cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalhumanus@gmail.com
Editorial Address
Sekretariat Pusat Kajian Humaniora Gedung Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Padang Jl. Prof. Dr. Hamka, Air Tawar, Padang, Sumatera Barat, Indonesia 25131
Location
Kota padang,
Sumatera barat
INDONESIA
Humanus: Jurnal ilmiah Ilmu-ilmu Humaniora
ISSN : 14108062     EISSN : 25283936     DOI : https://doi.org/10.24036/humanus.v21i2
Core Subject : Humanities, Art,
Humanus: Jurnal ilmiah Ilmu-ilmu Humaniora (P-ISSN 1410-8062, E-ISSN 2528-3936) is an international journal devoted to the publication of original papers published by Center for Humanities Studies of FBS Universitas Negeri Padang. It is a peer-reviewed and open access journal of humanity studies, including linguistics, literature, philosophy, and cultural studies. Humanus accept manuscript in English, Indonesian, and Malay.
Arjuna Subject : -
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 17, No 1 (2018)" : 10 Documents clear
THE RECEPTION OF DAJAL STORY IN THE SAIFU AD-DHARIB Faiz Karim Fatkhullah; Tajudin Nur; Undang Ahmad Darsa
Humanus: Jurnal Ilmiah Ilmu-ilmu Humaniora Vol 17, No 1 (2018)
Publisher : Pusat Kajian Humaniora FBS Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (301.568 KB) | DOI: 10.24036/humanus.v17i1.8779

Abstract

This study reveals the story of Dajjal who experienced a shift in interpretation. This is due to the response of each reader with a different background. To disclose it, this research uses the reception theory proposed by Hans Robert Jauss. This research is the result of philology research from Saifu ad-Dharib (SaD) script. This manuscript was written by KH. Tubagus Ahmad Bakri, Purwakarta, West Java, with a thickness of 32 pages. Meanwhile, the section of the manuscript taken only the story of Dajjal contained in Chapter 4 and part of Chapter 5. From the results of the manuscript SaD taken only transliteration and translation. From the results of the study, it was found that the author of SaD responded that Dajjal in question is Ibn Sayyad. It is realized by the author that there are two opinions concerning the birth or previous Dajjal, but the author responds and interprets that Dajjal has been born ie that existed in the time of the Prophet Muhammad. In addition, Dajjal will come out with 70,000 followers who are mostly artists. The great Dajjal before the exit will be preceded by the existence of the small Dajjal-Dajjal which is now emerging, ie Persatuan Islam, Muhammadiyah, Wahabi, and Shi'a. This manuscript was born at the time of the condition of Muslims who are still in conflict, so the reception of Dajjal refers to the organization of the period above. The manuscripts of his day can be used as propaganda material.Keywords: Dajjal, reception theory, saifu ad-dharib RESEPSI CERITA DAJJAL DALAM NASKAH SAIFU AD-DHARIBAbstrakPenelitian ini  mengungkap cerita Dajjal yang mengalami pergeseran tafsir. Hal itu disebabkan karena adanya tanggapan dari setiap pembaca yang berlatar belakang berbeda. Untuk mengungkap itu, maka penelitian ini menggunakan teori resepsi yang dikemukakan oleh Jauss. Penelitian ini merupakan hasil penelitian filologi dari naskah Saifu ad-Dharib. Naskah ini ditulis oleh KH. Tubagus Ahmad Bakri, Purwakarta, Jawa Barat, dengan ketebalan naskah 32 halaman. Sementara itu, bagian naskah yang diambil hanya cerita Dajjal yang terdapat pada Bab 4 dan sebagian Bab 5. Dari hasil naskah SaD yang diambil hanya transliterasi dan terjemahan. Dari hasil penelitian ditemukan bahwa penulis SaD menanggapi bahwa Dajjal yang dimaksud adalah Ibnu Sahayyad. Disadari oleh penulisnya bahwa ada dua pendapat terkait lahir atau belumnya Dajjal, namun penulis menanggapi dan menafsirkan bahwa Dajjal telah lahir yakni yang ada pada zaman Nabi Muhammad saw. Selain itu, Dajjal akan keluar dengan disertai 70.000 pengikut yang sebagian besar adalah seniman. Dajjal besar sebelum keluar akan didahului dengan adanya Dajjal-Dajjal kecil yang sekarang ini sudah muncul, yaitu Persatuan Islam, Muhammadiyah, Wahabi dan Syi’ah. Naskah ini lahir di saat kondisi umat Islam yang masih saling bersitegang, sehingga resepsi terhadap Dajjal merujuk pada organisasi masa di atas. Naskah pada zamannya dapat digunakan sebagai bahan propaganda.Kata kunci: Dajjal, teori resepsi, saifu ad-dharib
ACCURACY, CLARITY, AND READABILITY (ACR) IN HISTORICAL ROMANCE NOVEL TRANSLATION Nur Rosita
Humanus: Jurnal Ilmiah Ilmu-ilmu Humaniora Vol 17, No 1 (2018)
Publisher : Pusat Kajian Humaniora FBS Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (337.198 KB) | DOI: 10.24036/humanus.v17i1.9137

