cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra
ISSN : 20892926     EISSN : 25798138     DOI : -
Core Subject : Education,
JENTERA is a literary research journal published by Badan Pengembangan and Pembinan Bahasa, Ministry of Education and Culture. Jentera publishes the research articles (literary studies and field research), the idea of conceptual, research, theory pragmatice, and book reviews. Jentera publishes them biannually on June and December.
Arjuna Subject : -
Articles 218 Documents
Pengaruh Sins of Memory terhadap Trauma dalam Cerpen Rēdāhōzen (レーダーホーゼン) Karya Haruki Murakami Inaqotul Fikroh
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 12, No 1 (2023): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v12i1.3971

Abstract

This study aims to explain the impact of sins of memory on trauma in the short story Rēdāhōzen by Murakami Haruki. Rēdāhōzen tells the story of Kanojo who has a trauma caused by his parents' divorce. The trauma that happened to her was influenced by her sins of memory to understand the traumatic events that occurred. The author uses theory of sins of memory initiated by Daniel Sachert and qualitative research methods through application to data collection and data analysis. The results of this study indicate that the sins of memory that affect the characters are found in sins of memory commission in the form of sins of bias and sins of suggestibility. It makes the character experience repeated failures in love relationships and avoids marriage. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menjelaskan pengaruh dari sins of memory terhadap trauma dalam cerita pendek Rēdāhōzen karya Haruki Murakami. Rēdāhōzen bercerita tentang Kanojo yang memiliki trauma yang dipicu perceraian orang tuanya. Trauma yang terjadi padanya dipengaruhi oleh kesalahan memorinya (sins of memory) untuk memahami peristiwa traumatis yang terjadi. Penelitian ini menggunakan teori sins of memory yang dicetuskan oleh Daniel Sachert dan metode penelitian kualitatif melalui pengaplikasian dengan pengumpulan data dan analisis data. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa sins of memory yang memengaruhi tokoh terdapat dari kesalahan memori commision yang berbentuk dosa bias dan dosa suggestibility. Dosa memori tersebut menjadikan tokoh mengalami kegagalan berulang dalam hubungan percintaan dan keenganan dalam pernikahan.
Analisis Minat Mahasiswa dalam Berliterasi Sastra melalui Kegiatan Membaca dan Menyimak di Era VUCA Rina Heryani; Haerul Haerul
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 12, No 1 (2023): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v12i1.6270

