cover
Contact Name
Lalan Ramlan
Contact Email
lalan_ramlan@isbi.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
penerbitan@isbi.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Seni Makalangan
ISSN : 23555033     EISSN : 27148920     DOI : -
Core Subject : Art,
Arjuna Subject : -
Articles 204 Documents
TUBUH SEBAGAI RUANG KREATIF DALAM PEMBACAAN ULANG KOREOGRAFI Alfiyanto; Syauqi Rajo Al Dunyaa
Jurnal Seni Makalangan Vol. 13 No. 1 (2026): "Penciptaan Tari dan Produksi Pengetahuan Berbasis Riset"
Publisher : Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini membahas praktik koreografi dalam karya tari Orang-orangan Orang melalui pendekatan fenomenologi dan konsep embodied knowledge dengan menempatkan tubuh sebagai pusat pengalaman dan produksi makna artistik. Penelitian menggunakan pendekatan Arts-Based Research (ABR) dan metode Penciptaan Relasi Artistik ciptaan Alfiyanto sebagai landasan metodologis dalam proses penciptaan karya. Kedua pendekatan tersebut digunakan untuk membangun proses kreatif yang tidak hanya berorientasi pada pembentukan estetika pertunjukan, tetapi juga pada produksi pengetahuan melalui pengalaman tubuh yang bersifat embodied dan reflektif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa koreografi dalam karya ini berkembang melalui pengalaman tubuh yang repetitif, fragmentatif, dan situasional. Tubuh penari hadir sebagai arsip pengalaman yang menyimpan memori, afeksi, dan respons terhadap tekanan sosial serta perubahan lingkungan. Melalui metafora “orang-orangan”, karya ini merepresentasikan tubuh manusia kontemporer yang berada di antara keterasingan, kerentanan, dan resistensi sosial. Dengan demikian, tubuh dipahami sebagai locus of creation yang memiliki kapasitas kreatif, reflektif, dan epistemologis dalam praktik koreografi kontemporer. Kata Kunci: Arts-Based Research; Embodied Knowledge; Fenomenologi; Koreografi; Tari Kontemporer. ABSTRACT This study examines choreographic practices in the dance work Orang-orangan Orang through a phenomenological approach and the concept of embodied knowledge, positioning the body as the center of both experience and artistic meaning-making. The research employs Arts-Based Research (ABR) and Alfiyanto's Artistic Relation Creation Method as methodological foundations in the creative process. These approaches support a creative process oriented not only toward the formation of performance aesthetics, but also toward the production of knowledge through embodied and reflective bodily experiences. The findings reveal that the choreography develops through repetitive, fragmented, and situational bodily experiences. The dancer's body functions as an archive of experience containing memory, affect, and responses to social pressures and environmental changes. Through the metaphor of the "scarecrow," the work represents the contemporary human body situated between alienation, vulnerability, and social resistance. Thus, the body is understood as a locus of creation possessing creative, reflective, and epistemological capacities within contemporary choreographic practice. Keywords: Arts-Based Research; Embodied Knowledge; Choreography; Contemporary Dance; Phenomenology.
