cover
Contact Name
Joseph Christ Santo
Contact Email
jurnal@sttberitahidup.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal@sttberitahidup.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kab. karanganyar,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Teologi Berita Hidup
ISSN : 26564904     EISSN : 26545691     DOI : https://doi.org/10.38189
Jurnal Teologi Berita Hidup merupakan wadah publikasi hasil penelitian teologi yang berkaitan dengan kepemimpinan dan pelayanan Kristiani, yang diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup Surakarta. Focus dan Scope penelitian Jurnal Teologi Berita Hidup adalah: Teologi Biblikal, Teologi Sistematika, Teologi Pastoral, Etika Pelayanan Kontemporer, Kepemimpinan Kristen, Pendidikan Agama Kristen.
Arjuna Subject : -
Articles 313 Documents
Menyelisik Konflik Gerejawi dari Perspektif Psikologi Konflik Paul Randolph Sitorus, Julika Sinta Marito
Jurnal Teologi Berita Hidup Vol. 7 No. 1 (2024): September 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jtbh.v7i1.725

Abstract

Conflict is an inevitability in human life. Conflict has become an integrated condition in individual and communal life, including in the church. The congregation’s understanding of conflict greatly influences their attitudes or actions towards the conflict itself. In general, congregations have a less open understanding of conflict. Conflict is understood as a situation that should not occur, an embarrassing situation, or also a situation that only produces a destructive or devastating impact. Such understandings make conflict increasingly difficult to manage. This paper aims to investigate ecclesiastical conflict, which will be carried out using qualitative research methods with literature study. The ecclesiastical conflict that often occur certainly cannot be denied or avoided. Investigating church conflict from a psychological perspective offers a new perspective, where church conflict that occurs in any context can be understood by exploring the psychological elements that each person involved in the conflict situation has. This research examines ecclesiastical conflict from a psychological perspective proposed by Paul Randolph. According to the author, Paul Randolph’s conflict psychology can produce an open understanding of ecclesiastical conflict, so that efforts to manage and resolve church conflict can be made. A psychological perspective can help each individual to recognize what values are often at stake in conflict situations that exist in themselves or in others, such as emotions, self-esteem, and perceptions that greatly influence individual behavior or actions in conflict situations. Recognizing and understanding the values in oneself and others are supporting factors for being able to take constructive steps in conflict situations.Konflik merupakan suatu keniscayaan dalam kehidupan manusia. Konflik telah menjadi kondisi yang terintegrasi dalam kehidupan individu maupun komunal, termasuk di gereja. Pemahaman jemaat tentang konflik sangat memengaruhi sikap atau tindakan mereka terhadap konflik itu sendiri. Pada umumnya jemaat memiliki pemahaman yang kurang terbuka terhadap konflik. Konflik dipahami sebagai situasi yang tidak boleh terjadi, situasi yang memalukan, atau juga suatu keadaan yang hanya menghasilkan dampak destruktif atau menghancurkan. Pemahaman-pemahaman yang demikianlah, membuat konflik semakin sulit untuk dikelola. Tulisan ini bertujuan untuk menyelisik konflik gerejawi, yang akan dilakukan dengan metode penelitian kualitatif dengan studi kepustakaan. Konflik gerejawi yang kerap kali terjadi tentu tidak dapat disangkal atau dihindari. Menyelisik konflik gerejawi dari perspektif psikologi menawarkan cara pandang yang baru, di mana konflik gereja yang terjadi dalam konteks apa pun dapat dipahami dengan mendalami unsur-unsur psikologi yang dimiliki setiap orang yang terlibat dalam situasi konflik. Penelitian ini menyelisik konflik gerejawi dari perspektif psikologi yang dikemukakan oleh Paul Randolph. Menurut penulis, psikologi konflik Paul Randolph dapat menghasilkan pemahaman yang terbuka terhadap konflik gerejawi, sehingga upaya untuk mengelola dan mengatasi konflik gereja dapat dilakukan. Memahami konflik dari perspektif psikologi merupakan langkah penting yang dapat dilakukan untuk semua jenis konflik yang terjadi dalam kehidupan manusia. Perspektif psikologi dapat membantu setiap individu, untuk mengenali nilai-nilai apa saja yang sering dipertaruhkan dalam situasi konflik yang ada pada dirinya maupun yang ada pada diri orang lain, misalnya emosi, harga diri, dan persepsi yang sangat memengaruhi perilaku atau tindakan individu dalam situasi konflik. Mengenali dan memahami nilai-nilai dalam diri sendiri dan orang lain adalah faktor pendukung untuk dapat melakukan langkah-langkah konstruktif dalam situasi konflik. 
Nilai-Nilai Internalisasi Pendidikan Kristen Menurut 2 Timotius 3:16: Implikasi Logis bagi Gereja Masa Kini di Era Dirupsi Baskoro, Paulus Kunto
Jurnal Teologi Berita Hidup Vol. 7 No. 1 (2024): September 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jtbh.v7i1.734

