cover
Contact Name
Mieke
Contact Email
mieke@esaunggul.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
inohim.ueu@esaunggul.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Indonesian of Health Information Management Journal (INOHIM)
Published by Universitas Esa Unggul
ISSN : 23548932     EISSN : 26559129     DOI : -
Core Subject : Health,
Indonesian of Health Information Management Journal (INOHIM) is a scientific publication devoted to disseminate all information contributing to the understanding and development of Health Information management, Health Informatics and Health Information Management System.
Arjuna Subject : -
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 13, No 2 (2025): INOHIM" : 6 Documents clear
Analisis Faktor-Faktor yang Memengaruhi Kepuasan Pasien Disabilitas Fisik di Unit Fisioterapi RSI Jakarta Pondok Kopi Putri, Linda Wahyuni; Purnamawati, Dewi; Permatasari, Tria Astika Endah; Ernyasih, Ernyasih; Sepriyanti, Yuke
Indonesian of Health Information Management Journal (INOHIM) Vol 13, No 2 (2025): INOHIM
Publisher : Lembaga Penerbitan Universitas Esa Unggul

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47007/inohim.v13i2.667

Abstract

Abstract Patient satisfaction is one indicator of a hospital's success in providing optimal services. As many as 33% of patients with physical disabilities stated that they were not satisfied with the comfort in the waiting room of the physiotherapy unit and as many as 20% admitted that the physiotherapist was not responsive to patient questions. This study was conducted to analyze the factors that affect the satisfaction of patients with physical disabilities in the physiotherapy of RSI Jakarta Pondok Kopi. This study used a cross-sectional approach and purposive sampling technique with a total sample of 120 patients with physical disabilities who received health services at the physiotherapy unit of RSI Jakarta Pondok Kopi. Self-reported questionnaires are used to collect demographic characteristic data. The patient perception questionnaire on physiotherapist skills was developed referring to the Physiotherapist Competency Standard. Patient satisfaction was measured using the Bahasa Indonesia version of the questionnaire from Measuring Patient Satisfaction with Physical Therapy Care (MRPS/MedRisk). The majority of patients with physical disabilities are ≥ 65 years old (50.83%), female (63.3%), high school education background (49.17%), unemployed (80.8%), have insurance (97.5), and have low income (75%). There is no relationship between age, gender, education, occupation, income, and insurance to the satisfaction of patients with physical disabilities. There was a relationship between patients' perception of physiotherapist skills (p = 0.011; OR: 5,045; 95%CI : 1,450-17,561) with satisfaction of patients with physical disabilities after being controlled by education and income. The factor that affects the satisfaction of patients with physical disabilities is the patient's perception of the physiotherapist's skills after being controlled by education and income. Keyword: satisfaction factors, patient satisfaction, physical disability, physiotherapy Abstrak Kepuasan pasien merupakan salah satu indikator kesuksesan rumah sakit dalam memberikan layanan yang optimal. Sebanyak 33% pasien disabilitas fisik menyatakan kurang puas terhadap kenyamanan di ruang tunggu unit fisioterapi serta sebanyak 20% mengaku terapis tidak responsif terhadap pertanyaan pasien. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang memengaruhi kepuasan pasien disabilitas fisik di unit fisioterapi RSI Jakarta Pondok Kopi. Penelitian ini menggunakan pendekatan cross-sectional, teknik sampling yang digunakan yaitu purposive sampling dengan total sampel 120 pasien disabilitas fisik yang memperoleh layanan kesehatan di unit fisioterapi RSI Jakarta Pondok Kopi. Kuesioner yang dilaporkan sendiri digunakan untuk mengumpulkan data karakteristik demografi. Kuesioner persepsi pasien terhadap keterampilan fisioterapis dikembangkan sendiri dengan merujuk pada Standar Kompetensi Fisioterapis. Kepuasan pasien diukur menggunakan kuesioner versi Bahasa Indonesia dari Measuring Patient Satisfaction with Physical Therapy Care (MRPS/MedRisk). Mayoritas pasien disabilitas fisik berusia ≥ 65 tahun (50,8%), berjenis kelamin perempuan (63,3%), latar belakang pendidikan SLTA (49,2%), tidak bekerja (80,8%), memiliki asuransi (97,5), dan memiliki pendapatan yang rendah (75,0%). Tidak ada hubungan antara usia, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, pendapatan, dan asuransi terhadap kepuasan pasien disabilitas fisik. Ada hubungan antara persepsi pasien terhadap keterampilan fisioterapis (p = 0,01; OR: 5,05; 95%CI : 1,45-17,56) dengan kepuasan pasien disabilitas fisik setelah dikontrol oleh pendidikan dan pendapatan. Faktor yang memengaruhi kepuasan pasien disabilitas fisik adalah persepsi pasien terhadap keterampilan fisioterapis setelah dikontrol oleh pendidikan dan pendapatan. Kata Kunci: faktor-faktor kepuasan, kepuasan pasien, disabilitas fisik, fisioterapi
Defisit dan Surplus Dampak Sistem INA CBG’S : Studi Kasus Pembiayaan Pasien Jiwa Harjanti, Harjanti; Kelmaskosu, Anna Yolanda
Indonesian of Health Information Management Journal (INOHIM) Vol 13, No 2 (2025): INOHIM
Publisher : Lembaga Penerbitan Universitas Esa Unggul

