Claim Missing Document
Check
Articles

PERANAN L-CARNITINE PADA PERKEMBANGAN DAN PERTUMBUHAN LARVA UDANG GALAH, Macrobrachium rosenbergii DE MAN Akhmad Taufiq Mukti; Woro Hastuti Satyantini
Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia Vol. 12 No. 1 (2005): Juni 2005
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (212.014 KB)

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui peranan L-Carnitine dalam pakan terhadap peningkatan perkembangan dan pertumbuhan larva udang galah Macrobrachium rosenbergii de Man. Metode yang digunakan adalah percobaan dengan  Rancangan Acak Lengkap. Perlakuan yang digunakan adalah dosis LCarnitine;a) 0 ppm (kontrol), b) 200 ppm, c) 400 ppm, d) 600 ppm, e) 800 ppm dan f) 1000 ppm. Masingmasing perlakuan diulang tiga kali. Parameter uji adalah Larval stage Index (LSI), pertumbuhan harian dan derajad kelangsungan hidup larva udang galah. Hasil penelitian menunjukan perbedaan yang sangat nyata (p< 0.01) diantara perlakuan. Dosis L-Carnitine 600 ppm dalam pakan menghasilkan LSI dan pertumbuhan harian larva udang galah tertinggi, masing-masing 10.4300 dan 0.4267 mm/hari. Derajad kelangsungan hidup larva tidak berbeda nyata (p > 0.05) antara perlakuan 0 ppm (30.4949%), 400 ppm (29.9139%) dan 600 ppm (29.0255%).Kata kunci: L-carnitine. Larval Stage Index, pertumbuhan harian, udang galah.
Penambahan Ekstrak Gracilaria verrucosa terhadap Peningkatan Total Hemosit, Kelangsungan Hidup dan Respon Fisiologi Udang Galah (Macrobrachium rosenbergii) Woro Hastuti Satyantini; Ananta Kurniawan; Rahayu Kusdarwati
Akuatika Indonesia Vol 1, No 2 (2016): Jurnal Akuatika Indonesia (JAkI)
Publisher : Direktorat Sumber Daya Akademik dan Perpustakaan Universitas Padjadjaran, Grha. Kandaga (P

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jaki.v1i2.29158

Abstract

Salah satu faktor yang mempengaruhi tingkat produksi udang galah(Macrobrachium rosenbergii) adalah adanya serangan penyakit selain kebutuhan nutrisi yang optimum untuk pertumbuhannya.Lingkungan yang buruk, seperti adanya fluktuasi kualitas air yang ekstrim dapat mengakibatkan udang menjadi stresss dan mudah terserang penyakit.Gracilaria verrucosa merupakan rumput laut jenis alga merah yang dapat digunakan sebagai imunostimulan. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh penambahan ekstrak Gracilaria verrucosa terhadap peningkatan total hemosit, tingkat kelangsungan hidup dan respon fisiologi udang galah setelah pemaparan suhu tinggi.Perlakuan yang diberikan adalah penambahan ekstrak Gracilaria pada pakan dengandosis 0%, 1%, 2%, 3% dan 4%. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Udang galah yang digunakan berukuran 7 cm dengan kepadatan 10 ekor per akuarium (40x30x30 cm). Pemberian ekstrak Gracilaria dilakukan selama 14 hari dan selanjutnya pada hari ke 15 di uji stresss suhu. Total hemosit tertinggi diperoleh pada perlakuan penambahan ekstrak Gracilaria 3% yaitu 38,49 x 106 sel/ml dibanding perlakuan lain dan berbeda nyata (P<0,05) terhadap kontrol. Kelangsungan hidup menunjukkan hasil yang tidak berbeda nyata (P>0,05), sementara respon fisiologi udang galah setelah uji stress menunjukkan bahwa perlakuan pada penambahan ekstrak Gracilaria menunjukkan respon makan baik dan berenang normal pada jam ke 18 sementara perlakuan kontrol pada jam ke 24 dan 30 pasca stress. 
Aplikasi Teknologi Induce Spawning (Tis) pada Pemijahan Ikan Air Tawar dalam Upaya Peningkatan Ketersediaan Benih Ikan di Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur Woro Hastuti Satyantini; Akhmad Taufiq Mukti; Gunanti Mahasri; Ahmad Shofy Mubarak; Wahyu Isroni; Browijoyo Santanamurti
Journal of Marine and Coastal Science Vol. 9 No. 2 (2020): June
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (259.27 KB) | DOI: 10.20473/jmcs.v9i2.20103

