cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra
ISSN : 20892926     EISSN : 25798138     DOI : -
Core Subject : Education,
JENTERA is a literary research journal published by Badan Pengembangan and Pembinan Bahasa, Ministry of Education and Culture. Jentera publishes the research articles (literary studies and field research), the idea of conceptual, research, theory pragmatice, and book reviews. Jentera publishes them biannually on June and December.
Arjuna Subject : -
Articles 218 Documents
Mengungkap Bentuk, Makna, dan Fungsi Ritual Vunja: Upaya Pemertahanan Kearifan Lokal Masyarakat Pantolobe Gazali Gazali; Fendi Eko Widodo
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 12, No 1 (2023): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v12i1.6071

Abstract

The study that uses descriptive qualitative method with hermeneutic approach aims to reveal the form, significance, and function of the "vunja" ritual. The result shows that there are eight forms of the ritual, such as molibu, mompelohi, mompanggahe, mompayo ada-ada manusia, mombangu vunja, mompanau ntoniasa, rego, and patompo manu. We discovered that vunja rituals have two significant meanings, verbal and nonverbal symbols. Whereas, we also discovered the significance of the rituals as (1) a sign of respect for the ancestor who bestowed a bountiful harvest, (2) an offering to the ancestor in the hope of future harvests, (3) a forum mutual cooperation of the local community for the swift implementation of the vunja ritual, and (4) a means for the vunja community members to interact with one another. AbstrakPenelitian yang menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan hermeneutik ini bertujuan untuk mengungkap bentuk, makna, dan fungsi ritual vunja. Hasil penelitian menyimpulkan bentuk ritual vunja terdiri atas delapan tahapan, yaitu molibu, mompelohi, mompanggahe, mompayo ada-ada manusia, mombangu vunja, mompanau ntoniasa, rego, dan patompo manu. Makna yang terkandung dalam ritual vunja adalah makna simbol verbal dan makna simbol nonverbal. Sementara itu, fungsi ritual vunja adalah (1) sebagai bentuk penghargaan kepada nenek moyang yang telah memberikan hasil panen yang berlimpah, (2) bentuk persembahan dengan harapan diberikan hasil yang lebih baik lagi pada musim tanam berikutnya, (3) wadah gotong royong masyarakat setempat untuk kelancaran pelaksanakan ritual vunja, dan (4) wadah menjalin interaksi antara masyarakat yang melaksanakan vunja dengan kerabat yang datang dari desa lain.
Muatan Kearifan Lokal dalam Teks Lagu Anak Berbahasa Jawa sebagai Penanaman Pendidikan Karakter di Sekolah Mukti Widayati; Benedictus Sudiyana; Nurnaningsih Nurnaningsih
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 12, No 1 (2023): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v12i1.5991

Abstract

Javanese children's songs semiotically signify the life of children with Javanese social and cultural backgrounds. The purpose of this study is to describe local wisdom that carries character values in Javanese children's song texts and to describe alternative implementations of character education in schools. This type of research is qualitative. The source of the research data is the text of Javanese children's songs or tembang dolanan that are still circulating in Javanese society. The data is in the form of quotations of words, expressions, or phrases in the tembang dolanan which contain character values. Data collection was carried out by reading and recording as well as by applying data analysis through critical analysis using heuristic and hermeneutic methods through content analysis. The results show that the local wisdom found is very relevant to character education according to the pillars of religion, harmony, respect for parents, responsibility, independence, prudence, cooperation, and integrity, as determined by the Ministry Education, Culture, Research, and Technology through literacy activities at the habituation stage and learning activities at the school. In conclusion, Javanese children's songs sung repeatedly can help instill character education. Therefore, tembang dolanan need to be given and sung repeatedly followed by understanding the values so that the atmosphere of planting 18 characters can be realized in accordance with the expectations of teachers and parents as recommended by the Ministry Education, Culture, Research, and Technology.  AbstrakLagu anak-anak berbahasa Jawa secara semiotik menandakan kehidupan anak dengan latar sosial dan latar budaya Jawa. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan kearifan lokal yang membawa nilai-nilai karakter dalam teks lagu anak-anak berbahasa Jawa dan mendeskripsikan alternatif implementasinya pada pendidikan karakter di sekolah. Penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan jenis penelitian teks. Sumber data penelitian adalah teks lagu anak berbahasa Jawa atau tembang dolanan yang masih beredar di masyarakat Jawa. Data berupa kutipan kata, ungkapan, atau frasa dalam tembang dolanan tersebut yang memuat nilai karakter. Pengumpulan data dilakukan dengan pembacaan dan pencatatan sekaligus dengan menerapkan analisis data melalui analisis kritis menggunakan cara heuristik dan hermeneutika melalui analisis konten. Hasilnya menunjukkan bahwa kearifan lokal yang ditemukan sangat relevan dengan pendidikan karakter sesuai dengan pilar religius, harmoni, hormat kepada orang tua, bertanggung jawab, mandiri, keberhati-hatian, gotong royong, integritas, sebagaimana ditetapkan oleh Kementerian Pendidikan, Budaya, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) melalui kegiatan literasi tahap pembiasaan dan kegiatan belajar di sekolah. Hasil penelitian menyimpulkan lagu anak-anak berbahasa Jawa yang dinyanyikan berulang-ulang dapat membantu penanaman pendidikan karakter. Oleh karena itu, tembang dolanan perlu diberikan dan dinyanyikan secara berulang diikuti pemahaman nilai agar suasana penanaman 18 karakter dapat terwujud sesuai dengan harapan guru dan orang tua sebagaimana yang direkomendasikan Kemendikbudristek. 
“The Forbidden Kingdom”: Dari Representasi sampai Dependensi Kajian Orientalisme Edward Said Badri Badri; Abi Ihsanullah; Lilis Heriyanti
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 12, No 1 (2023): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v12i1.4711

