cover
Contact Name
Yufitri Mayasari
Contact Email
yufitrimayasrai@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
yufitrimayasari@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
JITEKGI Jurnal Ilmiah dan Teknologi Kedokteran Gigi
ISSN : 16933079     EISSN : 26218356     DOI : -
Core Subject : Health,
Bidang ilmu Kedokteran Gigi yang disajikan dalam jurnal ini adalah meliputi Ilmu Konservasi Gigi, Periodontologi, Ortodontik, Ilmu Penyakit Mulut, Prostodontia, Ilmu Kedokteran Gigi Anak, Ilmu Bedah Mulut, Ilmu kesehatan Gigi Masyarakat & Pencegahan, serta bidang ilmu penunjang Kedokteran Gigi seperti Radiologi Dental, Biologi Oral, Ilmu Material dan Teknologi Kedokteran Gigi, juga bidang ilmu kesehatan umum lain. Jurnal ini terbit berkala dua kali setahun (di bulan Mei dan November).
Arjuna Subject : -
Articles 186 Documents
PENGARUH AIR REBUSAN SERAI DAPUR (Cymbopogon Citratus) TERHADAP PERUBAHAN WARNA RESIN AKRILIK POLIMERISASI PANAS Elin Hertiana; Nadya P Suharyanto
Jurnal Ilmiah dan Teknologi Kedokteran Gigi Vol 18, No 2 (2022)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32509/jitekgi.v18i2.2286

Abstract

Latar belakang: Indonesia memiliki keanekaragaman hayati yang melimpah terutama spesies tanaman yang digunakan sebagai bahan masakan, minuman maupun obat-obatan, salah satunya adalah serai dapur. Serai dapur (Cymbopogon citratus) memiliki kandungan kimia yang terdiri dari alkaloid, tanin, saponin, flavonoid, fenol, steroid dan minyak atsiri. Air rebusan serai dapur dipercaya memiliki khasiat untuk kesehatan, seperti menurunkan tekanan darah, menjaga sistem pencernaan, mencegah diabetes dan sebagainya. Dalam bidang kedokteran gigi, serai dapur dapat digunakan sebagai bahan desinfeksi gigi tiruan karena dapat menghambat pertumbuhan Candida albicans. Beberapa tanaman herbal yang mengandung flavonoid dan tanin terbukti menyebabkan perubahan warna resin akrilik. Perendaman gigi tiruan dalam air rebusan serai dapur  dapat membuat senyawa-senyawa yang terkandung di dalamnya dapat terserap dan menempel dalam rongga-rongga resin akrilik karena adanya sifat penyerapan air dan porositas dari resin akrilik. Tujuan: Menjelaskan pengaruh air rebusan serai dapur (Cymbopogon citratus) terhadap perubahan warna resin akrilik polimerisasi panas. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratoris dengan desain pretest-post test with control group. Sampel akrilik berukuran 10 x 10 x 2 mm sebanyak 24 buah dibagi menjadi 6 kelompok, yaitu 3 kelompok perendaman serai dapur dan 3 kelompok perendaman aquades selama 3 hari, 5 hari dan 7 hari. Uji statistik yang digunakan adalah paired t-test dan independent t test. Hasil: Terdapat perubahan nilai value pada 3 hari dan nilai value, chroma serta hue pada 5 hari dan 7 hari perendaman dalam serai (p0.05). Kesimpulan: Perendaman resin akrilik polimerisasi panas dalam air rebusan serai dapur (Cymbopogon citratus) dapat menyebabkan perubahan warna.
GAMBARAN PENGETAHUAN PENERAPAN CUCI TANGAN DAN ALAT PELINDUNG DIRI PADA MAHASISWA PROFESI FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI DKI JAKARTA Rania Nabilavashti; Sri Lestari; Caesary Cloudya Panjaitan
Jurnal Ilmiah dan Teknologi Kedokteran Gigi Vol 18, No 2 (2022)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32509/jitekgi.v18i2.1910