Abstract

The world of education covers a very broad discussion. However, it is not uncommon nowadays that education is only seen from the perspective of the world of secular education and without, realizing that education in a church, the church will experience a spiritual decline in the congregation’s spiritual maturity. As this era advances, the church and the world of education should be able to work together to make big changes towards a better direction. Because basically Christian education is also centered on the Bible as well as the preaching of the Word in the church, which is studied according to 2 Timothy 3:16. The method used in this research is a descriptive qualitative method. The purpose of this research is First, to examine important principles in Christian education based on 2 Timothy 3:16. Second, the church plays its function in Christian education for the entire congregation. Third, the entire congregation experiences Biblical spiritual maturity in Christian education.Dunia pendidikan mencakup pembahasan yang sangat luas. Namun tidak jarang pada masa sekarang ini pendidikan hanya dilihat dari segi dunia pendidikan sekuler saja dan tanpa disadari bahwa pendidikan juga memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan gereja. Sebab tanpa adanya pendidikan dalam sebuah gereja, gereja tersebut akan mengalami kemerosotan kerohanian dalam kedewasaan rohani jemaat. Semakin maju zaman ini, sepatutnya gereja dan juga dunia pendidikan bisa berkerja sama guna untuk melakukan perubahan yang besar untuk menuju ke arah yang lebih baik. Karena pada dasarnya pendidikan Kristen juga berpusat pada Alkitab demikian juga dengan pemberitaan Firman dalam gereja, yang dikaji menurut 2 Timotius 3:16. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif deskritif. Tujuan dari penelitian ini adalah Pertama, mengkaji prinsip-prinsip penting dalam pendidikan Kristen berdasarkan 2 Timotius 3:16. Kedua, gereja memerankan fungsinya dalam pendidikan Kristen bagi seluruh jemaat. Ketiga, seluruh jemaat mengalami kedewasaan rohani secara Alkitabiah dalam pendidikan Kristen.
Peran Guru PAK dalam Mengembangkan Nilai Moral Kristiani SMP Deli Murni Delitua Purba, Grenta Prima; Ginting, Pelta
Jurnal Teologi Berita Hidup Vol. 7 No. 1 (2024): September 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jtbh.v7i1.755

