cover
Contact Name
Lalan Ramlan
Contact Email
lalan_ramlan@isbi.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
penerbitan@isbi.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Seni Makalangan
ISSN : 23555033     EISSN : 27148920     DOI : -
Core Subject : Art,
Arjuna Subject : -
Articles 200 Documents
TARI JAIPONGAN GAYANA KARYA GONDO DI KLINIK TARI GONDO ART PRODUCTION Andini, Gustari Tri; Nuriawati, Risa
Jurnal Seni Makalangan Vol. 10 No. 1 (2023): "Menguak Seni Tradisi Di Era Globalisasi"
Publisher : Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/mklng.v10i1.2707

Abstract

Agus Gandamanah (Gondo) adalah seorang kreator muda Jaipongan sekaligus pemilik sanggar Klinik Tari Gondo Art Production (GAP). Ia banyak menciptakan tari Jaipongan dengan gayanya sendiri. Salah satu karya uniknya adalah Tari Jaipongan Gayana. Nama tarinya dipandang, terdiri atas suku kata ‘gaya’ dan ‘na’ yang memiliki arti ‘gayanya’ Gondo. Gerak-geraknya tidak hanya khas Jaipongan, tetapi memiliki gerak-gerak esensi robotik dan etnik kreatif. Hal inilah yang menarik bagi penulis untuk melakukan pengkajian (penelitian), khususnya kreativitas Gondo dalam penciptaan Tari Jaipongan Gayana. Untuk mengkaji kreativitas Gondo tersebut, digunakan konsep pemikiran Rhodes 4P yaitu: person, process, press, dan product. Penelitian kualitatif dipakai dengan menggunakan dengan pendekatan deskripsi analisis. Adapun hasil yang dicapai yaitu terungkapnya proses kreatif Gondo dalam menciptakan Tari Jaipongan Gayana. Penciptaan tari tersebut, didorong oleh faktor internal dan faktor eksternal, Dilakukan melalui suatu proses yang cukup panjang dan melibatkan seniman lain. Karya tari tersebur dibangun dengan tiga unsur estetika utama yaitu: koreografi, musik, dan rias-busana. ABSTRACT JAIPONGAN GAYANA DANCE BY GONDO AT THE GONDO ART PRODUCTION DANCE CLINIC, June 2023. Agus Gandamanah (Gondo) is a young creator of Jaipongan and the owner of Gondo Art Production (GAP) Dance Clinic. He has created many Jaipongan dances with his own style, one of his unique works is Jaipongan Gayana dance. Some of the unique factors that are interesting among others; Its unique name is taken from the words 'gaya (style)' and 'na' which means Gondo's 'style', and its movements that are not only typical of Jaipongan movements but also having the essence of robotic and creative ethnic movements. This interests the author to do a study (research), especially focusing on Gondo's creativity in creating Jaipongan Gayana dance. In order to achieve optimum results in the study of Gondo's creativity in the creation of the Jaipongan Gayana dance, the author uses the basis of Rhodes' concept of thought (4Ps namely person, process, press, and product). In line with this concept of thought, this qualitative research uses the method of a descriptive analysis approach. The results achieved from this study are the disclosure of Gondo's creative process in the creation of Jaipongan Gayana dance, that is started from himself who is aware of his dancing style which became the conceptual idea in the creation of Jaipongan Gayana dance, which is also supported by internal and external factors, carried out through a quite long process and involved other artists, so that a form of Jaipongan Gayana dance is created which is built with three main aesthetic elements, namely; choreography, musical accompaniment, and make-up and costume. Keywords: Gondo, Creativity, Jaipongan Gayana Dance.
PEMBELAJARAN SENI TARI MELATIH KECERDASAN KINESTETIK ANAK Martini, Otin
Jurnal Seni Makalangan Vol. 10 No. 1 (2023): "Menguak Seni Tradisi Di Era Globalisasi"
Publisher : Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/mklng.v10i1.2708