Abstract

Kalimantan Timur (Kaltim) merupakan daerah yang memiliki potensi kelautan dan perikanan prospektif.  Kabupaten Kutai Barat memiliki potensi perikanan berupa perairan umum yang besar untuk dikembangkan.  Konsumsi ikan dari tahun ke tahun mengalami peningkatan, sementara potensi perikanan belum dimanfaatkan dengan optimal.  Kendala dan permasalahan yang menjadi perhatian oleh kelompok mitra hingga saat ini adalah belum banyak petani pembudidaya ikan yang menguasai teknologi budidaya ikan dengan baik dan benar.  Tujuan dari kegiatan ini adalah penerapan dan transfer ilmu pengetahuan dan teknologi (ipteks) serta keterampilan dalam aplikasi teknologi pemijahan dan pembenihan ikan melalui penyediaan benih ikan secara mandiri untuk peningkatan produksi ikan air tawar pada kelompok mitra,  Pendekatan metode kegiatan dilakukan melalui beberapa tahapan, yaitu pemetaan kondisi dan permasalahan yang dihadapi oleh kelompok mitra, penyampaian materi terkait  teknologi pembenihan ikan, teknologi penijahan dengan menggunakan teknologi induce spawning (TIS) ikan dalam budidaya ikan air tawar serta monitoring dan evaluasi serta pendampingan pada kelompok mitra.  Hasil kegiatan penijahan dengan TIS memberikan hasil bahwa induk ikan mas dan ikan lele yang disuntik dengan hormon (ovaprim) memijah seluruhnya. Suhu media air terukur 26-28oC.  TIS ini dapat membantu masyarakat dalam penyediaan benih ikan dengan menjaga kualitas benih tetap baik dengan menerapkan cara pembenihan yang baik.
The Influence of Giving Probiotic with Different Periodicon Decreasing of Ammonia And Total Organic Matter in White Shrimp Culture Media (Litopenaeus Vannamei) Vega Chrisnawati; Boedi Setya Rahardja; Woro Hastuti Satyantini
Journal of Marine and Coastal Science Vol. 7 No. 2 (2018): June
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (414.737 KB) | DOI: 10.20473/jmcs.v7i2.20715

Abstract

Water quality is a major factor in shrimp culture so maintenance that water quality system is the key factor of success of white shrimp culture. This research was conducted to determine the commercial probiotic on white shrimp (L. vannamei) culture media to decrease ammonia content and TOM. Research method used experimental testwithdifferent type of probiotic and giving periodic which are P0 (without probiotic). Probiotic A; P1 (3 days), P2 (5 days) and P3 (7 days). Probiotic B; P4 (3 days), P5 (5 days) and P6 (7 days). Probiotic C; P7 (3 days), P8 (5 days) and P9 (7 days).The results showed that probiotic bacteria influence the content of ammonia and total organic matter culture media of white shrimp. The lowest ammonia obtained in P4 (Probiotic B 3 days) is 0.05 mg/L and TOM is 53,72 mg/L in last week.The highest ammoniaand TOM in P0 (Control). All treatments with addition of probiotic give lowers ammonia in culture media. Survival Rate (SR) in P4 give significantly different results (P <0.05) to P0. Other water quality parameters measured during maintenance among other 27-30oC temperature, pH 7.0 to 7.9, Dissolved Oxygen (DO) from 3.1 to 7.6 mg/l and 15-19 ppt salinity.
TEKNIK PEMBESARAN IKAN NILEM (Osteochilus hasselti) DI BALAI PENGEMBANGAN DAN PEMACUAN STOK IKAN GURAME DAN NILEM (BPPSIGN) TASIKMALAYA, JAWA BARAT Aulia Ikhsan Syamsuri; M Wahyu Alfian; Vivaldy Phaza Muharta; Akhmad Taufiq Mukti; Kismiyati Kismiyati Kismiyati; Woro Hastuti Satyantini
Journal of Aquaculture and Fish Health Vol. 7 No. 2 (2018): JAFH Vol. 7 No. 2 Juni 2018
Publisher : Department of Aquaculture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (175.76 KB) | DOI: 10.20473/jafh.v7i2.11247

