cover
Contact Name
Basori
Contact Email
tjakbasori@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
suarbetangbbkalteng@gmail.com
Editorial Address
http://suarbetang.kemdikbud.go.id/jurnal/index.php/BETANG
Location
Kota palangkaraya,
Kalimantan tengah
INDONESIA
Suar Betang
ISSN : 19075650     EISSN : 26864975     DOI : 10.26499/surbet.v14i1.91
Core Subject : Education,
SUAR BETANG is a journal that publishes articles in the study of literature, linguistics, and language teaching. This journal will be consumed by litterateur, linguists, researchers, university lecturers in language teaching, students in linguistics, language teachers, journalists, and other professionals. All articles in SUAR BETANG have passed reviewing process by peer reviewers and edited by editors. SUAR BETANG is published by Balai Bahasa Kalimantan Tengah twice a year, in June and December.
Arjuna Subject : -
Articles 249 Documents
Konstruksi Pemikiran-Pemikiran Anies Baswedan dalam Menangani Pandemi Covid-19 Anggik Budi Prasetiyo; NFN Sukarno
SUAR BETANG Vol 17, No 1 (2022): June 2022
Publisher : Balai Bahasa Kalimantan Tengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/surbet.v17i1.320

Abstract

Everyone can have different thoughts in solving a problem, including Anies Baswedan (AB) when dealing with the Covid-19 pandemic, especially in DKI Jakarta. This study aims to reveal AB's thoughts on dealing with pandemics constructed by several online media. The research data are in the form of words, phrases, and sentence fragments which are indicated to contain AB's thoughts as the Governor of DKI Jakarta. The datawere collected from news about the handling of Covid-19 in several online media published in July–September 2021. The collected data were analyzed using a critical discourse analysis approach of the Fairclough model to reveal the language features used by the media in constructing AB thinking. The results of this study indicate that (1) AB has thoughts that tend to prioritize issues of safety and welfare for the citizens of DKI Jakarta; (2) these thoughts can be interpreted as a reflection that AB is the right person and is skilled in handling the Covid-19 pandemic in DKI Jakarta; (3) apart from that, AB's thoughts constructed by the media can also be interpreted as AB's attempt to build the impression of a 'pro-people governor'.AbstrakSetiap orang dapat memiliki pemikiran yang berbeda dalam menyelesaikan suatu masalah, termasuk Anies Baswedan (AB) ketika menangani pandemi Covid-19 di DKI Jakarta. Penelitian ini bertujuan mengungkap pemikiran-pemikiran AB dalam menangani pandemi yang dikonstruksi oleh beberapa media daring nasional. Data penelitian berupa kata, frasa, dan penggalan kalimat yang diindikasikan mengandung pemikiran AB selaku Gubernur DKI Jakarta dalam menangani pandemi. Data tersebut dikumpulkan dari delapan wacana berita tentang penanganan Covid-19 di beberapa media daring yang terbit pada bulan Juli—September 2021. Data yang terkumpul dianalisis menggunakan pendekatan analisis wacana kritis model Fairclough guna menyingkap fitur-fitur bahasa yang digunakan oleh media dalam mengonstruksi pemikiran AB. Analisis menunjukkan bahwa (1) AB dikonstruksi memiliki pemikiran yang cenderung mengedepankan masalah keselamatan dan kesejahteraan bagi warga DKI Jakarta; (2) konstruksi pemikiran-pemikiran tersebut dapat ditafsirkan sebagai cerminan bahwa AB digambarkan sebagai seseorang yang tepat dan piawai dalam menangani pandemi Covid-19 di DKI Jakarta; dan (3) pemikiran AB yang dikonstruksi oleh media juga dapat ditafsirkan sebagai upaya AB untuk membangun kesan “gubernur yang berpihak kepada rakyat”.
Penggunaan Deiksis dalam Kisah Negeri Lain Karya Kahlil Gibran Dedi Febriyanto; Mulyanto Widodo; Eka Putri Rahayu
SUAR BETANG Vol 17, No 1 (2022): June 2022
Publisher : Balai Bahasa Kalimantan Tengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/surbet.v17i1.313

