cover
Contact Name
Muhammad Ali Adriansyah
Contact Email
ali.adriansyah@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
psikostudia@fisip.unmul.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota samarinda,
Kalimantan timur
INDONESIA
Psikostudia : Jurnal Psikologi
Published by Universitas Mulawarman
ISSN : 23022582     EISSN : 26570963     DOI : -
PSIKOSTUDIA : JURNAL PSIKOLOGI is a peer-reviewed journal which is published by Universitas Mulawarman, East Kalimantan publishes biannually in June and December. This Journal publishes current original research on psychology sciences using an interdisciplinary perspective, especially within Organitational and Industrial Psychology, Clinical Psychology, Educational Psychology, and Experimental Psychology Studies.
Arjuna Subject : -
Articles 462 Documents
Intuitive Thinking Style and Financial Risky Behaviour: The Mediating Role of Anticipated Emotions Maharani, Theodora; Rustam, Miriam; Sianipar, Agnes
Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 14, No 4 (2025): Volume 14, Issue 4, Desember 2025
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikostudia.v14i4.20509

Abstract

Financially risky behavior can negatively impact individuals' quality of life and well-being, particularly in the context of the ‘doom spending’ phenomenon and problematic online credit in Indonesia. This study aims to understand the relationship between Intuitive-Experiential thinking style and financially risky behavior, considering the role of anticipated emotions as a mediator. Using a non-experimental quantitative approach, this study involved 254 respondents aged 21–35 years. Data were analyzed using correlation and multiple regression (Hayes Process Model 4) techniques. The results indicated that the Intuitive-Experiential thinking style was not directly related to financially risky behavior; instead, anticipated emotions fully mediated this relationship. These findings highlight the importance of considering emotional factors in understanding risky financial behavior and their implications for policy interventions and financial literacy education in Indonesia.Perilaku berisiko finansial dapat berdampak negatif terhadap kualitas hidup dan kesejahteraan individu, terutama dalam konteks fenomena ‘doom spending’ dan kredit online bermasalah di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk memahami hubungan antara gaya berpikir Intuitif-Eksperiensial dan perilaku berisiko finansial, dengan mempertimbangkan peran emosi yang diantisipasi sebagai mediator. Penelitian ini melibatkan 254 responden berusia 21–35 tahun. Menggunakan pendekatan kuantitatif non-eksperimental, Data dianalisis menggunakan teknik korelasi dan regresi berganda dengan Hayes Process Model 4. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gaya berpikir Intuitif-Eksperiensial tidak secara langsung berhubungan dengan perilaku berisiko finansial, melainkan hubungan tersebut dimediasi sepenuhnya oleh emosi yang diantisipasi. Temuan ini menegaskan pentingnya mempertimbangkan faktor emosi dalam memahami perilaku berisiko finansial serta implikasinya terhadap intervensi kebijakan dan edukasi literasi keuangan di Indonesia.
The Effectiveness of Mindfulness in Improving Self-Regulation in Gadget-Addictive Adolescents Purwaningtyas, Fifin Dwi; Zuroida, Aironi; Nurlaily, Lutfiana; Andriyani Wahyuning Lestari, Bayu
Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 14, No 4 (2025): Volume 14, Issue 4, Desember 2025
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikostudia.v14i4.21596

