Claim Missing Document
Check
Articles

Found 10 Documents
Search

ANIMASI DAN PERMAINAN EDS (ELEMENTARY DENTAL SCHOOL) SEBAGAI METODE INTERAKTIF PENDIDIKAN KESEHATAN GIGI DAN MULUT SISWA SEKOLAH DASAR Prasonto, Djuned; Prihastari, Lisa; Ronal, Ahmad
Jurnal BALIRESO Vol 4, No 1 (2019)
Publisher : Jurnal BALIRESO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (121.515 KB)

Abstract

Early dental caries prevention in this case self-care oral cultivation needs to be done primarilyin primary school-aged children. Indonesians are people who have not considered oral healthsince their early years. Dental and oral health education programs with aspects that onlyemphasize the realm of knowledge is not significant enough to change the paradigm in societyand reduce the number of caries. Elementary dental school (EDS) using appreciative inquiryapproach develops positive change concept which is a new discourse in the world of healthpromotion.With the appreciative inquiry approach, the positive core that will be used as amedium of transformation builds awareness and forms a healthy paradigm in children. Theprogram seeks to raise awareness of maintaining oral hygiene through the stages of providingdance knowledge through animation and games by integrating school and home environmentsthrough the participation of teachers and parents.The results of the implementation of EDSprogram showed significant changes of knowledge in children especially seen from theincrease of post test value compared to the pre test value which experienced an increase of35.3%.
UJI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN EKSTRAK BAWANG PUTIH (Allium sativum) Djuned Prasonto; Eriska Riyanti; Meirina Gartika
ODONTO : Dental Journal Vol 4, No 2 (2017): December 2017
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Islam Sultan Agung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30659/odj.4.2.122-128

Abstract

Background: Organosulfur compound, allicin and phenolic are the main compound in garlic responsible for antioxidant activity. Correlation between free radicals and some dental diseases, such as free radicals and Reactive Oxygen Species (ROS) responsible for periodontal inflammation, caries, lesions and oral cancers. The research objective is to get scientifc data about the antioxidant activity from garlic extract (Allium sativum).Method: The research was conducted using three different varieties of garlic:local garlic varieties Ciwidey, single local garlic’s clove, and import garlic which is found at the market in Bandung. Garlic extract is made by maceration using ethanol 96% and antioxidant activity test using DPPH method (1,1-diphenyl-2- picrylhydrazyl). Statistical analysis using One Way ANOVA followed by post hoc analysisResult: three varieties of garlic have a strong antioxidant activity. Value of IC50 = 13.61 mg / ml for local garlic varieties Ciwidey, IC50 = 10.61 mg/ml for single local garlic’s clove and IC50 = 11.32 mg/ml for imports garlic.Conclusion: Three varieties of garlic have different antioxidant strength and the best antioxidant strength is single local garlic’s clove.
Edukasi dan Kompetisi Remaja di Bidang Kesehatan Gigi “Youth Dental Competition” Lisa Prihastari; Djuned Prasonto; Bimo Rintoko; Ahmad Ronal; Hesti Witasari J.E
Jurnal Abdidas Vol. 2 No. 5 (2021): October Pages 1021-1256
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/abdidas.v2i5.444

Abstract

Program kesehatan saat ini masih sangat jarang yang menyasar pada kelompok usia remaja, utamanya mengenai kesehatan gigi, akibatnya banyak remaja Indonesia yang memiliki pengetahuan serta keterampilan menjaga kesehatan gigi yang masih rendah. Youth Dental Competition (YDC) adalah inisiasi acara edukasi sekaligus kompetisi yang menyenangkan untuk remaja mengenai kesehatan gigi dan mulut. Setelah mendapatkan informasi dan materi para remaja ditantang berkompetisi menunjukkan bakat serta kemampuannya dalam menyerap informasi tersebut lewat lomba cerdas cermat, membuat drama singkat dan komik meme bertemakan kesehatan gigi. Kompetisi disusun menyerupai SEA Games dengan hadiah yang menyemangati mereka untuk berusaha dan memberikan hasil yang terbaik. Hasil evaluasi pada 30 peserta melalui metode pre-post test yang memperlihatkan terjadinya peningkatan pengetahuan seluruh responden (100%). Rerata pre-test yaitu 3.93 dan rerata post-test sebesar 8.23 dengan hasil uji statistik wilcoxon menyatakan perbedaan yang bermakna (p=0,0001). Program YDC diharapkan dapat memberikan manfaat yang lebih luas lagi untuk seluruh remaja di Indonesia dengan bekerja sama dengan institusi-institusi terkait.
UJI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN EKSTRAK BAWANG PUTIH (Allium sativum) Djuned Prasonto; Eriska Riyanti; Meirina Gartika
Odonto : Dental Journal Vol 4, No 2 (2017): December 2017
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Islam Sultan Agung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (577.822 KB) | DOI: 10.30659/odj.4.2.122-128