Abstract

Pembelajaran seni tari untuk anak usia dini bertujuan untuk melatih motorik anak, melatih perkembangan kognitif, afektif, melatih perkembangan sosial emosi, komunikasi, melatih minat, bakat dan kreativitas anak untuk dapat meningkatkan kecerdasan kinestetik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana kondisi kecerdasan kinestetik anak sebelum mengikuti proses pembelajaran seni tari, bagaimana proses penerapan pembelajaran seni tari untuk meningkatkan kecerdasan kinestetik anak, bagaimana kecerdasan anak setelah diterapkannya pembelajaran seni tari. Penelitian ini dilakukan dengan menerapkan pembelajaran seni tari dengan judul Tari “Balonku” kepada lima orang anak yang berusia 4-5 tahun di TK Aryandini 3 yang berlokasi di Margahayu Raya, Kelurahan Sekejati, Kecamatan Buah Batu, Kota Bandung. Metode yang yaitu metode deskriptif analisis dengan pendekatan kualitatif. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan wawancara, observasi, dan dokumentasi. Analisis dilakukan berdasarkan pengumpulan data, reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan, bahwa hasil anak-anak sebelum mengikuti pembelajaran seni tari yang mengacu pada unsur wiraga, wirahma dan wirasa, diperoleh nilai rata-rata unsur wiraga 61.6, rata-rata unsur wirahma 59.8, serta rata-rata unsur wirasa 55. Setelah dilakukan penerapan pembelajaran seni tari, nilai rata -rata wiraga menjadi 89.9, wirahma menjadi 87.2, dan nilai wirasa menjadi 80. Dari hasil penilaian tersebut ada peningkatan untuk rata-rata perolehan wiraga naik 28 poin, wirahma naik 27.4 poin dan wirasa naik 25 poin. Hasil menyimpulkab bahwa pembelajaran seni tari mempunyai dampak untuk melatih kecerdasan kinestetik anak melalui penilaian wiraga, wirahma dan wirasa. ABSTRACT LEARNING THE ART OF DANCE TRAINING CHILDREN'S KINESTHETIC INTELLIGENCE, June 2023. Learning the art of dance for early childhood aims to train children's motor skills, train cognitive, affective, train development of social-emotional, communication, train children's interests, talents and creativity to be able to improve children's kinaesthetic intelligence. This study aims to find out how the condition of children's kinaesthetic intelligence before participating in the dance learning process, how the process of applying dance learning to improve children's kinaesthetic intelligence, how the children's intelligence after the application of dance learning. This research has been conducted on the application of dance learning with the dance title is “My Balloon” to 5 children aged 4-5 years at Aryandini 3 Kindergarten located in Margahayu Raya, Sekejati, Buah Batu District, Bandung City. The method used in this research is descriptive analysis using a qualitative approach. The techniques of collecting data are interviews, observation and documentation. The analysis of this research has been carried out through collecting data, reducing data, presenting data and drawing conclusions. The results of this study indicate that the results of the assessment of children before the application of dance learning which refers to the assessment of wiraga, wirahma and wirasa elements, obtained the average score of wiraga is 61.6, the average score of wirahma is 59.8, and the average score of wirasa is 55. Meanwhile after the application of dance learning, the average score of wiraga is 89.9, the average score of wirahma is 87.2, and the average score of wirasa is 80. The result of this assessment shows the increase in the average of wiraga to 28 points, wirahma to 27.4 points, and wirasa to 25 points. The conclusion of the result of dance learning study shows that the result of the assessment of children before and after participating in dance learning has improved. The impact of learning dance art to train children's kinaesthetic intelligence through assessments wiraga, wirahma and wirasa increases. Keywords: Learning, My Balloon Dance, Kinaesthetic Intelligence, Children Aged 4-5 Years.
GUBAHAN REPERTOAR TARI DOGER KONTRAK Azhar, Angeline; Fajaria, Ria Dewi
Jurnal Seni Makalangan Vol. 10 No. 1 (2023): "Menguak Seni Tradisi Di Era Globalisasi"
Publisher : Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/mklng.v10i1.2709

