cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
JHECDs: Journal of Health Epidemiology and Communicable Diseases
ISSN : 25020447     EISSN : 25035134     DOI : -
Core Subject : Health,
JHECDs accept and publish 5 (five) original and review papers within health epidemiology and communicable diseases subject. Any other papers broader than previously mentioned but still related to communicable diseases (e.g economic or policy study related to communicable diseases) are considerable. JHECDs is scheduled publishs twice a year (June and December).
Arjuna Subject : -
Articles 62 Documents
Kajian literatur: Dampak perubahan iklim terhadap timbulnya penyakit tular nyamuk terutama Limfatik Filariasis Risqa Novita
JHECDs: Journal of Health Epidemiology and Communicable Diseases Vol 5 No 1 (2019): JHECDs Vol. 5, No. 1, Juni 2019
Publisher : Balai Litbangkes Tanah Bumbu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/jhecds.v5i1.1583

Abstract

Lingkungan memberikan kontribusi terbesar sebesar 45% terhadap status kesehatan seseorang dibandingkan faktor lainnya seperti perilaku sebesar 30%, pelayanan kesehatan sebesar 20% dan keturunan sebesar 5%. Kondisi kesehatan lingkungan di Indonesia masih rendah, yang dibuktikan dengan rendahnya pencapaian indikator kesehatan lingkungan dan masih menjadi masalah kesehatan tertinggi yang disebabkan oleh kondisi lingkungan yang buruk. Perubahan iklim menimbulkan peningkatan mosquito borne diseases terutama penyakit Limfatik Filariasis yang ditularkan oleh nyamuk Aedes sp, Anopheles sp, Culex sp dan Mansonia sp. Tujuan penulisan review artikel ini adalah untuk mengetahui dampak perubahan iklim dengan kejadian mosquito borne diseases, terutama Limfatik Filariasis. Studi ini berupa review dari literatur di Google dan Pubmed yang dicari melalui pencarian kata kunci yaitu kesehatan lingkungan, perubahan iklim, mosquito borne diseases dan Limfatik Filariasis. Berdasarkan analisis terhadap literatur diketahui bahwa kesehatan lingkungan merupakan suatu standar yang harus dicapai untuk terciptanya kesehatan manusia. Variabel perubahan iklim yang berpengaruh terhadap perkembangan nyamuk perantara Limfatik filariasis adalah temperatur dan presipitasi. Temperatur sebesar 33.50C dan presipitasi 600 mm optimal untuk perkembangan nyamuk. Kesimpulan. Perubahan iklim dapat berpengaruh terhadap kejadian penyakit mosquito borne diseases terutama Limfatik Filariasis. Nyamuk perantara Limfatik filariasis bersifat ektoterm yang bergantung dengan perubahan iklim. Kata kunci : Kesehatan lingkungan, Limfatik Filariasis, mosquito borne diseases, perubahan iklim
Kearifan lokal dalam pemanfaatan tumbuhan untuk mengatasi malaria oleh pengobat tradisional di Sumatera Selatan Indah Margarethy; Yahya Yahya; Milana Salim
JHECDs: Journal of Health Epidemiology and Communicable Diseases Vol 5 No 2 (2019): JHECDs Vol. 5, No. 2, Desember 2019
Publisher : Balai Litbangkes Tanah Bumbu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/jhecds.v5i2.2088

