cover
Contact Name
Efta Triastuti
Contact Email
efta.triastuti@ub.ac.id
Phone
+62341-569117
Journal Mail Official
pji@ub.ac.id
Editorial Address
Pharmaceutical Journal of Indonesia Department of Pharmacy, Faculty of Medicine, Brawijaya University Jalan Veteran (Kampus Sumbersari) Malang 65145 Tel. (0341) 569117ext 156, 173 ; Fax. (0341) 564755 Website : http://www.pji.ub.ac.id Email :pji@ub.ac.id
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Pharmaceutical Journal of Indonesia
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : 2461114X     EISSN : 2461114X     DOI : https://doi.org/10.21776/ub.pji
Core Subject : Health, Science,
Pharmaceutical Journal of Indonesia (PJI) is an online journal which is published twice a year by Department of Pharmacy, Faculty of Medicine, Brawijaya University. The articles published in PJI cover the themes of Clinical and Community Pharmacy, Pharmaceutical Chemistry, Pharmaceutical Technology, and Natural Product Pharmacy/Chemistry.
Articles 155 Documents
HUBUNGAN ANTARA DUKUNGAN KELUARGA DENGAN TINGKAT KEPATUHAN PENGOBATAN PASIEN HIPERTENSI RAWAT JALAN PADA PROGRAM PENGELOLAAN PENYAKIT KRONIS (Studi Dilakukan Di Puskesmas Kota Malang) The Relationship between Family Support and The Level Of Adherence To Treatment Of Hypertensive Outpatients in The Chronic Disease Management Program (A Study Conducted in Malang Primary Health Center) Roslandari, Luh Made Wulan; Roslandari, Luh Made Wulan
Pharmaceutical Journal of Indonesia Vol 5, No 2 (2020)
Publisher : Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.pji.2020.005.02.10