Abstract

Historical novel translation requires an advanced competence of translator in relation with the translation quality: how accurate, clear, and readable the translator tries to deliver the writer’s original message to his/her translation version for the readers. The more accurate, clear, and readable the translator’s version is, the easier comprehension of the text will be. This paper was an outline of descriptive research which has been conducted to analyze the translation quality assessment in translating historical romance novel Taj: A Story of Mughal India into Taj: Tragedi Di Balik Tanda Cinta Abadi by Maria M. Lubis. There were three variables factors used; the two novels as objective factor, the translator as genetic factor, and the raters as affective factor to analyze, compare, rate, and score the translation quality. The sentences, clauses, phrases that consisted Indian cultural terms from the two novels were chosen as the data. From the analysis, it was found that the translation quality of this translated novel is accurate, high clear, and high readable obviously effected by an eligible translator who has high level competence and performance in translating the novel.Keywords: translation, historical romance novel, accuracy, clarity, and readability. KEAKURATAN, KEJELASAN, DAN KETERBACAAN DALAM PENERJEMAHAN NOVEL CINTA BERLATAR SEJARAHAbstractPenerjemahan novel berlatar sejarah membutuhkan penerjemah yang kompeten jika dilihat dari segi penilalian kualitas terjemahan seperti keakuratan, kejelasan, dan keterbacaan. Semakin akurat, jelas, dan terbaca suatu produk terjemahan, hasil terjemahan semakin akan mudah dipahami. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif yang mengidentifikasi dan menggambarkan penilaian kualitas penerjemahan. Seberapa akurat, jelas, dan terbaca novel terjemahan Taj: A Story of Mughal India menjadi Taj: Tragedi Di Balik Tanda Cinta Abadi oleh Maria M. Lubis. Ada tiga faktor variabel yang digunakan; kedua novel sebagai faktor objektif, penerjemah sebagai faktor genetik, dan tim penilai sebagai faktor afektif untuk menganalisis, membandingkan, menilai, dan memberi angka kualitas terjemahan. Kalimat, klausa, ungkapan-ungkapan yang terdiri dari istilah budaya India dari kedua novel dipilih sebagai data. Dari analisis tersebut, ditemukan bahwa kualitas terjemahan novel yang diterjemahkan ini akurat, sangat jelas, dan mudah dibaca, yang dipengaruhi oleh kepakaran dan kompetensi kinerja dalam menerjemahkan novel tersebut. Kata kunci: penerjemahan, novel cinta sejarah, keakuratan, kejelasan, dan keterbacaan.
UNDERSTANDING INDIGO THROUGH NOVEL GERBANG DIALOG DANUR BY RISA SARASWATI: A Study of Psychology Literary Dhinar Ajeng Fitriany; Emzir Emzir; Ninuk Lustyantie
Humanus: Jurnal Ilmiah Ilmu-ilmu Humaniora Vol 17, No 1 (2018)
Publisher : Pusat Kajian Humaniora FBS Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (329.887 KB) | DOI: 10.24036/humanus.v17i1.8682

