cover
Contact Name
Lalan Ramlan
Contact Email
lalan_ramlan@isbi.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
penerbitan@isbi.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Seni Makalangan
ISSN : 23555033     EISSN : 27148920     DOI : -
Core Subject : Art,
Arjuna Subject : -
Articles 200 Documents
MAKNA SIMBOLIS GERAK TARI TOPENG SASIKIRANA STUDIO TARI INDRAWATI LUKMAN BANDUNG (Analisis Semiotika Charles Sanders Peirce) Nur Fitriyani Padjriah; Citra Julian Lestari
Jurnal Seni Makalangan Vol. 11 No. 2 (2024): "Fenomenologi Tari Berbasis Tradisi dan Kontemporer"
Publisher : Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sasikirana merupakan pengembagan dari karya tari topeng pamindo. Hal yang menarik dalam karya sasikirana ini, banyaknya eksplorasi dan inovasi yang dilakukan baik dalam hal gerak, struktur gerak, iringan dan kostum. Sasikirana terkesan lebih modern dari segi penyajian. Penulis akan menggali maknadari tanda-tanda yang terdapat pada gerak tari sasikirana karya Indrawati Lukman menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan semiotika. Kajian terpusat pada tanda – tanda gerak dalamkarya tari topeng sasikirana, dikaji secara mendalam sehingga mampu membongkar realitas makna dibalik karya tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap makna simbolis dari gerak tari Sasikirana karya Indrawati Lukman melalui pendekatan semiotika Charles Sanders Peirce. Tari Sasikirana dipilih sebagai objek penelitian karena memiliki kekayaan simbolis yang merefleksikan nilai budaya dan kearifan lokal yang unik. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif deskriptif, yang melibatkan pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan menggunakan teori semiotika Peirce, yang membagi tanda menjadi tiga komponen: representament, Objek, dan Interpretan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gerak-gerak dalam tari Sasikirana memiliki makna simbolis yang mendalam, yang merepresentasikan feminitas, keagungan perempuan, serta filosofi hidup masyarakat yang dihormati dalam budaya setempat. Kata Kunci: Gerak Tari Sasikirana, Indrawati Lukman, Semiotika, Charles Sanders Peirce, Makna Simbolis. ABSTRACTTHE SYMBOLIC MEANING OF SASIKIRANA MASK DANCE MOVEMENTS OF INDRAWATI LUKMAN DANCE STUDIO BANDUNG: SEMIOTIC (ANALYSIS OF CHARLES SANDERS PEIRCE), DECEMBER 2014. Sasikirana is a development of Pamindo mask dance. The interesting things in Sasikirana dance work are the extensive exploration and innovation applied to movements, movement structure, accompaniment, and costumes. Sasikirana appears to be more modern in its presentation style. The author would examine the meaning of the symbols in Sasikirana dance movements by Indrawati Lukman, using a qualitative method with a semiotic approach. This study focuses on the symbolic movements in Sasikirana mask dance, with deep analyzing process to uncover the underlying meanings. The purpose of this research is to reveal the symbolic meanings of the movements in Sasikirana dance by Indrawati Lukman through the semiotic approach of Charles Sanders Peirce. Sasikirana dance has been selected as the research subject because of its symbolic richness reflecting unique cultural values and local wisdom. The research method used is descriptive qualitative, involving data collection through observation, interviews, and documentation. Data analysis is conducted using Peirce's semiotic theory, which divides signs into three components: representament, Object, and Interpretant. The findings show that the movements in Sasikirana dance owes deep symbolic meanings, representing femininity, the majesty of women, and the community life Naskahditerimapada,7Septemberrevisiakhir3Oktober2024 |157 philosophy respected within the local culture. Keywords: Sasikirana Dance Movements, Indrawati Lukman, Semiotics, Charles Sanders Peirce, Symbolic Meaning.
