cover
Contact Name
Yufitri Mayasari
Contact Email
yufitrimayasrai@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
yufitrimayasari@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
JITEKGI Jurnal Ilmiah dan Teknologi Kedokteran Gigi
ISSN : 16933079     EISSN : 26218356     DOI : -
Core Subject : Health,
Bidang ilmu Kedokteran Gigi yang disajikan dalam jurnal ini adalah meliputi Ilmu Konservasi Gigi, Periodontologi, Ortodontik, Ilmu Penyakit Mulut, Prostodontia, Ilmu Kedokteran Gigi Anak, Ilmu Bedah Mulut, Ilmu kesehatan Gigi Masyarakat & Pencegahan, serta bidang ilmu penunjang Kedokteran Gigi seperti Radiologi Dental, Biologi Oral, Ilmu Material dan Teknologi Kedokteran Gigi, juga bidang ilmu kesehatan umum lain. Jurnal ini terbit berkala dua kali setahun (di bulan Mei dan November).
Arjuna Subject : -
Articles 9 Documents
Search results for , issue "Vol 19, No 1 (2023)" : 9 Documents clear
EFEK ANTIBAKTERIAL CUKA SARI APEL DALAM BERBAGAIKONSENTRASI TERHADAP PORPHYROMONAS GINGIVALIS Sari Aliyani; Natallia Pranata; Vinna Kurniawati Sugiaman
Jurnal Ilmiah dan Teknologi Kedokteran Gigi Vol 19, No 1 (2023)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32509/jitekgi.v19i1.2157

Abstract

Latar belakang: penyakit periodontal adalah penyakit yang dapat mengenai jaringan pendukung gigi. American Academy of Periodontology (AAP) mengklasifikasikan menjadi dua, yaitu periodontitis kronis dan periodontitis agresif. Periodontitis biasanya disebabkan oleh bakteri salah satunya Porphyromonas gingivalis. Salah satu bahan yang dapat digunakan sebagai obat kumur dan memiliki efek antibakteri adalah chlorhexidine, namun penggunaan obat kumur ini memiliki efek samping sehingga masyarakat beralih ke obat herbal, yaitu cuka sari apel yang memiliki kandungan fenol, flavonoid, saponin, dan alkaloid sebagai antibakteri. Tujuan: penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada atau tidaknya efek antibakteri cuka sari apel terhadap bakteri Porphyromonas gingivalis.Metode: bahan berupa cuka sari apel hasil fermentasi memiliki nilai pH 3,13 dan kadar gula yang tersisa 1,5% Brix. Sampel penelitiannya adalah Porphyromonas gingivalis ATCC 33277, didapat dari Laboratorium Aretha Medika Utama Biomolecular and Biomedical Research Center (BBRC) Bandung. Metode penelitiannya adalah metode difusi cakram (Kirby-Bauer), yaitu metode pada kertas cakram dengan berbagai konsentrasi cuka sari apel. Hasil: berdasarkan hasil penelitian eksperimental laboratorium mengenai efek antibakteri cuka sari apel dengan konsetrasi 1,56% dan 3,12% memiliki kriteria lemah karena memiliki nilai 0, pada konsentrasi 6,25% dan 50%, memiliki kriteria sedang karena memiliki nilai 6,18 mm dan 8,33 mm, dan pada konsentrasi 100% memiliki kriteria kuat karena memiliki nilai 13,93 mm. Kesimpulan: pada cuka sari apel terdapat efek antibakteri yang mampu menghambat pertumbuhan bakteriPorphyromonas gingivalis, zona hambat terbesar terdapat pada konsentrasi 100% dan berkurang sejalan dengan penurunan konsentrasi cuka sari apel.
INFLAMASI GUSI DAN KARIES GIGI PADA IBU HAMIL SERTA KAITANNYA DENGAN STATUS GIZI DI KABUPATEN PANDEGLANG, BANTEN TAHUN 2021 Lisa Prihastari; Putri Syaviera; Salsabila Putri; Sonya Priyadharsini; Djuned Prasonto; Bimo Rintoko; Hesti Witasari
Jurnal Ilmiah dan Teknologi Kedokteran Gigi Vol 19, No 1 (2023)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32509/jitekgi.v19i1.2211