Abstract

The era of disruption, which is full of uncertain phenomena, has affected the way people think and act today, including in the context of education. This era was later referred to as the era of volatility, uncertainty, complexity, and ambiguity (VUCA). This study aims to analyze the comparative interest of students in literary literacy through reading and listening activities in the VUCA era. The method used in this research is descriptive qualitative method. Research data was collected through the Google Questionnaire instrument which contained statements related to comparisons between students' literary literacy activities through reading and listening activities. The data obtained is then analyzed and interpreted then described. The results of this study indicate that the number of students who are very interested in literature teaching materials in book form, namely 11 people (13.4%), while the number of students who are very interested in literature teaching materials in video form, namely 36 people (43.9%) ). The number of students who were very able to focus on reading literature learning books, namely 20 people (24.4%), while the number of students who were very able to focus on listening to literature learning videos, namely 33 people (40.2%). The number of students who collected information about literature by reading books was 13 people (15.9%), while the number of students who researched information about literature by watching videos was 30 people (36.6%). The number of students who read literature learning books very regularly, namely 7 people (8.5%), while the number of students who very regularly watched literature learning videos, namely 17 people (20.7%). The number of students who strongly agreed to prepare for learning literature by reading books, namely 8 people (9.8%), while the number of students who strongly agreed to prepare for learning literature by watching videos, namely 16 people (19.5%). Therefore, it is necessary to carry out a learning transformation and efforts to increase literary literacy through digitizing learning media. Efforts to improve the quality of literary literacy in the VUCA era cannot only be focused on reading activities, but also utilizing listening activities. AbstrakEra disrupsi yang penuh dengan fenomena ketidakpastian telah mempengaruhi cara berpikir dan bertindak masyarakat saat ini, termasuk dalam konteks pendidikan. Era tersebut kemudian disebut sebagai era volatility, uncertainty, complexity, dan ambiguity (VUCA). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbandingan minat mahasiswa dalam berliterasi sastra melalui kegiatan membaca dan menyimak di era VUCA. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode deskriptif kualitatif. Data penelitian dikumpulkan melalui instrumen google quesioner yang berisi pernyataan-pernyataan terkait perbandingan antara kegiatan berliterasi sastra mahasiswa melalui kegiatan membaca dan menyimak. Data yang diperoleh selanjutnya dianalisis dan diinterpretasi kemudian dideskripsikan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa jumlah mahasiswa yang sangat tertarik dengan bahan ajar sastra dalam bentuk buku, yaitu 11 orang (13,4%), sedangkan jumlah mahasiswa yang sangat tertarik dengan bahan ajar sastra dalam bentuk video, yaitu 36 orang (43,9%). Jumlah mahasiswa yang sangat mampu memusatkan perhatian dalam membaca buku pembelajaran sastra, yaitu 20 orang (24,4%), sedangkan  jumlah mahasiswa yang sangat mampu memusatkan perhatian dalam menyimak video pembelajaran sastra , yaitu 33 orang (40,2%). Jumlah mahasiswa yang menggali informasi tentang sastra dengan membaca buku, yaitu 13 orang (15,9%), sedangkan jumlah mahasiswa yang menggali informasi tentang sastra dengan menyimak video, yaitu 30 orang (36,6%). Jumlah mahasiswa yang sangat rutin membaca buku pembelajaran sastra, yaitu 7 orang (8,5%), sedangkan jumlah mahasiswa yang sangat rutin menyima video pembelajaran sastra, yaitu 17 orang (20,7%). Jumlah mahasiswa yang sangat setuju melakukan persiapan pembelajaran sastra dengan membaca buku, yaitu 8 orang (9,8%), sedangkan jumlah mahasiswa yang sangat setuju melakukan persiapan pembelajaran sastra dengan menyimak video, yaitu 16 orang (19,5%). Oleh karena itu, perlu dilakukan sebuah transformasi pembelajaran dan upaya peningkatan literasi sastra melalui digitalisasi media pembelajaran. Upaya peningkatan kualitas literasi sastra di era VUCA, tidak bisa hanya difokuskan melalui kegiatan membaca, tetapi juga memanfaatkan kegiatan menyimak.
Identitas Kuliner Nusantara dalam Kumpulan Puisi Aku Lihat Bali Karya Mas Triadnyani Dian Hartati; Ahmad Abdul Karim
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 12, No 1 (2023): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v12i1.6002

Abstract

Culinary-themed poetry phenomenon shows that poets begin to construct and utilize culinary issues in the creative process. Responding to this phenomenon, it is important to interpret the elements of literary gastronomy in culinary-themed poetic texts. This research aims to describe the culinary identity of the deep archipelago poetry collection I See Bali by Mas Triadnyani. Poetry studies utilize a qualitative approach and study design gastrocritic. The approach and design of the study are used as an effort to unravel the culinary identity of the archipelago in poetry texts. Data collection techniques apply reading techniques, note-taking techniques, and literature study techniques to books, journals, articles, and readings that are relevant to the focus of the study. The data that has been collected is processed through several stages, including data selection, data meaning, and conclusions in the form of interpretation of the selected data. The results of the analysis show that the lyrics in the poetry text symbolically show behavior in the form of (1) the feeling of pleasure when eating crackers and spice-scented dishes, (2) measurements are used to create dishes according to recipes, (3) the unique sound created when eating crackers is a contemporary musical performance; (4) ketupat and kerupuk have different names in each region, (5) the diamond is closely related to the history of the spread of Islam by Sunan Kalijaga, (6) ketupat become one of the culinary archipelagoes that is closely related to tradition Idulfitri, and (7) crackers has existed since the Mataram kingdom, Dutch East Indies colonialism, to the contemporary era. AbstrakFenomena puisi bertema kuliner menunjukkan para penyair mulai mengonstruksi dan memanfaatkan isu kuliner dalam proses kreatif. Merespons fenomena tersebut, penting dilakukan penafsiran anasir gastronomi sastra dalam teks-teks puisi bertema kuliner. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan identitas kuliner nusantara dalam kumpulan puisi Aku Lihat Bali karya Mas Triadnyani. Kajian puisi memanfaatkan pendekatan kualitatif dan desain kajian gastrokritik. Pendekatan dan desain kajian dimanfaatkan sebagai upaya membongkar identitas kuliner nusantara dalam teks puisi. Teknik pengumpulan data menerapkan teknik membaca, teknik mencatat, serta teknik studi literatur terhadap buku, jurnal, artikel, dan berbagai bacaan yang relevan dengan fokus kajian. Semua data yang telah dihimpun diolah melalui beberapa tahapan, meliputi pemilihan data, pemaknaan data, serta simpulan berupa tafsir terhadap data terpilih. Hasil analisis menunjukkan aku lirik dalam teks puisi secara simbolis menunjukkan perilaku berupa (1) perasaan senang saat menyantap kerupuk dan masakan beraroma rempah, (2) takaran digunakan untuk menciptakan masakan sesuai dengan resep, (3) suara unik yang tercipta saat menyantap kerupuk merupakan sebuah pertunjukkan musik kontemporer, (4) ketupat dan kerupuk mempunyai penamaan yang berbeda-beda di setiap daerah, (5) ketupat berhubungan erat dengan sejarah penyebaran agama Islam yang dilakukan oleh Sunan Kalijaga, (6) ketupat menjadi salah satu kuliner nusantara yang bertalian erat dengan tradisi Idulfitri, dan (7) kerupuk memiliki eksistensi mulai dari masa kerajaan Mataram, kolonialisme Hindia Belanda, hingga era kontemporer.
Conflict of Irish Cultural Identity in Brian Friel’s Translation Ambar Andayani; Edi Pujo Basuki; Ali Mustofa
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 12, No 1 (2023): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v12i1.6281

