Industrial clusters are defined as the geographic proximity of firms that are interconnected with each other with related institutions in a particular field, linked by commonalities and complementarities. Reflecting on the success of several developed and developing countries successfully developing industrial clusters, the Government of Indonesia sets an industry cluster approach to enhance competitiveness and accelerate economic development as set forth in Peta Panduan Pengembangan Klaster Industri Prioritas Tahun 2010-2014. Nevertheless, industrial cluster concept is a multidimensional and complex. In many discussions, industrial cluster concepts assessed without regard to the scientific components contained therein, leading to the failure of implementation this concept. Empirically, in Indonesia, the industry is dominated by SMEs naturally agglomerate, while theoretically, industrial agglomeration is an embryo of an industrial cluster. Therefore, researcher is interested to identify the potential clusters of the case of wooden furniture industry in Subosukawonosraten based on the spatial distribution of the industry. The method in this study using case study method which consist Average Nearest Neighbor analysis to identify industrial agglomeration and continued with descriptive qualitative analysis techniques. Industrial agglomeration through several phase to be ideal industrial cluster. There are four agglomeration of wooden furniture industry which potentially develop into cluster in Subosukawonosraten. Agglomeration of wooden furniture industry in Sragen, Boyolali, and Karanganyar is the most potential to develop into cluster compared to others. That is industrial agglomeration which is in phase closest to ideal industrial cluster seen based on agglomeration size, type of actor, collaboration between actors, and market area.
Strategi Penerapan Cultural Landscape dalam Integrasi Potensi Kawasan Industri Rumah Tangga Kerajinan Bambu di Desa Walen Abraham Ardi Laksono; Kusumaningdyah Nurul Handayani; Sri Yuliani
Region : Jurnal Pembangunan Wilayah dan Perencanaan Partisipatif Vol 14, No 1 (2019)
Publisher : Regional Development Information Center, Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/region.v14i1.21722

Abstract

Desa Walen terletak di Kecamatan Simo Kabupaten Boyolali Provinsi Jawa Tengah, mempunyai ciri fisik sebagai kawasan industri rumah tangga kerajinan bambu. Kegiatan industri dimulai pada tahun 1930-1940, kawasan memiliki kesesuaian yang baik terhadap keberlangsungan kegiatan tetapi tidak dibarengi dengan RDTR yang tepat, dapat dikatakan demikian karena tidak adanya peruntukan bagi ruang dan infrastruktur sebagai penunjang potensi kegiatan kerajinan. Permasalahan diselesaikan melalui integrasi antara potensi kekayaan alam berupa kebun bambu, dengan kegiatan kerajinan dalam lingkup desain kawasan dengan infrastruktur penunjang kegiatan kerajinan. Kriteria perencanaan dan perancangan kawasan didapat melalui penerapan cultural landscape yang disesuaikan dengan lokasi, penerapan ini meliputi penataan kawasan memadukan potensi industri dan kultur kawasan. Metode penelitian dilakukan dengan studi literatur teori cultural landscape dan cakupan konsep desainnya, observasi lapangan melalui pemetaan, pengukuran site dan jarak antar site di dalam kawasan, dan wawancara terhadap pengerajin bambu, dan pemerintah terkait alur dan kegiatan produksi kerajinan bambu. Hasil strategi penerapan cultural landscape diharapkan menjadi suatu temuan untuk menyelesaikan permasalahan kawasan pada aspek perancangan arsitektural, dengan menerapkan ketiga konsep desain cultural landscape yaitu  konsep konteks pada pembentukan sistem kawasan, konsep organisasi pada pembentukan sirkulasi di dalam kawasan, dan elemen dengan tiga penerapan pada desain bangunan yaitu penerapan karakter arsitektural kawasan, makna simbolis siteplan terhadap desain, teknik konstruksi dengan kesesuaian fungsi.   Keywords: cultural landscape, kawasan industri rumah tangga, kerajinan bambu. 
Identifikasi Bias dalam Pemetaaan Konvensional pada Skala Lingkungan: Studi kasus Kelurahan Sewu dan Purwodiningratan Rufia Andisetyana Putri; Paramita Rahayu
Region : Jurnal Pembangunan Wilayah dan Perencanaan Partisipatif Vol 14, No 1 (2019)
Publisher : Regional Development Information Center, Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/region.v14i1.24966