Abstract

Latar belakang: wanita yang sedang hamil lebih rentan terhadap penyakit periodontal dan karies gigi yang nantinya akan mempengaruhi status gizi mereka. Kebiasaan oral hygiene dan pola makan ibu hamil juga berkaitan erat dengan penyakit periodontal dan karies gigi. Tujuan: mengetahui gambaran status kesehatan periodontal dan karies gigi ibu hamil di Kabupaten Pandeglang dan menganalisis hubungannya dengan status gizi mereka. Metode: penelitian analitik crosssectional dengan 89 responden ibu hamil di wilayah Kabupaten Pandeglang, provinsi Banten usia 17-45 tahun disurvey dan diperiksa menggunakan kuesioner untuk mengetahui kebiasan oral hygiene, pola diet makanan dan sosiodemografi. Pemeriksaan rongga mulut dengan Modified Gingival Index (MGI) dan Decay Missing Filling Teeth (DMFT) serta dilakukan pengukuran Body Mass Index (BMI) dan Lingkar Lengan Atas (LILA). Analisis statistikyang digunakan adalah uji non parametrik dan uji korelasi dengan SPSS. Hasil: prevalensi subyek yang memiliki inflamasi berat adalah 8% (7 responden) dan paling banyak ibu hamil mengalami 56% (50 responden) sedangkan untuk tingkat karies gigi tinggi adalah 9% (8 responden) dan paling banyak mengalami tingkat karies sedang yaitu 29,2% (26 responden). Hasil pemeriksaan BMI yaitu paling sedikit responden memiliki kategori kurus sebanyak 4 responden (4,5%), dan paling banyak pada kategori normal sebanyak 28 responden (31,5%). Hasil uji Non Parametrikmenunjukkan terdapat hubungan signifikan antara konsumsi buah dan sayur dengan kejadian MGI (p 0,05) dan terdapat korelasi antara skor BMI dan Skor LILA. Kesimpulan: tingkat inflamasi gusi ibu hamil paling banyak adalah inflamasi ringan (56%) dan tingkat karies gigi sangat rendah (37%). Skor MGI dan DMFT tidak berhubungan dengan BMI dan LILA pada responden ibu hamil dalam penelitian ini.
PERBANDINGAN EFEKTIVITAS PENYULUHAN MENGGUNAKAN VIDEO ANIMASI DAN POWERPOINT TERHADAP PENGETAHUAN KESEHATAN GIGI ANAK DI LOMBOK Putri Rejeki; Luh Wayan Ayu Rahaswanti; Sri Kresna Anggapati
Jurnal Ilmiah dan Teknologi Kedokteran Gigi Vol 19, No 1 (2023)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32509/jitekgi.v19i1.2294

Abstract

Latar Belakang: gigi merupakan bagian anggota tubuh yang memegang peranan penting. Penyakit gigi menjadi salah satu diantara sepuluh penyakit yang paling sering ditemui di berbagai wilayah. Berdasarkan data dari World Health Organization (WHO) mengatakan bahwa sekitar 60-90% anak-anak sekolah dasar di dunia mempunyai penyakit gigi dan mulut yang mengakibatkan rasa sakit serta mempengaruhi kualitas hidup. Anak usia sekolah pada umumnya kurang dalam menjaga kesehatan gigi dan mulut. Perilaku ini disebabkan oleh kurangnya informasi yang didapatkan sehinggapengetahuan menjadi rendah sehingga dibutuhkannya pendidikan kesehatan. Tujuan: penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan efektivitas penyuluhan media video animasi dengan media Power Point terhadap tingkat pengetahuan pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut siswa sekolah dasar di Desa Sandik. Metode: penelitian inimenggunakan metode kuantitatif dengan desain quasi eksperimen rancangan two group pretest dan post–test. Sampel penelitian ini adalah seluruh siswa/siswi kelas V dan VI di SDN 1 Sandik dan SDN 2 Sandik yang berusia 10–12 tahun berjumlah 238 orang. Teknik pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling. Hasil: hasil penelitian ini menyatakan bahwa skor rata-rata pengetahuan saat pretest kedua media sama (kategori sedang). Setelah diberikan intervensi hasil penelitian memperlihatkan bahwa rata-rata skor pengetahuan mengalami peningkatan. Setelah dilakukan perbandingan selisih kedua rata–rata media tersebut. Terlihat hasil media video animasi lebih efektif dalam meningkatkan pengetahuan siswa dengan peningkatan sebesar 0,57 dibandingkan dengan media power point yang memberikanpeningkatan sebesar 0,36. Kesimpulan: penelitian menunjukkan media video animasi lebih efektif dalam meningkatkan pengetahuan kesehatan gigi dan mulut dibandingkan dengan media power point.
HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN KESEHATAN GIGI MULUT DENGAN INDEKS DMF-T PELAJAR SMP DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS CIBEUNYING Marlin Himawati; Keukeuh Bening Sherliani; Sefya Firdaus; Kintan Putri Nur Shafarkiani; Yolanda Putri Mulya Aprilyani; Sevira Dwi Prisilia
Jurnal Ilmiah dan Teknologi Kedokteran Gigi Vol 19, No 1 (2023)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32509/jitekgi.v19i1.2022