Abstract

Malaria merupakan masalah kesehatan di Indonesia terutama pada masyarakat perdesaan. Pada tahun 2015 angka Annual Paracite Insidence di Provinsi Sumatera Selatan sebesar 0,26. Penelitian ini bertujuan menganalisis data penggunaan tumbuhan obat untuk malaria pada Suku Teloko, Daya, Pegagan, Meranjat dan Lintang di Provinsi Sumatera Selatan. Data diperoleh dari hasil penelitian Riset khusus Tanaman obat dan Jamu tahun 2015 melalui tim manajemen data Badan Litbang Kesehatan. Informan penelitian ini sebanyak 14 battra dari Suku Taleko, Daya, Pegagan, Meranjat dan Lintang. Jenis tumbuhan yang digunakan untuk pengobatan malaria pada Suku Teloko, Daya, Pegagan, Meranjat dan Lintang terdiri dari 21 jenis. Brotowali (Tinospora crispa (L)) merupakan tumbuhan yang paling banyak digunakan battra sebagai ramuan pengobatan malaria. Bagian tumbuhan yang paling banyak digunakan adalah daun. Battra memperoleh tumbuhan obat dengan mencari di sekitar tempat tinggal, namun masih ada beberapa tumbuhan yang harus didapatkan di dalam hutan. Tidak ada upaya melestarikan tumbuhan obat yang sudah langka dan sulit didapatkan dari dalam hutan seperti daun Tedimfuk (Claoxylon indicum (Reinw. Ex Blume) Hassk) dan Lengkenai duduk (Unidentiified). umbuhan obat yang masih bisa didapatkan di dalam hutan seperti daun Belidang seni (Unidentiified) dilestarikan battra dengan menanam di perkarangan/kebun. Simpulan dari tulisan ini bahwa tumbuhan obat untuk malaria yang habitatnya di hutan dan sudah sulit ditemukan menjadi alasan battra tidak dapat melestarikannnya maka perlu pemberdayaan masyarakat pada suku-suku di Sumatera Selatan tentang manfaat apotik hidup, sehingga masyarakat termotivasi memanfaatkan kebun dengan ditanami tumbuhan obat dan mewariskan pengetahuan mengenai tumbuhan obat ke generasi selanjutnya.
Analisis faktor yang berhubungan dengan ketepatan waktu vaksinasi Meningitis Meningokokus calon jamaah umroh di KKP Pontianak RHEZKA IMANIAR FITRANTO; Andri Dwi Hernawan; Mardjan Mardjan
JHECDs: Journal of Health Epidemiology and Communicable Diseases Vol 5 No 2 (2019): JHECDs Vol. 5, No. 2, Desember 2019
Publisher : Balai Litbangkes Tanah Bumbu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/jhecds.v5i2.2165

Abstract

Berdasarkan peraturan dari Pemerintah Indonesia, pemberian vaksinasi Meningitis Meningokokus bagi calonjamaah umroh wajib dilakukan minimal 30 hari sebelum keberangkatan, hal ini dilakukan agar antibody para jamaah dapat terbentuk dengan sempurna pada saat keberangkatan umroh. Namun dalam praktiknya, proporsi jamaah umroh yang melakukan vaksinasi tidak tepat waktu di Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas II Pontianak cukup tinggi dan semakin meningkat setiap tahunnya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan ketepatan waktu vaksinasi pada calon jamaah umroh di KKP Kelas II Pontianak, penelitian dilakukan dengan desain Cross Sectional dan teknik Accidental Sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara terhadap 84 responden, yang selanjutnya dianalisa dengan menggunakan uji statistik Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan bermakna antara pengetahuan (p-value=0,028), sikap (p-value=0,002) dan keterpaparan informasi (p-value=0,043), serta tidakterdapat hubungan antara kondisi kesehatan (p-value=0,427) dan dukungan travel (p-value=0,283) dengan ketepatan waktu vaksinasi Meningitis Meningokokus pada calon jamaah umroh di KKP Kelas II Pontianak. Diseminasi informasi tentang pentingnya pelaksanaan vaksinasi yang tepat waktu melalui berbagai media cetak dan elektronik hendaknya dapat lebih ditingkatkan, sehingga calon jamaah umroh dapat mengetahui dan menyadari pentingnya ketepatan waktu dalam pemberian vaksinasi Meningitis Meningokokus.
Pengetahuan, sikap, dan perilaku pekerja hutan terhadap malaria di Desa Miing Kabupaten Tanah Bumbu Gusti Meliyanie; Nita Rahayu; Harninda Kusumaningtyas
JHECDs: Journal of Health Epidemiology and Communicable Diseases Vol 5 No 2 (2019): JHECDs Vol. 5, No. 2, Desember 2019
Publisher : Balai Litbangkes Tanah Bumbu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/jhecds.v5i2.2347