Abstract

The increasing excessive use of gadgets among adolescents has led to a tendency toward addictive behavior, impacting psychological well-being and weakening emotional regulation. This situation demands effective psychological interventions to help adolescents manage themselves more adaptively. This study aims to test the hypothesis that these interventions, Mindfulness Attention Awareness, are effective in increasing mindfulness levels in adolescents with gadget addiction. The study used a quantitative approach with an experimental design. One group pretest-posttest research subjects were 25 teenagers aged 14–19 years who were screened using the Smartphone Addiction Scale–Short Version (SAS-SV). The intervention was administered over three weeks in six sessions (twice per week) with a duration of 60–90 minutes per session. The intervention materials included mindful breathing exercises, body scan, observation of thoughts and emotions, and the development of self-compassion. The mindfulness measurement instrument uses the Mindfulness Attention Awareness Scale (MAAS). The normality and homogeneity tests show that the data are normally and homogeneously distributed. The test results, paired sample t-testshowed a significant difference between the pretest and posttest scores (t(24) = -46.850, p = 0.000). This finding supports the hypothesis that the intervention Mindfulness Attention Awareness is effective in increasing full awareness and helping teenagers reduce the tendency towards addictive behavior towards gadgets.Fenomena meningkatnya penggunaan gadget secara berlebihan pada remaja telah menimbulkan kecenderungan perilaku adiktif yang berdampak pada kesejahteraan psikologis dan melemahkan fungsi regulasi emosi. Kondisi ini menuntut adanya intervensi psikologis yang efektif untuk membantu remaja mengelola diri secara lebih adaptif. Penelitian ini bertujuan untuk menguji hipotesis bahwa intervensi Mindfulness Attention Awareness efektif dalam meningkatkan tingkat mindfulness pada remaja yang mengalami kecanduan gadget. Latar belakang penelitian ini didasarkan pada meningkatnya fenomena perilaku adiktif terhadap penggunaan gadget pada kalangan remaja yang berdampak pada kesejahteraan psikologis dan fungsi regulasi emosi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain eksperimen one group pretest-posttest. Subjek penelitian berjumlah 25 remaja berusia 14–19 tahun yang disaring menggunakan Smartphone Addiction Scale–Short Version (SAS-SV). Intervensi diberikan selama tiga minggu dalam enam sesi, dua kali per minggu, dengan durasi 60–90 menit per sesi. Materi intervensi berbasis modul meliputi latihan pernapasan sadar, pemindaian tubuh (body scan), pengamatan pikiran dan emosi, serta pengembangan self-compassion. Instrumen pengukuran mindfulness menggunakan Mindfulness Attention Awareness Scale (MAAS). Uji normalitas dan homogenitas menunjukkan bahwa data berdistribusi normal dan homogen. Hasil uji paired sample t-test menunjukkan perbedaan yang signifikan antara skor pretest dan posttest (t(24) = -46.850, p = 0.000). Hasil ini mendukung hipotesis bahwa intervensi Mindfulness Attention Awareness efektif dalam meningkatkan kesadaran penuh dan membantu remaja dalam mengurangi kecenderungan perilaku adiktif terhadap gadget.
Cognitive Behavior Therapy (CBT): A Strategy to Overcome Self-Efficacy Problems in Final-Year Students Florencia, Dian Elanie; Andriani, Fitri
Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 14, No 4 (2025): Volume 14, Issue 4, Desember 2025
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikostudia.v14i4.20210

