cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Siddhayatra: Jurnal Arkeologi
ISSN : 08539030     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Art,
Siddhayatra publishes papers devoted to a broad scope in archaeological research comprises quaternary and prehistory, classical archaeology, colonial archaeology, maritime archaeology, epigraphy, ethnoarchaeology, paleoanthropology, zooarchaeology, geoarchaeology and other applied science related with human past.
Arjuna Subject : -
Articles 137 Documents
ADAPTASI DAN NEGOSIASI PADA PERKAWINAN ORANG KOMERING BERDASAR PENDEKATAN STRUKTURAL FUNGSIONAL Sani, Amilda
Siddhayatra Vol 23, No 1 (2018): Jurnal Arkeologi Siddhayatra
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (957.128 KB) | DOI: 10.24832/siddhayatra.v23i1.122

Abstract

Marriage in Indonesian is full of values and cultural rules that govern how marriages should be done. The marriage becomes the arena of conflict between individual or family interests. This paper will look at how these interests generate the various variants of marriage owned by the Komering community in the Cempaka and Batu areas. The adaptation and negotiation resulted the model of the wedding: (1) rasan tuha elder gawi, (2) rasan tuha takad padang, (3) ngakuk anak, and (4) sibambangan. This variant model of marriage is result of adaptation and negotiation between the right of the parent do determine the mate for her child, the parent's right to set the money request and dowry as a form of parental consent to her child's mate.
MAKAM KUNO DI SITUS ANGGAREKSA, KECAMATAN LOMBOK TIMUR, KABUPATEN LOMBOK: BUKTI PENGARUH AWAL ISLAM DI LOMBOK Keling, Gendro
Siddhayatra Vol 24, No 2 (2019): JURNAL ARKEOLOGI SIDDHAYATRA
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1415.722 KB) | DOI: 10.24832/siddhayatra.v24i2.153

Abstract

Islam masuk dan berkembang di Nusantara melalui wilayah pesisir. Demikian juga perkembangan Islam di Lombok, dimulai dari wilayah pesisir menuju ke pedalaman. Penelitian ini berusaha mengidentifikasi makam di Situs Anggareksa sebagai salah satu bukti awal berkembangnya Islam di melalui pesisir Lombok Timur. Dari beberapa teori mengenai masuknya Islam di Lombok, Situs Makam Anggareksa menjadi salah satu bukti pengaruh Islam dari Sulawesi Selatan yang masuk melalui Lombok Timur. Metode yang digunakan untuk membedah permasalahan adalah observasi, wawancara, dan studi pustaka. Data yang sudah terkumpul kemudian dianalisis, dengan arsiktektural, komparasi, dan analisis gaya. Penelitian di lapangan didapatkan data komplek makam di Situs Anggareksa terdapat 13 makam, 5 diantaranya menunjukkan karakterisktik makam kuno, dan sisanya adalah makam umum. Setelah dianalisis didapatkan kesimpulan bahwa makam-makam kuno ini adalah type makam bugis. Hal ini menjadi salah satu bukti pengaruh Islam yang menyebar di wilayah timur Lombok adalah dari Sulawesi Selatan
PEMANFAATAN WARISAN KEDATUAN SRIWIJAYA SEBAGAI SUMBER PEMBELAJARAN Susanti, Retno
Siddhayatra Vol 24, No 2 (2019): JURNAL ARKEOLOGI SIDDHAYATRA
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1088.107 KB) | DOI: 10.24832/siddhayatra.v24i2.154