Abstract

Ikan nilem (Osteochilus hasselti) merupakan salah satu ikan endemik Indonesia khususnya daerah Jawa Barat yang hidup di perairan tawar. Ikan nilem memiliki ciri yang hampir serupa dengan ikan mas, dikarenakan ikan tersebut masih satu famili dengan ikan mas. Keunggulan dari ikan nilem bukan hanya dari hal gizi, namun juga dikarenakan harga ikan yang sangat terjangkau bagi masyarakat dan ikan ini sangat digemari oleh masyarakat di daerah Jawa Barat. Praktek Kerja Lapang ini dilaksanakan di Balai Pengembangan dan Pemacuan Stok Ikan Gurame dan Nilem Tasikmalaya, Jawa Barat pada tanggal 23 Januari sampai 23 Februari 2017. Metode kerja yang digunakan dalam Praktek Kerja Lapang adalah dengan cara mengikuti langsung kegiatan pembesaran ikan nilem dimulai dari persiapan kolam, penyediaan air budidaya, sumber air yang dipakai dan penebaran benih ikan nilem di Balai Pengembangan dan Pemacuan Stok Ikan Gurame dan Nilem Tasikmalaya, Jawa Barat. Hasil Praktek Kerja Lapang tentang teknik pembesaran ikan nilem adalah dimulai dari persiapan kolam, pada bagian kolam dilakukan pembersihan kolam, pembalikan tanah, pengeringan kolam yang dilakukan selama 5 – 7 hari, selanjutnya dilakukan penggaraman dan pengapuran dengan perbandingan 1:1 serta dosis masing-masing 75-100 gram/m2 dan dibiarkan selama 5 hari. Selanjutnya, air dialirkan dari bak filter ke kolam sampai ketinggian 100-120 cm. Penebaran benih ikan nilem dilakukan pada pagi hari untuk menghindari stress ikan. Benih ikan diperoleh dari balai itu sendiri, dengan ukuran 5-6 cm pada fase pendederan ketiga. Pakan diberikan sebanyak dua kali sehari yaitu pada waktu pagi dan sore hari dengan dosis masing-masing 1,45 kg/pemberian. Sumber air yang digunakan pada kolam pembesaran ikan nilem berasal dari saluran irigasi sungai Cipakat dan sumur bor digunakan pada musim kemarau. Parameter kualitas air diukur setiap satu minggu sekali. Suhu rata-rata untuk ikan nilem antara 23,140 C – 27,730 C, pH rata-rata 6,22 dan DO rata-rata 5,45 mg/l. Pada saat praktek kerja lapang tidak dilakukan pergantian air kolam dikarenakan, kondisi bahan organik tergolong tidak berlebihan, sehingga tidak mengakibatkan kematian pada ikan. Hal tersebut disebabkan kepadatan ikan yang dipelihara tidak tinggi dalam satu kolam. Pencegahan hama dan penyakit ikan nilem dilakukan dengan pemberian tanaman babadotan (Ageratum conyzoides) dan jarong (Achyranthes aspera) pada proses persiapan kolam serta pemberian daun sente (Alocasia macrorrhiza) dan daun singkong (Manihot esculenta) pada saat terjadi kematian mendadak.
TEKNIK KULTUR Tetraselmis chuii DALAM SKALA LABORATORIUM DI PT. CENTRAL PERTIWI BAHARI, REMBANG, JAWA TENGAH Febri Setyawati; Woro Hastuti Satyantini; Muhammad Arief; Kismiyati Kismiyati pujiastuti
Journal of Aquaculture and Fish Health Vol. 7 No. 2 (2018): JAFH Vol. 7 No. 2 Juni 2018
Publisher : Department of Aquaculture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (263.603 KB) | DOI: 10.20473/jafh.v7i2.11249

