cover
Contact Name
Basori
Contact Email
tjakbasori@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
suarbetangbbkalteng@gmail.com
Editorial Address
http://suarbetang.kemdikbud.go.id/jurnal/index.php/BETANG
Location
Kota palangkaraya,
Kalimantan tengah
INDONESIA
Suar Betang
ISSN : 19075650     EISSN : 26864975     DOI : 10.26499/surbet.v14i1.91
Core Subject : Education,
SUAR BETANG is a journal that publishes articles in the study of literature, linguistics, and language teaching. This journal will be consumed by litterateur, linguists, researchers, university lecturers in language teaching, students in linguistics, language teachers, journalists, and other professionals. All articles in SUAR BETANG have passed reviewing process by peer reviewers and edited by editors. SUAR BETANG is published by Balai Bahasa Kalimantan Tengah twice a year, in June and December.
Arjuna Subject : -
Articles 249 Documents
Prinsip Pengenalan Morfem dalam Bahasa Inggris: Kajian Morfologi Suhila Mahamu; Agus Nero Sofyan
SUAR BETANG Vol 16, No 2 (2021): Desember 2021
Publisher : Balai Bahasa Kalimantan Tengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/surbet.v16i2.216

Abstract

This research aims to classify and identify morphemes recognition in English. The method used in this study is qualitative descriptive method. In providing data, the researcher uses listening and note-taking technique. The data used in this study were retrieved from the book Top Grammar: A Guide to Write English. While the theory used is the theory of the principle of morpheme recognition. The results of this discussion can be classified into six principles of morpheme recognition namely (1) the form of indefinite pronouns, comparative and superlative degree and reflexive pronouns; (2) singular and plural forms; (3) the form of the past participle in regular {-d}/{-ed} and irregular {–n} forms; (4) singular and plural nouns, present and past verbs; (5) the form of homonyms and in principle; and (6), the form of free morpheme and bound morpheme. From the results of the classification, morpheme units can be identified based on word form, word class and also the meaning that appears.AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengklasifikasi dan mengidentifikasi pengenalan morfem dalam bahasa Inggris. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif. Dalam tahapan penyediaan data, penulis menggunakan teknik simak dan catat. Data yang digunakan dalam penelitian ini bersumber dari buku Top Grammar: A Guide to Write English. Teori yang digunakan adalah teori prinsip pengenalan morfem. Hasil dari pembahasan menunjukan bahwa terdapat enam prinsip pengenalan morfem, yaitu (1) terdapat pada bentuk indefinite pronoun, comparative dan superlative degree, serta reflexive pronoun; (2) terdapat pada bentuk tunggal dan jamak; (3) terdapat data pada bentuk past participle bentuk regular {-d}/ {-ed} dan irregular {–n}; (4) terdapat padakata benda tunggal dan jamak dan kata kerja present serta past; (5) terdapat pada bentuk homonim; (6) terdapat pada bentuk morfem bebas dan terikat. Dari hasil klasifikasi tersebut dapat disimpulkan bahwa satuan morfem dapat diidentifikasi berdasarkan bentuk kata, kelas kata, dan makna yang muncul.
Gaya Bahasa Kiasan dalam Novel Hati Suhita Karya Khilma Anis dan Relevansinya sebagai Bahan Ajar di SMA Aulia Normalita
SUAR BETANG Vol 16, No 2 (2021): Desember 2021
Publisher : Balai Bahasa Kalimantan Tengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/surbet.v16i2.239

