cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra
ISSN : 20892926     EISSN : 25798138     DOI : -
Core Subject : Education,
JENTERA is a literary research journal published by Badan Pengembangan and Pembinan Bahasa, Ministry of Education and Culture. Jentera publishes the research articles (literary studies and field research), the idea of conceptual, research, theory pragmatice, and book reviews. Jentera publishes them biannually on June and December.
Arjuna Subject : -
Articles 218 Documents
Eksploitasi Marilyn Monroe dalam Film Blonde Karya Sutradara Andrew Dominik: Perspektif Psikologi Feminisme Rosidah, Umi
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 12, No 2 (2023): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v12i2.6331

Abstract

This study reveals the elements of feminism in Blonde by Andrew Dominik through the perspective of feminist psychology. This study aims to 1) reveal and explore the forms of torture and exploitation experienced by Marilyn 2) find out the struggles that Marilyn Monroe did in the film Blonde to fight against this injustice. This research is a qualitative research. This study uses the technique of observing and taking notes carefully and repetitively. Data were analyzed descriptively according to the theory of feminist psychological concepts. The steps of data collection carried out by researchers are as follows. 1) watch the entire contents of the film Blonde carefully. 2) finding data in the form of one by one dialogue related to the main character's feminism in the perspective of feminism psychology contained in the film Blonde. 3) noted the significant features that show the main character's feminism in the perspective of the psychology of feminism contained in the film Blonde. 4) summarize the data related to the psychology of feminism in the Blonde film. This research resulted in an analysis and exploitation of Marilyn Monroe in the form of sexual, physical and verbal violence and no opportunity to determine her own path in life. Struggle in the form of verbal and action by Marilyn Monroe to get out of a bad work environment.AbstrakKajian studi ini mengungkapkan unsur feminisme dalam film Blonde karya Andrew Dominik melalui perspektif psikologi feminis. Penelitian ini bertujuan untuk 1) mengungkapkan dan mengeksplorasi bentuk-bentuk penindasan dan eksploitasi yang dialami Marilyn 2) mengetahui perjuangan yang dilakukan Marilyn Monroe pada film Blonde untuk melawan ketidakadilan tersebut. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif.  Penelitian ini menggunakan teknik simak dan catat secara saksama dan repetitif. Data dianalisis secara deskriptif sesuai teori konsep psikologi feminisme. Langkah-langkah pengumpulan data yang dilakukan oleh peneliti adalah sebagai berikut. 1) menonton keseluruhan isi film Blonde secara saksama. 2) menemukan data berupa satuan dialog yang berkaitan tentang feminisme tokoh utama dalam perspektif psikologi feminisme yang terdapat dalam film Blonde. 3) mencatat ihwal-ihwal signifikan yang menunjukkan feminisme tokoh utama dalam perspektif psikologi feminisme yang terdapat dalam film Blonde. 4) meringkas data yang terkait dengan psikologi feminisme dalam film Blonde. Penelitian ini menghasilkan analisis penindasan dan ekploitasi pada Marilyn Monroe dalam bentuk kekerasan seksual, fisik, dan verbal serta tidak ada kesempatan dalam menentukan jalan hidupnya sendiri. Perjuangan dalam bentuk verbal dan tindakan yang dilakukan Marilyn Monroe untuk keluar dari situasi lingkungan kerja yang buruk.
Rekonsiliasi Keluarga dalam Cerita Rakyat Purbasari Ayu Wangi Atawa Lutung Kasarung (2008) dan Iklan Marjan 2020: Kajian Alih Wahana Riyanti, Yuni; Tjahjandari, Lily
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 13, No 1 (2024): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v13i1.6648