Abstract

Pakan merupakan kunci keberhasilan dalam budidaya perikanan, karena berpengaruh terhadap ketahanan dan perkembangan larva. Jenis pakan yang dapat diberikan pada ikan ada dua jenis, yaitu pakan alami dan pakan buatan. Salah satu jenis pakan alami yang dapat dimanfaatkan sebagai pemenuhan kebutuhan pakan budidaya yaitu fitoplankton jenis Tetraselmis chuii. Mikroalga Tetraselmis chuii merupakan salah satu mikroalga yang mudah dibudidayakan dan memiliki nilai gizi tinggi yaitu, kandungan protein 74%, lemak 4%, dan karbohidrat sebanyak 21%. Praktek Kerja Lapang ini bertujuan untuk mempelajari, memahami, serta mempraktekkan secara langsung tentang teknik kultur pakan alami Tetraselmis chuii skala laboratorium dan mengetahui kendala dalam teknik kultur pakan alami Tetraselmis chuii skala laboratorium. Pertumbuhan Tetraselmis chuii dalam kultur skala labolatorium mengalami puncak populasi pada hari keenam mencapai 3.240.000 sel/ml. Hal ini menunjukkan bahwa pertumbuhan Tetraselmis chuii sangat lama. Didapatkan inokulasi awal 550.000 sel/ml dan mengalami peningkatan hingga hari keenam. Hal ini menunjukan pertumbuhan Tetraselmis chuii mengalami fase eksponensial. Kemudian, pada hari ketujuh mengalami penurunan mencapai 209.000 sel/ml lalu pada hari kedelapan mengalami peningkatan mencapai 249.000 sel/ml diduga mengalami periode kriptik, yaitu sel-sel yang masih hidup memanfaatkan tambahan nutrisi dari sel-sel yang lisis. Pertumbuhan Tetraselmis chuii hari kesembilan sampai hari keempatbelas mengalami penurunan hingga 186.000 sel/ml
PENGARUH KOMBINASI NaOH DAN SUHU BERBEDA TERHADAP NILAI DERAJAT DEASETILASI KITOSAN DARI CANGKANG KERANG KAMPAK (Atrina pectinata) Anggun Nurani Citrowati; Woro Hastuti Satyantini; Gunanti Mahasri
Journal of Aquaculture and Fish Health Vol. 6 No. 2 (2017): JAFH Vol. 6 No. 2 Juni 2017
Publisher : Department of Aquaculture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (181.376 KB) | DOI: 10.20473/jafh.v6i2.11279

Abstract

Kerang kampak (Atrina pectinata) adalah jenis kerang komoditas perikanan Indonesia yang mengalami kenaikan permintaan tiap tahun. Kerang kampak yang dikonsumsi akan menghasilkan limbah padat berupa cangkang. Secara umum, limbah cangkang kerang memiliki kandungan kitin yang dapat dimanfaatkan lebih lanjut menjadi produk bernilai tinggi yaitu kitosan. Salah satu paramerter penentu kualitas kitosan adalah nilai derajat deasetilasi. Nilai derajat deasetilasi dipengaruhi oleh konsentrasi NaOH dan suhu yang digunakan pada proses deasetilasi. Semakin tinggi konsentrasi NaOH dan suhu yang digunakan, semakin tinggi nilai derajat deasetilasi. Akan tetapi, konsentrasi alkali dan suhu yang terlalu tinggi dapat menurunkan rendemen kitosan serta menyebabkan depolimerasi dan degradasi polimer. Kombinasi konsentrasi NaOH dan suhu proses yang tepat akan menghasilkan kitosan dengan nilai derajat deasetilasi yang tinggi dan mutu yang baik. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui pengaruh dan perlakuan terbaik dari kombinasi NaOH dan suhu berbeda terhadap nilai derajat deasetilasi kitosan yang dihasilkan dari cangkang kerang kampak. Penelitian ini menggunakan metode Rancangan Acak lengkap (RAL) faktorial yang terdiri dari dua kombinansi faktor perlakuan yaitu konsentrasi NaOH (50%, 55% dan 60%) dan suhu (100oC dan 130oC) dengan tiga kali ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi NaOH dan suhu pada proses deasetilasi tidak berpengaruh nyata terhadap nilai derajat deasetilasi kitosan. Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa deasetilasi menggunakan perlakuan kombinasi NaOH 55% dan suhu 100oC merupakan perlakuan yang cukup baik untuk menghasilkan kitosan dari cangkang kerang kampak yang menghasilkan nilai derajat deasetilasi sebesar 71,70%, rendemen sebesar 47,25%, kadar abu sebesar 84,32% dan kadar air sebesar 0,25%. 
PENGARUH SUBTITUSI KEDELAI DENGAN FERMENTASI TEPUNG DAUN LAMTORO PADA PAKAN UDANG VANAME (Litopenaeus vannamei) TERHADAP NILAI KECERNAAN PROTEIN DAN KECERNAAN ENERGI Brian Zuliyan; Agustono Agustono; Woro Hastuti Satyantini
Journal of Aquaculture and Fish Health Vol. 6 No. 3 (2017): JAFH Vol. 6 No. 3 September 2017
Publisher : Department of Aquaculture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (94.741 KB) | DOI: 10.20473/jafh.v6i3.11291

