cover
Contact Name
Lia Cundari
Contact Email
liacundari@ft.unsri.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal_tekim@unsri.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kab. ogan ilir,
Sumatera selatan
INDONESIA
Jurnal Teknik Kimia
Published by Universitas Sriwijaya
ISSN : 08530963     EISSN : 27214885     DOI : -
Jurnal Teknik Kimia merupakan publikasi tulisan ilmiah hasil riset dan pengalaman lapangan di bidang Teknik Kimia, mulai dari prinsip dasar atau fundamental sampai pada penerapan/aplikasinya di industri. Jurnal Teknik Kimia dalam versi cetak telah diterbitkan sejak tahun 1996. Jurnal Teknik Kimia juga diterbitkan dalam versi on line mulai tahun 2013. Pada versi on line dapat diakses publikasi di Jurnal Teknik Kimia sejak tahun 2008 sampai sekarang.
Arjuna Subject : -
Articles 289 Documents
Optimasi volume katalis H2SO4 dan waktu proses esterifikasi pada tahapan proses biodisel Eka Megawati; Andra Hendrawan Pratama; I Ketut Warsa; Adittya Octavian P Putra; Norhan Effendi; Yuniarti Yuniarti
Jurnal Teknik Kimia Vol 28 No 1 (2022): Jurnal Teknik Kimia
Publisher : Chemical Engineering Department, Faculty of Engineering, Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36706/jtk.v28i1.1066

Abstract

Minyak jelantah merupakan minyak hasil penggorengan yang merupakan bahan tidak terpakai lagi. Minyak jelantah merupakan salah satu limbah rumah tangga. Adanya pengolahan terhadap minyak jelantah menjadi biodisel diharapkan dapat mengurangi limbah rumah tangga dan menjadi salah satu sumber energi baru terbarukan. Langkah awal untuk mengolah minyak jelantah menjadi biodiesel adalah dengan proses esterifikasi dengan mengukur nilai asam lemak bebas atau Free Fatty Acid (FFA). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui waktu optimum yang digunakan saat proses esterifikasi dan membandingkan volume penggunaan katalis Asam Sulfat (H2SO4) menggunakan metode Anova. Penelitian dilakukan menggunakan metode eksperimen. Variabel yang digunakan pada penelitian ini adalah waktu pengendapan yaitu 12 jam sampai dengan 25 jam dan volume katalis yang dibandingkan adalah 6 ml dan 8 ml untuk setiap 200 ml minyak jelantah. Berdasarkan hasil Analisa diperoleh bahwa kondisi optimum yang dapat digunakan pada proses pengendapan yaitu pada waktu 25 jam dengan pemakaian katalis sebanyak 8 ml. Kesimpulan dari Analisa anova adalah nilai F hitung (4,800) > F tabel (2,424), maka dapat diartikan bahwa nilai FFA dari variasi katalis 6 ml dan 8 ml memiliki perbedaan yang signifikan dengan taraf signifikansi 5%.
Menghitung efisiensi dan losses cooling tower unit refinery pt wilmar nabati indonesia pelintung Tine Aprianti; Elysa Dellanti Priyantama; Faleria Irtha Tannuwijaya
Jurnal Teknik Kimia Vol 23 No 4 (2017): Jurnal Teknik Kimia
Publisher : Chemical Engineering Department, Faculty of Engineering, Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36706/jtk.v23i4.1073

Abstract

Unit Refinery dan Fraksinasi pada PT Wilmar Nabati Indonesia Pelintung merupakan unit produksi dalam proses pengolahan bahan baku agar dapat menjadi minyak goreng curah yang memiliki kemurnian yang tinggi. Free Fatty Acid (FFA) merupakan salah satu senyawa yang dapat mengganggu kemurnian dari minyak goreng tersebut. Dilakukan pemurnian dengan sistem sirkulasi dari Palm Fatty Acid Destilate yang telah diturunkan suhunya agar dapat membaawa sejumlah FFA teruapkan. Penurunan suhu dari PFAD ini berperan penting dalam kemurnian minyak dan dilakukan dengan pertukaran panas antara air dan juga PFAD tersebut. Didapatkan efisiensi cooling tower yang berfungsi mendinginkan air proses tersebut sebesar 88,1% serta air yang terbawa ke udara selama proses pendinginan dan juga yang terbuang sebesar 1386,3 m3 setiap harinya.
Pembuatan bioetanol dari biji cempedak menggunakan metode hidrolisis asam dan fermentasi Siti Miskah; Wasti Saing; Coraima Siburian
Jurnal Teknik Kimia Vol 23 No 4 (2017): Jurnal Teknik Kimia
Publisher : Chemical Engineering Department, Faculty of Engineering, Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36706/jtk.v23i4.1074

