cover
Contact Name
Syifania Hanifah Samara
Contact Email
jafh@fpk.unair.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jafh@fpk.unair.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Journal of Aquaculture and Fish Health
Published by Universitas Airlangga
ISSN : 23017309     EISSN : 25280864     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
The Journal of Aquaculture And Fish Health (JAFH) has an objective to publish and provide high-quality scientific contributions to the field of fisheries. These contributions came from innovative researches that encourage science and technology development in the field of fisheries and marine science on a national and international scale. This journal serves as a communication medium for researchers, academics, students, and communities.
Arjuna Subject : -
Articles 331 Documents
ISOLASI, IDENTIFIKASI DAN PRESENTASI IKAN LELE DUMBO (Clarias gariepinus) YANG TERINFEKSI BAKTERI Aeromonas hydrophila YANG DIPELIHARA DI KERAMBA JARING APUNG DI BOZEM MORO KREMBANGAN, SURABAYA Yudha Teguh Prayogi; Rahayu Kusdarwati; Kismiyati Kismiyati
Journal of Aquaculture and Fish Health Vol. 5 No. 2 (2016): JAFH Vol. 5 No. 2 Juni 2016
Publisher : Department of Aquaculture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (127.842 KB) | DOI: 10.20473/jafh.v5i2.11324

Abstract

Ikan lele dumbo (Clarias gariepinus) merupakan ikan perairan tawar yang banyak dibudidayakan di Indonesia. Meningkatnya permintaan pasar domestik serta peluang ekspor ke beberapa negara, berdampak pula pada semakin meningkatkan minat pengusaha dan pengembangan dari teknologi budidaya intensif pada ikan ini. Ketersediaan ikan lele dumbo masih belum mencukupi permintaan pasar, salah satu penyebabnya adalah tingginya mortalitas ikan lele dumbo yang terinfeksi bakteri Aeromonas hydrophila. Aeromonas hydrophila adalah bakteri penyebab penyakit Motile Aeromonas Septicemia (MAS) yang menyerang beberapa jenis ikan air tawar. Penyakit ini merupakan masalah serius pada usaha budidaya baik budidaya intensif maupun tradisional. Penyakit tersebut di Asia Tenggara, pertama kali terjadi di Jawa Barat pada tahun 1980 yang menyebabkan kematian sebanyak 82,2 ton ikan air tawar dalam sebulan, sementara di Jawa Tengah tahun 1984, sebanyak 1,6 ton ikan lele mati. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui identifikasi dan persentasi bakteri Aeromonas hydrophila pada ikan lele dumbo yang dibudidayakan di bozem Moro Krembangan, Surabaya, Jawa Timur. Metode Penelitian ini adalah metode survey. Parameter utama yang diamati dalam penelitian ini adalah identifikasi dan persentasi bakteri Aeromonas hydrophila pada ikan lele dumbo yang dibudidayakan di bozem Moro Krembangan, Surabaya, Jawa Timur. Sedangkan parameter penunjang dalam penelitian yang dilakukan yaitu nilai kualitas air yang meliputi pH, temperatur, ammonia dan Oksigen terlarut yang diukur selama kegiatan pengambilan sampel dilakukan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 20 sampel yang diambil dari 2 keramba, 19 ekor ikan positif terinfeksi Aeromonas hydrophila. Nilai persentasi Aeromonas hydrophila yang menginfeksi ikan lele dumbo di Moro Krembangan, Surabaya, Jawa Timur yaitu sebesar 95%. 
PENGGUNAAN BUBUK ABATE UNTUK MENURUNKAN DERAJAT INFESTASI DAN MERUSAK ORGAN PARASIT Argulus YANG MENGINFESTASI IKAN MAS (Cyprinus carpio) Mohammad Faizal Ulkhaq
Journal of Aquaculture and Fish Health Vol. 8 No. 1 (2019): JAFH Vol. 8 No. 1 Februari 2019
Publisher : Department of Aquaculture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (680.333 KB) | DOI: 10.20473/jafh.v8i1.11751