Abstract

Udang vaname mulai dibudidayakan di Indonesia sejak tahun 2001. Kendala bagi pembudidaya yaitu biaya pakan pada udang dapat mencapai 50% dari biaya produksi sehingga untuk mengatasi tingginya harga pakan, maka perlu pakan alternatif berprotein tinggi dengan harga murah. Daun lamtoro merupakan salah satu leguminosa yang dapat digunakan sebagai bahan pakan tambahan karena mempunyai kadar protein yang cukup tinggi dan mudah dicerna. Kecernaan merupakan proses usus mencerna makanan dan penyerapan nutrisi pada pakan yang diberikan. Daya cerna pada ikan menggambarkan sebagian kecil dari nutrisi atau energi dalam bahan yang tidak termakan dan diekskresikan dalam bentuk feses. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemanfaatan fermentasi tepung daun lamtoro sebagai subtitusi kedelai udang vaname (Litopenaeus vannamei) terhadap nilai kecernaan protein dan kecernaan energi. Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimental menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 5 ulangan. Perlakuan P0 (kadar fermentasi tepung daun lamtoro 0%), P1 (kadar fermentasi tepung daun lamtoro 10%) , P2 (kadar fermentasi tepung daun lamtoro 20%) dan P3 (kadar fermentasi tepung daun lamtoro 30%). Parameter yang diukur adalah nilai kecernaan protein dan kecernaan energi. Analisa data menggunakan ANOVA (Analysis of variance) dan dilanjutkan dengan Uji Jarak Berganda Duncan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai kecernaan protein dan kecernan energi yang tidak jauh berbeda (P>0.05). Hal ini menunjukkan bahwa fermentasi tepung daun lamtoro dianggap mampu menggantikan bungkil kedelai sebagai bahan dasar pembuatan ransum pakan udang vaname dengan kadar fermentasi tepung daun lamtoro hingga 30%. Pemanfaatan fermentasi tepung daun lamtoro sebagai substitusi kedelai pada pakan udang vaname tidak memiliki pengaruh yang berbeda terhadap nilai kecernaan protein dan nilai kecernaan energi. 
PENGARUH PEMBERIAN EKSTRAK AIR PANAS Spirulina platensis PADA PAKAN TERHADAP KELANGSUNGAN HIDUP DAN TOTAL HEMOSIT UDANG VANAME SETELAH DIINFEKSI DENGAN Vibrio harveyi Ayu Puspitarani; Woro Hastuti Satyantini; Rahayu Kusdarwati
Journal of Aquaculture and Fish Health Vol. 5 No. 3 (2016): JAFH Vol. 5 No. 3 September 2016
Publisher : Department of Aquaculture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (144.088 KB) | DOI: 10.20473/jafh.v5i3.11329