Abstract

Salah satu alternatif dalam mendukung ketersediaan sumber daya energi terbarukan adalah dengan memanfaatkan sumber dari non fosil seperti bioetanol. Bioetanol merupakan etanol yang dibuat dari biomass yang mengandung komponen pati (karbohidrat) atau selulosa yang selanjutnya di fermentasi menggunakan bantuan mikroorganisme (Saccharomyces cerevisiae). Bahan baku yang digunakan pada penelitian ini adalah biji buah cempedak. Penelitian ini bertujuan membuat bioetanol dari biji buah cempedak dengan variasi penambahan jumlah ragi dan lamanya waktu fermentasi. Kemudian bioetanol ini ditentukan densitas, kadar etanol, viskositas dan nilai kalornya. Produksi bioetanol telah dilakukan melalui proses konversi karbohidrat menjadi gula (glukosa) dengan hidrolisis asam (HCl). Hidrolisat yang diperoleh selanjutnya difermentasi dengan penambahan massa ragi 1,8; 3,6; 5,4; 7,2; dan 9 gram serta lama fermentasi 1, 3, 5, 7, 9 hari. Hasil penelitian menunjukkan lama fermentasi dan banyak ragi mempengaruhi kadar etanol. Kadar etanol tertinggi diperoleh 1,10% pada penambahan ragi 9 gram dengan lama fermentasi 5 hari. Densitas bioetanol terendah diperoleh 0,8985 gr/ml pada penambahan ragi 9 gram dengan lama fermentasi selama 5 hari. Viskositas paling tinggi 1,0386 mm2/s. Nilai kalor tertinggi diperoleh 10.309,48 cal/gr.
Pemanfaatan limbah baglog jamur sebagai biobriket dengan penambahan getah damar dan tepung kanji sebagai perekat Rosdiana Moeksin Moeksin; Fitri Febrianti; Ade Octavirosa
Jurnal Teknik Kimia Vol 23 No 4 (2017): Jurnal Teknik Kimia
Publisher : Chemical Engineering Department, Faculty of Engineering, Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36706/jtk.v23i4.1075

Abstract

Limbah baglog jamur tiram putih adalah limbah yang dihasilkan dari media tanam jamur tiram yang telah tidak produktif. Pada umumnya limbah baglog jamur tiram belum dimanfaatkan secara maksimal. Limbah baglog jamur tiram memiliki komposisi yaitu terdiri dari 80% serbuk gergaji, 10% dedak padi, 1,8% gipsum dan 0,4% TS. Dari jumlah komposisi tersebut serbuk gergaji dan dedak padi yang paling banyak komposisinya dimana kedua komponen itu memiliki kandungan superkarbon yang dapat dijadikan bahan baku pembuatan bahan bakar alternatif biobriket. Penelitian yang dilakukan adalah pembuatan biobriket tanpa karbonisasi dari limbah baglog jamur tiram putih dengan perbandingan rasio bahan baku dan perekat (10:3:3 10:3:5 10:3:7) dan temperatur oven (95 ºC,105 ºC,115 ºC,125 ºC). Penelitian ini untuk mengetahui pengaruh rasio getah damar dan suhu pada oven terhadap biobriket yang dihasilkan. Pembuatan biobriket menggunakan getah damar mata kucing dan tepung tapioka sebagai perekat. Dari penelitian yang dilakukan didapatkan hasil biobriket yang memenuhi syarat SNI yaitu berkisar 4735-5759 kal/g.
Evaluasi performa katalispada low temperature shift converter (ltsc) 104-d2 pabrik ammonia Sesti Roima; Dewi Sri; Leily Nurul Komariah
Jurnal Teknik Kimia Vol 24 No 3 (2018): Jurnal Teknik Kimia
Publisher : Chemical Engineering Department, Faculty of Engineering, Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36706/jtk.v24i3.1076