Abstract

Kematian ikan akibat serangan parasit Argulus dikarenakan ikan mengalami emasiasi sehingga dapat menurunkan sistem kekebalan tubuh ikan, selain itu munculnya luka pada kulit ikan akan dimanfaatkan sebagai port of entry bagi agen infeksi sekunder seperti jamur, bakteri dan virus. Pengendalian penyakit argulosis dengan bahan kimia yang tidak tepat dosis dapat mencemari lingkungan, sehingga perlu dicari alternatif bahan kimia yang aman terhadap lingkungan, yaitu abate. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui efektivitas perendaman abate untuk menurunkan derajat infestasi dan merusak organ parasit Argulus yang menginfestasi ikan mas (Cyprinus carpio). Perlakuan yang diberikan terdiri dari lima perlakuan dengan empat kali ulangan yaitu pemberian abate dengan konsentrasi 0 ppm (kontrol), 25 ppm, 50 ppm, 75 ppm, dan 100 ppm yang direndam selama 30 menit. Parameter yang diamati pada penelitian ini yaitu derajat infestasi Argulus yang menempel pada ikan mas, kerusakan organ Argulus dan nilai kualitas air pada awal dan akhir perendaman sebagai parameter pendukung. Data derajat infestasi Argulus pada ikan mas dianalisis secara statistik menggunakan ANOVA 5% yang dilanjutkan dengan uji DMRT 5% sedangkan kerusakan organ Argulus dianalisis secara deskriptif dan disajikan dalam bentuk gambar dan tabel serta dihubungkan dengan parameter pendukung. Hasil penelitian menujukkan bahwa perendaman abate tidak efektif untuk menurunkan derajat infestasi menginfestasi ikan mas (C. carpio), akan tetapi dapat menimbulkan kerusakan organ Argulus pada perlakuan 100 ppm. Kerusakan organ Argulus yang ditimbulkan yaitu rontoknya kaki ke-3 dan 4, abdomen yang menyatu serta produksi telur prematur. Perlu dilakukan penelitian lanjutan dengan meningkatkan dosis abate (lebih dari 100 ppm) serta waktu inkubasi yang lebih lama (lebih dari 30 menit). Selain itu perlu diamati perubahan fisiologis ikan selama dilakukan perendaman dalam abate.
TEKNIK KULTUR Tetraselmis chuii DALAM SKALA LABORATORIUM DI PT. CENTRAL PERTIWI BAHARI, REMBANG, JAWA TENGAH Febri Setyawati; Woro Hastuti Satyantini; Muhammad Arief; Kismiyati Kismiyati pujiastuti
Journal of Aquaculture and Fish Health Vol. 7 No. 2 (2018): JAFH Vol. 7 No. 2 Juni 2018
Publisher : Department of Aquaculture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (263.603 KB) | DOI: 10.20473/jafh.v7i2.11249

Abstract

Pakan merupakan kunci keberhasilan dalam budidaya perikanan, karena berpengaruh terhadap ketahanan dan perkembangan larva. Jenis pakan yang dapat diberikan pada ikan ada dua jenis, yaitu pakan alami dan pakan buatan. Salah satu jenis pakan alami yang dapat dimanfaatkan sebagai pemenuhan kebutuhan pakan budidaya yaitu fitoplankton jenis Tetraselmis chuii. Mikroalga Tetraselmis chuii merupakan salah satu mikroalga yang mudah dibudidayakan dan memiliki nilai gizi tinggi yaitu, kandungan protein 74%, lemak 4%, dan karbohidrat sebanyak 21%. Praktek Kerja Lapang ini bertujuan untuk mempelajari, memahami, serta mempraktekkan secara langsung tentang teknik kultur pakan alami Tetraselmis chuii skala laboratorium dan mengetahui kendala dalam teknik kultur pakan alami Tetraselmis chuii skala laboratorium. Pertumbuhan Tetraselmis chuii dalam kultur skala labolatorium mengalami puncak populasi pada hari keenam mencapai 3.240.000 sel/ml. Hal ini menunjukkan bahwa pertumbuhan Tetraselmis chuii sangat lama. Didapatkan inokulasi awal 550.000 sel/ml dan mengalami peningkatan hingga hari keenam. Hal ini menunjukan pertumbuhan Tetraselmis chuii mengalami fase eksponensial. Kemudian, pada hari ketujuh mengalami penurunan mencapai 209.000 sel/ml lalu pada hari kedelapan mengalami peningkatan mencapai 249.000 sel/ml diduga mengalami periode kriptik, yaitu sel-sel yang masih hidup memanfaatkan tambahan nutrisi dari sel-sel yang lisis. Pertumbuhan Tetraselmis chuii hari kesembilan sampai hari keempatbelas mengalami penurunan hingga 186.000 sel/ml
PENGARUH KOMBINASI NaOH DAN SUHU BERBEDA TERHADAP NILAI DERAJAT DEASETILASI KITOSAN DARI CANGKANG KERANG KAMPAK (Atrina pectinata) Anggun Nurani Citrowati; Woro Hastuti Satyantini; Gunanti Mahasri
Journal of Aquaculture and Fish Health Vol. 6 No. 2 (2017): JAFH Vol. 6 No. 2 Juni 2017
Publisher : Department of Aquaculture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (181.376 KB) | DOI: 10.20473/jafh.v6i2.11279

