cover
Contact Name
Muh. Subair
Contact Email
ingatbair@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
abumuslim@kemenag.go.id
Editorial Address
-
Location
Kota makassar,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Pusaka : Jurnal Khazanah Keagamaan
ISSN : 23375957     EISSN : 26552833     DOI : -
Core Subject : Religion, Social,
Pusaka Jurnal Khazanah Keagamaan memiliki Periode penerbitan 2 kali dalam setahun yakni pada bulan Juni dan Desember.
Arjuna Subject : -
Articles 240 Documents
Pattula’ Bala as a Discursive Tradition: The Reception of the Qur’an in the Muslim Bugis Community Amir, Abdul Muiz
PUSAKA Vol 10 No 1 (2022): Pusaka Jurnal Khazanah Keagamaan
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31969/pusaka.v10i1.661

Abstract

This article examines the Pattula' Bala (PB) practice by the Bugis Muslim community in Indonesia, especially in Kendari City. PB is the practice of displaying the verses of the Qur’an, which its users in certain places install intending to prevent them from calamity. This article aims to reveal the genealogy of the PB tradition as part of the discursive Islamic tradition. This study uses a descriptive-analytic design from interview data, documentation, and literature exploration. The data were analyzed using the genealogical theory developed by Talal Asad and the exegetical reception approach developed by Ahmad Rafiq, especially in Qur’anic studies discourse. Research findings show that the Bugis Muslim community practices PB as a repellent to disasters and as a motivation to be more active in worship (tabarruk). Historically, information about similar practices is also found in Hadith and Faḍā’il ‘Amal literature. However, they have undergone a process of transmission and transformation from time to time until the entry of Islam into Sulawesi. This process cannot be separated from the role of religious figures who introduced Islam in Sulawesi through a Sufistic or mystic approach. Nevertheless, these findings still require philological studies, so the claims of this study are more convincing historically. The implication of this research is to synthesize the claim of “Islam as a discursive tradition,” which is claimed by Talal Asad. Keywords: Discursive Tradition, Pattula’ Bala’, the Muslim Bugis Community, Qur’anic Reception. Artikel ini mengkaji tentang praktik Pattula’ Bala (PB) oleh komunitas Muslim Bugis di Kota Kendari. PB merupakan praktik pajangan ayat-ayat Al-Qur’an yang dipasang oleh penggunanya di tempat-tempat tertentu dengan tujuan agar mereka terhindar dari musibah. Artikel ini bertujuan untuk mengungkap genealogi tradisi PB sebagai bagian dari tradisi Islam yang bersifat diskursif. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif analitik dari data wawancara, dokumentasi, dan eksplorasi literatur. Teknik wawancara dan dokumentasi digunakan untuk memeroleh data terkait bentuk praktik PB oleh komunitas Muslim Bugis. Data dianalisis menggunakan teori genealogi yang dikembangkan oleh Talal Asad yang dikombinasikan dengan pendekatan exegetical reception yang dikembangkan oleh Ahmad Rafiq, khususnya dalam wacana studi Al-Qur’an. Temuan penelitian menunjukkan bahwa komunitas Muslim Bugis mempraktikkan PB tidak hanya Pattula’ Bala as a Discursive Tradition: The Reception of the Qur’an.... – Abdul Muiz Amir 2 sebagai penolak bencana, melainkan juga sebagai motivasi untuk lebih giat dalam beribadah (tabarruk). Secara historis, informasi tentang praktik yang serupa juga ditemukan dalam literatur Hadis dan Faḍā’il ‘Amal, meskipun telah mengalami proses transmisi dan transformasi dari masa ke masa hingga masuknya Islam di Sulawesi. Proses tersebut tidak terlepas dari peran tokoh agamawan yang memperkenalkan Islam di Sulawesi melalui pendekatan sufistik atau mistisisme. Meskipun demikian, temuan ini masih membutuhkan studi filologi, sehingga klaim penelitian ini lebih meyakinkan secara historis. Implikasi penelitian ini berperan sebagai sintesis terhadap klaim “Islam as a discursive tradition” oleh Talal Asad.
Islamic Centre Mu’adz Bin Jabal (ICM) sebagai Preferensi Keagamaan Masyarakat Urban Zainal, Asliah; Samsulhadi, Muhammad
PUSAKA Vol 10 No 1 (2022): Pusaka Jurnal Khazanah Keagamaan
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31969/pusaka.v10i1.662