Abstract

Hati Suhita which is set in Java contains some philosophical and figurative languages. This research  aims to describe some figurative languages of Khilma Anis’s Hati Suhita and its relevance as a teaching material in high school. This is a descriptive qualitative research. The research data are in the form of words or sentences. The source of the data is the novel Hati Suhita and high school syllabus. The data collection techniques are read and note-taking techniques. The data analysis is then applied to the lists of figurative style passage dialogue using content analysis. The results showed that in the novel there were 32 styles of figurative languages. There are 6 data in the form of simile, 1 metaphorical, 12 personifications, 6 allusions, 6 eponymous data, and 1 data in the form of irony. Style that dominates the invention was the personification. Overall, the distinctive figurative language styles used in various forms of parables and comparisons in the novel are Javanese puppet characters and proverbs. This is unique in the discovery of language styles in this study. The results of the analysis of the language style in this novel have relevances as teaching materials with three KD, among them found in KD 3.9.4.9, 3.4.4.4, 3.9.4.9 of XI and XII degrees.AbstrakDalam novel Hati Suhita ditemukan gaya bahasa kiasan yang sarat akan budaya dan filosofi Jawa yang terkandung di dalamnya. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan gaya bahasa kiasan yang terdapat dalam novel Hati Suhita karya Khilma Anis dan relevansinya sebagai bahan ajar di SMA. Penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif. Data berupa kata atau kalimat yang menunjukkan gaya bahasa kiasan. Sumber data berupa novel Hati Suhita dan silabus bahasa Indonesia pada jenjang SMA. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik simak dan catat, pencatatan dilakukan untuk menuliskan petikan dialog yang mengandung gaya bahasa kiasan. Teknik analisis menggunakan analisis isi. Hasil analisis menunjukkan bahwa dalam novel tersebut terdapat 32 gaya bahasa kiasaan, yaitu 6 data gaya bahasa simile atau persamaan, 1 data metafora, 12 data personifikasi, 6 data alusi, 6 data eponimi, dan 1 data ironi. Gaya bahasa kiasan yang mendominasi adalah personifikasi. Kekhasan gaya bahasa kiasan yang digunakan dalam berbagai bentuk perumpamaan dan perbandingan pada novel tersebut adalah tokoh-tokoh pewayangan dan peribahasa Jawa. Hal tersebut merupakan keunikan dalam penelitian ini. Hasil analisis gaya bahasa dalam novel ini memiliki relevansi sebagai bahan ajar dengan tiga KD, di antaranya terdapat pada KD 3.9.4.9, 3.4.4.4, 3.9.4.9. yang terdapat pada kelas XI dan XII.
Pengantar Redaksi dan Ucapan Terima kasih Dwiani Septiana
SUAR BETANG Vol 15, No 2 (2020): Desember 2020
Publisher : Balai Bahasa Kalimantan Tengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perjodohan dan Resistensi Perempuan dalam Metropop Summer Sky Karya Stephanie Zen Tania Intan
SUAR BETANG Vol 15, No 2 (2020): Desember 2020
Publisher : Balai Bahasa Kalimantan Tengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/surbet.v15i2.174

Abstract

Matchmaking or marriage arrangement is an unpopular phenomenon in the feminist view since it is considered to be detrimental to women. However, matchmaking still occur in contemporary context as as shown in a number of contemporary Indonesian literary works. The difference is, when compared to female characters who lived in the past such as Siti Nurbaya by Marah Roesli or Midah Si Manis Bergigi Emas by Pramoedya Ananta Toer, women in contemporary literary works such as metropop and chick-lit have had space to show resistance to matchmaking happened to them. This study aims to examine the phenomenon of matchmaking and women's resistance in Stephanie Zen's novel Summer Sky, which is the object of research. The method used is descriptive qualitative method. The analysis was carried out with the sociology of literature approach and feminist literature studies with O'Brien and Randall matchmaking theoretical foundation, as well as Barker's theory of resistance. This study shows that the parents in the novel act as facilitators in finding a partners, while the decision to have a relationship is the decision of each individual as an adult. The matchmaking patterns filfills four stages of interaction, namely physical encounters, awareness of the existence of a potential partner, same emotional state, and marriage as a representation of a common goal. There is no significant resistance from the female protagonist because of compatibility factor with her partner and there is no coercion from parents. Therefore, despite the theme of matchmaking, the novel Summer Sky is presented like a love story in general.AbstrakPerjodohan merupakan fenomena yang tidak populer dalam pandangan feminis karena dianggap cenderung merugikan perempuan. Namun demikian, perjodohan masih saja terjadi dalam konteks kekinian sebagaimana ditampilkan dalam sejumlah karya sastra kontemporer Indonesia. Hal yang membedakan, bila dibandingkan dengan tokoh perempuan yang hidup di masa lampau seperti Siti Nurbayakarya Marah Roesli atau tokoh MidahSi Manis Bergigi Emaskarya Pramoedya Ananta Toer, perempuan modern telah memiliki ruang untuk menunjukkan resistensi atas perjodohan yang menimpanya. Kondisi ini tergambar dalam novel metropop Summer Skykarya Stephanie Zen yang menjadi objek penelitian. Analisis dilakukan dengan pendekatan sosiologi sastra dan kajian sastra feminis. Kajian ini menunjukkan bahwa dalam novel tersebut, orang tua hanya membantu mencarikan pasangan dan keputusan untuk menjalin hubungan merupakan keputusan masing-masing individu sebagai pribadi dewasa. Empat tahap interaksi yang dikemukakan Randall terpenuhi, yaitu pertemuan fisik, saling menyadari keberadaan, berada dalam situasi emosi yang sama, dan adanya simbol yang mewakili fokus bersama.
Bentuk dan Makna Ungkapan Fatis dalam Bahasa Dayak Ngaju Muston Sitohang
SUAR BETANG Vol 16, No 2 (2021): Desember 2021
Publisher : Balai Bahasa Kalimantan Tengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/surbet.v16i2.283