Abstract

This research purposes to analyze Irish cultural identity conflict in Brian Friel’s Translation, namely by analyzing why it happens and how it impacts to Irish. The method applied to analyze is descriptive qualitative method by doing content analysis through data collecting technique in the form of library research. From the data source of Brian Friel’s Translation, the researcher does the technique of interpretation by using Homi K. Bhabha’s postcolonialism theory of mimicry concept to identify the conflict of Irish cultural identity found in the literary work. The result of the research shows that the setting in Brian Friel’s Translation is Northern Ireland in the 19th century. Irish people are surrendered to be the British colony. British people colonize Irish in various ways; destroying Irish rights by forcing them to work very hard on potato plantation in the area where they live to fulfill British people food, forbidding Irish to use their own language or do their Catholic religious worship, executing Ordnance survey namely by replacing names of local places in Northern Ireland for the importance of imperialism forcibly. That colonialism causes suffering, starving and poverty. Through the dialogues, it reflects that British people want to abolish Irish language and culture to replace it to British language and culture which is considered more modern. AbstrakPenelitian ini bertujuan menganalisis konflik identitas budaya bangsa Irlandia dalam drama Translation karangan Brian Friel, yaitu dengan mengupas mengapa konflik itu terjadi, dan bagaimana akibatnya terhadap bangsa Irlandia. Metode yang diterapkan adalah metode deskriptif kualitatif, dengan menganalisa isi melalui teknik pengumpulan data berupa studi kepustakaan. Dari sumber data drama Translation karangan Brian Friel, peneliti memakai teknik interpretasi melalui teori postkolonialisme konsep mimikri dari Homi K Bhabha untuk mengidentifikasi konflik identitas budaya bangsa Irlandia yang ditemukan pada karya sastra tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seting yang terdapat pada drama tersebut adalah pedesaan Irlandia Utara pada abad 19. Bangsa Irlandia takluk menjadi koloni bangsa Inggris. Bangsa Inggris menjajah dengan berbagai cara, menghancurkan hak-hak bangsa Irlandia dengan memaksa mereka kerja paksa di perkebunan kentang tempat tinggal mereka untuk memenuhi kebutuhan makanan rakyat Inggris, melarang mereka menggunakan bahasa asli atau melakukan ibadah agama Katolik, dan melakukan survei Ordnance yaitu mengganti paksa nama-nama lokal di Irlandia utara ke bahasa Inggris untuk kepentingan imperialisme. Penjajahan tersebut menyebabkan penderitaan, kelaparan dan kemiskinan. Melalui dialog-dialognya tercermin bahwa bangsa Inggris ingin melenyapkan budaya serta bahasa Irlandia, lalu menggantinya dengan budaya dan bahasa Inggris yang dianggap lebih modern.
Misi Mayor Tere Liye Menjaga Alam dengan Komet Minor: Sebuah Ekokritik Sastra Sahrul Romadhon; Faizal Hadi Nugraha; Anto Anto
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 12, No 1 (2023): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v12i1.6039

