Claim Missing Document
Check
Articles

Identifikasi Kromosom Ikan Nila (Oreochromis Niloticus) Strain Merah Jatimbulan dan Larasati yang Diambil dari Lokasi Berbeda Laksmi Sulmartiwi; Syifa Fauziyah; Widjiati Widjiati
Journal of Marine and Coastal Science Vol. 9 No. 2 (2020): June
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (491.454 KB) | DOI: 10.20473/jmcs.v9i2.20064

Abstract

Ikan nila merah Jatimbulan dan ikan nila Larasati merupakan hasil rekayasa genetik dari dua lokasi yang berbeda. Ikan yang berasal dari lokasi yang berbeda mempunyai karakter yang berbeda karena adanya pengaruh interaksi antara genetik dan lingkungannya. Lingkungan merupakan salah satu faktor pembatas dari tiap populasi ikan dari segi morfometrik ataupun genetik. Perbedaan suhu, cahaya, nutrisi dan faktor lingkungan lain memiliki dampak perbedaan kromosom pada setiap strain ikan. Dalam upaya mendapatkan informasi mengenai hal tersebut, maka penelitian ini akan membahas bagaimana gambaran kromosom dari dua strain ikan nila merah yang dibudidayakan di lokasi yang berbeda. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kromosom (jumlah kromosom, bentuk kromosom dan susunan kromosom) ikan nila merah Jatimbulan dan ikan nila Larasati. Hasil dari penelitian ini menunjukkan jumlah kromosom ikan nila merah Jatimbulan dan ikan Larasati adalah 44 pasang (2n=44). Bentuk dan susunan kromosom (karyotipe) ikan nila merah Jatimbulan adalah 4 pasang sub metasentrik, 9 pasang sub telosentrik dan 9 pasang telosentrik (4SM-9ST-9T), sedangkan kromosom dari ikan nila Larasati adalah 3 pasang sub metasentrik, 14 pasang sub telosentrik dan 5 pasang telosentrik (3SM- 14ST-5T). 
Management Governance of Fish Landing in Fish Landing Officer (PPI) Gorontalo City, Gorontalo. Regil Kentaurus Harryes; Laksmi Sulmartiwi
Journal of Marine and Coastal Science Vol. 8 No. 2 (2019): JUNE
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (51.97 KB) | DOI: 10.20473/jmcs.v8i2.21152

Abstract

Port infrastructure development is the main role to expand fishery. Therefore, Indonesian government pays attention in sailing products, where establishing fish market leads the appropriate program of government. And, Gorontalo is one of city with a coastal area and estuary with a fish landing and marketing site or Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI).  The Field Work Practice was held at Gorontalo City, District Hulondhalangi, Under the Guidance of the Department of Marine and Fisheries Gorontalo City Gorontalo province for thirty-six days from the date of January 18 to February 22. The results showed in this field practice is the flow of fish landing on PPI Gorontalo city has a shortage in the recording process and the results are less comprehensive infrastructure, the PPI Gorontalo city, there are 3 kinds of models of marketing channels.
Frozen Cuttlefish (Sepia officinalis) Production Process with Contact Plate Freezing Method at PT. Karya Mina Putra, Rembang, Central Java Saltsa Arinda Putri; Laksmi Sulmartiwi
Journal of Marine and Coastal Science Vol. 10 No. 2 (2021): JUNE
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jmcs.v10i2.27662

Abstract

Cuttlefish is widely consumed by the public because it has a soft meat texture and high nutritional content. This makes the cuttlefish one of the mollusca that is a source of protein in addition to squid and octopus. The disadvantage of cuttlefish is that it is prone to deterioration in quality. One effort to prevent quality deterioration in cuttlefish is by freezing. The purpose of the implementation of this Field Work Practice is to decide the production process of frozen  cuttlefish  (Sepia officinalis) using the Contact Plate Freezing (CPF) method and to know the obstacles that occur in the production process. Field Work Practice was held in PT. Karya Mina Putra, Rembang, Central Java. The stages of the frozen cuttlefish  production  process  at  PT.  Mina Putra's work includes the reception of raw materials, weighing I and sorting, labeling I, weighing II, washing, pan preparation, freezing, glazing, packaging and labeling II, storing in cold storage, and loading. The freezing process is carried out by the Contact Plate Freezing (CPF) method for 6 hours until the temperature reaches -40 ° C. The obstacle in the production process of frozen cuttlefish is there was a Contact Plate Freezing (CPF) machine damage and there are some employees who do not apply the SOP applied to prevent cross-contamination of the product.
Packaging of Presto Milkfish in CV. Fania Food Yogyakarta Pradityo Dwi Giartama; Laksmi Sulmartiwi
Journal of Marine and Coastal Science Vol. 10 No. 3 (2021): September
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jmcs.v10i3.28125