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana peran guru PAK dalam mengembangkan nilai moral Kristiani di SMP Deli Murni Deli Tua. Nilai-nilai moral sangatlah perlu ditanamkan kepada Peserta Didik khususnya pada jaman era digital ini. Moral merupakan norma yang menjadi pegangan seseorang atau suatu kelompok dalam mengatur tingkah lakunya. Nilai-nilai moral merupakan sistem aturan yang mengatur interaksi sosial dan hubungan sosial individu dalam masyarakat dan didasarkan pada konsep kesejahteraan, kepercayaan, keadilan dan hak. Lokasi penelitian ini dilaksanakan di SMP Deli Murni Delitua, Kabupaten Deli Serdang, Provinsi Sumatera Utara, Pendekatan penelitian yang dilakukan penelitian merupakan pendekatan kualitatif. Teknik pengumpulan data menggunakan tiga teknik yaitu observasi, wawancara, dan dokumentasi. Informan dalam penelitian ini berjumlah 12 orang antara lain: peserta didik 10 orang, Guru PAK 1 orang, dan Guru BK 1 orang. Hasil penelitian ini, guru PAK sudah mengembangkan nilai-nilai moral Kristiani dengan beberapa aspek yaitu: guru PAK sebagai teladan, guru PAK sebagai motivator, guru PAK sebagai fasilitator, guru PAK sebagai pengajar iman, guru PAK sebagai petugas pastoral.
Integritas Daniel di Tengah Bangsa Kafir dalam Kitab Daniel 6:1-29 dan Implikasinya bagi Tantangan Pemimpin Kristen di Abad Ke-21 Pandeirot, Ferri Melki; Stevanus, Kalis
Jurnal Teologi Berita Hidup Vol. 7 No. 1 (2024): September 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jtbh.v7i1.758

Abstract

The world is currently experiencing an integrity crisis, whereas integrity is the quality and characteristic of humans that radiates the credibility of life. This paper is a biblical analysis of the integrity of Daniel, who became a leader amidst the Persian Media nation who did not believe in God. The purpose of this writing is to observe how Daniel's integrity lived among the unbelieving nation and how he faced the pressure from jealous individuals who sought to bring him down. This paper uses a narrative criticism of the Book of Daniel chapter 6:1-29. Through this research, it is concluded that Daniel has set an example for maintaining the integrity of his life by remaining faithful in worshiping God even though he faced the risk of losing his life. It poses a challenge and contemplation for present-day Christian leaders to dare to live rightly even in the face of various challenges and struggles.Dunia saat ini mengalami krisis integritas, padahal integritas adalah mutu dan sifat dari manusia yang memancarkan kewibawaan hidup. Tulisan ini merupakan analisa biblikal tentang integritas Daniel yang menjadi pemimpin di tengah-tengah kehidupan bangsa Media Persia yang tidak percaya pada Allah. Tujuan penulisan ini untuk melihat bagaimana integritas Daniel yang hidup bersama bangsa kafir serta bagaimana dia bersikap menghadapi tekanan orang-orang yang iri hati dan berusaha menjatuhkan dia. Tulisan ini menggunakan metode tafsir kritik naratif terhadap Kitab Daniel pasal 6:1-29. Melalui penelitian ini diperoleh kesimpulan bahwa Daniel telah menunjukkan teladan untuk tetap menjaga integritas hidupnya yang benar dan setia beribadah kepada Allah meskipun dia harus menghadapi risiko kehilangan nyawa. Menjadi tantangan dan perenungan bagi para pemimpin Kristen masa kini untuk berani hidup dengan benar sekalipun menghadapi berbagai tantangan dan pergumulan.
Studi Eksegesis “Sudah Selesai” Berdasarkan Yohanes 19.30 dan Implikasinya terhadap Pelayanan Misi Waruwu, Erlina; Gulo, Eki Firman Cahaya
Jurnal Teologi Berita Hidup Vol. 7 No. 1 (2024): September 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jtbh.v7i1.771

