Articles
670 Documents
Makna Wayang Golek si Cepot pada Masyarakat Sunda Milenial dan Generasi Z
Andrew Limelta;
Sinta Paramita
Koneksi Vol 4, No 1 (2020): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24912/kn.v4i1.6496
In 2003 wayang was recognized by UNESCO as a global masterpiece as well as an intangible cultural heritage. Sundanese culture recognizes the legacy of wayang golek originating from the West Java region, and is usually realized through the display of props or puppets as a dualistic depiction of Javanese minds. In puppet show there are characters and characters that are played, but usually people are more familiar with the character of the Cepot who is considered as a entertainer and identity of the Sundanese. The purpose of this study was to see the meaning of the Cepot figure in puppet show art towards millennial Sundanese people and generation Z. The theories used in this study were the theory of communication, puppetry, and the concept of meaning. In this case the data obtained through the results of observations and interviews. The conclusion in this study is that the Sundanese generation of generation millennial and generation Z considers the puppet show as an important art, but no longer as the main consumption. Besides that, there is a loss of elements from the Cepot character in the puppet show, even the Sundanese people consider the Cepot figure only as an entertaining figure.Pada tahun 2003, wayang diakui oleh UNESCO sebagai karya agung dunia sekaligus warisan budaya tak benda. Budaya Sunda mengenal warisan wayang golek yang berasal dari wilayah Jawa Barat, dan biasanya direalisasikan melalui pertunjukan alat peraga atau boneka sebagai penggambaran alam pikiran orang Jawa yang dualistik. Dalam kesenian wayang golek terdapat tokoh dan karakter yang dimainkan, namun biasanya masyarakat lebih mengenal tokoh si Cepot yang dianggap sebagai penghibur dan jati diri orang Sunda. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat makna tokoh si Cepot dalam kesenian wayang golek terhadap masyarakat Sunda milenial dan generasi Z. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori komunikasi, wayang, dan konsep makna. Dalam hal ini data yang diperoleh melalui hasil dari observasi dan wawancara. Kesimpulan dalam penelitian ini adalah bahwa masyarakat Sunda generasi milenial dan generasi Z menganggap kesenian wayang golek sebagai suatu kesenian yang penting, namun bukan lagi sebagai konsumsi utama. Selain itu adanyaunsur dari tokoh si Cepot yang hilang dalam wayang golek. Bahkan masyarakat Sunda menganggap tokoh si Cepot hanya sebagai tokoh penghibur.
Persepsi Masyarakat Terhadap Kelompok Waria Pesantren
Vicktor Fadi;
Suzy S. Azeharie
Koneksi Vol 4, No 1 (2020): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24912/kn.v4i1.6609
Tranvestites as one part of the Lesbian, Gay, Bisexual, Transgender (LGBT) can be categorized as a muted group. They get discrimination and rejection in their activities. When they wanted to pray they were rejected by society. There is a group of transvestites who took the initiative to establish a pesantren in Yogyakarta that allows transvestites to do their spiritual activities. This research wants to know the perception of village people to the transvestites group in Yogyakarta. The purpose of this study is to find out the perception of village people to the transvestites group in pesantren Yogyakarta. The theories used in this study are the theory of communication and culture, perception and factors of the forming perception, muted group, transvestites and Javanese Islamic culture. The study uses phenomenology methods and features a descriptive approach. Research data is obtained from depth interviews on nine interviewees, observations, document studies and literature studies. The conclusion of this research is the perception of village people to the transvestites group of pesantren tends to be negative perception. The women villagers felt disturbed because there were members of the transvestites group who joined the women section while praying in the mosque. And this made the village people uncomfortable with the existence of a group of transvestites in the villages. The village people believe a concept that in the world there are only men and women, while the concept of transvestites is still gray in society. Waria merupakan bagian dari Lesbian, Gay, Bisexual, Transgender (LGBT) dan termasuk dalam kategori kelompok bungkam. Waria kerap mendapat diskriminasi dan penolakan dalam melakukan kegiatan termasuk ketika ingin beribadah. Namun, terdapat kelompok waria yang berinisiatif mendirikan pesantren yang menampung waria agar dapat menjalankan aktivitas spiritual seperti masyarakat pada umumnya. Penelitian ini ingin mengetahui persepsi masyarakat kampung di Yogyakarta terhadap kelompok waria yang beribadah di pesantren. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui persepsi masyarakat kampung terhadap kelompok waria di pesantren. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori komunikasi dan budaya, persepsi dan faktor-faktor pembentuk persepsi, kelompok bungkam, waria dan budaya Islam Jawa. Penelitian ini menggunakan metode fenomenologi dan dilengkapi pendekatan deskriptif. Data penelitian diperoleh dari wawancara terhadap sembilan narasumber, pengamatan, studi dokumen dan studi kepustakaan. Kesimpulan penelitian ini adalah persepsi masyarakat kampung terhadap kelompok waria pesantren cenderung negatif. Warga kampung yang merupakan perempuan merasa risih dengan adanya waria yang bergabung di bagian perempuan saat beribadah di masjid. Kondisi ini membuat masyarakat kampung tidak nyaman dengan keberadaan kelompok waria di kampung tersebut. Masyarakat kampung mempercayai konsep yang bahwa di dunia hanya terdapat laki-laki dan perempuan, sedangkan konsep waria masih abu-abu di masyarakat luas.