Abstract

The news that NASA scientists discovered a parallel world with time running backwards caused quite a stir despite the statement that the news was fake news. The parallel world is a world written by Tere Liye through Komet Minor, a novel published in 2019, by Gramedia. This novel is the final novel in the adventure series Raib, Seli and Ali against the Crownless. The purpose of this study is to show parallel world data contained in the Tere Liye manuscript. The method used in this study is the grounded theory method. The grounded theory approach leads to generalization (what is observed inductively)/the application of a theory, action, or interaction based on the views of the participants studied. Based on the results of the research, it can be concluded that in Tere Liye's novel there are four parallel world issues, namely (1) the issue of natural destruction and animal genocide, (2) unfriendly ecological conditions, (3) animals as biological and psychological beings, and (4) the tradition of respecting nature.AbstrakAdanya berita ilmuwan NASA yang dipublikasikan dalam New York Post pada tahun 2020 menemukan dunia paralel dengan waktu yang berjalan mundur menyebabkan kehebohan meskipun ada pernyataan bahwa berita ternyata merupakan berita bohong. Dunia paralel merupakan dunia yang ditulis oleh Tere Liye melalui Komet Minor, novel yang diterbitkan pada tahun 2019 oleh Gramedia. Novel ini merupakan novel akhir dari seri petualangan Raib, Seli, dan Ali melawan Tanpa Mahkota. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menunjukkan data-data dunia paralel yang terdapat dalam novel Tere Liye. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan grounded theory. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa dalam novel Tere Liye terdapat empat isu lingkungan, yaitu (1) isu kerusakan alam dan genosida hewan,  (2) kondisi ekologi yang tidak bersahabat, (3) hewan sebagai makhluk biologis dan psikologis, dan (4) tradisi menghargai alam.
The Concept of Jack Zipes’ Thoughts On Folktales Hartiningtyas, Widjati; Wulan, Nur; Chasanah, Ida Nurul
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 13, No 1 (2024): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v13i1.6385

Abstract

Folktales are a form of folklore that reflects the values and social order that prevail in a community group in a certain period. To maintain the existence of folktales and transmit their cultural values, folktales have been adapted as children’s books. However, folktales undergo a lot of changes during the adaptation. The authors deliberately make the changes to eliminate the bad values in the folktales and make them educational reading for children. This article aims to analyze the adaptation process of Hikayat Maharaja Bikramasakti into a picture book entitled Ratna Komala and the Magic Rumbia Seed. Through close reading techniques, the researcher wrote the changes made to Hikayat Maharaja Bikramasakti when adapted into a picture book. Then, the researcher analyzed the data using Jack Zipes' thoughts. The research results show that the moral values prevailing in society and the government's ideology influence the adaptation of folklore. AbstrakCerita rakyat merupakan salah satu bentuk folklor yang mencerminkan nilai dan tatanan sosial yang berlaku dalam sebuah kelompok masyarakat dalam periode tertentu. Untuk menjaga eksistensi cerita rakyat serta mewariskan nilai-nilai budaya yang terkandung di dalamnya pada generasi mendatang, cerita rakyat diadaptasi menjadi bacaan bagi anak. Namun dalam proses adaptasi tersebut, cerita rakyat banyak mengalami perubahan. Perubahan itu dilakukan oleh penulis cerita adaptasi untuk menghilangkan nilai-nilai buruk cerita rakyat dan menjadikan cerita rakyat bacaan yang mendidik bagi anak. Artikel ini bertujuan menganalisis proses adaptasi Hikayat Maharaja Bikramasakti menjadi buku cerita bergambar yang berjudul Ratna Komala dan Biji Rumbia Ajaib. Melalui teknik pembacaan dekat, peneliti mencatat perubahan-perubahan yang terjadi pada cerita rakyat ketika diadaptasi menjadi buku cerita bergambar. Kemudian, peneliti menganalisis data tersebut menggunakan pemikiran Jack Zipes. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai moral yang berlaku di masyarakat dan ideologi penguasa memengaruhi proses adaptasi cerita rakyat.
Aspek Sosial dalam Novel Surat Wasiat Karya Samsoedi Muliawati, Ema Siti; Nurjanah, Nunuy; Isnendes, Retty
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 12, No 2 (2023): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v12i2.6949