Abstract

This study aims to describe the form and function of deixis in Kisah Negeri Lain by Kahlil Gibran. The method used is descriptive qualitative. The study data was collected through a reading-note technique. The data analysis was carried out using an interactive model which included, (1) data reduction (2) data presentation (3) temporary conclusion drawing, and (4)verification. The results showed that in Kisah Negeri Lain by Kahlil Gibran, various forms and functions of deixis were found. The forms of deixis in question include, (1) personal deixis consisting of the first person, second person, and third person, (2) place deixis, (3) time deixis consisting of past, present, and future times, (4) deixis discourse consisting of anaphora and cataphora, (4) social deixis. The deixis functions in question include, (1) expressive functions, (2) conative functions, (3) referential functions, and (4) phatic functions.AbstrakKajian ini bertujuan mendeskripsikan bentuk dan fungsi deiksis dalam Kisah Negeri Lain karya Kahlil Gibran. Metode yang digunakan bersifat deskriptif kualitatif. Data kajian dikumpulkan melalui teknik baca-catat. Adapun analisis data dilakukan dengan menggunakan model interaktif yang meliputi, (1) pereduksian data (2) penyajian data (3) penarikan simpulan sementara, dan (4) verifikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam Kisah Negeri Lain karya Kahlil Gibran ditemukan bentuk dan fungsi deiksis yang beragam. Bentuk deiksis yang dimaksud meliputi, (1) deiksis persona yang terdiri dari persona pertama, persona kedua, dan persona ketiga, (2) deiksis tempat, (3) deiksis waktu yang terdiri dari waktu lampau, sekarang, dan mendatang, (4) deiksis wacana yang terdiri dari anafora dan katafora, (4) deiksis sosial. Adapun fungsi deiksis yang dimaksud meliputi, (1) fungsi ekspresif, (2) fungsi konatif, (3) fungsi referensial, dan (4) fungsi fatis.
A Madurese Woman and Early-Matchmaking Tradition: Domination, Resistance, and Commodification in a Short Story “Sortana” by Muna Masyari Erika Citra Sari Hartanto
SUAR BETANG Vol 17, No 1 (2022): June 2022
Publisher : Balai Bahasa Kalimantan Tengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/surbet.v17i1.337

Abstract

Madura is one of amongst patriarchal societies which hold its tradition of arranged marriage in recent days. This study aimed to analyze the main character's representation as a Madurese woman whose life has been determined by her father and patriarchal society in Muna Masyari’s short story entitled “Sortana”. This study used a qualitative design, and data collection used close-reading. Feminist literary criticism, which is supported by Marxism theory, particularly commodification theory, was applied to reveal and analyze the position and values of a Madurese woman in the story. The results of this study showed that Muna Masyari portrays a Madurese woman who has to experience gender injustice related to an arranged marriage. The short story “Sortana” uncovers resistance by the main character toward men’s domination. In addition, the short story also reveals the act of commodification behind arranged marriage. AbstrakPenelitian ini bertujuan menganalisis representasi tokoh utama, seorang perempuan Madura yang hidupnya telah ditentukan oleh ayahnya dan masyarakat patriarki, dalam cerpen “Sortana” oleh Muna Masyari. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Data dikumpulkan setelah melakukan pembacaan cermat. Kritik sastra feminis yang didukung oleh teori Marxisme, khususnya teori komodifikasi, diterapkan untuk mengungkap dan menganalisis posisi serta nilai-nilai perempuan Madura dalam cerita tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Muna Masyari menggambarkan seorang perempuan Madura yang harus mengalami ketidakadilan gender karena pernikahan dini. Cerpen “Sortana” mengungkapkan tindakan resistansi yang dilakukan oleh tokoh utama terhadap dominasi laki-laki. Selain itu, cerpen tersebut juga menguak adanya tindakan komodifikasi di balik perjodohan dini.   
Kuasa Patriarki dalam Kumpulan Cerita Pendek Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi Karya Eka Kurniawan Hubbi Saufan Hilmi; NFN Sasmayunita; Asriani Thahir; Rizmada Azzahra
SUAR BETANG Vol 17, No 1 (2022): June 2022
Publisher : Balai Bahasa Kalimantan Tengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/surbet.v17i1.312

