cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra
ISSN : 20892926     EISSN : 25798138     DOI : -
Core Subject : Education,
JENTERA is a literary research journal published by Badan Pengembangan and Pembinan Bahasa, Ministry of Education and Culture. Jentera publishes the research articles (literary studies and field research), the idea of conceptual, research, theory pragmatice, and book reviews. Jentera publishes them biannually on June and December.
Arjuna Subject : -
Articles 218 Documents
Figur Remaja Pendukung Nazi dalam Film Lore: Perkembangan Identitas Remaja dan Pergerakan Posisi Korban-Pelaku Radistya Nabila Syawallifa; Lisda Liyanti
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 11, No 2 (2022): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v11i2.1754

Abstract

The involvement of a child in a case which put them in the position of victim or perpetrator needs to be reviewed through their identity development. One of the cases that discussed the issue about victim and perpetrator was the postwar situation when the Nazi regime collapsed on the end of World War II. Lore (2012) by Cate Shortland became one of the movies that took time on postwar situation and bringing up the issue of victim or perpetrator through the perspective of adolescent. The subject of this study is the identification of the Nazi supporter adolescent’s position as victim or perpetrator that is depicted in the movie Lore. The method used in this study is qualitative method with the main theory of Alterität und Identität by Wolfgang Raible and the adolescent identity status theory by James Marcia. The theory of Alterität und Identität is used to analyze how the main character interacts with foreign things she encounters in the postwar period and its influence on her identity awareness. The identification of the character’s position as victim or perpetrator on postwar context in the movie Lore was carried out using the status of adolescent identity theory. The result of this analysis shows that there is a development of identity experienced by the character Lore, so that the movie depicts her as a victim based on the adolescent identity development. AbstrakKeterlibatan seorang anak dalam suatu kasus yang memposisikannya sebagai korban atau pelaku perlu ditinjau melalui perkembangan identitasnya. Salah satu kasus yang mengangkat isu tentang korban dan pelaku adalah keadaan setelah perang ketika rezim Nazi runtuh pada akhir Perang Dunia II. Film Lore (2012) karya sutradara Cate Shortland menjadi salah satu film yang berlatarkan setelah perang dan mengangkat isu korban dan pelaku melalui perspektif remaja. Hal yang menjadi pembahasan dalam penelitian ini adalah identifikasi posisi remaja pendukung Nazi sebagai korban atau pelaku yang digambarkan dalam film Lore. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan teori Alterität und Identität (Perbedaan dan Identitas) milik Wolfgang Raible dan teori status identitas remaja milik James Marcia. Teori Alterität und Identität digunakan untuk menganalisis bagaimana interaksi tokoh utama dengan hal-hal asing yang ditemuinya pada masa setelah perang dan pengaruhnya terhadap kesadaran identitas. Identifikasi penggambaran posisi tokoh sebagai korban atau pelaku dalam konteks setelah perang dilakukan menggunakan teori psikologi mengenai status identitas remaja. Hasil dari analisis menunjukkan terdapat perkembangan identitas yang dialami oleh tokoh Lore, sehingga posisinya digambarkan di dalam film ini sebagai korban berdasarkan perkembangan identitas remaja.      
Nilai Pendidikan Karakter dalam Ungkapan Bahasa Kaili Dialek Rai Abdul Kamaruddin; Ulinsa Ulinsa; Sitti Harisah; Taqyuddin Bakri
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 11, No 2 (2022): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v11i2.5628