Abstract

This study uses the folklore of Purbasari Ayu Wangi atawa Lutung Kasarung by Ajip Rosidi (2008) and its adaptation works in the form of an advertisement for Marjan's product which will be broadcast in 2020. It is interesting to study this work to see how a folktale undergoes multiple transformations and still experiences changes when used as a commercial tool in the form of advertisements on television today. This research examine how ride-hailing travels in two media, namely text and video advertisements. The method used in this study is a qualitative method  focuses on adaptation. Theories and concepts used in this study are A.J. Greimas' structural theory, the concepts of adaptation, folklore, and advertising media discourse. The purpose of this research is to find out the family reconciliation contained in both corpus. The results of the study show that changes in media result in ideological changes in the conflicts shown through video advertisements. The journey of conflict in Purbasari Ayu Wangi atawa Lutung Kasarung shows how the power of older siblings dominates younger siblings. Family reconciliation is shown by how women are weak and dependent on men. Meanwhile, in the advertisement for Marjan 2020, the character Purbasari is shown to have power over herself. The presence of a man, namely Lutung Kasarung, plays a role in helping family reconciliation, but Purbasari appears with her own strength in resolving internal family conflicts. This research helps show how re-direction can improve the position of women without changing the core story. AbstrakPenelitian ini menggunakan cerita rakyat Purbasari Ayu Wangi atawa Lutung Kasarung (2008) karya Ajip Rosidi dan karya adaptasinya berupa iklan produk Marjan yang tayang pada tahun 2020. Karya tersebut menarik diteliti untuk melihat sebuah cerita rakyat mengalami transformasi berkali-kali dan masih mengalami perubahan ketika dijadikan alat komersil dalam bentuk iklan di televisi pada masa kini. Penelitian ini mengkaji perjalanan alih wahana dalam dua media, yakni teks dan video iklan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan pendekatan alih wahana yang berfokus pada adaptasi. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori struktural A.J. Greimas. Sementara itu, konsep yang digunakan berupa konsep adaptasi, folklor, dan wacana media iklan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui rekonsiliasi keluarga yang terdapat dalam kedua korpus. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perubahan wahana mengakibatkan perubahan ideologi dalam konflik yang ditampilkan melalui video iklan. Perjalanan konflik dalam Purbasari Ayu Wangi atawa Lutung Kasarung memperlihatkan kuasa kakak mendominasi adik, rekonsiliasi keluarga diperlihatkan perempuan sebagai sosok yang lemah dan bergantung kepada laki-laki. Sementara itu, dalam iklan Marjan 2020 tokoh Purbasari diperlihatkan mempunyai kuasa atas dirinya sendiri. Kehadiran laki-laki yakni Lutung Kasarung berperan membantu rekonsiliasi keluarga, tetapi Purbasari tampil dengan kekuatannya sendiri dalam menyelesaikan konflik internal keluarga. Penelitian ini membantu memperlihatkan alih wahana dapat membuat posisi perempuan menjadi lebih baik tanpa harus mengubah inti ceritanya.
Mitos Air Terjun Likunggavali: Kajian Strukturalisme Levi-Strauss Nuraeni, Ida; Risvirenol, Risvirenol; Nurazizah, Arini
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 12, No 2 (2023): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v12i2.6544

Abstract

This research aims to describe the structure found in the mythical Likunggavali waterfall in the village of Uevolo. This research uses qualitative descriptive research methods. The source of the data in this study is the oral text obtained from the results of interviews and observations. The data in this study is the units of language as a sentence. The data was analyzed using the Levi-Strauss structuralist approach. The results of this study show that the structure found in the mythical Likunggavali waterfall is divided into two categories: geographical structure and sociological structure. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan struktur yang terdapat di dalam mitos air terjun Likunggavali di desa Uevolo. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kualititatif. Sumber data dalam penelitian ini adalah teks lisan.  pengamatan, wawancara, perekaman, pencatatan, dan dokumentasi. Yang menjadi data dalam penelitian ini adalah satuan bahasa berupa kalimat. Data tersebut dianalisis menggunakan pendekatan kajian strukturalisme Levi-Strauss. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa struktur yang terdapat dalam mitos air terjun Likunggavali terbagi dua yaitu struktur geografis dan struktur sosiologis.
Aktualisasi Diri Tokoh Utama pada Novel Merindu Cahaya De Amstel Karya Arumi E. Hanifa, Nur; Sugiarti, Sugiarti
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 12, No 2 (2023): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v12i2.5774