Abstract

Udang vaname (Litopenaeus vannamei) merupakan suatu komoditas perikanan yang memiliki nilai ekonomi penting. Produksi udang vaname (Litopenaeus vannamei) mengalami kendala akibat adanya wabah penyakit. Salah satunya adalah akibat serangan bakteri Vibrio harveyi. Bakteri ini menyebabkan mortalitastinggi. Penanggulanganya umumnya menggunakan antibiotik namun berdampak pada munculnya resistensi bakteri dan residu pada udang. Aplikasi penggunaan bahan alami sebagai imunostimulan seperti Spirulina platensis dalam bentuk ekstrak air panas diketahui memiliki efek stimulator sehingga dapat meningkatkan respon imun pada udang vaname (Litopenaeus vannamei). Respon imun ini diperlihatkan dengan meningkatnya jumlah total hemosit yang berpengaruh langsung dengan nilai kelangsungan hidup. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruhpemberian ekstrak air panas Spirulina platensis pada pakan terhadap total hemosit (Total Haemocyte Count) dan nilai kelangsungan hidup udang vaname setelah diuji tantang dengan bakteri Vibrio harveyi. Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimental menggunakan metode Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 5 perlakuan (0 mg/kg, 200 mg/kg, 400 mg/kg, 600 mg/kg, dan 800 mg/kg) dan 4 kali ulangan. Udang vaname diberikan pakan dengan kandungan ekstrak air panas Spirulina platensis selama 14 hari kemudian pada hari ke-15 udang diuji tantang dengan cara diinjeksi dengan bakteri Vibrio harveyi dosis 106 CFU/ml pada bagian segmen abdominal. Pengamatan terhadap jumlah total hemosit (Total Haemocyte Count) yaitu pada hari ke-0, ke-14, ke-16 dan ke-26. Pengamatan terhadap nilai SR (Survival Rate) dilakukan selama sepuluh hari pasca udang diinfeksi. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan jumlah total hemosit pada udang vaname (Litopenaeus vannamei) akibat pemberian ekstrak air panas Spirulina platensis dibandingkan dengan perlakuan kontrol (tanpa pemberian ekstrak air panas Spirulina platensis). Pemberian ekstrak air panas Spirulina platensis juga efektif meningkatkan nilai kelangsungan hidup (Survival rate) udang vaname pasca infeksi dengan bakteri Vibrio harveyi dengan perlakuan terbaik pada dosis sebesar 800 mg/kg pakan. 
EFEK PENAMBAHAN KITOSAN TERHADAP PERUBAHAN JUMLAH TOTAL HEMOSIT DAN DAYA TAHAN TERHADAP STRES SALINITAS PADA UDANG VANAME (Litopenaeus vannamei) Okky Hermawan; Woro Hastuti Satyantini; Prayogo Prayogo
Journal of Aquaculture and Fish Health Vol. 5 No. 3 (2016): JAFH Vol. 5 No. 3 September 2016
Publisher : Department of Aquaculture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (191.261 KB) | DOI: 10.20473/jafh.v5i3.11330