Abstract

Hipertensi merupakan masalah kesehatan yang serius,ditandai dengan adanya peningkatan tekanan darah dengan nilai sistolik ≥ 140 mmHg dan nilai diastolik ≥ 90 mmHg. Seiiring berjalannya waktu apabila hipertensi tidak diobati dengan baik maka akan menimbulkan penyakit komplikasi kardiovaskular lainnya. Efikasi dari penanganan terapi ditentukan oleh kepatuhan. Salah satu faktor penyebab ketidakpatuhan karena pasien hipertensi harus meminum obat antihipertensi setiap hari dalam jangka  lama. Salah satu faktor yang dapat meningkatkan kepatuhan adalah dukungan keluarga. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara dukungan keluarga dengan tingkat kepatuhan pengobatan pasien hipertensi rawat jalan pada program pengelolaan penyakit kronis. Penelitian ini menggunakan metode penelitian observasional analitik dengan desain penelitian korelasional dan menggunakan rancangan penelitian cross sectional. Sedangkan untuk pemilihan sampel pasien menggunakan metode purposive sampling dan pemilihan sampel Puskesmas menggunakan metode clustered random sampling. Sampel penelitian adalah 90 pasien hipertensi di Puskesmas kota Malang.Instrumen yang digunakan pada penelitian ini yaitu kuesioner dukungan keluarga yang terdiri dari dukungan instrumental, penilaian, informasional dan emosional serta kuesioner kepatuhan (Medication Adherence Rating Scale). Hasil penelitian diuji dengan Pearson product moment untuk mengetahui hubungan antara kedua variabel didapatkan nilai signifikansi sebesar 0,000 (p<0,05) menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara kedua variabel dan nilai korelasi pearson yang diperoleh 0,751 yang menunjukkan adanya hubungan kuat yang signifikan antara dukungan keluarga dengan tingkat kepatuhan pasien Hipertensi. Kata Kunci : Hipertensi, Dukungan Keluarga, Kepatuhan Terapi, Pengobatan Hipertensi ABSTRACTHypertension is a serious health problem that is characterized by an increase in blood pressure with a systolic value ≥ 140 mmHg and a diastolic value ≤ 90 mmHg. As time goes by, if hypertension is not treated properly, it will cause other cardiovascular complications. The efficacy of therapy treatments for hypertensive patients is determined by compliance. One of the factors causing non-compliance is because because hypertensive pastients must take antyhypertensive drug every day in a long period of time. One of the factors that affect adherence taking the drug is family support. This study aims at determining the relationship between family support and the level of adherence to treatment of hypertensive outpatient in a chronic disease management program which is conducted at Malang Primary Health Center. This study applied an observational analytic research method with a correlational and cross-sectional research design. Meanwhile, the sampling technique used is purposive sampling and the setting is chosen by using cluster random sampling method. Study’s samples involved were 90 patients with hypertension at Malang Primary Health Center. To collect the data, the instruments used are a family support questionnaire, which consists of instrumental, assessment, informational and emotional support, and a compliance questionnaire (Medication Adherence Rating Scale). The results are tested by using Pearson product-moment to determine the relationship between the two variables. A significance of 0,000 (p<0.05), it indicates a significant relationship between the two variables and the value of correlation obtained is 0.751 a strong significant relationship between family support and the level of adherence to the treatment of hypertensive outpatient.Keywords: Hypertensi , Family Support, Adherence to treatment, Treatment of Hypertension. 
Pengaruh Penggunaan Pati Kentang (Solanum tuberosum) Termodifikasi Asetilasi-Oksidasi Sebagai Gelling Agent Terhadap Stabilitas Gel Natrium Diklofenak Danimayostu, Adeltrudis Adelsa
Pharmaceutical Journal of Indonesia Vol 3, No 1 (2017)
Publisher : Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Gel merupakan sistem semipadat terdiri yang dibuat dari partikel anorganik yang kecil atau molekul organik yang besar, terpenetrasi oleh suatu cairan. Gelling agent merupakan komponen polimer yang mempunyai berat molekul tinggi dan merupakan gabungan dari beberapa molekul dan lilitan dari polimer yang akan memberikan sifat kental pada gel. Pati kentang memiliki nilai swelling power dan viskositas tinggi dibandingkan dengan pati lainnya, yang keduanya mempunyai peran penting terhadap fungsi pati sebagai gelling agent. Modifikasi asetilasi-oksidasi mengakibatkan terjadinya peningkatan viskositas dan kejernihan pada gel yang dihasilkan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh pemberian pati  kentang (Solanum tuberosum) termodifikasi asetilasi-oksidasi sebagai gelling agent pada stabilitas gel yang mengandung natrium diklofenak. Studi eksperimental menggunakan metode real time stability dan freeze thaw stability dilakukan terhadap gel natrium diklofenak. Sampel dibagi menjadi empat kelompok yaitu kelompok gel “pati terasetilasi-oksidasi”, kelompok gel “pati terasetilasi”, kelompok gel “pati teroksidasi” dan kelompok gel “pati alami”. Variabel yang diukur pada penelitian ini adalah stabilitas gel natrium diklofenak dilihat dari stabilitas fisik dan kimia dari gel natrium diklofenak yang dihasilkan. Hasil peneltian menunjukkan bahwa stabilitas fisik antara gel pati terasetilasi-oksidasi dengan gel pati terasetilai, gel pati teroksidasi dan gel pati alami memliki nilai yang berbeda bermakna (Oneway Anova, p<0,05). Tidak terjadinya perubahan stabilitas fisik dan kimia pada semua kelompok gel setelah uji stabilitas real time dan freeze-thaw pada semua evaluasi sediaan gel (Uji T Berpasangan, p>0,05). Namun demikian, terjadi perubahan pada daya sebar gel pada semua kelompok setelah uji stabilitas freeze-thaw (Uji Wilcoxon, p<0,05). Kesimpulan dari penelitian ini adalah pati kentang (Solanum tuberosum) modifikasi asetilasi-oksidasi dapat mempertahankan stabilitas gel natrium diklofenak berdasarkan karakteristik gel yaitu organoleptik, viskositas, pH, daya sebar dan kadar natrium diklofenak.
Studi Penggunaan Profilaksis Stress Ulcer pada Pasien Bedah Digestif di RSUD dr.Soetomo Surabaya Mahdayana, Indira Dayang
Pharmaceutical Journal of Indonesia Vol 5, No 2 (2020)
Publisher : Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.pji.2020.005.02.1

