cover
Contact Name
Vincent Wenno
Contact Email
vincentkalvin@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal.kenosis@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota ambon,
Maluku
INDONESIA
KENOSIS: Jurnal Kajian Teologi
ISSN : 24606901     EISSN : 26564483     DOI : -
Jurnal Kenosis bertujuan untuk memajukan aktifitas dan kreatifitas karya tulis ilmiah melalui media penelitian dan pemikiran kritis analitis di bidang kajian Teologi serta ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan Teologi yang diterbitkan oleh Fakultas Ilmu Sosial Keagamaan Institut Agama Kristen Negeri Ambon.
Arjuna Subject : -
Articles 130 Documents
Analisis Konflik dalam Narasi Pertikaian Sara dan Hagar dalam Kejadian 16:1-16 Sonny Eli Zaluchu; Ayu Aditiarani Seniwati
KENOSIS: Jurnal Kajian Teologi Vol 6, No 2 (2020): KENOSIS: JURNAL KAJIAN TEOLOGI
Publisher : IAKN Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37196/kenosis.v6i2.190

Abstract

Conflict is the central theme in this paper by raising the narrative of the dispute between Sara and Hagar in Genesis 16: 1-16 about the birth of Isaac and Ishmael. This paper aims to discuss the dynamics of the ongoing conflict between Sara and Hagar by relying on narrative and using several contexts close to the central theme. The author uses a narrative approach to discuss and analyze. The dispute between Sara and Hagar was a narrative in the style of the Yahwista writers of Genesis. It can see in the analysis that the narrative writer of the Book of Genesis 16: 1-16 uses conflict as a drive for the plot in composing themes. Abraham did not resolve the dispute. Sara and Hagar could not be reconciled and coexist comfortably. In the end, Hagar expelled by Abraham and went on his way of life. The impact of Abraham's failure to reconcile his two wives led to disharmony of relations between his descendants today in the Middle East. The findings also show that conflict management in this narrative is not visible. Abraham, as the head of the family, could be said to have failed to manage the dynamics of his marriage. But on the other hand, the analysis also concludes that the conflict shows God's intervention to bring about the results of His covenant to Abraham regarding the offspring born from the womb of Sarah, his wife.Abstrak Konflik adalah tema sentral di dalam paper ini dengan mengangkat narasi pertikaian antara Sara dan Hagar di dalam Kejadian 16:1-16 di seputar kelahiran Ishak dan Ismael. Paper ini bertujuan membahas dinamika konflik yang berlangsung antara Sara dan Hagar dengan mengandalkan narasi dan menggunakan beberapa konteks yang dekat dengan tema pokok. Penulis menggunakan metode pendekatan naratif untuk melakukan pembahasan dan analisis. Hal ini dilakukan karena pertikaian Sara dan Hagar adalah sebuah narasi yang menjadi gaya para penulis kitab Kejadian dari kelompok Yahwista. Di dalam analisis, penulis narasi Kitab Kejadian 16:1-16 menggunakan konflik sebagai drive bagi plot di dalam merangkai tema. Bahkan ditemukan fakta bahwa konflik tersebut tidak diselesaikan oleh Abraham. Sara dan Hagar tidak dapat hidup berdampingan dengan nyaman dan damai. Pada akhirnya Hagar diusir oleh Abraham dan menempuh jalan hidupnya sendiri. Dampak dari kegagalan Abraham memperdamaikan kedua istrinya berujung pada ketidakharmonisan hubungan di antara keturunannya hari ini di Timur Tengah. Temuan juga memperlihatkan bahwa manajemen konflik di dalam narasi ini tidak terlihat. Abraham, yang memiliki banyak perempuan dalam statusnya sebagai kepala keluarga, gagal mengelola dinamika di dalam pernikahan yang dijalaninya. Akan tetapi di sisi lain, analisis juga menyimpulkan bahwa konflik tersebut memperlihatkan campur tangan Tuhan untuk mewujudkan hasil perjanjian-Nya kepada Abraham tentang keturunan yang lahir dari rahim Sara. 
Agama-agama dan Penderitaan di Asia: Suatu Tinjauan Teologi Intra Religius Raimundo Panikkar NELSON KALAY
KENOSIS: Jurnal Kajian Teologi Vol 3, No 1 (2017): KENOSIS : JURNAL KAJIAN TEOLOGI
Publisher : IAKN Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37196/kenosis.v3i1.43