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47007/inohim.v13i2.706

Abstract

Abstract The Indonesian Case-Base Groups (INA-CBG’s) serve as the primary instrument for determining reimbursement rates for National Health Insurance (JKN) patients based on clinical diagnoses and procedures. Initial findings at RSJD dr. Arif Zainudin in December 2022 indicated that hospital charges surpassed the INA- CBG’s benchmarks, leading to a deficit of IDR 3,685,862.00. This study evaluates the fiscal implications—specifically surpluses and deficits—of INA- CBG’s tariff implementation on psychiatric care financing at RSJD dr. Arif Zainudin Surakarta. Adopting a qualitative descriptive approach, data were gathered through in-depth interviews and direct observation. Analysis of the 2023 claim data revealed a significant positive variance of IDR 175,474,339.00. This surplus offers the hospital an opportunity for cross-subsidization and service quality enhancement. However, the unique clinical profile of psychiatric patients often leads to discrepancies between standardized rates and actual expenditures, especially in long-stay cases. To mitigate financial risks, the hospital has integrated Clinical Pathways, service standardization, and rigorous cost monitoring. The study concludes that the fluctuating financial outcomes of INA-CBG’s implementation necessitate strategic cost-control mechanisms aligned with psychiatric care policies to ensure institutional sustainability. Keywords: INA CBG’s, financing system, mental illness, national health insurance Abstrak Indonesia Case Base Groups (INA CBG’s) merupakan suatu instrumen yang dimanfaatkan dalam penentuan biaya perawatan pasien didasarkan pada diagnosis dan tindakan untuk pasien JKN. Hasil survei penelitian yang dilakukan di RSJD dr. Arif Zainudin dengan data klaim BPJS Desember 2022 diketahui tarif rumah sakit lebih besar dari tarif INA CBG’s sehingga terjadi defisit pada rumah sakit sebesar Rp 3.685.862,00. Tujuan untuk mengetahui surplus dan defisit dampak implementasi tarif INA CBG’s pada pembiayaan pasien jiwa di RSJD dr. Arif Zainudin Surakarta. Metode penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Pengumpulan data menggunakan 2 teknik yaitu in depth interview dan observasi. Hasil analisis data klaim tahun 2023 menunjukkan adanya selisih positif sebesar Rp 175.474.339,00,. Adanya selisih ini dapat dimanfaatkan oleh Rumah Sakit untuk subsidi silang dan peningkatan mutu pelayanan. Karakterisitik pasien jiwa yang berbeda menimbulkan potensi ketidaksesuaian tarif INA CBG’s dan tarif riil terkhusus untul kasus dengan lama dirawat yang panjang. Penerapan clinical pathway, standarisasi pelayanan kasus jiwa dan monitoring biaya merupakan upaya pengendalian biaya dalam implementasi INA CBG’s. Dapat disimpulkan bahwa defisit dan surplus implementasi tarif INA CBG’s menyebabkan rumah sakit mengalami keuntungan dan juga kerugian pada pasien jiwa, maka rumah sakit perlu adanya pengendalian biaya kesehatan sesuai kebijakan pelayanan pasien jiwa. Kata Kunci: INA CBG’s, sistem pembiayaan, pasien jiwa, jaminan kesehatan nasional
Analisis Financial Losses Akibat Under-reporting Kasus Tuberkulosis di Klinik Swasta Kota Denpasar: Pendekatan Economic Burden dari Perspektif Provider Putra, Gede Wirabuana; Farmani, Putu Eka; Aditya, Made Wahyu; Putri, Putu Chrisdayanti Suada
Indonesian of Health Information Management Journal (INOHIM) Vol 13, No 2 (2025): INOHIM
Publisher : Lembaga Penerbitan Universitas Esa Unggul