Abstract

The Kaili language expression of the Rai dialect has special characteristics in education. The purpose of this research is to describe the form of the values and functions of the characters in the Kaili language expression of the Rai dialect as part of the values of character education. The research method used is descriptive qualitative. The type of data is in the form of oral data sourced from predetermined informants. Data collection techniques include; (1) observation, (2) interviews, (3) recording, and 4) note-taking techniques, so the stages in the analysis technique are collecting data, reducing data, presenting data, and drawing conclusions. As for how to analyze it, namely transcribing and translating data findings, classifying data, analyzing forms and functions, and testing data to obtain conclusions. The research results obtained are that there are three forms of character education values, including; (1) educational value, (2) social value, and (3) moral value. In conclusion, the Kaili dialect of Rai can manifest educational values that are oriented towards character building, both for students at school and in living life as a society. AbstrakUngkapan bahasa Kaili dialek Rai memiliki karakteristik khususnya pada pendidikan. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan bentuk nilai dan fungsi karakter dalam ungkapan bahasa Kaili dialek Rai sebagai bagian nilai pendidikan karakter. Metode penelitian yang digunakan yakni deskriptif kualitatif. Jenis data berupa data lisan yang bersumber dari informan yang telah ditentukan. Teknik pengumpulan data antara lain; (1) observasi, (2) wawancara, (3) perekaman, dan 4) teknik catat, sehingga tahapan dalam teknik analisis yaitu mengumpulkan data, mereduksi data, menyajikan data, menarik kesimpulan. Adapun cara menganalisisnya yaitu mentranskripsi dan menerjemahkan temuan data, mengklasifikasian data, analisis bentuk serta fungsi, dan menguji data agar memperoleh kesimpulan. Hasil penelitian yang diperoleh yaitu terdapat tiga bentuk dari nilai pendidikan karakter, antara lain; (1) nilai edukasi, (2) nilai sosial, dan (3) nilai moral. Kesimpulannya, bahasa Kaili dialek Rai dapat memanifestasikan nilai pendidikan yang berorientasi pada pembentukan karakter, baik kepada siswa di sekolah, maupun dalam menjalani kehidupan sebagai masyarakat.
Resistansi dan Alternatif dari Singularitas terhadap Empire dalam Film Captain Fantastic Lastry Monika
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 11, No 2 (2022): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v11i2.3479

Abstract

This paper aims to discuss the issues of singularity, resistance, and alternatives chosen by the subject to fight against the empire contained in Matt Ross's Captain Fantastic movie. The analysis was carried out using the visual analysis method through the stages of taking notes and selecting dialogues between the characters to then be elaborated through literature study. Based on the use of Antonio Negri's perspective, the results of the analysis found that there was rejection of the homogeneity and capitalistic global order formed by the empire. This then gave rise to a singularity with independent human subjectivity. The subjectivity begins with the family structure to resist the all-materialistic and consumerismstic life order. Resistance takes place through a pattern of life and education in the form of a combination of the traditional and the modern as an alternative to dealing with empire. AbstrakTulisan ini bertujuan untuk membahas mengenai persoalan singularitas, resistansi, dan alternatif yang dipilih oleh subjek untuk melakukan perlawanan terhadap empire yang terdapat dalam film Captain Fantastic garapan Matt Ross. Analisis dilakukan dengan menggunakan metode analisis visual melalui tahapan mencatat serta menyeleksi dialog antartokoh untuk kemudian dielaborasi melalui studi kepustakaan. Berdasarkan penggunaan perspektif Antonio Negri, hasil analisis menemukan bahwa terdapat penolakan terhadap homogenitas dan tatanan global yang kapitalistik bentukan empire. Hal itu kemudian memunculkan singularitas dengan subjektivitas manusia yang merdeka. Subjektivitas tersebut diawali dari tatanan keluarga untuk melakukan resistansi terhadap tatanan kehidupan yang serba materielistisk dan konsumerismetik. Resistansi berlangsung melalui pola kehidupan dan pendidikan yang berupa perpaduan antara yang tradisional dengan yang modern sebagai alternatif untuk menghadapi empire.
Translation Method Analysis on Figurative Language in Novel Crazy Rich Asians Translated into Kaya Tujuh Turunan Riris Mutiara Simamora; Andre Priyono
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 11, No 2 (2022): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v11i2.5265