Abstract

The objective of this research is to acquire deep understanding about Indigo through novel, Gerbang Dialog Danur’s novel by Risa Saraswati. Danur means of water that comes out from the rotten corpse. This qualitative research was conducted using content analysis method. This research was analyzed through structural literary approach and psychology literary approach. The data were collected through documents, and data observations about Indigo in Gerbang Dialog Danur’s novel by Risa Saraswati. The result of this research revealed that abundance of Indigo and lack of Indigo were founded and described in Gerbang Dialog Danur’s novel by Risa Saraswati. Those results lead to implication that Indonesian literature educator can use Gerbang Dialog Danur’s novel by Risa Saraswati directly in the teaching of literature studies, especially for psychology literary. The findings lead to recommendation to Indonesian literature educator, literature researcher, novel reader, parents, and everyone generally.Keyword: Indigo children, novel, literature, psychology, teaching of literature MEMAHAMI INDIGO MELALUI NOVELGERBANG DIALOG DANUR KARYA RISA SARASWATI: Kajian Psikologi SastraAbstrakTujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh pemahaman mendalam tentang Indigo melalui novel, yakni novel Gerbang Dialog Danur karya Risa Saraswati. Danur berarti air yang keluar dari mayat yang busuk. Penelitian kualitatif ini dilakukan dengan menggunakan metode analisis isi. Analisis penelitian dilakukan pendekatan psikologi sastra. Data dikumpulkan melalui studi pustaka, dan observasi data tentang Indigo dalam novel Gerbang Dialog Danur karya Risa Saraswati. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelebihan Indigo dan kekurangan Indigo ditemukan serta digambarkan dalam novel Gerbang Dialog Danur karya Risa Saraswati. Hasil penelitian ini dapat diimplikasikan oleh pengajar sastra Indonesia, yakni dengan menggunakan novel Gerbang Dialog Danur karya Risa Saraswati secara langsung pada proses pengajaran. Hasil penelitian ini direkomendasikan untuk para pengajar sastra Indonesia, pembaca novel, peneliti sastra, para orang tua, dan setiap orang pada umumnya.Kata kunci: anak Indigo, novel, sastra, psikologi, pengajaran sastra
DESIGNING VISUAL NOVEL CHARACTERS OF GAJAH MADA AND TRIBHUWANA TUNGGADEWI AS REPRESENTATION OF HISTORY FIGURES Dendi Pratama; Winny Gunarti Widya Wardani; Taufiq Akbar
Humanus: Jurnal Ilmiah Ilmu-ilmu Humaniora Vol 17, No 1 (2018)
Publisher : Pusat Kajian Humaniora FBS Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (460.673 KB) | DOI: 10.24036/humanus.v17i1.9824

Abstract

Gajah Mada and Tribhuwana Tunggadewi are two historical figures of the Majapahit Kingdom. Both of them had great influence in expanding the power of Majapahit Kingdom. These two historical figures can be presented as visual novel characters that educate, especially representing it through an interactive media that appeals to teenagers. Currently, there are not many visual novels featuring Indonesian history setting. This study creates visual movel characters of Gajah Mada and Tribhuwana Tunggadewi in the context of visual communication design. The discussion about these characters of visual novel uses a qualitative approach with structural semiotics method that is designing messages through visual elements of lines, shapes, textures, and colors. This study shows that the costume design on the character represents the informational meaning about the influential figure in the kingdom. Accessory design represents the symbolic meaning of the royalty. Facial design and posture as a representation of elegance and strength figure in the meaning of images. The character design results are expected to give a picture of the historical figure in the kingdom of Majapahit for teenagers.Keyword: visual elements, character, visual novel, structural semiotic MENDESAIN ELEMEN VISUAL KARAKTER GAJAH MADA DAN TRIBHUWANA TUNGGADEWI SEBAGAI REPRESENTASI FIGUR SEJARAH DALAM VISUAL NOVELAbstrakGajah Mada dan Tribhuwana Tunggadewi adalah dua tokoh sejarah Kerajaan Majapahit. Keduanya memiliki pengaruh besar dalam memperluas kekuatan Kerajaan Majapahit. Kedua tokoh sejarah ini bisa disajikan sebagai karakter permainan dalam visual novel yang mendidik, terutama merepresentasikannya melalui media interaktif yang menarik bagi remaja. Saat ini, tidak banyak visual novel yang menampilkan latar sejarah Indonesia. Studi ini menciptakan karakter Gajah Mada dan Tribhuwana Tunggadewi dalam konteks desain komunikasi visual. Pembahasan tentang karakter visual novel ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode semiotika struktural, yaitu mendesain pesan melalui elemen visual garis, bentuk, tekstur, dan warna. Studi ini menunjukkan bahwa desain kostum pada karakter sebagai representasi makna informasi tentang sosok yang berpengaruh di kerajaan. Desain aksesori merupakan representasi makna simbolik tentang dolongan kebangsawanan. Desain wajah dan postur sebagai representasi eleganitas dan kekuatan karakter dalam makna imaji. Hasil desain karakter ini diharapkan bisa memberi gambaran tentang tokoh sejarah di Kerajaan Majapahit bagi remaja.Kata kunci: elemen visual, karakter, visual novel, semiotika struktural
ADJACENCY PAIRS AS UTTERED IN THE CONVERSATIONS OF SOFIA COPPOLA’S LOST IN TRANSLATION MOVIE SCRIPT Heri Mudra
Humanus: Jurnal Ilmiah Ilmu-ilmu Humaniora Vol 17, No 1 (2018)
Publisher : Pusat Kajian Humaniora FBS Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (311.659 KB) | DOI: 10.24036/humanus.v17i1.8050