Abstract

Latar belakang: mahasiswa profesi kedokteran gigi merupakan salah satu petugas kesehatan yang harus memenuhi kriteria standar dalam memberikan pelayanan kesehatan gigi dan mulut, antara lain melakukan pencegahan dan pengendalian infeksi (PPI). Penerapan PPI seperti cuci tangan menurut WHO dan penggunaan APD merupakan hal yang penting untuk mencegah penyebaran infeksi silang dan Health-care Associated Infection (HAIs). Tujuan: untuk mengetahui gambaran pengetahuan penerapan cuci tangan dan alat pelindung diri pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi DKI Jakarta. Metode: penelitian ini menggunakan metode observasional deskriptif dengan metode cross sectional. Pengumpulan data menggunakan kuesioner melalui google form yang berisi 14 pertanyaan mengenai pengetahuan penerapan cuci tangan menurut WHO dan 15 pertanyaan mengenai penggunaan APD dengan 197 responden dari mahasiswa program profesi angkatan 2016 dan 2017 FKG DKI Jakarta. Hasil: tingkat pengetahuan penerapan cuci tangan menurut WHO dengan kategori baik sebanyak 44,7%, kategori cukup 53,8%, dan kategori kurang 1,5%. Tingkat pengetahuan penggunaan APD dengan kategori baik sebanyak 62,4%, kategori cukup 36,5% dan kategori kurang 1%. Kesimpulan: tingkat pengetahuan responden terbanyak untuk penerapan cuci tangan menurut WHO adalah kategori cukup, yaitu sebesar 53,8%. Tingkat pengetahuan responden terbanyak untuk penerapan alat pelindung diri adalah kategori baik, yaitu sebesar 62,4%.
BEHAVIORAL MANAGEMENT IN DENTAL TREATMENT FOR CHILDHOOD AUTISM: (CASE STUDY) Muhammad Chair Effendi; Sri Susilawati; Mirna Febriani; Agus Susanto; Lisda Damayanti; Anne Agustina S; Inne S. Sasmita
Jurnal Ilmiah dan Teknologi Kedokteran Gigi Vol 18, No 2 (2022)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32509/jitekgi.v18i2.1948

Abstract

Background: Autism Spectrum Disorder (ASD) or autism is a disorder that occurs during brain development characterized by deficiencies in social behavior and nonverbal interactions such as lack of eye contact, facial expressions, and body movements before a child is three years old. Autism Spectrum Disorder (ASD) is not a single disorder and is generally considered a multi-factorial disorder caused by the interaction of genetic and non-genetic factors. Lack of social behavior includes avoiding eye contact, difficulty controlling emotions or understanding the emotions of others, and limiting the range of activities and interests. Case report: A patient, female, 7 years and 4 months complained that the maxillary front teeth shake and want to be removed. Patients are suspected of having symptoms of autism since the age of 2 years and have started screening at that age until finally diagnosed with autism. Autism in patients, in this case, is suspected of autism from genetic factors. Conclusion: People with autism require special examination and treatment regarding the health of their teeth and mouth. These actions require cooperation between dentists and pediatricians or psychologists or other related disciplines so that the desired end results can be achieved as well as possible.
EFEK ANTIBAKTERIAL CUKA SARI APEL DALAM BERBAGAIKONSENTRASI TERHADAP PORPHYROMONAS GINGIVALIS Sari Aliyani; Natallia Pranata; Vinna Kurniawati Sugiaman
Jurnal Ilmiah dan Teknologi Kedokteran Gigi Vol 19, No 1 (2023)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32509/jitekgi.v19i1.2157

Abstract

Latar belakang: penyakit periodontal adalah penyakit yang dapat mengenai jaringan pendukung gigi. American Academy of Periodontology (AAP) mengklasifikasikan menjadi dua, yaitu periodontitis kronis dan periodontitis agresif. Periodontitis biasanya disebabkan oleh bakteri salah satunya Porphyromonas gingivalis. Salah satu bahan yang dapat digunakan sebagai obat kumur dan memiliki efek antibakteri adalah chlorhexidine, namun penggunaan obat kumur ini memiliki efek samping sehingga masyarakat beralih ke obat herbal, yaitu cuka sari apel yang memiliki kandungan fenol, flavonoid, saponin, dan alkaloid sebagai antibakteri. Tujuan: penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada atau tidaknya efek antibakteri cuka sari apel terhadap bakteri Porphyromonas gingivalis.Metode: bahan berupa cuka sari apel hasil fermentasi memiliki nilai pH 3,13 dan kadar gula yang tersisa 1,5% Brix. Sampel penelitiannya adalah Porphyromonas gingivalis ATCC 33277, didapat dari Laboratorium Aretha Medika Utama Biomolecular and Biomedical Research Center (BBRC) Bandung. Metode penelitiannya adalah metode difusi cakram (Kirby-Bauer), yaitu metode pada kertas cakram dengan berbagai konsentrasi cuka sari apel. Hasil: berdasarkan hasil penelitian eksperimental laboratorium mengenai efek antibakteri cuka sari apel dengan konsetrasi 1,56% dan 3,12% memiliki kriteria lemah karena memiliki nilai 0, pada konsentrasi 6,25% dan 50%, memiliki kriteria sedang karena memiliki nilai 6,18 mm dan 8,33 mm, dan pada konsentrasi 100% memiliki kriteria kuat karena memiliki nilai 13,93 mm. Kesimpulan: pada cuka sari apel terdapat efek antibakteri yang mampu menghambat pertumbuhan bakteriPorphyromonas gingivalis, zona hambat terbesar terdapat pada konsentrasi 100% dan berkurang sejalan dengan penurunan konsentrasi cuka sari apel.
INFLAMASI GUSI DAN KARIES GIGI PADA IBU HAMIL SERTA KAITANNYA DENGAN STATUS GIZI DI KABUPATEN PANDEGLANG, BANTEN TAHUN 2021 Lisa Prihastari; Putri Syaviera; Salsabila Putri; Sonya Priyadharsini; Djuned Prasonto; Bimo Rintoko; Hesti Witasari
Jurnal Ilmiah dan Teknologi Kedokteran Gigi Vol 19, No 1 (2023)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32509/jitekgi.v19i1.2211