Abstract

Sriwijaya Kadatuan founded by Dapunta Hiyang Sri Janayasa in 682 had been widely developed and later became as one the famous maritime kingdom in the history. Most of the people lived from sailing and trading. This fact was closely related to the availability of ample natural resources they used for trading commodities. Sumatra had been a well- known place for trading goods based on forest and mining products, as well as other natural resources. Having these wealthy commodities, many foreigners from overseas countries such as Arab, Persian, Indian, and Chinese, had been deliberately come to visit Sriwijaya for trading. The existence of Sriwijaya in Sumatera along with its rich natural resources and its vital position in regional trading had triggered the place turn out into the prominent kingdom. During 8-12 century, this kedatuan had controlled over Melaka strait; a main sailing and trading channels during the period. Moreover, Kadatuan Sriwijaya presumably had taken control over the western sea of archipelago. Although the existence of Sriwijaya have been widely known, in actual fact, most of the people have not yet well informed about its preeminence in the past. This is because a number of valuable information still tied up. The similar circumstances in educational setting, inadequate information about Sriwijaya have an effect on the childrens understanding and perception on glorious and great values of our nation in the past. Even if there were some accessible information, but they were only scrappy and extraneous historiographies. As the consequences, a number of important aspects for the historical information have faded away that brought about barriers to the children in appreciating the historical inheritances from the past. Considering the important of recognizing the historical inheritances for our national living, there should be an adequate knowledge and understanding on the historical inheritance to be passed on to children since the early beginning. So, the utilization of historical inheritance as the learning resources in education becomes a need and a necessity. Therefore, the process for digging great values from the past prominent could be used in more appropriate and meaningful for the purpose of nowadays and future needs.
LAKSANA ARCA DURGA MAHISASURAMARDINI PADA BEBERAPA PURA DI BALI SEBUAH TINJAUAN VARIASI DAN MAKNA Basudewa, Dewa Gede Yadhu
Siddhayatra Vol 24, No 2 (2019): JURNAL ARKEOLOGI SIDDHAYATRA
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1486.637 KB) | DOI: 10.24832/siddhayatra.v24i2.155

Abstract

Penelitian ini dilakukan berdasarkan keunikan variasi laksana DurgaMahisasuramardini pada beberapa pura di Bali, seperti membawa laksana sesuai denganmitologi tercipatanya Dewi Durga dan sesuai dengan keinginan pribadi pemahat (localgenius). Tujuan penelitian ini adalah mengetahui jenis-jenis variasi dan makna filosofilaksana arca Durga Mahisasuramardini pada beberapa pura di Bali. Pengumpulan datadalam penelitian ini dilakukan dengan metode observasi dan studi kepustakaan melaluipendekatan kualitatif yang selanjutnya dibahas menggunakan analisis ikonografi dan teorisemiotika. Hasil penelitian menunjukkan Durga sebagai sakti Dewa Siwa sangat sesuaidengan tugasnya sebagai penghancur kejahatan (asura) dan memiliki tugas yang samadengan Dewa Wisnu sebagai pemelihara alam semesta dari kejahatan (asura). Jenis-jenisvariasi laksana yang dibawa oleh arca Durga Mahisasuramardini dalam penelitian ini adalahcakra, sangkha, sara, gada, pasa, khetaka, khadga, trisula, sakti, pustaka, camara, aksamala,keris, kuncup padma, dan ekor mahisa. Laksana-laksana tersebut sebagai atribut DurgaMahisasuramardini memiliki makna-makna filosofi berdasarkan mitologi dan fungsinya,yaitu sebagai makna kekuatan, kesaktian, kesucian, penghalang, keagungan, dan kesuburanatau kemakmuran alam semesta.
TEMPAYAN KUBUR DI DESA TEBAT MONOK, KECAMATAN KEPAHIANG, KABUPATEN KEPAHIANG, PROVINSI BENGKULU Indriastuti, Kristantina
Siddhayatra Vol 24, No 2 (2019): JURNAL ARKEOLOGI SIDDHAYATRA
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1750.218 KB) | DOI: 10.24832/siddhayatra.v24i2.151

Abstract

Budaya megalitik adalah budaya universal yang dikenal di seluruh dunia. Budaya ini berkembang dari masa prasejarah sampai saat ini. Persebaran budaya megalitik sejatinya merupakan perjalanan peradapan suatu masyarakat. Penguburan dengan tempayan merupakan salah satu bagian dari budaya megalitik yang dikenal dan berkembang di Indonesia selain bentuk-bentuk penguburan lainnya. Penguburan dengan tempayan dapat dilakukan dengan cara penguburan primer, dilakukan dengan cara memasukkan mayat dengan posisi jongkok atau dengan cara memasukkan hanya sebagian anggota tubuh saja atau biasa disebut penguburan sekunder. Setelah dilakukan penelitian di situs Tebatmonok ini telah ditemukan tempayan kubur yang berjumlah 22 buah dengan ukuran yang berbeda beda dantidak utuh lagi, akibat dari lokasi situs merupakan lokasi penambangan pasir yang masih dikerjakan. Selain tempayan juga ditemukan beliung dan belincung yang berjumlah 10 buah. Selain itu ditemukan juga wadah-wadah dari tanah liat baik polos maupun berhias yang kemungkinan merupakan bekal kubur, karena disertakan dalam penguburan. Di situs Tebatmonok ini juga ditemukan batu tegak sebanyak 3 buah yang membentuk formasi melingkar yang kemungkinan merupakan sarana pemujaan sebelum melakukan ritual yang berkaitan dengan penguburan.
MENGENAL TINGGALAN ARKEOLOGI DARI SUDUT PANDANG KEKINIAN: TINJAUAN KEBERADAAN KOLEKSI MUSEUM MANUSIA PURBA GILIMANUK Karmana, I Putu
Siddhayatra Vol 24, No 2 (2019): JURNAL ARKEOLOGI SIDDHAYATRA
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1499.725 KB) | DOI: 10.24832/siddhayatra.v24i2.147