Abstract

This study aims to describe and explain the power of patriarchy, as well as the resistance of women in the collection of short stories Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi by Eka Kurniawan. The research method used in this research is descriptive qualitative with feminist literary criticism as the approach used to obtain the desired data. The data source is a collection of short stories Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi by Eka Kurniawan. The data are in the form of a number of quotations that reflect the problems in the research. The results of the study indicate that there are nine short stories in the collection that displays patriarchal power and women's resistance. The patriarchal power displayed is in the form of patriarchal power in the domestic and public spheres which are manifested in the form of gender injustice in the form of subordination, marginalization, stereotypes, and violence against women. As for the resistance to patriarchal power, there are only four short stories in the collection. The resistance to patriarchal power is displayed by the female characters in those short stories.AbstrakPenelitian ini bertujuan mendeskripsikan dan menjelaskan kuasa patriarki serta perlawanan perempuan yang ada dalam kumpulan cerpen Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi karya Eka Kurniawan. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini ialah metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan kritik sastra feminisme. Sumber data penelitian ini ialah kumpulan cerpen Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi karya Eka Kurniawan. Data dalam penelitian ini berupa sejumlah kutipan dalam kumpulan cerpen yang mencerminkan permasalahan penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat sembilan cerpen yang menampilkan kuasa patriarki dan perlawanan perempuan. Kuasa patriarki yang ditampilkan berupa kuasa patriarki dalam ranah domestik dan publik yang terejawantahkan dalam bentuk ketidakadilan gender yang berupa subordinasi, marginalisasi, stereotip, dan kekerasan terhadap perempuan. Adapun perlawanan terhadap kuasa patriarki hanya terdapat dalam empat cerpen. Perlawanan terhadap kuasa patriarki ditampilkan oleh para tokoh perempuan yang ada dalam keempat cerpen tersebut.
Representasi Tekstual terhadap Pemberitaan Festival Hak Asasi Manusia 2021 di Media Elektronik NFN Rahmawati; Nada Fadhilah; Tiara Vidya Amalia; Khaerudin Kurniawan
SUAR BETANG Vol 17, No 1 (2022): June 2022
Publisher : Balai Bahasa Kalimantan Tengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/surbet.v17i1.345

Abstract

This study aims to describe the differences in human rights news reporting in the iNews Pagi, Kabar Utama tvOne, and Tribunnews Update programs. This study used a qualitative descriptive method with the help of Norman Fairclough's theory of critical discourse analysis, especially the analysis of textual representation. The data were in the form of the transcription of the news "Moeldoko Diusir Massa" in Kabar Utama tvOne,  "Moeldoko Diusir Aktivis HAM" in iNews Pagi, and “Detik-Detik Moeldoko Kena Skakmat Diusir” in Tribunnews Update at the period of 18-19 November 2021. The data were collected by listening and note-taking techniques. Based on the results of the analysis, Kabar Utama tvOne and Tribunnews Update programs used the words diusir, penolakan and ditolak . The grammar used showed the situation. Besides, the intra-sentence conjunctions used yang and dan as explanations and additions in sentences, and namun as a conjunction between sentences. Meanwhile, in iNews Pagi reporting, the dominant clause used active transitive sentences with menolak and mengusir. Then, the coherence between one clause and another had a foreground relationship that supports each other. The similarity of the data was the series of clauses and clause combinations, while the difference was in the clauses.AbstrakPenelitian ini bertujuan mendeskripsikan perbedaan pemberitaan Festival Hak Asasi Manusia tahun 2021 dalam program iNews Pagi, Kabar Utama tvOne, dan Tribunnews Update. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teori analisis wacana kritis Fairclough. Data penelitian ini berupa transkripsi pemberitaan “Moeldoko Diusir Massa” di Kabar Utama tvOne, “Moeldoko Diusir Aktivis HAM” di iNews Pagi, dan “Detik-Detik Moeldoko Kena Skakmat Diusir” di Tribunnews Update periode 18—19 November 2021 yang dikumpulkan dengan teknik simak dan catat. Berdasarkan hasil analisis, Kabar Utama tvOne dan Tribunnews Update menggunakan kata diusir dan penolakan atau ditolak, tajuk berita menunjukkan keadaan, dan penggunaan kata hubung yang dan dan sebagai penjelas dan penambahan dalam kalimat, serta adanya penggunaan kata hubung antarkalimat namun. Dalam pemberitaan iNews Pagi, anak kalimat dominan menggunakan kalimat aktif transitif dengan kata menolak dan mengusir dan antaranak kalimat memiliki hubungan latar depan yang saling mendukung. Persamaan data terletak pada rangkaian anak kalimat dan kombinasi anak kalimat, sedangkan perbedaannya terletak pada anak kalimat.
Hegemoni dalam Naskah Drama 5 Babak Atas Nama Cinta Karya Agus R. Sarjono: Perspektif Antonio Gramsci Agik Nur Efendi; Septia Rizqi Nur Abni; Erika Kurniawati
SUAR BETANG Vol 17, No 1 (2022): June 2022
Publisher : Balai Bahasa Kalimantan Tengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/surbet.v17i1.317