TUBUH SEBAGAI LOKUS PENGETAHUAN: STUDI KASUS PENERAPAN A/R/TOGRAFI DALAM PENELITIAN TARI GATOTKACA Een Herdiani; Muhammad Mughni Munggaran
Jurnal Seni Makalangan Vol. 13 No. 1 (2026): "Penciptaan Tari dan Produksi Pengetahuan Berbasis Riset"
Publisher : Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian tari di perguruan tinggi seni di Indonesia sering kali berhadapan dengan tegangan mendasar: metodologi penelitian konvensional belum mampu menangkap dimensi-dimensi pengetahuan tari yang bersifat korporeal, relasional, dan transmisif. Pengetahuan yang hidup dalam tubuh penari, yang terbentuk melalui proses latihan berulang, hubungan guru-murid, dan penghayatan karakter, kerap luput dari tangkapan instrumen penelitian yang bersifat tekstual dan representasional. Artikel ini menawarkan a/r/tografi sebagai alternatif metodologis yang relevan dan produktif bagi peneliti tari, khususnya mahasiswa pascasarjana program seni pertunjukan. A/r/tografi adalah metodologi penelitian berbasis praktik yang mengintegrasikan tiga identitas yang hadir secara bersamaan, seniman (artist), peneliti (researcher), dan pengajar (teacher), dan mengakui tubuh penari itu sendiri sebagai lokus utama produksi pengetahuan. Berpijak pada karya seminal Springgay, Irwin, Leggo, dan Gouzouasis serta diilustrasikan melalui pengalaman penulis sebagai penari Gatotkaca, artikel ini menjelaskan enam penafsiran inkuiri a/r/tografis, kedekatan, penelitian hidup, metafora/metonimi, permulaan, gema, dan kelebihan, dalam konteks spesifik praktik dan penelitian tari. Artikel ini menunjukkan bahwa proses penghayatan karakter tari, transmisi kosakata gerak, dan refleksi atas pengetahuan yang tersimpan dalam tubuh merupakan bentuk inkuiri ilmiah yang sahih dan ketat. Diargumentasikan bahwa a/r/tografi menempatkan penelitian tari pada martabat yang semestinya, yakni sebagai bentuk pengetahuan yang tidak dapat direduksi ke dalam kerangka metodologi konvensional. Kata Kunci: A/r/tografi; Penelitian Tari; Pengetahuan Korporeal; Penelitian Berbasis Praktik; Tari Gatotkaca. ABSTRACT Dance research in Indonesian arts higher education frequently confronts a fundamental tension: conventional research methodologies have yet to capture the corporeal, relational, and transmissive dimensions of dance knowledge. Knowledge that lives within the dancer's body, shaped through repeated practice, the student-teacher relationship, and the embodiment of character, consistently eludes research instruments that are predominantly textual and representational in nature. This article proposes a/r/tography as a methodologically relevant and productive alternative for dance researchers, particularly postgraduate students in performing arts programs. A/r/tography is a practice-based research methodology that integrates three simultaneously inhabited identities, artist, researcher, and teacher, and recognizes the dancer's body itself as the primary locus of knowledge production. Drawing on the seminal work of Springgay, Irwin, Leggo, and Gouzouasis and illustrated through the author's experience as a Gatotkaca dancer, this article elaborates six renderings of a/r/tographic inquiry, contiguity, living inquiry, metaphor/metonymy, openings, reverberations, and excess, within the specific context of dance practice and research. The article demonstrates that the processes of inhabiting a dance character, transmitting movement vocabulary, and reflecting upon embodied knowledge constitute forms of scientific inquiry that are both legitimate and rigorous. It is argued that a/r/tography situates dance research in its rightful standing, as a form of knowledge that cannot be reduced to the frameworks of conventional research methodology. Keywords: A/R/Tography; Dance Research; Embodied Knowledge; Practice-Based Research; Gatotkaca Dance.
