cover
Contact Name
Andi Arif Rifa'i
Contact Email
andiarifrifai@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
edugamaiainsasbabel@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kab. bangka,
Kepulauan bangka belitung
INDONESIA
Edugama: Jurnal Kependidikan dan Sosial Keagamaan
ISSN : 25988115     EISSN : 26140217     DOI : -
Edugama: Jurnal Kependidikan dan Sosial Keagamaan, ISSN 2598-8115 (print) and 2614-0217 (electronic) is published twice a year (Juli and December) by the Graduate Program IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung. This journal departs from philosophy and Religious Education, which aims at becoming contain ideas, research results educational, social and religious.
Arjuna Subject : -
Articles 137 Documents
Humanistic Education in Abdurrahman Wahid’s Supriyanto, Supriyanto
Edugama: Jurnal Kependidikan dan Sosial Keagamaan Vol. 4 No. 2 (2018): Edugama: Jurnal Kependidikan dan Sosial Keagamaan
Publisher : PASCASARJANA IAIN SYAIKH ABDURRAHMAN SIDDIK BANGKA BELITUNG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32923/edugama.v4i2.688

Abstract

Human values are one of the main components of concern in the education field. One of the Muslim scholars who had very high concern for issues related to humanity was Abdurrahman Wahid or who was familiarly called Gus Dur. For Gus Dur, appreciation of human values is at the core of the teachings of Islam. The emphasis on understanding humanity provides a basis for the humanistic attitude that Gus Dur wanted to build. Humanistic education in the concept of Gus Dur is a discussion of human values voiced by Gus Dur which includes universal humanity, human rights and justice. Therefore, this paper intends to discuss humanistic education in Gus Dur's perspective. Keywords: Nilaihumanistic education, human right, justice, Abdur Abstrak rahman Wahid nilai kemanusiaan adalah salah satu komponen utama yang menjadi perhatian di bidang pendidikan. Salah satu cendekiawan Muslim yang memiliki kepedulian yang sangat tinggi terhadap masalah yang berkaitan dengan kemanusiaan adalah Abdurrahman Wahid atau yang akrab disapa Gus Dur. Bagi Gus Dur, penghargaan terhadap nilainilai kemanusiaan adalah inti dari ajaran Islam. Penekanan pada memahami kemanusiaan memberikan dasar bagi sikap humanistik yang ingin dibangun oleh Gus Dur. Pendidi kan humanistik dalam konsep Gus Dur adalah diskusi tentang nilainilai kemanusiaan yang disuarakan oleh Gus Dur yang mencakup kemanusiaan universal, hak asasi manusia dan keadilan. Oleh karena itu, makalah ini bermaksud membahas pendidikan humanistik dalam perspektif Gus Dur.
Pemikiran Filsuf Muslim di Wilayah Barat Zaprulkhan, Zaprulkan
Edugama: Jurnal Kependidikan dan Sosial Keagamaan Vol. 4 No. 2 (2018): Edugama: Jurnal Kependidikan dan Sosial Keagamaan
Publisher : PASCASARJANA IAIN SYAIKH ABDURRAHMAN SIDDIK BANGKA BELITUNG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32923/edugama.v4i2.721

Abstract

Abstract Islamic philosophy is one part of the tradition of Islamic thought that has developed, both in the East and the West of Islam. In the western part of Islam, Islamic philosophy developed rapidly in the region of Cordova as our mother Andalusia, Spain. It was in the Western region of Islam that a number of well-known philosophers emerged, such as Ibn Bajjah, Ibn Thufail, and Ibn Rusyd. These three great philosophers are very eloquent in developing various philosophical discourses with their unique characteristics which differ from one another. This article tries to explore the philosophical thinking of the three philosophers, and at the end of the discussion is given a critical note on all three of their thoughts. Abstrak Filsafat Islam adalah salah satu bagian dari tradisi pemikiran Islam yang telah berkembang, baik di Timur maupun di Barat Islam. Di bagian barat Islam, filsafat Islam berkembang pesat di wilayah Cordova sebagai ibu kotaAndalusia, Spanyol. Di wilayah barat Islam inilah sejumlah filsuf terkenal muncul, seperti Ibn Bajjah, Ibn Thufail, dan Ibn Rusyd. Ketiga filsuf besar ini sangat fasih dalam mengembangkan berbagai wacana filosofis dengan karakteristik unik mereka yang berbeda satu sama lain. Artikel ini mencoba mengeksplorasi pemikiran filosofis dari tiga filsuf, dan pada akhir diskusi diberikan catatan kritis pada ketiga pemikiran mereka.
Dampak Perceraian Terhadap Kenakalan Remaja Cipta, Hendra
Edugama: Jurnal Kependidikan dan Sosial Keagamaan Vol. 3 No. 2 (2017): Edugama: Jurnal Kependidikan dan Sosial Keagamaan
Publisher : PASCASARJANA IAIN SYAIKH ABDURRAHMAN SIDDIK BANGKA BELITUNG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32923/edugama.v3i2.724