Abstract

Self-efficacy is seen as a person's belief in their abilities that will influence them in reacting to certain situations and conditions. Individuals with low self-efficacy unable to think rationally and are hampered by negative views of their environment. In final year students, low levels of self-efficacy can cause feelings of discouragement, feeling down, avoidance, and difficulty in focusing. Interventions that can be used in dealing with low self-efficacy are the Cognitive Behavior Therapy (CBT). The purpose of this study was to see how Cognitive Behavior Therapy (CBT) can overcome self-efficacy problems in final year students. This study is an experimental study using a single case design with the A-B technique. The subject was a 21-year-old final year student. Measurement of the subject's self-efficacy level was carried out using The Generalized Self-Efficacy Scale (GSES) which has been adapted into Indonesian. Additional assessments in the form of interviews, observations, IST tests, SSCT tests, and EPPS tests were added. Intervention using the Cognitive Behavior Therapy (CBT) method was carried out in 5 sessions. The results of this study indicate that the application of CBT can increase the level of self-efficacy of the subjects from the low category to the moderate category.Self-efficacy dipandang sebagai keyakinan seseorang akan kemampuannya yang akan mempengaruhinya dalam bereaksi terhadap situasi dan kondisi tertentu. Individu dapat memiliki self-efficacy yang rendah diakibatkan menerapkan konsep berpikir yang kurang tepat sehingga tidak mampu berpikir rasional dan terhambat oleh pandangan-pandangan negatif di sekitarnya. Pada mahasiswa tingkat akhir, rendahnya tingkat self-efficacy dapat menyebabkan munculnya rasa tidak semangat, merasa down, munculnya perilaku menunda, menghindar, dan kesulitan dalam fokus saat pengerjaan skripsinya. Intervensi yang dapat digunakan dalam menangani self-efficacy rendah adalah metode Cogntive Behavior Therapy (CBT). Maka dari itu, tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat bagaimana penerapan Cogntive Behavior Therapy (CBT) dapat mengatasi permasalahan self-efficacy pada mahasiswa tingkat akhir. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen yang menggunakan desain single case dengan teknik A-B. Subjek merupakan seorang mahasiswa tingkat akhir berusia 21 tahun. Pengukuran terhadap tingkat self-efficacy subjek dilakukan dengan menggunakan The Generalized Self-Efficacy Scale (GSES) yang telah diadaptasi dalam Bahasa Indonesia. Asesmen tambahan berupa wawancara, observasi, tes IST, tes SSCT, dan tes EPPS ditambahkan untuk memastikan adanya permasalahan self-efficacy pada subjek. Intervensi menggunakan metode Cogntive Behavior Therapy (CBT) dilakukan sebanyak 5 sesi. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan CBT dapat meningkatkan tingkat self-efficacy subjek dari kategori rendah ke kategori sedang.
Self-Compassion: The Power of Self- Compassion as a Path to Students Psychological Well-being Simarmata, Nenny Ika Putri; Natalia Situmorang, Yurika; Sitorus, Sahala; Gandariang Gulo, Mustika
Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 14, No 4 (2025): Volume 14, Issue 4, Desember 2025
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikostudia.v14i4.21022

Abstract

Students often face various challenges in their academic and social lives, such as academic pressure, uncertainty about the future, and social and economic demands. These challenges can affect students' mental health. During the course of their studies, psychological well-being becomes highly important, as it relates to how satisfied individuals are with their lives, whether they have a clear sense of purpose, and how well they manage stress and emotions. This study aims to examine the effect of self-compassion on psychological well-being among university students in North Sumatra. The research used a quantitative method, with stratified cluster sampling as the sampling technique. The sample consisted of 202 active students from public and private universities across the province of North Sumatra. Data analysis was carried out using simple linear regression with the help of SPSS for Windows 20. The instruments used were the Self-Compassion Scale (SCS) by Neff and Ryff’s Psychological Well-Being Scales (PWB-42). The regression analysis showed a positive and significant effect of self-compassion on psychological well-being (p < 0.05), accounting for 43% of the variance. The level of self-compassion among active university students in North Sumatra was in the moderate category (49%), as was their psychological well-being (60.9%). The findings indicate that the higher the level of self-compassion, the higher the level of psychological well-being among students. This study highlights the importance of developing self-compassion as an effort to enhance students’ psychological well-being. Mahasiswa banyak menghadapi tantangan dalam kehidupan akademik dan sosial, seperti tekanan akademik, ketidakpastian masa depan, dan tuntutan sosial dan ekonomi. Tantangan-tantangan ini dapat mempengaruhi kesehatan mental mahasiswa. Ketika mengikuti proses perkuliahan, kesejahteraan psikologis menjadi sangat penting karena berkaitan dengan seberapa puas seseorang dengan hidupnya, memiliki tujuan yang jelas, dan mampu mengelola stres dan emosi dengan baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh self-compassion terhadap psychological well-being pada mahasiswa di Sumatera Utara. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif. Metode pengambilan sampel yang digunakan adalah Stratified Cluster Sampling. Sampel penelitian terdiri dari 202 orang mahasiswa yang merupakan mahasiswa aktif dari PTN dan PTS yang tersebar di provinsi Sumatera Utara. Analisis data menggunakan uji regresi linear sederhana dengan bantuan SPSS for Windows 23. Instrumen yang digunakan adalah Self-Compassion Scale (SCS) oleh neff dan Ryff’s Psychological Well-Being Scales (PWB-42). Hasil analisis regresi menunjukkan bahwa terdapat pengaruh positif dan signifikan self-compassion terhadap psychological well-being (p < 0,05) sebesar 43%. Self-compassion pada mahasiswa aktif Sumatera Utara berada pada kategori sedang (49%). Psychological Well-Being pada mahasiswa aktif Sumatera Utara berada pada kategori sedang (60,9%). Semakin tinggi tingkat self-compassion, maka semakin tinggi pula tingkat psychological well-being mahasiswa. Penelitian ini menunjukkan pentingnya mengembangkan self-compassion dalam upaya meningkatkan kesejahteraan psikologis mahasiswa.
Development and validation of an Organizational Citizenship Behaviour measurement scale for Indonesian employees: Exploratory and Confirmatory Factor Analysis Hardiansyah, Hardiansyah; Adhawiyah, Rabiatul; Sitomorang, Lisbet
Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 14, No 4 (2025): Volume 14, Issue 4, Desember 2025
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikostudia.v14i4.22131