Penyingkapan Diri Perempuan Penyintas Kekerasan Seksual
Rini Oktaviani;
Suzy S. Azeharie
Koneksi Vol 4, No 1 (2020): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24912/kn.v4i1.6635
The high rate of sexual violence including rape and sexual harassment in Indonesia is a problem that has not been resolved. However, it cannot be concluded that cases of rape and sexual harassment are increasing, but more and more women survivors report cases they have experienced. Women dare to speak and not be influenced by the opinion of the majority who blame victims of sexual violence. One interesting phenomenon to be reviewed is the self-disclosure of women survivors of rape and sexual harassment of consorts. This study aims to determine the self-disclosure by women survivors of rape and sexual harassment at the escort and the reasons for women survivors of rape and sexual harassment to disclose themselves to the companion. The theory used is the theory of interpersonal communication, self-disclosure, the spiral of silence and patriarchal culture. This study uses a descriptive qualitative approach with the phenomenological method. Data analyzed were obtained from interviews with four survivors of rape and survivors of sexual harassment. The results of this study are the disclosure of survivors of rape and survivors of sexual harassment to companions is important so that victims do not bear their own problems and can immediately recover. Survivors can find people who at least have experience in support and people who can be trusted to listen to self-disclosure. But different things were found in the companion who is the mother of survivors and sexual harassers. The survivor's mother ignored the incident of abuse experienced by the survivor and assumed that the incident had never happened because the perpetrator was a person who was of one flesh and blood with the survivor. Tingginya angka kekerasan seksual termasuk perkosaan dan pelecehan seksual di Indonesia menjadi permasalahan yang sampai saat ini belum terselesaikan. Namun tidak dapat disimpulkan bahwa kasus perkosaan dan pelecehan seksual semakin bertambah melainkan semakin banyak perempuan penyintas yang melaporkan kasus yang mereka alami. Perempuan berani bersuara dan tidak terpengaruh dengan pendapat mayoritas yang menyalahkan korban kekerasan seksual. Salah satu fenomena yang menarik untuk diulas adalah penyingkapan diri perempuan penyintas perkosaan dan pelecehan seksual pada pendamping. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penyingkapan diri yang dilakukan perempuan penyintas perkosaan dan pelecehan seksual pada pendamping dan alasan perempuan penyintas perkosaan dan pelecehan seksual melakukan penyingkapan diri pada pendamping. Teori yang digunakan adalah teori komunikasi interpersonal, penyingkapan diri, spiral keheningan dan budaya patriarki. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode fenomenologi. Data yang dianalisis diperoleh dari hasil wawancara dengan empat penyintas perkosaan dan penyintas pelecehan seksual. Hasil dari penelitian ini adalah penyingkapan diri penyintas perkosaan dan penyintas pelecehan seksual pada pendamping penting dilakukan agar korban tidak menanggung masalahnya sendiri dan dapat segera memulihkan diri. Penyintas bisa mencari orang yang setidaknya mempunyai pengalaman dalam mendukung dan orang yang bisa dipercaya untuk mendengarkan penyingkapan diri. Namun hal berbeda ditemui pada pendamping yang merupakan ibu dari penyintas dan pelaku pelecehan seksual. Ibu si penyintas mengabaikan peristiwa pelecehan yang dialami penyintas dan menganggap bahwa peristiwa tersebut tidak pernah terjadi karena pelaku adalah orang yang satu darah daging dengan penyintas.
