cover
Contact Name
Syifania Hanifah Samara
Contact Email
jafh@fpk.unair.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jafh@fpk.unair.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Journal of Aquaculture and Fish Health
Published by Universitas Airlangga
ISSN : 23017309     EISSN : 25280864     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
The Journal of Aquaculture And Fish Health (JAFH) has an objective to publish and provide high-quality scientific contributions to the field of fisheries. These contributions came from innovative researches that encourage science and technology development in the field of fisheries and marine science on a national and international scale. This journal serves as a communication medium for researchers, academics, students, and communities.
Arjuna Subject : -
Articles 331 Documents
MANAJEMEN PASCA PANEN KULTUR MIKROALGA Porphyridium cruentum PADA SKALA LABORATORIUM DAN SKALA INTERMEDIET DI BALAI BESAR PERIKANAN BUDIDAYA AIR PAYAU, JEPARA JAWA TENGAH Ayu Dyah Amini Putri; Wahju Tjahjaningsih
Journal of Aquaculture and Fish Health Vol. 7 No. 3 (2018): JAFH Vol. 7 No. 3 September 2018
Publisher : Department of Aquaculture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (65.868 KB) | DOI: 10.20473/jafh.v7i3.11259

Abstract

Porphyridium cruentum merupakan salah satu jenis mikroalga dari kelas alga merah yang dapat memproduksi polisakarida dan mengandung beberapa pigmen. Pigmen yang terkandung di dalam P. cruentum memberikan kontribusi yang besar sebagai pewarna makanan dan pakan alami pada larva ikan. Salah satu pigmen yang terdapat pada P. cruentum adalah fikoeritrin. Tujuan praktek kerja lapang ini adalah mengetahui informasi, keterampilan lapangan dan masalah apa saja yang ada tentang manajemen pasca panen kultur mikroalga Porphyridium cruentum pada skala laboratorium dan skala intermediet di BBPBAP Jepara. Praktek Kerja Lapang ini telah dilaksanakan di Balai Besar Perikanan Budidaya Air Payau Jepara, Jawa Tengah pada tanggal 20 Januari - 20 Februari 2017. Metode kerja yang digunakan dalam praktek kerja lapang ini adalah metode deskriptif atau penguraian empiris dengan pendekatan kualitatif. Pengambilan data dilakukan dengan partisipasi aktif, wawancara, observasi dan studi pustaka. Kegiatan yang dilakukan selama praktek kerja lapang adalah proses sterilisasi alat dan bahan, mengkultur mikroalga, menghitung kepadatan mikroalga, memanen mikroalga, mengemas mikroalga, serta menganalisis kelayakan usaha. Berdasarkan perhitungan yang dilakukan, diperoleh pendapatan per siklus sebesar Rp14.760.000,00, Revenue Cost Ratio (R/C) adalah sebesar 1.835. Break Even Point (BEP) skala laboratorium sebesar 251.403 liter bibit, skala intermediet sebesar 12.570 liter bibit Payback period (PP) yang adalah 3.174 tahun atau 38.1 bulan 
PEMIJAHAN IKAN HIAS BOTIA (Chromobotia macracanthus Bleeker) SECARA BUATAN DENGAN INJEKSI HORMON HCG (HUMAN CHORIONIC GONADOTHROPIN) DAN LHRH-A (LUTEINIZING HORMONE RELEASING HORMONE ANALOG) Handian Febyadi Eka Putra; Seto Sugianto Prabowo Rahardjo; Asep Permana
Journal of Aquaculture and Fish Health Vol. 6 No. 3 (2017): JAFH Vol. 6 No. 3 September 2017
Publisher : Department of Aquaculture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (189.006 KB) | DOI: 10.20473/jafh.v6i3.11287