Abstract

This study aims to develop a measurement tool for organizational citizenship behaviour (OCB) that is grounded in the cultural values of Indonesian workers. Utilising a quantitative research design focused on instrument construction, the study involved 381 participants selected through accidental sampling. Data analysis employed content validity indices (I-CVI and S-CVI), as well as exploratory and confirmatory factor analyses. The results of content validity indicated that the statement items were appropriate for use, and the developed instrument demonstrated good validity and reliability. The instrument's structure consists of four dimensions: willingness to help coworkers, adherence to social norms, tolerance, and maintaining social harmony. The organizational citizenship behavior measuring tool consists of 12 items, with a reliability value of 0.782. The findings enrich the concept of OCB, particularly with the emergence of new dimensions, such as maintaining social harmony and tolerance, which reflect the collectivist values and workplace harmony inherent in Indonesian work culture. This instrument can be utilised by organizations in Indonesia to measure employee OCB more accurately, which can assist in human resource development planning.Penelitian ini bertujuan mengembangan alat ukur organizational citizenship behavior yang berbasis pada nilai-nilai budaya pekerja Indonesia. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan fokus pada konstruksi alat ukur, dengan jumlah partisipan sebanyak 381 dipilih dengan teknik accidental sampling. Analisis data menggunakan indeks validitas isi (I-CVI dan S-CVI), eksploratory factor analysis dan confirmatory factor analysis. Hasil validitas isi menunjukkan bahwa item pernyataan layak untuk digunakan, dan instrumen yang dikembangkan memiliki validitas dan reliabilitas yang baik, dengan struktur empat dimensi yaitu kesediaan membantu rekan kerja, kepatuhan terhadap norma sosial, toleransi dan menjaga harmoni sosial. Alat ukur organizatioonal citizenship behavior memiliki 12 item dengan nilai reliabilitas 0,782. Temuan penelitian memperkaya konsep OCB khususnya dengan munculnya dimensi baru seperi menjaga harmoni sosial dan toleransi yang mencerminkan nilai-nilai kolektivisme dan kerukunan dalam budaya kerja Indonesia.  Instrumen yang dikembangkan dapat digunakan oleh organisasi di Indonesia untuk mengukur OCB pegawai secara lebih akurat, yang nantinya dapat membantu dalam perencanaan program pengembangan SDM.
Self-Regulation as a Factor in the Realization of Work Engagement Parsama, Cokorda Istri Agung Mesha Saraswati; Kristin, Dede; Ni'mah, Najwa Ully; Afsyari, Belva; Hastuti, Rahmah
Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 14, No 4 (2025): Volume 14, Issue 4, Desember 2025
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikostudia.v14i4.20370