Abstract

Pemanfaatan Sistem Informasi Geografis bertujuan untuk mempermudah mendapatkan informasi yang telah diolah dan tersimpan sebagai atribut suatu lokasi atau obyek. Perencanaan tata ruang membutuhkan data yang akurat agar memperoleh hasil yang sesuai dengan kondisi faktual;. Data-data pada lingkup kota akan selalu membutuhkan dukungan dari lingkup data yang ada di bawahnya. Kelurahan sebagai birokrasi level terbawah di sebuah kota, menjadi ujung tombak keakuratan dan ketepatan data baik data fisik maupun non fisik. Informasi spatial yang akurat pada Skala perencanaan lingkungan sangat penting. Studi ini menunjukkan bahwa terdapat sejumlah bias data spasial eksisting dengan sistem pemetaan kovensional pada skala lingkungan. Hal ini disebabkan oleh proses pembaharuan data untuk pemetaan tersebut belum dilakukan secara berkala. Kesulitan pembaharuan data tersebut disebabkan antara lain karena sistem basis data peta kelurahan saat ini masih belum berbasis data digital, tapi kovensional.  Basis data digital, selain memberikan kedetailan informasi berdasarkan pada persil bangunan, sehingga tingkat keakuratan lebih tinggi, juga akan membuka kesempatan bagi partisipasi masyarakat dalam proses pembaharuan peta tersebut. Keywords: Pemetaan; pertumbuhan perkotaan, perencanaan skala lingkungan, partisipasi, SIG.
Modal Sosial, Ketahanan Pangan dan Pertanian Berkelanjutan Desa Ngadireso, Indonesia Prayitno, Gunawan; Maulida RF, Baiq; Nugraha, Achmad T
Region : Jurnal Pembangunan Wilayah dan Perencanaan Partisipatif Vol 14, No 2 (2019)
Publisher : Regional Development Information Center, Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/region.v14i2.30018

Abstract

Desa Ngadireso, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang, memiliki potensi pertanian sebagai daerah subur dan sumber air yang memadai. Akan tetapi ketahanan pangan masih merupakan persoalan bagi desa ini, karena kebanyakan masyarakat bekerja sebagai petani dengan kepemilikan lahan terbatas atau bahkan tanpa lahan. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur bagaimana tipologi desa serta mengidentifikasi bagaimana modal sosial berpengaruh terhadap pertanian berkelanjutan. Hasil analisa tipologi desa menunjukkan desa termasuk dalam tipologi desa pertanian. Berdasarkan analisa ketahanan pangan dengan metode komposit diperoleh nilai aspek ketersediaan 0:57 (cukup baik), sedangkan aspek aksesibilitas pangan dan pemanfaatn pangan memiliki nilai yang sama 23,91 (kurang baik). Sedangkan hasil perhitungan indeks komposit indikator ketahanan pangan, diperoleh nilai indeks 0,77 yang menunjukkan bahwa Desa Ngadireso termasuk dalam desa rawan pangan. Hasil analisa modal sosial menunjukkan pengaruh yang kuat dari jaringan sosial dan norma. Hubungan yang terbentuk antara modal sosial dengan ketahanan pangan dan pertanian berkelanjutan menunjukkan bahwa jaringan sosial dan norma-norma yang terkait dengan ketahanan pangan memiliki nilai-nilai positif dan signifikan, sementara keamanan pangan dan pertanian berkelanjutan memiliki nilai-nilai positif. Modal sosial memberikan nilai positif terhadap pertanian berkelanjutan, artinya semakin tinggi modal social akan mendorong masyarakat untuk untuk tetap mempertahankan pertanian di desa yang mendorong pertanian berkelanjutan.
Persepsi aparat dan masyarakat pada implementasi teknologi geospasial dalam efisiensi pelayanan skala kelurahan Rufia Andisetyana Putri; Erma Fitria Rini; Murtanti Jani Rahayu; Paramita Rahayu
Region : Jurnal Pembangunan Wilayah dan Perencanaan Partisipatif Vol 16, No 1 (2021)
Publisher : Regional Development Information Center, Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/region.v16i1.35122