Abstract

Latar belakang: fase remaja merupakan fase peralihan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa, dimana pada faseini sering terjadi masalah kesehatan gigi dan mulut. Salah satu alat untuk menilai status kesehatan gigi dan mulut adalah indeks DMF-T. Angka DMF-T menggambarkan banyaknya karies yang diderita seseorang. Huruf D (decayed) dalam indeks DMF-T berarti jumlah gigi karies yang masih dapat ditambal, huruf M (missing) berarti jumlah gigi tetap yang harus dicabut karena karies, dan huruf F (filled) berarti jumlah gigi yang telah ditambal. Faktor yang dapat mempengaruhi status kesehatan gigi dan mulut adalah pengetahuan memelihara kesehatan gigi dan mulut yang dimiliki seseorang. Tujuan: untuk mengetahui hubungan tingkat pengetahuan kesehatan gigi dan mulut dengan indeks DMF-Tpada pelajar SMP di wilayah kerja Puskesmas Cibeunying. Metode: jenis penelitian ini adalah cross sectional dengan jumlah sampel 161 pelajar di SMP yang ada pada wilayah kerja Puskesmas Cibeunying. Data dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner berisi pengetahuan kesehatan gigi dan mulut serta pemeriksaan indeks DMF-T menggunakan kaca mulut dan probe CPI WHO. Hasil: hasil uji korelasi spearman menyebutkan bahwa terdapat korelasi yang kuat (p 0,05) antara pengetahuan dan indeks DMF-T. Kesimpulan: semakin tinggi tingkat pengetahuan maka akan semakin rendah angka indeks DMFT seseorang.
PENGARUH SEDIAAN BUNGA TELANG (CLITORIA TERNATEA L.) DENGAN DAN TANPA LEMON TERHADAP DISKOLORASI RESIN KOMPOSIT NANOFILLER Nadya Putri Harsono; Wiena Widyastuti
Jurnal Ilmiah dan Teknologi Kedokteran Gigi Vol 19, No 1 (2023)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32509/jitekgi.v19i1.1946

Abstract

Latar belakang: bunga telang (Clitoria ternatea L.) pada saat ini sering dijadikan teh herbal dan pewarna makanan alami. Warna biru yang dihasilkan oleh bunga telang membuat banyak masyarakat mengonsumsi teh bunga ini. Kandungan zat antosianin pada bunga telang dapat menyebabkan perubahan warna pada resin komposit. Perubahan warna resin komposit dapat mengakibatkan masalah estetika yang mempengaruhi kualitas hidup seseorang. Hal ini menyebabkan masyarakat sering mengunjungi dokter gigi. Tujuan: untuk mengetahui pengaruh sediaan bunga telang (Clitoria ternatea L.) terhadap perubahan warna resin komposit nanofiller. Metode: penelitian ini menggunakan sampel resin komposit berbentuk silinder dengan diameter 10 mm dan tebal 2 mm sebanyak 12 buah. Sampel diberi perlakuan dengan 2 kelompok yaitu larutan sediaan bunga telang tanpa lemon dan dengan lemon dengan durasi 4 jam selama 7 hari di dalam inkubator. Larutan sediaan diganti setiap 4 jam dan sampel direndam dengan aquades. Hasil: pada uji normalitas menunjukkan data tidak berdistribusi dengan normal (p0,05). Uji Mann-Whitney menunjukan tidak ada perubahan warna antar 2 kelompok (p0,05). Kesimpulan: sediaan bunga telang tidak mempengaruhi perubahan warna pada resin komposit nanofiller.
PREVALENSI DROOLING, DISFAGIA DAN MANIFESTASI ORAL PADA ANAK DENGAN CEREBRAL PALSY (Penelitian Pendahuluan di Jakarta, Indonesia) Manuel Dwiyanto H Lugito
Jurnal Ilmiah dan Teknologi Kedokteran Gigi Vol 19, No 1 (2023)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32509/jitekgi.v19i1.2439