Abstract

Ikan botia (Chromobotia macracanthus Bleeker) merupakan ikan hias asli perairan Indonesia yang tepatnya berasal dari Sumatera dan Kalimantan. Ikan ini menjadi primadona dalam komoditas ikan hias karena keunikannya mulai dari bentuk tubuh, warna sampai bentuk mulutnya. Ikan botia merajai pasar ekspor dunia khususnya negara-negara Eropa. Namun hal tersebut tidak sebanding dengan ketersediaan ikan endemik ini. Saat ini, ikan botia yang diekspor masih mengandalkan tangkapan di alam. Balai Riset Budidaya Ikan Hias (BRBIH) Depok, Jawa Barat merupakan yang pertama dan satu-satunya balai yang dapat memijahkan ikan hias botia secara buatan dengan bantuan injeksi hormon HCG (Human Chorionic Gonadothropin) dan LHRH-a berupa ovaprim dan telah diproduksi secara massal. Pemijahan ikan botia dilakukan secara buatan dengan stimulasi hormon sebelum ikan distriping. Hal ini berfungsi untuk mengoptimalkan pemijahan mulai dari kualitas telur, sperma sampai perkembangan embrio sehingga meningkatkan produksi benih. Hasil yang didapat adalah rata-rata fekunditas di atas 5.000 telur, derajat pembuahan di atas 80%, derajat penetasan telur di atas 60% serta derajat kelulushidupan larva yang lebih dari 50%. 
Pengaruh Pemberian Pakan Mikro terhadap Pertumbuhan Larva Rajungan (Portunus pelagicus) seto sugianto prabowo rahardjo
Journal of Aquaculture and Fish Health Vol. 8 No. 1 (2019): JAFH Vol. 8 No. 1 Februari 2019
Publisher : Department of Aquaculture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (420.864 KB) | DOI: 10.20473/jafh.v8i1.11819

Abstract

ABSTRAKRajungan merupakan salah satu jenis dari kepiting suku Portunidae yang mempunyai banyak jenis dan dapat dikonsumsi. Meskipun berbeda dengan kepiting, rajungan termasuk salah satu biota laut dalam golongan krustase. Kelengkapan nutrisi dalam pakan diperlukan untuk menjaga agar pertumbuhan rajungan dapat berlangsung secara normal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian pakan alami dan pakan  buatan terhadap hatching rate (HR) dan survival rate (SR) larva rajungan (Portunus pelagicus). Metode penelitian ini secara deskriptif dengan menggunakan 3 perlakuan pemberian pakan yaitu rotifera (Brachionus plicatilis), pellet mikro dan pakan gabungan (rotifer dan pellet mikro). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pemberian pakan rotifera (Brachionus plicatilis), pellet mikro dan pakan gabungan (rotifer dan pellet mikro) berpengaruh terhadap hatching rate (HR) dan survival rate (SR) larva rajungan. Perlakuan pemberian pakan gabungan menunjukkan hasil terbaik yaitu hatching rate (HR) sebesar 95,44% dan survival rate (SR) sebesar 2,14%. Hal ini dikarenakan jumlah nilai gizi pada pakan alami dan pellet mikro (frippak#1 car) sangat baik untuk pertumbuhan larva rajungan. Keywords: Rotifera, Rajungan, Pellet mikro
TEKNIK PENDEDERAN KERANG ABALON (Haliotis squamata) DI BALAI BESAR PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN BUDIDAYA LAUT GONDOL-BALI Nizar Afiansyah Loekman; Abdul Manan; Muhammad Arief; Prayogo Prayogo
Journal of Aquaculture and Fish Health Vol. 7 No. 2 (2018): JAFH Vol. 7 No. 2 Juni 2018
Publisher : Department of Aquaculture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (81.79 KB) | DOI: 10.20473/jafh.v7i2.11252