Abstract

Kerang kampak (Atrina pectinata) adalah jenis kerang komoditas perikanan Indonesia yang mengalami kenaikan permintaan tiap tahun. Kerang kampak yang dikonsumsi akan menghasilkan limbah padat berupa cangkang. Secara umum, limbah cangkang kerang memiliki kandungan kitin yang dapat dimanfaatkan lebih lanjut menjadi produk bernilai tinggi yaitu kitosan. Salah satu paramerter penentu kualitas kitosan adalah nilai derajat deasetilasi. Nilai derajat deasetilasi dipengaruhi oleh konsentrasi NaOH dan suhu yang digunakan pada proses deasetilasi. Semakin tinggi konsentrasi NaOH dan suhu yang digunakan, semakin tinggi nilai derajat deasetilasi. Akan tetapi, konsentrasi alkali dan suhu yang terlalu tinggi dapat menurunkan rendemen kitosan serta menyebabkan depolimerasi dan degradasi polimer. Kombinasi konsentrasi NaOH dan suhu proses yang tepat akan menghasilkan kitosan dengan nilai derajat deasetilasi yang tinggi dan mutu yang baik. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui pengaruh dan perlakuan terbaik dari kombinasi NaOH dan suhu berbeda terhadap nilai derajat deasetilasi kitosan yang dihasilkan dari cangkang kerang kampak. Penelitian ini menggunakan metode Rancangan Acak lengkap (RAL) faktorial yang terdiri dari dua kombinansi faktor perlakuan yaitu konsentrasi NaOH (50%, 55% dan 60%) dan suhu (100oC dan 130oC) dengan tiga kali ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi NaOH dan suhu pada proses deasetilasi tidak berpengaruh nyata terhadap nilai derajat deasetilasi kitosan. Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa deasetilasi menggunakan perlakuan kombinasi NaOH 55% dan suhu 100oC merupakan perlakuan yang cukup baik untuk menghasilkan kitosan dari cangkang kerang kampak yang menghasilkan nilai derajat deasetilasi sebesar 71,70%, rendemen sebesar 47,25%, kadar abu sebesar 84,32% dan kadar air sebesar 0,25%. 
WAKTU HENTI CHLORAMPHENICOL PADA LOBSTER (Cherax quadricarinatus) AIR TAWAR Miftahul Jannah; Hari Suprapto; Kusnoto Kusnoto
Journal of Aquaculture and Fish Health Vol. 5 No. 1 (2016): JAFH Vol. 5 No. 1 Februari 2016
Publisher : Department of Aquaculture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (119.319 KB) | DOI: 10.20473/jafh.v5i1.11319