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47007/inohim.v13i2.741

Abstract

Abstract Tuberculosis under-reporting in private healthcare facilities creates substantial economic burden that has not been systematically quantified in Indonesia, despite private sector handling 47% of TB cases in Denpasar with discrepancy rate reaching 29.1% between Tuberculosis Information System (SITB) and BPJS Healthcare P-Care. This study aimed to analyze and quantify financial losses due to TB under-reporting in Denpasar private clinics using economic burden approach from provider perspective. Descriptive quantitative study with single case study design and mixed-method approach was conducted at Klinik Pratama Karya Prima during August-December 2025. Data collection included comprehensive economic surveys, in-depth interviews with 5 key informants, SITB data extraction (2022-2024), financial document audits, and 16-hour time-motion study observation. Bottom-up costing analysis was applied to calculate cost components including direct medical costs, direct non-medical costs, indirect costs, and hidden costs. The study revealed significant financial losses of Rp 1,419,500 per unreported TB suspected case, with total annual cost of Rp 1,510,000 while revenue only Rp 90,500 per case (16.7-fold gap). Main cost components included diagnostic examinations (52%), hidden costs (19.9%), and staff time allocation (18.2%). Projection for 147 private clinics in Denpasar reached Rp 17.42 billion annually with estimated 3,260 TB cases systematically unreported. The massive gap between capitation payment system and actual cost requirements demonstrates fundamental misalignment justifying urgent investment in integrated reporting systems and improved incentive mechanisms to optimize TB program economic efficiency in private sector. Abstrak Under-reporting tuberkulosis di fasilitas kesehatan swasta menimbulkan beban ekonomi substansial yang belum dikuantifikasi secara sistematis di Indonesia, padahal sektor swasta menangani 47% kasus TB di Kota Denpasar dengan discrepancy rate mencapai 29,1% antara Sistem Informasi Tuberkulosis (SITB) dan P-Care BPJS Kesehatan. Penelitian ini bertujuan menganalisis dan mengkuantifikasi kerugian finansial akibat under-reporting kasus TB di klinik swasta Kota Denpasar menggunakan pendekatan economic burden dari perspektif provider. Penelitian deskriptif kuantitatif dengan rancangan studi kasus tunggal dan pendekatan mixed-method dilaksanakan di Klinik Pratama Karya Prima periode Agustus-Desember 2025. Pengumpulan data meliputi survei ekonomi komprehensif, wawancara mendalam dengan 5 narasumber kunci, ekstraksi data SITB (2022-2024), audit dokumen keuangan, dan time-motion study selama 16 jam observasi. Analisis bottom-up costing diterapkan untuk menghitung komponen biaya meliputi direct medical costs, direct non-medical costs, indirect costs, dan hidden costs. Penelitian mengungkap kerugian finansial signifikan sebesar Rp 1.419.500 per kasus terduga TB yang tidak dilaporkan, dengan total biaya tahunan Rp 1.510.000 sementara pendapatan hanya Rp 90.500 per kasus (kesenjangan 16,7 kali lipat). Komponen biaya utama meliputi pemeriksaan diagnostik (52%), biaya tersembunyi (19,9%), dan alokasi waktu staf (18,2%). Proyeksi untuk 147 klinik swasta di Denpasar mencapai Rp 17,42 miliar per tahun dengan estimasi 3.260 kasus TB tidak dilaporkan secara sistematis. Kesenjangan massive antara sistem pembiayaan kapitasi dengan kebutuhan biaya aktual menunjukkan ketidaksesuaian mendasar yang membenarkan investasi mendesak dalam sistem pelaporan terintegrasi dan mekanisme insentif yang diperbaiki untuk mengoptimalkan efisiensi ekonomi program TB di sektor swasta.
Gambaran Kesiapan Puskesmas Cipatujah dalam Menerapkan Rekam Medis Elektronik dengan Instrumen CAFP Tahun 2024 Nurholisoh, Iis; Fadly, Fery; Junaedi, Fadil Ahmad; Suryani, Dewi Lena
Indonesian of Health Information Management Journal (INOHIM) Vol 13, No 2 (2025): INOHIM
Publisher : Lembaga Penerbitan Universitas Esa Unggul