“SKAK” Sebuah Karya Tari Kontemporer Berdasarkan Perspektif Pemikiran Wallas IndahPurnamasari; Subayono; Lalan Ramlan
Jurnal Seni Makalangan Vol. 11 No. 2 (2024): "Fenomenologi Tari Berbasis Tradisi dan Kontemporer"
Publisher : Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

‘Skak’ merupakan karya penciptaan tari kontemporer yang terinspirasi dari langkah-langkah dalam permainan catur, salah satu cabang olahraga yang berskala regional, nasional, dan internasional. Permainan catur bukanlah olahraga yang hanya mengandalkan kekuatan fisik saja, melainkan kemampuan otak (indera) dalam menyusun strategi efektif untuk mengalahkan lawan dan dimainkan oleh dua orang. Oleh karena itu, olahraga catur sering dianggap sebagai pelatihan otak. Dengan kata lain, dalam permainan catur membutuhkan strategi otak yang berfokus pada langkah-langkah strategis, sehingga membutuhkan konsentrasi tinggi dan pemikiran strategis sehingga aktivitas fisiknya cenderung statis. Sumber inspirasi ini, selanjutnya disusun ke dalam sebuah konsep garap tari kontemporer dengan pendekatan tipe tari murni dengan bentuk garap kelompok, yaitu semata-mata mengandalkan keindahan gerak, baik yang bersumber dari tradisi maupun dari gerak keseharian yang distilisasi sesuai kebutuhan. Untuk mewujudkan karya tari ini digunakan metode kreativitas dari yang meliputi; eksplorasi, improvisasi, dan pembentukan. Hasil perwujudan garap menunjukkan, bahwa karya tari kontemporer yang diberi judul ‘Skak’ setelah melalui proses memiliki klimaks, terutama ditunjang dengan music tari dan rias dan busana tari yang sesuai dengan karakteristik tariannya. Kata Kunci: Skak, Tipe Murni, Tari Kelompok, Kontemporer. ABSTRACT 'SKAK': A CONTEMPORARY DANCE CREATION BASED ON WALLAS PERSPECTIVE, DECEMBER 2024. 'Skak' is a contemporary dance creation inspired by the steps in the game of chess, a sport on a regional, national and international scale. The game of chess is not a sport which only relies on physical strength, but rather on the ability of brain (senses) to develop effective strategies to defeat the opponent and is played by two people. Therefore, chess is often considered as brain training. In other words, playing chess requires a brain strategy that focuses on strategic moves, so it requires high concentration and strategic thinking so that the physical activity tends to be static. This source of inspiration is then organized into a concept for contemporary dance work with a pure dance type approach in a form of group work, in which relying solely on the beauty of movement, both from traditional sources and from daily movements which are stylized to its needs. To create this dance work, the creative methods are used which include; exploration, improvisation, and formation. The result of the work realization shows that the contemporary Naskahditerimapada20,Julirevisiakhir8Oktober2024 |169 dance work entitled 'Skak' after going through the process has a climax, especially supported by the dance music, make-up and costume that suits the characteristics of the dance. Keywords: Skak, Pure Type, Group Dance, Contemporary.