Abstract

Dalam artikel ini saya akan mendiskusikan konsep Teologi Intra Religius yang dikembangkan oleh Raimundo Panikkar and melihat bagaimana konsep ini dipahami dalam konteks Asia yang selama ini diwarnai dengan keragaman agama dan penderitaan. Pertama-tama saya akan mendeskripsikan dua konteks ini, yang dianggap dominan di Asia dan diikuti dengan pandangan-pandangan keagamaan tentang kemiskinan dan penderitaan. Setelah itu, saya akan mendiskusikan konsep Dialog Intra Religius sebagaimana usulan Panikkar dan bagaimana hal ini menolong kita sebagai orang Asia yang berhadapan dengan realitas keragaman agama dan penderitaan.
PENERAPAN TEORI BELAJAR SOSIAL ALBERT BANDURA DALAM PROSES BELAJAR MENGAJAR DI SEKOLAH HERLY JEANETTE LESILOLO
KENOSIS: Jurnal Kajian Teologi Vol 4, No 2 (2018): KENOSIS: JURNAL KAJIAN TEOLOGI
Publisher : IAKN Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37196/kenosis.v4i2.67

Abstract

Agar belajar menjadi menyenangkan maka belajar seharusnya memiliki aktivitas untuk memperoleh informasi dan kompetensi baru. Aktivitas belajar yang dipilih harus menjembatani antara pengetahuan yang telah dimiliki peserta didik sebelumnya dengan pengetahuan baru yang akan dibangun peserta didik. Tindakan untuk menjembatani yaitu, memungkinkan peserta didik untuk mengerjakan kegiatan yang beragam dalam rangka mengembangkan keterampilan dan pemahamannya, dengan penekanan peserta didik belajar sambil bekerja.Bentuk belajar sosial Albert Bandura adalah menekankan tentang pentingnya peserta didik mengolah sendiri pengetahuan atau informasi yang diperoleh dari pengamatan model di sekitar lingkungan. Peserta didik mengatur dan menyusun semua informasi dalam kode-kode tertentu. Proses penyusunan setiap kode dilakukan berulang-ulang, sehingga peserta didik kapan saja dengan tepat dapat memberi tanggapan aktual. Perilaku belajar peserta didik adalah hasil dari kemampuan peserta didik memaknai suatu pengetahuan atau informasi, memaknai suatu model yang ditiru, kemudian mengolah secara kognitif dan menentukan tindakan sesuai tujuan yang dikehendaki. Peserta didik didorong agar berpikir kritis dan kreatif. Kritis untuk menganalisis masalah; dan kreatif untuk melahirkan alternatif pemecahan masalah.
KAJIAN FILSAFAT PANCASILA DALAM PENDIDIKAN MLTIKULTURAL DI INDONESIA HERLY JENET LESILOLO
KENOSIS: Jurnal Kajian Teologi Vol 1, No 1 (2015): KENOSIS : JURNAL KAJIAN TEOLOGI
Publisher : IAKN Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37196/kenosis.v1i1.22

