cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
,
INDONESIA
2-TRIK: TUNAS-TUNAS RISET KESEHATAN
Published by Forum Ilmiah Kesehatan
ISSN : -     EISSN : 25485970     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 500 Documents
Antibacterial Activity Test of Methanol Extract Rambutan Leaf (Nephelium lappaceum L.) The Origin of Waimital Village Against Staphylococcus aureus Wiwi Rumaolat
2-TRIK: TUNAS-TUNAS RISET KESEHATAN Vol 10, No 2 (2020): Mei 2020
Publisher : FORUM ILMIAH KESEHATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33846/2trik10204

Abstract

Various treatments using natural ingredients that can be selected as a solution to overcome the disease. One of the many plants used as traditional medicine is the rambutan plant (Nephelium lappaceum L.), which is used as an antibacterial. This study aims to examine the presence of antibacterial activity in methanol extract of rambutan leaves (Nephelium lappaceum L.) against Staphylococcus aureus, determine differences in antibacterial activity at various concentrations, as well as knowing the chemical components found in rambutan leaves. An antibacterial activity test was carried out using the diffusion method of the wells. Antibacterial activity is characterized by the formation of a clear zone around the wellbore called the inhibition zone. This study used four treatments namely 5%, 20%, 50%, and 75%, and Chloramphenicol as a positive control and sterile aqua dest as a negative control. The results showed that rambutan leaf extract at a concentration of 5% was 0 mm, a concentration of 20% was 16 mm, a concentration of 50% was 21 mm, a concentration of 75% was 26 mm, whereas for control (-) was 0 mm, control (+) is 30 mm. This research proves that the Rambutan Leaves (Nephelium lappaceum L.) Extract Methanol has antibacterial activity against Staphylococcus aureus because it has chemical compounds, including tannin, flavonoids, and saponins, with an effective concentration of 75%. Keywords: Rambutan Leaves; Antibacterial; Staphylococcus aureus; Wells Diffusion Method. ABSTRAK Beragam pengobatan dengan menggunakan bahan alam yang dapat dipilih sebagai solusi mengatasi penyakit. Salah satu dari sekian banyak tumbuhan yang digunakan sebagai obat tradisional adalah tumbuhan rambutan (Nephelium lappaceum L.), yang dimanfaatkan sebagai antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk menguji adanya aktivitas antibakteri pada ekstrak metanol daun rambutan (Nephelium lappaceum L.) terhadap Staphylococcus aureus, mengetahui perbedaan aktivitas antibakteri pada berbagai konsentrasi, serta mengetahui komponen kimia yang terdapat pada daun rambutan. Uji aktivitas antibakteri dilakukan dengan dengan metode difusi sumuran. Aktivitas antibakteri ditandai dengan terbentuknya zona bening disekitar lubang sumuran yang disebut zona hambat. Penelitian ini menggunakan 4 perlakukan konsentrasi yaitu 5%, 20%, 50%, dan 75%, serta Kloramfenikol sebagai kontrol positif dan aquadest steril sebagai kontrol negatif. Hasil penelitian menunjukan bahwa ekstrak daun rambutan pada konsentrasi 5% adalah 0 mm, konsentrasi 20% adalah 16 mm, konsentrasi 50% adalah 21 mm, konsentrasi 75% adalah 26 mm, sedangkan untuk kontrol (-) adalah 0 mm, kontrol (+) adalah 30 mm. Penelitian ini membuktikan bahwa Ekstrak Metanol Daun Rambutan (Nephelium lappaceum L.) memiliki aktivitas sebagai antibakteri terhadap Staphylococcus aureus karena memiliki senyawa kimia antara lain tannin, flavonoid dan saponin dengan konsentrasi efektif adalah 75%. Kata kunci: daun rambutan; antibakteri; Staphylococcus aureus; metode difusi sumuran
Kerasionalan Penggunaan Antibiotik Dan Kortikosteroid Pada Pasien Anak di Puskesmas Karo Kota Pematangsiantar Yulia Delfaedah
2-TRIK: TUNAS-TUNAS RISET KESEHATAN Vol 7 (2017): Nomor Khusus Hari Ibu
Publisher : FORUM ILMIAH KESEHATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33846/2trik7ibu10