Abstract

Permintaan yang tinggi oleh konsumen terhadap produk perikanan terutama lobster (Cherax quadricarinatus) air tawar dari tahun ketahun memacu perkembangan industri budidaya lobster yang sangat pesat. Namun dalam proses budidaya tersebut banyak sekali kendala yang muncul. Salah satu kendala yang umum dihadapi dalam budidaya ikan adalah adanya serangan penyakit yang dise- babkan oleh bakteri. Beberapa strategi pencegahan penyakit yang telah diaplikasikan dalam budida- ya lobster, salah satunya menggunakan antibiotik. Salah satu antibiotik yang sering digunakan pembu- didaya adalah Chloramphenicol. Pada Lobster, penggunaan Chloramphenicol dengan dosis tinggi akan menyebabkan resistensi terhadap bakteri patogen. Pelaksanaan penelitian di Laboratorium Pendidikan Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ke- lautan, Universitas Airlangga dan Balai Karantina Ikan Pengendalian Mutu dan Keamana Hasil Peri- kanan Kelas I Surabaya II. Penelitian ini berlangsung pada bulan November 2013 sampai bulan Ja- nuari 2014. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui lama waktu henti obat yang diperlukanagar residu antibiotik Chloramphenicol yang terdapat pada Lobster (Cherax quadricarinatus) air tawar me- nurun hingga batas aman untuk dikonsumsi. Lobster yang diberi pakan dengan campuran chlo- ramphenicol dengan dosis 2g/kg pakan terdeteksi residu Chloramphenicol tertinggi sebanyak 31,962 ppb pada minggu pertama dan terjadi penurunan residu menjadi 3.53 ppb selama delapan minggu. 
RESPON HEMATOLOGIS IKAN KERAPU TIKUS (Cromileptes altivelis) PADA SUHU MEDIA PEMELIHARAAN YANG BERBEDA Reny Lidhia Widi Samsisko; Hari Suprapto; Setiawati Sigit
Journal of Aquaculture and Fish Health Vol. 3 No. 1 (2014): JAFH Vol. 3 No. 1 January 2014
Publisher : Department of Aquaculture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1009.71 KB) | DOI: 10.20473/jafh.v3i1.13018

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh suhu media pemeliharaan yang berbeda terhadap respon hematologis ikan kerapu tikus (Cromileptes altivelis). Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimental yang terdiri dari tiga perlakuan yaitu, Kontrol (ikan dipelihara pada suhu ruangan 30oC), A (ikan dipelihara pada suhu 32oC) , dan B (ikan dipelihara pada suhu 34oC) dengan masing-masing perlakuan diulang sebanyak tiga kali. Bahan yang digunakan dalam penelitian adalah ikan kerapu tikus (Cromileptes altivelis) yang berukuran  10-15 cm sebanyak 72 ekor, air laut, pellet, EDTA, aquades, larutan Hayem’s, dan larutan Turk’s. Ikan kerapu tikus pada perlakuan A (32oC) dan B (34oC) mengalami stres dibandingkan dengan ikan Kontrol (30oC) yang ditandai dengan tingginya kadar glukosa darah hingga akhir pemeliharaan yaitu sebesar 80,7 mg/dL pada perlakuan A (32oC), 88 mg/dL pada perlakuan B (34oC). Nilai tertinggi total eritrosit adalah 2,86x106 sel/mm3 pada perlakuan A (32oC) dan 2,92x106 sel/mm3 pada perlakuanB (34oC); total leukosit sebesar 10,86x104 sel/mm3 pada perlakuan A (32oC) dan 10,93x104 sel/mm3 pada perlakuan B (34oC); persentase hematokrit sebesar 41,7% pada perlakuan A (32oC) dan 44% pada perlakuan B (34oC).
Pengaruh Kombinasi Biofilter Glacilaria sp. dan Zeolit Terhadap Logam Berat Timbal (Pb) pada Media Air Laut Akhmad Syafroni Affandi; Boedi Setya Rahardja; Hari Suprapto
Journal of Aquaculture and Fish Health Vol. 7 No. 1 (2018): JAFH Vol. 7 No. 1 Februari 2018
Publisher : Department of Aquaculture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (128.75 KB) | DOI: 10.20473/jafh.v7i1.11231