Abstract

This research was conducted due to the lack of public awareness in appreciating literary works that are full of social values. The purpose of this study is to describe the social elements contained in the novel Surat Wasiat by Samsoedi. In this research, the descriptive analysis method is used, which involves collecting data from the novel Surat Wasiat, analyzing the collected data, and presenting a description of the data. The main source of data in this research comes from the novel Surat Wasiat.  The data obtained is a record of the results of analyzing the literature that has been studied. The results of this study identified three social dimensions, including religious, economic, and educational aspects. In the religious social dimension, three related elements were identified, including 1) belief in Allah Swt, 2) obeying His commands, and 3) sincere attitude and gratitude to Him. In the social dimension of education, there are six elements, including 1) ethics, 2) respect, 3) patriotism, 4) peace, 5) avoiding envy and jealousy, and 6) complying with prevailing social norms. AbstrakPenelitian ini dilakukan karena kurangnya kesadaran masyarakat dalam menghargai karya sastra yang sarat dengan nilai-nilai sosial. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguraikan elemen-elemen sosial yang terdapat dalam novel Surat Wasiat karya Samsoedi. Dalam penelitian ini, digunakan metode analisis deskriptif yang melibatkan pengumpulan data dari novel Surat Wasiat, proses analisis terhadap data yang terhimpun, serta penyajian deskripsi dari data tersebut. Sumber utama data dalam penelitian ini berasal dari novel Surat Wasiat.  Data yang didapatkan adalah catatan dari hasil analisis literatur yang telah diteliti. Hasil dari penelitian ini mengidentifikasi tiga dimensi sosial, meliputi aspek keagamaan, ekonomi, dan pendidikan. Dalam dimensi sosial keagamaan, teridentifikasi tiga elemen terkait, termasuk 1) keyakinan pada Allah Swt, 2) mematuhi perintah-Nya, serta 3) sikap ikhlas dan rasa syukur kepada-Nya. Dalam dimensi sosial pendidikan, terdapat enam unsur, di antaranya 1) etika, 2) sikap menghargai, 3) patriotisme, 4) kedamaian, 5) menghindari rasa iri dan dengki, serta 6) patuh pada norma-norma sosial yang berlaku.
Adaptasi Project Based Learning dalam Mata Kuliah Kajian Drama Saat Pandemi: Membangun Interkoneksi dengan Komunitas Erowati, Rosida; Oktaviani, Elve; Pitaloka, Aprilia; Febrine, Ellen; Hudaa, Syihaabul
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 12, No 2 (2023): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v12i2.5459