Abstract

Tari Doger Kontrak merupakan salah satu repertoar tari yang termasuk dalam rumpun tari rakyat. Tariannya menceritakan para ronggeng yang menari di pemanggungan perkebunan teh untuk menghibur masyarakat penggemarnya. Bentuk tarinya digarap sebagai tarian kelompok yang baru dengan tanpa menghilangkan identitas sumbernya. Penyajiannya menggunakan pendekatan metode gubahan tari. Tahapan proses gubahan dilakukan melalui tahap eksplorasi, evaluasi, dan komposisi. Tujuan dari penyajian tarinya adalah untuk mewujudkan tari kelompok yang baru tanpa menghilangkan identitasnya sehingga menghasilkan nilai tambah yang lebih menarik dan memberi kesan berbeda. Gubahan tari Doger Kontrak ini dilakukan dengan adanya pengembangan pada koreografi, iringan musik, dan artistik tarinya. ABSTRACT COMPOSITION OF DOGER KONTRAK DANCE REPERTOIRE, June 2023. Doger Kontrak Dance is one of the dance repertoires that is included in genre of the folk dance. The dance tells the ronggeng who are dancing on a tea plantation stage to entertain their fans. The form of the dance is worked out as a new group dance without losing the identity of the source. The presentation uses a dance composition method approach. The phases of the composition process are carried out through exploration, evaluation, and composition. The purpose of presenting the dance is to create a new group dance without losing its identity in order to produce more attractive added value and give a different impression. The composition of this Doger Kontrak dance has been carried out by developing the choreography, musical accompaniment and the artistic of dance. Keywords: Doger Kontrak Dance, Dance Composition, Dance Performance.
TARI GATOTKACA GANDRUNG KARYA R. ONO LESMANA KARTADIKOESOEMAH DI PADEPOKAN SEKAR PUSAKA SUMEDANG Nurjanah, Dewi; Laras Sakti, Meiga Fristya
Jurnal Seni Makalangan Vol. 10 No. 1 (2023): "Menguak Seni Tradisi Di Era Globalisasi"
Publisher : Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/mklng.v10i1.2710

Abstract

Tari Gatotkaca Gandrung karya R. Ono Lesmana Kartadikoesoemah diciptakan pada tahun 1957. Dalam pertunjukannya terdapat empat tokoh, yaitu; Gatotkaca, Pergiwa Pergiwati, dan Cakil. Struktur pertunjukan terbagi menjadi tiga adegan dengan bentuk tari pethilan yang menggambarkan kegandrungan Gatotkaca kepada Pergiwa Pergiwati sebagai jelmaan dari Cakil. Penelitian ini dibatasi pada permasalahan mengenai bagaimana estetika tari Gatotkaca Gandrung karya R. Ono Lesmana Kartadikoesoemah di Padepokan Sekar Pusaka Sumedang. Landasan konsep pemikiran mengunakan teori estetika instrumental, karena dianggap relevan sebagai pisau bedah dalam membahas permasalahan. Untuk mengimplementasikan teori digunakan metode deskriptif analisis. Penelitian ini bersifat kualitatif dengan pengumpulan data dilakukan melalui studi pustaka, observasi, wawancara, dokumentasi dan analisa data. Berdasarkan hasil analisis diperoleh simpulan bahwa ditinjau dari estetika, tarian ini terdiri atas wujud tari, bobot tari, dan penampilan. Wujud tari meliputi bentuk dan struktur, di antaranya struktur koreografi, struktur iringan tari, tata rias tari, tata busana tari dan properti tari. Bobot tari meliputi gagasan penciptaan, suasana, dan pesan tari. Penampilan meliputi bakat, keterampilan, dan sarana. Ketiga unsur tersebut berkesinambungan menjadi sebuah pembentuk estetika tari yang menjadi identitas tari Gatotkaca Gandrung. ABSTRACT GATOTKACA GANDRUNG DANCE BY R. ONO LESMANA KARTADIKOESOEMAH AT PADEPOKAN SEKAR PUSAKA SUMEDANG, June 2023. Gatotkaca Gandrung Dance by R. Ono Lesmana Kartadikoesoemah was created in 1957. In the show there are four characters, namely; Gatotkaca, Periwa Perwati, and Cakil. The structure of the performance is divided into three scenes in the form of a pethilan dance which depicts Gatotkaca's passion for PeriwaPergiwati as the incarnation of Cakil. This research is limited to the problem of how the aesthetics of the Gatotkaca Gandrung dance by R. Ono Lesmana Kartadikoesoemah at Padepokan Sekar Pusaka Sumedang. The basis of the concept of thought is using instrumental aesthetic theory, because it is considered relevant as a scalpel in discussing problems. To implement the theory used descriptive analysis method. This research is qualitative in nature with data collection carried out through literature, observation, interviews, documentation and data analysis. Based on the results of the analysis, it can be concluded that in terms of aesthetics, this dance consists of dance form, dance weight, and appearance. The form of dance includes form and structure, including choreographic structures, dance accompaniment structures, dance make-up, dance dress and dance properties. The weight of the dance includes the idea of creation, atmosphere and message of the dance. Appearance includes talents, skills, and means. These three elements continue to form a dance aesthetic which is the identity of the Gatotkaca Gandrung dance. Keywords: Gandrung Gatotkaca Dance, R. Ono Lesmana Kartadikoesoemah, Instrumental Aesthetics.
PROSES KREATIF KOREOGRAFER I NYOMAN CATRA Kunti Aryan, Ni Nyoman Ayu
Jurnal Seni Makalangan Vol. 10 No. 2 (2023): "Tari Dalam Genggaman Tradisi"
Publisher : Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/mklng.v10i2.3393