Abstract

This paper contains a discussion of the structures of Adjacency Pairs as uttered in the conversations of Lost in Translation movie script in terms of conversational analysis study. A conversation consists of at least two turns and two utterances which contain two acts of speech. Such utterances consisting of a first pair part which is followed by a second pair part form adjacent pairs which can be either preferred or dispreferred responses. Adjacency Pairs in term of preferred responses include twenty eight structures, while those in term of dispreferred responses include fourteen structures. The choice of a variety of responses is influenced by habits and cultures through which speakers convey meaning. Different habits and cultures of the speakers allow them to produce particular utterances which contain particular acts of speech. Subjectivity and intention influence the second speaker to respond the first speaker’s act based on what is intended. This is psychologically subjective rather than illogical. The complex structures of Adjacency Pairs are also caused by noises, unclear voices, and complex sentence patterns. The variations of adjacent pairs are basically contextual and situational which imply that Adjacency Pairs emerge in different structures within different contexts of conversations.          Keywords: Adjacency pairs, turn taking, conversation, speech act, utterance PASANGAN BERDAMPINGAN PADA UJARAN PERCAKAPAN DI NASKAH FILM LOST IN TRANSLATION KARYA SOFIA COPPOLAAbstrakArtikel ini berisi pembahasan tentang pola Pasangan Berdampingan berdasarkan ujaran percakapan pada naskah filem Lost in Translation melalui teori analisis percakapan. Percakapan terdiri atas dua giliran and ujaran yang mengandung dua tindak tutur. Ujaran-ujaran yang terdiri atas bagian berdampingan pertama dan diikuti bagian berdampingan kedua sehingga membentuk pasangan berdampingan baik dengan respon yang diharapkan maupun yang tidak diharapkan. Pasangan Berdampingan khususnya respon yang diharapkan terdiri atas dua puluh delapan pola berdampingan, sedangkan respon yang tidak diharapkan terdiri atas empat belas pola. Ragam respon dapat dipengaruhi oleh kebiasaan dan budaya pembicara pada saat berbicara. Perbedaan kebiasaan dan budaya mempengaruhi pembicara dalam membuat ujaran yang mengandung tindak tutur tertentu. Subjektifitas dan intensi juga dapat mempengaruhi respon pembicara kedua terhadap tindak tutur pembicara pertama. Hal ini bersifat subjektif namun bukan tidak logis. Pola yang komplels pada Pasangan Berdampingan juga dapat dipengaruhi oleh suasana ribut, suara yang kurang jelas, dan struktur kalimat yang kompleks. Ragam pola tersebut pada dasarnya bersifat kontekstual dan situasional yang berarti bahwa pola Pasangan Berdampingan akan berbeda pada konteks percakapan yang berbeda.   Kata kunci: Pasangan berdampingan, giliran berbicara, konversasi, tindak tutur, ujaran
THE INFLUENCE OF SOCIAL STATUS AND SOLIDARITY TO THE QUANTITY OF UTTERANCES IN JANE AUSTEN’S NOVELS Citra Suryanovika; Novita Julhijah
Humanus: Jurnal Ilmiah Ilmu-ilmu Humaniora Vol 17, No 1 (2018)
Publisher : Pusat Kajian Humaniora FBS Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (301.946 KB) | DOI: 10.24036/humanus.v17i1.8041