Abstract

Low temperature shift converter (LTSC) 104-D2 di pabrik Ammonia P-IV merupakan unit untuk purifikasi yang berfungsi untuk mengkonversikan kandungan CO pada Syn gas menjadi CO2. Hal ini karena larutan Benfield hanya bisa mengikat CO2, maka sebelum masuk kedalam adsorber CO yang terkandung dalam syn gas diubah menjadi CO2. Didalam Low Temperature Shift Converter terdapat katalis untuk mempercepat lajureaksi yaitu katalis copper oxide. Konversi CO menjadi CO2 sering terjadi fluktuasi dapat mengindikasikan kerusakan pada katalis. Kerusakan dapat terjadi karena pengaruh deaktivasi katalis. Fluktuasi mulai terjadi dari Desember 2016 karena efek dari bocoran Cooler 102-C yang masuk ke HTSC menjadikan katalis mulai rusak karena temperatur reaksi yang semakin tinggi untuk mencapai konversi tinggi agar CO outlet tidak melampaui 0,3%. Mulai terjadi sintering pada katalis LTSC karena temperatur operasinya yang meningkat ditandai dengan turunnya performa karena kedalaman reaksi yang telah bergeser dari midlle bed ke bottom bed. Terbentuknya padatan-padatan kecil selama kerja katalis mengakibatkan terbentuknya padatan yang lebih besar dengan total aktifitas katalis lebih rendah.Katalis ini mempunyai kelemahan terhadap temperatur tinggi sebab logam Cu mengalami sintering. Life time katalis saat alat beroperasi telah mencapai umur 2 tahun, sehingga jika terus dibiarkan kebocoran pada Cooler 102-C akan benar-benar merusak katalis sehingga katalis menjadi pecah.
Karakteristik fisik produk fermentasi kombucha dari berbagai daun berflavanoid tinggi Hendra Wijaya Saputra; Roosdiana Muin; Eka Permata
Jurnal Teknik Kimia Vol 23 No 4 (2017): Jurnal Teknik Kimia
Publisher : Chemical Engineering Department, Faculty of Engineering, Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36706/jtk.v23i4.1080

Abstract

Kombucha merupakan produk minuman hasil fermentasi larutan teh dan gula sukrosa sebagai nutrien yang difermentasi oleh bakteri Acetobacter Xylinum dan beberapa jenis khamir lainnya yang mengubah kandungan gula menjadi asam amino essensial yang bermanfaat bagi tubuh. Pada umumnya fermentasi Kombucha menggunakan teh hitam sebagai bahan dasar larutan fermentasi. Di Indonesia, kaya akan ragam jenis daun-daunan yang memiliki kandungan fenol dan flavanoid tinggi, sehingga dapat dimanfaatkan sebagai minuman dan secara fungsional bisa sebagai pengganti teh hitam. Beberapa jenis daun yang memiliki kandungan fenol dan flavanoid tinggi antara lain daun salam, daun jambu, daun sirsak, dan daun sirih. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui karakteristik fermentasi kombucha dari berbagai jenis daun tersebut. Metode penelitian menggunakan Rancang Acak Kelompok (RAK) dengan 1 faktor perlakuan dengan 3 kali pengulangan sehingga mendapatkan 16 sampel. Faktor yang digunakan adalah jenis daun berfenol tinggi, A1 = daun teh, A2 = daun jambu biji, A3= daun salam, A4 = daun sirsak dengan variabel peubah lainnya konsentrasi gula B1= 10%, B2 = 15%, B3 = 20%. Hasil menunjukkan kombucha dari daun teh dan daun sirsak memiliki karakteristik terbaik dengan ph 3,6-3,8 , gula reduksi 8,56-8,70%, total asam 5,8-6,4% dan tingkat kesukaan suka –agak suka.
Analisis karakteristik dan potensi logam pada limbah padat fly ash dan bottom ash di PLTU industri pupuk Marwan Asof; Susila Arita; Luthfia Luthfia; Winny Andalia; Muhammad Naswir
Jurnal Teknik Kimia Vol 28 No 1 (2022): Jurnal Teknik Kimia
Publisher : Chemical Engineering Department, Faculty of Engineering, Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36706/jtk.v28i2.977