Abstract

ABSTRAK I Nyoman Catra adalah seniman multilatenta, yang juga seorang koreografer dengan karyanya yang apik. Beliau merupakan dosen ISI Denpasar yang telah purna tugas, namun tidak berhenti berkarya. Pengalamannya dalam mencipta tari, serta pengalaman hidupnya dalam menempuh pendidikan seni hingga ke luar negeri, menjadikannya sebagai salah satu seniman hebat yang patut dicontoh. Setiap koreografer memiliki cara tersendiri dalam menciptakan karya tari, yang merupakan perpaduan dari teori serta pengalaman berkesenian yang telah dilaluinya. Demikian halnya dengan I Nyoman Catra yang memiliki cara tersendiri dalam mencipta tari yang tentunya sangat berharga untuk dibagikan, khususnya kepada para koreografer muda sebagai sebuah motivasi, inspirasi, serta memperkaya ragam metode dalam mencipta tari. Penelitian studi tokoh ini bertujuan untuk mengungkap proses kreatif I Nyoman Catra dalam menciptakan sebuah karya tari. Adapun metode yang digunakan dalam pengumpulan data yakni dengan wawancara dan studi literatur. Hasil dari penelitian ini adalah tahap penciptaan seni yang dilalui Nyoman Catra yakni dengan menentukan ide, konsep (sistem web, atau sistem kipas), newasin/nuasen, eksperimen-pembentukan-penghalusan, dan pentas. Kata Kunci: Proses Kreatif, Koreografer, I Nyoman Catra. ABSTRACT THE CREATIVE PROCESS OF CHOREOGRAPHER I NYOMAN CATRA, DECEMBER 2023. I Nyoman Catra is a multitalented artist who is also an accomplished choreographer. He is a retired lecturer at ISI Denpasar who has continued to work. His expertise in choreographing dance and his life experience studying art overseas drive him one of the great artists to emulate. Each choreographer has their method for developing dance works, combining theory and artistic experience he has undergone. Similarly, I Nyoman Catra has a strategy for creating dance works that is extremely valuable to share, particularly with young choreographers, as a source of motivation, inspiration, and a means of enriching the various methods for creating dance. This figure study research aims to demonstrate I Nyoman Catra’s creative process in developing a dance work. The data has been collected using interviews and literature reviews. The findings of this study are the stages of art creation that Nyoman Catra underwent, including determining ideas, conceptions (Web Sistem or Kipas Sistem), newasin/nuasen, experiments-shaping-refining, and performances. Keywords: Creative Process, Choreographer, I Nyoman Catra.
KREATIVITAS PAUL KUSARDY DALAM MENCIPTAKAN TARI PEMETIK TEH Faadhilah, Ghina Alya; Sumiati, Lilis
Jurnal Seni Makalangan Vol. 10 No. 2 (2023): "Tari Dalam Genggaman Tradisi"
Publisher : Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/mklng.v10i2.3394