Abstract

Latar belakang: wanita yang sedang hamil lebih rentan terhadap penyakit periodontal dan karies gigi yang nantinya akan mempengaruhi status gizi mereka. Kebiasaan oral hygiene dan pola makan ibu hamil juga berkaitan erat dengan penyakit periodontal dan karies gigi. Tujuan: mengetahui gambaran status kesehatan periodontal dan karies gigi ibu hamil di Kabupaten Pandeglang dan menganalisis hubungannya dengan status gizi mereka. Metode: penelitian analitik crosssectional dengan 89 responden ibu hamil di wilayah Kabupaten Pandeglang, provinsi Banten usia 17-45 tahun disurvey dan diperiksa menggunakan kuesioner untuk mengetahui kebiasan oral hygiene, pola diet makanan dan sosiodemografi. Pemeriksaan rongga mulut dengan Modified Gingival Index (MGI) dan Decay Missing Filling Teeth (DMFT) serta dilakukan pengukuran Body Mass Index (BMI) dan Lingkar Lengan Atas (LILA). Analisis statistikyang digunakan adalah uji non parametrik dan uji korelasi dengan SPSS. Hasil: prevalensi subyek yang memiliki inflamasi berat adalah 8% (7 responden) dan paling banyak ibu hamil mengalami 56% (50 responden) sedangkan untuk tingkat karies gigi tinggi adalah 9% (8 responden) dan paling banyak mengalami tingkat karies sedang yaitu 29,2% (26 responden). Hasil pemeriksaan BMI yaitu paling sedikit responden memiliki kategori kurus sebanyak 4 responden (4,5%), dan paling banyak pada kategori normal sebanyak 28 responden (31,5%). Hasil uji Non Parametrikmenunjukkan terdapat hubungan signifikan antara konsumsi buah dan sayur dengan kejadian MGI (p 0,05) dan terdapat korelasi antara skor BMI dan Skor LILA. Kesimpulan: tingkat inflamasi gusi ibu hamil paling banyak adalah inflamasi ringan (56%) dan tingkat karies gigi sangat rendah (37%). Skor MGI dan DMFT tidak berhubungan dengan BMI dan LILA pada responden ibu hamil dalam penelitian ini.
PERBANDINGAN EFEKTIVITAS PENYULUHAN MENGGUNAKAN VIDEO ANIMASI DAN POWERPOINT TERHADAP PENGETAHUAN KESEHATAN GIGI ANAK DI LOMBOK Putri Rejeki; Luh Wayan Ayu Rahaswanti; Sri Kresna Anggapati
Jurnal Ilmiah dan Teknologi Kedokteran Gigi Vol 19, No 1 (2023)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32509/jitekgi.v19i1.2294