Abstract

Institusi pendidikan keagamaan modern berkontribusi besar dalam meningkatkan religiusitas bagi masyarakat, terutama pada masyarakat perkotaan. Tulisan ini mengkaji Islamic Centre Mu’adz bin Jabal (ICM) sebagai preferensi masyarakat kota Kendari sebagai lokus pendidikan religiusitas dan kesalehan. Penelitian ini menggunakan pendekatan sosiologi agama dengan pengumpulan data menggunakan teknik wawancara dan observasi. Hasil pengkajian yang dilakukan menemukan bahwa terdapat enam alasan bagi masyarakat kota Kendari untuk menjadikan ICM sebagai preferensi keagamaan; pertama, infrastruktur yang memadai; kedua, kurikulum pendidikan yang solid; ketiga, program dakwah berbasis kaderisasi imam dan tahfidz; keempat, layanan sosial keagamaan yag komplit; kelima, pemanfaatan media informasi dan dakwah kontemporer; dan keenam, performa Arab sebagai referensi Islam. Daya tarik ICM meluas dan menyasar hampir semua segmen dan kebutuhan ibadah masyarakat muslim di wilayah perkotaan. Kajian ini menunjukan kecenderungan masyarakat memilih lembaga disebabkan oleh kekuatan daya tarik internal dan dilegitimasi dengan branding Arab sebagai Islam otentik. Performance ICM yang merepresentasikan Arab menjadi daya tarik bagi masyarakat urban di Kota Kendari. Kekuatan daya tarik ini akhirnya membentuk jama’ah muslim, terutama segmen masyarakat menengah ke atas. Kata Kunci: institusi keagamaan, kesalehan masyarakat, konstruksi religiusitas, masyarakat urban, preferensi keagamaan. Modern religious education institutions contribute greatly in increasing religiosity for the community, especially in urban communities. This paper examines the Islamic Center Mu'adz bin Jabal (ICM) as the preference of the Kendari city community as the locus of religious and pious education. This study uses a Pusaka Jurnal Khazanah Keagamaan, Vol. 10, No. 1, 2022 21 sociological religious approach with data collection using interview and observation techniques. The results of the study found that there were six reasons the people of Kendari city made ICM a religious preference due to first, adequate infrastructure; second, a solid educational curriculum; third, the program based on the regeneration of imams and tahfidz; fourth, complete religious social services; fifth, the use of contemporary information and da'wah media; and sixth, the performance of Arabic as a reference for Islam. The appeal of ICM extends and targets almost all segments and worship needs of the Muslim community in urban areas. This study argues that the tendency of people to choose institutions is caused by the strength of internal attraction and is legitimized by the Arab branding as authentic Islam. ICM's performance, which represents Arabs, has become an attraction for urban communities in Kendari City. The strength of this attraction eventually formed the Muslim community, especially the upper middleclass segment of society.
Kearifan Ekologi di Pondok Pesantren Trubus Iman (PPTI) Amirullah, Amirullah; Inayah, Sitti Syahar
PUSAKA Vol 10 No 1 (2022): Pusaka Jurnal Khazanah Keagamaan
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31969/pusaka.v10i1.663