Abstract

Logam berat yang terdapat di lingkungan dapat berbahaya bagi makhluk hidup. Logam berat yang sering mencemari lingkungan terutama adalah merkuri (Hg), timbal (Pb), arsenik (As), kadmium (Cd), khromium (Cr) dan nikel (Ni). Logam berat tersebut di dalam tubuh suatu individu dapat menggumpal dan tetap tinggal dalam tubuh dalam waktu yang lama sebagai racun yang terakumulasi. Dampak akut logam berat timbal atau plumbism dengan gejala utama meliputi kram perut, gagal ginjal, kemandulan hingga kerusakan otak permanen. Timbal juga merupakan faktor utama terjadinya gejala hiperaktif, penyimpangan tingkah laku dan kesulitan belajar pada anak – anak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kombinasi Gracilaria sp. dan zeolit terhadap konsentrasi logam berat timbal (Pb). Parameter utama pada penelitian ini adalah konsentrasi logam berat timbal, dan parameter pendukungnya adalah pH, suhu, dan salinitas. Analisis data menggunakan ANOVA untuk melihat apakah terdapat perbedaan pada tiap perlakuan dan Uji Jarak Berganda Duncan untuk melihat perlakuan terbaik dalam penurunan konsentrasi logam berat timbal Berdasarkan hasil penelitian, diketahui bahwa kombinasi biofilter Gracilaria sp. dan zeolit berpengaruh sangat signifikan terhadap penurunan konsentrasi logam berat timbal (p<0,01). Kombinasi biofilter Gracilaria sp. dan zeolit memiliki pengaruh yang sangat signifikan terhadap penurunan konsentrasi Pb. Penurunan konsentrasi Pb oleh kombinasi biofilter Gracilaria sp. dan zeolit ini tercatat memiliki kisaran nilai 0,05 hingga 0,26 ppm. Perlakuan terbaik dalam menurunkan konsentrasi Pb tertinggi terdapat pada perlakuan P2-B (50 gram Glacilaria sp. dan 10 gram zeolit). Perlakuan ini mampu mengeliminasi konsentrasi Pb dalam media air sampai dengan rata rata 0,86% dalam waktu 28 hari. 
PENGARUH PENAMBAHAN COD LIVER OIL PADA PAKAN KOMERSIAL TERHADAP KANDUNGAN OMEGA-3 (EPA DAN DHA) DI DAGING UDANG GALAH (Macrobrachium rosenbergii) Ellavida Anindya; Agustono Agustono; Boedi Setya Rahardja
Journal of Aquaculture and Fish Health Vol. 6 No. 1 (2017): JAFH Vol. 6 No. 1 Februari 2017
Publisher : Department of Aquaculture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (97.983 KB) | DOI: 10.20473/jafh.v6i1.11269

Abstract

Udang galah (Macrobrachium rosenbergii) merupakan salah satu komoditas perikanan yang mempunyai nilai perdagangan ekonomi yang memiliki prospek. Permintaan pasar dalam negeri dan luar negeri terhadap udang galah cukup tinggi menjadikan Indonesia sebagai pengirim udang galah di dunia. Asam lemak omega-3 merupakan asam lemak karboksilat yang posisi ikatan rangkap pertamanya terletak pada atom karbon nomor tiga dari ujung gugus metilnya. Omega-3 asam lemak tak jenuh yang sangat penting untuk kesehatan udang galah. Derivat asam lemak omega-3 salah satunya eicosapentaenoic acid (EPA) dan Decosaheksaenoic acid (DHA) termasuk dalam asam lemak esensial. Sumber asupan asam lemak omega-3 dapat dihasilkan salah satunya dengan penambahan minyak hati ikan kod. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan Cod Liver Oil pada pakan komersial terhadap kandungan eicosapentaenoic acid (EPA) dan Dekosaheksaenoic acid (DHA) pada daging udang galah (Macrobrachium rosenbergii ). Metode penelitian ini menggunakan rancangan Acak Lengkap (RAL) dan perlakuan yang dilakukan dalam penelitian ini menggunakan perbedaan dosis cod liver oil (CLO) yang berbeda yaitu P0 sebagai kontrol dengan dosis CLO 0%,P1 dosis CLO 3%,P2 dosis CLO 6%, P3 dosis CLO 9%, dan P4 dosis CLO 12%. Setiap perlakuan dilakukan ulangan 4 kali. Hasil penelitian ini menggunakan cod liver oil terhadap kandungan DHA tidak berbeda nyata (P>0,05). Sedangkan untuk kandungan EPA berbeda nyata (P<0,05). Untuk dosis tertinggi pada kandungan EPA pada perlakuan P4 dengan dosis cod liver oil 12% dan DHA didapatkan hasil tertinggi pada perlakuan P2 dosis cod liver oil 6% . 
PENGARUH SUBTITUSI KEDELAI DENGAN FERMENTASI TEPUNG DAUN LAMTORO PADA PAKAN UDANG VANAME (Litopenaeus vannamei) TERHADAP NILAI KECERNAAN PROTEIN DAN KECERNAAN ENERGI Brian Zuliyan; Agustono Agustono; Woro Hastuti Satyantini
Journal of Aquaculture and Fish Health Vol. 6 No. 3 (2017): JAFH Vol. 6 No. 3 September 2017
Publisher : Department of Aquaculture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (94.741 KB) | DOI: 10.20473/jafh.v6i3.11291