Abstract

Latar belakang: Cerebral palsy(CP) merupakan kelainan neurologis permanen yang mempengaruhi fungsi sistem pergerakan motorik dan postur tubuh sehingga mengakibatkan permasalahan rongga mulut. Tujuan: mengetahui prevalensi drooling, disfagia dan manifestasi oral dari populasi anak penderita CP di Jakarta. Metode: jenis penelitian ini kuantitatif non eksperimental, dengan pendekatan potong lintang. Subjek penelitian merupakan anak-anak penderita CP yang tergabung dalam Yayasan Diffable Action Indonesia, Jakarta. Pengambilan data menggunakan kuesioner tentang drooling dan disfagia dengan hasil uji validitas dan reliabilitasyaitu 0.709 dan 0.049. Analisis data yang digunakan adalah univariat. Pemeriksaan intraoral dilakukan untuk mengetahui derajat keasaman saliva dan manifestasi oral anak penderita CP. Hasil: total 56 anak dengan rerata usia 9.192+4.019 tahun, 9 anak (16.1%) mengalami drooling yang parah hingga membasahi tangan, nampan, objek lainnya sedangkan 17 anak (30.4%) tidak pernah mengalami drooling. 29 anak (51.8%) sering mengalami disfagia yaitu sulit mengigit dan mengunyah. Nilai rerata derajat keasaman saliva anak CP adalah 6.26. Manifestasi oral yaitu karies gigi diderita 37 anak CP (66.1%),sedangkan kelainan periodontal diderita 17 anak (30.4%). Kesimpulan: prevalensi keparahan dan frekuensi drooling, disfagia dan manifestasi oral tersering anak-anak CP berupa karies pada penelitian ini tinggi. Pengetahuan orangtua dan pengasuh dan perawatan drooling, disfagia serta karies gigi sejak usia dini harus ditingkatkan.
SURGICAL OPERCULECTOMY PROCEDURE IN THE TREATMENT OF PERICORONITIS (CASE REPORTS) Veronica Septnina Primasari
Jurnal Ilmiah dan Teknologi Kedokteran Gigi Vol 19, No 1 (2023)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32509/jitekgi.v19i1.2271

Abstract

Background: pericoronitis is an inflammation of the soft tissue around the crown of the erupting or partially impacted mandibular third molar and usually occurs at the age of 20-29 years. This soft tissue is known as the operculum. Pericoronitis is caused by food debris trapped in the operculum and challenging to clean, causing inflammation that can be acute or chronic. Operculectomy is a surgical removal of the operculum and can be performed using a scalpel, laser, and electrocautery. Case report: case 1: A 22-year-old female patient complained of frequent pain in the left posterior gingiva, and food was often trapped in the gingiva. Clinical examination showed inflammation in the operculum of an erupted tooth 38. Scaling, the first phase of treatment, is performed to remove plaque and calculus, followed by operculectomy. Case 2: A 20-year-old female patient was referred from the orthodontic department with complaints of difficulty opening her mouth and pain in the left cheek and neck; the patient has been given antibiotics and analgesics. From the clinical examination, tooth 38 erupted with inflammation of the operculum. The patient was given antibiotics and follow-up analgesics to relieve the acute phase, and scaling was done; then, an operculectomy was performed after the patient could open her mouth. Conclusion: operculectomy with a scalpel is a procedure that can be performed in treating pericoronitis to remove the operculum; this makes it easier for patients to maintain oral hygiene.
GAMBARAN LITERASI PENGETAHUAN MENGENAI TELEDENTISTRY DI MASA PANDEMI CORONA VIRUS DISEASE-19: STUDI PENDAHULUAN Annisa Septalita; Margareta Yulia Kristi
Jurnal Ilmiah dan Teknologi Kedokteran Gigi Vol 19, No 1 (2023)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32509/jitekgi.v19i1.2283