Abstract

In the beginning, God created humans in His image and likeness. However, humans prefer to disobey and rebel against God. Because of one person's disobedience, all of humanity was contaminated by this sin (Rom. 3:23). This means that sin is inherent in humans. God loves humanity more than any other creation. Because of God's love, he sent His only Son, Jesus Christ, to save mankind from the bondage of sin. Jesus Christ has come to the world and has completed the work of salvation on the cross when He said tetelestai it means it is finished. However, there are still many people who do not believe who do not know the meaning of this word and are not sure that Jesus' work in this world has been completed perfectly. There are still many believers who do not want to be involved in preaching the Gospel. Based on the background of this problem, the aim of this writing is first, to find out the theological meaning of Jesus' statement regarding the words It is Finished in John 19:30. Second, to know what is meant by mission service. Third, to find the essence of the finished statement in John 19:30 regarding mission service. The research method used in this writing is a qualitative method using a hermeneutic approach and literature study. Based on this, the author concludes that the word finished is the culmination of the mission itself. This means that the word finished cannot be separated from mission service. Jesus has truly completed the work of salvation very perfectly on the cross. This is good news for the world and it is the believer's responsibility to proclaim it.Pada mulanya Allah menciptakan manusia menurut gambar dan rupa-Nya. Namun, manusia lebih memilih untuk tidak taat dan memberontak kepada Allah. Karena ketidaktaatan satu orang maka semua umat manusia ikut tercemar oleh dosa tersebut (Rom. 3:23). Artinya dosa sudah melekat di dalam diri manusia. Allah sangat mengasihi umat manusia melebihi ciptaan lain. Oleh karena kasih Allah, maka mengutus Anak-Nya yang tunggal yaitu Yesus Kristus untuk menyelamatkan umat manusia dari belenggu dosa. Yesus Kristus telah datang ke dunia dan telah menyelesaikan karya penyelamatan tersebut di atas kayu salib ketika Ia mengatakan tetelestai artinya sudah selesai. Namun, masih banyak orang yang belum percaya yang tidak tahu makna dari kata tersebut dan tidak yakin bahwa pekerjaan Yesus di dunia ini sudah diselesaikan-Nya dengan sempurna. Masih banyak orang percaya yang tidak mau terlibat di dalam memberitakan Injil. Berdasarkan latar belakang masalah tersebut, maka tujuan penulisan ini pertama, untuk mengetahui makna teologis mengenai pernyataan Yesus tentang kata Sudah Selesai dalam Yohanes 19:30. Kedua, untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan pelayanan misi. Ketiga, untuk menemukan implikasi pernyataan sudah selesai dalam Yohanes 19:30 terhadap pelayanan misi. Metode penelitian yang digunakan dalam penulisan ini yaitu metode kualitatif dengan menggunakan pendekatan hermeneutika dan studi pustaka. Berdasarkan hal tersebut, maka penulis menyimpulkan bahwa kata sudah selesai merupakan puncak dari misi itu sendiri. Artinya ialah kata sudah selesai tidak dapat dipisahkan dalam pelayanan misi. Yesus sudah benar-benar menyelesaikan karya penyelamatan dengan sangat sempurna di atas kayu salib. Hal ini merupakan kabar sukacita bagi dunia dan tanggung jawab orang percaya untuk memberitakannya.
Degradasi Iman Kristen Era Digital Lie, Tan Lie; Ekoprodjo, Herman Sjahthi; Agus, Yohanes Twintarto
Jurnal Teologi Berita Hidup Vol. 7 No. 1 (2024): September 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jtbh.v7i1.792

Abstract

In the digital age, technology has become an integral part of human life. However, excessive and uncontrolled use of technology can result in the degradation of Christian faith. This article discusses the challenges and solutions faced by Christians in dealing with the degradation of Christian faith in the digital age. The research utilizes the literature review method and data analysis to find the relationship between the use of technology and the degradation of Christian faith. The results show that excessive use of technology can cause Christians to become slaves to technology, neglecting spiritual values and spirituality. Therefore, it is imperative for Christians to master technology and use technology wisely and appropriately.Dalam era digital, teknologi telah menjadi bagian integral dari kehidupan manusia. Namun, penggunaan teknologi yang berlebihan dan tidak terkendali dapat mengakibatkan degradasi iman Kristen. Artikel ini membahas tantangan dan solusi yang dihadapi oleh orang Kristen dalam menghadapi degradasi iman Kristen di era digital. Penelitian ini menggunakan metode kajian pustaka dan analisis data untuk menemukan hubungan antara penggunaan teknologi dan degradasi iman Kristen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan teknologi yang berlebihan dapat menyebabkan orang Kristen menjadi budak teknologi, mengabaikan nilai-nilai rohani dan spiritual. Oleh karena itu, sangat penting bagi orang Kristen untuk menguasai teknologi dan menggunakan teknologi dengan bijak dan tepat.
Sikap Gereja di Indonesia dalam Menghadapi Isu Kesetaraan Gender di Zaman Modern Naftali, Sandi
Jurnal Teologi Berita Hidup Vol. 7 No. 2 (2025): Maret 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jtbh.v7i2.804