Abstract

This article discussed forms and meanings of phatic in the Ngaju Dayak language. The data was obtained by recording technique. The findings of this study indicated that in the Ngaju Dayak language of Central Kalimantan, phatic expressions are delivered verbally. In general, phatic expressions in the Ngaju Dayak are in particles and words. Based on interviews with natives, there are several phatic expressions in the Ngaju Dayak. Some of the phatices found were in the form of particles bah, beh, bei, boh, ceh, ces, cih, cuh, duh, has, hey, hi and ih. Fatices in the form of words are akayah (-lah), and akuy. The phatic meaning of the particle is to show (1) sense of wonder, (2) annoyance, (3) amazement, (4) anger, (5) disappointment, (6) disgust, (7) condescension, (8) welcome, (9) affirmation, and (10) rebuke. While the meaning of phatic in the form of words are to express (1) pain, (2) awe, (3) joy, and (4) affirmation. The research also showed that some phatics in the Ngaju Dayak language are in positive communication, some of them actually have the meaning of demeaning, rebuking, and feeling angry.AbstrakArtikel ini membahas bentuk dan makna fatis dalam bahasa Dayak Ngaju. Data diperoleh dengan teknik rekam catat dan selanjutnya dideskripsikan bentuk dan maknanya. Temuan penelitian ini menunjukkan ungkapan fatis disampaikan secara verbal oleh penutur bahasa Dayak Ngaju Kalimantan Tengah. Pada umumnya ungkapan fatis dalam bahasa Dayak Ngaju berupa partikel dan kata. Berdasarkan wawancara dengan penutur, terdapat beberapa ungkapan fatis dalam bahasa Dayak Ngaju. Beberapa fatis yang ditemukan berbentuk partikel, yaitu bah, beh, bei, boh, ceh, ces, cih, cuh, duh, has, hei, hi, dan ih. Berbentuk kata, yaitu akayah (-lah) dan akui. Makna fatis berupa partikel menunjukkan (1) rasa heran, (2) rasa jengkel, (3) rasa takjub, (4) rasa geram, (5) rasa kecewa, (6) rasa jijik, (7) merendahkan, (8) mempersilakan, (9)  penegasan, dan (10) hardikan. Fatis berupa kata mengungkapkan (1) rasa sakit, (2) rasa kagum, (3) rasa gembira, dan (4) penegasan. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa beberapa fatis dalam bahasa Dayak Ngaju digunakan tidak untuk membangun komunikasi yang positif, beberapa fatis tersebut justru mempunyai makna merendahkan, hardikan, dan rasa geram.
The Use of Humor as a Pragmatic Device in Indonesian Studium Generale Lectures Muhammad Rizqi
SUAR BETANG Vol 15, No 2 (2020): Desember 2020
Publisher : Balai Bahasa Kalimantan Tengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/surbet.v15i2.209