Abstract

The Covid-19 pandemic has changed the way humans learn and work. After a year of adjustment, both lecturers and students are learning different ways to adapt to this situation. The isolation and loneliness felt when the pandemic began needs to be taken into consideration for the adaptation process. During the pandemic, Project Based Learning (PBL) Drama Studies in higher education needs to be adjusted, with a new normal. Therefore, this article aims to describe 1) the adaptation of PBL in drama courses during the pandemic, 2) students' perceptions of the PBL adaptation, and 3) factors that influence PBL adaptation during the pandemic. The research was organized descriptively, with qualitative methods. Data were obtained through lecture observations, questionnaires, short essays, and interviews. The results showed that the adaptation of PBL Drama Studies in the Indonesian Language and Literature Education Study Program, and Indonesian Language and Literature, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta is a productive response to the ongoing pandemic situation. In this adaptation process, the syllabus development carried out by the lecturers of each study program still uses the PBL approach, with a different project orientation. In both study programs, this adaptation was responded positively by students. The grades they achieved ranged between Good and Very Good. Meanwhile, their response to the selection and implementation of PBL in Drama Studies showed positive results. This course adaptation also helped students master drama concepts and practices, as well as improve academic and social competencies. Mixed responses (positive-negative) were also obtained on the aspect of adaptation, which helped them build communication with the community / other drama / theater arts actors. Factors that encourage the adaptation process of PBL Drama Studies are mainly related to the policies of each lecturer to respond to the pandemic and PSBB situation, the enforcement of health protocols, students' efforts to overcome boredom due to being cooped up at home during PSBB, and the economic resilience of students' families. AbstrakPandemi Covid-19 telah mengubah cara manusia belajar dan bekerja. Setelah satu tahun mengalami proses penyesuaian, baik dosen maupun mahasiswa mempelajari beragam cara untuk beradaptasi dengan situasi ini. Keterasingan dan kesepian yang dirasakan ketika pandemi dimulai perlu menjadi pertimbangan bagi proses adaptasi. Pada masa pandemi, Project Based Learning (PBL) Kajian Drama di perguruan tinggi perlu disesuaikan, dengan situasi kenormalan baru. Oleh karena itu, artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan 1) adaptasi PBL dalam mata kuliah Kajian Drama di masa pandemi, 2) persepsi mahasiswa terhadap adaptasi PBL tersebut, dan 3) faktor-faktor yang memengaruhi adaptasi PBL di masa pandemi. Penelitian disusun secara deskriptif, dengan metode kualitatif. Data diperoleh melalui observasi perkuliahan, kuesioner, esai pendek, serta wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa adaptasi PBL Kajian Drama di Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, serta Bahasa dan Sastra Indonesia, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta merupakan respon produktif terhadap situasi pandemi yang masih terus berlangsung. Dalam proses adaptasi ini, pengembangan silabus yang dilakukan oleh dosen masing-masing program studi tetap menggunakan pendekatan PBL, dengan orientasi proyek yang berbeda. Di kedua program studi, adaptasi ini ditanggapi secara positif oleh para mahasiswa. Nilai yang mereka capai berkisar antara Baik dan Sangat Baik. Sedangkan respon mereka terhadap pemilihan dan pelaksanaan PBL Drama menunjukkan hasil yang positif. Adaptasi perkuliahan ini pun membantu mahasiswa menguasai konsep dan praktik drama, serta meningkatkan kompetensi akademik dan sosial. Respon campuran (positif-negatif) pun didapatkan pada aspek adaptasi, yang membantu mereka membangun komunikasi dengan komunitas masyarakat/pelaku seni drama/teater lainnya. Faktor-faktor yang mendorong proses adaptasi PBL drama ini khususnya terkait dengan kebijakan masing-masing dosen untuk menanggapi situasi pandemi dan PSBB, penegakan protokol kesehatan, upaya mahasiswa mengatasi kebosanan akibat terkurung di rumah di masa PSBB, dan ketahanan ekonomi keluarga mahasiswa.
Diskriminasi Tokoh Utama dalam Novel Lebih Senyap dari Bisikan Karya Andina Dwi Fatma: Kajian Feminisme Liberal Zahro, Fatima Tuz; Risdiawati, Dian
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 13, No 1 (2024): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v13i1.6475

Abstract

The novel Silent Than a Whisper tells about household life which is full of ups and downs facing problems related to having a baby. The aims of this research are (1) to describe the form of discrimination of the main character in the novel More Silent than a Whisper by Andina Dwifatma, and (2) to describe the factors that cause discrimination of the main character in the novel More Silence than a Whisper by Andina Dwifatma. This study uses a qualitative descriptive method with a mimetic literature research approach. The data in this study are in the form of monologues, dialogues, and narratives in Andina Dwifatma's novel More Silence than a Whisper. The data source is the novel Silent Than a Whisper by Andina Dwifatma with 155 pages thick. The data collection technique uses the note-taking technique, namely by reading the novel repeatedly, coding the text according to the instrument, and classifying the data according to the problem under study. The research results showed that Amara experienced forms of gender discrimination, namely marginalization, stereotyped views, violence and double burdens. In addition, there are factors that cause discrimination of the main character in the novel Silent and Whispered by Andina Dwifatma, namely socio-cultural factors, reproductive factors, and economic factors. AbstrakNovel Lebih Senyap dari Bisikan menceritakan tentang kehidupan rumah tangga yang penuh lika-liku menghadapi permasalahan terkait momongan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk diskriminasi tokoh utama pada novel Lebih Senyap dari Bisikan karya Andina Dwifatma, dan mendeskripsikan faktor-faktor penyebab diskriminasi tokoh utama dalam novel Lebih Senyap dari Bisikan karya Andina Dwifatma. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan penelitian sastra mimetik. Data dalam penelitian ini berupa monolog, dialog, dan narasi yang terdapat dalam novel Lebih Senyap dari Bisikan karya Andina Dwifatma. Sumber data berupa novel Lebih Senyap dari Bisikan karya Andina Dwifatma dengan tebal 155 halaman. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik catat, yaitu dengan membaca novel secara berulang, memberi kode pada teks sesuai instrumen, dan melakukan klasifikasi data sesuai dengan permasalahan yang diteliti. Hasil penelitian diperoleh Amara mengalami bentuk diskriminasi gender yakni marginalisasi, pandangan stereotip, kekerasan dan beban ganda. Selain itu terdapat adanya faktor-faktor yang menyebabkan diskriminasi tokoh utama dalam novel Lebih Senyap dari Bisikan karya Andina Dwifatma yakni faktor sosial budaya, faktor reproduksi, dan faktor ekonomi.
Representasi Konflik Masyarakat Jawa Bagian Timur dalam Babad Blambangan Rahmawanto, Dwi; Pudjiastuti, Titik; Buduroh, Mamlahatun; Setyani, Turita Indah; Raharjo, Rias Antho Rahmi; Mu’jizah, Mu’jizah; Suwargono, Eko
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 13, No 1 (2024): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v13i1.7283