Abstract

This research is aimed to find the types of figurative language used and to identify translation method that the translator chooses to translate figurative language from Crazy Rich Asians novel into Kaya Tujuh Turunan. This research is descriptive qualitative research with secondary data. The object of this research is a novel by Kevin Kwan titled Crazy Rich Asians (2013) which translated into Kaya Tujuh Turunan (2016) by Cindy Kristianto. The novel is analyzed using Abram’s figurative language theory (1999) and Newmark’s translation method. The novel contains 154 figurative languages. After examining the figurative language data in Crazy Rich Asians, it was discovered that there were 51 similes, 43 hyperboles, 25 imagery, 22 metonymy, and 13 ironies. According to the findings of the research, six of the eight translation methods given by Newmark were employed in translating the words, phrases, clauses, and sentences from English to Indonesian in the novel Crazy Rich Asians. They are literal (94), faithful (4), semantic (3), idiomatic (2), and communicative translation (21). According to the findings of the analysis, the most dominant translation method utilized in translating the novel is literal translation. Based on the most often employed translation methods in translating the novel, it is possible to deduce that the translator prioritizes the corresponding word or expression in the target language that has the same meaning and nuance as in the source language. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi tipe gaya bahasa kiasan dan metode penerjemahan gaya bahasa dari novel Crazy Rich Asians menjadi Kaya Tujuh Turunan. Penelitian ini merupakan penelitian yang berbentuk deskriptif kualitatif dengan menggunakan data sekunder. Objek dalam penelitian ini adalah novel karya Kevin Kwan yang berjudul Crazy Rich Asians (2013) dengan membandingkan versi terjemahan Bahasa Indonesia Kaya Tujuh Turunan (2016) karya Cindy Kristianto. Novel ini dianalisis dengan menggunakan teori Bahasa kiasan dari Abram (1999) dan metode terjemahan Newmark. Setelah melakukan analisis, ditemukan 154 gaya bahasa kiasan, yaitu 51 bentuk simile, 43 bentuk hiperbola, 25 bentuk imagery, 22 bentuk metonimi, dan 13 bentuk ironi. Ditemukan enam metode dalam penerjemahan gaya bahasa kiasan, yaitu terjemahan literal (94), terjemahan setia (4), terjemahan semantik (3), terjemahan idiomatik (2), dan terjemahan komunikatif (21). Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa metode penerjemahan yang paling dominan adalah terjemahan literal. Metode ini dipakai penerjemah untuk memprioritaskan ekspresi yang paling sesuai dan berterima dalam Bahasa sasaran sehingga pesan dan nuansa yang disampaikan sama seperti dalam Bahasa sumber.
Menyoal Konsep Keibuan di Indonesia dan Nigeria Melalui Sastra: Pendekatan Komparatif Desca Angelianawati
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 11, No 2 (2022): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v11i2.2835

Abstract

Bearing children has become one of the most essential aspects in a human’s life. The concept of motherhood is also intersected and varies from time to time upon location. Through qualitative research and library study, this article compares the the concept of Nigerian and Indonesian motherhood through literature. Two selected novels are Ibuk written by Iwan Setyawan and The Joys of Motherhood by Buchi Emecheta. The findings show that both mothers share similar concepts and representations of motherhood. In addition, those representations are used to maintain the social contructions which legitimise the patriarchal system. The African motherhood may be different with the Asian concept of motherhood in practical, yet mothers will focus on the wealth of their children no matter where they are.AbstrakKeharusan untuk menjadi seorang ibu dipandang sebagai salah satu aspek esensial dalam kehidupan manusia. Konsep dan nilai keibuan juga bersifat lintas budaya dan bervariasi dari waktu ke waktu berdasarkan lokasi dan adat setempat. Berdasarkan pemikiran tersebut, artikel ini membandingkan penggambaran konsep ibu dari dua buku karangan penulis Nigeria dan Indonesia. Melalui penelitian kualitatif dan studi pustaka, artikel ini mengilustrasikan penggambaran konsep ibu dan mengeksplorasi alasan penggambarannya melalui karya sastra pilihan. Novel yang dijadikan objek penelitian adalah The Joys of Motherhood karya Buchi Emecheta dan Ibuk karya Iwan Setyawan. Hasil penemuan dari artikel ini mengekstrapolasi konsepsi global keibuan dan bagaimana hal itu dipresentasikan. Dapat disimpulkan bahwa penggambaran konsep keibuan dalam novel digunakan untuk memelihara konstruksi sosial yang meligitimasi sistem patriarki. Konsep keibuan di Afrika mungkin sedikit berbeda dari konsep keibuan di Asia pada prakteknya, tetapi mereka akan selalu berfokus pada kesejahteraan anak-anaknya di mana pun ibu berada.
Critical Discourse Analysis of Pantun in Elementary School Textbook Indra Nugrahayu Taufik; Dewi Siti Solihah
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 11, No 2 (2022): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v11i2.5666