Abstract

Background: Organosulfur compound, allicin and phenolic are the main compound in garlic responsible for antioxidant activity. Correlation between free radicals and some dental diseases, such as free radicals and Reactive Oxygen Species (ROS) responsible for periodontal inflammation, caries, lesions and oral cancers. The research objective is to get scientifc data about the antioxidant activity from garlic extract (Allium sativum).Method: The research was conducted using three different varieties of garlic:local garlic varieties Ciwidey, single local garlic’s clove, and import garlic which is found at the market in Bandung. Garlic extract is made by maceration using ethanol 96% and antioxidant activity test using DPPH method (1,1-diphenyl-2- picrylhydrazyl). Statistical analysis using One Way ANOVA followed by post hoc analysisResult: three varieties of garlic have a strong antioxidant activity. Value of IC50 = 13.61 mg / ml for local garlic varieties Ciwidey, IC50 = 10.61 mg/ml for single local garlic’s clove and IC50 = 11.32 mg/ml for imports garlic.Conclusion: Three varieties of garlic have different antioxidant strength and the best antioxidant strength is single local garlic’s clove.
INFLAMASI GUSI DAN KARIES GIGI PADA IBU HAMIL SERTA KAITANNYA DENGAN STATUS GIZI DI KABUPATEN PANDEGLANG, BANTEN TAHUN 2021 Lisa Prihastari; Putri Syaviera; Salsabila Putri; Sonya Priyadharsini; Djuned Prasonto; Bimo Rintoko; Hesti Witasari
Jurnal Ilmiah dan Teknologi Kedokteran Gigi Vol 19, No 1 (2023)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32509/jitekgi.v19i1.2211

Abstract

Latar belakang: wanita yang sedang hamil lebih rentan terhadap penyakit periodontal dan karies gigi yang nantinya akan mempengaruhi status gizi mereka. Kebiasaan oral hygiene dan pola makan ibu hamil juga berkaitan erat dengan penyakit periodontal dan karies gigi. Tujuan: mengetahui gambaran status kesehatan periodontal dan karies gigi ibu hamil di Kabupaten Pandeglang dan menganalisis hubungannya dengan status gizi mereka. Metode: penelitian analitik crosssectional dengan 89 responden ibu hamil di wilayah Kabupaten Pandeglang, provinsi Banten usia 17-45 tahun disurvey dan diperiksa menggunakan kuesioner untuk mengetahui kebiasan oral hygiene, pola diet makanan dan sosiodemografi. Pemeriksaan rongga mulut dengan Modified Gingival Index (MGI) dan Decay Missing Filling Teeth (DMFT) serta dilakukan pengukuran Body Mass Index (BMI) dan Lingkar Lengan Atas (LILA). Analisis statistikyang digunakan adalah uji non parametrik dan uji korelasi dengan SPSS. Hasil: prevalensi subyek yang memiliki inflamasi berat adalah 8% (7 responden) dan paling banyak ibu hamil mengalami 56% (50 responden) sedangkan untuk tingkat karies gigi tinggi adalah 9% (8 responden) dan paling banyak mengalami tingkat karies sedang yaitu 29,2% (26 responden). Hasil pemeriksaan BMI yaitu paling sedikit responden memiliki kategori kurus sebanyak 4 responden (4,5%), dan paling banyak pada kategori normal sebanyak 28 responden (31,5%). Hasil uji Non Parametrikmenunjukkan terdapat hubungan signifikan antara konsumsi buah dan sayur dengan kejadian MGI (p 0,05) dan terdapat korelasi antara skor BMI dan Skor LILA. Kesimpulan: tingkat inflamasi gusi ibu hamil paling banyak adalah inflamasi ringan (56%) dan tingkat karies gigi sangat rendah (37%). Skor MGI dan DMFT tidak berhubungan dengan BMI dan LILA pada responden ibu hamil dalam penelitian ini.
Stunting dan Malnutrisi Penyebab Kelainan Email Gigi Anak dan Early Childhood Caries (ECC): Komprehensif Review Lisa Prihastari; Djuned Prasonto; Bimo Rintoko; Hesti Witasari Jos Erry
Andalas Dental Journal Vol 11 No 2 (2023): Andalas Dental Journal
Publisher : Faculty of Dentistry Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/adj.v11i2.247