Abstract

Kerang abalon merupakan salah satu komoditas laut yang memiliki nilai ekonomis tinggi, karena daya jualnya dipasar ekspor sudah terbukti hingga mencapai Rp 600.000,- / kg. Salah satu faktor pengembangan abalon menjadi suatu industri akuakultur di Indonesia disebabkan adanya permintaan konsumsi pasar yang terus meningkat, sementara itu jumlah pasokan produk budidaya masih terbatas dan masih mengandalkan penangkapan dari alam. Tujuan dari Praktek kerja Lapang adalah untuk mengetahui dan mempelajari Teknik Pendederan Kerang Abalon (Haliotis squamata) di Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Budidaya Laut Gondol-Bali. Kegiatan Praktek Kerja Lapang akan dilaksanakan di Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Budidaya Laut (BBPPBL) Dusun Gondol, Desa Penyabangan, Kecamatan Gerokgak, Kabupaten Buleleng, Bali, Provinsi Bali. Praktek Kerja Lapang dilaksanakan pada 18 Januari 2016 – 18 Februari 2016. Kegiatan ini menggunakan metode deskriptif dengan pengambilan data meliputi data primer dan data sekunder. Pengambilan data dilakukan dengan cara observasi, wawancara, partisipasi aktif, dan studi pustaka. Pendederan kerang abalon dilaksanakan oleh pihak Hatchery Abalon di Balai Penelitian dan Pengembangan Budidaya laut Gondol-Bali meliputi pemanenan juvenile, pemindahan ke keranjang pendederan, pemberian pakan, kualitas air, seleksi kerang abalon dan pemeliharaan. Kualitas pendederan kerang abalon yang dilakukan oleh BBPPBL Gondol-Bali sudah memenuhi standar yang baik untuk budidaya kerang abalon.
PENGARUH TEKNOLOGI AKUAPONIK DENGAN MEDIA TANAM SELADA (Lactuca sativa) YANG BERBEDA TERHADAP PERTUMBUHAN BELUT (Monopterus albus) Pipin Tri Anjani; Rahayu Kusdarwati; Sudarno Sudarno
Journal of Aquaculture and Fish Health Vol. 6 No. 2 (2017): JAFH Vol. 6 No. 2 Juni 2017
Publisher : Department of Aquaculture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (207.353 KB) | DOI: 10.20473/jafh.v6i2.11281

Abstract

Teknologi akuaponik merupakan teknologi kombinasi akuakultur dan hidroponik yang bertujuan untuk memelihara ikan dan tanaman dalam satu sistem yang saling terhubung (Sibarani, 2013). Limbah yang dihasilkan oleh ikan seperti feses dan pakan, digunakan sebagai pupuk untuk tanaman. Kemudian air yang dialirkan dari media pemeliharaan dibersihkan olah tanaman sehingga dapat digunakan kembali oleh ikan (Wahap,2010). Menurut Rokocy (2010) interaksi antara ikan dan tanaman menghasilkan lingkungan yang ideal untuk tumbuh sehingga lebih produktif dari metode tradisional.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh media tanam terhadap pertumbuhan belut (Monopterus albus) dalam sistem akuaponik. Penelitian ini dilakukan pada bulan Agustus sampai September 2016 di Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga. Percobaan terdiri dari empat perlakuan dan lima ulangan, tanpa media tanam sebagai kontrol ( P0), media tanam zeolit (P1), media tanam batu apung (P2) dan media tanam pecahan batu bata (P3). Hasil pengamatan yang didapatkan dari penggunaan teknologi akuaponik dengan media tanam selada terbaik yang dapat mempengaruhi pertumbuhan belut yaitu media tanam zeolit. Pada pengamatan menunjukkan laju pertumbuhan spesifik dengan media tanam zeolit (1,19%/hari), kelulushidupan belut dengan media tanam zeolit (70%), Penambahan tinggi selada pada media tanam zeolit ( 11,39 cm), dan kandungan amonia terendah pada media tanam zeolit pada hari ke-28 (0,03 mg/L). 
PENGARUH PEMBERIAN PROBIOTIK KOMERSIAL PADA PAKAN TERHADAP LAJU PERTUMBUHAN DAN EFISIENSI PAKAN UDANG VANAME (Litopenaeus vannamei) Syaiful Anwar; Muhammad Arief; Agustono Agustono
Journal of Aquaculture and Fish Health Vol. 5 No. 2 (2016): JAFH Vol. 5 No. 2 Juni 2016
Publisher : Department of Aquaculture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (259.028 KB) | DOI: 10.20473/jafh.v5i2.11321