Abstract

Beberapa upaya yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Tanah Bumbu untuk menurunkan angka APIantara lain mass blood survey dan pengendalian malaria pada pekerja hutan di Kabupaten Tanah Bumbu. Pencegahan penyakit malaria yang telah dilakukan oleh pekerja hutan pada saat berada di lokasi belum diketahui secara jelas. Berdasarkan latar belakang tersebut mendorong peneliti untuk meneliti pengetahuan, sikap, dan perilaku terhadap malaria pada pekerja hutan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengetahuan, sikap, dan perilaku pekerja hutan terhadap malaria di Desa Miing Kecamatan Kusan Hulu Kabupaten Tanah Bumbu. Metode penelitian menggunakan kuantitatif desain potong lintang, jenis penelitian analitik, populasinya seluruh pekerja hutan. Sampel yang dianalisa adalah bersedia diwawancarai dan diambildarahnya untuk diperiksa parasit malaria. Penarikan sampel dilakukan secara purposive sampling dengan jumlah sampel 110 responden, sesuai dengan kriteria inklusi dan ekslusi. Hasil Mass Blood Survei dari 110 slide tidak ditemukan positif malaria. Karakteristik pekerja terdiri dari 84% laki-laki, 36% berusia 15-25 tahun, tidak bersekolah 52%. Hasil wawancara pengetahuan, sikap, dan perilaku responden yang berhasil di wawancara sebanyak 25 responden, karena sebagian besar responden tidak bersedia diwawancara, hanya bersedia diambil darahnya dengan alasan masih bekerja. Sebagian besar 84% tidak tahu penyebab malaria, 80% setuju penyakit malaria itu berbahaya, 80% memilih berobat sendiri dengan ramuan tradisional. Upaya pengendalian malaria telah dilakukan Dinas Kesehatan Kabupaten Tanah Bumbu melalui penemuan penderita secara dini dan pengobatan. Hasil Upaya lainnya untuk meningkatkan pengetahuan, sikap, dan perilaku pekerja tambang adalah dengan penyuluhan dan sosialisasi dan menjadikan ketua kelompok pekerja sebagai kader malaria.
Front Matter Vol 5 No 2 (2019): JHECDs Vol. 5, No. 2, Desember 2019 jhecds managerxot
JHECDs: Journal of Health Epidemiology and Communicable Diseases Vol 5 No 2 (2019): JHECDs Vol. 5, No. 2, Desember 2019
Publisher : Balai Litbangkes Tanah Bumbu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/jhecds.v5i2.2775

Abstract

Hubungan suhu, curah hujan, kelembaban udara, dan kecepatan angin dengan kejadian ISPA di Kota Banjarmasin selama 2012 – 2016 Hadrianti Lasari; Laily Khairiyati; Rudi Fakhriadi; Noor Ahda Fadillah
JHECDs: Journal of Health Epidemiology and Communicable Diseases Vol 6 No 1 (2020): JHECDs Vol. 6, No. 1, Juni 2020
Publisher : Balai Litbangkes Tanah Bumbu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/jhecds.v6i1.2588

Abstract

Infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) adalah infeksi saluran pernafasan akut yang menyerang tenggorokan, hidung dan paru-paru yang berlangsung kurang lebih 14 hari. Berdasarkan data Riskesdas tahun 2013 Kalimantan Selatan termasuk urutan 6 besar tertinggi kasus ISPA di Indonesia dengan period pravelance 28% serta paling tinggi kasus di antara provinsi di pulau Kalimantan. Banjarmasin dengan jumlah kasus tertinggi ISPA terhadap masyarakat kota setempat mencapai 76.635 kasus. Rancangan penelitian yang digunakan adalah observasional analitik dengan rancangan studi ekologi menurut waktu (Time Trend Study) dengan sampel seluruh penderita ISPA di Kota Banjarmasin. Instrumen penelitian yang digunakan adalah lembar observasi dan dokumen kasus kejadian ISPA. Analisis data dengan menggunakan uji korelasi Pearson. Hasil analisis data pada variabel curah hujan didapatkan nilai p = 0,325 (p > 0,05), variabel suhu dengan nilai p = 0,446 (p > 0,05), kelembaban nilai p = 0,653 (p > 0,05), kecepatan angin nilai p = 0,307 (p > 0,05) dan arah angin nilai p = 0,618 (p > 0,05). Kesimpulan dari penelitian ini tidak terdapat hubungan yang signifikan antara curah hujan, suhu, kelembaban, dan kecepatan angin dengan kasus ISPA di Kota Banjarmasin tahun 2012-2016.
Dampak infeksi Salmonella sp. dalam daging ayam dan produknya terhadap kesehatan masyarakat Engki Zelpina; Septa Walyani; Aji Barbora Niasono; Fitri Hidayati
JHECDs: Journal of Health Epidemiology and Communicable Diseases Vol 6 No 1 (2020): JHECDs Vol. 6, No. 1, Juni 2020
Publisher : Balai Litbangkes Tanah Bumbu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/jhecds.v6i1.2771