Abstract

The purpose of this study is to explain the use of pantun in textbooks in elementary schools, especially the description of the use of types of rhymes, errors in the number of syllables, distribution of pantun types based on age/user, distribution of pantun types based on content, distribution of thematic pantun, pantun distribution based on integrativeness, distribution pantun based on cross-curriculum integration. This research is classified as Critical Discourse Analysis which is part of qualitative research so it uses actual, objective, and systematic explanations. The research was conducted by analyzing and interpreting the pantun contained in the text of elementary school textbooks, both those used by teachers and books used by students. Critical discourse analysis is seen from the perspective of the author. This research provides a more concrete picture of the involvement of textbooks in the preservation of pantun as an Indonesian cultural heritage. In this study, positive results were shown, the existence of pantun in textbooks had created expressive spaces for students. AbstrakTujuan penelitian ini untuk menjelaskan penggunaan pantun dalam buku pelajaran di sekolah dasar khususnya uraian penggunaan jenis rima, penggunaan jumlah suku kata, pembagian jenis pantun berdasarkan usia/pengguna, pembagian jenis pantun berdasarkan isi, pembagian pantun tematik, pembagian pantun berdasarkan keterpaduan, pembagian pantun berdasarkan integrasi lintas kurikulum. Penelitian ini tergolong dalam penelitian Analisis Wacana Kritis yang merupakan bagian dari penelitian kualitatif sehingga menggunakan penjelasan yang aktual, objektif, dan sistematis. Penelitian dilakukan dengan menganalisis dan menginterpretasikan pantun yang terdapat dalam teks buku pelajaran sekolah dasar, baik yang digunakan oleh guru maupun buku yang digunakan oleh siswa. Analisis wacana kritis dilihat dari sudut pandang pengarang. Penelitian ini memberikan gambaran yang lebih konkret tentang keterlibatan buku ajar dalam pelestarian pantun sebagai warisan budaya Indonesia. Dalam penelitian ini ditunjukkan hasil yang positif, keberadaan pantun dalam buku pelajaran telah menciptakan ruang ekspresif bagi siswa.
Budaya Dayak dan Unsur-Unsur Magis dalam Novel Kembang Gunung Purei Karya Lan Fang Cahyaningrum Dewojati; Ine Wulandari
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 11, No 2 (2022): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v11i2.5239