Abstract

Keberadaan benda-benda koleksi Museum Manusia Purba Gilimanuk tentu tidak untuk digunakan kembali, namun dapat dimanfaatkan untuk berbagai kepentingan masa kini. Berdasarkan pertimbangan tersebut maka diangkat penelitian untuk mengenal tinggalan arkeologi dari sudut pandang kekinian dengan benda koleksi museum sebagai objek penelitian. Penelitian ini memanfaatkan data lapangan serta kajian pustaka untuk menjawab permasalahannya. Penelitian ini memberikan gambaran mengenai asas kemanfaatan serta nilai yang dimiliki oleh benda-benda koleksi museum dalam situasi kekinian, baik sebagai objek kajian budaya maupun untuk menghargai hasil karya nenek moyang kita.
PEMANFAATAN SITUS KARANG KAPAL SEBAGAI OBYEK WISATA MINAT KHUSUS Novita, Aryandini; Ardiwijaya, Roby
Siddhayatra Vol 25, No 1 (2020): JURNAL ARKEOLOGI SIDDHAYATRA
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2209.301 KB) | DOI: 10.24832/siddhayatra.v25i1.161

Abstract

Tulisan ini membahas tentang pelestarian sumberdaya arkeologi maritim dengan cara mengintegrasikan pemanfaatan situs kapal tenggelam sebagai obyek wisata selam dengan konservasi terumbu karang sehingga dapat meningkatkan perekonomian masyarakat. Metode yang digunakan dalam tulisan ini berupa studi kepustakaan yang berupa penalaahan terhadap bahan pustaka berupa buku, artikel, laporan penelitian dan catatan lainnya. Data utama berupa laporan penelitian arkeologi di Desa Sungai Padang yang dilakukan oleh Balai Arkeologi Sumatera Selatan tahun 2017 dan 2019. Sedangkan data pendukung berupa publikasi tentang pemanfaatan warisan budaya maritim sebagai objek wisata dan pengelolaannya. Wreckdive merupakan wisata minat khusus yang hanya memiliki peminat tidak sebanyak wisata selam lainnya sehingga harus disinergikan dengan obyek wisata selam lainnya antara lain terumbu karang. Daya tarik produk wisata selam perlu dikemas dalam bentuk kegiatan yang berbasis pada aktivitas konservasi terumbu karang dan pelestarian situs sehingga atraksi wisata selam di situs kapal tenggelam dapat lebih terjaga dan berkelanjutan.
PRASASTI-PRASASTI BERAKSARA PASCA-PALAWA: BUKTI KEBHINNEKAAN DI KAWASAN KEPURBAKALAAN PADANG LAWAS, SUMATERA UTARA nasoichah, Churmatin; Andhifani, Wahyu Rizky
Siddhayatra Vol 25, No 1 (2020): JURNAL ARKEOLOGI SIDDHAYATRA
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1943.659 KB) | DOI: 10.24832/siddhayatra.v25i1.163