Abstract

AbstrakProfilaksis stress ulcer seringkali disertai dengan penggunaan yang tidak tepat indikasi dan berlebihan pada pasien non-critically ill atau hospitalized patients. Hal ini dapat berdampak pada peningkatan biaya pengobatan, potensi interaksi obat, efek samping dan length of stay pasien di rumah sakit. Studi ini dilaksanakan dengan metode retrospektif dari data rekam medik kesehatan periode Januari – Desember 2015 di RSUD dr. Soetomo, Surabaya, Jawa Timur dengan tujuan untuk mengetahui pola penggunaan profilaksis stress ulcer, khususnya pada pasien bedah digestif. Sejumlah 40 pasien memenuhi kriteria inklusi. Hasil dari kajian ini menunjukkan bahwa profilaksis diberikan dengan frekuensi 1 – 3 kali/hari baik secara tunggal atau kombinasi dengan rute per oral maupun intravena. Pemberian profilaksis stress ulcer tunggal pada pasien bedah digestif yang terbesar adalah ranitidin (62%). Sedangkan untuk pemberian kombinasi, yang paling banyak diberikan adalah antagonis H2 – PPI (12,5%). Durasi pemberian profilaksis stress ulcer pada hospitalized pasien didasarkan pada kondisi klinis pasien, yaitu mual dan muntah.Kata kunci: Stress ulcer; profilaksis; bedah digestif; omeprazol; ranitidin
Kajian Pustaka Efek Samping Aspirin : Aspirin-Exacerbated Respiratory Disease (AERD) Rahmadanita, Fathia Faza; Sumarno, Sumarno
Pharmaceutical Journal of Indonesia Vol 5, No 1 (2019)
Publisher : Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Aspirin merupakan salah satu obat yang paling banyak digunakan didunia. Selain mempunyai harga yang relatif murah, aspirin mempunyai banyak kegunaan. Aspirin termasuk dalam golongan obat antiinflamasi non steroid yang memiliki efek analgesik, antipiretik dan antiinflamasi. Selain itu aspirin juga digunakan sebagai antiplatelet pada kasus kardiovaskular dan stroke. Penggunaan obat menimbulkan efek samping pada beberapa orang. Aspirin memiliki beberapa efek samping salah satunya yaitu gangguan pada saluran pernafasan. Aspirin-Exacerbated Respiratory Disease (AERD) merupakan reaksi yang diakibatkan oleh aspirin yang melibatkan mukosa saluran pernafasan atas dan bawah dengan prevalensi 7-20% pada pasien asma. AERD dikarakterisasi oleh istilah yang dikenal dengan samter’s triad. Diagnosa AERD utamanya penggalian riwayat penyaki, diagnostik dengan biomarker, dan sensitisasi aspirin. Mekanisme AERD belum sepenuhnya diketahui namun terdapat beberapa studi yang menjelaskan patofisiologi AERD. Patofisiologi AERD berhubungan dengan mekanisme kerja dari aspirin. Pemahaman patofisiologi memberikan gambaran terkait manajemen terapinya. Manajemen terapi AERD dapat berupa terapi farmakologi maupun desensitisasi oleh aspirin. Manajemen terapi yang tepat dapat meningkatkan kualitas hidup pasien. Pada kajian pustaka ini akan didiskusikan mekanisme efek samping AERD, manajemen terapi, dan potensial target terapi AERD.
Hubungan Antara Tingkat Pengetahuan dan Faktor Sosiodemografi dalam Swamedikasi Analgesik Oral terhadap Pasien dengan Keluhan Nyeri Gigi di Beberapa Apotek Kota Malang Shafira fira
Pharmaceutical Journal of Indonesia Vol. 6 No. 2 (2021)
Publisher : Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.pji.2021.006.02.4