Abstract

Film dokumenter berjudul Sexy Killers menyajikan beragam fakta kerusakan lingkungan yang berdampak pada rusaknya infrastruktur yang terjadi di Kalimantan Timur. Masifnya kerusakan lingkungan tersebut tampak pada lahan dan hasil perkebunan masyarakat yang rusak, serta menyisakan lubang-lubang tambang yang menganga hingga saat ini, dan telah banyak menelan korban jiwa. Penelitian ini membahas tentang kearifan lokal yang terbangun dalam lingkungan pondok pesantren Trubus Iman di Kabupaten Paser. Penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif dengan pengumpulan data melalui wawancara, dokumentasi, dan observasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kearifan ekologi pondok pesantren Trubus Iman Kabupaten Paser yang berperan penting dalam mewujudkan sikap peduli dan arif terhadap lingkungan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kearifan ekologi pondok pesantren Trubus Iman merupakan pengejawantahan dari motto pondok pesantren yaitu green, clean, and healthy. Motto tersebut selanjutnya diimplementasikan dalam beberapa aspek yang meliputi: pertama, kebijakan kedisiplinan ramah lingkungan; kedua, tersusunnya mata pelajaran yang berbasis lingkungan dengan ekstrakurikuler berbasis tadabbur alam; ketiga, lahirnya budaya hidup ramah lingkungan melalui penanaman kesadaran lingkungan; dan keempat, penyediaan dan pengembangan sarana dan prasarana ramah lingkungan. Implikasi utama yang terurai dari konsep kearifan lingkungan yang ditumbuhkembangkan pada pondok pesantren Trubus Iman yakni dapat menjadi role model konsep eco pesantren di Indonesia, khususnya di Kalimantan Timur. Kata Kunci: Kearifan Ekologi, Pondok Pesantren, kerusakan lingkungan, kelestarian lingkungan The documentary film entitled Sexy Killers presents various facts about environmental damage that have an impact on infrastructure damage that occurred in East Kalimantan. The massive environmental damage can be seen in the damaged community land and plantation products and leaves gaping mining pits Kearifan Ekologi di Pondok Pesantren .... –Amirullah & Sitti Syahar Inayah 40 to this day and have claimed many lives. This study discusses local wisdom that is built within the Trubus Iman Islamic boarding school in Paser Regency. This research is descriptive qualitative with data collection through interviews, documentation, and observation. This study aims to determine the ecological wisdom of the Trubus Iman Islamic boarding school, Paser Regency, which plays an important role in realizing the caring and wise attitude of Islamic boarding schools towards the environment. The results show that the ecological wisdom of the Trubus Iman Islamic boarding school is the embodiment of the boarding school's motto, namely green, clean, and healthy. The motto is then implemented in several aspects which include: first, environmentally friendly disciplinary policies; second, the arrangement of environmental-based subjects with extracurriculars based on natural tadabbur; third, the birth of an environmentally friendly living culture through the cultivation of environmental awareness; and fourth, the provision and development of environmentally friendly facilities and infrastructure. The main impression contained in the concept of environmental wisdom that was developed in the Trubus Iman Islamic boarding school is that it can become a role model for the eco pesantren concept in Indonesia, especially in East Kalimantan.
Dari Angpau ke Sedekah: Adaptasi Kultural dan Identitas Tionghoa Muslim Parepare Hamid, Wardiah; Mustafa, Muhammad Sadli; Alboneh, Nasrun karami
PUSAKA Vol 10 No 1 (2022): Pusaka Jurnal Khazanah Keagamaan
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31969/pusaka.v10i1.664

Abstract

Adaptasi Kultural dan Identitas Tionghoa Muslim di Kota Parepare Sulawesi Selatan dapat dilihat dengan pola kehidupan keseharian mereka di masyarakat. Dan dapat pula disorot dari berbagai sisi kehidupan beragama mereka. Artikel ini bertujuan mengkaji bagaimana adaptasi kultural yang dibangun oleh ttnis Tionghoa Muslim dalam kesehariannya, diantaranya dari angpau ke sedekah dan bagaimana etnis Tionghoa Muslim melakukan pengembangan keagamaan. Dengan menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif diperoleh temuan pertama, bahwa pola negosiasi adaptasi kutural ini tanpa disadari sangat memberi andil dalam pembauran antara etnis Tionghoa dengan masyarakat lainnya. Demikian pun para Tionghoa Muslim (kaum Muallaf) yang telah masuk Islam. Yang kedua adaptasi Etnis Tionghoa Muslim eksistensinya dalam hal pengembangan keagamaan, dapat terlihat salah satunya yaitu dengan di bangunnya sebuah Masjid berciri khas Tionghoa yang beralamat di Jalan Satelit Parepare. Faktor agama yang menjadi pilihan mereka secara individu, di mana ketika menjadi seorang mualaf atau beralih memeluk agama Islam, unsur-unsur kultur mereka tetap melekat. Berbagai kultur Tionghoa yang menjadi ciri khas leluhur mereka tetap dimainkan ketika beragama Islam, di mana pada adaptasi kultural dan identitas tersebut terdapat negoisasi yang dimainkan secara alamiah antara kultur leluhurnya dengan kultur baru sebagai seorang muslim.
Strategi dan Tantangan Pustakawan dalam Meningkatkan Pelayanan di Perpustakaan Masjid Nasrullah, Nasrullah
PUSAKA Vol 10 No 1 (2022): Pusaka Jurnal Khazanah Keagamaan
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31969/pusaka.v10i1.665