Abstract

ABSTRAK Tari Pemetik Teh termasuk ke dalam genre tari kreasi baru yang diciptakan Paul Kusardy pada tahun 1961 di Sanggar Viatikara Kota Bandung. Paul merupakan sosok seniman yang memiliki daya kreativitas tinggi dan merefleksikan kepribadian Indonesia yang memiliki keberagaman etnis dan suku bangsa dalam karya tarinya. Tujuan Penelitian yaitu untuk mengetahui secara rinci gagasan kreativitas Paul Kusardy dalam menciptakan Tari Pemetik Teh. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan teori kreativitas 4P Rhodes meliputi pribadi, proses, pendorong, dan produk. Prosedur pengumpulan data dilakukan melalui tiga tahapan yaitu observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukan Paul Kusardy sebagai sosok yang berhasil mengembangkan gagasan kreativitas dengan melewati seluruh proses dan dorongan dalam mencipta tari, sehingga menghasilkan karya tari kreasi baru yang diterima masyarakat. Kata Kunci: Tari Pemetik Teh, Kreasi Baru, Kreativitas, Paul Kusardy. ABSTRACT THE CREATIVITY OF PAUL KUSARDY IN CREATING TEA PICKER DANCE, DECEMBER 2023. Tea Picker Dance is one of new creation dances created by Paul Kusardy in 1961 at Viatikara Studio Bandung. Paul is an artist who has high creativity and reflects the personality of Indonesia which has ethnic diversity in his dance works. The aim of the research is to get detail finding of Paul Kusardy's creative ideas in creating the Tea Picker Dance. This study uses qualitative research methods with the 4Ps Rhodes' creativity theory approach, including person, process, press, and product. Data collection procedure was carried out through three stages, namely observation, interviews and documentation. The result of this study shows that Paul Kusardy has succeeded in developing creative ideas through the entire process and encouragement in creating dance, resulting in new creation dance which is accepted by the society. Keywords: Tea Picker Dance, New Creation, Creativity, Paul Kusardy.
TAFSIR GARAP TARI TRESNA SUMIRAT Mulyani, Ai; Sopandi, Caca
Jurnal Seni Makalangan Vol. 10 No. 2 (2023): "Tari Dalam Genggaman Tradisi"
Publisher : Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/mklng.v10i2.3395

Abstract

ABSTRAK Tresna Sumirat tari ciptaan baru yang menggambarkan sepasang tokoh bertemakan percintaan, dengan bentuk pertunjukan tari berpasangan bersumber dari Folklor daerah Sumedang. Kisahnya menceriterakan pangeran Geusan Ulun Raja Sumedang Larang dengan Putri Harisbaya yang berasal dari Madura yang menjadi selir Raja Cirebon. Kedua wilayah budaya, Sumedang dan Cirebon dijadikan sumber penciptaan, baik gerak maupun artistik pertunjukan. Tari Tresna Sumirat bertujuan untuk mengisi kekosongan keberadaan tarian lepas berpasangan yang bertemakan percintaan pada tari-tarian Sunda khususnya di daerah Bandung. Penciptaan Tresna Sumirat ini menggunakan metode dari Jaqueline Smith- Autard dengan konsep 5 tahapan dalam berkreativitas, yaitu: tahapan dorongan untuk mencipta, tahapan bekerja dengan media, tahapan mewujudkan bentuk akhir, tahapan presentasi dan penampilan, dan tahapan tanggapan dan evaluasi. Hasil yang dicapai adalah sebuah tari berpasangan yang bersumber dari folklor yang bertemakan cinta. Harapannya dapat berkontribusi menjadi salah satu materi ajar di Prodi Tari ISBI Bandung. Kata Kunci: Tresna Sumirat, Sumedang Larang, Tari Berpasangan. ABSTRACT THE WORK INTERPRETATION OF TRESNA SUMIRAT DANCE, DECEMBER 2023. Tresna Sumirat is a new dance creation depicting a pair of characters with a love theme, with a form of paired dance performance originating from the Folklore of Sumedang area. The story tells about Prince Geusan Ulun, The King of Sumedang Larang and Princess Harisbaya from Madura who became the concubine of the King of Cirebon. The two cultural areas, Sumedang and Cirebon, have been used as a source of creation, both movement and artistic of performance. The Tresna Sumirat dance aims to fill the void of free pair dances with the theme of romance in Sundanese dances, especially in Bandung area. The creation of Tresna Sumirat dance uses the method from Jaqueline Smith-Autard with the concept of 5 phases in creativity, namely: impulse to create, working with the medium, realizing the final form, presentation and performance, and response and evaluation. The result achieved is a pair dance that originates from folklore with the theme of love. It is expected that it can contribute to becoming one of the teaching materials at ISBI Bandung Dance Study Program. Keywords: Tresna Sumirat, Sumedang Larang, Pair Dance.
STRATEGI PEMBELAJARAN SENI TARI PADA EKSTRAKULIKULER DI SMPN 13 KOTA SERANG Azzahra, Khoirunnisa; Rizal, Syamsul
Jurnal Seni Makalangan Vol. 10 No. 2 (2023): "Tari Dalam Genggaman Tradisi"
Publisher : Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/mklng.v10i2.3396