Abstract

Rasa nyeri gigi timbul ditandai dengan adanya kerusakan pada struktur gigi. Obat obat  analgesik memiliki efek samping gangguan pada lambung jika digunakan secara tidak tepat. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa analgesik  salah satu obat yang terbanyak digunakan secara swamedikasi. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana  hubungan antara faktor sosiodemografi dengan tingkat pengetahuan seseorang mengenai swamedikasi analgesik oral dalam mengatasi keluhan nyeri gigi. Penelitian ini adalah penelitian observasional analitik dengan metode cross sectional. Karakteristik sosiodemografi yang diteliti meliputi  usia, jenis kelamin, pendidikan, penghasilan, dan pekerjaan. Pemilihan sampel apotek dilakukan dengan teknik cluster sampling, sedangkan responden dengan teknik purposive sampling sesuai kriteria inklusi dan eksklusi. Jumlah responden diperoleh sebanyak 100 responden dari 15 apotek. Tingkat pengetahuan diukur dengan kuesioner yang terdiri dari 10 pernyataan tertutup dengan 2 jawaban benar dan salah. Uji Somers’d dan Kruskal Wills digunakan sebagai analisis statistik guna mengetahui hubungan faktor sosiodemografi dengan tingkat pengetahuan dalam swamedikasi nyeri gigi. Hasil penelitian menunjukan bahwa, tingkat pengetahuan masyarakat Kota Malang yang melakukan swamedikasi analgesik oral terbanyak kategori cukup (37%), kurang (32%), dan baik (31%), dan juga terdapat  hubungan signifikan pada usia (p=0.005) dan pendidikan (0.000). Sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak semua faktor sosiodemografi berpengaruh dalam tingkat pengetahuan mengenai analgesik oral dimana hanya usia dan pendidikan yang berpengaruh terhadap pengetahuan responden yang melakukan swamedikasi analgesik oral dalam  mengatasi keluhan nyeri gigi. Kata kunci: Tingkat pengetahuan, Sosiodemografi, Analgesik, Nyeri Gigi  
Efektivitas Ekstrak Buah Pare (Momordica charantia) dan Buncis (Phaseolus vulgaris) untuk Penurunan Kadar Gula Darah dan AUC (Area Under Curve). Achmad, Anisyah
Pharmaceutical Journal of Indonesia Vol 2, No 1 (2016)
Publisher : Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Buah pare mengandung momordisin, momordin, asam resinat dan sterol, sedangkan buncis mengandung guava polyphenol. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui efektivitas campuran buah pare dan buncis dalam menurunkan kadar gula darah dan area under curve. Penelitian dilakukan di Laboratorium Farmasi Klinik Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto.  Hewan uji dibagi menjadi 7 kelompok,  terdiri atas 28 tikus. Kelompok 1 diberi metformin dalam NaCMC  1% dengan dosis 9 mg/200 g BB tikus. Kelompok 2 diberi NaCMC 1% sebanyak 3 ml/200 g BB. Kelompok 3 ekstrak etanol buah pare 250 mg/kg BB. Kelompok 4 ekstrak etanol buah pare 125 mg/kg BB dan buncis 100 mg/kg BB. Kelompok 5 diberi 62,5 mg/kg BB dan 150 mg/kg BB. Kelompok 6 diberi 187,5 mg/kg BB dan 50 mg/kg BB. Kelompok 7 ekstrak etanol buah buncis 200 mg/kg BB. Setelah ekstrak, 30 menit kemudian diberi glukosa 1,35 g/200 g BB. Cuplikan darah diambil pada menit ke -0, 30, 60, 90, dan 120. Pengukuran kadar gula darah menggunakan metode electrochemical glucose biosensor. Berdasarkan analisis uji LSD, pemberian kombinasi ekstrak etanol buah pare dan buncis perbandingan 50%:50% menghasilkan interaksi sinergis dengan efek hipoglikemik yang berbeda signifikan dengan dibanding ekstrak etanol buah pare ataupun buncis secara tunggal. Simpulan dari penelitian ini ekstrak buah pare dan buncis 50%:50%, dapat menurunkan kadar gula darah dan AUC tikus dengan efek sinergisme optimal.  Kata kunci: AUC, Buncis, Kadar gula darah, Pare 
Probiotic Usage in Food Allergy Atopic Dermatitis Children. A Literature Review wijaya, dhani -
Pharmaceutical Journal of Indonesia Vol 4, No 2 (2019)
Publisher : Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Food allergy is a health problem that commonly occurs among children. One of the clinical manifestations of food allergy is atopic dermatitis. Food allergies are pathological reaction involving the immune system. Atopic dermatitis (AD) is related to the immune system. The immune system is affected by intestinal microbes. Probiotics are substances that can regulate the immune system for the digestive tract, particularly in the intestines. Probiotics have a therapeutic effect on several illnesses, specifically those related to the immune system. The aim of this review is to discuss knowledge related to the usage of probiotics for the therapy of atopic dermatitis caused by food allergies in children. This literature review focused on the mechanism of actions of probiotics in children with atopic dermatitis caused by food allergy. 
Hubungan Tingkat Pengetahuan Petugas Pengelola Obat dengan Tingkat Ketersediaan Obat Di Puskesmas Kota Malang Alfian, Machrozi
Pharmaceutical Journal of Indonesia Vol 6, No 1 (2020)
Publisher : Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.pji.2020.006.01.5