Abstract

Background: Childhood dental health is a vital component of overall well-being, with Early Childhood Caries (ECC) and defect enamel being major concerns. This article explores the intricate connection between stunting, malnutrition, and the development of defect enamel and ECC in children. Methods: Narrative review use Pubmed and Google Scholar databases with article inclusion criteria, namely research articles and reviews that discuss the relationship between enamel defects and malnutrition and ECC with malnutrition Results: Childhood malnutrition, characterized by inadequate intake of essential nutrients, poses a significant global health challenge. Stunting, a manifestation of chronic malnutrition, adversely affects physical growth and cognitive development in children. However, the link between malnutrition and dental health has not received adequate attention. This article examines the mechanisms through which malnutrition, specifically stunting, can contribute to the development of defective enamel in children. Nutritional deficiencies, particularly in calcium, vitamin D, and fluoride, are identified as key culprits in compromising enamel formation and strength. Weakening of the enamel leaves teeth vulnerable to dental caries, including ECC, which can lead to pain and long-term oral health problems. The complex relationship between malnutrition, stunting, defect enamel, and ECC calls for multifaceted solutions. Conclusion: This article highlights the importance of holistic public health initiatives, which encompass nutritional education for caregivers and improved access to dental care services for at-risk children. Interdisciplinary collaboration among healthcare professionals is emphasized to address the synergistic nature of these interconnected health challenges.
Hubungan Perilaku Menyikat Gigi Dan Konsumsi Makanan Kariogenik Pada Anak Usia 10-12 Tahun Terhadap Kesehatan Gigi dan Mulut Di Sdn Pamoyanan 2 Bogor Putri, Rima Andiny Sugiarto; Djuned Prasonto
Jurnal Sehat Indonesia (JUSINDO) Vol. 7 No. 1 (2025): Jurnal Sehat Indonesia (JUSINDO)
Publisher : Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/jsi.v7i01.222

Abstract

Karies gigi pada anak-anak merupakan salah satu permasalahan utama dalam kesehatan gigi dan mulut. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis keterkaitan antara kebiasaan menyikat gigi dan konsumsi makanan kariogenik dengan kesehatan gigi dan mulut pada anak usia 10–12 tahun di SDN Pamoyanan 2 Bogor. Dengan menggunakan pendekatan penelitian observasional, data dikumpulkan dari 100 siswa yang dipilih melalui simple random sampling sebanyak 100 siswa berusia 10–12 tahun yang memenuhi kriteria inklusi, yaitu siswa yang terdaftar di SDN Pamoyanan 2 Bogor, bersedia berpartisipasi dengan persetujuan orang tua, dan tidak memiliki gangguan kesehatan yang memengaruhi gigi serta mulut. Kriteria eksklusi meliputi siswa yang tidak hadir saat penelitian atau memberikan jawaban kuesioner yang tidak lengkap. Data diperoleh dengan menggunakan kuesioner terstruktur dan selanjutnya dianalisis menggunakan uji statistik chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 66% responden memiliki perilaku menyikat gigi yang buruk, sementara 87% responden memiliki konsumsi makanan kariogenik yang tinggi. Terdapat korelasi yang signifikan antara kebiasaan menyikat gigi dengan kesehatan gigi dan mulut (p = 0,007), serta antara konsumsi makanan kariogenik dengan kesehatan gigi dan mulut (p = 0,010). Penelitian ini menyimpulkan bahwa kebiasaan menyikat gigi yang kurang baik serta tingginya konsumsi makanan kariogenik berkaitan dengan kondisi kesehatan gigi dan mulut yang buruk pada anak usia 10–12 tahun.
Uji Daya Hambat Bakteri Lactobacillus acidophilus Dengan Menggunakan Ekstrak Black garlic (Allium Sativum) Secara In Vitro Djuned Prasonto; Annisa Gunawan; Prastiwi Setianingtyas
Majalah Sainstekes Vol. 12 No. 1 (2025): JUNI 2025
Publisher : Lembaga Penelitian Universitas YARSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33476/ms.v12i1.4695