Abstract

Pendidikan multikultural di Indonesia pada prinsipnya menanamkan keyakinan bahwa keragaman budaya yang ada di Indonesia adalah anugerah yang patut mendapat penghargaandalam rasa kesatuan, kebersamaan dan simpati.Bahwa dalam keberagaman terdapat kehidupan yang selaras dan berbuat baik terhadap sesama manusia dalam keberagaman. Masyarakat dalam konteks multikultural berlajar hidup dalam perbedaan, membangun saling percaya (mutual trust),memelihara saling pengertian (mutual understanding), dan menjunjung sikap saling menghargai.Menjunjung sikaptoleransi sebagai perwujudan mengakui dan menghormati hak-hak asasi manusia. Wujud secara kongkrit kehidupan dalam multikultural adalah setiap individu mengakui relasi antara sesama manusia dibangun berdasarkan persaudaraan sebangsa dan persaudaraan sesama manusia. Lebih jauh lagi rasa kesatuan, kebersamaan dan simpati dalam pendidikan diharapkan dapat memberdayakan individu atau kelompok membangun kehidupan dalam lingkungan manusia bersesama, cinta damai dan membangun sebuah masa depan yang bersatu dalam keberagaman.Bersatu dalam keberagaman bagi masyarakat Indonesia dapat lebih dijiwai secara kritis melalui Pancasila sebagai falsafah bangsa Indonesia.Pancasila diyakini memiliki norma-normadan nilai-nilai yang benar, adil, dan bijaksana. Kekhasan norma dan nilai yang diyakini melekat dalam Pancasilayaitunilai-nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, dan keadilan sosial sebagai satu kesatuan. Sejalan dengan prinsip pendidikan multikultural maka Pancasila memiliki sinergi yang kuat dengan pendidikan multikultural karena sama-sama memaknai keberagaman dalam nilai yang berketuhanan, yang berkemanusiaan, yang berpersatuan, yang berkerakyatan dan yang berkeadilan sosial.
Pelayanan Pastoral Penghiburan Kedukaan bagi Keluarga Korban Meninggal Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) Lavandya Permata Kusuma Wardhani; Daniel Fajar Panuntun
KENOSIS: Jurnal Kajian Teologi Vol 6, No 1 (2020): KENOSIS: JURNAL KAJIAN TEOLOGI
Publisher : IAKN Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37196/kenosis.v6i1.98

Abstract

Pandemi coronavirus disease 2019 (COVID-19) membawa histeria massal bagi seluruh dunia. COVID-19 berkecamuk dan banyak korban jiwa akibat dari pandemi tersebut. Hal ini tentu membawa kesedihan bagi keluarga yang ditinggalkan. Kesedihan makin bertambah ketika terjadi penolakan pemakaman terhadap korban meninggal akibat COVID-19. Gereja perlu merumuskan suatu model pelayanan pastoral kedukaan di tengah pandemi yang terjadi. Tulisan ini bertujuan untuk menghasilkan suatu model pelayanan pastoral kedukaan kematian karena COVID-19. Metode penelitjan yang digunakan kualitatif dengan jenis penelitian teologis dan sosial deksriptif. Pengumpulan data melalui studi literatur dengan analisis secara interaktif. Hasil dari penelitian ini menghasilkan model pelayanan pastoral kedukaan kematian karena COVID-19. Model pelayanan tersebut terdiri atas tiga prinsip utama yaitu, pertama, pelayan pastoral harus selalu siap sedia tanpa kehilangan sikap kemanusiaannya. Kedua, memberikan penghiburan secara holistik dan kontekstual. Ketiga, pelayan pastoral harus membangun pelayanan yang integratif bersama dengan orang Kristen lainnya untuk menolong setiap keluarga yang mengalami kedukaan.
MENCARI NILAI-NILAI TEOLOGIS DI BALIK LAGU “WE ARE THE WORLD” Suatu Kajian Teologi dan Budaya Populer JELFY LORDY HURSEPUNY
KENOSIS: Jurnal Kajian Teologi Vol 2, No 2 (2016): KENOSIS : JURNAL KAJIAN TEOLOGI
Publisher : IAKN Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37196/kenosis.v2i2.38

Abstract

Gereja-gereja di Indonesia pada umumnya memiliki lagu-lagu baku dalam peribadatan mereka. Dengan adanya lagu-lagu baku tersebut maka sering lagu-lagu di luar lagu-lagu tersebut tidak mendapat tempat sama sekali. Padahal banyak lagu-lagu baku tersebut yang teologinyaperlu dikaji ulang. Penulis mengkaji salah satu lagu opular “We Are The World”, dengan menggunakan pendekatan Revised Correlational yang ditawarkan Tracy dan Browning. Ternyata lagu-lagu ini justru menawarkan seruan solidaritas dan pembebasan yang konon merupakan tugas gereja sepanjang masa. Gereja kemudian dapat bersifat lebih terbuka terhadap lagu-lagu budaya opular yang sevisi dengan perjuangan gereja.
Spiritualitas Eekofeminis-Liturgis: Mengupayakan Rekonstruksi Spiritualitas dan Etika di Tengah Persoalan Pencemaran Lingkungan Domestik Fiktor Jekson Banoet
KENOSIS: Jurnal Kajian Teologi Vol 7, No 1 (2021): KENOSIS: JURNAL KAJIAN TEOLOGI
Publisher : IAKN Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37196/kenosis.v1i1.283