Abstract

This research was conducted to describe (1) the forms of the main character's self-actualization in the novel Merindu Cahaya de Amstel by Arumi E. and (2) the factors that cause the main character's self-actualization in the novel Merindu Cahaya de Amstel by Arumi E. The approach used in this research is a humanist psychology approach. The research method used is descriptive qualitative. The results of the study show that (1) the forms of self-actualization possessed by the main character in the novel Merindu Cahaya de Amstel by Arumi E. are acceptance of self, other people, and natural things, simplicity, discrimination between ways and goals, constantly new rewards, and strong interpersonal relationships. (2) the factors that cause self-actualization of the main character in the novel Merindu Cahaya de Amstel by Arumi E, namely environmental factors, the need for a high sense of security, and habits. The conclusion of the main character's self-actualization in the novel Merindu Cahaya de Amstel by Arumi E, is formed because of the main character's awareness which is influenced by several factors. AbstrakPenelitian ini mendeskripsikan (1) bentuk-bentuk aktualisasi diri tokoh utama dalam novel Merindu Cahaya de Amstel karya Arumi E., dan (2) faktor-faktor penyebab aktualisasi diri tokoh utama dalam novel Merindu Cahaya de Amstel  karya Arumi E. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan psikologi humanisme. Metode penelitian yang digunakan ialah deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) bentuk-bentuk aktualisasi diri yang dimiliki tokoh utama dalam novel Merindu Cahaya de Amstel karya Arumi E. yaitu penerimaan akan diri, orang lain, dan hal-hal alamiah, kesederhanaan, diskriminasi antara cara dan tujuan, penghargaan yang selalu baru, dan hubungan interpersonal yang kuat. Adapun, (2) faktor-faktor penyebab aktualisasi diri tokoh utama dalam novel Merindu Cahaya de Amstel karya Arumi E, terdiri dari faktor lingkungan, kebutuhan akan rasa aman yang tinggi, dan kebiasaan-kebiasaan. Kesimpulan aktualisasi diri tokoh utama dalam novel Merindu Cahaya de Amstel karya Arumi E, terbentuk karena kesadaran tokoh utama yang dipengaruhi oleh beberapa faktor.
Air yang Kultural dan Ideologis: Konstruksi Naratologis Kuala dalam Hikayat Parang Puting Windayanto, Riqko Nur Ardi
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 13, No 1 (2024): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v13i1.7149

Abstract

This research aims to reveal the narratological construction of kuala in the Hikayat Parang Puting so that its cultural and ideological values can be identified. By amalgamating the narratological theory of Mieke Bal and Ansgar Nünning, this research moves dialectically between literary works and Malay culture to reveal this construction. The Hikayat Parang Puting MSS Malay D 3 as the British Library collection that has been transliterated is the data source for gathering linguistic units representing kuala constructions. Methodologically, this data is textually analyzed with attention to its context in literary works and the narratology theories employed. The analysis is further reinforced with literature reviews to correlate the literary data with cultural data beyond the text. This research found that kuala is a geographical element that is spread out, one of which is in Penang. In Penang, Hikayat Parang Puting was produced by Ibrahim. The presence of kuala in the text, thus, cannot be separated from that fact. Similar to the cultural idea of kuala, kuala in the text is perceived by the characters and narrator as a space of power (Hall-Airriess) and a liminal space (Andaya). However, this power does not mean a force; liminal space does not contain spiritual potential, but rather myth. Kuala tends to be constructed as an intermediate location that is connected to a dangerous world as well as a space that is safe from these dangers. Narratively, kuala is also a location that conveys land and sea as two opposing locations in the story. This research ultimately concludes that the cultural and ideological kuala is a geographical object that articulates animistic energies, which can bring both security and danger as well as disasters and safety. This becomes the reality of the meaning and culture offered by the tale. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menguraikan konstruksi naratologis kuala dalam Hikayat Parang Puting sehingga dapat diketahui nilai kultural dan ideologisnya. Penggunaan teori naratologi dari Mieke Bal dan Ansgar Nünning menjadikan penelitian ini bergerak secara dialektal antara karya sastra dan budaya Melayu untuk mengungkapkan konstruksi itu. Hikayat Parang Puting MSS Malay D 3 koleksi British Library yang telah dialihaksarakan menjadi sumber data untuk menghimpun data satuan-satuan lingual yang merepresentasikan konstruksi kuala. Secara metodologis, data ini dianalisis secara tekstual dengan memperhatikan konteksnya dalam karya sastra dan teori naratologi yang digunakan. Analisis diperkuat pula dengan studi pustaka sehingga data karya sastra dikorelasikan dengan data budaya di luar teks. Penelitian ini menemukan bahwa kuala merupakan elemen geografis yang tersebar, salah satunya, di Penang. Di Penang inilah Hikayat Parang Puting diproduksi oleh Ibrahim. Kehadiran kuala dalam teks, dengan demikian, tidak terlepas dari kenyataan itu. Mirip dengan gagasan budaya tentang kuala, kuala dalam teks dipersepsikan oleh karakter dan narator sebagai ruang kekuasaan (Hall-Airriess) dan ruang liminal (Andaya). Namun, kekuasaan ini tidak berarti kekuatan; ruang antara tidak mengandung potensi spiritual, tetapi mitologis. Kuala cenderung dikonstruksi sebagai ruang antara yang terhubung dengan dunia yang berbahaya sekaligus ruang aman dari bahaya tersebut. Secara naratif, kuala juga menjadi lokasi yang mengantarai daratan dan lautan sebagai dua lokasi yang beroposisi dalam cerita. Penelitian ini pada akhirnya menyimpulkan bahwa kuala yang kultural dan ideologis adalah objek geografis yang mengartikulasikan energi animisme, yang bisa mendatangkan rasa aman dan bahaya juga bencana dan keselamatan. Hal itu menjadi kenyataan makna dan budaya yang ditawarkan oleh hikayat.
Nilai Estetika pada Puisi Mantra Sunda di Kecamatan Cilawu Kabupaten Garut Ilmi, Tasya Nur; Isnendes, Chye Retty; Suherman, Agus
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 13, No 1 (2024): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v13i1.7325