Abstract

ABSTRAK Strategi pembelajaran seni tari dalam ekstrakurikuler memiliki peran penting dalam pengembangan kreativitas, ekspresi diri, dan pemahaman budaya siswa. Meskipun terdapat peningkatan minat siswa pada kegiatan ini, kendala seperti kekurangan fasilitas tari yang memadai dan sumber daya yang terbatas menjadi tantangan. Kolaborasi yang solid antara berbagai pihak dianggap krusial untuk mengatasi kendala-kendala tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi strategi pembelajaran yang sedang digunakan di ekstrakurikuler seni tari SMP Negeri 13 Kota Serang. Metode penelitian yang diadopsi adalah kualitatif. Data diperoleh melalui studi pustaka, observasi, wawancara, dan demonstrasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran seni tari di sekolah ini melibatkan metode ceramah dan demonstrasi. Metode ceramah memberikan dasar teoritis, sementara metode demonstrasi memberikan dimensi praktis dan pengalaman langsung. Kombinasi keduanya menciptakan pengalaman pembelajaran holistik, memastikan siswa tidak hanya memahami konsep seni tari secara teoritis tetapi juga mampu mengaplikasikannya dalam praktik. Kata Kunci: Strategi, Pembelajaran, Seni Tari. ABSTRACT DANCE LEARNING STRATEGIES IN EXTRACURRICULAR AT SMPN 13 SERANG CITY, DECEMBER 2023. The dance learning strategies in extracurricular have a crucial role in fostering creativity, self-expression, and cultural understanding among students. Despite the increased interest in this activity, there are challenges such as inadequate dance facilities and limited resources. Solid collaboration among various stakeholders is deemed essential to overcome these challenges. This research aims to identify the learning strategies currently employed in the dance extracurricular activities at SMPN 13 Serang City. The research method applied is qualitative. Data are obtained through literature review, observation, interviews, and demonstrations. The research results show that dance learning in this school involves both lecture and demonstration methods. The lecture method provides a theoretical foundation, while the demonstration method offers practical dimensions and direct experiences. The combination of these two creates a holistic learning experience, ensuring that students not only grasp the theoretical concepts of dance but also apply them in practice. Keywords: Strategy, Learning, Dance.
“GAMA” SEBUAH KARYA PENCIPTAAN TARI TERINSPIRASI DARI KESENIAN BADAWANG RANCAEKEK Yadiyatullah, Ghasanni Ashabul Jannah; Amelia, Lia
Jurnal Seni Makalangan Vol. 10 No. 2 (2023): "Tari Dalam Genggaman Tradisi"
Publisher : Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/mklng.v10i2.3397