Perlawanan Penyintas Body Shaming Melalui Media Sosial
Micheal Micheal;
Suzy S. Azeharie
Koneksi Vol 4, No 1 (2020): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24912/kn.v4i1.6642
As the era progresses, technological advances bring ease in accessing information from various media, one of which is social media. One of the most popular social media is Instagram. Instagram is a social media that allows their users to share information in the form of images, videos or writings. But social media is often used as a means to mock individuals with the action of body shaming. Body shaming is an act of commenting on all aspects of one's body. Body shaming action occurs due to the ideal body standardization. The ideal body standardization differs from one place and culture, more often experienced by women. However some people resist the actions of body shaming experienced. Some body shaming survivors have courage to resist such an act by direct or social media resistance. The purpose of this research is to find out the form of resistance by the survivors of body shaming through Instagram. The study uses phenomenological research methods with qualitative descriptive approach. Research data is derived from depth interviews on five interviewees, observations, document studies and literature studies. The conclusion is the form of resistance of the survivors of body shaming through social media Instagram divided into two, open resistance and closed resistance. Adapted to the characteristics of body shaming survivors. The open resistance is characterized by an open interaction between the Group One and the other group. While hidden resistance is characterized by a closed interaction, indirect inter-group. Seiring perkembangan zaman, kemajuan teknologi menghadirkan kemudahan dalam mengakses informasi dari berbagai media, salah satunya media sosial. Salah satu media sosial yang digemari adalah Instagram. Instagram merupakan media sosial yang memungkinkan penggunanya untuk berbagi informasi dalam bentuk gambar, video maupun tulisan. Namun, media sosial kerap dijadikan sarana untuk mengejek individu dengan tindakan body shaming. Body shaming merupakan tindakan mengomentari segala aspek dalam tubuh seseorang. Tindakan body shaming terjadi karena standarisasi tubuh ideal. Standarisasi tubuh ideal berbeda-beda tergantung dari tempat dan budaya dan lebih sering dialami oleh perempuan. Namun, beberapa orang melawan dari tindakan body shaming yang dialami dan mereka disebut dengan penyintas. Beberapa penyintas body shaming berani melakukan tindakan perlawanan secara langsung maupun melalui media sosial. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bentuk perlawanan yang dilakukan oleh penyintas body shaming melalui Instagram. Penelitian ini menggunakan metode fenomenologi dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Data penelitian diperoleh dari wawancara mendalam, pengamatan langsung, studi dokumen dan studi kepustakaan. Kesimpulan penelitian ini adalah bentuk perlawanan penyintas body shaming melalui media sosial Instagram terbagi menjadi dua, yaitu bentuk perlawanan terbuka dan bentuk perlawanan tertutup disesuaikan dengan karakteristik penyintas body shaming. Perlawanan terbuka dikarakteristikkan dengan adanya interaksi terbuka antara kelompok satu dengan kelompok lainnya. Sementara perlawanan tersembunyi ditandai dengan adanya interaksi tertutup atau tidak langsung antar kelompok
Budaya Populer Dalam Pembuatan Video Klip (Studi Kasus Pada Video Klip ‘Merakit’ Oleh Yura Yunita)
Jenny Ratna Sari;
Roswita Oktavianti
Koneksi Vol 4, No 1 (2020): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24912/kn.v4i1.6444
Popular culture is dominated by the production and consumption of material goods whose creation is driven with the motive of profit.Video clips are also used to gain profit or profit for their creators.The study raised how popular culture is in the making of video clips.This research is a qualitative study with case study methods. The researcher conducted a case study of the video clip titled "Assemble" created by Yura Yunita.Data collection techniques are conducted with interviews to artists and creative teams.The result of this research is now that culture is no longer racing on the culture of existing and repeated standards.Visually, the video clip no longer has to be full-color but it can combine two identical colors that are black and white.Popular culture develops over time by adjusting the culture that was originally born and combined with things that don't usually happen.The cultural industry is directed by the need to realise value in the market.The advantage Motif determines the nature of various forms of culture. Video clips can now be combined with popular culture one of them is to use the disability as a model, combining traditional elements.The goal is to achieve a new target market in this case with disabilities. Budaya populer didominasi oleh produksi dan konsumsi barang material yang penciptaannya didorong dengan motif laba. Video klip juga digunakan untuk mendapatkan keuntungan atau laba bagi penciptanya. Penelitian ini mengangkat bagaimana budaya populer dalam pembuatan video klip. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan metode studi kasus. Peneliti melakukan studi kasus terhadap video klip berjudul “Merakit” yang diciptakan oleh Yura Yunita. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan wawancara terhadap artis dan tim kreatif. Hasil dari penelitian ini adalah kini budaya tidak lagi berpacu pada budaya standar yang ada dan berulang. Secara visual, video klip tidak lagi harus penuh warna melainkan bisa memadukan dua warna identik yaitu hitam dan putih. Budaya populer berkembang seiring waktu dengan menyesuaikan budaya yang awalnya sudah lahir dan dipadukan dengan hal yang biasanya tidak terjadi. Industri budaya diarahkan oleh kebutuhan untuk menyadari nilai di pasaran. Motif keuntungan menentukan sifat berbagai bentuk budaya. Video klip kini dapat dipadukan dengan budaya populer salah satunya adalah dengan menggunakan penyandang disabilitas sebagai model, memadukan unsur-unsur tradisional. Tujuannya untuk mencapai target pasar baru dalam hal ini penyandang disabilitas.
Komunikasi Antarpribadi Orang Tua dan Remaja yang Kecanduan Media Sosial di Tangerang
Elvita Laurensia Santoso;
H.H. Daniel Tamburian
Koneksi Vol 3, No 2 (2019): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24912/kn.v3i2.6362
In this era of globalization, the use of the internet is growing day by day. The internet service application most commonly used by Indonesian people is social media. The increasing need for social media especially among teenagers has resulted in social media addiction in Indonesia. This research was made with the aim to find out the activities and patterns of interpersonal communication between parents and teenagers who are addicted to social media in Tangerang. Meanwhile, the theory that supports this research is interpersonal communication and new media. This research uses a descriptive qualitative approach. While the data collection methods used are by conducting interviews, observation, documentation, library research and online data search. The results show that interpersonal communication activities undertaken by parents and teenagers who are addicted to social media in Tangerang are often carried out through social media rather than direct communication. The messages exchanged are only in the form of daily conversations and are often one-way. This shows that interpersonal communication that occurs is not open and tends to experience interference. Meanwhile, the pattern of interpersonal communication most widely used is the equality pattern. Di era globalisasi saat ini, penggunaan internet kian hari kian meningkat. Aplikasi layanan internet yang paling sering digunakan oleh masyarakat Indonesia adalah media sosial. Kebutuhan akan media sosial terutama di kalangan remaja mengakibatkan terjadinya media sosial adiktif di Indonesia. Penelitian ini dibuat dengan tujuan untuk mengetahui aktivitas dan pola komunikasi antarpribadi orang tua dan remaja yang kecanduan media sosial di Tangerang. Adapun, teori yang mendukung penelitian ini adalah komunikasi antarpribadi dan media baru. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif secara deskriptif. Sedangkan metode pengumpulan data yang digunakan yaitu dengan melakukan wawancara, observasi, dokumentasi, studi kepustakaan dan penelusuran data online. Hasil penelitian menunjukan bahwa aktivitas komunikasi antarpribadi yang dilakukan orang tua dan remaja yang kecanduan media sosial di Tangerang sering dilakukan melalui media sosial daripada komunikasi langsung. Pesan yang dipertukarkan juga berupa percakapan sehari-hari saja dan seringkali bersifat satu arah. Hal ini menunjukkan komunikasi antarpribadi yang terjadi tidak terbuka dan cenderung mengalami gangguan. Sementara itu, pola komunikasi antarpribadi yang paling banyak digunakan oleh orang tua dan remaja yang kecanduan media sosial di Tangerang adalah pola persamaan.