Abstract

Perpustakaan sebagai penyedia pelayanan informasi tentu diharapkan mampu memberikan pelayanan yang terbaik kepada pengunjung perpustakaan. Hal tersebut disebabkan karena pelayanan menjadi hal yang penting dalam mengelola perpustakaan agar kebutuhan informasi pengunjung dapat terpenuhi dengan baik serta merasa puas dengan pelayanan yang diberikan. Sebagai pengelola perpustakaan, pustakawan tentu memiliki berbagai strategi untuk meningkatkan pelayanan. Selain itu, pustakawan juga akan menemui beberapa tantangan dalam meningkatkan pelayanan di perpustakaan. Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui strategi serta tantangan yang dihadapi pustakawan dalam meningkatkan pelayanan di perpustakaan masjid. Penelitian ini dilaksanakan di perpustakaan masjid Al Markaz Al Islami Makassar pada bulan Februari 2022. Penelitian ini menggunakan penelitian deskriptif dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Metode pengumpulan data menggunakan metode wawancara, dokumentasi dan observasi. Penelitian ini mengolah dan menganalisis data yang diperoleh dengan langkah-langkah reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi yang dilakukan pustakawan dalam meningkatkan pelayanan di perpustakaan masjid Al Markaz Al Islami Makassar yakni membenahi sarana dan prasarana perpustakaan, mengembangkan dan meningkatkan jumlah bahan pustaka, menyediakan akses Online Public Access Catalogue (OPAC) sebagai sarana temu balik informasi menyediakan internet khusus pengunjung dan anggota perpustakaan. Sedangkan tantangan yang dihadapi pustakawan masjid Al Markaz Al Islami Makassar dalam meningkatkan pelayanan yakni jumlah tenaga pustakawan yang masih kurang, kurangnya anggaran dan server yang sering terganggu.
Strategi Supervisor dalam Memberikan Supervisi Akademik Syahruddin, Syahruddin; Usman, Syahruddin; Sulaiman, Umar; Hafid, Erwin; Baharuddin, Baharuddin
PUSAKA Vol 10 No 1 (2022): Pusaka Jurnal Khazanah Keagamaan
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31969/pusaka.v10i1.666

Abstract

Supervisor memiliki tugas memberikan supervisi akademik terhadap tenaga pendidik.Hal tersebut diperlukan karena masih terdapat beberapa tenaga pendidik yang tidak mengetahui tugas pokoknya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses supervisi akademik serta faktor pendukung, penghambat dan solusi pengawas. Jenis penelitian ini kualitatif dengan pendekatan penelitian yaitu pendekatan metodologi, studi keilmuan, serta fenomenologis. Adapun sumber data penelitian diperoleh langsung dari pengawas kabupaten Bone, para guru UPT SMPN 1 Amali Kabupaten Bone dan informan yang dianggap ada kaitan dengan tulisan ini. Selanjutnya metode pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara, dan dokumentasi serta penelusuran berbagai literatur atau referensi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa; pelaksanaan supervisi akademik yang dilakukan oleh pengawas kabupaten di UPT SMPN 1 Amali Kabupaten Bone terdiri dari 5 tahapan yaitu: Pra supervisi akademik,Perencanaan, Pelaksanaan supervisi akademik, Evaluasi dan Rencana tindak lanjut supervisi; Faktor pendukung diantaranya, adanya perencanaan, sarana dan prasarana, hubungan dan komunikasi yang baik, hubungan pengawas kepala sekolah tenaga pendidik dan tenaga kependidikan yang baik, pengetahuan dan pendidikan serta pengertian guru yang baik. Faktor penghambat diantaranya, perangkat pembelajaran yang belum siap, tenaga pendidik takut disupervisi, jarak sekolah yang jauh, kurangnya komunikasi timbal balik, kurangnya tenaga pengawas di kabupaten Bone. Penghambat pelaksanaan supervisi yaitu: Membantu menyelesaikan perangkat pembelajaran, memberikan sugesti kepada tenaga pendidik yang takut di supervisi, sebaiknya sekolah yang berdekatan langsung sekaligus disupervisi, meminta kejujuran tenaga pendidik, melakukan perekrutan pengawas.
Tata Krama Makan Pada Masyarakat Bugis Mastanning, Mastanning
PUSAKA Vol 10 No 1 (2022): Pusaka Jurnal Khazanah Keagamaan
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31969/pusaka.v10i1.667