Abstract

Udang vaname (Litopenaeus vannamei) merupakan suatu komoditas yang memiliki nilai ekonomis penting di Indonesia. Dari tahun ke tahun permintaan udang vaname akan terus meningkat. Salah satu cara untuk memenuhi kebutuhan permintaan udang vaname adalah peningkatan produksi dengan mempercepat pertumbuhan ikan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian probiotik komersial pada pakan terhadap pertumbuhan dan efisiensi pakan udang vaname. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental, yakni dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Udang vaname dipelihara selama 35 hari dengan sepuluh perlakuan dan tiga ulangan. Data yang diperoleh diolah menggunakan Analysis of Variance (ANOVA) dan dilanjutkan Uji Berjarak Duncan bila didapatkan hasil yang berbeda nyata. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa pemberian probiotik pada pakan menghasilkan laju pertumbuhan dan efisiensi pakan yang berbeda nyata (p<0,05). Pertumbuhan udang vaname (Litopenaeus Vannamei) yang terbaik terdapat pada perlakuan P9 sebesar 1,41 ± 0,08. Efisiensi pakan tertinggi terdapat pada perlakuan P9 sebesar 48,80 ± 1,23. 
Infestasi Ektoparait pada Ikan Nila (Oreochromis niloticus) yang Dipelihara dengan Menggunakan Sistem Akuaponik dan Tanpa Akuaponik Ewang Mahendra Putra; Gunanti Mahasri; Luthfiana Aprilianita Sari
Journal of Aquaculture and Fish Health Vol. 7 No. 1 (2018): JAFH Vol. 7 No. 1 Februari 2018
Publisher : Department of Aquaculture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (82.818 KB) | DOI: 10.20473/jafh.v7i1.11242

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis ektoparasit dan perbedaan infestasi ektoparasit pada ikan nila (Oreochromis niloticus) yang dipelihara pada sistem akuaponik dan tanpa akuaponik. Metode penelitian rnenggunakan kuasi eksperimen intact-group comparison dengan terdapat dua perlakuan. Hewan uji menggunakan ikan nila dengan bobot 6-7 g/ekor. Hewan uji dipelihara di akuarium kaca berukuran 40cmx30cmx30cm yang diisi air sebanyak 15 liter. Perlakuan yang diberikan berupa pemeliharaan ikan nila dengan menggunakan sistem akuaponik dan pemeliharaan ikan nila tanpa menggunakan sistem akuaponik. Parameter yang diamati adalah jenis ektoparasit dan infestasi ektoparasit pada ikan nila. Jenis parasit yang ditemukan menginfestasi ikan nila (Oreochromis niloticus) pada pemeliharaan dengan menggunakan akuaponik maupun tanpa akuaponik adalah Argulus sp. Terdapat perbedaan yang nyata antara infestasi ektoparasit pada ikan nila (Oreochromis niloticus) yang dipelihara dengan sistem akuaponik dan tanpa akuaponik. 
PENGARUH PEMBERIAN PROBIOTIK BERBEDA DALAM SISTEM AKUAPONIK TERHADAP FCR (FEED CONVERTION RATIO) DAN BIOMASSA IKAN LELE (Clarias sp.) Febryan Adi Sukoco; Boedi Setya Rahardja; Abdul Manan
Journal of Aquaculture and Fish Health Vol. 6 No. 1 (2017): JAFH Vol. 6 No. 1 Februari 2017
Publisher : Department of Aquaculture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (92.162 KB) | DOI: 10.20473/jafh.v6i1.11271

Abstract

Ikan lele (Clarias sp.) merupakan komoditas perikanan yang sangat populer di kalangan masyarakat Indonesia. Meningkatnya produksi ikan lele berakibat pada penambahan area lahan budidaya dan penggunaan air, sehingga perlu dibutuhkan suatu teknologi dalam budidaya ikan lele dengan padat tebar tinggi yang bisa diterapkan pada lahan sempit dan minimnya sumber air dengan pola manajemen yang efektif dan efesien. Teknologi yang sudah banyak diterapkan oleh pembudidaya untuk mengatasi masalah keterbatasan lahan adalah melakukan budidaya dengan sistem akuaponik. Namun bahan organik di dasar perairan mengalami penumpukkan. Usaha untuk mempertahankan kualitas air yaitu dengan probiotik. Manfaat probiotik bagi ikan dapat melalui mekanisme fungsi protektif, yaitu kemampuan bakteri untuk menghambat bakteri patogen dalam saluran pencernaan dan terbentuknya kolonisasi probiotik dalam saluran pencernaan sehingga akan mengakibatkan kompetisi nutrisi antara probiotik dan bakteri lain, khususnya bakteri pathogen. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian probiotik berbeda pada sistem akuaponik terhadap FCR dan biomassa ikan lele serta mengetahui probiotik komersil terbaik. Penelitian ini dilaksanakan di Fakultas Perikanan dan Kelautan, Universitas Airlangga. Menggunakan metode eksperimental dengan rancangan acak lengkap. Perlakuan yang digunakan yaitu tanpa pemberian probiotik (P0) dan dengan penambahan probiotik berbeda yaitu probiotik A (P1), probiotik B (P2) dan Probiotik C (P3). Analisis data diolah dengan ANOVA dan Uji Jarak Berganda Duncan. Hasil dari penelitian ini adalah pemberian probiotik berbeda dalam sistem akuaponik berpengaruh terhadap FCR dan biomassa ikan lele. FCR terendah (0,9908) dan biomassa tertinggi (2,510) terdapat pada perlakuan P2. FCR tertinggi (1,5150) dan biomassa terendah (1,654) terdapat pada perlakuan P0 (kontrol). 
Pengaruh Pemberian Bakteri Hetrotrof Terhadap Kualitas Air pada Budidaya Lele Dumbo (clarias sp.) Tanpa Pergantian Air Dwi Ernawati; Prayogo Prayogo; Boedi Setya Rahardja
Journal of Aquaculture and Fish Health Vol. 5 No. 1 (2016): JAFH Vol. 5 No. 1 Februari 2016
Publisher : Department of Aquaculture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (198.113 KB) | DOI: 10.20473/jafh.v5i1.11314