Abstract

Berdasarkan World Health Organization (WHO), penggunaan obat rasional terjadi bila pasien menerima obat dan dosis sesuai dengan kebutuhan klinis, dalam periode adekuat, dan harga termurah. Tujuan penelitian adalah memperoleh gambaran pola peresepan dan kerasionalan antibiotik dan kortikosteroid pada pasien anak di Puskesmas Karo Kota Pematang Siantar periode Januari - Maret 2017 dari segi dosis, indikasi dan lamapenggunaan obat. Studi cross-sectional pada Januari-Maret 2017 ini menggunakan desain deskriptif yang melibatkan 292 pasien anak berusia 0-12 tahun. Hasil penelitian menunjukkan Jenis penyakit yang banyak diderita pasien adalah ISPA (32,53%), jenis antibiotik yang terbanyak digunakan yaitu kotrimoxazol (44,86%) dan amoksisilin (39,25%) dan jenis kortikosteroid yang terbanyak digunakan adalah metil prednisolon (49,18 %) dan deksametason (32,79 %).Kerasionalan dosis antibiotik yang memenuhi kategori rasional sebanyak 208 obat (97,20%) dan tidak rasional sebanyak 6 obat (2,80%). Dosis kortikosteroid pada seluruh resep memenuhi kategori rasional. Kerasionalan indikasi antibiotik yang memenuhi kategori rasional sebanyak 160 obat (85,41%), tidak rasional sebanyak 15 obat (7,01%) dan tidak dapat dipastikan sebanyak 39 obat (7,58%). Kerasionalan indikasi kortikosteroid yang memenuhi kategori rasional sebanyak 116 obat (95,08%) dan tidak dapat dipastikan sebanyak 6 obat (4,92%). Tidak diperoleh adanya indikasi penggunaan kortikosteroid yang tidak rasional. Kerasionalan lama penggunaan antibiotik yang memenuhi kategori rasional sebanyak 118 obat (53,26%), tidak rasional sebanyak 90 obat (44,87%) dan tidak dapat dipastikan sebanyak 4 obat (1,87%). Kerasionalan lama penggunaan kortikosteroid yang memenuhi kategori rasional sebanyak 116 obat (95,08%) dan tidak dapat dipastikan sebanyak 6 obat I (4,92%). Tidak ditemukan lama penggunaan kortikosteroid yang tidak rasional. Kata kunci: rasional; antibiotik; kortikosteroid, anak
KARAKTERISTIK PERNIKAHAN DINI: SURVAY ANALISIS DI KABUPATEN SLEMAN YOGYAKARTA Eny Retna Ambarwati; Kurniasari Pratiwi; Reni Tri Lestari
2-TRIK: TUNAS-TUNAS RISET KESEHATAN Vol 11, No 2 (2021): Mei 2021
Publisher : FORUM ILMIAH KESEHATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33846/2trik11202

Abstract

There are still some people who marry at an early age, so it is not in accordance with the applicable law. This study aims to determine the characteristics of early marriage in Sleman Regency, Yogyakarta. The determinants studied included age at the beginning of marriage, last education, occupation, income, and access to health information. This type of research was a survey. The sample was selected using the multistage proportional random sampling technique with a sample size of 208 respondents from 17 sub-districts in Sleman Regency. Data were collected through filling out a questionnaire, then analyzed descriptively in the form of frequencies and percentages. The results showed that most of the respondents were 19 years old (62.98%), had high school education (73.56%), did not work (66%), got information from social media (67.31%). Age at the beginning of marriage, last education, employment status, income, and access to health information contributed greatly to the incidence of early marriage. Keywords: early marriage; age at the beginning of marriage; education; occupation; income; access to health information. ABSTRAK Masih ada sebagian masyarakat yang melangsungkan pernikahan pada usia dini, sehingga tidak sesuai dengan undang-undang yang berlaku. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik pernikahan dini di Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Determinan-determinan yang diteliti antara lain usia pada awal pernikahan, pendidikan terakhir, pekerjaan, pendapatan, dan akses terhadap informasi kesehatan. Jenis penelitian adalah survei. Sampel dipilih dengan teknik multistage proportional random sampling dengan ukuran sampel 208 responden, dari 17 kecamatan di Kabupaten Sleman. Data dikumpulkan melalui pengisian kuesioner, lalu dianlisis secara deskriptif berupa frekuensi dan persentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden berusia 19 tahun (62,98%), berpendidikan sekolah menengah atas (73,56%), tidak bekerja (66%), mendapatkan informasi dari media sosial (67,31%). Usia pada awal pernikahan, pendidikan terakhir, status pekerjaan, pendapatan, dan akses terhadap informasi kesehatan berkontribusi yang besar terhadap kejadian pernikahan dini. Kata kunci: pernikahan dini; usia pada awal pernikahan; pendidikan; pekerjaan; pendapatan; akses terhadap informasi kesehatan.
PENGARUH INFORMASI DENGAN SIKAP REMAJA PUTRI TENTANG PERUBAHAN ANATOMI PADA MASA PUBERTAS DI SMPN 10 MADIUN Mertisa Dwi Klevina; Lucia Ani Kristanti
2-TRIK: TUNAS-TUNAS RISET KESEHATAN Vol 10, No 4 (2020): November 2020
Publisher : FORUM ILMIAH KESEHATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33846/2trik10406