Abstract

The main focus of the research is the female main characters in six novels of Jane Austen. The study basically aimed to identify the influence of Holmes’s social status and solidarity on the quantity of utterances. The result shows that 1,738 utterances from 266 Elinor Dashwood’s utterances, 368 Elizabeth Bennet’s utterances, 194 Fanny Price’s utterances, 473 Emma Woodhouse’s utterances, 113 Anne Elliot’s utterances and 324 Catherine Morland’s utterances. Accordingly, high social status of Emma Woodhouse produced the greatest quantity of utterances compared to other characters, and Fanny Price’s lowest social status is in the fifth position of six characters. The analysis of solidarity showed that 66.7% utterances come from characters with high solidarity scale, while 33.3% utterances belong to characters of low solidarity scale. In short, characters’ social status and solidarity are not two main factors in determining the quantity of utterances. The quantity of utterances was also determined by the interest and curiosity.Keywords: Social Status, Solidarity Scale, Utterance, Jane Austen. PENGARUH STATUS SOSIAL DAN SOLIDARITAS TERHADAP KUANTITAS UJARAN DALAM NOVEL-NOVEL JANE AUSTENAbstrakFokus penelitian pada ujaran yang disampaikan oleh tokoh utama perempuan dalam enam novel Jane Austen. Penelitian bertujuan menelaah pengaruh status sosial dan solidaritas pada kuantitas ujaran. Hasil penelitian menunjukkan 1,738 dengan rincian 266 ujaran Elinor Dashwood, 368 ujaran Elizabeth Bennet, 194 ujaran Fanny Price, 473 ujaran Emma Woodhouse, 113 ujaran Anne Elliot, and 324 ujaran Catherine Morland. Berdasarkan peringkat, status sosial tinggi Emma Woodhouse menghasilkan jumlah ujaran paling banyak, dibandingkan dengan lima tokoh lainnya, namun Fanny Price dengan status sosial paling bawah berada di peringkat kelima dari enam tokoh yang ditelaah. Telaah keakraban menunjukkan 66,7% jumlah ujaran dengan skala solidaritas tinggi, dan 33,3% ujaran dengan skala solidaritas rendah. Berdasarkan hasil analisa, dapat disimpulkan bahwa penentu kuantitas ujaran bukan hanya ditentukan oleh status sosial dan solidaritas karakter, tapi juga ditentukan oleh ketertarikan dan rasa penasaran. Kata kunci: Status Sosial, Skala Solidaritas, Ujaran, Jane Austen.
DAKWAH VALUES REVIEWED FROM SOCIAL SOCIETY COMMUNITIES IN THE NOVEL BULAN TERBELAH DI LANGIT AMERIKA BY HANUM SALSABIELA RAIS DAN RANGGA ALMAHENDRA: A Genetic Structuralism Study Darwin Effendi; Zainal Rafli; Ninuk Lustyantie
Humanus: Jurnal Ilmiah Ilmu-ilmu Humaniora Vol 17, No 1 (2018)
Publisher : Pusat Kajian Humaniora FBS Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (13.391 KB) | DOI: 10.24036/humanus.v17i1.8972