Abstract

Milkfish is a commodity that is commonly consumed by the Indonesian people, in addition to its economical price because there are already many choices of milkfish products that have been innovated so that the community's interest in milkfish is increasing. The nutritional content of milkfish is quite high. Field work practices (PKL) are held in Yogyakarta starting from 17 December 2018 to 31 January 2019. At Cv. Fania Food Yogyakarta, on the road to Semanggu KG-1 No.16, Gedong Kuning, Kota Gede, Yogyakarta City, Yogyakarta Special Region. The method used in this field work practice is a descriptive method, namely fact finding with the right interpretation. Descriptive method is a method that addresses the human group of an object, a set of conditions, a system of thought, or a class of events in the present. The scope of packaging criteria includes the process of making presto fish and packaging milkfish presto. Aspects that include packaging criteria ranging from packaging materials, packaging labeling, list of materials used, weight or net contents, name and address of the party producing or entering food into the territory of Indonesia and expiration date, month and year and certification from the relevant agency.
PENAMBAHAN MIKROALGA MERAH Porphyridium cruentum PADA PAKAN TERHADAP KECERAHAN WARNA IKAN CUPANG (Betta splendens) Mardya Syaifudin S; Laksmi Sulmartiwi; Sapto Andriyono
Journal of Aquaculture and Fish Health Vol. 6 No. 1 (2017): JAFH Vol. 6 No. 1 Februari 2017
Publisher : Department of Aquaculture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (84.251 KB) | DOI: 10.20473/jafh.v6i1.11274

Abstract

kan Cupang Betta splendens adalah salah satu jenis ikan hias peliharaan yang mempunyai daya tarik pada warna yang dimunculkan dari tubuhnya. Ikan cupang memiliki nilai ekspor US$ 4,911. Kualitas warna ikan hias menentukan nilai ekonomis, tampilan warna yang indah merupakan salah satu indikator yang menjadi daya tarik. Salah satu usaha yang dilakukan untuk mendapatkan warna cerah yang merata pada ikan adalah dengan teknik manipulasi pigmen ke dalam pakan. Mikroalga Porphyridium cruentum merupakan mikroalga merah yang memiliki manfaat yang digunakan sebagai sumber pigmen alami. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan P. cruentum pada pakan terhadap kecerahan warna, dan kelulushidupan ikan cupang. Metode penelitian ini menggunakan rancangan Acak Lengkap (RAL) dan perlakuan yang dilakukan dalam penelitian ini menggunakan perbedaan dosis P. cruentum yang berbeda yaitu menggunakan P0 sebagai kontrol dengan pemberian cacing darah, P1 dengan dosis P. cruentum 0%,P2 dosis P. cruentum 1%, P3 dosis P. cruentum 3%, P4 dosis P. cruentum 5%. Kemudian dilakukan ulangan 4 kali. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penambahan P. cruentum berpengaruh terhadap perubahan kecerahan warna ikan cupang. Perubahan kecerahan warna ikan cupang dilihat dari perubahan nilai hue (o). Penambahan P. cruentum tidak berpengaruh terhadap kelulushidupan. Penambahan dosis 1% P. cruentum pada pakan menghasilkan kecerahan warna terbaik selama empat minggu yaitu 8.50, 15.50, 21.00, dan 27.50 sedangkan dosis 0% menghasilkan kecerahan warna terendah yaitu 0.00. Nilai kelulushidupan selama penelitian pada tiap perlakukan tidak berbeda nyata yaitu 100%. 
PERUBAHAN HEMATOLOGI IKAN MAS KOMET (Carassius auratus auratus) AKIBAT INFESTASI Argulus japonicus JANTAN dan Argulus japonicus BETINA Fatih Riantono; Kismiyati Kismiyati; Laksmi Sulmartiwi
Journal of Aquaculture and Fish Health Vol. 5 No. 2 (2016): JAFH Vol. 5 No. 2 Juni 2016
Publisher : Department of Aquaculture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (165.82 KB) | DOI: 10.20473/jafh.v5i2.11325