Pembentukan Identitas Diri Para Pelaku Cover Dance K-Pop di Jakarta
Dwi Sabrina;
Lusia Savitri Retno Utami
Koneksi Vol 3, No 2 (2019): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24912/kn.v3i2.6391
No doubt the development of popular culture is very fast in the world, especially the K-Pop industry. Due to rapid development of K-Pop and more fans, innovations have begun to emerge in showing the love of fans towards K-Pop. One of them is K-Pop cover dance activities. This study discusses "The Formation of the Identity of K-Pop Cover Dance Performers in Jakarta" and uses observation and interview data collection methods to find out more about how the formation of K-Pop cover actors' self-identity formation. The theory used is their dramatism on the front stage and also the backstage. In this study the authors can see that each individual communicates themselves in different ways and not all cover dance performers perform their front stage roles up to their backstage life. The formation of the identity of the cover dance actors can change to follow the environment where they are and with whom they communicate. However, not a few also feel that his life as a cover dance on stage imitates and becomes someone else's figure carried to their daily from various aspects such as family, experience and also the community.Tidak dipungkiri perkembangan budaya populer sangat pesat di dunia terutama K-Pop. Akibat perkembangan K-Pop yang pesat dan penggemarnya yang semakin banyak, mulai bermunculan inovasi dalam menunjukkan kecintaan dari penggemar terhadap K-Pop. Salah satunya adalah kegiatan cover dance K-Pop. Penelitian ini membahas tentang “Pembentukan Identitas Diri Para Pelaku Cover Dance K-Pop di Jakarta” dengan menggunakan teori dramatisme mereka pada front stage dan juga back stage. Dalam penelitian ini penulis dapat melihat bahwa setiap individu mengkomunikasikan diri mereka dengan cara yang berbeda-beda dan tidak semua pelaku cover dance melakukan peran front stage mereka hingga ke kehidupan backstage mereka. Peneliti menggunakan metode pengumpulan data observasi dan wawancara untuk mengetahui lebih dalam mengenai bagaimana pembentukan identitas diri para pelaku cover dance K-Pop. Pembentukan identitas diri para pelaku cover dance dapat berubah mengikuti lingkungan dimana mereka berada dan dengan siapa mereka berkomunikasi. Namun, tidak sedikit juga yang merasa bahwa kehidupannya sebagai seorang cover dance di atas panggung yang meniru dan menjadi sosok orang lain terbawa hingga ke kehidupan sehari-hari mereka dari berbagai macam aspek seperti keluarga, pengalaman dan juga komunitas.
Self- Representation di Era Digital (Analisis Semiotika Acara TV Black Mirror Episode Nosedive)
Clarisa Tan;
Wulan Purnama Sari
Koneksi Vol 3, No 2 (2019): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24912/kn.v3i2.6402
The rise of technology and information makes it easier for humans to communicate, introducing new aspects about the relationship between individual freedom and technology. Digital technology and social media are very influential in everyday life, communication between family and friends is not limited by geographical challenges. Social media makes it easier to express and understand ourselves through online communities. This research aims to see how self-representation in the digital era is shown through Netflix TV show Black Mirror episode Nosedive by Charlie Brooker. The reasercher conducted a semiotic analysis on the first episode in Season 3, "Nosedive," regarding the self-representation shown and how the relationship was created through social media in all Lacie Pound's relationships. Obsessed with social rankings Lacie must carry out positive interactions and represent herself according to social standards. Rating values in Nosedive make relationships between people seemed fake because they are concerned with the judgments given to each other. All people in the world must follow the existing social standards or they can be exiled because they have low rating. Nosedive mimics the real life problem of obsession with social achievement through cognitive alienation, that tells their current excitement with digital and social connectivity. This study uses Charles Sanders Pierce's semiotics theory with a qualitative research method approach. Researchers collect data by observation and documentation, library research and online sources.Munculnya teknologi dan informasi memudahkan manusia untuk berkomunikasi, memperkenalkan aspek-aspek baru tentang hubungan antara kebebasan individu dan teknologi. Teknologi digital dan media sosial sangat berpengaruh dalam kehidupan sehari-hari, komunikasi antara keluarga dan teman tidak dibatasi oleh tantangan geografis. Media sosial memudahkan mengekspresikan dan memahami diri kita sendiri melalui komunitas online. Penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana self-representasi di era digital yang ditunjukan dalam acara TV Black Mirror episode Nosedive karya Charlie Brooker. Penulis melakukan analisis semiotika pada episode pertama di Musim 3, "Nosedive," mengenai self-representasi yang ditunjukan dan bagaimana hubungan yang diciptakan terhadap melalui media sosial dalam semua hubungan Lacie Pound. Terobsesi dengan peringkat sosial Lacie harus melakukan interaksi positif dan merepresentasikan dirinya sesuai dengan standar sosial. Peringkat nilai dalam Nosedive membuat hubungan antar masyarakat menjadi palsu karena mereka mementingkan penilaian yang diberikan satu sama lain. Semua masyarakat dalam dunia itu harus mengikuti standar sosial yang ada atau mereka dapat diasingkan karena memiliki penilaian yang rendah. Nosedive meniru masalah kontemporer obsesi prestasi sosial melalui pengasingan kognitif, yang menceritakan kegembiraan mereka saat ini dengan konektivitas digital dan sosial. Penelitian ini menggunakan teori semiotika Charles Sanders Pierce dengan pendekatan penelitian metode kualitatif. Peneliti mengumpulkan data dengan observasi dan dokumentasi, studi pustaka dan sumber online.