Abstract

Mantra is one of the ancient forms of poetry that holds its own uniqueness in the realm of literature. Its uniqueness lies not only in its linguistic aspects, which are captivating, but also in its perceived magical powers. This study aims to inventory mantras that are still found scattered in Cilawu District, Garut Regency, accompanied by an aesthetic value analysis. The method employed is descriptive analytics with fieldwork techniques including observation, documentation, and interviews. The data collected from the field consists of 50 mantras, comprising 15 asihan mantras, 12 jangjawokan mantras, 5 jampe mantras, 9 singlar mantras, 2 rajah mantras, and 7 ajian mantras. However, for the purpose of this study, 6 types of mantras were sampled for analysis. The aesthetic values embedded in the mantras encompass philosophical aesthetics, language style, and linguistic sound. The philosophical aesthetic values found in the mantra poems encompass moral, social, psychological, historical, and religious values. The language styles employed include metaphor, association, hyperbole, personification, and simile. The linguistic sounds exhibit eight patterns, namely purwakanti pangluyu, purwakanti mindoan kawit, purwakanti laras madya, purwakanti cakraswara, purwakanti rangkepan, purwakanti laras wekas, purwakanti mindoan wekas, purwakanti margaluyu, purwakanti laras purwa, and purwakanti mindoan kawit.AbstrakMantra merupakan salah satu bentuk puisi lama yang memiliki keunikan tersendiri dalam khazanah sastra. Keunikan tersebut di samping terletak pada aspek kebahasaannya yang bersifat eksitoris, juga dianggap memiliki kekuatan magis. Kajian ini bertujuan untuk menginventarisasi mantra yang masih tersebar di Kecamatan Cilawu, Kabupaten Garut, dengan disertai kajian nilai estetika. Metode yang digunakan, yaitu deskriptif analitik dengan teknik kerja lapangan berupa inventarisasi, dokumentasi, dan wawancara. Data yang terkumpul dari lapangan adalah 50 mantra, yang terdiri atas 15 mantra asihan, 12 mantra jangjawokan, 5 mantra jampe, 9 mantra singlar, 2 mantra rajah, dan 7 mantra ajian. Namun, pada penelitian ini diambil sampel 6 jenis mantra untuk dianalisis. Nilai estetika yang terkandung dalam mantra tersebut meliputi estetika filosofis, gaya bahasa, dan bunyi bahasa. Nilai estetika filosofis pada puisi mantra, yaitu nilai moral, nilai sosial, nilai psikologis, nilai historis, dan nilai religi. Gaya bahasa yang digunakan di antaranya majas metafora, majas asosiasi, majas hiperbola, majas personifikasi, dan majas simile. Adapun bunyi bahasa memiliki delapan pola, yaitu purwakanti pangluyu, purwakanti mindoan kawit, purwakanti laras madya, purwakanti cakraswara, purwakanti rangkepan, purwakanti laras wekas, purwakanti mindoan wekas, purwakanti margaluyu, purwakanti laras purwa, dan purwakanti mindoan kawit.
Resistensi Tokoh Utama terhadap Ruang Kota Pascakolonial dalam Novel Divergent Karya Veronica Roth Sar, Siswantia
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 12, No 2 (2023): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v12i2.6085