Abstract

Ikan lele dumbo (Clarias sp.) sebagai komoditas air tawar memiliki permintaan yang tinggi. Salah satu cara untuk memenuhi kebutuhan permintaan lele dumbo adalah perbaikan kualitas air sehingga produktifitas ikan semakin meningkat. Tujuan penelitian guna mengetahui pengaruh dari pemberian probiotik yang mengandung bakteri heterotrof berbeda pada perairan dan pengaruhnya terhadap kadar ammonia dan kadar nitrit pada media budidaya lele dumbo. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental Rancangan Acak Lengkap (RAL). Ikan lele dumbo dipelihara selama 30 hari dengan empat perlakuan dan empat ulangan yaitu P1 (kontrol), P2 (probiotik A), P3 (probiotik B), dan P4 (probiotik C). Datahasil penelitian diolah menggunakan Analysis of Variance dan dilanjutkan Uji Berjarak Duncan karena didapatkan hasil yang berbeda nyata. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa pemberian probiotik yang mengandung bakteri heterotrof pada perairan mampu menekan produksi amonia dan nitrit yang berbeda nyata (p<0,05). Produksi kadar ammonia terendah adalah P4 sebesar 0,2093 ± 0,01483, dan tertinggi pada P1 sebesar 0,2641±0,01357. Produksi kadar nitrit terendah pada P4 sebesar 0,0509 ± 0,00644, dan tertinggi pada P1 sebesar 0, 0988± 0,00404. 
EFEK IMMUNOTOKSIK LOGAM BERAT MERKURI KLORIDA (HgCl2) TERHADAP PERUBAHAN UKURAN MELANO-MAKROFAG GINJAL IKAN MAS (Cyprinus carpio) Lailatul Mubarokah; Wahju Tjahjaningsih; Laksmi Sulmartiwi
Journal of Aquaculture and Fish Health Vol. 5 No. 3 (2016): JAFH Vol. 5 No. 3 September 2016
Publisher : Department of Aquaculture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (402.305 KB) | DOI: 10.20473/jafh.v5i3.11334