Abstract

This paper concerns the use of humor as a pragmatic device in academic discourse. The previous studies in this area has shown that, though unlikely, humor is commonly used in academic discourse—both that of written and spoken nature. Among many aspects analyzed in the studies of academic discourse, some are related to academic cultures. With a deliberate consideration of this existing body of literature, this research aims to contribute in area by examining the use of humor in a specific academic environment, Indonesia. The data analyzed are selected transcripts from chosen YouTube videos of studium generale lectures by three Indonesian political figures. The usage of humor will be identified and analyzed pragmatically, and further classified on a table based on the classification of humor by Martin, Puhlik-Doris, Larsen, Gray, and Weir (2003). The findings of this study show that in Indonesian studium generale lectures, all four types of humor in the theory occurred, and the most frequently used type of humor is aggressive humor, to which offensive jokes belong.AbstrakArtikel ini membahas jenis dan fungsi humor dalam mata kuliah umum bahasa Indonesia. Ada beberapa aspek yang dianalisis dalam kuliah umum bahasa Indonesia yang dikaitkan dengan budaya akademik. Penelitian ini bertujuan untuk memerikan jenis dan fungsi humor dengan menelah penggunaan humor di lingkungan akademik di Indonesia. Data yang dianalisis adalah transkrip yang dipilih dari video YouTube yang dipilih dari kuliah umum oleh tiga tokoh politik Indonesia. Data diunduh terlebih dahulu lalu kalimat yang terkait dengan penelitian dicatat. Data yang terkait humor diidentifikasi dan dipilah sesuai dengan jenis dan fungsinya. Selanjutnya data diklasifikasikan berdasarkan klasifikasi humor oleh Martin, Puhlik-Doris, Larsen, Gray, dan Weir. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat empat jenis humor, yakni affiliative humor, self-enhacing humor, aggressive humor, dan self-defeating humor yang ada dalam kuliah umum di Indonesia. Yang paling sering digunakan adalah aggressive humor yang termasuk dalam lawakan ofensif.
Pengantar Redaksi dan Ucapan Terima Kasih Ralph Hery Budhiono
SUAR BETANG Vol 16, No 2 (2021): Desember 2021
Publisher : Balai Bahasa Kalimantan Tengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pandemi dalam Cerpen-Cerpen Indonesia: Kajian Sosiologi Sastra Muhammad Rosyid H.W.
SUAR BETANG Vol 16, No 2 (2021): Desember 2021
Publisher : Balai Bahasa Kalimantan Tengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/surbet.v16i2.238

Abstract

The Covid-19 pandemic has become a torch of creativity for literary authors.One of them is through a collection of short stories #ProsaDiRumahAja.This study aims to reveal the sociological aspects and social impacts of the pandemic from these short stories. This study uses a sociological literary approach with descriptive qualitative methods. The data of this research are seven short stories from twenty short stories in the book. This study found that the pandemic has resulted that the poor becoming poorer, traditions experiencing resistance and adaptation due to adapting health protocols, and women who are still trapped in a patriarchal culture.AbstrakPandemi Covid-19 telah menjadi obor kreativitas bagi para pengarang karya sastra. Salah satunya adalah melalui kumpulan cerpen #ProsaDiRumahAja. Penelitian ini bertujuan mengungkap segi-segi sosiologis dan dampak-dampak sosial pandemi dari cerpen-cerpen tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan sosiologi sastra dengan metode kualitatif deskriptif. Data penelitian ini adalah tujuh cerpen dari dua puluh cerpen di buku tersebut. Kajian ini menemukan bahwa pandemi telah mengakibatkan masyarakat miskin menjadi lebih miskin, tradisi yang mengalami resistensi dan adaptasi karena menyesuaikan dengan protokol kesehatan, dan perempuan yang masih terkurung dalam budaya patriarki melalui kebijakan “Di Rumah Aja”.
Kategorisasi atas Kata Bread, Pastry, Cake, Biscuit, dan Cookie dalam Pikiran Orang Jawa Jihan Riza Islami; Sailal Arimi
SUAR BETANG Vol 17, No 1 (2022): June 2022
Publisher : Balai Bahasa Kalimantan Tengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/surbet.v17i1.328