Abstract

Adolescence is a transitional period between childhood and adulthood. At that time there was optimal growth and development, primary and secondary sex characteristics emerged, the achievement of fertility and psychological and cognitive changes occurred. The research design used was cross-sectional. The number of samples used was 31. To identify the effect of the information, analysis was carried out with Chi-squared, data on the effect of information and awareness of junior high school adolescents were included in the 2x2 cross tabulation table. It is known that 58.06% of students at SMPN 10 Madiun have a high influence of information about anatomical changes at puberty. So the earliest possible understanding of the changes that occur during puberty can affect attitudes when changes occur at puberty. Keywords: information; body anatomy; adolescent puberty ABSTRAK Remaja adalah masa transisi antara masa kanak-kanak dan dewasa. Pada masa itu terjadi tumbuh kembang yang optimal, timbul ciri-ciri seks primer dan sekunder, tercapainya fertilitas dan terjadi perubahan-perubahan psikologi serta kognitif. Apabila remaja telah dipersiapkan dan mendapatkan informasi tentang perubahan tersebut maka mereka tidak akan mengalami kecemasan dan reaksi negatif lainnya. Remaja yang kurang memperoleh informasi, akan merasakan pengalaman yang negatif.Desain penelitian yang digunakan adalah crossecional .Jumlah Populasi 120 Siswa ,teknik sampling simpel random sampling .Total sampel yang digunakan adalah 31 siswa.Untuk mengidentifikasi pengaruh informasi dilakukan analisis dengan chi-kuadrat, data pengaruh informasi dan Perubahan perilaku dimasukkan dalam tabel tabulasi silang 2x2 . Diketahui 58,06% siswi di SMPN 10 Madiun tahun 2020 memiliki pengaruh informasi yang tinggi tentang perubahan anatomi pada masa pubertas.Maka Pemahaman sedini mungkin tentang perubahan – perubahan yang terjadi pada masa pubertas dapat mempengaruhi terhadap sikap saat terjadi perubahan pada masa pubertas. Kata kunci: informasi; anatomi tubuh; pubertas remaja
Underweight Sebagai Faktor Resiko Osteoporosis Pada Lansia Arief Setiyoargo; Nanta Sigit; Richard One Maxelly
2-TRIK: TUNAS-TUNAS RISET KESEHATAN Vol 11, No 1 (2021): Februari 2021
Publisher : FORUM ILMIAH KESEHATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33846/2teik11106