Abstract

This study analyzes the dialectics and negotiation process between elements contained in the narrative mode of magical realism by Wendy B. Faris. The material object is Kembang Gunung Purei novel by Lang Fang. The novel raises the issue of friction between two different cultures. The character of Nanang is described as a modern and logical cultural agent of a big city, while Bua is described as a figure who comes from the traditional Dayak community who believes in local cultural customs and magical things to solve various problems in life. This cultural background difference causes the emergence of dialectical and negotiation processes which can be explained by the five elements of Wendy B. Faris’ magical realism, such as irreducible elements, phenomenal world, unsettling doubts, disruptions of time, space, and identity. The five elements seek to equate the dominant subject with the marginalized subject. The results of the study show that the dialectic and negotiation process paved the way for the possibility of heterogeneity, not only from the dominant discourse (Nanang-modern), but also the marginalized discourse (Bua-traditional), not only from the subject called ‘West’ (immigrants-foreigners-city), but also the subject of the so-called ‘Timur’ (Dayak tribe). AbstrakPenelitian ini membahas dialektika dan proses negoisiasi antarelemen yang terdapat dalam mode naratif realisme magis yang digagas oleh Wendy B. Faris. Objek material yang digunakan adalah novel Kembang Gunung Purei karya Lang Fang. Novel tersebut mengangkat isu gesekan antara dua budaya berbeda. Tokoh Nanang digambarkan sebagai agen budaya kota besar yang modern dan logis, sementara Bua digambarkan sebagai tokoh yang berasal dari masyarakat tradisional Dayak yang banyak meyakini adat budaya lokal dan hal-hal magis sebagai solusi berbagai masalah dalam kehidupan. Latar belakang budaya yang berbeda itulah penyebab munculnya proses dialektika dan negosiasi yang dapat dijelaskan dengan lima elemen realime magis Wendy B. Faris, seperti irreducible element, phenomenal world, unsettling doubts, disruptions of time, space, dan identity. Kelima elemen tersebut berupaya untuk menyetarakan subjek yang dominan dengan subjek yang termaginalkan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses dialektika dan negosiasi membuka jalan bagi kemungkinan heterogenitas tidak hanya dari wacana yang dominan (Nanang-modern), melainkan juga wacana yang termaginalkan (Bua-tradisional), tidak hanya dari subjek yang disebut ‘Barat’ (pendatang-orang asing-kota), melainkan juga subjek yang disebut ‘Timur’ (suku Dayak).
Keragaman Kultur Film Kartun “Adit & Sopo Jarwo” dalam Perspektif Analisis Multimoda Ida Nuraeni; Yunidar Yunidar; Ulinsa Ulinsa
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 11, No 2 (2022): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v11i2.5316

Abstract

Children's cartoons are television shows that are an alternative for children to watch. This audiovisual presentation contains a lot of educational value. This paper aims to describe the cultural diversity contained in the children's cartoon film “Adit & Sopo Jarwo from the perspective of multimodal analysis. The method used in analyzing this cartoon is a qualitative method using content analysis. The content analysis model used is the multimodal analysis model proposed by Teo van Leeuwen. The results showed that the multimodal content in the ASJ film can be seen from the actors, characteristics, social relations, action and reaction, property, and criticality. AbstrakFilm kartun anak merupakan sajian pertelevisian yang menjadi alternatif tontonan bagi anak. Sajian audiovisual ini banyak mengandung nilai edukasi. Tulisan ini bertujuan untuk mendeskripsikan keragaman kultur yang terdapat dalam film kartun anak “Adit & Sopo Jarwo dalam perspektif analisis multimoda. Metode yang digunakan dalam menganalisis film kartun ini adalah metode kualitatif, yaitu analisis konten.  Model analisis konten yang digunakan adalah model analisis multimoda yang dikemukakan oleh Teo van Leeuwen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa multimoda yang terdapat dalam film ASJ dapat ditinjau dari pelaku, karakterisasi, hubungan sosial, aksi reaksi, properti, dan kekritisan.
Gangguan Kejiwaan Melancholia dalam Cerpen An Imaginative Woman Karya Thomas Hardly dan Novel Half Of A Yellow Sun Karya Cimamanda Gozi Adichie: Studi Perbandingan Sitti Hardianti
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 11, No 2 (2022): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v11i2.2855