Abstract

ABSTRAK Karya tari dengan judul Gama ini diambil dari bahasa Sanksekerta yang memiliki arti perjalanan. Perjalanan ini dimaksudkan pada upaya para seniman untuk mempertahankan Kesenian Badawang di lingkungan masyarakat yang mulai acuh terhadap kesenian lokal. Kesenian Badawang dijadikan sumber inspirasi dalam mencipta karya ini karena didukung pula oleh pengalaman empiris penulis menyaksikan industrialisasi yang terjadi di daerah Rancaekek Kabupaten Bandung. Masyarakat setempat saat ini tidak mengenali secara utuh bentuk Kesenian Badawang yang merupakan kesenian asli Rancaekek, bahkan tidak sedikit masyarakat tidak mengetahuinya sama sekali. Faktor yang disinyalir menjadi penyebab dari kondisi tersebut adalah pengaruh globalisasi membuat teknologi dan informasi semakin maju serta berkembang pesat. Banyak lahan persawahan diubah, dijadikan sebagai lahan industri serta dibangun gedunggedung tinggi hanya untuk kepentingan negara luar. Profesi warga setempat berubah drastis dan mengharuskannya tetap bertahan hidup dengan bekerja di perusahaan tersebut hingga meninggalkan kegiatan berkesenian. Minoritas warga Rancaekek memiliki jiwa seni yang diklaim sebagai seorang seniman, bersikeras memperkenalkan Kesenian Badawang kepada mayoritas masyarakat yang lebih modern. Semangat juang tersebut diusung ke dalam karya Tari Gama yang dikemas ke dalam bentuk tari kelompok dengan metode pendekatan kontemporer serta tipe garap dramatik. Terciptanya karya tari Gama ini berlandaskan teori Doris Humphrey, di mana sumber gerak yang digunakan merupakan hasil dari desain, dinamika, irama atau ritme dan motivasi, serta gerak yang melalui proses distrorsi dan stilisasi dari gerak khas Boneka Badawang, juga gerak keseharian. Semua itu tersusun dan membentuk karya Tari Gama. Kata Kunci: Kesenian Badawang, Dramatik, Kontemporer, Semangat Juang. ABSTRACT “GAMA” A WORK OF DANCE CREATION INSPIRED BY THE ART OF BADAWANG RANCAEKEK, DECEMBER 2023. The dance work entitled Gama is taken from Sanskrit which means journey. This journey is aimed at the artists' efforts to maintain Badawang Art in a community that was starting to become indifferent to local art. Badawang art is used as a source of inspiration in creating this work because it is also supported by the author's empirical experience of witnessing industrialization that occurred in Rancaekek area, Bandung Regency. The local community currently does not fully recognize the Badawang art form, which is the original art of Rancaekek, in fact, quite a few people do not know about it at all. The factor that is thought to be the cause of this condition is the influence of globalization making technology and information increasingly advanced and developing rapidly. Many rice fields were converted, used as industrial land and tall buildings were built only for the benefit of foreign countries. The local residents' professions changed drastically and required them to survive by working for the company and abandoning artistic activities. A minority of Rancaekek residents have artistic souls and claim to be artists, insisting on introducing Badawang art to the majority of more modern society. This fighting spirit is carried into the work of Gama Dance which is packaged in the form of group dance with a contemporary approach and dramatic type of work. The creation of the Gama dance work is based on Doris Humphrey's theory, while the source of movement used is the result of design, dynamics, rhythm and motivation, as well as movements that go through a process of distortion and stylization from the typical Badawang Doll movements, and daily movements. All of this is arranged and forms the work of Gama Dance. Keywords: Badawang Arts, Dramatic, Contemporary, Fighting Spirit
DINAMIKA PERTUNJUKAN TARI TOPENG BEBARANG (1970-2022) Nurasih, Nunung; Rochmat, Nur
Jurnal Seni Makalangan Vol. 10 No. 2 (2023): "Tari Dalam Genggaman Tradisi"
Publisher : Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/mklng.v10i2.3398