Abstract

This research discusses the issue of state issues in the drama script Atas Nama Cinta by Agus R. Sarjono. The phenomenon of sarcasm or criticism of the social problems that occurred in Indonesia has implied output written in the drama script is relevant to be studied using the sociology of literature. The concept of Antonio Gramsci's Hegemony includes culture, hegemony, common sense, intellectuals, and state in accordance with the drama Atas Nama Cinta. This research uses a qualitative approach. The results of this study indicate that the state is the final form and container of the emergence of conflict. But from the conflicts, the demonstrations, the problem is full of a form of content from the state. The drama script that is said to be "comedy" is reflected in the problems. So that the drama script can be read by the young as a form of learning and information.AbstrakPenelitian ini membahas isu permasalahan negara pada naskah drama Atas Nama Cinta karya Agus R. Sarjono. Fenomena sindiran atau kritik terhadap permasalahan-permasalahan sosial yang terjadi di Indonesia yang tersirat atau tersurat dalam naskah drama tersebut relevan untuk dikaji menggunakan pendekatan sosiologi sastra Antonio Gramsci (yang meliputi kebudayaan, hegemoni, pengetahuan umum (common sense), kaum intelektual, dan negara). Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis analisis isi. Pengumpulan data dilakukan dengan membaca naskah drama secara berulang kali, menandai bagian dalam naskah drama sesuai dengan teori Antonio Gramsci, dan mencatatnya. Analisis data melalui pengidentifikasian, pengklasifikasian, dan interpretasi data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa negara merupakan bentuk akhir dan wadah dari munculnya konflik. Namun, konflik-konflik demonstrasi sarat akan bentuk isi dari negara. Naskah drama yang dikatakan “komedi” tecermin dari permasalahan-permasalahan tersebut sehingga naskah drama itu dapat dibaca oleh kalangan muda.
Tindak Tutur Kebencian dalam Status Whatsapp Yunita Suryani; Rika Istianingrum; Idhoofiyatul Fatin
SUAR BETANG Vol 17, No 1 (2022): June 2022
Publisher : Balai Bahasa Kalimantan Tengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/surbet.v17i1.330

Abstract

Hate speech acts on social media often become criminal law complaints offenses with the aim of obtaining justice. This study uses a qualitative descriptive method that aims to describe hate speech acts on Whatsapp status. The research data comes from the screenshot of the Whatsapp status obtained by the researcher from BAP (News of the Judiciary), the researcher as a linguist witness. The data presented in the BAP according to the chronology or context of the event were analyzed using Searle's speech acts. Based on the analysis, the writer found several kinds of hate speech acts, namely (1) insulting expressive and warning directives; (2) derogatory expressive and directive (giving warning); (3) expressive accusing and assertive (giving statements); (4) assertive accusing, assertive inciting, expressive insulting, and threatening commissive; (5) commissive, challenging, and expressive insulting; (6) expressive contempt and assertive accusing; (7) derogatory expressiveness; (8) assertive accusing, expressive insulting; (9) commissive threats; (10) expressive insulting, assertive admitting, and assertive accusing.AbstrakTindak tutur kebencian dalam media sosial sering menjadi delik aduan hukum pidana dengan tujuan memperoleh keadilan. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dan bertujuan mendeskripsikan tindak tutur kebencian dalam status Whatsapp. Data penelitian berasal dari tangkapan layar status Whatsapp yang diperoleh peneliti dari BAP (Berita Acara Peradilan) peneliti sebagai ahli bahasa. Data yang disajikan dalam BAP sesuai dengan kronologi atau konteks peristiwa dan dianalisis menggunakan teori tindak tutur Searle (1975). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada beberapa tindak tutur kebencian, yaitu (1) ekspresif menghina dan direktif memberi peringatan; (2) ekspresif menghina dan direktif (memberi peringatan); (3) ekspresif menuduh dan asertif (memberikan pernyataan); (4) asertif menuduh, asertif menghasut, ekspresif menghina, dan komisif mengancam; (5) komisif, menantang, dan ekspresif menghina; (6) ekspresif menghina dan asertif menuduh; (7) ekspresif menghina; (8) asertif menuduh, ekspresif menghina; (9) komisif mengancam; (10) ekspresif menghina, asertif mengakui, dan asertif menuduh. 
Metadiscourse Markers in CNN Health News Articles Nurul Aini; Rosyida Ekawati
SUAR BETANG Vol 17, No 1 (2022): June 2022
Publisher : Balai Bahasa Kalimantan Tengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/surbet.v17i1.329