Abstract

Pengelolaan obat merupakan kegiatan mengelola sediaan farmasi untuk menjamin keamanan produk, dan terhindar dari kerusakan fisik maupun kimia. Indikator yang dapat digunakan salah satunya adalah tingkat ketersediaan obat. Tingkat ketersediaan obat merupakan nilai persentase jumlah obat yang diperlukan di puskesmas harus sesuai dengan keperluan masyarakat sehingga jumlah obat di gudang puskesmas minimal harus sama dengan jumlah stok selama waktu tunggu kedatangan obat. Petugas pengelola obat harus memiliki pengetahuan tentang pengelolaan obat di puskesmas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan tingkat pengetahuan petugas pengelola obat dengan tingkat ketersediaan obat di beberapa Puskesmas Kota Malang. Penelitian yang dilakukan merupakan observasional analitik cross sectional. Teknik pengambilan sampel responden adalah dengan total sampling. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner pengetahuan petugas pengelola obat dan lembar pengumpul data tingkat ketersediaan yang dilihat dari data LPLPO. Hasil rata-rata persentase pengetahuan 10 petugas adalah 84,32%, yang termasuk dalam kategori baik. Hasil rata-rata persentase tingkat ketersediaan obat adalah 64,19%. Kategorisasi persentase tingkat ketersediaan obat terdiri dari sebanyak 10% dengan kategori baik, 70% dengan kategori cukup, dan 20% dengan kategori kurang. Hasil uji statistik korelasi dengan Uji Rank Spearman menunjukkan nilai Spearman Correlation adalah -0.034 (p=0.870), menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara tingkat pengetahuan petugas pengelola obat dengan tingkat ketersediaan obat di puskesmas Kota Malang.
HUBUNGAN ANTARA WAKTU TUNGGU PELAYANAN DENGAN TINGKAT KEPUASAN PASIEN RAWAT JALAN BPJS TERHADAP PELAYANAN RESEP (PENELITIAN DILAKUKAN DI INSTALASI FARMASI RUMAH SAKIT MUHAMMADIYAH MALANG) Ihsan, Muhammad; Illahi, Ratna Kurnia; Pramestutie, Hananditia Rachma
Pharmaceutical Journal of Indonesia Vol 3, No 2 (2018)
Publisher : Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pelayanan kefarmasian di Instalasi Farmasi Rumah Sakit merupakan salah satu unit pelayanan yang wajib disediakan di rumah sakit. Terdapat beberapa indikator yang harus dipenuhi oleh Instalasi Farmasi Rumah Sakit, salah satunya adalah kepuasan pasien dan waktu tunggu pelayanan resep, yang dianggap dapat mempengaruhi ekspektasi pasien terhadap pelayanan rumah sakit, khususnya pelayanan di Instalasi Farmasi Rumah Sakit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara waktu tunggu pelayanan resep dengan tingkat kepuasan pasien pada pelayanan resep di Instalasi Farmasi Rumah Sakit, dengan pendekatan observasional analitik pada 150 orang pasien rawat jalan BPJS atau pengantarnya yang sedang menebus resep. Kuesioner dan stopwatch masing-masing digunakan sebagai instrumen untuk mengukur kepuasan pasien dan waktu tunggu pelayanan resep. Analisis data dilakukan dengan 2 metode, yaitu metode Pearson untuk pelayanan resep obat racikan dan Spearman untuk pelayanan resep obat jadi. Penelitian ini juga telah mendapatkan kelayakan etik dari Komisi Etik Penelitian Kesehatan Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya No. 263/EC/KEPK-S1-FARM/07/2017. Dari penelitian ini, tidak terdapat hubungan antara waktu tunggu pelayanan resep dengan tingkat kepuasan pasien pada pelayanan resep obat racikan (p = 0,516), tetapi terdapat hubungan antar kedua variabel pada pelayanan resep obat jadi (p = 0,049). Selain itu, didapatkan rata-rata waktu tunggu pelayanan resep sekitar 39 menit 34 detik untuk pelayanan resep obat racikan dan 29 menit 0 detik untuk pelayanan resep obat jadi. Secara umum, pasien merasa puas terhadap pelayanan di Instalasi Farmasi Rumah Sakit Universitas Muhammadiyah Malang dan tidak memerlukan waktu melebihi yang ditentukan oleh peraturan perundangan untuk memperoleh obat.
Hubungan Kepatuhan Terapi Metotreksat dengan Disease Activity Score 28 (DAS28) pada Pasien Artritis Reumatoid Achmad, Anisyah
Pharmaceutical Journal of Indonesia Vol 5, No 2 (2020)
Publisher : Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.pji.2020.005.02.6