Abstract

Karies gigi merupakan suatu kerusakan yang terjadi pada jaringan keras gigi yang disebabkan oleh beberapa faktor yang saling berinteraksi. Faktor tersebut adalah gigi & saliva, mikroorganisme, substrat, dan waktu. Lactobacillus acidophilus merupakan salah satu bakteri penyebab karies gigi. Black garlic merupakan hasil dari proses pemanasan bawang putih. Black garlic memiliki senyawa aktif yaitu allicin dan flavonoid yang bersifat sebagai antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas ekstrak Black garlic dalam menghambat pertumbuhan bakteri Lactobacillus acidophilus penyebab karies gigi. Penelitian ini menggunakan desain penelitian eksperimental laboratorik dengan metode disc diffusion. Bahan yang digunakan yaitu ekstrak Black garlic dengan konsentrasi 25%, 50%, 75%, 100%, chlorhexidine 0,2% dan aquades dengan pengulangan sebanyak 4 kali. Hasil penelitian dan pengukuran zona hambat ekstrak Black garlic terhadap pertumbuhan bakteri Lactobacillus acidophilus didapatkan hasil bahwa ekstrak Black garlic dengan konsentrasi 25%, 50%, 75%, dan 100% dan kontrol negatif terbentuk sebesar 0,01 mm yang menunjukan tidak adanya daya hambat dan kontrol positif didapatkan hasil dengan rata-rata 12,35 mm yang menunjukan bahwa respon daya hambat lemah. Hasil uji statistik menggunakan uji Mann-Whitney menunjukkan terdapat perbedaan yang bermakna pada kontrol positif chlorhexidine 0,2% yaitu p=0,014 (p0,05) terhadap aktivitas pertumbuhan bakteri Lactobacillus acidophilus. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa ekstrak Black garlic tidak memiliki efek antibakteri terhadap pertumbuhan bakteri Lactobacillus acidophilus.
Hubungan Perilaku Menyikat Gigi Dan Konsumsi Makanan Kariogenik Pada Anak Usia 10-12 Tahun Terhadap Kesehatan Gigi dan Mulut Di Sdn Pamoyanan 2 Bogor Putri, Rima Andiny Sugiarto; Djuned Prasonto
Jurnal Sehat Indonesia (JUSINDO) Vol. 7 No. 1 (2025): Jurnal Sehat Indonesia (JUSINDO)
Publisher : CV. Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/jsi.v7i01.222