Abstract

Udang vaname mulai dibudidayakan di Indonesia sejak tahun 2001. Kendala bagi pembudidaya yaitu biaya pakan pada udang dapat mencapai 50% dari biaya produksi sehingga untuk mengatasi tingginya harga pakan, maka perlu pakan alternatif berprotein tinggi dengan harga murah. Daun lamtoro merupakan salah satu leguminosa yang dapat digunakan sebagai bahan pakan tambahan karena mempunyai kadar protein yang cukup tinggi dan mudah dicerna. Kecernaan merupakan proses usus mencerna makanan dan penyerapan nutrisi pada pakan yang diberikan. Daya cerna pada ikan menggambarkan sebagian kecil dari nutrisi atau energi dalam bahan yang tidak termakan dan diekskresikan dalam bentuk feses. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemanfaatan fermentasi tepung daun lamtoro sebagai subtitusi kedelai udang vaname (Litopenaeus vannamei) terhadap nilai kecernaan protein dan kecernaan energi. Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimental menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 5 ulangan. Perlakuan P0 (kadar fermentasi tepung daun lamtoro 0%), P1 (kadar fermentasi tepung daun lamtoro 10%) , P2 (kadar fermentasi tepung daun lamtoro 20%) dan P3 (kadar fermentasi tepung daun lamtoro 30%). Parameter yang diukur adalah nilai kecernaan protein dan kecernaan energi. Analisa data menggunakan ANOVA (Analysis of variance) dan dilanjutkan dengan Uji Jarak Berganda Duncan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai kecernaan protein dan kecernan energi yang tidak jauh berbeda (P>0.05). Hal ini menunjukkan bahwa fermentasi tepung daun lamtoro dianggap mampu menggantikan bungkil kedelai sebagai bahan dasar pembuatan ransum pakan udang vaname dengan kadar fermentasi tepung daun lamtoro hingga 30%. Pemanfaatan fermentasi tepung daun lamtoro sebagai substitusi kedelai pada pakan udang vaname tidak memiliki pengaruh yang berbeda terhadap nilai kecernaan protein dan nilai kecernaan energi. 
EMBRIOGENESIS DAN DAYA TETAS TELUR IKAN KOMET (Carassius auratus auratus) PADA SUHU YANG BERBEDA Uswatun Khasanah; Laksmi Sulmartiwi; Rr. Juni Triastuti
Journal of Aquaculture and Fish Health Vol. 5 No. 3 (2016): JAFH Vol. 5 No. 3 September 2016
Publisher : Department of Aquaculture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (213.994 KB) | DOI: 10.20473/jafh.v5i3.11331