Abstract

This paper aims to reveal colonial construction of city space in a dystopian novel, Divergent by Veronica Roth and to analyze the resistance of the main character, Tris Prior, as a form of negotiation toward the postcolonial space. This research will be using postcolonial space theory by Sara Upstone. The result of this discussion shows that the colonial in the novel Divergent constructed colonial space on a city scale in order to maintain their control toward their colonical object by arousing chaos and doing overwriting also establishing the orders and borders in Chicago as a postcolonial city space. Chicago, which was originally a flexible and fluid space, was constructed into an absolute, orderly and rigid place. Violations of rules and boundaries created by the colonial then formed a new structure called post-space as a spatial response to postcolonial space. AbstrakTulisan ini bertujuan untuk mengungkap konstruksi ruang kota pascakolonial di dalam novel bertema distopia Divergent karya Veronica Roth serta menganalisis resistensi yang dilakukan oleh tokoh utama, Tris Prior, sebagai bentuk negosiasi terhadap ruang pascakolonial. Penelitian ini menggunakan teori ruang pascakolonial yang dikemukakan oleh Sara Upstone. Hasil dari pembahasan menunjukkan bahwa pihak kolonial dalam novel Divergent melakukan suatu upaya konstruksi ruang dalam skala kota guna mempertahankan kontrol terhadap masyarakat kolonialnya dengan memunculkan chaos dan melakukan overwriting serta menerapkan aturan-aturan dan batasan-batasan di kota Chicago sebagai ruang kota pascakolonial. Chicago yang awalnya merupakan suatu ruang yang lentur dan cair dikonstruksi menjadi tempat yang absolut, teratur, dan kakuPelanggaran-pelanggaran terhadap aturan dan batasan yang diciptakan pihak kolonial kemudian membentuk suatu struktur baru yang disebut post-space sebagai respon spasial ruang pascakolonial.
Unsur Budaya dalam Naskah “Wawacan Suluk Ki Ganda jeung Ki Sari” Ghoni, Deni Abdul; Herlina, Yeni; Sudaryat, Yayat
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 13, No 1 (2024): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v13i1.7032

Abstract

This research aims to describe the cultural elements in the Wawacan Suluk Ki Ganda jeung Ki Sari manuscript, which generally contains matters of Islamic monotheism. This research uses a descriptive qualitative approach with literature and document study methods. Data sources in the form of WSKGKS manuscripts were obtained from the National Library of Indonesia website with the number Plt. Plt 36 case 121. Then, the data was obtained using the seven elements of culture according to Koentjaraningrat. Of the seven cultural elements studied, only six elements appear in this manuscript, which include 1) religious system, 2) organizational system, 3) knowledge system, 4) language, 5) art, and 6) technology system, while the livelihood system does not appear at all. From the analysis of each of these cultural elements it shows that the elements or cultural systems that emerge are very attached and wrapped in Islamic principles. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan unsur budaya yang ada dalam naskah Wawacan Suluk Ki Ganda jeung Ki Sari (WSKGKS) yang secara umum memuat perihal ketauhidan agama Islam. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif dari pemanfaatan langkah kerja filologi dan penggunaan teori tujuh unsur budaya menurut Koentjaraningrat. Sumber data berupa naskah WSKGKS yang didapatkan dari laman Perpustakaan Nasional RI dengan nomor Plt. Plt 36 peti 121. Dari tujuh unsur budaya yang diteliti, hanya enam unsur yang muncul dalam naskah ini, yaitu 1) sistem religi, 2) sistem organisasi, 3) sistem pengetahuan, 4) bahasa, 5) kesenian, dan 6) sistem teknologi, sedangkan sistem mata pencaharian tidak muncul sama sekali. Dari hasil analisis setiap unsur budaya tersebut terlihat bahwa unsur-unsur atau sistem-sistem kebudayaan yang muncul sangat melekat dan dibalut oleh prinsip keislaman.
Mental Health Crisis and World Wars: A Semiotic Analysis of Alfred Hayes' Three Selected Poems A., Afraah S.; Suwargono, Eko; Kusumayanti, Dina Dyah
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 12, No 2 (2023): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v12i2.5293