Abstract

Latar Belakang: gigi merupakan bagian anggota tubuh yang memegang peranan penting. Penyakit gigi menjadi salah satu diantara sepuluh penyakit yang paling sering ditemui di berbagai wilayah. Berdasarkan data dari World Health Organization (WHO) mengatakan bahwa sekitar 60-90% anak-anak sekolah dasar di dunia mempunyai penyakit gigi dan mulut yang mengakibatkan rasa sakit serta mempengaruhi kualitas hidup. Anak usia sekolah pada umumnya kurang dalam menjaga kesehatan gigi dan mulut. Perilaku ini disebabkan oleh kurangnya informasi yang didapatkan sehinggapengetahuan menjadi rendah sehingga dibutuhkannya pendidikan kesehatan. Tujuan: penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan efektivitas penyuluhan media video animasi dengan media Power Point terhadap tingkat pengetahuan pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut siswa sekolah dasar di Desa Sandik. Metode: penelitian inimenggunakan metode kuantitatif dengan desain quasi eksperimen rancangan two group pretest dan post–test. Sampel penelitian ini adalah seluruh siswa/siswi kelas V dan VI di SDN 1 Sandik dan SDN 2 Sandik yang berusia 10–12 tahun berjumlah 238 orang. Teknik pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling. Hasil: hasil penelitian ini menyatakan bahwa skor rata-rata pengetahuan saat pretest kedua media sama (kategori sedang). Setelah diberikan intervensi hasil penelitian memperlihatkan bahwa rata-rata skor pengetahuan mengalami peningkatan. Setelah dilakukan perbandingan selisih kedua rata–rata media tersebut. Terlihat hasil media video animasi lebih efektif dalam meningkatkan pengetahuan siswa dengan peningkatan sebesar 0,57 dibandingkan dengan media power point yang memberikanpeningkatan sebesar 0,36. Kesimpulan: penelitian menunjukkan media video animasi lebih efektif dalam meningkatkan pengetahuan kesehatan gigi dan mulut dibandingkan dengan media power point.
HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN KESEHATAN GIGI MULUT DENGAN INDEKS DMF-T PELAJAR SMP DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS CIBEUNYING Marlin Himawati; Keukeuh Bening Sherliani; Sefya Firdaus; Kintan Putri Nur Shafarkiani; Yolanda Putri Mulya Aprilyani; Sevira Dwi Prisilia
Jurnal Ilmiah dan Teknologi Kedokteran Gigi Vol 19, No 1 (2023)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32509/jitekgi.v19i1.2022

Abstract

Latar belakang: fase remaja merupakan fase peralihan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa, dimana pada faseini sering terjadi masalah kesehatan gigi dan mulut. Salah satu alat untuk menilai status kesehatan gigi dan mulut adalah indeks DMF-T. Angka DMF-T menggambarkan banyaknya karies yang diderita seseorang. Huruf D (decayed) dalam indeks DMF-T berarti jumlah gigi karies yang masih dapat ditambal, huruf M (missing) berarti jumlah gigi tetap yang harus dicabut karena karies, dan huruf F (filled) berarti jumlah gigi yang telah ditambal. Faktor yang dapat mempengaruhi status kesehatan gigi dan mulut adalah pengetahuan memelihara kesehatan gigi dan mulut yang dimiliki seseorang. Tujuan: untuk mengetahui hubungan tingkat pengetahuan kesehatan gigi dan mulut dengan indeks DMF-Tpada pelajar SMP di wilayah kerja Puskesmas Cibeunying. Metode: jenis penelitian ini adalah cross sectional dengan jumlah sampel 161 pelajar di SMP yang ada pada wilayah kerja Puskesmas Cibeunying. Data dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner berisi pengetahuan kesehatan gigi dan mulut serta pemeriksaan indeks DMF-T menggunakan kaca mulut dan probe CPI WHO. Hasil: hasil uji korelasi spearman menyebutkan bahwa terdapat korelasi yang kuat (p 0,05) antara pengetahuan dan indeks DMF-T. Kesimpulan: semakin tinggi tingkat pengetahuan maka akan semakin rendah angka indeks DMFT seseorang.
PENGARUH SEDIAAN BUNGA TELANG (CLITORIA TERNATEA L.) DENGAN DAN TANPA LEMON TERHADAP DISKOLORASI RESIN KOMPOSIT NANOFILLER Nadya Putri Harsono; Wiena Widyastuti
Jurnal Ilmiah dan Teknologi Kedokteran Gigi Vol 19, No 1 (2023)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32509/jitekgi.v19i1.1946