Abstract

This article explains gender inequality that has emerged in the ecological crisis, particularly domestic environmental pollution. On the one hand, this injustice reduces nature and its sacredness and, at the same time, reduces women. Respond to this crisis is by constructing an eco-feminism-liturgical spirituality. I argue that the praxis of ecofeminism and liturgical spirituality leads to concerns about ecological justice and gender. Therefore, this paper shows a reconstructive effort on the idea of ecofeminist spirituality with liturgical theology regarding environmental pollution and gender-based injustice through a constructive theological method. The liturgy is explored to the point that it ultimately has an ecological, public, and domestic character. This reconstruction of the idea has three benefits. Firstly, presenting transexist and ecological images of the God of the Trinity and scrutinizing parental metaphors. Secondly, to emphasize spiritual praxis with emancipatory dimensions in the public and domestic spheres. It is thirdly, affirming the ecological role of women in one living system and opposing the paradigm pathos, ant(d)ropocentric and Cartesianism. AbstrakPenelitian ini memberi penjelasan mengenai ketidakadilan gender yang muncul dalam krisis ekologi, khususnya pencemaran lingkungan domestik. Di satu sisi ketidakadilan tersebut mereduksi alam beserta sakralitasnya dan pada saat bersamaan mereduksi kaum perempuan. Usaha untuk merespons krisis tersebut ialah dengan mengonstruksi spiritualitas ekofeminisme-liturgis. Saya berpendapat bahwa spiritualitas ekofeminisme-liturgis sangat bersifat praksis dan mengarah pada keprihatinan keadilan ekologis dan gender. Karena itu, melalui metode teologi konstruktif, tulisan ini menunjukkan usaha rekonstruktif atas gagasan spiritualitas ekofeminis dengan teologi liturgis perihal pencemaran lingkungan hidup dan ketidakadilan berbasis gender. Liturgi digali sampai ke arti akhaiknya memiliki sifat ekologis, publik dan domestik. Rekonstruksi gagasan dimaksud memiliki tiga manfaat. Pertama, menghadirkan gambaran transexist dan ekologis pada Allah Trinitas dan mengkritisi metafora parental. Kedua, untuk menegaskan praksis spiritual yang berdimensi emansipatoris di ranah publik dan domestik. Ketiga, menegaskan peran ekologis perempuan dalam satu sistem kehidupan dan menentang patos paradigma, ant(d)roposentris dan Cartesianisme.
EKOSPIRITUALITAS YANG HOLISTIK Weldemina Yudit Tiwery
KENOSIS: Jurnal Kajian Teologi Vol 1, No 1 (2015): KENOSIS : JURNAL KAJIAN TEOLOGI
Publisher : IAKN Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37196/kenosis.v1i1.17