Abstract

The opposition between community members that gave rise to the conflict was recorded in the Babad Blambangan (BB), an East Javanese manuscript from the 19th century. The text narrated the causes of the succession of the kings in Blambangan and the conflict situations that accompanied the change of power for every king in Blambangan, from Prabu Tawangalun until Raden Tumenggung Pringgakusuma. The conflicts that are represented indicate the existence of ideas in the minds of the people of East Java about building and maintaining social relations between communities. In this regard, this research aims to understand the perspective of the East Java society towards the phenomenon of conflict in social relations as represented in BB. To find this perspective, qualitative methods were used. This research was also carried out using a multidisciplinary approach through language analysis and socio-cultural conflict approaches. With this approach, various phenomena are classified, identified, analyzed, and interpreted. Theories used to understand the conflict phenomenon are semantics preference and conflict situations. The results of this research show that the conflict in the BB is dominated by issues of power and retaliation. This results reflects the community's perspective on social relations in eastern Java at that time, namely that the existence of personal ambition for power was something that needed to be controlled. If this desire is left uncontrolled, it can damage social relations in society. The findings also strengthen and add to the ideas of previous research regarding the concept of harmony in Javanese society, especially in eastern Javanese society. AbstrakSituasi pertentangan antaranggota masyarakat yang menimbulkan konflik tersebut tercatat dalam Babad Blambangan (BB), naskah Jawa Timur yang berasal dari abad ke-19. Dalam naskah itu dikisahkan penyebab suksesi raja-raja di Blambangan dan situasi konflik yang mengiringi pergantian kekuasaan setiap raja-raja di Blambangan mulai dari Prabu Tawangalun hingga Raden Tumenggung Pringgakusuma. Konflik-konflik yang direpresentasikan tersebut menandai adanya gagasan dalam pemikiran masyarakat Jawa Timur tentang membangun dan mempertahankan hubungan sosial antarmasyarakat. Berkaitan dengan hal tersebut, penelitian ini bertujuan untuk memahami cara pandang masyarakat Jawa bagian timur terhadap fenomena konflik dalam hubungan sosial yang direpresentasikan dalam BB. Upaya untuk menemukan cara pandang tersebut dilakukan dengan metode kualitatif. Penelitian ini juga dilakukan dengan pendekatan multidisiplin melalui analisis bahasa dan pendekatan konflik sosio-kultural. Dengan pendekatan tersebut, fenomena konflik diklasifikasi, diidentifikasi, dianalisis dan diinterpretasi. Teori yang dimanfaatkan untuk memahami fenomena konflik tersebut adalah preferensi semantik dan konsep conflict situation. Hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa konflik dalam kisah BB didominasi oleh isu kekuasaan dan pembalasan. Hal tersebut mencerminkan cara pandang masyarakat tentang hubungan sosial masyarakat di Jawa bagian timur di masa  itu yakni keberadaan ambisi pribadi atas kekuasaan merupakan suatu hal yang perlu dikendalikan. Apabila kehendak tersebut dibiarkan tanpa kendali maka dapat merusak hubungan sosial di masyarakat. Temuan dalam penelitian ini memperkuat dan menambahkan gagasan penelitian terdahulu tentang  konsep kerukunan masyarakat Jawa,  terutama pada masyarakat Jawa bagian timur.