INGGIT GARNASIH SEBAGAI BENTUK INSPIRASI KARYA TARI NING Desya Noviansya Suherman
Jurnal Seni Makalangan Vol. 11 No. 2 (2024): "Fenomenologi Tari Berbasis Tradisi dan Kontemporer"
Publisher : Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Karya tari ning adalah karya tari yang terinspirasi dari sosok karakter wanita tangguh yang bersejarah yaitu Inggit Garnasih. Ning dalam bahasa Sunda yang memiliki arti kekosongan yang sunyi senyap. Landasan penciptaan yang dipergunakan untuk mewujudkan karya tari ning adalah teori estetika postmodern, koreografi lingkungan, dan semiotika. Proses dalam penciptaan karya tari ning menggunakan metode penciptaan Hawkins yang meliputi 1) Melihat. 2) Merasakan. 3) Mengejawantahkan. 4) Pembentukan. Konsep perwujudan dari karya tari ning menggunakan koreografi lingkungan, sehingga proses penciptaan dan pelaksanaan dilakukan secara langsung di ruang atau tempat terbuka. Proses latihan dilakukan langsung di tempat bertujuan untuk menyatukan tubuh penari sesuai ruang, sehingga akan menghasilkan kesatuan antara tubuh dan ruang. Keseluruhan ruang yang melingkupinya harus disesuaikan dengan tubuh, agar peristiwa yang ditampilkan terbaca secara utuh. Konsep ini menyajikan pertunjukan di tengah- tengah masyarakat secara nyata lengkap dengan lingkungan dan aktivitas sosial masyarakat yang menyertai, serta berfungsi untuk menyerap potensi yang ada di alam sekitar, guna memperkaya unsur dalam pertunjukan. Kata Kunci: Ning, Inggit Garnasih, Koreografi Lingkungan. ABSTRACTINGGIT GARNASIH AS AN INSPIRATION OF THE NING DANCE WORK, DECEMBER 2024. The Ning dance work is inspired by a historical strong female character, namely Inggit Garnasih. Ning in Sundanese means a silent emptiness. The basis of creation used to realize the Ning dance work is the theory of postmodern aesthetics, environmental choreography, and semiotics. The process of creating the Ning dance work uses Hawkins creation method which includes 1) Seeing. 2) Feeling. 3) Embodying. 4) Shaping. The embodiment concept of the Ning dance work uses environmental choreography, so that the creation and implementation process is carried out directly in an open space or place. The training process is carried out directly on the spot with the aim of uniting the dancer's body to the space in order to produce unity between the body and the space. The entire surrounding space should be adjusted to the body, so that the performing event can be read entirely. This concept presents a reality performance in the midst of society accompanied with the environment and social activities of the community, and functions to absorb the potential exists in the surrounding nature, in order to enrich the elements in the performance. Keywords: Ning, Inggit Garnasih, Environmental Choreography.
SYMBOLS MOVEMENT SEBAGAI STRATEGI RANGSANG GERAK KREATIF PADA PENCIPTAAN KOREOGRAFI Tyoba Armey Astyandro Putra; Sangid Zaini Gani; Rasendrya Yanuar Rachman
Jurnal Seni Makalangan Vol. 11 No. 2 (2024): "Fenomenologi Tari Berbasis Tradisi dan Kontemporer"
Publisher : Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini mengkaji penggunaan Symbols Movement sebagai strategi untuk merangsang gerak kreatif dalam proses penciptaan koreografi, dengan memadukan metode eksperimen dan metode semiotika. Melalui metode eksperimen, simbol diperlakukan sebagai pemicu gerakan yang dieksplorasi secara intuitif dan bebas oleh penari, mendorong terciptanya gerakan orisinal dan inovatif. Sementara itu, metode semiotika digunakan untuk menganalisis simbol sebagai tanda yang memiliki makna denotatif dan konotatif, sehingga dapat diterjemahkan ke dalam gerakan yang lebih komunikatif dan sarat makna. Kombinasi kedua metode ini memberikan keseimbangan antara kebebasan kreatif dan kedalaman analisis simbol, menghasilkan karya koreografi yang tidak hanya estetis secara visual. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa symbol movement dapat memperkaya eksplorasi gerak serta memberikan dimensi artistik yang lebih mendalam dalam penciptaan koreografi, baik dari segi proses kreatif penari maupun komunikasi pesan kepada penonton. Kata Kunci: Symbols Movement, Ekplorasi Koreografi, Semiotika. ABSTRACTSYMBOLS MOVEMENT AS A STRATEGY TO STIMULATE CREATIVE MOVEMENT IN CREATING CHOREOGRAPHY, DECEMBER 2024. This research examines the use of Symbols Movement as a strategy to stimulate creative movement in the process of creating choreography, by combining experimental and semiotic methods. Through the experimental method, symbols are treated as triggers for movements that are explored intuitively and freely by the dancers, encouraging the creation of original and innovative movements. Meanwhile, the semiotic method is used to analyze symbols as signs having denotative and connotative meanings, so that they can be translated into more communicative and meaningful movements. The combination of these two methods provides a balance between the creative freedom and the depth of symbol analysis, producing choreographic works which are not only visually aesthetic. The results of this research indicate that symbols movement is able to enrich movement exploration and provide a deeper artistic dimension in the creation of choreography, both in terms of the dancer's creative process and the message communication to the audience. Keywords: Symbols Movement, Choreography Exploration, Semiotic.