Abstract

The objectives of this research are to describe the representation and the dependency of the East and West using Edward Said's Orientalism. This research uses a descriptive qualitative method. The data collection method uses library research. The researcher watched The Forbidden Kingdom movie, then read books and journals that related to the topic. Data analysis was carried out by descriptive analysis between the data obtained and the explanation of the theory. The findings are the author represents the East through Lu Yan, The Silent Monk, Warlord, and Monkey King. Lu Yan represents a lazy and irrational person, The Silent Monk represents a harbored suspicion person, Warlord represents a depravity and inhuman person, and Monkey King represents a foolish person. The author also represents the East through the forests which have high grass and the deserts which have extreme weather. These places are dangerous and not friendly. The author also represents the East through citizens who are irrational and love violence. The author describes dependency on East to West, through China to Jason, while Jason is pulled by the golden staff to China in order to make China peaceful. AbstrakTujuan dari penelitian ini adalah untuk menggambarkan representasi serta ketergantungan Timur dan Barat menggunakan teori orientalisme milik Edward Said. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif. Metode pengumpulan data menggunakan studi pustaka. Peneliti menonton film The Forbidden Kingdom kemudian melakukan pembacaan terhadap buku dan jurnal terkait dengan topik yang akan diteliti. Analisis data dilakukan dengan cara analisis deskriptif antara data-data yang diperoleh dengan penjelasan teori. Hasil dari penelitian ini yaitu pengarang merepresentasikan Timur melalui tokoh Lu Yan, Biksu Pendiam, Warlord, dan Raja Monyet. Lu Yan digambarkan sebagai sosok yang pemalas dan irasional, Biksu Pendiam digambarkan sebagai sosok yang memendam rasa curiga, Warlord digambarkan sebagai sosok yang bejat moral dan tidak manusiawi, serta Raja Kera digambarkan sebagai sosok yang bodoh. Pengarang juga merepresentasikan Timur melalui hutan yang mempunyai rerumputan tinggi dan padang pasir yang bercuaca ekstrim. Dua tempat ini berbahaya dan tidak bersahabat. Pengarang juga merepresentasikan Timur melalui kehidupan sosial warga yang irasional dan mendahulukan kekerasan. Pengarang merepresentasikan ketergantungan Timur terhadap Barat melalui China terhadap Jason yang diawali dengan ditariknya Jason oleh tongkat emas menuju China untuk membuat China damai kembali.
Diskriminasi Ras dalam Cerita Pendek Skin Karya Emily Bernard Dhitya Faradilla
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 12, No 1 (2023): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v12i1.4975