Abstract

Salah satu logam berat yang bersifat racun adalah merkuri. Salah satu jenis senyawa merkuri anorganik adalah merkuri klorida (HgCl2) yang dapat menyebabkan kerusakan pada hati, ginjal dan bersifat korosif pada usus. Paparan logam berat dalam perairan akan terakumulasi pada jaringan dalam organ ikan melalui aktivitas metabolisme dan proses bioabsorbtion. Organisme akuatik sangat baik digunakan sebagai indikator pencemaran logam dalam lingkungan perairan. Ikan mas sering direkomendasikan untuk indikator adanya polutan di perairan dan digunakan sebagai model eksperimental, karena ketersediaan dan kemampuan adaptasi yang baik terhadap kondisi laboratorium. Merkuri klorida (HgCl2) dapat menyebabkan efek immunotoksik yang akan menimbulkan respon imun dan perubahan behaviour ikan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah merkuri klorida dapat menyebabkan efek immunotoksik yang ditunjukkan dengan adanya perubahan ukuran melano-makrofag ginjal ikan mas. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode Rancangan Acak Lengkap (RAL) menggunakan empat perlakuan merkuri klorida (0, 0,01, 0,05 dan 0,1 ppm) dengan jumlah hewan uji yang digunakan adalah lima ekor setiap perlakuan dengan ulangan sebanyak lima kali. Parameter utama adalah perubahan ukuran melano- makrofag ginjal ikan mas. Parameter penunjang adalah perubahan behavior dan kualitas air. Kesimpulan yang didapat dari hasil penelitian ini adalah bahwa merkuri klorida dapat menyebabkan efek immunotoksik yang ditunjukkan dengan adanya perubahan ukuran melano-makrofag ginjal ikan mas (Cyprinus carpio). Perubahan ukuran melano-makrofag ginjal ikan mas yang terpapar merkuri klorida 0,01 ppm, 0,05 ppm, 0,1 ppm mengalami peningkatan dibanding ikan mas yang tidak terpapar merkuri klorida (0 ppm). 

Page 5 of 34 | Total Record : 331


Filter by Year

2013 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 14 No. 3 (2025): JAFH Vol. 14 No. 3 September 2025 Vol. 14 No. 2 (2025): JAFH Vol. 14 No. 2 June 2025 Vol. 14 No. 1 (2025): JAFH Vol. 14 No. 1 February 2025 Vol. 13 No. 3 (2024): JAFH Vol. 13 No. 3 September 2024 Vol. 13 No. 2 (2024): JAFH Vol. 13 No. 2 June 2024 Vol. 13 No. 1 (2024): JAFH Vol. 13 No. 1 February 2024 Vol. 12 No. 3 (2023): JAFH Vol. 12 No 3 September 2023 Vol. 12 No. 2 (2023): JAFH Vol. 12 No. 2 June 2023 Vol. 12 No. 1 (2023): JAFH Vol. 12 No. 1 February 2023 Vol. 11 No. 3 (2022): JAFH Vol. 11 No. 3 September 2022 Vol. 11 No. 2 (2022): JAFH Vol. 11 No. 2 June 2022 Vol. 11 No. 1 (2022): JAFH Vol. 11 No. 1 February 2022 Vol. 10 No. 3 (2021): JAFH Vol. 10 No. 3 September 2021 Vol. 10 No. 2 (2021): JAFH Vol. 10 No. 2 June 2021 Vol. 10 No. 1 (2021): JAFH Vol 10 No. 1 February 2021 Vol. 9 No. 3 (2020): JAFH Vol. 9 No. 3 September 2020 Vol. 9 No. 2 (2020): JAFH Vol. 9 No. 2 June 2020 Vol. 9 No. 1 (2020): JAFH Vol. 9 no. 1 February 2020 Vol. 8 No. 3 (2019): JAFH vol. 8 no. 3 September 2019 Vol. 8 No. 2 (2019): JAFH vol. 8 no. 2 Juni 2019 Vol. 8 No. 1 (2019): JAFH Vol. 8 No. 1 Februari 2019 Vol. 7 No. 3 (2018): JAFH Vol. 7 No. 3 September 2018 Vol. 7 No. 2 (2018): JAFH Vol. 7 No. 2 Juni 2018 Vol. 7 No. 1 (2018): JAFH Vol. 7 No. 1 Februari 2018 Vol. 6 No. 3 (2017): JAFH Vol. 6 No. 3 September 2017 Vol. 6 No. 2 (2017): JAFH Vol. 6 No. 2 Juni 2017 Vol. 6 No. 1 (2017): JAFH Vol. 6 No. 1 Februari 2017 Vol. 5 No. 3 (2016): JAFH Vol. 5 No. 3 September 2016 Vol. 5 No. 2 (2016): JAFH Vol. 5 No. 2 Juni 2016 Vol. 5 No. 1 (2016): JAFH Vol. 5 No. 1 Februari 2016 Vol. 3 No. 1 (2014): JAFH Vol. 3 No. 1 January 2014 Vol. 2 No. 1 (2013): JAFH Vol 2 No 1 Februari 2013 More Issue