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47007/inohim.v13i2.606

Abstract

Abstract The Electronic Medical Record (EMR) requires organizational readiness prior to implementation, one of which can be assessed using the California Academy of Family Physicians (CAFP) instrument. This study aims to describe the readiness level of Cipatujah Public Health Center in implementing EMR in accordance with Regulation of the Minister of Health of the Republic of Indonesia Number 24 of 2022. A quantitative descriptive design was employed with a total sampling technique involving 50 health center staff. Readiness was assessed across five domains (management capacity, financial and budget capacity, operational capacity, technological capacity, and organizational alignment) based on the average scores of the CAFP instrument. The results show that management capacity obtained a score of 13.52 (range II), indicating moderate readiness but highlighting the need to strengthen human resources in medical records and IT. Financial and budget capacity (13.86), operational capacity (14.26), technological capacity (28.34), and organizational alignment (29.2) were in range I, reflecting strong readiness supported by adequate budgeting, infrastructure, workflows, and the commitment of leadership and staff. Overall, Cipatujah Public Health Center is categorized as highly ready for EMR implementation, although improvements in management aspects and the addition of supporting personnel remain necessary. Keyword: Preparedness, Electronic Medical Records, CAFP, Puskesmas Abstrak Rekam Medis Elektronik (RME) menuntut kesiapan organisasi sebelum diimplementasikan, salah satunya dapat diukur menggunakan instrumen California Academy of Family Physicians (CAFP). Penelitian ini bertujuan menggambarkan tingkat kesiapan Puskesmas Cipatujah dalam penerapan RME sesuai mandat Permenkes RI Nomor 24 Tahun 2022. Penelitian menggunakan desain kuantitatif deskriptif dengan teknik total sampling terhadap 50 petugas Puskesmas. Penilaian dilakukan pada lima domain kesiapan (kapasitas manajemen, keuangan dan anggaran, operasional, teknologi, dan keselarasan organisasi) berdasarkan skor rata‑rata instrumen CAFP. Hasil menunjukkan kapasitas manajemen memperoleh skor 13,52 (range II) yang menandakan kesiapan cukup namun masih memerlukan penguatan SDM rekam medis dan IT. Kapasitas keuangan dan anggaran (13,86), operasional (14,26), teknologi (28,34), dan keselarasan organisasi (29,2) berada pada range I yang mencerminkan kesiapan kuat dengan dukungan anggaran, infrastruktur, alur kerja, serta komitmen pimpinan dan staf. Secara keseluruhan, Puskesmas Cipatujah dikategorikan sangat siap untuk penerapan RME, meskipun peningkatan pada aspek manajemen dan penambahan tenaga pendukung tetap diperlukan. Kata Kunci: Kesiapan, Rekam Medis Elektronik, CAFP, Puskesmas
Determinasi Faktor Individu terhadap Kelengkapan Pengisian Rekam Medis oleh Tenaga Kesehatan Syahputri, Rezyana Budi; Haryanti, Rheni; Andriani, Nurul Dwi; Hariyadi, Agustin Mahardika; Latifah, Dwi Nur
Indonesian of Health Information Management Journal (INOHIM) Vol 13, No 2 (2025): INOHIM
Publisher : Lembaga Penerbitan Universitas Esa Unggul