Abstract

Pembangkit Listrik Tenaga Uap di Indonesia masih didominasi menggunakan bahan bakar batubara pada boilernya. Semakin tinggi kebutuhan listrik di Indonesia akan membuat kebutuhan batubara semakin tinggi, sehingga limbah fly ash dan bottom ash yang dihasilkan akan semakin banyak. Fly ash dan bottom ash digolongkan dalam limbah B3. Pengujian menggunakan instrument analisa X-Ray Fluorescence (XRF) akan diketahui unsur-unsur dan oksida pembawa logam berat yang terkandung dalam limbah fly ash dan bottom ash. Unsur-unsur tersebut antara lain magnesium (Mg), aluminium (Al), silika (Si), posfor (P), sulfur (S), kalium (K), kalsium (Ca), titanium (Ti), vanadium (V), kromium (Cr), mangan (Mn), besi (Fe), kobal (Co), nikel (Ni), tembaga (Cu), seng (Zn), galium (Ga), arsen (As), rubidium (Rb) stronsium (Sr), itrium (Y), zirkon (Zr), argentum (Ag), europium (Eu), timbal (Pb) dalam konsentrasi yang berbeda-beda antara kandungan fly ash dan bottom ash. Beberapa oksida dominan pembawa logam berat yang terdeteksi seperti Fe2O3 sebesar 3,658% pada fly ash dan sebesar 2,237% pada bottom ash; Ag2O pada sampel fly ash kandungannya sebanyak 0,143% dan pada bottom ash sebanyak 0,01%; MnO sebesar 0,036% pada fly ash dan sebanyak 0,015% pada bottom ash serta oksida ZnO dengan kadar sebesar 0,016% pada fly ash dan 0,019% pada bottom ash.
Karakteristik biodiesel dari campuran bahan bakar dexlite dan minyak jelantah tanpa perlakuan pada mesin diesel Bayu Aji Saputro; Abdurrahman Abdurrahman
Jurnal Teknik Kimia Vol 28 No 2 (2022): Jurnal Teknik Kimia
Publisher : Chemical Engineering Department, Faculty of Engineering, Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36706/jtk.v28i2.1003

Abstract

Minyak Jelantah (Waste Cooking Oil) memiliki potensi untuk dapat dimanfaatkan menjadi campuran bahan bakar diesel. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa karakteristik dan pengaruh minyak jelantah tanpa perlakuan sebagai alternatif campuran bahan bakar pada mesin diesel. Minyak jelantah dicampur dengan dexlite pada persentase B0 (100% Dexlite), B25 (25% Minyak Jelantah + 75% Dexlite) dan B50 (50% Minyak Jelantah + 50% Dexlite). Sebelum minyak jelantah dicampurkan dilakukan analisa bilangan asam dengan menggunakan metode titrasi mendapatkan hasil rata-rata 0,87 mg/mL, sehingga dimungkinkan minyak jelantah untuk dicampurkan dengan bahan bakar diesel. Kemudian dilakukan analisa sifat fisik dan sifat kimia bahan bakar campuran mendapatkan hasil mendekati sifat bahan bakar diesel. Pengujian performa mesin berupa torsi, daya, dan konsumsi bahan bakar spesifik (sfc) mendapatkan hasil bahan bakar B25 memiliki nilai torsi mendekati B0, selisih rata–rata torsi yang dihasilkan sebesar -0,01% pada tiap variasi putaran mesin. Sedangkan pada bahan bakar B50 memiliki selisih rata–rata torsi sebesar -2,38% dengan bahan bakar B0 pada tiap variasi putaran mesin. Daya yang dihasilkan oleh bahan bakar B25 menghasilkan nilai mendekati bahan bakar B0, selisih nilai rata–rata daya yang dihasilkan sebesar 0,35% pada tiap variasi putaran mesin. Sedangkan pada bahan bakar B50 memiliki selisih rata–rata torsi sebesar -2,13% Sedangkan untuk konsumsi bahan bakar spesifik (sfc) yang dihasilkan bahan bakar B25 dan B50 memiliki nilai lebih tinggi masing–masing sebesar 18,11% dan 13,76%. Dari sifat dan hasil pengujian performa mesin menunjukkan bahwa campuran bahan bakar minyak jelantah B25 dan B50 dapat digunakan tanpa melakukan modifikasi apapun pada mesin diesel.
Karakteristik produk penyangraian (roasting) biji kopi robusta menggunakan microwave heating Budi Santoso; Ariq Kamal Zasyah; Desy Anya Clarissa
Jurnal Teknik Kimia Vol 28 No 2 (2022): Jurnal Teknik Kimia
Publisher : Chemical Engineering Department, Faculty of Engineering, Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36706/jtk.v28i2.926