Pemaknaan Konten Dalam Media Sosial (Studi Pada Pengguna Aplikasi Bigo Live Di Kalangan Mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi)
Stella Kesuma;
Lusia Savitri Setyo Utami
Koneksi Vol 3, No 2 (2019): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24912/kn.v3i2.6427
This research discusses the meaning of content on social media, especially in the Bigo Live application. This social media still has some negative content so it attracts a lot of attention. Researchers chose Bigo Live because this application has a strong interaction with its users. The purpose of this study is to describe the meaning of the audience of the content in Bigo Live. The theory used in this research is reception analysis theory with qualitative research methods. Analysis of the Reception Study uses the criteria of media text readers namely Dominant Reader (dominant hegemonic position), Negotiated Reader (negotiated code / position), and Opposition Reader (operational code / position). Based on the results of the analysis and discussion of the meaning of audiences on content in Bigo Live social media, the audience belongs to the negotiated position category. Penelitian ini membahas tentang pemaknaan konten di media sosial khususnya di aplikasi Bigo Live. Media sosial ini masih memiliki beberapa konten negatif sehingga menarik banyak perhatian. Peneliti memilih Bigo Live karena aplikasi ini memiliki interaksi yang kuat dengan penggunanya. Adapun tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan pemaknaan khalayak terhadap konten yang ada di dalam Bigo Live. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori analisis resepsi dengan metode penelitian kualitatif. Analisis Studi Resepsi menggunakan kriteria pembaca teks media yaitu Pembaca Dominan (dominant hegemonic position), Pembaca Negosiasi (negotiated code/position),dan Pembaca Oposisi (operational code/position). Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan pemaknaan khalayak terhadap konten dalam media sosial Bigo Live, khalayak tergolong kategori negosiasi (negotiated position).
Pengaruh Kepercayaan Diri dan Harga Diri Terhadap Keterampilan Komunikasi Interpersonal Remaja di Jakarta
Eunike Azalia Pribadi;
Rezi Erdiansyah
Koneksi Vol 3, No 2 (2019): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24912/kn.v3i2.6454
This research was conducted with the aim to find out whether there is an influence of self-confidence and self-esteem on adolescent interpersonal communication skills in Jakarta. Researchers took a sample of 150 respondents with criteria: a) adolescents aged between 16 to 21 years, and b) domiciled in the Jakarta area. The results of this study indicate that the level of self-confidence and self-esteem of adolescents in Jakarta affects the interpersonal communication skills of adolescents in Jakarta. Therefore, to improve adolescent interpersonal communication skills in Jakarta, it is necessary to increase the self-confidence and self-esteem of teenagers first.Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui adakah pengaruh kepercayaan diri (self confidence) dan harga diri (self esteem) terhadap keterampilan komunikasi interpersonal (interpersonal communication) remaja di Jakarta. Peneliti mengambil sampel sebanyak 150 responden dengan kriteria: a) remaja berusia di antara 16 sampai 21 tahun, dan b) berdomisili di wilayah Jakarta. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa tingkat kepercayaan diri (self confidence) dan harga diri (self esteem) remaja di Jakarta berpengaruh terhadap keterampilan komunikasi interpersonal (interpersonal communication) remaja di Jakarta. Dengan itu maka untuk meningkatkan keterampilan komunikasi interpersonal (interpersonal communication) remaja di Jakarta, perlu meningkatkan rasa kepercayaan diri (self confidence) dan harga diri (self esteem) para remaja tersebut terlebih dahulu.