Abstract

Udang vaname (Litopenaeus vannamei) merupakan suatu komoditas unggulan industri perikanan Indonesia. Pada budidaya udang vaname, muncul beberapa kendala, yaitu adanya serangan penyakit yang disebabkan oleh virus dan bakteri. Hal tersebut dapat diatasi dengan pemberian imunostimulan untuk pencegahan penyakit melalui peningkatan sistem imun udang. Kitosan adalah salah satu bahan yang dapat digunakan sebagai imunostimulan. Kitosan dapat meningkatkan sistem imun. Stres merupakan respon fisiologis yang terjadi saat hewan berusaha mempertahankan kondisi tubuhnya dari perubahan lingkungan. Faktor lingkungan seperti suhu, oksigen terlarut dan salinitas dapat menyebabkan terjadinya perubahan jumlah total hemosit. Jumlah total hemosit dapat digunakan untuk mengetahui status kesehatan udang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek penambahan kitosan pada pakan terhadap perubahan jumlah total hemosit dan daya tahan terhadap stres salinitas pada udang vaname (Litopenaeus vannamei). Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimental menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan empat perlakuan serta empat ulangan. Perlakuan yang digunakan adalah penambahan kitosan sebesar 0 mg/kg pakan (A1), 250 mg/kg pakan (A2), 500 mg/kg pakan (A3) dan 1000 mg/kg pakan (A4). Parameter yang diamati adalah jumlah total hemosit selama 14 hari pemeliharaan, 24 jam dan 48 jam setelah uji stres salinitas, kelangsungan hidup saat uji stres salinitas dan kualitas air. Data dianalisis menggunakan Analisis Varian (Anova) dan dilanjutkan dengan Uji Jarak Berganda Duncan. Hasil penelitian yang dilakukan menunjukkan bahwa penambahan kitosan pada pakan selama 14 hari pemeliharaan dan selama 24 jam setelah uji stres salinitas memberikan pengaruh yang berbeda nyata (p<0,05) terhadap jumlah total hemosit udang vaname dengan jumlah total hemosit tertinggi diperoleh pada perlakuan A2 (250 mg kitosan/kg pakan). Empat puluh delapan jam setelah uji stres salinitas tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap jumlah total hemosit udang vaname dan kelangsungan hidup udang vaname. 
Co-Authors A. Shofy Mubarak Abdul Manan Abdul Manan Agustono - Agustono . Agustono Agustono Agustono Agustono Akhmad Taufiq Mukti Aksono HP., Eduardus Bimo Al arif, Mohammad Anam Alim Isnansetyo Alvira Febrianti Pratiwi Anam, M Khairul Ananta Kurniawan Andry Wijayanto Anggun Nurani Citrowati Annas Salleh Ariyandra, Rheza Aslah Mohamad Asmaul Khusnah Aulia Ikhsan Syamsuri Ayu Puspitarani Boedi Setya Rahardja Brian Zuliyan Browijoyo Santanamurti Catur Pujiono Cicik Kurniawati, Cicik Daruti Dinda Nindarwi Dimas Eraparamarta Harkitiyanto dita aguistina barus Dita Wisudyawati Djamil, Hasim Dwitha Nirmala Elangga Sony Widiharsono Emy Koestanti Sabdoningrum Enang Harris Faisol Mas’ud Falatehan, Naufal Febri Setyawati Firdaus, Fitrul Azizi Fuquh Rahmat Shaleh Gazali Salim Gunanti Mahasri Heru Pramono Ika Purnamasari Isroni, Wahyu Juanda Juanda Karina Rahardjo Khozirah Shaari Kismiyati , Kuncorojakti, Suryo Kustiariyah Tarman Lailatul Lutfiyah, Lailatul Laksmi Sulmartiwi Lia Oktavia Ika Putri Lilis Cahaya Septiana Lina Wafia Asmi Luthfiana Aprilianita Sari M Wahyu Alfian Mardiana, Intan Fajriya Martianasari, Puji Dwi Md Yasin, Ina Salwany Meilina, Sinta Cahya Melani Indah Sari Manik Mohamad Azzam-Sayuti Mohammad Noor Amal Azmai Muchammad Yunus Muhamad Amin Muhammad Amin Muhammad Arief Muhammad Farhan Nazarudin Muhammad Izzudin Syaifullah Muhammed Jefri Myrna Budi N. Juni Triastuti Naila Budiatin Wahyu Mufidah Nina Nurmalia Dewi Nizar Afiansyah Loekman Nova Erika Nur Bambang Priyo Utomo Okky Hermawan Panhar, Fio Surya Pratama Semendo Prayogo Prayogo Pursetyo, Kustiawan tri Putri Desi Wulan Sari Rachmat Rizaldi Rahayu Kusdarwati Rahmadan, Rizky Yanuar Rahmahani, Jola Rahmawati, Ghishella Ayu Ratri, Kartika Chayaning Rheza Ariyandra Rozi Rozi Rozi Sahidu, Adriana Monica Saiful Bakhri Salman Aldo Alfaresi Saniya Lailatul Qodriyah Santanumurti, Muhammad Browijoyo Sapto Andriyono Saputra, M. Rafly Nur Wahyu Dwi Saragih, Friska Setiawani Sari, Luthfiana Aprilanita Septuresty Hartri Eka Sihombing, Agusmanto Sudarno, Sudarno Sukenda . Suwarno Suwarno Syafiq-Aizat Hamid Vega Chrisnawati Veryl Hasan Vivaldy Phaza Muharta Wiwiek Tyasningsih Yanti, Luh Krisna Weda Yudi Cahyoko