Abstract

This article moots mental health crisis qua the impact of World Wars in Alfred Hayes' three selected poems: 'Singleman' (1936), 'The Shrunken Head' (1948), and 'The Slaughter-House' (1943). This research utilizes Michael Riffaterre's Semiotics of Poetry theory to dissect the purport and significance of the selected odes and wields some contentions (UNICEF, SAMHSA, Mann, Conner, Afridi, and Larson) and chronicle qua hypogram to limn mental health crisis qua the impact of World Wars relevant to the increasing rate amount of mental health phenomenon nowadays. Qualitative research marks this study. This kind of research employs non-numerical data and dissection. The upshot of this probe divulges that these runes enunciate suicidal thought, insecurity, and shambles issue qua the yield of the fettle of ere war British colony's identification forfeit. AbstrakArtikel ini berbicara tentang krisis kesehatan mental sebagai akibat dari Perang Dunia dalam tiga puisi pilihan Alfred Hayes: 'Singleman' (1936), 'The Shrunken Head' (1948), dan 'The Slaughter-House' (1943). Penelitian ini menggunakan teori Semiotika Puisi oleh Michael Riffaterre untuk menemukan arti dan makna dari puisi-puisi pilihan tersebut dan menggunakan beberapa pendapat (UNICEF, SAMHSA, Mann, Conner, Afridi, and Larson) dan konteks sejarah sebagai hipogram untuk menggambarkan krisis kesehatan mental sebagai akibat dari Perang Dunia berkaitan dengan jumlah (tingkat) kecepatan gejala kesehatan mental yang meningkat saat ini. Penelitian kualitatif menandai kajian ini. Hasil penelitian ini mengungkap bahwa puisi-puisi ini memberitahukan pemikiran bunuh diri, kegelisahan, serta masalah keadaan kacau balau sebagai hasil dari keadaan kehilangan jati diri masyarakat Inggris sebelum perang.
Fokalisasi pada Novel Ranah 3 Warna Karya Ahmad Fuadi: Kajian Naratologi Gerard Genette Jambak, Mellinda Raswari; Masadi, M. Anwar; Hasanah, Ummi
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 12, No 2 (2023): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v12i2.6019

Abstract

Very often, focalization in the study of narratology is neglected in its use in literary works. The point of view in a short story or novel is one of the basics for understanding literary works. Based on this, focalization becomes one of the most important elements in the intrinsic structure of literary works. This study aims to describe the forms of internal and external focalization in the novel Ranah 3 Warna by Ahmad Fuadi. The method used is narrative method and structural approach. The theory used as a knife of analysis is Gerard Genette's theory of narratology. Words, phrases, sentences in the novel Ranah 3 Warna related to relevant theories will be the focus of the study. Data was collected by reading and note technique. The results of this study found three internal focalization data from the novel Ranah 3 Warna which represent other data. Alif describes several figures, namely Rusdi, Wira, and Agam. While on external focalization, Alif received information from several figures, namely Mr. Etek Gindo, Ustad Salman and Asti, his classmate at FISIP AbstrakSering sekali fokalisasi dalam kajian naratologi diabaikan penggunaannya dalam karya sastra. Sudut pandang dalam sebuah cerpen atau novel menjadi salah satu dasar tercapainya pemahaman karya sastra. Berdasarkan hal tersebut, fokalisasi menjadi salah satu elemen terpenting dalam struktur intrinsik karya sastra. Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan bentuk fokalisasi internal dan fokalisasi eksternal dalam novel Ranah 3 Warna karya Ahmad Fuadi. Metode yang digunakan ialah metode naratif dan pendekatan struktural. Teori yang dipakai sebagai pisau analisis adalah teori naratologi Gerard Genette. Kata, frasa, kalimat pada novel Ranah 3 Warna yang berkaitan dengan teori yang relevan akan menjadi fokus kajian. Data dikumpulkan dengan teknik baca dan catat. Hasil penelitian ini ditemukan tiga data fokalisasi internal dari novel Ranah 3 Warna yang mewakili data-data lainnya. Alif mendeskripsikan beberapa tokoh yaitu Rusdi, Wira, dan Agam. Sedangkan pada fokalisasi eksternal, Alif mendapatkan informasi dari beberapa tokoh yaitu Pak Etek Gindo, Ustad Salman dan Asti kakak kelasnya di FISIP.