Abstract

Proses Pengolahan biji kopi untuk dijadikan bahan baku minuman melalui beberapa proses tahapan mulai dari perlakuan saat panen dan perlakuan pasca panen. Tahapan Proses pengolahan pasca panen biji kopi yaitu proses penyangraian yang melibatkan peristiwa perpindahan panas. Penyangraian merupakan proses yang penting untuk mengubah struktur ikatan karbon dan ikatan ikatan kimia dalam biji kopi dengan menggunakan energi termal. Sumber energi termal untuk penyangraian kopi lazimnya menggunakan pemasanan metode surface heating dengan peralatan pemanas seperti kompor dan lain-lain. Dalam penelitian ini yang digunakan untuk proses penyanggraian menggunakan metode volumetric heating dengan peralatan microwave oven, dengan variasi perlakuan yaitu lama waktu penyangraian 12, 14, 16 menit dan pengaturan daya penyangraian 300, 400, 500 watt. Hasil produk sangrai kemudian dianalisa kadar air, kadar abu, dan kadar senyawa kafein. Penilaian syarat mutu SNI kopi bubuk (2004) digunakan untuk mengetahui apakah biji kopi tersebut layak diminum dan dikomersialkan. Hasil analisis didapati bahwa untuk kadar air sampel biji kopi berkisar antara 1,15-8,71 %, kadar abu 5,235-6,935%, dan kadar kafein 0,53-1,81%.
Pengaruh variabel hidrodinamika pada proses transformasi d-glukosa menjadi d-fruktosa dalam reaktor baffle dengan arus osilasi Wita Pradiani; Sri Haryati; Muhammad D Bustan
Jurnal Teknik Kimia Vol 28 No 2 (2022): Jurnal Teknik Kimia
Publisher : Chemical Engineering Department, Faculty of Engineering, Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36706/jtk.v28i2.966

Abstract

Gula merupakan salah satu kebutuhan pokok masyarakat Indonesia, fungsi utamanya adalah sebagai pemanis. Kadar Glukosa yang tinggi menjadi pencetus berbagai macam penyakit. Penelitian tentang transformasi D-glukosa menjadi D-Fruktosa ini dilakukan di dalam reaktor osilasi kolom dengan baffle, yang merupakan implementasi dari teknologi arus osilasi. Penelitian dilakukan dengan bahan baku α-D glukopiranosa murni, yang bertujuan untuk mempelajari pengaruh variabel hidrodinamika( amplitude dan frekuensi) dengan dan tanpa osilasi pada peningkatan konversi D-glukosa menjadi D- fruktosa. Pada proses non osilasi, bahan baku yang digunakan terdiri dari α D- glukopiranosa mumi sebesar 98 %, katalis NaBr.2H2O dengan perbandingan 1:0,005; larutan NaOH 50% untuk membuat suasana larutan dalam kondisi basa pada PH 8-11, dan air sebagai pelarut. Di dalam reaktor osilasi berbalfle ini, proses berlangsung dengan variabel yang divariasikan : Temperatur 50 °C, 60 °C dan 70 °C .Pada Proses Osilasi dengan komposisi bahan baku yang sama pada proses Non Osilasi yaitu perbandingan katalis dan bahan baku 0,005 dan variabel operasi yang divareasikan : Frekuensi 4 Hz,6 Hz,8 Hz,10 Hz; Amplitudo 4 cm, 6 cm, 8 cm, 10 cm. Sehingga diperoleh konversi D-fruktosa pada Non Osilasi sebesar 47 % pada Temperatur 60°C, waktu 55 menit. Pada proses Osilasi diperoleh konversi yang cukup tinggi sebesar 98,3 %, pada temperatur 60 °C, waktu 50 menit. Dari eksperimen yang dilakukan pada transformasi D-glukosa menjadi D-fruktosa menunjukkan adanya pengaruh variabel hidrodinamika (Amplitudo dan frekuensi) terhadap besarnya konversi yang diperoleh. Hal ini membuktikan bahwa arus osilasi memberikan pengaruh terhadap konversi D-glukosa menjadi D- fruktosa.