Abstract

Skin’s short story tells how the social life of the black race in the United States is disturbed by the white race which dominates the social life of society. This research will reveal the impact of black race disorders who experience various forms of white race disorders. This research was conducted in line with the views of Newman’s critique. The research method used in this study is a qualitative descriptive method. The material object in this study is the short story Skin by Emily Bernard. The results of this study found several forms of harassment in the form of physical abuse and verbal expression. Discrimination that occurs also has an impact on the victim, as in the short story Skin, it affects the psychology of the victim, which causes the victim to experience excessive anxiety within herself over things that threaten her in the real world. AbstrakCerita pendek Skin menceritakan bagaimana kehidupan sosial ras kulit hitam di Amerika Serikat yang mengalami diskriminasi oleh ras kulit putih yang mendominasi kehidupan sosial masyarakat. Penelitian ini akan mengungkap dampak dari diskriminasi ras kulit hitam yang mengalami berbagai macam bentuk diskriminasi dari ras kulit putih. Penelitian ini dilakukan sejalan dengan pandangan diskriminasi oleh Newman. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif. Objek material dalam penelitian ini adalah cerita pendek Skin karya Emily Bernard. Hasil penelitian ini ditemukan beberapa bentuk diskriminasi berupa diskriminasi fisik (physical abuse) dan diskriminasi verbal (verbal expression). Diskriminasi yang terjadi juga memberikan dampak bagi korbannya, seperti, dalam cerpen Skin, memberikan pengaruh terhadap psikologi korban yang menyebabkan korban mengalami ganggaun kecemasan (anxiety) berlebih dalam dirinya atas hal yang mengancamnya di dunia nyata.
Potret Guru Mengaji dalam Novel Ghuffron Karya Humam S. Chudori Robiatul Aliyah; Novi Diah Haryanti
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 12, No 1 (2023): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v12i1.4795

Abstract

The role of the teacher cannot be separated from the task of optimizing education. The community environment knows violation education which is closely related to Quran teachers. The discussion about teachers in literary works is interesting to study, one of them is in the novel Ghuffron by Humam S. Chudori, which tells about the ups and downs of a Quran teacher. This study aims to describe the portrait of the Quran teachers found in the novel. This research uses literature study with qualitative descriptive approach, note-taking technique to collect data in the form of quotations from the novel as data analysis method and literature sociology as approaches. The results show that the portrait of the Quran teacher, based the community views, as a person who is knowledgeable, respected and trusted, sincerel and professional because teaching is a noble job. AbstrakPeran guru tidak lepas dari tugas untuk mengoptimalkan pendidikan. Lingkungan masyarakat mengenal pendidikan langgar yang erat kaitannya dengan guru mengaji. Pembahasan tentang guru dalam karya sastra menarik untuk dikaji, salah satunya dalam novel Ghuffron karya Humam S. Chudori, yang menceritakan tentang lika-liku kehidupan guru mengaji. Penelitian yang menggunakan studi pustaka dengan pendekatan deskriptif kualitatif ini bertujuan mendeskripsikan potret guru mengaji yang terdapat dalam novel tersebut. Selain itu, peneliti menggunakan metode analisis data dengan teknik simak catat dan mengumpulkan data berupa kutipan dalam novel serta menggunakan pendekatan sosiologi sastra. Hasil analisis menunjukan bahwa potret guru mengaji berdasarkan pandangan masyarakat adalah sebagai orang yang berilmu, berpengetahuan, dihormati dan dipercaya masyarakat, ikhlas, profesional karena guru merupakan pekerjaan yang luhur dan mulia.
Social and Internal Conflict in Stephenie Meyer’s Novel “Breaking Dawn”: Anthropology Study of Literature Askar Nur; Rahmat Yusuf
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 12, No 1 (2023): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v12i1.4709

Abstract

This research is about the analysis of social class, including internal and social conflicts in the novel Breaking Dawn by Stephenie Meyer. The objectives of this research are to know the kinds of conflicts and its most dominant one in the novel. The method used in this research is qualitative method by using anthropology of literature, whereas the data resource is the novel Breaking Dawn by Stephenie Meyer which was published in 2007, also some books were used to analyze and support this research. In collecting the data, the writer used note taking as the instrument to get the data. In this research, the researchers found that there are two kinds of conflict existed, i.e. social conflict and internal conflict, and the most dominant one occurs in the first eleven chapters of novel is the internal conflict. AbstrakPenelitian ini membahas analisis kelas sosial termasuk konflik internal dan sosial dalam novel Breaking Dawn karya Stephenie Meyer. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui jenis-jenis konflik dan jenis konflik yang paling dominan terdapat dalam novel Breaking Dawn karya Stephenie Meyer. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan pendekatan antropologi sastra. Sumber data penelitian ini adalah novel Breaking Dawn karya Stephenie Meyer yang diterbitkan pada tahun 2007 serta beberapa buku yang digunakan untuk menganalisis dan mendukung penelitian ini. Dalam mengumpulkan data, penulis menggunakan note-taking sebagai instrumen untuk mendapatkan data. Dalam penelitian ini, peneliti menemukan bahwa ada dua jenis konflik yang ada dalam novel tersebut, yaitu konflik sosial dan konflik internal, sedangkan jenis konflik yang paling dominan terjadi pada sebelas bab pertama novel ini adalah konflik internal.
Realisme Magis dalam Rondontō Karya Natsume Soseki Laily Raff Firdausy; Syahrur Marta Dwisusilo
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 12, No 1 (2023): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v12i1.4653