Abstract

This study aims to gain an in-depth understanding of the values of dakwah contained in the novel Bulan Terbelah di Langit Amerika (BTDLA) by Hanum Salsabiela Rais and Rangga Almahendra in terms of the social situation of the community. This research uses content analysis method with the genetic structural approach. Data collection techniques use documentation and interview.The results show that from social situation community view it is found about the negative perspective of the community toward Islam that gives a change to Moslems to give a correct understanding of Islam. Just by looking at clothing that has an Islamic symbol, like a robe or face mask, the western society instantly puts the suspicion without fundamental. Everything is the same. Therefore, Muslims should provide a correct understanding of Islam. A Muslim must be a good Islamic agent in a suspicious society. A reflection of good Muslim conduct and behavior is one attempt to answer the doubts of American society to Islam after the September 11 tragedy. This is closely related to the values of dakwah narrated in the novel BTDLA by Hanum Salsabiela Rais and Rangga Almahendra.Keyword: The values of dakwah, novel, genetic structural NILAI-NILAI DAKWAH DALAM NOVEL BULAN TERBELAH DI LANGIT AMERIKA KARYA HANUM SALSABIELA RAIS DAN RANGGA ALMAHENDRA DITINJAU DARI SITUASI SOSIAL MASYARAKAT: Suatu Kajian Struktural Genetik)AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk memperoleh pemahaman yang mendalam tentang nilai-nilai dakwah dalam novel Bulan Terbelah di Langit Amerika(BTDLA)karya Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra ditinjau dari situasi sosial masyarakat. Penelitian ini menggunakan metode analisis konten dengan pendekatan struktural genetik. Teknik pengumpulan data menggunakan dokumentasi dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari situasi sosial masyarakat ditemukan pandangan negatif masyarakat terhadap Islam. Hanya dengan melihat pakaian yang memiliki simbol keislaman, seperti gamis atau cadar penutup muka, masyarakat barat langsung menaruh kecurigaan yang tanpa mendasar. Semuanya dipandang sama. Karena itu, umat muslim haruslah memberikan pemahaman yang benar tentang Islam. Seorang muslim haruslah menjadi agen Islam yang baik di tengah masyarakat yang penuh curiga. Cerminan tindakan dan perilaku muslim yang baik merupakan salah satu upaya untuk menjawab keraguan masyarakat Amerika terhadap Islam setelah tragedi 11 September. Hal ini sangat berhubungan dengan nilai-nilai dakwah yang diceritakan dalam novel Bulan Terbelah di Langit Amerika karya Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra ini.Kata kunci: nilai dakwah, situasi sosial masyarakat, dan struktural genetik
MALE AND FEMALE STUDENTS’ POLITENESS IN SRAGEN, CENTRAL JAVA Zahra Fizty Febriadina; Sumarwati Sumarwati; Sumarlam Sumarlam
Humanus: Jurnal Ilmiah Ilmu-ilmu Humaniora Vol 17, No 1 (2018)
Publisher : Pusat Kajian Humaniora FBS Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (11.708 KB) | DOI: 10.24036/humanus.v17i1.8429

Abstract

The students' language politeness can be observed from gender perspective. The objective of this research is to describe the form of language politeness between male and female students in Vocational school. Politeness principle used Leech politeness principle (1993), focuse of this research is the form of male and female students’ politeness. This is descriptive qulitative reseacrh with sociopragmatics approach. The data are the politeness uttarances made by the student. The data are collected by using listening-free-participating-speaking (simak bebas libat cakap/SBLC) technique and data transcription. The data analyzing technique use Miles and Huberman interactive model, that consists of four steps, they are collecting data, reducing data, analizing data and verifying or conclusion drawing by pragmatics comparing methods. The result of the research shows that there is a different form of language politeness between male and female students which is reflected in politeness and impoliteness maxim. Female students’ politeness maxim are (1) tact maxim; (2) generosity maxim; and (3) agreement maxim. Male students’ impoliteness maxim are (1) generosity maxim; (2) modesty maxim; (3) agreement maxim; dan (4) the sympathy maxim.Keyword: students’ politeness, gender, Vocational School KESANTUNAN SISWA LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN DI SRAGEN, JAWA TENGAHAbstrakKesantunan berbahasa siswa dapat dilihat dari perspektif gender. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk kesantunan berbahasa siswa laki-laki dan perempuan dalam Sekolah Menengah Kejuruan. Prinsip kesantunan yang digunakan adalah prinsip kesantunan menurut Leech (1993), fokus penelitian pada bentuk kesantunan berbahasa siswa laki-laki dan siswa perempuan. Penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan sosiopragmatik. Data berupa tuturan siswa yang mencerminkan kesantunan berbahasa. Pengumpulan data menggunakan teknik simak bebas libat cakap (SBLC) dan transkripsi data. Teknik analisis data menggunakan model interaktif Miles dan Huberman yang terdiri dari empat tahap, yaitu pengumpulan data, reduksi data, analisis data dan verifikasi atau penarikan simpulan. Hasil penelitian ditemukan perbedaan bentuk kesantunan berbahasa antara siswa laki-laki dan siswa perempuan. Perbedaan tersebut tercermin dalam maksim kesantunan yang dipatuhi dan dilanggar oleh siswa. Pematuhan prinsip kesantunan siswa perempuan terdapat dalam (1) maksim kebijaksanaan; (2) maksim kedermawanan; dan (3) maksim kesepakatan. Sedangkan penyimpangan prinsip kesantunan siswa laki-laki terdapat dalam (1) maksim kedermawanan; (2) maksim kerendahhatian; (3) maksim kesepakatan; dan (4) maksim kesimpatian.Kata kunci: kesantunan berbahasa siswa, gender, Sekolah Menengah Kejuruan
LANGUAGE ACQUISITION OF CHILDREN WITH MENTAL DISABILITIES IN PACITAN Reza Pandudinata; Sumarlam Sumarlam; Kundharu Saddhono
Humanus: Jurnal Ilmiah Ilmu-ilmu Humaniora Vol 17, No 1 (2018)
Publisher : Pusat Kajian Humaniora FBS Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (296.457 KB) | DOI: 10.24036/humanus.v17i1.8542