Abstract

The rapid advancement of digitalization and the emergence of Industry 5.0 have introduced new challenges in the workforce, including rising unemployment rates among university graduates and a widening skills gap. One crucial competency to navigate this dynamic work environment is self-regulation, which is believed to enhance employee work engagement. The present study endeavors to investigate the correlation between self-regulation and work engagement among employees at Company X. A quantitative correlational approach was employed, involving 168 participants selected through purposive sampling. The instruments used were the Short Self-Regulation Questionnaire (SSRQ) and the Utrecht Work Engagement Scale (UWES-9). Spearman correlation analysis revealed a significant positive relationship between self-regulation and work engagement (ρ = 0.406; p < 0.001), with the correlation categorized as moderate. These findings indicate that employees with higher self-regulation abilities tend to exhibit higher levels of work engagement. The results support the importance of developing self-regulation as a strategic means to enhance employee involvement and performance in the modern workplace.Perkembangan era digital dan transformasi industri 5.0 menciptakan tantangan baru dalam dunia kerja, termasuk meningkatnya tingkat pengangguran lulusan perguruan tinggi dan kesenjangan keterampilan di kalangan tenaga kerja. Salah satu kompetensi penting untuk menghadapi tantangan ini adalah kemampuan regulasi diri, yang diyakini dapat meningkatkan keterlibatan kerja karyawan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara regulasi diri dan keterlibatan kerja pada karyawan di Perusahaan X. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif korelasional dengan 168 partisipan yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Instrumen yang digunakan adalah Short Self-Regulation Questionnaire (SSRQ) dan Utrecht Work Engagement Scale (UWES-9). Hasil analisis korelasi Spearman menunjukkan adanya hubungan positif yang signifikan antara regulasi diri dan keterlibatan kerja (ρ = 0,406; p < 0,001), dengan kekuatan hubungan berada pada kategori sedang. Temuan ini mengindikasikan bahwa semakin tinggi kemampuan regulasi diri yang dimiliki karyawan, semakin tinggi pula tingkat keterlibatan mereka dalam pekerjaan. Hasil ini mendukung pentingnya pengembangan regulasi diri sebagai strategi untuk meningkatkan keterlibatan dan kinerja karyawan di era kerja modern.
Factors of Resilience among Employees at Charlie Hospital Demak Kurniasih, Indit; Winta, Mulya Virgonita I.; Pratiwi, MM. Shinta
Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 14, No 4 (2025): Volume 14, Issue 4, Desember 2025
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikostudia.v14i4.20719

Abstract

New hospitals such as Charlie Hospital Demak face major challenges related to high work pressure and structural uncertainty that risk reducing employee performance. This study aims to identify the dominant factors that influence employee resilience using Grotberg's theoretical framework. A descriptive qualitative approach was used through in-depth interviews, non-participant observation, and literature study of five key informants from various work units. The results show that the dominant factors influencing resilience are self-efficacy, social support from superiors, coworkers, and family, and an attitude of optimism. The three interact to form a positive loop that strengthens employees' adaptive abilities. Resilience is proven to be a strong predictor of employee performance. It is recommended that management implement a structured model of strengthening resilience through training and a multilevel support system.Rumah sakit baru seperti Charlie Hospital Demak menghadapi tantangan besar terkait tekanan kerja tinggi dan ketidakpastian struktural yang berisiko menurunkan performa pegawai. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi faktor-faktor dominan yang memengaruhi resiliensi pegawai dengan menggunakan kerangka teori Grotberg. Pendekatan kualitatif deskriptif digunakan melalui wawancara mendalam, observasi non-partisipan, dan studi pustaka terhadap lima informan kunci dari berbagai unit kerja. Hasil menunjukkan bahwa faktor dominan yang memengaruhi resiliensi adalah self-efficacy, dukungan sosial dari atasan, rekan kerja, dan keluarga, serta sikap optimisme. Ketiganya berinteraksi membentuk loop positif yang memperkuat kemampuan adaptif pegawai. Resiliensi terbukti sebagai prediktor kuat terhadap kinerja pegawai. Disarankan manajemen menerapkan model penguatan resiliensi secara terstruktur melalui pelatihan dan sistem dukungan multilevel.
When Love Leaves Scars: A Portrait of Toxic Relationships in a Phenomenological Study Fanny Fadesti, Pralayar; Graciela Pirade, Agatha; Satriana, Satriana; Sasmita Trisofika, Risma
Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 14, No 4 (2025): Volume 14, Issue 4, Desember 2025
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikostudia.v14i4.22427