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk menganalisis dan mendeskripsikan eksistensi tata krama makan pada masyarakat Bugis di Desa Leppangeng, Kecamatan Ajangale Kabupaten Bone. Jenis penelitian ini adalah kualitatif dengan menggunakan data lapangan sebagai sumber primer dan data Pustaka sebagai sumber sekunder untuk menguatkan temuan data. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah antropologi budaya. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi dan wawancara di lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tata krama makan masyarakat Bugis di Leppangeng masih dipertahankan secara turun temurun, meskipun ada perubahan-perubahan nilai akibat pengaruh modernisasi. Waktu makan dan minum adalah pagi, siang, dan malam. Ada pun tempatnya di ruang dapur rumah dan terkadang di teras rumah yang digunakan sebagai tempat sarapan. Pakaian dikenakan pada saat makan menggunakan pakaian rapi dan sopan. Laki-laki dewasa juga menggunakan peci. Tata cara makan biasanya mendahulukan kelompok laki-laki dewasa atau tamu, lalu kelompok perempuan. Masyarakat Bugis pedesaan umumnya menggunakan kappar (baki) dalam menyuguhkan menu makanan dan duduk melingkarinya. Isi kappar terdiri nasi, lauk pauk dan sayur yang di tata dalam bakul untuk nasi dan mangkuk atau piring untuk sayur dan laukpauk. Sikap pada waktu makan dan minum harus menggunakan tangan kanan. Pada saat makan, tidak diperbolehkan banyak berbicara terutama berbicara buruk, dilarang makan dan minum dengan berjalan atau berdiri, karena dianggap tidak beretika. Adapun, yang berteriak memanggil pada saat makan, maka tidak diperbolehkan menjawab, karena dianggap ganjen. Larangan tersebut, karena dikhawatirkan berdampak buruk pada sistem pencernaan.
Dimensi Budaya Penerimaan Orang Tua Terhadap Anak Berkebutuhan Khusus (Abk) Gumilang, Randi Muhammad; Irnawati, Irnawati
PUSAKA Vol 10 No 1 (2022): Pusaka Jurnal Khazanah Keagamaan
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31969/pusaka.v10i1.668

Abstract

Pada setiap orang dewasa yang menjadi orangtua menginginkan agar anaknya terlahir dalam keadaan sehat, baik secara jasmani maupun rohani. Namun beberapa orang tua harus mendapati bahwa anaknya lahir dan tumbuh dengan kondisi tunarungu. Anak berkebutuhan khusus (ABK) dengan gangguan tunarungu adalah individu yang mengalami masalah pada fungsi pendengarannya. Penerimaan orangtua terhadap Anak berkebutuhan khusus (ABK) merupakan fakta sosial yang berlaku di masyarakat dengan berbagai dimensi penerimaan, salah satunya adalah penerimaan dalam dimensi budaya. Artikel ini mengungkap bagaimana penerimaan dari orangtua terhadap anak berkebutuhan khusus dalam dimensi Budaya di Kota Samarinda. Artikel ini adalah hasil penelitian kualitatif deskriptif dengan pendekatan life history method. Informan penelitian ditentukan secara purposive untuk mendapatkan hasil dari subjek dengan kriteria yang telah ditentukan, yakni orang tua dengan Anak Berkebutuhan Khusus (Tunarungu). Kajian ini secara komprehensif menganalisis pernyataan subjek untuk menggali dimensi budaya yang menjadi argumentasi atas penerimaan orangtua dengan anak berkebutuhan khusus (Tunarungu). Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat subjek menunjukkan respon yang positif pada penerimaan terhadap anak berkebutuhan khusus dengan komposisi indikator penerimaan yang berbeda. Sebagian besar subjek memenuhi semua indikator penerimaan yang terdiri dari empat indikator, yakni: pertama, pemahaman terhadap kelebihan dan kekurangan anak; kedua, pandangan orang tua terhadap anak; ketiga, usaha membantu perkembangan anak; dan keempat, pemenuhan kebutuhan fisik dan psikis anak. Secara garis besar orangtua menerima keadaan, namun tidak memenuhi indikator penerimaan dalam aspek pemahaman terhadap kelebihan dan kekurangan anak karena tidak memiliki preferensi tentang kelebihan yang dimiliki oleh anaknya. Melalui kajian ini diharapkan ada langkah-langkah progresif dalam mengkampanyekan pemahaman, wawasan dan pengetahuan akan penerimaan terhadap anak berkebutuhan khusus dalam dimensi budaya.
Selimpat: Antara Tradisi Lokal dan Normatifitas Islam dalam Masyarakat Kutai Ayu, Santri; Materan, Materan; Ahyar, Muzayyin
PUSAKA Vol 10 No 1 (2022): Pusaka Jurnal Khazanah Keagamaan
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31969/pusaka.v10i1.669