ESTETIKA IBING TAYUB BALANDONGAN DI SITURAJA-SUMEDANG Asep Jatnika; Dindin Rasidin; Sopian Hadi; Indrawan Cahya; Citra Martsela
Jurnal Seni Makalangan Vol. 11 No. 2 (2024): "Fenomenologi Tari Berbasis Tradisi dan Kontemporer"
Publisher : Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ibing berasal dari kata Ngibing, mengandung pengertian tari atau menari, sedangkan kalangenan merupakan kebiasaan (habit) yang dilakukan masyarakat sifatnya untuk kesenangan atau hiburan. Tayub Balandongan sebagai ibing kalangenan merupakan kebiasaan ngibing dengan ronggeng yang dilakukan dalam peristiwa Tayuban. Kata balandongan merupakan arena pertunjukan tayuban yang letaknya di luar gedung (out door) atau dapat juga diartikan bahwa Balandongan ini merupakan sebuah panggung yang terbuat dari bambu. Kaparigelan menari dalam tayuban merupakan hal yang wajib dikuasai oleh para penayub karena mempunyai prestise tersendiri, sebagai cerminan kewibawaan serta kharismatik seorang pengibing. Untuk membedah permasalahan Tayub Balandongan di Situraja-Sumedang maka penulisan ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan teori estetika instrumental. Keberadaan Tayub Balandongan ini menjadi cerminan bahwa Ibing Tayub Balandongan merupakan bentuk kesenian rakyat yang istimewa dikarenakan dari dua jenis tari kalangenan/pergaulan (rakyat dan menak) dapat menyatu dalam satu sajian yaitu Tayub Balandongan. Dari sisi lain berdampak pula pada pandangan masyarakat yang di masa lalu terdapat tingkatan derajat yang diklasifikasikan berdasarkan sistem status lapisan sosial masyarakat. Namun pada saat ini pandangan tingkatan sosial itu menjadi hilang dan menjadikan Tayub Balandongan sebuah sarana hiburan dan media silaturahmi masyarakat dari berbagai kalangan. Kata Kunci: Ibing Tayub Balandongan, Kalangenan, Tari Rakyat, Tari Menak. ABSTRACT THE AESTHETICS OF IBING TAYUB BALANDONGAN IN SITURAJA-SUMEDANG, DECEMBER 2024. Ibing comes from the word Ngibing, which means dance or dancing, while kalangenan is a habit which is done by the society for fun or entertainment. Tayub Balandongan as ibing kalangenan is the habit of ngibing with ronggeng which is carried out during the Tayuban event. The word Balandongan is a tayuban performance arena which is located outside the building (out door) or it can also be interpreted that Balandongan is a stage made of bamboo. The skill of dancing in tayuban is something that must be mastered by the dancers because it has its own prestige, as a reflection of the authority and charisma of a singer. To reveal the problems of Tayub Balandongan in Situraja-Sumedang, this writing uses a qualitative research method with an instrumental aesthetic theory approach. The existence of Tayub Balandongan is a reflection that Ibing Tayub Balandongan is a special form of folk art since the two types of Kalangenan/social dance (folk and noble) could be combined in one performance, namely Tayub Balandongan. Besides, it also has an impact on society's views, where in the past there were degrees which were classified based on the social status system of society. However, at this time this view of social levels has disappeared and made Tayub Balandongan a means of entertainment and a medium for gathering people from various circles. Keywords: Ibing Tayub Balandongan, Kalangenan, Folk Dance, Menak Dance
STRUKTUR TARI RUDAT ANGLING DHARMA DI DESA KRASAK KABUPATEN INDRAMAYU Cika Angelir; Turyati
Jurnal Seni Makalangan Vol. 11 No. 2 (2024): "Fenomenologi Tari Berbasis Tradisi dan Kontemporer"