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47007/inohim.v13i2.744

Abstract

Abstract Completeness of medical record documentation was an essential component of healthcare quality that supported patient safety, continuity of care, and hospital legal accountability. Individual factors such as knowledge, attitude, and work experience were assumed to influence healthcare workers’ compliance with medical documentation standards. This study aimed to analyze the effect of individual factors on the completeness of medical record documentation among healthcare workers at Hospital X. A cross-sectional design was applied, involving 82 healthcare workers selected through stratified random sampling. Data were collected using a structured questionnaire and observation sheet that had been tested for validity and reliability. Data were analyzed using Chi-square and multiple logistic regression with a significance level of 0.05. The results showed that most respondents had high knowledge (85.4%) and positive attitudes (75.6%). Bivariate analysis revealed significant relationships between knowledge and attitude with the completeness of medical record documentation (p=0.000). Multivariate analysis revealed that only knowledge had a significant effect on medical record completeness (OR=0.068; p=0.001), while attitude was not statistically significant. This study concludes that knowledge is the main determinant of complete medical record documentation. Strengthening knowledge through continuous training, medical record audits, and structured feedback is necessary to improve the quality of medical documentation in healthcare facilities. Keyword: medical record, knowledge, attitude, healthcare workers, documentation completeness Abstrak Kelengkapan pengisian rekam medis merupakan bagian penting dari mutu pelayanan kesehatan yang mendukung keselamatan pasien, kesinambungan asuhan, dan akuntabilitas hukum rumah sakit. Faktor individu seperti pengetahuan, sikap, dan pengalaman kerja diduga memengaruhi tingkat kepatuhan tenaga kesehatan terhadap standar dokumentasi medis. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh faktor individu terhadap kelengkapan pengisian rekam medis oleh tenaga kesehatan di Rumah Sakit X. Penelitian ini menggunakan studi cross-sectional dengan jumlah responden sebanyak 82 tenaga kesehatan yang dipilih melalui stratified random sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner terstruktur dan lembar observasi yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Analisis dilakukan menggunakan uji chi-square dan regresi logistik berganda dengan tingkat signifikansi 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki pengetahuan tinggi (85,4%) dan sikap positif (75,6%). Uji bivariat menunjukkan hubungan yang signifikan antara pengetahuan dan sikap dengan kelengkapan pengisian rekam medis (p=0,000). Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa hanya pengetahuan yang berpengaruh signifikan terhadap kelengkapan pengisian rekam medis (OR=0,068; p=0,001), sedangkan sikap tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pengetahuan merupakan faktor determinan utama dalam kelengkapan pengisian rekam medis. Penguatan pengetahuan melalui pelatihan berkelanjutan, audit rekam medis, dan umpan balik terstruktur diperlukan untuk meningkatkan mutu dokumentasi medis di fasilitas pelayanan kesehatan. Kata Kunci: rekam medis, pengetahuan, sikap, tenaga kesehatan, kelengkapan dokumentasi
Patient Satisfaction Among Noncommunicable Disease Patients in Klinik K Wangidjaja, Olivia; Tan, Jacob Donald
Indonesian of Health Information Management Journal (INOHIM) Vol 13, No 2 (2025): INOHIM
Publisher : Lembaga Penerbitan Universitas Esa Unggul

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47007/inohim.v13i2.659

Abstract

Abstract Noncommunicable diseases (NCDs) are a leading cause of global mortality, and patient satisfaction serves as a critical indicator of healthcare quality, especially in primary healthcare settings where long-term management is essential. This study aims to explore the level of patient satisfaction and identify key contributing factors among NCDs patients at Klinik K, a facility with a high volume of BPJS Kesehatan users and regular chronic care visits. The methodology includes semi-structured interviews with nine informants selected through purposive sampling, complemented by field notes and observations.The findings reveal that patients were positively satisfied when they received consistent health control, health education, and patient care center. However, patient satisfaction was negatively impacted by the lack of facility environment, service accessibility timing, medication stock availability, digital health accessibility, and diagnostic test availability These insights may facilitate better communication between patients and clinic management, leading to improvements in the delivery of NCDs care at Klinik K. Keyword: noncommunicable diseases; patient satisfaction; healthcare service; primary healthcare; case study Abstrak Penyakit Tidak Menular (PTM) merupakan penyebab utama kematian secara global, dan kepuasan pasien menjadi indikator penting dalam menilai kualitas layanan kesehatan, terutama di fasilitas layanan kesehatan primer yang berperan dalam pengelolaan jangka panjang. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi tingkat kepuasan pasien serta mengidentifikasi faktor-faktor utama yang berkontribusi terhadap kepuasan pasien PTM di Klinik K, sebuah fasilitas yang melayani banyak pengguna BPJS Kesehatan dan kunjungan rutin untuk perawatan penyakit kronis. Metodologi penelitian mencakup wawancara semi-terstruktur terhadap sembilan informan yang dipilih melalui teknik purposive sampling, serta dilengkapi dengan catatan lapangan dan observasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pasien merasa puas ketika mereka menerima pelayanan kontrol kesehatan, edukasi kesehatan, dan layanan yang berpusat pada pasien. Namun, kepuasan pasien menurun akibat kurangnya kenyamanan lingkungan fasilitas, keterbatasan waktu akses layanan, ketersediaan stok obat yang tidak memadai, aksesibilitas layanan digital yang rendah, serta keterbatasan dalam ketersediaan tes diagnostik. Temuan ini diharapkan dapat menjadi dasar untuk meningkatkan komunikasi antara pasien dan pihak manajemen klinik guna memperbaiki kualitas layanan kesehatan bagi pasien PTM di Klinik K. Kata Kunci: penyakit tidak menular; kepuasan pasien; pelayanan kesehatan; layanan kesehatan primer; studi kasus

Page 1 of 1 | Total Record : 6