Abstract

Osteoporosis is a bone disease characterized by decreased bone density. The incidence of osteoporosis increases with age, especially age ≥ 50 years. Research from the International Osteoporosis Foundation (IOF) revealed that 1 in 4 women in Indonesia with an age range of 50-80 years have a risk of osteoporosis, where the risk of osteoporosis in women in Indonesia is 4 times higher than that of men. This study aims to determine the relationship between body mass index with the incidence of osteoporosis in Panti Nirmala Hospital Malang. The design of this study was case control with sample consisting of 40 case group and 40 control group. Data analysis used logistic regression. The results showed that in the underweight group, the percentage experiencing osteoporosis was greater by 62.5% when compared to non-underweight who had osteoporosis by 37.5%. After being controlled by osteoporosis family history variables and female gender, the characteristics of a body mass index of underweight have a 3.4 times greater chance of having osteoporosis than non-underweight characteristics. It is recommended that the public go on a healthy diet and regular physical activity to balance BMI and regular health checks at health service facilities to measure body health. Keywords: underweight; osteoporosis; elderly ABSTRAK Osteoporosis merupakan penyakit tulang yang ditandai dengan menurunnya kepadatan tulang akibat ketidakmampuan tubuh dalam mengatur kandungan mineral dalam tulang dan mengakibatkan pengeroposan tulang. Angka kejadian osteoporosis meningkat seiring dengan peningkatan usia, khususnya usia ≥ 50 tahun. Penelitian dari International Osteoporosis Foundation (IOF) mengungkapkan bahwa 1 dari 4 perempuan di Indonesia dengan rentang usia 50-80 tahun memiliki resiko terkena osteoporosis, dimana resiko osteoporosis pada perempuan di Indonesia 4 kali lebih tinggi dibandingkan laki-laki. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara indeks massa tubuh dengan kejadian osteoporosis di Rumah Sakit Panti Nirmala Malang. Desain penelitian ini adalah case control. Sampel berjumlah 80 data, terdiri dari 40 data kelompok kasus dan 40 data kelompok kontrol. Analisis data menggunakan regresi logistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada kelompok underweight, persentase yang mengalami osteoporosis lebih besar sebesar 62,5% jika dibandingkan pada non-underweight yang mengalami osteoporosis sebesar 37,5%. Setelah dikontrol oleh variabel riwayat keluarga osteoporosis dan jenis kelamin perempuan, karakteristik indeks massa tubuh underweight memiliki odds 3,4 kali lebih besar untuk mengalami osteoporosis dibandingkan karakteristik non underweight. Dianjurkan kepada masyarakat untuk melakukan diet sehat dan aktivitas fisik yang teratur untuk menyeimbangkan indeks massa tubuh dan pemeriksaan kesehatan secara berkala pada fasilitas pelayanan kesehatan untuk mengukur kesehatan tubuh. Kata kunci: underweight; osteoporosis; lansia
Hubungan Kecanduan Bermain Game Online dengan Kualitas Tidur pada Remaja Usia 15-18 Tahun di Desa Waimital Kecamatan Kairatu Kabupaten Seram Bagian Barat Tahun 2018 Syariefah H. Waliulu; Rahma Tunny; Jumaria Urata
2-TRIK: TUNAS-TUNAS RISET KESEHATAN Vol 8 (2018): Nomor Khusus Hari Kesehatan Nasional
Publisher : FORUM ILMIAH KESEHATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33846/2trik8hkn19

Abstract

Game online merupakan proses simulasi dari kehidupan sosial karena game online memungkinkan seseorang untuk mengeksplorasi diri, membangun interaksi dan pola interaksi yang dibangun dalam game sangat kompleks seperti pola interaksi yang paling dasar yaitu percakapan, dikembangkan menjadi percakapan secara tertulis yang dikenal dengan istilah chatting. Penelitian ini bertujuan untuk Mengetahui Hubungan Kecanduan Bermain Game Online Dengan Kualitas Tidur Pada Remaja Usia 15-18 Tahun Di Desa Waimital, Kecamatan Kairatu, Kabupaten Seram Bagian Barat Tahun 2018. Penelitian ini merupakan penelitian Deskritif Kolerasi yang artinya metode penelitian yang di gunakan untuk mencari dan berusaha menghubungkan antara dua variabel. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner. Hasil dari penelitian ini diperoleh Nilai signifikasi bermain game online dengan kualitas tidur (p=0.028). Dari hasil tersebut disimpulkan bahwa ada hubungan antara bermain game online dengan kualitas tidur pada remaja usia 15-18 tahun. Kata kunci: game online; remaja; kualitas tidur
Gambaran Tingkat Pengetahuan Ibu Hamil Tentang Resiko Tinggi Kehamilan di Atas Umur 35 Tahun di Puskesmas Ksatria Kota Pematangsiantar Tahun 2018 Sri Rahma Friani
2-TRIK: TUNAS-TUNAS RISET KESEHATAN Vol 8 (2018): Nomor Khusus Hari Kesehatan Nasional
Publisher : FORUM ILMIAH KESEHATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33846/2trik8hkn02