TARI KUKUPU GUBAHAN IRAWATI DURBAN DI PUSAT BINA TARI KOTA BANDUNG Siti Faridah Azizah; Ai Mulyani; Farah Nurul Azizah
Jurnal Seni Makalangan Vol. 13 No. 1 (2026): "Penciptaan Tari dan Produksi Pengetahuan Berbasis Riset"
Publisher : Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tari Kukupu diciptakan oleh Rd. Tjetje Somantri tahun 1952 menggambarkan siklus kehidupan kukupu sejak keluar kepompong, menjemur sayap hingga saling berkejaran, digambarkan dengan gerakan yang indah. Terinspirasi dari kehidupan binatang, bermula dari pemikiran Tb. Oemay Martakusuma ini bertujuan ‘membaletkan’ tari Sunda. Namun pada tahun 1978 Irawati melakukan gubahan pada beberapa koreografi dan kostum tarian tersebut, hingga saat ini tarian tersebut masih terpelihara dan diajarkan di sanggar Pusbitari. Pada penelitian ini mengkaji struktrur Tari Kukupu menggunakan landasan konsep pemikiran Y. Sumandiyo Hadi mengenai struktur tari yang meliputi: gerak tari, ruang tari, iringan tari, judul tari, tema tari, tipe/jenis/sifat tari, mode penyajian, jumlah penari dan jenis kelamin, rias dan kostum tari, tata cahaya, dan properti tari. Menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif analisis, terdapat langkah-langkah pengumpulan data meliputi: observasi, wawancara, dokumentasi, triangulasi, dan analisis data. Hasil penelitian terhadap struktur Tari Kukupu yang saling berkorelasi dengan aspek di dalamnya terdiri dari tigabelas ragam gerak bersumber dari gerak binatang, dapat ditampilkan di panggung manapun sesuai kebutuhan pertunjukan, menggunakan lagu Jemplang dua wilet, berjudul Tari Kukupu, tarian yang bersifat non- literal yang berjenis tipe murni adanya penyajian simbolis-representasional. Ditarikan secara berpasangan atau genap oleh penari perempuan, menggunakan rias korektif serta kostum identik dengan kupu-kupu, berupa properti selendang dan sayap, didukung pula pencahayaan yang hangat. Kata Kunci: Struktur, Tari Kukupu, Pusbitari, Gubahan, Irawati. ABSTRACT Created by Rd. Tjetje Somantri in 1952, the Kukupu dance depicts the butterfly's life cycle from emerging from the chrysalis and drying its wings to chasing one another through beautiful movements. Inspired by animal life and originating from the vision of Tb. Oemay Martakusuma, the dance aimed to infuse Sundanese dance with balletic qualities. In 1978, Irawati revised aspects of the choreography and costumes, the dance remains preserved and is currently taught at the Pusbitari studio. This study examines the structure of the Kukupu Dance based on Y. Sumandiyo Hadi’s conceptual framework regarding dance structure, which encompasses: dance movement, space, musical accompaniment, title, theme, type/genre/nature, mode of presentation, number and gender of dancers, makeup and costumes, lighting, and props. Employing a qualitative research method with a descriptive-analytical approach, the study utilizes data collection steps including observation, interviews, documentation, triangulation, and data analysis. The findings regarding the Butterfly Dance structure and its interrelated internal aspects reveal a dance comprising thirteen movement variations derived from animal behavior. It is adaptable to various stages depending on performance needs, set to the jemplang song two wilet tempo, and titled Kukupu dance. It is a non-literal, pure dance featuring symbolic-representational elements. Performed in pairs or even-numbered groups by female dancers, the performance features corrective makeup and butterfly-themed costumes including shawl and wing props complemented by warm lighting. Keywords: Structure, Kukupu Dance, Pusbitari, Composition, Irawati.
FUNGSI DAN MAKNA DAUN GIRANG DALAM TARI BALI Ni Nyoman Ayu Kunti Aryani; Ni Putu Ratna Dewi Gayatri
Jurnal Seni Makalangan Vol. 13 No. 1 (2026): "Penciptaan Tari dan Produksi Pengetahuan Berbasis Riset"