Abstract

Daging ayam dan produknya adalah makanan yang banyak disukai dan dikonsumsi oleh masyarakat karena kaya akan nutrisi yang dibutuhkan. Namun, bahan pangan ini bersifat mudah mengalami kerusakan apabila tidak mendapat perlakuan yang tepat. Salah satu cemaran dalam daging ayam dan produk olahannya adalah adanya kontaminasi bakteri patogen Salmonella sp. yang menyebabkan foodborne disease. Bakteri ini dilaporkan sudah resisten terhadap beberapa golongan antibiotika sehingga berpotensi berbahaya bagi kesehatan masyarakat. Tujuan penulisan ini untuk mengetahui dampak infeksi Salmonella sp. dalam daging ayam dan produknya yang menyebabkan salmonellosis pada manusia. Artikel ini berdasarkan literatur review beberapa hasil penelitian dan laporan terkait keberadaan Salmonella sp. pada daging ayam dan produknya. Kata kunci yang digunakan dalam pencarian artikel pada sciencedirect.com, google scholar, Elsevier, Scopus adalah “Salmonella in chicken meat and product”. Artikel yang dikumpulkan terkait dengan Salmonella sp. pada daging ayam yang berjumlah 250 artikel. Selanjutnya dipilih berdasarkan habitat dan distribusi, cemaran pada daging ayam dan produknya, dampak, tindakan pencegahan dan pengendalian Salmonella sp. sehingga ditemukan 91 artikel yang relevan dengan tujuan penulisan artikel dari terbitan tahun 2002-2020. Insidensi salmonellosis pada manusia mencapai 93,8 juta kasus per tahun. Tingginya kasus tersebut disebabkan oleh rendahnya penerapan higiene sanitasi dan higiene personal dalam penanganan daging ayam dan produknya. Penanganan yang tepat terhadap produksi daging ayam dan produknya dapat mendukung penyediaan bahan pangan asal hewan yang aman, sehat, utuh dan halal serta layak dikonsumsi oleh masyarakat.
Hubungan antara pengetahuan, sikap, dan perilaku dengan kasus cacingan anak sekolah dasar di Kabupaten Balangan Provinsi Kalimantan Selatan Nita Rahayu; Gusti Meliyanie; Harninda Kusumaningtyas
JHECDs: Journal of Health Epidemiology and Communicable Diseases Vol 6 No 2 (2020): JHECDs Vol. 6, No. 2, Desember 2020
Publisher : Balai Litbangkes Tanah Bumbu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/jhecds.v6i2.2774

Abstract

Penyakit kecacingan di Indonesia masih merupakan masalah kesehatan masyarakat karena prevalensinya yang masih sangat tinggi yaitu antara 45-65%. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi dan hubungan antara pengetahuan, sikap dan perilaku dengan angka kecacingan pada anak Sekolah Dasar (SD) di 30 SD di Kabupaten Balangan, provinsi Kalimantan Selatan selama 4 bulan yaitu bulan Juli sd Oktober 2019. Penelitian ini merupakan penelitian observasi dengan menggunakan disain cross sectional study. Data dikumpulkan dengan cara wawancara pada anak sekolah dasar dan pengambilan sampel tinja dari 502 siswa SD. Pemeriksaan tinja dilakukan di Lapangan dengan penggunakan metode Kato Katz. Pengumpulan tinja dilakukan selama tiga hari berturut-turut setelah kunjungan ke sekolah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 502 sampel, 8 sampel positif terinfeksi cacing. Jenis cacing paling dominan menginfeksi adalah Enterobius vermicularis (62.5%). Prevalensi kecacingan pada anak SD di Kabupaten Balangan sebesar 1,59%. Ada hubungan antara perilaku dengan angka kecacingan pada anak SD dengan p = 0,049 ; sedangkan pengetahuan dan sikap tidak ada hubungan dengan angka kecacingan pada anak SD dengan p value > 0,05 (p = 0,283, p = 0,637).
Epidemiologi penyakit Rabies di Provinsi Kalimantan Barat Riky Hamdani; Puhilan Puhilan
JHECDs: Journal of Health Epidemiology and Communicable Diseases Vol 6 No 1 (2020): JHECDs Vol. 6, No. 1, Juni 2020
Publisher : Balai Litbangkes Tanah Bumbu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/jhecds.v6i1.2936