Abstract

Artritis reumatoid (AR) merupakan penyakit autoimun, kronik, dengan inflamasi  dan kaku sendi pada pagi hari > 30 menit serta hasil positif pada pemeriksaan Rheumatoid Factor (RF), laju endap darah (LED), dan C-reaktif protein (CRP). Metotreksat merupakan pengobatan lini pertama untuk AR. Keberhasilan terapi dapat dipantau menggunakan Disease Activity Score 28 (DAS28) yang merupakan pengukuran pada 28 sendi nyeri dan inflamasi dalam kondisi remisi. Pengobatan AR bersifat jangka panjang dan kontinyu sehingga dibutuhkan pemantauan terhadap kepatuhan. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui hubungan antara kepatuhan terhadap DAS 28. Penelitian menggunakan metode potong lintang dengan analisis deskriptif kuantitatif dan kualitatif yang dilakukan di Poli Rawat Jalan Reumatologi Rumah Sakit dr. Saiful Anwar (RSSA) Kota Malang pada bulan Maret–Mei 2018 dan dinyatakan telah laik etik dengan nomor edaran 400/32/K.3/302/2018. Jumlah sampel yang digunakan sebanyak 88 pasien dengan kriteria inklusi laki-laki dan perempuan menggunakan metotreksat minimal 3 bulan, dilengkapi dengan data LED tanpa komplikasi Systemic Lupus Erythematosus (SLE), Inflammatory Bowel Disease (IBD) dan kanker. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner Morinsky Medication Adherence Scale. Analisis statistik menggunakan Rank Sperman Hasil penelitian menunjukkan bahwa 72% pasien mempunyai tingkat kepatuhan tinggi, 23% tingkat kepatuhan sedang, dan 5% mempunyai tingkat kepatuhan rendah. Sebanyak 21% dari 72% pasien dengan tingkat kepatuhan tinggi berhasil meraih kondisi remisi sedangkan sisanya masih dalam kondisi aktif.. Hasil pengujian korelasi Rank-Spearman menunjukkan bahwa kepatuhan terapi metotreksat tidak berhubungan signifikan dengan DAS 28 pada pasien AR (r = 0,148 ; p = 0,169). Namun tetap ada remisi pada tingkat kepatuhan yang tinggi.

Page 5 of 16 | Total Record : 155