Abstract

This study aims to identify the types and functions of metadiscourse markers used in CNN health news articles. This study is conducted by applying a qualitative method. The sources of data are fifteen CNN health news articles, while the data are the sentences about Coronavirus Disease-2019 that have metadiscourse markers categories. The result of the study shows that there are 2 types and 11 functions in CNN health news articles. The types of metadiscourse markers are interactive and interactional metadiscourse. Kinds of interactive metadiscourse found in CNN health news articles are transition, frame marker, evidential, and code gloss. Meanwhile, kinds of interactional metadiscourse found in CNN health news articles are hedges, boosters, attitude markers, and engagement markers. However, endophoric marker and self-mention are not found in the articles. The functions identified are adding an idea to the article, comparing and contrasting statements in the article, drawing a conclusion or countering ideas in the writer’s statement, establishing a clear dialog for readers, explicitly mentioning sources of information, exemplifying something in the discourse, elaborating of what the writer has been written, show that the statement of the writer is more of a reasonable opinion than a fact, emphasizing or clarifying a statement, show the writer's or speaker's attitude towards the proposition, and explicitly addresses readers to focus their attention or include them into the discourse.AbstrakPenelitian ini bertujuan mengidentifikasi jenis dan fungsi pemarkah metawacana dalam artikel berita kesehatan CNN. Penelitian ini dilakukan dengan metode kualitatif. Sumber datanya adalah lima belas artikel berita kesehatan CNN. Data berupa kalimat tentang Coronavirus Disease-2019 yang memiliki pemarkah metawacana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada 2 jenis dan 11 fungsi pemarkah metawacana dalam artikel berita kesehatan CNN. Dua jenis pemarkah itu ialah metawacana interaktif dan interaksional. Jenis metawacana interaktif yang ditemukan dalam artikel berita kesehatan CNN adalah transition, frame marker, evidential, dan code gloss. Jenis metawacana interaksional yang ditemukan adalah hedges, booster, attitude marker, dan engagement marker. Endophoric marker dan self-mention tidak ditemukan dalam artikel. Sementara itu, sebelas fungsi yang teridentifikasi adalah menambahkan ide pada artikel, membandingkan dan mengontraskan pernyataan dalam artikel, menarik simpulan atau melawan ide dalam pernyataan penulis, membangun dialog yang jelas bagi pembaca, menyebutkan sumber informasi secara eksplisit, mencontohkan sesuatu dalam wacana, menguraikan apa yang telah ditulis, menunjukkan bahwa pernyataan penulis lebih merupakan pendapat yang masuk akal daripada fakta, menekankan atau memperjelas pernyataan, menunjukkan sikap penulis atau pembicara terhadap proposisi, dan secara eksplisit ditujukan kepada pembaca untuk memusatkan perhatian mereka atau memasukkan mereka ke dalam wacana.   
Valency-Increasing Mechanism in the Dawan Language Naniana N. Benu; Risman Iye; I Wayan Simpen; Fithriyah Inda Nur Abida
SUAR BETANG Vol 17, No 2 (2022): December 2022
Publisher : Balai Bahasa Kalimantan Tengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/surbet.v17i2.348