Abstract

Toxic relationship is a phenomenon of unhealthy relationships commonly experienced by Generation Z, characterized by excessive control, manipulation, verbal and physical abuse, and emotional dependency that undermines individual autonomy and mental health. This study aims to describe the emergence of toxic relationships, the dynamics of emotional dependency, relational patterns, exit barriers, as well as the impacts and post-traumatic growth. The method used is qualitative research with a phenomenological approach. Three participants aged 20 were selected through snowball sampling. Data was collected through non-participant observation and structured interviews, then analyzed using thematic analysis according to Braun & Clarke (2006) with triangulation to ensure credibility. The results indicate that toxic relationships arise due to changes in partner behavior, the loss of a supportive figure, and inconsistent commitment. Exit barriers emerge due to feelings of love, sacrifice, and manipulation. After breaking up, individuals experience trauma but also grow in the form of increased self-awareness and the ability to establish boundaries. This study emphasizes the importance of psychoeducation and institutional support.Hubungan toksik merupakan fenomena hubungan yang tidak sehat yang sering dialami oleh Generasi Z, ditandai dengan kontrol berlebihan, manipulasi, kekerasan verbal dan fisik, serta ketergantungan emosional yang merusak otonomi dan kesehatan mental individu. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan munculnya hubungan toksik, dinamika ketergantungan emosional, pola hubungan, hambatan untuk keluar, serta dampak dan pertumbuhan pasca-trauma. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologis. Tiga peserta berusia 20 tahun dipilih melalui teknik sampling bola salju. Data dikumpulkan melalui observasi non-partisipan dan wawancara terstruktur, kemudian dianalisis menggunakan analisis tematik sesuai dengan Braun & Clarke (2006) dengan triangulasi untuk menjamin kredibilitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hubungan toksik muncul akibat perubahan perilaku pasangan, hilangnya figur pendukung, dan ketidakkonsistenan dalam komitmen. Hambatan untuk keluar muncul akibat perasaan kasih sayang, pengorbanan, dan manipulasi. Setelah perpisahan, individu mengalami trauma tetapi juga tumbuh dalam bentuk peningkatan kesadaran diri dan kemampuan untuk membangun batas. Penelitian ini menekankan pentingnya pendidikan psikologis dan dukungan institusional.
The Digital Temptation: Adult Attachment Style and Commitment as Predictors of Online Extradyadic Involvement in Dating Partner Saraswati, Shinta; Ratnasari, Yudiana
Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 14, No 4 (2025): Volume 14, Issue 4, Desember 2025
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikostudia.v14i4.21337