Publisher : Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tari Rudat Angling Dharma di Desa Krasak merupakan satu-satunya Tari Rudat yang masih hidup dan berkembang di Kabupaten Indramayu. Gerak dalam tarian ini berasal dari pencak silat milik sesepuh Indramayu yaitu Nyi Endang Darma. Tarian ini masih mempertahankan tradisi masyarakat Indramayu melalui gerak dan kostum tarinya. Hal tersebut menjadi daya tarik untuk diteliti lebih mendalam mengenai struktur Tari Rudat Angling Dharma. Penelitian ini menggunakan landasan konsep pemikiran Y. Sumandiyo Hadi mengenai struktur tari yang terdiri atas; gerak tari, ruang tari, iringan tari, judul tari, tema tari, tipe/jenis/sifat tari, mode penyajian, jumlah penari dan jenis kelamin, rias kostum tari, tata cahaya, serta properti tari. Metode yang digunakan ialah metode penelitian kualitafif melalui pendekatan deskriptif analisis dengan menggunakan langkah-langkah pengumpulan data meliputi; observasi, wawancara, dokumentasi, triangulasi; analisis data. Hasil dari penelitian ini ialah terungkapnya struktur Tari Rudat Angling Dharma. Kata Kunci: Struktur, Tari Rudat Angling Dharma, Indramayu ABSTRACTTHE STRUCTURE OF RUDAT ANGLING DHARMA DANCE IN KRASAK VILLAGE INDRAMAYU REGENCY, DECEMBER 2024. The Rudat Angling Dharma dance in Krasak Village is the only Rudat Dance that is still alive and developing in Indramayu Regency. The movements in this dance come from pencak silat of an Indramayu elder, namely Nyi Endang Darma. This dance still maintains the traditions of Indramayu society through its dance movements and costumes. This becomes an attraction for deeper research into the structure of Rudat Angling Dharma Dance. This research uses the basic concept of Y. Sumandiyo Hadi's thoughts regarding dance structure which consists of; dance movements, dance space, dance accompaniment, dance title, dance theme, dance type/kind/nature, presentation mode, the number of dancers and gender, dance costume make-up, lighting, and dance properties. The study uses a qualitative research method through a descriptive analysis approach using data collection steps including; observation, interviews, documentation, triangulation; data analysis. The result of this research is the revelation of the structure of Rudat Angling Dharma Dance. Keyword: Structure, Rudat Angling Dharma Dance, Indramayu.
TATA RIAS WAJAH PENARI BALI PERIODE TAHUN 1920-1940-AN (Perspektif Maestro Tari Bali Ni Ketut Arini) Ni Nyoman Ayu Kunti Aryani; Anak Agung Ayu Mayun Artati
Jurnal Seni Makalangan Vol. 12 No. 1 (2025): "Merawat Warisan" Nilai Tradisi dan Kontemporer
Publisher : Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tata rias merupakan elemen penting dalam seni pertunjukan, termasuk dalam tari Bali, karena tidak hanya mempercantik penampilan tetapi juga memperkuat karakter dan ekspresi penari. Penelitian ini mengungkap tata rias penari Bali pada periode 1920–1940-an berdasarkan keterangan dari maestro tari Bali Ni Ketut Arini (82 tahun), berdasarkan pada ingatannya sewaktu masih kecil saat memperhatikan para penari berhias, dan mengacu pada foto seniman I Wayan Rindi yang merupakan paman sekaligus guru tari dari Ibu Arini. Metode yang digunakan meliputi wawancara, observasi, studi dokumen, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tata rias pada masa tersebut menggunakan bahan-bahan alami seperti jelaga, buah pinang, tangkai sirih, daun dlungdung (dadap berduri), minyak kelapa, perlengkapan nginang, kapas, bedak dari bahan alami, dan pamor (kapur sirih). Peralatan sederhana yang digunakan dalam proses menata rias seperti lampu sentir, lidi, pisau, dan cermin. Proses merias didahului dengan persembahyangan untuk memohon restu-Nya agar proses merias berjalan dengan lancar. Kajian ini memperkaya pemahaman terhadap praktik tata rias tradisional dan kearifan lokal dalam seni pertunjukan Bali.