Abstract

Permasalahan penelitian ini adalah bagaimanakah wujud kebhinnekaan dapat terlihat dari data-data prasasti beraksara paleo-Sumatra (Sumatra Kuno) dan Aksara Batak yang ada di kawasan Kepurbakalaan Padang Lawas, Sumatera Utara? Adapun tujuan dari penulisan artikel ini adalah untuk mengetahui wujud kebhinnekaan dari data-data prasasti beraksara paleo-Sumatra (Sumatra Kuno) dan Aksara Batak yang ada di kawasan kepurbakalaan Padang Lawas, Sumatera Utara. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian deskriptif kualitatif. Kesimpulan dari penelitian ini adalah kawasan kepurbakalaan Padang Lawas, Sumatera Utara dilihat dari hasil temuan-temuan prasastinya dihuni tidak hanya masyarakat Melayu namun juga terdapat eksistensi masyarakat lokal lain yaitu masyarakat Batak. Terdapatnya penggunaan dua bentuk aksara yaitu aksara Paleo-Sumatra (Sumatra Kuno) dan Aksara Batak menunjukkan adanya keberagaman bentuk yang ada di kawasan kepurbakalaan tersebut. Penggunaan bahasa Sansekerta, bahasa Melayu dan bahasa Batak juga menunjukkan bahwa masyarakat yang tinggal di kawasan kepurbakalaan tersebut beragam dan sangat terbuka terhadap pengaruh luar seperti halnya pengaruh budaya India yang berupa bentuk aksara dan penggunaan Bahasa Sansekerta.
MINYAK ATSIRI KULIT KAYU MANIS (CINNAMOMUN BURMANNI) SEBAGAI PENGHAMBAT PERTUMBUHAN LUMUT PADA CANDI KEDATON Aryanto, Rofi Surya
Siddhayatra Vol 25, No 1 (2020): JURNAL ARKEOLOGI SIDDHAYATRA
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1698.781 KB) | DOI: 10.24832/siddhayatra.v25i1.177

Abstract

Candi Kedaton yang masuk dalam Kawasan Percandian Muaro Jambi, terletak di kecamatan Maro Sebo, Kabupaten Muaro Jambi. Candi Kedaton sampai sekarang masih dalam tahap pemugaran bagian halaman II, namun perlu evaluasi pasca pemugaran untuk pelestarian. Kerusakan pelapukan pada bata Candi Kedaton salah satunya disebabkan faktor eksternal yaitu lumut. Minyak atsiri kulit kayu manis bisa difungsikan sebagai penghambat pertumbuhan lumut pada Candi Kedaton, khususnya pada bata lepas. Medote penelitian bersifat kuantitafif, tahapannya meliputi pengumpulan data, pengolahan data, analisis data, sintesis data sampai pada tahap kesimpulan. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa kandungan minyak atsiri kulit kayu manis yaitu sinamaldehid bisa menghambat pertumbuhan lumut dilihat dari perubahan warna. Mekanisme dari sinamaldehid dengan menghambat pertumbuhan lumut dilihat metagenesis energi pada sel, sehingga menyebabkan ketidakmampuan sel untuk beradaptasi dengan senyawa ini. Minyak atsiri pada saat disemprotkan pada lumut akan tersangkut pada bagian arkegonium sehingga menghambat sel spora untuk masuk ke dalam anteredium.
RUMAH GDANG DAN PENYIMPANAN ARTEFAK BUDAYA DI KERINCI ZE, deki Syaputra
Siddhayatra Vol 25, No 1 (2020): JURNAL ARKEOLOGI SIDDHAYATRA
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2396.833 KB) | DOI: 10.24832/siddhayatra.v25i1.188

Abstract

Artefak adalah kajian utama arkeologi atau yang dikenal dengan ilmu sejarah kebudayaan material. Di wilayah Kerinci artefak budaya disimpan pada Balai Adat yang dikenal dengan nama Rumah Gdang, hal ini karena artefak tersebut dianggap sebagai pusaka dan tidak jarang benda tersebut di keramatkan. Sehingga sulit untuk mengakses dan melihat artefak budaya tersebut sesuai dengan waktu yang diinginkan seperti halnya galeri budaya maupun museum dan menjadikan masyarakat tidak memiliki pengetahun terhadap artefak budaya tersebut khususnya bagi generasi muda. Oleh karena itu, melalui artikel ini penulis berusaha menghadirkan bentuk peranan dan bukti Rumah Gdang sebagai tempat penyimpanan benda pusaka disamping sebagai pusat atau balai permusyarawatan adat dalam setiap dusun atau luhah. Jadi dengan adanya penjelasan tentang posisi dan tatacara penyimpanan artefak budaya sebagai benda pusaka pada Rumah Gdang dan mengidentifikasi beberapa artefak budaya yang menjadi koleksi dan tersimpan pada beberapa Rumah Gdang di Kerinci. Sehingga dapat mengetahui peranan penting Rumah Gdang dan keberadaan artefak sebagai pusaka yang tersimpan di dalamnya.

Page 6 of 14 | Total Record : 137