Abstract

The development of social media in the digital age has increased the likelihood of Online Extradyadic Involvement (O-EDI) or online infidelity, especially among young adults who are in romantic relationships. This phenomenon is influenced by psychological factors such as adult attachment style and commitment level, which play a role in determining an individual's vulnerability to O-EDI behavior. This study aims to examine the role of adult attachment style and commitment in predicting O-EDI behavior in individuals who are in romantic relationships in Indonesia. O-EDI is defined as emotional or sexual involvement online with someone other than one's primary partner, which is done in secret. A total of 172 young adult participants aged 20–38 years (M = 24.58) participated in this study. Commitment was measured using the Investment Model Scale subscale, while adult attachment style was measured using the Experiences in Close Relationships – Short Form. Multiple linear regression analysis was performed by controlling for demographic variables. Results show that the model with three predictors explains 38.1% of the variance in O-EDI, where attachment avoidance (β=0.258, p<0.05), attachment anxiety (β=0.220, p<0.05), and commitment level (β=-0.152, p<0.05) are significant predictors. Relationship duration and education also had an effect. These findings confirm that low commitment and high insecure attachment tendencies increase the risk of O-EDI in individuals in romantic relationshipsPerkembangan media sosial di era digital meningkatkan peluang terjadinya Online Extradyadic Involvement (O-EDI) atau perselingkuhan daring, terutama di kalangan dewasa muda yang sedang menjalin hubungan pacaran. Fenomena ini dipengaruhi oleh faktor psikologis seperti adult attachment style dan tingkat komitmen, yang berperan dalam menentukan kerentanan individu terhadap perilaku O-EDI. Penelitian ini bertujuan menguji peran adult attachment style dan komitmen dalam memprediksi perilaku O-EDI pada individu yang menjalin hubungan pacaran di Indonesia. O-EDI didefinisikan sebagai keterlibatan emosional atau seksual secara daring dengan orang lain di luar pasangan utama yang dilakukan secara rahasia. Sebanyak 172 partisipan dewasa muda berusia 20–38 tahun (M = 24.58) berpartisipasi dalam penelitian ini. Komitmen diukur menggunakan subskala Investment Model Scale, sedangkan adult attachment style diukur dengan Experiences in Close Relationships – Short Form. Analisis regresi linear berganda dilakukan dengan mengontrol variabel demografis. Hasil menunjukkan model dengan tiga prediktor menjelaskan 38,1% variansi O-EDI, di mana attachment avoidance (β=0.258, p<0.05), attachment anxiety (β=0.220, p<0.05), dan tingkat komitmen (β=-0.152, p<0.05) menjadi prediktor signifikan. Durasi hubungan dan pendidikan juga berpengaruh. Temuan ini menegaskan bahwa rendahnya komitmen dan tingginya kecenderungan insecure attachment meningkatkan risiko O-EDI pada individu dalam hubungan pacaran
Overprotective Parents: Its Impact on Self-Adjustment and Social Interaction Zain, Anisa Mutiara; Widhiastuti, Hardani; Maria Shinta Pratiwi, Margaretha
Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 14, No 4 (2025): Volume 14, Issue 4, Desember 2025
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikostudia.v14i4.21192

Abstract

Adolescence is a developmental stage marked by rapid changes in emotional and social aspects, where parental roles play a significant influence. Overprotective parenting, though based on affection, can hinder adolescents’ autonomy and social competence. This study aimed to examine the influence of overprotective parenting on self-adjustment and social interaction abilities among 8th-grade students at SMP X in Bandar Lampung. Using a quantitative descriptive–correlational design, all 79 students were selected through total sampling. Data were collected using Likert-scale instruments measuring parental overprotection, self-adjustment, and social interaction, and analyzed using Pearson correlation and linear regression via SPSS 25. The findings showed that most students were in the moderate category for all variables, and the correlation between overprotective parenting and both self-adjustment and social interaction was negative but not significant (r < 0.1; p > 0.05). These results imply that parental overprotection alone does not substantially determine adolescents’ adaptability or social competence. Therefore, parents and schools are encouraged to implement balanced guidance strategies that foster independence and healthy social development among adolescents.Masa remaja merupakan tahap perkembangan yang ditandai dengan perubahan pesat pada aspek emosional dan sosial, di mana peran orang tua memiliki pengaruh yang besar. Pola asuh overprotective, meskipun dilandasi kasih sayang, dapat menghambat kemandirian dan kemampuan sosial remaja. Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh sikap overprotective orang tua terhadap penyesuaian diri dan kemampuan interaksi sosial siswa kelas 8 di SMP X Bandar Lampung. Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif-korelasional dengan total sampling pada 79 siswa. Data dikumpulkan melalui skala Likert yang mengukur sikap overprotective, penyesuaian diri, dan interaksi sosial, kemudian dianalisis dengan uji korelasi Pearson dan regresi linear menggunakan SPSS 25. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar siswa berada pada kategori sedang untuk ketiga variabel, serta hubungan antara sikap overprotective dengan penyesuaian diri maupun interaksi sosial bersifat negatif namun tidak signifikan (r < 0,1; p > 0,05). Implikasi dari penelitian ini menekankan pentingnya pola asuh yang seimbang antara kontrol dan kebebasan, agar orang tua dan sekolah dapat bersama-sama mendukung perkembangan sosial dan kemandirian remaja secara optimal.