Abstract

World Health Organization (WHO) Tahun 2014 menyebutkan bahwa Angka Kematian Ibu (AKI) di dunia yaitu 289.000 jiwa, dan sekitar 70 jiwa ibu meninggal setiap harinya dari 100 jiwa ibu melahirkan akibat komplikasi kehamilan dan proses kelahiran. WHO juga menyebutkan bahwa kematian ibu dikawasan Asia Tenggara menyumbang hampir sepertiga jumlah kematian ibu dan anak secara global. Dengan kata lain, 1400 perempuan setiap hari atau lebih dari 500.000 perempuan meninggal setiap tahun karena kehamilan dengan resiko tinggi (WHO, 2012). Tujuan penelitian untuk mengetahui gambaran tingkat pengetahuan ibu hamil tentang resiko tinggi kehamilan diatas umur 35 tahun di puskesmas ksatria kota pematangsiantar tahun 2018. Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian bersifat deskriftif untuk mengetahui gambaran tingkat pengetahuan ibu hamil tentang resiko tinggi kehamilan diatas usia 35 Tahun di Wilayah kerja Rumah Sakit Efarina Berastagi Kabupaten Karo. Sampel dalam penelitian yaitu semua anggota populasi dijadikan sampel penelitian berjumblah 34 orang. Analisis data dilakukan secara deskriptif dalam bentuk tabel distribusi dan memberikan penilaian dengan cara jumlh soal yang benar dibagi jumlah seluruh soal dikali 100%. Berdasarkan jawaban responden terhadap hasil kuesioner maka mayoritas berpengetahuan cukup sebanyak 21 orang (62%). Dari 34 responden, mayoritas ibu hamil berpengetahuan cukup berpendidikan SMA sebanyak 10 orang (16%). Dari 34 responden, mayoritas berpengetahuan cukup bekerja sebagai petani sebanyak 10 orang (16%). Dari 34 responden, mayoritas berpengetahuan cukup pada paritas secondipara sebanyak 16 orang (47%). Dari 34 responden, mayoritas berpengetahuan cukup memperoleh informasi dari tenaga kesehatan sebanyak 11 orang (18%). Umur, pendidikan dan pekerjaan tidak selamanya mempengaruhi pengetahuan ibu hamil tentang resiko tinggi kehamilan diatas umur 35 tahun. Semakin banyak sumber informasi yang di dapat maka akan semakin banyak pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh seseorang. Kata kunci: pengetahuan; resiko tinggi kehamilan
PENGETAHUAN IBU TENTANG PEMBERIAN MAKANAN PENDAMPING ASI (MP-ASI) USIA 6-12 BULAN DI PUSKESMAS TIGA PANAH KABANJAHE TAHUN 2019 Ervina Pangaribuan; Rostio Derlina
2-TRIK: TUNAS-TUNAS RISET KESEHATAN Vol 11, No 2 (2021): Mei 2021
Publisher : FORUM ILMIAH KESEHATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33846/2trik11213

Abstract

Informed consent is a tool to determine the fate of the patient himself in the face of medical action. This study aims to analyze the relationship between the completeness of informed consent and the quality of inpatient services at Panti Nirmala Hospital Malang. The research design used in this study was cross-sectional. The sample size in this study was 52. Sampling was carried out using simple random sampling technique. Data obtained through documentation studies on medical records and the results of filling out a questionnaire about the level of satisfaction. Data were analyzed using the Chi Square test. The results showed that the p-value = 0.009. This shows that there is a relationship between the completeness of informed consent and the quality of inpatient services. Keywords: informed consent; quality of inpatient services; minimum service standard ABSTRAK Informed consent merupakan alat untuk menentukan nasib pasien sendiri dalam menghadapi tindakan kedokteran. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara kelengkapan informed consent dengan mutu pelayanan rawat inap di Rumah Sakit Panti Nirmala Malang. Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah cross-sectional. Ukuran sampel dalam penelitian ini adalah 52. Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan teknik simple random sampling. Data diperoleh melalui studi dokumentasi pada rekam medis dan hasil pengisian kuesioner tentang tingkat kepuasan. Data dianalisis menggunakan uji Chi Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa p-value = 0,009. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara kelengkapan informed consent dengan mutu pelayanan rawat inap. Kata kunci: informed consent; mutu pelayanan rawat inap; standar pelayanan minimal
Hubungan Faktor Individu Dan Faktor Pekerjaan Dengan Keluhan Muskuloskeletal Akibat Kerja (Studi Pada Pencangkul Persawahan Padi Hatonduhan Tanah Jawa) Tahun 2017 Santo Damerius Silitonga
2-TRIK: TUNAS-TUNAS RISET KESEHATAN Vol 10, No 2 (2020): Mei 2020
Publisher : FORUM ILMIAH KESEHATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33846/2trik10213