Publisher : Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Daun girang (Leea indica) merupakan tumbuhan yang hingga kini masih digunakan dalam seni pertunjukan Bali, khususnya tari Bali. Daun ini umumnya ditempatkan pada bagian telinga, rambut, dan gelungan (hiasan kepala) penari sebagai bagian dari busana tari. Meskipun telah menjadi bagian dari tradisi kepenarian Bali, kajian mengenai fungsi dan maknanya masih relatif terbatas. Melalui pendekatan kualitatif dan kajian pustaka, artikel ini mengkaji fungsi dan makna daun girang dalam tari Bali. Data utama diperoleh melalui wawancara mendalan dengan informan, yang merupakan seorang budayawan, seniman, dan akademisi Bali, yakni I Gede Anom Ranuara, S.Pd., S.Sn., M.Si, M.Ag. Hasil penelitian menunjukkan bahwa daun girang memiliki fungsi estetis sebagai pelengkap tata busana serta fungsi identitas budaya. Daun girang juga mengandung makna simbolik yang berkaitan dengan kata girang yang dalam Bahasa Bali berarti senang atau gembira, yang melambangkan harapan akan semangat, keceriaan, dan rasa percaya diri penari, sehingga dapat tampil secara optimal. Keberlanjutan penggunaannya menunjukkan adanya proses transmisi budaya yang diwariskan secara turun-temurun dalam masyarakat Bali. ABSTRACT Leea indica (locally known as daun girang) is a plant commonly used in Balinese permorming arts, particularly in Balinese dance. It is typically placed on the ears, hair, and headdress (gelungan) as a part of the dancers costume. Although it has long been an integral part of the Balinese dance tradition, research on its functions and meanings is relatively limited. Through a qualitative approach and literature studies, this article axplores the functions and meanings of daun girang in Balinese dance. Data were collected through interviews, document reviews, and documentation. The primary data were obtained from an in-depth interview with Balinese cultural figure, artist, and academic I Gede Anom Ranuara, S.Pd., S.Sn., M.Si., M.Ag. The result of this study shows that daun girang serves both aesthetic and cultural functions as a costume element and a marker of Balinese dance tradition. Associated with the word girang (happy or cheerful), it symbolizes joy, enthusiasm, and self-confidence. Its continued use reflects the ongoing transmission of cultural values across generations.

Filter by Year

2014 2026


Filter By Issues
All Issue Vol. 13 No. 1 (2026): "Penciptaan Tari dan Produksi Pengetahuan Berbasis Riset" Vol. 12 No. 2 (2025): "Ruang Kreatif Mencipta Tari" Vol. 12 No. 1 (2025): "Merawat Warisan" Nilai Tradisi dan Kontemporer Vol. 11 No. 2 (2024): "Fenomenologi Tari Berbasis Tradisi dan Kontemporer" Vol 11, No 1 (2024): "Menggali Akar, Mencipta Ragam Rupa Kinestetika" Vol. 11 No. 1 (2024): "Menggali Akar, Mencipta Ragam Rupa Kinestetika" Vol. 10 No. 2 (2023): "Tari Dalam Genggaman Tradisi" Vol 10, No 2 (2023): "Tari Dalam Genggaman Tradisi" Vol 10, No 1 (2023): "Menguak Seni Tradisi Di Era Globalisasi" Vol. 10 No. 1 (2023): "Menguak Seni Tradisi Di Era Globalisasi" Vol 9, No 2 (2022): "Dimensi Kreativitas Ketubuhan Penari Sunda" Vol 9, No 1 (2022): "Menggali Inspirasi Dari Tradisi" Vol 8, No 2 (2021): "Tari Di Ruang Virtual" Vol 8, No 1 (2021): "GERAK TUBUH TARI MENGALIR MENCIPTA ASA DAN CITA" Vol 7, No 2 (2020): “Gemulai Gerak Ketubuh Tradisi Mencipta Enerji Dinamis Tari Kreasi” Vol 7, No 1 (2020): "GELIAT TARI DI BUMI TRADISI" Vol 6, No 2 (2019): "Menjaga Asa Merajut Cita" Vol 6, No 1 (2019): "Menari dengan Hati-Menandak dengan Rasa" Vol 5, No 2 (2018): "Mengupas Kreativitas, Menumbuhkan Sensitivitas" Vol 5, No 1 (2018): "Jari Jemari Membuai Emosi" Vol 4, No 1 (2017): "Spirit Tubuh Tanpa Batas" Vol 3, No 2 (2016): "Menelisik Tradisi Mengais Kreasi" Vol 3, No 1 (2016): "Membumikan Tradisi Menumbuhkan Kreasi" Vol 2, No 2 (2015): "Wayang Bayang-bayang Kehidupan" Vol 1, No 2 (2014): "Membumikan Tradisi Meraih Inspirasi" Vol 1, No 1 (2014): "Menggali Potensi Berbagai Tradisi Kreatif" More Issue