Abstract

Dalam dunia modern, manusia telah mengenal istilah kesetaraan gender. Gender tidak lagi hanya dianggap sebagai karakteristik yang membedakan laki-laki dan perempuan, namun telah menjadi isu sosial yang beredar dalam masyarakat. Allah sendiri menciptakan manusia segambar dan serupa dengan-Nya serta mengasihi seluruh manusia dengan porsi yang sama. Hal yang menjadi masalah adalah kesalahpahaman yang terjadi di lingkungan Gereja yang menganggap kesetaraan gender sebagai suatu upaya untuk memprioritaskan peran perempuan dalam dunia pelayanan maupun di tengah masyarakat. Firman Allah tentu memiliki jawaban yang mutlak dan dapat dipertanggungjawabkan terkait hal ini. Penelitian kualitatif dengan menggunakan pendekatan studi kepustakaan dilakukan untuk menemukan jawaban terkait bagaimana sikap yang seharusnya ditunjukkan oleh Gereja terkait dengan isu-isu kesetaraan gender ini. Firman Allah berperan vital dalam memberikan prinsip dasar yang dapat dipegang dan digunakan oleh Gereja dalam menghadapi berbagai isu modern terkini.
Kepemimpinan Kristen Berbasis Tim: Pelajaran dari Ajaran dan Praktik Kepemimpinan Yesus dalam Injil Sinoptik Pranoto, Gangsar Sugio; Banowati, Debby Sani; Juniva, Estherina Andhi; Stevanus, Kalis
Jurnal Teologi Berita Hidup Vol. 7 No. 1 (2024): September 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jtbh.v7i1.823

Abstract

This article focuses on the concept of team-based leadership based on the teachings and leadership practices of Jesus Christ recorded in the Synoptic Gospels using a qualitative approach, namely literature study and narrative study. This article explores how Jesus' approach to team-based leadership can be applied in the context of contemporary Christian leadership. The study results show that effective leadership does not only rely on individual strength, but also synergy and collaboration within the team to achieve the stated organizational vision. After selecting His disciples as members of His ministry team, Jesus conducted intensive training and coaching to prepare them to continue His mission. Next, He sent and evaluated and corrected the tasks of His team.Artikel ini memfokuskan konsep kepemimpinan berbasis tim berdasar dari ajaran dan praktik kepemimpinan Yesus Kristus yang dicatat dalam Injil Sinoptik dengan menggunakan pendekatan kualitatif yaitu studi kepustakaan dan studi naratif. Artikel ini mengeksplorasi bagaimana pendekatan Yesus terhadap kepemimpinan berbasis tim dapat diterapkan dalam konteks kepemimpinan Kristen kontemporer. Hasil kajian menunjukkan bahwa kepemimpinan yang efektif tidak hanya mengandalkan kekuatan individu, tetapi juga sinergi dan kolaborasi dalam tim untuk mencapai visi organisasi yang telah ditetapkan. Setelah memilih para murid-Nya sebagai anggota tim pelayanan-Nya, Yesus melakukan pelatihan dan pembinaan yang intensif untuk mempersiapkan mereka melanjutkan misi-Nya. Selanjutnya Dia mengutus dan melakukan evaluasi serta koreksi atas tugas dari tim-Nya.
Revitalisasi Tindak Pastoral Gereja: Sebuah Kajian Teologis Pastoral Agut, Yoseph Selvinus
Jurnal Teologi Berita Hidup Vol. 7 No. 2 (2025): Maret 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jtbh.v7i2.826