Abstract

This research is a psycholinguistic research because it discusses about language acquisition. Focus of language acquisition will be discussed is language acquisition of child with severe mental disability, namely Angga, and a child with mild mental disability, namely Rafli. The purpose of this study is to explain the language acquisition of child with severe mental disability and a child with mild mental disability. This research is a qualitative research. The data of this research is basic vocabularies of child with severe mental disability and a child with mild mental disability. This research strategy is case study. This research was conducted at SLB YKK Pacitan. In this study, observation and questionnaires were used to collect the data. The results of this study were Angga, child with severe mental disability, understands 56 basic vocabularies of 200 basic vocabularies provided, while Rafli, a child with mild mental disability, was able to understand the 170 basic vocabularies. This is reasonable because the ability of child with severe mental disability and a child with mild mental disability has been very different. The child's "ability to understand" is reflected in the IQ of each child, if a child with mild mental disability rate ranges from 50-55 to 70, the child with severe mental disability ranges from 20-25 to 35-40, so the ability to understand this basic vocabularies is different.Keywords: psycholinguistic, language acquisition, children with mental disabilities PEMEROLEHAN BAHASA ANAK TUNAGRAHITA DI KABUPATEN PACITANAbstrakPenelitian ini merupakan penelitian psikolinguistik karena membahas salah satu objeknya, yaitu pemerolehan bahasa. Pemerolehan bahasa pada penelitian ini berfokus kepada pemerolehan bahasa anak tunagrahita berat, yaitu Angga, dan anak tunagrahita ringan, yaitu Rafli. Tujuan penelitian ini adalah memaparkan pemerolehan bahasa pada anak tunagrahita berat dan anak tunagrahita ringan. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif. Data yang diperoleh dari penelitian ini yaitu kosa kata dasar anak tunagrahita ringan dan anak tunagrahita berat. Strategi penelitian ini yaitu studi kasus. Penelitian ini dilaksanakan di SLB YKK Pacitan. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan metode observasi dan juga angket untuk mengumpulkan data. Hasil penelitian ini yaitu Angga, anak tunagrahita berat, mampu memahami 56 kosa kata dasar dari total 200 kosa kata dasar yang disediakan, sementara Rafli, anak tunagrahita ringan, mampu memahami 170 kosa kata dasar dari total 200 kosa kata dasar yang disediakan. Hal ini wajar karena memang kemampuan anak tunagrahita berat dan ringan tentu saja berbeda, khususnya di dalam berbahasa. “Kemampuan memahami” anak tergambar pada IQ masing-masing anak, jika IQ tunagrahita ringan berkisar antara 50-55 hingga 70, maka tunagrahita berat berkisar 20-25 hingga 35-40, sehingga kemampuan memahami kosa kata dasar ini Angga dan Rafli berbeda.Kata kunci: psikolinguistik, pemerolehan bahasa, anak tunagrahita
THE MINIMALISM ASPECT OF SCENOGRAPHY IN MALAY ALTERNATIVE THEATRE IN STOR TEATER DBP Syahrul Fithri Musa; Mohd Effindi Samsuddin
Humanus: Jurnal Ilmiah Ilmu-ilmu Humaniora Vol 17, No 1 (2018)
Publisher : Pusat Kajian Humaniora FBS Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (959.255 KB) | DOI: 10.24036/humanus.v17i1.8751