Abstract

Karies gigi pada anak-anak merupakan salah satu permasalahan utama dalam kesehatan gigi dan mulut. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis keterkaitan antara kebiasaan menyikat gigi dan konsumsi makanan kariogenik dengan kesehatan gigi dan mulut pada anak usia 10–12 tahun di SDN Pamoyanan 2 Bogor. Dengan menggunakan pendekatan penelitian observasional, data dikumpulkan dari 100 siswa yang dipilih melalui simple random sampling sebanyak 100 siswa berusia 10–12 tahun yang memenuhi kriteria inklusi, yaitu siswa yang terdaftar di SDN Pamoyanan 2 Bogor, bersedia berpartisipasi dengan persetujuan orang tua, dan tidak memiliki gangguan kesehatan yang memengaruhi gigi serta mulut. Kriteria eksklusi meliputi siswa yang tidak hadir saat penelitian atau memberikan jawaban kuesioner yang tidak lengkap. Data diperoleh dengan menggunakan kuesioner terstruktur dan selanjutnya dianalisis menggunakan uji statistik chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 66% responden memiliki perilaku menyikat gigi yang buruk, sementara 87% responden memiliki konsumsi makanan kariogenik yang tinggi. Terdapat korelasi yang signifikan antara kebiasaan menyikat gigi dengan kesehatan gigi dan mulut (p = 0,007), serta antara konsumsi makanan kariogenik dengan kesehatan gigi dan mulut (p = 0,010). Penelitian ini menyimpulkan bahwa kebiasaan menyikat gigi yang kurang baik serta tingginya konsumsi makanan kariogenik berkaitan dengan kondisi kesehatan gigi dan mulut yang buruk pada anak usia 10–12 tahun.
Factors affecting delayed tooth eruption among children aged 6-24 Months: a cross-sectional study Umniyati, Helwiah; Prasonto, Djuned; Pramigi, Ufo; Suriyah, Wastuti Hidayati; Mohd Dom, Tuti Ningseh
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 37, No 3 (2025): Desember 2025
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkg.v37i3.67954

Abstract

Introduction: Nutritional status is one of the most important things that parents must pay attention to, especially when the child is in the golden period of growth, which consists of the period of growth and development, including tooth eruption. Tooth eruption is influenced by various factors, one of which is nutritional factors. Mothers' health status may then determine their children's primary dentition status, and also the child's status itself. This study aims to analyze factors related to delayed tooth eruption in children aged 6–24 months. Methods: This research was a cross-sectional study conducted among 464 children aged 6–24 months. The sampling method employed was a total sampling technique undertaken in 10 villages within the Pandeglang district, West Java. Tooth eruption time used the Primary Tooth Development figure by the American Dental Association (ADA). Statistical analysis was performed using chi-square and logistic regression. Research ethics were obtained from YARSI University. Results: There was a significant relationship between delayed tooth eruption and mother’s Body Mass Index (BMI), nutritional status of children, and gender, with a value of ρ<0.05. Female sex (AOR=1.51), stunting (AOR=1.86), and underweight (AOR=1.78) increased the odds of delayed eruption. Conclusion: Nutritional status influences eruption timing. Integrating oral assessments into routine child growth monitoring could improve early detection of developmental risks in children aged 6 – 24 months.  Faktor-faktor yang mempengaruhi keterlambatan erupsi gigi pada anak usia 6-24 bulan: studi cross-sectionalPendahuluan: Status gizi merupakan faktor krusial yang perlu diperhatikan oleh orang tua, terutama pada masa perkembangan awal anak, yang meliputi periode pertumbuhan pesat, perkembangan fisiologis, serta erupsi gigi. Erupsi gigi dipengaruhi oleh berbagai faktor, salah satunya adalah faktor gizi. Status kesehatan ibu menentukan status gigi sulung anak-anak mereka, demikian pula status anak itu sendiri. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan keterlambatan erupsi gigi pada anak usia 6 - 24 bulan. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian potong lintang yang dilakukan di antara 464 anak usia 6 - 24 bulan. Metode pengambilan sampel yang digunakan adalah teknik total sampling yang dilakukan di 10 desa di kabupaten Pandeglang, Jawa Barat. Waktu erupsi gigi menggunakan angka Perkembangan Gigi Sulung oleh American Dental Association (ADA). Analisis statistik dilakukan dengan menggunakan chi-square dan regresi logistik. Hasil: Terdapat hubungan yang signifikan antara keterlambatan erupsi gigi dengan IMT ibu, status gizi anak, dan jenis kelamin, diperoleh nilai p=0,05. Jenis kelamin perempuan (AOR=1,51), stunting (AOR=1,86), dan berat badan kurang (AOR=1,78) meningkatkan kemungkinan erupsi tertunda. Simpulan: Status gizi secara memengaruhi waktu erupsi. Mengintegrasikan pemeriksaan gigi ke dalam pemantauan pertumbuhan anak secara rutin dapat meningkatkan deteksi dini risiko pada anak usia 6-24 bulan.