Abstract

Di era digital modern saat ini, efisiensi pelayanana publik sangat dipengaruhi oleh kapasitas aparat dan digitalisasi sistem pelayanan. Terkait dengan tingkat pelayanan pada skala kelurahan, perubahan guna lahan dan berbagai informasi yang terkait dengan ruang bisa sangat dinamis. Perpindahan penduduk, perubahan fungsi bangunan, maupun aktivitas masyarakat yang berpengaruh pada ruang bisa terjadi sewaktu-waktu. Terkait dengan dinamika ini, ketersediaan sistem digital dan kapasitas aparat serta masyarakat yang mampu mengoperasikan sistem tersebut, dapat menjadi tonggak bagi sistem pelayanan publik skala kelurahan yang lebih baik dan efektif. Dengan menggunakan studi kasus dan instrument kuesioner dengan skala likert, pada aparat dan masyarakat, penelitian ini mengindikasikan bahwa pemahaman aparat dan masyarakat pada pentingya peningkatan efektifitas pelayanan publikk melalui implementasi teknologi dapat terbuka melalui difusi informasi melalui kerjasama dengan akademisi. Pelatihan yang efektif sangat diperlukan untuk meningkatkan kapasitas aparat dan masyarakat terkait operasionalisasi sistem digital dalam penataan ruang, khususya SIG (Sistem Informasi Geografis).
KAJIAN PLACE ATTACHMENT DI KAMPUNG PECINAN TAMBAK BAYAN TENGAH, KOTA SURABAYA R Dimas Widya Putra
Region : Jurnal Pembangunan Wilayah dan Perencanaan Partisipatif Vol 7, No 1 (2016)
Publisher : Regional Development Information Center, Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/region.v7i1.5780

Abstract

Sungai Kalimas bersama dengan sungai Pegirikan merupakan dua struktur yang berperan penting dalam membentuk permukiman di Kota Surabaya. Di sepanjang tepian sungai Kalimas dan sungai Pegirikan ini terdapat permukiman-permukiman awal yang kini disebut sebagai kampung lama. kampung lama (permukiman awal) di kota Surabaya pada mulanya mengandalkan keberadaan sungai Kalimas dan sungai Pegirikan sebagai sumber kehidupan dan transportasi. Salah satu dari kampung lama tersebut adalah Tambak Bayan,  Tambak Bayan merupakan kampung dengan etnis tionghoa yang masih bertahan di tengah perkembangan jaman. Kampung yang terbentuk setelah ratusan tahun ini masih bertahan dalam pesatnya pertumbuhan perekonomian pada Kota Surabaya. Di dalam kampung Tambak Bayan banyak masyarakat yang memiliki keterikatan emosi yang kuat terhadap kampung. Tujuan penelitian ini yaitu identifikasi nilai sosial-budaya, budaya bermukim masyarakat, dan keterkaitan antara struktur dan fungsi bagian wilayah Kota Surabaya. metode penelitian yang digunakan yaitu mengunakan analisis deskriptif – kualitatif yang diperoleh melalui index chart untuk mengetahui aspek keterkaitan warga kampung terhadap Tambak Bayan dan teknik analisis diachronic reading digunakan untuk menelusuri aspek perubahan kampung. Dari serangkaian hasil analisis menunjukkan bahwa keterikatan tempat dipengaruhi oleh faktor kekerabatan berupa akar keluarga dan kedekatan posisi kampung terhadap faktor tarikan, antara lain : pasar dan tempat bekerja.
PENGARUH PERKEMBANGAN PASAR MODERN BERSKALA PELAYANAN REGIONAL DI KAWASAN PERKOTAAN KUDUS TERHADAP PERUBAHAN PENGGUNAAN LAHAN DI SEKITARNYA (STUDI KASUS : PASAR MODERN KUDUS EXTENSION MALL) Dyah Ayu Lupitasari; Winny Astuti; Galing Yudana
Region : Jurnal Pembangunan Wilayah dan Perencanaan Partisipatif Vol 7, No 2 (2016)
Publisher : Regional Development Information Center, Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/region.v7i2.11576

Abstract

The development of modern market especially regional modern market is growing rapidly. The regional modern market is not only growing in urban areas but up to a small town like Kudus City. Regional modern market which is growing in Kudus City is Kudus Extension Mall. This modern market is the first and largest modern market in the Kudus City. The modern market is able to serve the region at the regional scale consisting of Kudus Regency society and also surrounding districts like Demak, Jepara, Pati to Rembang. In 2011 Kudus Extension Mall was growing rapidly indicated by the expansion and changes the name from Plasa Kudus to Kudus Extension Mall. The modern market developments affecting the condition of land use in its surrounding area. Based on these issues, the formulation of the problem in this research is how the influence brought by the development of modern markets Kudus Extension Mall in affecting land use changes in its surrounding areas. The aim of this research is to determine the influence of the Kudus Extension Mall developments to changes in land use in its surrounding areas. The method used to determine the level of influence the development of the Kudus Extension Mall to changes in land use in the surrounding areas is quantitative descriptive. These results indicate that the development of Kudus Extension Mall able to encourage changes in land use that has similar activities that are commercial and supporting activities such as residential and public service facilities. The emergence of these activities leads to changes in land use in the form of extensive changes in land use functions and intensity of land use.
Perancangan Kawasan Slamet Riyadi Surakarta Segmen Ngapeman Hingga Gladak Sebagai Pedestrian Mall Aulia Kurnia Putri; Ofita Purwani; Tri Joko Daryanto
Region : Jurnal Pembangunan Wilayah dan Perencanaan Partisipatif Vol 12, No 2 (2017)
Publisher : Regional Development Information Center, Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/region.v12i2.12350