DARI KLASIK KE KONTEMPORER: DINAMIKA PERKEMBANGAN TARI SUNDA Meiga Fristya Laras Sakti; Lia Amelia; Ria Dewi Fajaria
Jurnal Seni Makalangan Vol. 12 No. 1 (2025): "Merawat Warisan" Nilai Tradisi dan Kontemporer
Publisher : Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perkembangan dalam dunia tari saat ini sangat pesat, terutama dalam bentuk penyajian tari. Munculnya beragam bentuk tari kreasi maupun tari kontemporer di wilayah Kota Bandung, menunjukkan perkembangan yang signifikan. Keberadaan penciptaan tari dapat bersinergi dan memberikan dampak positif dalam keilmuan seni tari, berupa proses penciptaan karya seni pertunjukan. Proses penciptaan tari di Kota Bandung khususnya dalam ruang akademisi tradisi, tanpa disadari berangkat dari bentuk kaidah Tari Sunda yang ada dalam ruang institusi menurut kurun waktu “Akademisi Seni Tari Indonesia (ASTI), Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) sampai dengan Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung”. Tujuan penelitian ini mengungkapkan perkembangan idiom-idiom tari tradisi budaya Sunda yang direkontruksi dalam kaidah keilmuan penciptaan tari. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan etnografi, menggunakan teori Strukturasi A. Gidden. Dimana institusi ditempatkan sebagai agen perubahan yang melahirkan aktor-aktor yaitu seniman atau kreator tari hasil lulusan dari proses Pendidikan agen tersebut, sesuai dengan kurikulumnya. Bagaimana para aktor dapat mendominasi dan memiliki nilai otoritatif serta alokatif; Bagaimana aktor dapat melegitimasi hasil karya tarinya dan bagaimana peran agen dan aktor dalam mengsignifikansikan proses perkembangan fenomena kekaryaan tari saat ini. Hasil dari penelitian ini akan diseminarkan dengan capaian prosiding, jurnal nasional terakreditasi sinta, dan HKI (Hak Kekayaan Intelektual) berupa karya tulis ringkasan penelitian.
ANALISIS PERKEMBANGAN BENTUK SAJIAN UPACARA ADAT MAPAG PANGANTEN SANGGAR SENI NYI POHACI KABUPATEN SUBANG Ilham Revangga; Endang Caturwati
Jurnal Seni Makalangan Vol. 12 No. 1 (2025): "Merawat Warisan" Nilai Tradisi dan Kontemporer
Publisher : Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Upacara Adat Mapag Panganten telah menjadi kebiasaan dalam peristiwa perkawinan di masyarakat Sunda, khususnya di Kabupaten Subang. Artikel ini bertujuan untuk mengetahui aspek-aspek yang berkembang dalam Upacara Adat Mapag Panganten khususnya di Sanggar Seni Nyi Pohaci. Pengetahuan tentang perkembangan dan perubahan yang terjadi pada Upacara Adat Mapag Panganten Sunda yang belum terpublikasi secara rinci, menjadi landasan dasar dalam penulisan artikel ini. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif analisis, dengan tujuan untuk memaparkan perkembangan bentuk sajian dalam Upacara Adat Mapag Panganten. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui kajian pustaka, dokumentasi visual. Hasil penelitian menunjukkan adanya perkembangan dan perubahan pada pementasan Upacara Adat Mapag Panganten Sunda khususnya di Sanggar Seni Nyi Pohaci yang terlihat pada bentuk sajiannya. Dengan adanya perkembangan tersebut, Upacara Adat Mapag Panganten Sunda saat ini lebih diminati oleh masyarakat yakni dengan adanya unsur inovasi di dalamnya.