Abstract

Rabies merupakan salah satu penyakit zoonosis yang menjadi prioritas di Indonesia. Saat ini, sebanyak 26 provinsi di Indonesia masih endemis rabies. Provinsi Kalimantan Barat adalah salah satu provinsi di Indonesia yang endemis rabies. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menggambarkan prevalensi kasus gigitan hewan penular rabies, populasi hewan penular rabies, cakupan vaksinasi hewan penular rabies dan kasus kematian yang disebabkan oleh gigitan hewan penular rabies. Penelitian ini menggunakan tahun 2017 sebesar 8,57%. Jumlah kasus kematian yang disebabkan oleh gigitan hewan penular rabies di Provinsi Kalimantan Barat mengalami peningkatan setiap tahunnya, jumlah pada tahun 2015 sebesar 0%, tahun 2016 sebesar 0,68% dan tahun 2017 sebesar 0,9%. Tingginya prevalensi kasus rabies di Provinsi Kalimantan Barat menunjukkan belum optimalnya program pemberantasan. Oleh karena itu, diperlukan peningkatan pelaksanaan program terutama dalam hal eliminasi anjing liar dan pelaksanaan vaksinasi terhadap hewan penular rabies. metode penelitian kuantitatif dengan pendekatan analisis data sekunder. Hasil penelitian menunjukkan prevalensi kasus gigitan hewan penular rabies di Provinsi Kalimantan Barat mengalami peningkatan setiap tahunnya, prevalensi kasus pada tahun 2015 sebesar 0,3/10.000 penduduk, tahun 2016 sebesar 3,36/10.000 penduduk, dan pada tahun 2017 sebesar 4,35 per 10.000 penduduk. Populasi hewan penular rabies di Provinsi Kalimantan Barat mengalami peningkatan setiap tahunnya, populasi hewan penular rabies pada tahun 2015 sebesar 6.142 ekor, tahun 2016 sebesar 8.083 ekor, dan pada tahun 2017 sebesar 9.600 ekor. Persentase Hewan penular rabies yang divaksin pada 3 tahun terakhir mengalami penurunan, persentase hewan penular rabies yang divaksin pada tahun 2015 sebesar 34,40%, tahun 2016 sebesar 25,42% dan tahun 2017 8,57%. Jumlah Kasus kematian akibat gigitan hewan tertular rabies di Provinsi Kalimantan Barat mengalami peningkatan setiap tahun, jumlahnya pada tahun 2015 adalah 0%, tahun 2016 sebesar 0,68% dan tahun 2017 sebesar 0,9%. Prevalensi kasus rabies yang tinggi di Kalimantan Barat Provinsi menunjukkan bahwa program pemberantasan belum optimal. Oleh karena itu, perlu peningkatan implementasi khususnya dalam hal eliminasi anjing liar dan pelaksanaan vaksinasi terhadap hewan yang tertular rabies.
The Determinants of Sexually Transmitted Infections (STIs) among Female Sex Workers (FSWs) in Indonesia: The Literature Review Abil Rudi; Yunida Haryanti; Lea Masan; Maretalinia Maretalinia; Aris Yulianto
JHECDs: Journal of Health Epidemiology and Communicable Diseases Vol 6 No 1 (2020): JHECDs Vol. 6, No. 1, Juni 2020
Publisher : Balai Litbangkes Tanah Bumbu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/jhecds.v6i1.3108

Abstract

STIs is the 10 biggest serious disease in many developing countries, primarily among FSWs (female sex workers). Additionally, the Ministry of Health Indonesia in January-March 2017 reported Female Sex Worker is the highest risk population (8.765 cases) regarding to syndrome approach and laboratory examination to have STIs with diagnosing outcome. The objective of this study is to conduct a literature review and to examine the determinants of STIs among FSWs as found in the published papers. The subject of this study is female sex workers in Indonesia. This study used literature review from six internet data based (Scopus, Medline, Google Scholar, ProQuest, CINAHL, and PubMed). It got 183 scientific articles and selected 17 based on inclusion criteria. The articles chronicled by inclusion criteria in the revised PRISMA flow diagram of article review and inclusion and review by Social Cognitive Theory (SCT). The selected articles were published between 1997 to 2016. Variables which reviewed consist of: cognitive/personal factors which were found are age (14 of 17), education (7 of 17), duration of sex work (7 of 17), behaviour factors which found condom use (8 of 17), number of client (7 of 17), past symptoms (3 of 17), environmental factors which found sex venue (2 of 17), place of origin (2 of 17), and protection (1 of 17). Strongly determinants related to STIs among FSWs in Indonesia are age, education, duration of sex work, condom use, number of clients, past symptoms, sex venue, place of origin, and protection.