Abstract

This study aims to classifying and analyze the aspects mental disorders of mourning and melancholia and the destructive effects in the character Ella Marchmill in short story by Thomas Hardly. An Imaginative Woman is a short story, where the main character has a libidinal cathexis that she loves, and feels that this figure has becomes her soulmate. However, over time her libidinal cathexis disappeared and its made Ella has depression and melancholy mental disorders. The theory that will be used psychoanalytic theory, Mourning and Melancholia theory by Sigmund Freud. The method used is a descriptive qualitative research method by analyzing data in the form of words, phrases, dialogues, etc. from Ella Marchmill’s characters. The results of the research prove that: 1) The character of Ella Marchmill in the short story An Imaginatie Woman has aspects of mourning and melancholia mental disorders, such as prolonged depression, abnormal emotions, etc. 2) This mental disorder (mourning and melancholia) also has a destructive effect Ella's character (Internal effect) and on Ella's husband and children (External effect).AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengklasifikasi dan menganalisis aspek-aspek gangguan kejiwaan mourning dan melancholia serta efek destruktif yang di alami oleh tokoh Ella Marchmill dalam cerpen An Imaginative Woman karya Thomas Hardly. An Imaginative Woman adalah sebuah cerpen, dimana tokoh utamanya memiliki sosok libidinal cathexis yang di cintai, dan merasa bahwa sosok itu telah menjadi satu dengan jiwanya. Namun, seiring berjalannya waktu libidinal cathexis-nya hilang sehingga hal ini membuat Ella mengalami depresi yang berkepanjangan dan mengakibatkan dirinya mengalami gangguan kejiwaan melancholia. Teori yang akan digunakan adalah teori psikoanalisis mourning dan melancholia dari Sigmund Freud, serta metode yang akan digunakan adalah metode penelitian kualitatif deskriptif yaitu dengan menganalisis data-data yang berupa kata, frasa, dialog, dll dari tokoh Ella Marchmill. Hasil penelitian membuktikan bahwa: 1) Tokoh Ella Marchmill dalam cerpen An Imaginatie Woman memiliki aspek-aspek gangguan kejiwaan mourning dan melancholia, seperti depresi yang berkepanjangan, emosi yang abnormal, dll. 2) Gangguan  kejiwaan ini juga memiliki efek destruktif yang dialami tokoh Ella (Efek Internal) dan yang dialami oleh suami Ella dan anaknya (Efek Eksternal).
Singularitas dan Identitas dalam Cerpen “Aroma Tanah Moncongloe” Wahyu Gandi G; Abdullah Abdullah
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 11, No 2 (2022): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v11i2.3592

Abstract

This study aims to uncover the praxis of singularity and self-identity (kedirian) as presented in a short story titled Aroma Tanah Moncongloe (ATM). This research uses a descriptive-qualitative method by applying the post-marxist perspective by Antonio Negri and Jean-Luc Nancy. The results signified that there is a labeling of identity constructed by the state as a form of uniformity that is in line with the empire or external power. This uniformity can be seen from the identity of former political prisoners who are isolated and find it difficult to find work. Through the concept of singularity and identity, the existence of political prisoner (ex-tapol) in turn is seen as bad, evil, and can pollute a clean society. On the other hand, this stigma forms a community of ex-tapol who were marginalized politically, socially, and economically. Furthermore, in the subject’s effort to grasp the singularity, there are two indications, shown by Nanni and the Moncongloe Tapol Community (KTM). Nanni is not tied to a single identity as a child (genealogical-biological), but tend to be an open-minded, rational, and trusting teacher (sociological). Meanwhile, KTM stands outside the global political order or empire which minimizes them being entangled in the global capitalist system.  AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk membongkar praksis singularitas dan identitas kedirian sebagaimana dihadirkan teks cerpen Aroma Tanah Moncongloe (ATM). Penelitian ini menggunakan metode deskriptif-kualitatif dengan menerapkan perspektif post-marxisme Antonio Negri dan Jean-Luc Nancy. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi labelisasi identitas yang dikonstruksi oleh negara sebagai bentuk penyeragaman yang sejalan dengan empire atau kekuasaan eksternal. Penyeragaman ini dapat dilihat dari identitas eks tapol yang terkucilkan dan sulit mendapatkan pekerjaan. Melalui konsep singularitas dan identitas, keberadaan eks tapol pada gilirannya dipandang sebagai sosok yang buruk, jahat, serta dapat mencemari masyarakat yang bersih. Stigmatitasi tersebut di sisi lain melahirkan komunitas eks tapol yang termarginalkan secara politik, sosial, dan ekonomi. Selanjutnya, upaya subjek merengkuh singularitas menunjukkan terdapat dua indikasi; yang diperlihatkan tokoh Nanni dan Komunitas Tapol Moncongloe (KTM). Nanni tidak terikat pada identitas yang tunggal sebagai seorang anak (genealogis-biologis), melainkan cenderung sebagai guru yang berpandangan terbuka, rasional, serta penuh kepercayaan (sosiologis). Sementara KTM berdiri diluar tatanan politik global atau empire yang meminimalisir mereka terjerat dalam sistem kapitalisme global.