Abstract

Latar belakang: bunga telang (Clitoria ternatea L.) pada saat ini sering dijadikan teh herbal dan pewarna makanan alami. Warna biru yang dihasilkan oleh bunga telang membuat banyak masyarakat mengonsumsi teh bunga ini. Kandungan zat antosianin pada bunga telang dapat menyebabkan perubahan warna pada resin komposit. Perubahan warna resin komposit dapat mengakibatkan masalah estetika yang mempengaruhi kualitas hidup seseorang. Hal ini menyebabkan masyarakat sering mengunjungi dokter gigi. Tujuan: untuk mengetahui pengaruh sediaan bunga telang (Clitoria ternatea L.) terhadap perubahan warna resin komposit nanofiller. Metode: penelitian ini menggunakan sampel resin komposit berbentuk silinder dengan diameter 10 mm dan tebal 2 mm sebanyak 12 buah. Sampel diberi perlakuan dengan 2 kelompok yaitu larutan sediaan bunga telang tanpa lemon dan dengan lemon dengan durasi 4 jam selama 7 hari di dalam inkubator. Larutan sediaan diganti setiap 4 jam dan sampel direndam dengan aquades. Hasil: pada uji normalitas menunjukkan data tidak berdistribusi dengan normal (p0,05). Uji Mann-Whitney menunjukan tidak ada perubahan warna antar 2 kelompok (p0,05). Kesimpulan: sediaan bunga telang tidak mempengaruhi perubahan warna pada resin komposit nanofiller.
PREVALENSI DROOLING, DISFAGIA DAN MANIFESTASI ORAL PADA ANAK DENGAN CEREBRAL PALSY (Penelitian Pendahuluan di Jakarta, Indonesia) Manuel Dwiyanto H Lugito
Jurnal Ilmiah dan Teknologi Kedokteran Gigi Vol 19, No 1 (2023)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32509/jitekgi.v19i1.2439

Abstract

Latar belakang: Cerebral palsy(CP) merupakan kelainan neurologis permanen yang mempengaruhi fungsi sistem pergerakan motorik dan postur tubuh sehingga mengakibatkan permasalahan rongga mulut. Tujuan: mengetahui prevalensi drooling, disfagia dan manifestasi oral dari populasi anak penderita CP di Jakarta. Metode: jenis penelitian ini kuantitatif non eksperimental, dengan pendekatan potong lintang. Subjek penelitian merupakan anak-anak penderita CP yang tergabung dalam Yayasan Diffable Action Indonesia, Jakarta. Pengambilan data menggunakan kuesioner tentang drooling dan disfagia dengan hasil uji validitas dan reliabilitasyaitu 0.709 dan 0.049. Analisis data yang digunakan adalah univariat. Pemeriksaan intraoral dilakukan untuk mengetahui derajat keasaman saliva dan manifestasi oral anak penderita CP. Hasil: total 56 anak dengan rerata usia 9.192+4.019 tahun, 9 anak (16.1%) mengalami drooling yang parah hingga membasahi tangan, nampan, objek lainnya sedangkan 17 anak (30.4%) tidak pernah mengalami drooling. 29 anak (51.8%) sering mengalami disfagia yaitu sulit mengigit dan mengunyah. Nilai rerata derajat keasaman saliva anak CP adalah 6.26. Manifestasi oral yaitu karies gigi diderita 37 anak CP (66.1%),sedangkan kelainan periodontal diderita 17 anak (30.4%). Kesimpulan: prevalensi keparahan dan frekuensi drooling, disfagia dan manifestasi oral tersering anak-anak CP berupa karies pada penelitian ini tinggi. Pengetahuan orangtua dan pengasuh dan perawatan drooling, disfagia serta karies gigi sejak usia dini harus ditingkatkan.
SURGICAL OPERCULECTOMY PROCEDURE IN THE TREATMENT OF PERICORONITIS (CASE REPORTS) Veronica Septnina Primasari
Jurnal Ilmiah dan Teknologi Kedokteran Gigi Vol 19, No 1 (2023)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32509/jitekgi.v19i1.2271

Abstract

Background: pericoronitis is an inflammation of the soft tissue around the crown of the erupting or partially impacted mandibular third molar and usually occurs at the age of 20-29 years. This soft tissue is known as the operculum. Pericoronitis is caused by food debris trapped in the operculum and challenging to clean, causing inflammation that can be acute or chronic. Operculectomy is a surgical removal of the operculum and can be performed using a scalpel, laser, and electrocautery. Case report: case 1: A 22-year-old female patient complained of frequent pain in the left posterior gingiva, and food was often trapped in the gingiva. Clinical examination showed inflammation in the operculum of an erupted tooth 38. Scaling, the first phase of treatment, is performed to remove plaque and calculus, followed by operculectomy. Case 2: A 20-year-old female patient was referred from the orthodontic department with complaints of difficulty opening her mouth and pain in the left cheek and neck; the patient has been given antibiotics and analgesics. From the clinical examination, tooth 38 erupted with inflammation of the operculum. The patient was given antibiotics and follow-up analgesics to relieve the acute phase, and scaling was done; then, an operculectomy was performed after the patient could open her mouth. Conclusion: operculectomy with a scalpel is a procedure that can be performed in treating pericoronitis to remove the operculum; this makes it easier for patients to maintain oral hygiene.