Abstract

AbstractSlamet Riyadi street is one of Surakarta main roads which has a role as network connectivity withinadjacent district. Slamet Riyadi street whose existence line up with the history of Surakarta, housesseveral historical building heritage along its road. The structures alongside Slamet Riyadi street havemany different functions, one of them is commerce and trade purpose which ample mostly on thesection of Ngapeman through Gladak. Ngapeman through Gladak section has a prospect to becomean example of a thriving pedestrian mall. A pedestrian mall is capable to revive the active use ofSlamet Riyadi street. A pedestrian Mall in Slamet Riyadi street can be used as a means to promotewalking habit for the citizens by providing a space for pedestrian. With an addition of rapid transitfacility, people in the city will be convinced to take a stroll on its pedestrian way, thus provide anactive use for the district. A pedestrian Mall promotes diverse activities, which include daily orperiodic activity, to ensure frequent visit. A pedestrian mall provides consumption and commerceactivity for people to enjoy as a day-to-day attraction. A pedestrian Mall also encourages communities to use the space to organize eventswhich utilize the outdoor concept of pedestrian mall such as exhibitions, festivals, and fairs. Thequality of public space will improve with the addition of public amenity and public art within the area.Certain mural art and vine pergola become attractive objects in the area whilst the public amenityaddition can furnish the overall pedestrian mall usage.  Keywords: slamet riyadi, pedestrian, pedestrian mall, public space, outdoor space
Kemampuan Tutupan Vegetasi RTH dalam Menyerap Emisi CO2 Sektor Transportasi di Kota Surakarta Dara Sinta Nugraheni; Rufia Andisetyana Putri; Erma Fitria Rini
Region : Jurnal Pembangunan Wilayah dan Perencanaan Partisipatif Vol 13, No 2 (2018)
Publisher : Regional Development Information Center, Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/region.v13i2.21156

Abstract

Gas CO2 merupakan salah satu gas yang dapat menyumbang emisi terutama gas CO2 dari sektor transportasi. Ruang terbuka hijau khususnya tutupan vegetasi merupakan salah satu cara menangani emisi gas rumah kaca. Surakarta merupakan kota padat terdiri dari penduduk yang terus bertambah hal ini pun berbanding lurus dengan pergerakan atau kegiatan transportasi yang terus bertambah. Namun faktanya ketersediaan ruang terbuka hijau yang ada di Kota Surakarta baru mencapai 12,74% pada tahun 2014. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pengumpulan data sekunder berupa penggunaan bahan bakar minyak di Surakarta yang kemudian dihitung emisinya menggunakan rumus dari IPCC. Serta digitasi citra satelit luas tutupan vegetasi menggunakan ArcGIS dan observasi lapangan. Emisi CO2 sektor transportasi di Surakarta tahun 2017 sebesar 343.195,63 ton/tahun sedangkan untuk emisi CO2 seluruh sektor kegiatan di Surakarta tahun 2017 1.309.906,98 ton/tahun. Daya serap tutupan vegetasi tahun 2017 di Surakarta adalah 416.193,63 ton/tahun. Dari hasil tersebut disimpulkan bahwa daya serap tutupan vegetasi untuk menyerap emisi CO2 sektor transportasi sudah mampu, namun untuk menyerap emisi CO2 seluruh sektor kegiatan di Surakarta belum mampu. Sisa emisi yang belum mampu diserap kemudian diarahkan penambahan luasan tutupan vegetasi dalam bentuk pohon berdasarkan skala prioritas di tiap dominasi guna lahan.Kata Kunci: Emisi CO2, Transportasi, Tutupan Vegetasi

Page 10 of 27 | Total Record : 263