Abstract

Latar belakang: World Health Organization (WHO) menetapkan Coronavirus disease 2019 (Covid-19) menjadi pandemi karena penularannya\yang sangat cepat dan dampaknya sangat luas bagi seluruh masyarakat di seluruh dunia termasuk di Indonesia. Data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, kasus Covid-19 di Indonesia menunjukkan peningkatan terus menerus dari tahun 2020, hingga di tahun 2022 mencapai 4,26 juta jiwa. Teledentistry merupakan layanan yang menggabungkan teknologi dan kedokteran gigi untuk konsultasi jarak jauh. Literasi pengetahuandokter gigi dan mahasiswa profesi kedokteran gigi menjadi peluang besar sekaligus tantangan di masa Covid-19 dan di masa mendatang dalam pelaksanaan teledentistry untuk meningkatkan perawatan kesehatan gigi dan mulut di masyarakat. Tujuan: menjelaskan gambaran literasi pengetahuan mengenai teledentistry di masa pandemi Covid-19 pada dokter gigi dan mahasiswa program profesi kedokteran gigi di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama). Metode: penelitian deskriptif ini merupakan studi pendahuluan dengan desain cross sectional menggunakan teknik probability proportional to size sampling dan simple random sampling. Data primer didapatkan dari kuesioner berisi 5 pertanyaan literasi pengetahuan mengenai teledentistry berbentuk google form, diuji menggunakan uji univariat. Hasil: berdasarkan 62 dokter gigi dan 207 mahasiswa program profesi kedokteran gigi, mayoritas perempuan (80,3%), dokter gigi berusia 30-39 tahun (37,1%) dan mahasiswa profesi kedokteran gigi berusia 23 tahun (31,4%). Dokter gigi (67,7%) dan mahasiswa program profesi kedokteran gigi (93,2%) memiliki pengetahuan baik mengenai teledentistry. Kesimpulan: dokter gigi dan mahasiswa program profesi kedokteran gigi FKG UPDM (B) memiliki literasi pengetahuan baik yang akan mendukung penggunaan teledentistry.
GAMBARAN KECEMASAN DENTAL PADA ANAK USIA 8-10 TAHUN TERHADAP PERAWATAN GIGI (Kajian Pada Anak SD Yos Sudarso Purwakarta) Natalia Silaban; Sri Lestari
Jurnal Ilmiah dan Teknologi Kedokteran Gigi Vol 19, No 1 (2023)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32509/jitekgi.v19i1.1947

Abstract

Latar Belakang: kesehatan gigi dan mulut pada anak perlu mendapat perhatian karena anak cenderung memiliki kesan rasa takut terhadap tindakan perawatan gigi. Kecemasan terhadap tindakan perawatan gigi dapat mengakibatkan anak menjaditidak kooperatif dan keterlambatan atau penundaan anak untuk mengunjungi dokter gigi secara berkala. Kecemasan ini dapat dipengaruhi oleh faktor individu dari pasien anak, faktor diluar individu, dan faktor lingkungan dental. Apabila kecemasan tidak diatasi dengan baik akan membuat anak memiliki kecemasan yang terus berlangsung hingga tindakan perawatan berikutnya maupun sampai dewasa. Metode: penelitian observasional deskriptif dengan rancangan crosssectional yang dilakukan pada 65 responden. Pengumpulan data penelitian tentang kecemasan dental anak menggunakan kuesioner CFSS-DS yang dilakukan dengan cara wawancara pada anak yang didampingi oleh orang tua atau wali melalui zoom. Hasil: hasil penelitian menunjukkan kecemasan dental kategori tinggi paling banyak ditemukan pada anak usia 10 tahun (23,07%) dibandingkan usia 8 tahun (16,9%) dan 9 tahun (20%). Berdasarkan jenis kelamin, kecemasan dental kategori tinggi lebih banyak ditemukan pada anak perempuan (32,3%) dibandingkan anak laki-laki (27,7%). Sebagian besar tindakan perawatan gigi dapat menimbulkan kecemasan pada anak usia 8-10 tahun. Kesimpulan: kecemasan dental kategori tinggi didapatkan lebih banyak pada anak usia lebih tua dibandingkan anak yang berusia lebih muda dan anak perempuan lebih banyak mengalami kecemasan dental kategori tinggi dibandingkan anak laki-laki.

Page 1 of 1 | Total Record : 9