Abstract

Selimpat adalah praktik kebudayaan yang terjadi di desa Ngayau yang dilakukan dalam kondisi tertentu. Tradisi selimpat memiliki daya tarik untuk dikaji oleh karena merepresentasikan masyarakat Muslim Kutai hingga dewasa ini. Selimpat diyakini oleh setiap keluarga yang masih menjalankan tradisi ini sebagai sumber hukum yang harus dilaksanakan dalam kondisi tertentu. Penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana korelasi antara tradisi selimpat dengan normatifitas Islam pada masyarakat Kutai. Penelitiain ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan campuran antara empiris dan normatif. Pada tahap analisis digunakan teori persinggungan antara agama-budaya dengan mengkaji selimpat dan ‘urf dalam pandangan hukum Islam. Hasil penelitian menemukan bahwa tradisi selimpat merupakan adat istiadat yang bertahan pada masyarakat Ngayau. Tradisi selimpat termasuk dalam kategori ‘urf. Meskipun tradisi ini dianggap bersinggungan dengan akidah, bukan berarti pelakunya dikenakan status hukum musyrik ataupun kafir dikarenakan masyarakat desa Ngayau tidak sepenuhnya mempercayai bahwa tradisi selimpat adalah satu-satunya upaya yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan tertentu seperti kehamilan, pernikahan, penyembuhan, kelahiran dan lainnya.
Transformasi Filantropi Digital Berbasis Aplikasi Fintech E-Money dalam Perspektif Islam Syujai, Muhammad
PUSAKA Vol 10 No 1 (2022): Pusaka Jurnal Khazanah Keagamaan
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31969/pusaka.v10i1.670

Abstract

Penggunaan e-money di media digital saat ini, menjadi hal yang memudahkan bagi masyarakat dalam melakukan berbagai jenis transaksi, terutama permasalahan sosial ekonomi dan kesehatan yang cukup signifikan terjadi di masa pandemi. Kehadiran filantropi digital dalam mengatasi kesenjangan sosial ekonomi dan kesehatan di masa pandemi, sangat membantu dalam menghadapi berbagai dampak yang terjadi. Namun, yang menjadi permasalahan dengan keberadaan filantropi digital yaitu bagaimana perspektif Islam memandang model filantropi digital melalui platform aplikasi fintech e-money, dengan harapan bahwa aplikasi tersebut merupakan konsep positif yang memudahkan masyarakat dalam bertransaksi. Jenis penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif, yang akan menjawab pertanyaan secara komprehensif dan mendetail. Selanjutnya, berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh bahwa, urgensi transformasi digital semakin diidentifikasi di semua sektor, dengan lembaga pengelola dana filantropi Islam, seiring dengan terwujudnya tata kelola yang baik untuk menginspirasi optimisme filantropi dalam menyejahterakan orang lain. Penggunaan filantropi digital seperti e-money menjadi metode alat bayar yang memudahkan penggunanya melakukan berbagai jenis transaksi. Dan saat ini, penggunaan e-money pada platform filantropi digital dalam pandangan Islam, masih dianggap mubah, sepanjang tidak menyimpang dari norma-norma kaidah Syariat Islam, seperti misalnya penerbit e-money sebaiknya dikelola oleh bank yang memiliki manajemen Syariah. Selain itu, hasil penelusuran dari beberapa tinjauan kepustakaan, peneliti menyusun gambaran skema tentang transformasi filantropi dari waktu ke waktu. Dimulai dari filantropi modern, yang terus berkembang menjadi filantropi sosial, lalu filantropi berkelanjutan, hingga akhirnya, filantropi yang mulai digunakan saat ini yaitu filantropi digital yang merambah penggunaannya ke platform e-money. Kata kunci: E-money, Filantropi Digital, Transformasi Filantropi