ASRAH KONSEP GARAP PENCIPTAAN TARI KONTEMPORER Rani Tiara FL; Turyati
Jurnal Seni Makalangan Vol. 12 No. 1 (2025): "Merawat Warisan" Nilai Tradisi dan Kontemporer
Publisher : Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Karya tari dengan judul Asrah ini diambil dari bahasa Sansekerta yang memiliki arti pasrah. Karya ini memiliki sumber inspirasi yang berasal dari persoalan Hukum Adat yakni Hukum Cambuk yang terjadi di Daerah Istimewa Aceh. Efek psikologis penerima hukuman cambuk menjadi titik fokus penggarapan karya ini. Banyaknya pro dan kontra dalam persoalan ini cukup menarik perhatian masyarakat sekitar akan aturan Qanun dan hukum Jinayat yang terdapat di daerah Aceh. Landasan konsep garap yang dipakai pada karya tari Asrah ini adalah sebuah teori pemikiran Jacqueline Smith tentang tari dramatik dengan metode Relasi Artistik. Karya ini digarap dengan tipe dramatik menggunakan gerak kontemporer yang dihasilkan dari proses ekplorasi gerak dengan dinamika, irama dan gerak keseharian yang distilisasi dan didistrosikan menjadi sebuah pembaruan.

Filter by Year

2014 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 12 No. 2 (2025): "Ruang Kreatif Mencipta Tari" Vol. 12 No. 1 (2025): "Merawat Warisan" Nilai Tradisi dan Kontemporer Vol. 11 No. 2 (2024): "Fenomenologi Tari Berbasis Tradisi dan Kontemporer" Vol. 11 No. 1 (2024): "Menggali Akar, Mencipta Ragam Rupa Kinestetika" Vol 11, No 1 (2024): "Menggali Akar, Mencipta Ragam Rupa Kinestetika" Vol 10, No 2 (2023): "Tari Dalam Genggaman Tradisi" Vol. 10 No. 2 (2023): "Tari Dalam Genggaman Tradisi" Vol 10, No 1 (2023): "Menguak Seni Tradisi Di Era Globalisasi" Vol. 10 No. 1 (2023): "Menguak Seni Tradisi Di Era Globalisasi" Vol 9, No 2 (2022): "Dimensi Kreativitas Ketubuhan Penari Sunda" Vol 9, No 1 (2022): "Menggali Inspirasi Dari Tradisi" Vol 8, No 2 (2021): "Tari Di Ruang Virtual" Vol 8, No 1 (2021): "GERAK TUBUH TARI MENGALIR MENCIPTA ASA DAN CITA" Vol 7, No 2 (2020): “Gemulai Gerak Ketubuh Tradisi Mencipta Enerji Dinamis Tari Kreasi” Vol 7, No 1 (2020): "GELIAT TARI DI BUMI TRADISI" Vol 6, No 2 (2019): "Menjaga Asa Merajut Cita" Vol 6, No 1 (2019): "Menari dengan Hati-Menandak dengan Rasa" Vol 5, No 2 (2018): "Mengupas Kreativitas, Menumbuhkan Sensitivitas" Vol 5, No 1 (2018): "Jari Jemari Membuai Emosi" Vol 4, No 1 (2017): "Spirit Tubuh Tanpa Batas" Vol 3, No 2 (2016): "Menelisik Tradisi Mengais Kreasi" Vol 3, No 1 (2016): "Membumikan Tradisi Menumbuhkan Kreasi" Vol 2, No 2 (2015): "Wayang Bayang-bayang Kehidupan" Vol 1, No 2 (2014): "Membumikan Tradisi Meraih Inspirasi" Vol 1, No 1 (2014): "Menggali Potensi Berbagai Tradisi Kreatif" More Issue