Abstract

It is said that magical realism first appeared in Germany in the 1920s. However, this also allegedly contained in Natsume Soseki’s Rondontō (published in 1905), way before the concept itself was being established. Rondontō tells about the visit of Japanese student to the Tower of London, where he experienced various irrational things. To prove Rondontō's values as a text with the genre of magical realism, we use five categorizations of magical realism by Wendy B. Faris. with literature review method. We categorize the magical realism characteristic in this text where irreducible elements were found in the form of the presence of spirits, then phenomenal world elements were fouind through the detailed descriptions and the appearance of unusual elements themselfs. In addition, there is also an element of unsettling doubt that is raised through the doubts of the main character in understanding his experience, which is connected to the merging of realms where the two worlds are joined between the fantasy stage and the real world. The main character keeps moving in time and places which indicates the occurrence of space and time disturbances. The presence of these five categorizations of magical realism indicates that Rondontō contains magical realism in it. Therefore, the statement that the concept of magical realism first appeared in Germany in the 1920s can not be said to be fit, but rather focuses only on its development in the west. AbstrakRealisme magis dikatakan muncul pertamakali di Jerman pada tahun 1920-an. Namun begitu, hal ini diduga terkandung pada teks Rondontō karya Natsume Soseki (1905), tahun dimana konsep ini belum dihadirkan. Rondontō bercerita tentang kunjungan mahasiswa Jepang ke Menara London, di mana ia mengalami hal-hal irasional. Untuk membuktikan bahwa cerpen Rondontō termasuk sebagai teks bergenre realisme magis, penulis menggunakan lima kategorisasi karakter genre realisme magis oleh Wendy B. Faris menggunakan metode studi pustaka, di mana unsur irreducible element digambarkan melalui hadirnya arwah masa lalu, lalu unsur phenomenal world melalui penggambaran detail yang amat rinci serta dimunculkannya elemen tidak biasa. Selain itu, terdapat unsur unsettling doubt yang dimunculkan melalui keraguan tokoh utama dalam memahami pengalamannya yang berkaitan dengan unsur merging realms (dua dunia tergabung antara panggung fantasi dan dunia nyata). Tokoh kerap melakukan perpindahan waktu dan tempat yang menandakan terjadinya unsur disruption of time and space. Kehadiran lima kategorisasi realisme magis ini menandakan bahwa cerpen Rondontō termasuk ke dalam teks bergenre realisme magis. Dengan demikian, pernyataan bahwa konsep realisme magis pertama kali muncul di Jerman pada tahun 1920an tidak dapat dikatakan sesuai, melainkan hanya berfokus pada perkembangannya di wilayah Barat.
Disruption of Natural Order in Video Game Dark Souls Mohammad Fahmi Yahya; Pratiwi Retnaningdyah
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 12, No 1 (2023): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v12i1.6025

Abstract

This study discusses the environmental issue distortion of the game Dark Souls using Garrard's ecocriticism theory and uses the qualitative descriptive method to analyze the data. The objectives of the study are to show the disruption of the natural order and its consequences. This study is conducted by gathering data from the game through screenshots and dialogues while also from the video through the narrative. The study shows that the disruption of natural order occurred because the individuals of the Age of Fire did not desire their era to end with them being replaced by the Age of Dark, which would be humanity's era, and thus do whatever is necessary to extend the Age of Fire, despite the fact that involves changing the nature of humanity itself. The consequences of the disruption experienced by every individual as the world grew hostile and dangerous, the world's logic warped, individuals suffering from the world's conflict as many resigned to their ultimate fate. Despite acknowledging environmental problems, few solutions have been formulated, leading to the continued deterioration of nature. AbstrakPenelitian ini membahas isu lingkungan yang menyimpang dari gim (permainan) Dark Souls dengan menggunakan teori ekokritik Garrard dan menggunakan metode deskriptif kualitatif untuk menganalisis data. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menunjukkan gangguan terhadap tatanan alam dan konsekuensi dari gangguan terhadap tatanan alam tersebut. Penelitian ini dilakukan dengan mengumpulkan data dari gim melalui tangkapan layar dan dialog, serta video melalui narasi. Temuan dari penelitian ini menunjukkan bahwa terganggunya tatanan alam terjadi karena individu-individu di Zaman Api tidak menginginkan era mereka berakhir dan digantikan oleh Zaman Kegelapan, yang akan menjadi era umat manusia sehingga mereka melakukan apa saja untuk memperpanjang Zaman Api, meskipun hal itu berarti mengubah sifat dasar dari umat manusia itu sendiri. Konsekuensi dari gangguan yang dialami oleh setiap individu ketika dunia menjadi semakin tidak bersahabat dan berbahaya, logika dunia menjadi bengkok, individu-individu yang menderita akibat konflik dunia banyak yang pasrah pada nasib mereka. Meskipun mengakui adanya masalah lingkungan, hanya sedikit solusi yang telah dirumuskan yang mengarah pada kerusakan alam yang terus berlanjut.
Isu Celaan Fisik dalam Cerita Pendek “Dinner Conversation” Niken Indah Marnani
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 12, No 1 (2023): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v12i1.4977