Abstract

Complaints in the musculoskeletal system are complaints on the part of the skeletal muscles that are felt by someone ranging from very mild complaints to very sick caused by the work environment and the implementation of work or musculoskeletal complaints that are exacerbated by working conditions. This type of research is an observational study with a quantitative approach. This study used a sample of 92 respondents spread across Hatonduhan Tanah Java. Based on research conducted, the majority of respondents namely 89 respondents experienced musculoskeletal complaints due to work, namely complaints on the neck, upper arms, back, thighs and calves. Respondents work in an un ergonomic body position based on the assessment of work posture using Rapid Entire Body Assesment (REBA) which results in high risk to very high risk. Based on the bivariate test with the association of Lamba test results the results of this study indicate for individual factors that have a relationship with musculoskeletal complaints due to work are age and BMI. While smoking habits, length of service and exercise habits showed no relationship with musculoskeletal complaints due to work. Occupational factors based on REBA also show an association with musculoskeletal complaints due to work. For this reason, farmers are expected to better understand and minimize the dangers that exist in the work environment, especially ergonomic hazards. In addition, farmers must use time off and time off work properly to restore the condition of the freshness of the body. Keywords: musculoskeletal; farmer; rapid entire body assesment (REBA); Hatonduan Village ABSTRAK Keluhan pada sistem muskuloskeletal adalah keluhan pada bagian otot rangka yang dirasakan oleh seseorang mulai dari keluhan sangat ringan sampai sangat sakit yang disebabkan oleh lingkungan pekerjaan dan pelaksanaan pekerjaan atau keluhan muskuloskeletal yang diperburuk oleh kondisi pekerjaan. Jenis penelitian ini adalah penelitian observasional dengan pendekatan kuantitatif. Penelitian ini menggunakan sampel sebanyak 92 responden yang tersebar di Hatonduhan Tanah Jawa. Berdasarkan penelitian yang dilakukan, sebagian besar responden yaitu 89 responden mengalami keluhan muskuloskeletal akibat kerja, yakni keluhan pada bagian leher, lengan atas, punggung, paha dan betis. Responden bekerja dalam posisi tubuh yang tidak ergonomis hal ini berdasarkan penilaian postur kerja dengan menggunakan Rapid Entire Body Assesment (REBA) yang didapatkan hasil risiko tinggi sampai risiko sangat tinggi. Berdasarkan uji bivariat dengan uji asosiasi lamba hasil penelitian ini menunjukkan untuk faktor individu yang memiliki hubungan dengan keluhan muskuloskeletal akibat kerja adalah usia dan IMT. Sedangkan kebiasaan merokok, masa kerja dan kebiasaan olahraga menunjukkan tidak ada hubungan dengan keluhan muskuloskeletal akibat kerja. Faktor pekerjaan berdasarkan REBA juga menunjukan adanya hubungan dengan keluhan musculoskeletal akibat kerja. Untuk itu petani diharapkan lebih memahami dan meminimalisir bahaya-bahaya yang ada di lingkungan kerja utamanya bahaya ergonomik. Selain itu petani harus menggunakan waktu istirahat dan waktu libur kerja dengan tepat untuk memulihkan kondisi kesegaran tubuh. Kata kunci: musculoskeletal; petani; rapid entire body assesment (REBA); Desa Hatonduan
Hubungan Perilaku Asertif Perawat Dalam Membina Hubungan Intrapersonal di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Efarina Etaham Berastagi Romauli Pakpahan
2-TRIK: TUNAS-TUNAS RISET KESEHATAN Vol 8 (2018): Nomor Khusus Hari Kesehatan Nasional
Publisher : FORUM ILMIAH KESEHATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33846/2trik8hkn15