Abstract

ABSTRAK Bebarang adalah pertunjukan Tari Topeng Cirebon yang dilakukan secara berkeliling dari desa ke desa di wilayah Cirebon dan sekitarnya. Rombongan Tari Topeng biasanya berkeliling sambil membawa segala perlengkapannya untuk menampilkan pertunjukan Tari Topeng di tempat-tempat umum seperti di pekarangan rumah, di lapangan terbuka, di pasar dan sebagainya. Permasalahan yang diangkat dalam tulisan ini adalah bagaimana dinamika pertunjukan Bebarang pada Tari Topeng Cirebon sejak tahun 1970 sampai dengan tahun 2022. Dalam upaya mengungkap dinamika pertunjukan Bebarang sejak tahun 1970 hingga 2022 ini digunakan metode sejarah yang meliputi empat tahapan kerja, yaitu: heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Penelitian ini juga menggunakan pendekatan multi disiplin sebagai ilmu bantu dalam sejarah, di antaranya sosiologi dan budaya. Landasan teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori “Social Contract” yang dikemukakan oleh James R. Brandon. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa dinamika pertunjukan Bebarang pada Tari Topeng Cirebon sangat tergantung pada dukungan pemerintah serta masyarakat penyangganya. Kata Kunci: Tari Topeng Cirebon, Bebarang. ABSTRACT THE DYNAMIC OF BEBARANG MASK DANCE PERFORMANCE (1970-2022), DECEMBER 2023. Bebarang is one of Cirebon Mask Dance performances which is carried out from village to village in Cirebon area and its surroundings. The Mask Dance groups usually go around villages carrying all the equipment to have Mask Dance performances in public places such as in house yards, in open fields, in markets and so on. The issue to be investigated in this paper is the dynamics of Bebarang performance in Cirebon Mask Dance from 1970 to 2022. In the effort to reveal this issue, the historical method is used which includes four stages of work, namely: heuristics, criticism, interpretation, and historiography. This research also uses a multi-disciplinary approach as an auxiliary science in history, including sociology and culture. The theoretical basis used in this research is the "Social Contract" theory stated by James R. Brandon. The result of this research shows that the dynamic of Bebarang performance in Cirebon Mask Dance highly depends on the support of the government and the community. Keywords: Cirebon Mask Dance, Bebarang.

Filter by Year

2014 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 12 No. 2 (2025): "Ruang Kreatif Mencipta Tari" Vol. 12 No. 1 (2025): "Merawat Warisan" Nilai Tradisi dan Kontemporer Vol. 11 No. 2 (2024): "Fenomenologi Tari Berbasis Tradisi dan Kontemporer" Vol. 11 No. 1 (2024): "Menggali Akar, Mencipta Ragam Rupa Kinestetika" Vol 11, No 1 (2024): "Menggali Akar, Mencipta Ragam Rupa Kinestetika" Vol. 10 No. 2 (2023): "Tari Dalam Genggaman Tradisi" Vol 10, No 2 (2023): "Tari Dalam Genggaman Tradisi" Vol 10, No 1 (2023): "Menguak Seni Tradisi Di Era Globalisasi" Vol. 10 No. 1 (2023): "Menguak Seni Tradisi Di Era Globalisasi" Vol 9, No 2 (2022): "Dimensi Kreativitas Ketubuhan Penari Sunda" Vol 9, No 1 (2022): "Menggali Inspirasi Dari Tradisi" Vol 8, No 2 (2021): "Tari Di Ruang Virtual" Vol 8, No 1 (2021): "GERAK TUBUH TARI MENGALIR MENCIPTA ASA DAN CITA" Vol 7, No 2 (2020): “Gemulai Gerak Ketubuh Tradisi Mencipta Enerji Dinamis Tari Kreasi” Vol 7, No 1 (2020): "GELIAT TARI DI BUMI TRADISI" Vol 6, No 2 (2019): "Menjaga Asa Merajut Cita" Vol 6, No 1 (2019): "Menari dengan Hati-Menandak dengan Rasa" Vol 5, No 2 (2018): "Mengupas Kreativitas, Menumbuhkan Sensitivitas" Vol 5, No 1 (2018): "Jari Jemari Membuai Emosi" Vol 4, No 1 (2017): "Spirit Tubuh Tanpa Batas" Vol 3, No 2 (2016): "Menelisik Tradisi Mengais Kreasi" Vol 3, No 1 (2016): "Membumikan Tradisi Menumbuhkan Kreasi" Vol 2, No 2 (2015): "Wayang Bayang-bayang Kehidupan" Vol 1, No 2 (2014): "Membumikan Tradisi Meraih Inspirasi" Vol 1, No 1 (2014): "Menggali Potensi Berbagai Tradisi Kreatif" More Issue