Abstract

Ikan komet (Carassius auratus auratus) merupakan ikan hias air tawar yang banyak dibudidayakan dan memiliki warna yang menarik. Produksi benih ikan komet belum bisa memenuhi tingkat permintaan pasar yang terus meningkat setiap tahunnya, sehingga perlu dilakukan peningkatan pada kegiatan pembenihan. Salah satu faktor yang memberikan pengaruh sangat besar terhadap tingginya kematian ikan pada kegiatan pembenihan adalah suhu. Suhu merupakan faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi pertumbuhan rata-rata serta menentukan waktu penetasan serta berpengaruh langsung pada proses perkembangan embrio. Secara umum fase awal kehidupan ikan merupakan fase yang paling sensitif dan mudah menjadi stres dalam menerima pengaruh lingkungan. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui pengaruh suhu terhadap embriogenesis telur ikan pelangi, waktu inkubasi telur ikan pelangi, dan suhu optimal untuk menghasilkan daya tetas maksimal telur ikan pelangi. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juni-Juli 2015 di Unit Pengembangan Budidaya Air Tawar (UPTBAT) Punten, Batu, Jawa Timur. Metode yang digunakan yaitu metode eksperimental. Variabel yang diamati adalah perkembangan embrio dan daya tetas telur ikan komet. Hasil penelitian menunjukkan bahwa suhu berpengaruh terhadap waktu perubahan fase embriogenesis dan waktu inkubasi telur ikan komet. Semua perlakuan suhu (22,5-29,5°C) merupakan suhu optimal pemeliharaan telur ikan komet. 

Page 3 of 34 | Total Record : 331


Filter by Year

2013 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 14 No. 3 (2025): JAFH Vol. 14 No. 3 September 2025 Vol. 14 No. 2 (2025): JAFH Vol. 14 No. 2 June 2025 Vol. 14 No. 1 (2025): JAFH Vol. 14 No. 1 February 2025 Vol. 13 No. 3 (2024): JAFH Vol. 13 No. 3 September 2024 Vol. 13 No. 2 (2024): JAFH Vol. 13 No. 2 June 2024 Vol. 13 No. 1 (2024): JAFH Vol. 13 No. 1 February 2024 Vol. 12 No. 3 (2023): JAFH Vol. 12 No 3 September 2023 Vol. 12 No. 2 (2023): JAFH Vol. 12 No. 2 June 2023 Vol. 12 No. 1 (2023): JAFH Vol. 12 No. 1 February 2023 Vol. 11 No. 3 (2022): JAFH Vol. 11 No. 3 September 2022 Vol. 11 No. 2 (2022): JAFH Vol. 11 No. 2 June 2022 Vol. 11 No. 1 (2022): JAFH Vol. 11 No. 1 February 2022 Vol. 10 No. 3 (2021): JAFH Vol. 10 No. 3 September 2021 Vol. 10 No. 2 (2021): JAFH Vol. 10 No. 2 June 2021 Vol. 10 No. 1 (2021): JAFH Vol 10 No. 1 February 2021 Vol. 9 No. 3 (2020): JAFH Vol. 9 No. 3 September 2020 Vol. 9 No. 2 (2020): JAFH Vol. 9 No. 2 June 2020 Vol. 9 No. 1 (2020): JAFH Vol. 9 no. 1 February 2020 Vol. 8 No. 3 (2019): JAFH vol. 8 no. 3 September 2019 Vol. 8 No. 2 (2019): JAFH vol. 8 no. 2 Juni 2019 Vol. 8 No. 1 (2019): JAFH Vol. 8 No. 1 Februari 2019 Vol. 7 No. 3 (2018): JAFH Vol. 7 No. 3 September 2018 Vol. 7 No. 2 (2018): JAFH Vol. 7 No. 2 Juni 2018 Vol. 7 No. 1 (2018): JAFH Vol. 7 No. 1 Februari 2018 Vol. 6 No. 3 (2017): JAFH Vol. 6 No. 3 September 2017 Vol. 6 No. 2 (2017): JAFH Vol. 6 No. 2 Juni 2017 Vol. 6 No. 1 (2017): JAFH Vol. 6 No. 1 Februari 2017 Vol. 5 No. 3 (2016): JAFH Vol. 5 No. 3 September 2016 Vol. 5 No. 2 (2016): JAFH Vol. 5 No. 2 Juni 2016 Vol. 5 No. 1 (2016): JAFH Vol. 5 No. 1 Februari 2016 Vol. 3 No. 1 (2014): JAFH Vol. 3 No. 1 January 2014 Vol. 2 No. 1 (2013): JAFH Vol 2 No 1 Februari 2013 More Issue