Abstract

Asertivitas adalah suatu kemampuan untuk mengkomunikasikan apa yang diinginkan, dirasakan, dan dipikirkan kepada orang lain namun dengan tetap menjaga dan menghargai hak-hak serta perasaan pihak lain. Tujuan penelitian untuk mengetahui hubungan pengetahuan dengan perilaku asertif perawat dalam membina hubungan interpersonal. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif korelasiPopulasi dalam penelitian adalah seluruh perawat ruang rawat inap yang berjumlah 41 orang di Rumah Sakit Efarina Etaham Berastagi. Sampel dalam penelitian ini adalah keseluruhan populasi atau total sampling. Penelitian ini dilakukan dari bulan Mei s/d Juni 2014, di Rumah Sakit Efarina Etaham Berastagi. Pengolahan data, dengan tahap kegiatan sebagai berikut: Editing, Tabulating, Processing, Cleaning, Analisa Data. Hasil penelitian menunjukkan uji korelasi melalui analisa Pearson didapat hasil bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara pengetahuan dengan perilaku asertif perawat dalam membina hubungan interpersonal di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Efarina Etaham Berastagi. Kata kunci: perawat; perilaku asertif; hubungan interpersonal

Filter by Year

2015 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 15, No 4 (2025): Oktober-Desember 2025 Vol 15, No 3 (2025): Juli-September 2025 Vol 15, No 2 (2025): April-Juni2025 Vol 15, No 1 (2025): Januari-Maret 2025 Vol 14, No 4 (2024): Oktober-Desember 2024 Vol 14, No 3 (2024): Juli-September 2024 Vol 14, No 2 (2024): April-Juni 2024 Vol 14, No 1 (2024): Januari-Maret 2024 Vol 13, No 4 (2023): November 2023 Vol 13, No 3 (2023): Agustus 2023 Vol 13, No 2 (2023): Mei 2023 Vol 13, No 1 (2023): Februari 2023 Vol 12, No 4 (2022): November 2022 Vol 12, No 3 (2022): Agustus 2022 Vol 12, No 2 (2022): Mei 2022 Vol 12, No 1 (2022): Februari 2022 Vol 12 (2022): Nomor Khusus Hari AIDS Sedunia Vol 11, No 4 (2021): November 2021 Vol 11, No 3 (2021): Agustus 2021 Vol 11, No 2 (2021): Mei 2021 Vol 11, No 1 (2021): Februari 2021 Vol 10, No 4 (2020): November 2020 Vol 10, No 3 (2020): Agustus 2020 Vol 10, No 2 (2020): Mei 2020 Vol 10, No 1 (2020): Februari 2020 Vol 9, No 4 (2019): November 2019 Vol 9, No 3 (2019): Agustus 2019 Vol 9, No 2 (2019): MEI 2019 Vol 9, No 1 (2019): FEBRUARI 2019 Vol 8, No 4 (2018): NOVEMBER 2018 Vol 8, No 3 (2018): AGUSTUS 2018 Vol 8, No 2 (2018): MEI 2018 Vol 8, No 1 (2018): Februari 2018 Vol 8 (2018): Nomor Khusus Hari Kesehatan Nasional Vol 7, No 4 (2017): NOVEMBER 2017 Vol 7, No 3 (2017): Agustus 2017 Vol 7, No 2 (2017): Mei 2017 Vol 7, No 1 (2017): Februari 2017 Vol 7 (2017): Nomor Khusus Hari Ibu Vol 7 (2017): Nomor Khusus Hari Kesehatan Nasional Vol 6, No 4 (2016): November 2016 Vol 6, No 3 (2016): Agustus 2016 Vol 6 (2016): Nomor Khusus Hari Kesehatan Nasional Vol 6 (2016): Nomor Khusus Hari Kesehatan Nasional Vol 5, No 2 (2015): Mei 2015 Vol 5, No 1 (2015): Februari 2015 More Issue