Abstract

Penyakit pada budidaya ikan hias terutama yang disebabkan oleh ektoparasit. Ektoparasit merupakan salah satu penyebab menurunnya nilai jual komoditas ikan hias yang ada di Indonesia. Infestasi tingkat akut Argulus. japonicus dapat mengakibatkan kematian dan kerugian ekonomi bagi pembudidaya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perubahan hematologi ikan mas komet (Carassius auratus auratus) yang diinfestasi A. japonicus jantan dan A. japonicus betina pada derajat infestasi berbeda. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga dan Laboratorium klinik Kedokteran Hewan Univeristas Airlangga serta Balai Besar Laboratorium Kesehatan Surabaya pada bulan Oktober 2014. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu dengan metode eksperimental. Data hemoglobin, hematokrit, eritrosit, leukosit dianalisa dengan menggunakan ANOVA untuk mengetahui pengaruh perlakuan dalam kelompok penelitian. Penelitian ini menggunakan empat perlakuan dan lima ulangan dengan dua kelompok. Variabel yang diamati dalam penelitian ini adalah perubahan hematologi akibat infestasi A. japonicus. Kegiatan skoring dilakukan untuk menentukan perubahan hematologi ikan mas komet. Hasil penelitian menunjukkan bahwa infestasi parasit A. japonicus mengakibatkan perubahan hematologi yaitu hemoglobin, hematokrit, eritrosit, dan leukosit ikan mas komet. Diharapkan dilakukan penelitian lebih lanjut tentang pengaruh lain yang ditimbulkan karena akibat dari infestasi A. japonicus pada ikan. Langkah pencegahan dan pengobatan yang sesuai untuk menjaga kesehatan ikan hias secara umum supaya terlihat tetap mempunyai nilai estetika. 
EMBRIOGENESIS DAN DAYA TETAS TELUR IKAN KOMET (Carassius auratus auratus) PADA SUHU YANG BERBEDA Uswatun Khasanah; Laksmi Sulmartiwi; Rr. Juni Triastuti
Journal of Aquaculture and Fish Health Vol. 5 No. 3 (2016): JAFH Vol. 5 No. 3 September 2016
Publisher : Department of Aquaculture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (213.994 KB) | DOI: 10.20473/jafh.v5i3.11331

Abstract

Ikan komet (Carassius auratus auratus) merupakan ikan hias air tawar yang banyak dibudidayakan dan memiliki warna yang menarik. Produksi benih ikan komet belum bisa memenuhi tingkat permintaan pasar yang terus meningkat setiap tahunnya, sehingga perlu dilakukan peningkatan pada kegiatan pembenihan. Salah satu faktor yang memberikan pengaruh sangat besar terhadap tingginya kematian ikan pada kegiatan pembenihan adalah suhu. Suhu merupakan faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi pertumbuhan rata-rata serta menentukan waktu penetasan serta berpengaruh langsung pada proses perkembangan embrio. Secara umum fase awal kehidupan ikan merupakan fase yang paling sensitif dan mudah menjadi stres dalam menerima pengaruh lingkungan. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui pengaruh suhu terhadap embriogenesis telur ikan pelangi, waktu inkubasi telur ikan pelangi, dan suhu optimal untuk menghasilkan daya tetas maksimal telur ikan pelangi. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juni-Juli 2015 di Unit Pengembangan Budidaya Air Tawar (UPTBAT) Punten, Batu, Jawa Timur. Metode yang digunakan yaitu metode eksperimental. Variabel yang diamati adalah perkembangan embrio dan daya tetas telur ikan komet. Hasil penelitian menunjukkan bahwa suhu berpengaruh terhadap waktu perubahan fase embriogenesis dan waktu inkubasi telur ikan komet. Semua perlakuan suhu (22,5-29,5°C) merupakan suhu optimal pemeliharaan telur ikan komet. 
EFEK IMMUNOTOKSIK LOGAM BERAT MERKURI KLORIDA (HgCl2) TERHADAP PERUBAHAN UKURAN MELANO-MAKROFAG GINJAL IKAN MAS (Cyprinus carpio) Lailatul Mubarokah; Wahju Tjahjaningsih; Laksmi Sulmartiwi
Journal of Aquaculture and Fish Health Vol. 5 No. 3 (2016): JAFH Vol. 5 No. 3 September 2016
Publisher : Department of Aquaculture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (402.305 KB) | DOI: 10.20473/jafh.v5i3.11334