Abstract

The purpose of this study is to describe the categorization of bread, pastry, cake, biscuit, and cookies in the minds of the Javanese. The study was conducted using a questionnaire given to 135 people using the snowball sampling technique. To achieve this goal, the first step is to register or take an inventory of the lexicon of five foods in Javanese that emerged from the respondents' responses and record the information related to them. Furthermore, an analysis of the lexicon from the inventory is carried out. From the results of data analysis, it is known that the Javanese categorize the five foods prototypically, perceptually, and conceptually, and there are two categorization models, namely the Idealized Cognitive Model (ICM) and the metonymic model. AbstrakTujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan kategorisasi bread, pastry, cake, biscuit, dan cookie dalam pikiran orang Jawa. Data dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner yang diberikan kepada 135 orang menggunakan teknik snowball sampling. Untuk mencapai tujuan tersebut, langkah pertama yang dilakukan ialah mendaftar atau menginventarisasi leksikon kelima makanan tersebut dalam bahasa Jawa yang muncul dari tanggapan responden dan mencatat informasi yang berkaitan dengannya. Selanjutnya dilakukan analisis terhadap leksikon hasil inventarisasi tersebut. Dari hasil analisis data diketahui bahwa orang Jawa mengategorikan kelima penganan tersebut secara prototipikal, perseptual, konseptual, dan terdapat dua model kategorisasi, yaitu Model Kognitif Ideal (ICM) dan model metonimik.
Prinsip Kerja Sama pada Tindak Tutur dalam Persidangan di Pengadilan Rahmad Nuthihar; Mohd. Harun; NFN Ramli; R.N. Herman; NFN Mursyidin
SUAR BETANG Vol 17, No 1 (2022): June 2022
Publisher : Balai Bahasa Kalimantan Tengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/surbet.v17i1.271

Abstract

The objective of this study is to examine the cooperative principle contained in the trials at Banda Aceh District Court. The cooperative principle examined in this study consists of the maxim of quality, the maxim of quantity, the maxim of manner, and the maxim of relevance. Data for the study was drawn from nine court cases involving specific and general crimes. Data collection was carried out by recording the trials with a voice recorder. Triangulation of data was carried out by linking the cooperative principle contained in the trial with the cooperative principle theory and comparing them with the findings of other researchers. The writer concluded that the maxims of quality and quantity contained in the trial are confirmation questions. This is because the judge already knows the answer because it is in the minutes. The defendant's answers were informative and did not exceed the judge's expectations. At the same time, the application of the maxim of the manner in the trial can occur because the information provided regarding the judge's questions is answered by the speech partner clearly and regularly. This is equivalent to the maxim of relevance which requires the exchange of information to be in accordance with the topic expected by the questionnaire.AbstrakPenelitian ini bertujuan mengkaji prinsip kerja sama yang terdapat dalam persidangan di Pengadilan Negeri Banda Aceh. Prinsip kerja sama yang diteliti dalam penelitian ini terdiri atas maksim kualitas, maksim kuantitas, maksim cara, dan maksim relevansi. Data penelitian berupa sembilan perkara persidangan yang meliputi pidana khusus dan pidana umum yang disidangkan. Pengumpulan data dilakukan dengan merekam persidangan dengan alat bantu perekam suara. Triangulasi data dilakukan dengan cara mengaitkan prinsip kerja sama yang terdapat dalam persidangan dengan teori prinsip kerja sama dan membandingkan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti lainnya. Penulis menyimpulkan bahwa maksim kualitas dan kuantitas yang terdapat dalam persidangan merupakan pertanyaan konfirmasi sebab hakim sudah mengetahui jawaban tersebut karena terdapat dalam berita acara. Jawaban yang diberikan oleh terdakwa bersifat informatif dan tidak melebihi ekspektasi hakim. Penerapan maksim cara dalam persidangan terjadi karena informasi yang diberikan dijawab oleh mitra tutur secara jelas dan teratur. Hal itu sejajar dengan maksim relevansi yang mengharuskan pertukaran informasi haruslah sesuai dengan topik yang diharapkan oleh penanya.