Abstract

Persoalan ekologi merupakan sesuatu yang telah mewabah dan memengaruhi beragam sendi kehidupan manusia. Tak jarang ditemui masalah-masalah seputar kehidupan ekologi itu, dampaknya pun tak tanggung-tanggung datang menerpa. Efek negatif dari perusakan alam ciptaan itu menggugat eksistensi manusia sebagai orang yang bertanggungjawab atas persoalan-persoalan yang timbul akibat dari perbuatannya. Eksploitasi terhadap alam, semisal pertambangan liar, penebangan hutan, dan pengeboman ikan; krisis air bersih; sampah yang bertebaran secara serampangan, juga beragam permasalahan lainnya merupakan segelintir persoalan yang marak terjadi di wilayah kita, belum lagi eksploitasi tempat-tempat tertentu untuk kepentingan politis-parsial. Krisis ekologi bisa terjadi karena faktor alam, namun kebanyakan krisis itu justru disebabkan oleh perbuatan manusia. Ternyata di daerah di mana manusia tempati, tak pernah luput dari terjadinya berbagai macam krisis ekologis sebagai dampak buruk dari konsumerisme manusia. Manusia menyerap sumber-sumber daya bumi tanpa terkendali, berlebihan, dan tak teratur. Alam dianggap sebagai obyek yang dapat dimanfaatkan untuk memenuhi hasrat konsumerisme manusia. Di sinilah nampak manusia melakukan pengingkaran akan status quo-nya sebagai kerabat kerja Allah yang seharusnya memanfaatkan dan mengembangkan alam untuk kebutuhannya. Konsumerisme merupakan kebiasaan memenuhi keinginan diri secara berlebihan, sebuah eksploitasi besar-besaran dan tentunya mengandung unsur kenikmatan (pleasure principle). Ini sungguh merupakan suatu keprihatian bersama dan mesti ada kesadaran kolektif untuk memeranginya.
Politisasi Doa: Menalar Pilihan Politik Abraham Terhadap Sodom Henderikus Nayuf
KENOSIS: Jurnal Kajian Teologi Vol 5, No 2 (2019): KENOSIS : JURNAL KAJIAN TEOLOGI
Publisher : IAKN Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37196/kenosis.v5i2.79

Abstract

Doa sering dijadikan sebagai sarana untuk memohon sesuatu kepada Tuhan. Dalam doa, sang pendoa menyampaikan berbagai hal terkait dengan niat, motivasi dan tujuannya berdoa. Dalam meresponi setiap doa, Tuhan memiliki otoritas untuk menjawab atau tidak menjawab doa-doa itu. Ia memiliki kewenangan mutlak yang tidak dapat diintervensi oleh siapa pun.  Abraham menyadari bahwa Sodom dan Gomora berada dalam ambang penghancuran dari Tuhan. Karena itu, tidak ada pilihan lain kecuali memohon kepada Tuhan dalam doa. Pada akhirnya, permohonan Abraham tidak merubah rencana Tuhan menghukum Sodom dan Gomora. Walau demikian, itu tidak menjadi alasan agar Abraham tidak berdoa. Abraham berdoa agar, jika berkenan, Tuhan membatalkan rencana penghancuran Sodom dan Gomora. Dua catatan kritis mewarnai doa Abraham: Abraham berdoa dengan motivasi yang tulus atau sebuah ekpresi politis sebagai wujud keberpihakan kepada Sodom dan Gomora?
PEKERJA ANAK DALAM KAJIAN ETIS DEONTOLOGIS GERALD LATUSERIMALA
KENOSIS: Jurnal Kajian Teologi Vol 2, No 1 (2016): KENOSIS : JURNAL KAJIAN TEOLOGI
Publisher : IAKN Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37196/kenosis.v2i1.33

Abstract

Bukan sesuatu yang keliru jika kita katakan bahwa masalah pekerja anak adalah masalah yang berhubungan erat dengan apa itu Hak Asasi Manusia (HAM). Hal ini adalah Masalah yang serius dan akan menjadi ancaman bagi masa depan kehidupan bangsa di masa yang akan datang jika pemerintah, gereja, orang tua serta semua elemen yang terkait tidak menaruh kegelisahan demi melahirkan langkah-langkah yang solutif dalam penyelesaian masalah ini. Tulisan dalam artikel ini adalah bagian dari kegelisahan itu sendiri.Walaupun kajian pikir etis deontologis yang dipetakan masih jauh dari yang diharapkan, namun setidaknya tulisan ini bisa dijadikan sebagai ajakan untuk kita agar lebih peka lagi dalam memalingkan wajah terhadap anak-anak akibat dari peran sebagai pekerja anak yang telah merenggut hak-hak dasar kemanusiaan mereka. Awal dari tulisan ini penulis memaparkan fakta pekerja anak yang ada di indonesia. Selanjutnya kajian teoritik tentang anak dari sudut pandang psikologi perkembangan, kerja dan perlindungan anak (hukum) dan diakhiri dengan kajian etis deontologis.

Page 6 of 13 | Total Record : 130