Abstract

The article is a theological-pastoral overview of the Church's pastoral methods and actions. This article is a qualitative research with a literature study approach related to pastoral ideas and actions in the Church. It is important to emphasize that pastoral action is the Church's response to various needs, both problems and hopes, among the faithful. Revitalising pastoral actions should begin with an adequate understanding of the basic principles of pastoral action and the constitutive elements that support it. It is realised that many pastoral ideas and actions need to be interpreted and re-evaluated (revitalisation) in order to attain the aim of pastoral action, that is the salvation of the faithful. A good and right pastoral action always departs from a correct understanding of the dynamics of people's lives, knows the context of their lives, and has a sense that is in harmony with their wishes. The signs of the times require the Church to have a reflective attitude that is relevant and contextualised critically, which leads to the renewal of its pastoral actions. Reflective evaluation (revitalisation) of every pastoral action becomes the key point of whether the Church really wants to become more relevant and contextualized.
Rekontekstualisasi Pendidikan Nilai Teologi di Era Post-Truth Berdasarkan Roma 1:18-32 Tuminah, Sri; Budiyana, Hardi; Sukarno, Mahattama Banteng
Jurnal Teologi Berita Hidup Vol. 7 No. 1 (2024): September 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jtbh.v7i1.831

Abstract

Immoral and criminal acts by social actors in religious and cultural communities are a barometer of the low quality of theological values education. These social facts are gaining more and more space in the post-truth era. This confirms that there is a problem in Theological Education of Values that needs to be critiqued again in order to achieve maximum results. Therefore, the researcher developed a research question, namely, how to recontextualise theological values education in the post-truth era. The question is based on the research gap and is also the main basis for the novelty of this research. By developing Teun Adrianus van Dijk's critical discourse analysis perspective on Romans 1:18-32, the researcher found that the passage highlights Christian values education and provides four recommendations to address the problems and challenges that arise in the post-truth era, including: first, developing a critical and constructive attitude towards narrative; second, developing a comprehensive understanding of identity and its representation; third, promoting and implementing interfaith dialogue and tolerance; and fourth, using the media wisely. These four things are important to be implemented by theological values education activists to respond to any negative phenomenon in the present and transform it into positive and constructive based on God's truths. Tindakan-tindakan amoral dan kriminal dari aktor-aktor sosial dalam masyarakat agama dan budaya menjadi barometer atas rendahnya kualitas Pendidikan Nilai Teologis. Fakta sosial tersebut semakin mendapatkan ruang di era post-truth. Hal ini menegaskan, bahwa ada masalah dalam Pendidikan Nilai Teologi yang selama ini telah berlangsung perlu dikritisi kembali guna mendapatkan hasil maksimal. Karena itu, peneliti mengembangkan satu pertanyaan penelitian, yaitu bagaimana rekontekstualisasi Pendidikan nilai Teologi di Era Post-truth? Pertanyaan tersebut didasarkan atas celah penelitian dan sekaligus menjadi pijakan utama kebaruan penelitian ini. Dengan mengembangkan perspektif Analisa Wacana Kritis dari Teun Adrianus van Dijk atas Roma 1:18-32, peneliti menemukan bahwa perikop tersebut menekankan Pendidian Nilai Kristiani dan memberikan empat rekomendasi untuk menyikapi permasalahan dan tantangan yang muncul di era post-truth antara lain: pertama, mengembangkan sikap kritis dan konstruktif terhadap narasi; kedua, mengembangkan pemahaman komprehensif tentang identitas serta representasinya; ketiga, mempromosikan dan melaksanakan dialog lintas iman dan toleransi; dan keempat, mempergunakan media dengan bijaksana. Keempat hal tersebut menjadi penting dilaksanakan oleh penggiat Pendidikan Nilai Teologis guna  menyikapi setiap fenomena negatif dalam kekinian dan mengubahnya menjadi positif serta konstruktif berdasarkan kebenaran-kebenaran Allah.