Abstract

This paper discus the minimalism elements of scenography in selected plays by five writer/directors of Malay alternative theatre in Stor Teater DBP during 2003 and 2014. The plays selected from difference background of writer/directors in theatre such as Dinsman, Nam Ron, A Wahab Hamzah, Fasyali Fadzly, and Aloy Paradoks. This study uses illustrated case study method which is a descriptive case study that usually uses  one or two example events (in the context of this study is Malay alternative theatre) to explain the situation. A study of the play texts was made on five informants, the authors-directors of the ten staged performances at the Stor Teater DBP (Dewan Dewan Bahasa dan Pustaka), Kuala Lumpur from 2003 to 2014. The minimalism concept in the aspect of scenography is seen in line with the physical requirements found in the Stor Teater DBP as a small capacity space (black box). Hence, it makes artistic arrangements such as sets, lighting design and costumes primarily in a distinctive style as a form of Malay alternative theatre. Additionally, this paper also looks at the extent to which their design ideas can articulate artistic values and bring in any new theater elements in contemporary play in space and funding constraints.Keywords: Theatre, Minimalism, Scenography, Malay Alternative Theatre, Performing Arts KONSEP MINIMALISME DALAM ASPEK SINOGRAFI TEATER ALTERNATIF MELAYU DI STOR TEATER DBPAbstrakArtikel ini bertujuan membincangkan mengenai ciri-ciri konsep minimalisme yang dianalisis berdasarkan teater-teater alternatif Melayu terpilih yang dipentaskan di Stor Teater DBP pada tahun 2003 hingga 2013 iaitu di antara kewujudan panggung tersebut sebelum ditutup pada tahun 2014. Pementasan-pementasan teater terpilih diambil dari karya penulis/pengarah yang mempunyai latar belakang daripada pelbagai segi faktor umur, pendidikan dan pengalaman mereka dalam dunia teater seperti Dinsman, Nam Ron, A Wahab Hamzah, Fasyali Fadzly, dan Aloy Paradoks. Kajian ini menggunakan pendekatan kajian kes ilustrasi iaitu kajian kes deskriptif yang biasanya menggunakan satu atau dua contoh peristiwa (dalam konteks kajian ini adalah teater alternatif Melayu) untuk menerangkan keadaan. Kajian terhadap teks persembahan dilakukan terhadap lima orang informan iaitu penulis-pengarah bagi sepuluh pementasan yang pernah dipersembahkan di Stor Teater Dewan Bahasa dan Pustaka, Kuala Lumpur dari tahun 2003 hingga 2014. Hasil penyelidikan yang diperoleh bahawa konsep minimalisme dalam aspek sinografi dilihat sejajar dengan keperluan fizikal yang terdapat di Stor DBP sebagai sebuah panggung berkapasiti kecil yang dipanggil kotak hitam (black box).  Justeru, konsep tersebut menjadikan ia sebagai penataan artistik seperti set, pencahayaan dan kostum terutama berada dalam satu gaya yang tersendiri sebagai ciri-ciri sebuah bentuk teater alternatif Melayu. Selain itu, artikel ini juga melihat sejauh mana idea rekaan dalam keterbatasan ruang serta dana keuangan dapat mencetuskan nilai artistik dan sebarang unsur teaterikal baru dalam pementasan kontemporari.Kata kunci: Teater, Minimalisme, Sinografi, Teater Alternatif Melayu, Seni Persembahan

Page 1 of 1 | Total Record : 10