Abstract

Salah satu logam berat yang bersifat racun adalah merkuri. Salah satu jenis senyawa merkuri anorganik adalah merkuri klorida (HgCl2) yang dapat menyebabkan kerusakan pada hati, ginjal dan bersifat korosif pada usus. Paparan logam berat dalam perairan akan terakumulasi pada jaringan dalam organ ikan melalui aktivitas metabolisme dan proses bioabsorbtion. Organisme akuatik sangat baik digunakan sebagai indikator pencemaran logam dalam lingkungan perairan. Ikan mas sering direkomendasikan untuk indikator adanya polutan di perairan dan digunakan sebagai model eksperimental, karena ketersediaan dan kemampuan adaptasi yang baik terhadap kondisi laboratorium. Merkuri klorida (HgCl2) dapat menyebabkan efek immunotoksik yang akan menimbulkan respon imun dan perubahan behaviour ikan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah merkuri klorida dapat menyebabkan efek immunotoksik yang ditunjukkan dengan adanya perubahan ukuran melano-makrofag ginjal ikan mas. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode Rancangan Acak Lengkap (RAL) menggunakan empat perlakuan merkuri klorida (0, 0,01, 0,05 dan 0,1 ppm) dengan jumlah hewan uji yang digunakan adalah lima ekor setiap perlakuan dengan ulangan sebanyak lima kali. Parameter utama adalah perubahan ukuran melano- makrofag ginjal ikan mas. Parameter penunjang adalah perubahan behavior dan kualitas air. Kesimpulan yang didapat dari hasil penelitian ini adalah bahwa merkuri klorida dapat menyebabkan efek immunotoksik yang ditunjukkan dengan adanya perubahan ukuran melano-makrofag ginjal ikan mas (Cyprinus carpio). Perubahan ukuran melano-makrofag ginjal ikan mas yang terpapar merkuri klorida 0,01 ppm, 0,05 ppm, 0,1 ppm mengalami peningkatan dibanding ikan mas yang tidak terpapar merkuri klorida (0 ppm). 
In Vitro Cytotoxicity Test Reveals Non-toxic of Waste-based Scaffold on Human Hepatocyte Cells Oktantia Frenny Anggani; Aniek Setiya Budiatin; Laksmi Sulmartiwi; Muhammad Rahmad Royan
Journal of Aquaculture and Fish Health Vol. 10 No. 1 (2021): JAFH Vol 10 No. 1 February 2021
Publisher : Department of Aquaculture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jafh.v10i1.23424

Abstract

Scaffold, as one of the components for bone tissue engineering, requires formulated biomaterials that are both structurally and compositively similar to bone composition. Among others, chitosan, gelatin and chondroitin sulfate are known as potential candidates for scaffold composites that can be easily obtained from waste-based resources. This study aims to investigate the cytotoxicity of different scaffold composition and concentration regimes derived from waste-based chitosan, gelatine and chondroitin sulfate, in vitro. The composition regimes used were (Chitosan : Gelatin : Chondroitin Sulfate) 50 : 50 : 0 (A); 50 : 40 :10 (B); 50 : 35 : 15 (C); 50 : 30 : 20 (D); 50 : 25 : 25 (E). Meanwhile, the final concentrations of scaffold used were 2000, 1000, 500, 250, 100, 10 and 0,1 mg/ml. The different compositions and concentrations of scaffold was tested against Hepatocellular Carcinoma (Huh7it / Human Hepatocyte It). After 48-hour incubation in the scaffold solution, the percentage of cell viability was evaluated using 3-(4,5-dimethylthiazol-2yl)-5(3-carboxymethoxyphenyl)-2- (4-sulfophenyl)-2H-tetrazolium (MTT) assay. The result shows that there is no difference observed among different scaffold compositions on the cell viability (p > 0.05). However, different concentrations of scaffold show significant differences in cell viability in composition C and E (p < 0.01), suggesting possible dose- dependent effect of scaffold on cell viability. Overall, all the waste-based scaffold compositions show no toxicity against the Hepatocellular Carcinoma cells as exhibited by the cell viability that is above 70%, at least with the concentration up to 2000 mg/ml.
Molecular Identification and Phylogenetic Trees Reconstruction of Blue Swimming Crabs (Decapoda: Portunidae) from Pangpang Bay, Banyuwangi Sapto Andriyono; Reza Istiqomatul Hidayah; Laksmi Sulmartiwi; Andi Aliah Hidayani; Md. Jobaidul Alam
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 27, No 2 (2022): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/ik.ijms.27.2.93-100