Filter by Year

2012 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 14, No 4 (2025): Volume 14, Issue 4, Desember 2025 Vol 14, No 3 (2025): Volume 14, Issue 3, September 2025 Vol 14, No 2 (2025): Volume 14, Issue 2, Juni 2025 Vol 14, No 1 (2025): Volume 14, Issue 1, Maret 2025 Vol 13, No 4 (2024): Volume 13, Issue 4, Desember 2024 Vol 13, No 3 (2024): Volume 13, Issue 3, September 2024 Vol 13, No 2 (2024): Volume 13, Issue 2, Juni 2024 Vol 13, No 1 (2024): Volume 13, Issue 1, Maret 2024 Vol 12, No 4 (2023): Volume 12, Issue 4, December 2023 Vol 12, No 3 (2023): Volume 12, Issue 3, September 2023 Vol 12, No 2 (2023): Volume 12, Issue 2, Juni 2023 Vol 12, No 1 (2023): Volume 12, Issue 1, Maret 2023 Vol 11, No 4 (2022): Volume 11, Issue 4, Desember 2022 Vol 11, No 3 (2022): Volume 11, Issue 3, September 2022 Vol 11, No 2 (2022): Volume 11, Issue 2, June 2022 Vol 11, No 1 (2022): Volume 11, Issue 1, March 2022 Vol 10, No 3 (2021): Volume 10, Issue 3, November 2021 Vol 10, No 2 (2021): Volume 10, Issue 2, Juli 2021 Vol 10, No 1 (2021): Volume 10, Issue 1, Maret 2021 Vol 9, No 3 (2020): Volume 9, Issue 3, November 2020 Vol 9, No 2 (2020): Volume 9, Issue 2, Juli 2020 Vol 9, No 1 (2020): Volume 9, Issue 1, Maret 2020 Vol 8, No 2 (2019): Volume 8, Issue 2, December 2019 Vol 8, No 1 (2019): Volume 8, Issue 1, June 2019 Vol 7, No 2 (2018): Volume 7, Issue 2, December 2018 Vol 7, No 1 (2018): Volume 7, Issue 1, June 2018 Vol 6, No 2 (2017): Volume 6, Issue 2, December 2017 Vol 6, No 1 (2017): Volume 6, Issue 1, June 2017 Vol 5, No 2 (2016): Volume 5, Issue 2, December 2016 Vol 5, No 1 (2016): Volume 5, Issue 1, June 2016 Vol 4, No 2 (2015): Volume 4, Issue 2, December 2015 Vol 4, No 1 (2015): Volume 4, Issue 1, June 2015 Vol 3, No 2 (2014): Volume 3, Issue 2, Desember 2014 Vol 3, No 1 (2014): Volume 3, Issue 1, June 2014 Vol 2, No 2 (2013): Volume 2, Issue 2, December 2013 Vol 2, No 2 (2013): Volume 2, Issue 2, December 2013 Vol 2, No 1 (2013): Volume 2, Issue 1, June 2013 Vol 1, No 2 (2012): Volume 1, Issue 2, December 2012 Vol 1, No 1 (2012): Volume 1, Issue 1, Juni 2012 More Issue