Abstract

This article discusses the valency-increasing mechanism in the Dawan language. The data was obtained through observation of Dawan language speakers by applying the note-taking method. Other data were obtained from literature in Dawan's language, namely Beno Alekot (bible) and Si Knino (songbook). In addition, the data is supported by intuitive data from the researcher as a native speaker of the Dawan language. Considering the variety of dialects in this language, the data and discussion are focused on the Amanuban dialect. The results show that the mechanism of valency-increasing in the Dawan language is a transitive process. This process is carried out through the strategy of adding new arguments such as in causative construction or promoting peripheral arguments into core arguments as in applicative construction. The transitive referred to is the process of making an intransitive clause into a transitive or a transitive into a ditransitive. This process does not cause morphological changes to the verb as the core of a clause.AbstrakArtikel ini membahas mekanisme peningkatan valensi dalam bahasa Dawan. Data diperoleh melalui observasi terhadap penutur bahasa Dawan dengan menerapkan metode simak dan catat. Data lain diperoleh dari literatur berbahasa Dawan, yaitu Beno Alekot (Alkitab) dan Si Knino (buku nyanyian). Selain itu, data tersebut didukung oleh data intuitif dari peneliti sebagai penutur asli bahasa Dawan. Mengingat keragaman dialek bahasa ini, data dan pembahasan difokuskan pada dialek Amanuban. Hasil analisis data menunjukkan bahwa mekanisme peningkatan valensi dalam bahasa Dawan merupakan proses transitif. Proses itu dilakukan melalui strategi penambahan argumen baru seperti pada konstruksi kausatif atau menempatkan argumen periferal ke dalam argumen inti seperti pada konstruksi aplikatif. Transitif yang dimaksud adalah proses menjadikan klausa intransitif menjadi transitif atau transitif menjadi ditransitif. Proses itu tidak menyebabkan perubahan morfologis pada verba sebagai inti dari sebuah klausa. 
The Contrastive Analysis of Kinship Terminology in Cina Benteng and Hakka (Khek) Inggrit Laurenza; Sonya Ayu Kumala
SUAR BETANG Vol 17, No 2 (2022): December 2022
Publisher : Balai Bahasa Kalimantan Tengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/surbet.v17i2.442

Abstract

Kinship terminology is a way of addressing someone who is bound to themselves because of blood, descent, and marriage. Kinship terminology is culturally bounded. Kinship systems are widely discussed in different areas of humanity studies, such as linguistics studies. Terminologies in the kinship system of both Cina Benteng and Khek will be used as the linguistic evidence of this research. Since it is an ethnolinguistics study, this research attempts to analyze the kinship terminology of two similar ethnic communities, Cina Benteng and Hakka (Khek) in Tangerang through the ethnolinguistic point of view. It aims to provide the kinship terminology in Cina Benteng and Khek and also to contrast the similarities and differences between the term of address and term of reference in the chosen communities. This research will utilize the kinship theory from Nanda, Burling, and Lounsbury. The data of this research are being collected by doing interviews, recording the interview, taking notes, dan observe the site. This research revealed that even though Cina Benteng and Khek communities belonged to the same root, they have some contrast in their referring and addressing system of kinship. AbstrakIstilah kekerabatan adalah kosakata yang digunakan untuk menyebut seseorang yang terikat dengan diri/penutur karena hubungan darah, keturunan, dan perkawinan. Istilah kekerabatan dalam sebuah bahasa terikat oleh budaya. Sistem kekerabatan dibahas secara luas dalam berbagai studi humaniora, termasuk linguistik. Istilah kekerabatan dalam sistem kekerabatan Cina Benteng dan Khek akan digunakan sebagai data atau bukti linguistik penelitian ini. Penelitian ini mencoba menganalisis terminologi kekerabatan dua komunitas etnis Tionghoa, yaitu Cina Benteng dan Hakka (Khek), di Tangerang dari sudut pandang etnolinguistik. Tujuan penelitian ini ialah mendeskripsikan istilah kekerabatan di Cina Benteng dan Khek serta untuk membandingkan persamaan dan perbedaan dari istilah kekerabatan dan sapaan di komunitas itu. Penelitian ini menggunakan teori kekerabatan dari Nanda, Burling, dan Lonsburry. Data penelitian ini dikumpulkan dengan melakukan wawancara, perekaman, pencatatan, dan pengamatan di lokasi. Hasil analisis menunjukkan bahwa meskipun berasal dari akar yang sama, komunitas Cina Benteng dan Khek memiliki beberapa perbedaan dalam sistem kekerabatan baik, dalam fungsi merujuk maupun memanggil.