Abstract

Crabs are a group of Decapoda (Portunidae) that act as keystone species from Pangpang Bay as the marine benthic organism. Besides having an ecological function, crab also provides essential components for human health. The crab identification technique is usually conducted based on morphology and anatomy characteristics, in which certain body parts as the key for identification. This study used two identification methods, i.e. morphological features and a molecular approach. Although morphological identification has been carried out, the molecular techniques provide better accuracy and, at the same time, provide additional information about the characteristics of mitochondrial DNA. The purpose of this study is to identify the blue swimming crab caught by a traditional fisherman at Pangpang Bay, Banyuwangi, based on mitochondrial DNA sequence on cytochrome c oxidase subunit I, and reconstructed the phylogenetic tree including genetic distance also was analysed. The nucleotide sequences of the COI gene were analysed by Chromas, Clustalω, Reverse-Complement, and the MegaX. The phylogenetic tree and genetic distance calculations were carried out using Mega X software through the Neighbor-Joining (NJ) Algorithm with the addition of several sequences from the NCBI online database. This study confirmed that the specimen of Pangpang Bay is Portunus pelagicus (BWIPP001 and BWIPP003) and Portunus sanguinolentus (BWIPP002). The species of P. pelagicus have 99.99% similarities with the same species (KJ168060) from China, while the P. sanguinolentus is close to the same species (EU284144) with a per cent identity is 99.97%. The genetic distance, for P. pelagicus and P. sanguinolentus, were in range of 0.00-0.066 and 0.00-0.005 respectively.
Co-Authors A. Shofy Mubarak Abang Aldhian R. Putera Ade Wahyu Pratama Adrian Damora Ahasan Habib Akhmad Taufiq Mukti Alfian Rahmadhani Satria Hani Saputra Aliffiansyah Rizky Ergion Andi Aliah Hidayani Andre Rekasana Bernathdo Mahendra Robbi Putra Bintang Eka Nugraha Satia Aditama Boedi Setya Rahardja Budiatin, Aniek Setiya Citra Rachmania Wardhani Clara Amelia Kusumawinahyu DARMAWAN SETIA BUDI Desi Nawang Purnamasari Diah Anggraini Wulandari Diah Trie Ridyaning Tias Dian Pebianti Diana Meritasari Dwi Retna Kumala Ningrum Dwi Yuli Pudjiastuti Dwi Yuli Pujiastuti Dwitha Nirmala Dyah Wahjuning Listyarini Eka Ainurrohmah Eka Saputra Endang Dewi Masithah Fatih Riantono Firdha Farah Pramesti Gunanti Mahasri Hari Suprapto Harryes, Regil Kentaurus Herlina Maya Saputri Himna Sayyyidatul Islamiyah Ida Bagus Putu Oka Dantika Indah Permata Sari Isnatul Umu Shohifah Khadijah Zai Kismiyati , Lailatul Lutfiyah, Lailatul Lailatul Mubarokah Mardiah Rahma Umami Mardya Syaifudin S Maulida Agustina Md. Jobaidul Alam Md. Jobaidul Alam Merdeka Agus Saputra Mochammad Amin Alamsjah Mohamad Akmal Alwi Husein Mohammad Faizal Ulkhaq Money Carattri Kusuma Werdani Muhammad Arief Muhammad Daffa Al Rasyid Nurhayati Muhammad Dzaky Muhammad Fauzan Muhammad Rahmad Royan Nazhry Zahra Arifah Netty Sreani Nindhita Yusvantika Norma Isnawati Nova Erika Novian Aji Pradana Oemar Moechthar Oktantia Frenny Anggani Patmawati Patmawati Pradityo Dwi Giartama Prayogo Prayogo Pristita Widyastuti Puput Puspitasari Rahayu Kusdarwati Raseetha Siva Raseetha Vani Siva Manikam Reza Istiqomatul Hidayah Rizky Aprilia Chrisanti Rr. Juni Triastuti Saltsa Arinda Putri Saniya Lailatul Qodriyah Sapta Wijayanti Sapto Andriyono Selvi Oktora Mahanani Sharilla Aryananti Abidin Shofy Mubarok Sri Harweni Sri Subekti Sudarno, Sudarno Syifa Fauziyah Tjahjaningsih, Wahju Uswatun Khasanah Veryl Hasan Widjiati w Woro Hastuti Setyantini Yaowapha Waiprib Yenta Kusuma Wardhani