Abstract

The short story Dinner Conversation tells about the problem of oppression perpetrated by a husband against his wife who is the main character of this short story. This research will reveal the oppression in the form of body shaming and its impact experienced by the main character. The research method used in this research is descriptive analytical method. The material object of this research is the short story Dinner Conversation by Corie Adjmi. Researchers use the appropriate theory to analyze objects by using the theory of feminist intersectionality, the concept of body shaming, and the theory of self-objectification. Based on this research, the results can be determined as (1) the main character named Callie experienced bullying in the form of chronic body shaming and (2) the impact of the incident of body shaming on her is that she feels a lack of confidence, anxiety, and hurt. This research is expected to contribute to future studies which will discuss in more detail about physical disapproval or matters related to one's beauty and appearance. AbstrakCerita pendek Dinner Conversation menceritakan permasalahan mengenai penindasan oleh seorang suami kepada istri yang merupakan tokoh utama dari cerita pendek ini. Penelitian ini akan mengungkap penindasan dalam bentuk dan dampak celaan fisik yang dialami oleh tokoh utama. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif analitis. Objek material dari penelitian ini adalah cerita pendek Dinner Conversation karya Corie Adjmi. Peneliti menggunakan teori yang sesuai untuk menganalisis objek, yakni teori interseksionalitas feminis, konsep celaan fisik, dan teori objektifikasi diri. Atas penelitian tersebut, dapat ditentukan hasil dari penelitian berupa (1) tokoh utama bernama Callie mengalami penindasan berupa celaan fisik yang berjenis chronic body shame dan (2) dampak celaan fisik terhadap dirinya adalah kurangnya rasa percaya diri, kecemasan, dan tersakiti. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi penelitian-penelitian selanjutnya yang akan membahas lebih detail mengenai pencelaan fisik atau hal-hal yang berkaitan dengan kecantikan maupun penampilan seseorang.
Kritik Sosial dalam Novel Padang Bulan Karya Andrea Hirata (Kajian Sosiologi Sastra Sastra) Ulinsa Ulinsa; Gazali Lembah; Yunidar Nur; Nuraedah Nuraedah; Nur Fadilah
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 12, No 1 (2023): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v12i1.6058

Abstract

The disclosure of literary criticism on the novel by Andrea Hirata does not merely look at it clearly. Still, it refers to the social aspect as an outline of the conflict in the storyline. The study aims to reveal and describe the social criticism forms in the novel Padang Bulan by Andera Hirata using the sociology of literature study. The method used in this research is descriptive method and this type of research is qualitative research. The results of the analysis of this study indicate that there are five social criticisms in the novel Padang Bulan, such as moral criticism, political criticism, educational criticism, economic criticism, and cultural criticism. AbstrakPengungkapan kritik sastra pada novel karta Andrea Hirata tidak semata-mata hanya melihat secara gamblang, melainkan berpatokan pada aspek sosial sebagai garis besar konflik pada alur cerita. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap dan mendeskripsikan bentuk-bentuk kritik sosial dalam novel Padang Bulan karya Andera Hirata menggunakan kajian sosiologi sastra. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dan jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Hasil analisis dari penelitian ini menunjukkan bahwa ada lima kritik sosial dalam novel Padang Bulan, yaitu kritik moral, kritik politik, kritik pendidikan, kritik ekonomi, dan kritik kebudayaan.