Abstract

Abstract In General, factors causing the emergence of juvenile deliquency are a family reason caused by divorce, both parents and the next factor is the environmental factors influenced by playmates and the environment around the dwelling. The media also have a role to cause juvenile delinquency. To minimize this juvenile delinquency that needs to be done is to enforce the rules, listen to teenagers complaints, give attention to teenagers, provide motivation to the teenagers and accompany and play with teenagers' activities they enjoy. Abstrak Secara umum, faktor penyebab munculnya kenakalan remaja adalah alasan keluarga yang disebabkan oleh perceraian, kedua orang tua dan faktor berikutnya adalah faktor lingkungan yang dipengaruhi oleh teman bermain dan lingkungan di sekitar tempat tinggal. Media juga memiliki peran untuk menyebabkan kenakalan remaja. Untuk meminimalkan kenakalan remaja yang perlu dilakukan adalah menegakkan aturan, mendengarkan keluhan remaja, memberikan perhatian kepada remaja, memberikan motivasi kepada remaja dan menemani dan bermain dengan kegiatan remaja yang mereka nikmati.
Gerhana dan Keharusan Kosmologis Manusia: Tinjauan Filsafat Wujud Sulaiman, Rusydi
Edugama: Jurnal Kependidikan dan Sosial Keagamaan Vol. 3 No. 2 (2017): Edugama: Jurnal Kependidikan dan Sosial Keagamaan
Publisher : PASCASARJANA IAIN SYAIKH ABDURRAHMAN SIDDIK BANGKA BELITUNG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32923/edugama.v3i2.725

Abstract

Abstract Eclipse is a natural event that could not be avoided, Indeed it has become a part of life that merged into one in the solar system. His existence adorns and completes the universe. Eclipse is a natural phenomenon that quickly change the atmosphere, the weather becomes dark. This simple phenomenon is a natural event that periodically often occurs in the world. In addition, the natural phenomenon of the eclipse is a part of authority of God Allah, The almighty. So, this article firstly describes about kind of eclipse; the solar eclipse and lunar eclipse. Then the article describes philoshopically the connection of this eclipse with human\s cosmology. There was closely related between human and eclipse. Everyone is the Wali of God Allah (Khalifah fi al-Ardhi) which had been sent to guard and manage the universe. Cosmologically, human was called as micro cosmos of the cosmos existing in the whole solar system. So the relationship between humans and other creatures was very close. And a person as a servant of God Allah whose reason (logics) and heart (qalb) is expected to do self- reinforcement (rationalization and also mukasyafah) toward creatures, including the phenomenon of eclipse. In short, we khnow then the position of human toward God Allah. Abstrak Gerhana adalah peristiwa alam yang tidak bisa dihindari, memang sudah menjadi bagian kehidupan yang menyatu menjadi satu di tata surya. Keberadaannya menghiasi dan melengkapi alam semesta. Eclipse adalah fenomena alam yang dengan cepat mengubah atmosfer, cuaca menjadi gelap. Fenomena sederhana ini adalah peristiwa alam yang secara berkala sering terjadi di dunia. Selain itu, fenomena alam gerhana adalah bagian dari otoritas Allah Allah SWT. Jadi, artikel ini pertama kali menjelaskan tentang jenis gerhana; gerhana matahari dan gerhana bulan. Kemudian artikel tersebut menggambarkan secara filosofis hubungan gerhana ini dengan kosmologi manusia. Ada kaitan erat antara manusia dangerhana. Setiap orang adalah Wali Allah (Khalifah fi al-Ardhi) yang telah dikirim untuk menjaga dan mengelola alam semesta. Secara kosmologis, manusia disebut sebagai mikro kosmos dari kosmos yang ada di seluruh tata surya. Jadi hubungan antara manusia dan makhluk lain sangat dekat. Dan seseorang sebagai hamba Allah Allah yang alasannya (logika) dan hatinya (qalb) diharapkan untuk melakukan penguatan diri (rasionalisasi dan juga mukasyafah) terhadap makhluk, termasuk fenomena gerhana. Singkatnya, kita khnow maka posisi manusia terhadap Allah Allah. Kata kunci: Eclipse (Sun, Moon), Kosmologi dan Manusia.
Esensi HAM dalam Islam dan Relevansinya Dengan Demokrasi Hatamar, Hatamar
Edugama: Jurnal Kependidikan dan Sosial Keagamaan Vol. 3 No. 2 (2017): Edugama: Jurnal Kependidikan dan Sosial Keagamaan
Publisher : PASCASARJANA IAIN SYAIKH ABDURRAHMAN SIDDIK BANGKA BELITUNG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32923/edugama.v3i2.726

Abstract

Some Islamic political figures and commentators provide a comprehensive explanation of the essence of Islamic teachings (al-Qur'an) which emphasizes the recognition and protection of human rights (HAM). Islam has a genuine concept of human rights, which has been formulated even since the 7th century AD, namely since the emergence of Islam brought by the Prophet Muhammd, SAW which was later declared as human rights in Islam. All the contents of the Islamic version of the declaration are formulated based on the Qur'an and Sunnah. The actual effect of human rights in Islam, what humans have is not the rights they have brought from birth, as they arise in the notion of human rights in the Western world, but prescriptions that are given to humans, obtained or derived from sources interpreted as divine commands which includes rights and obligations. Therefore, what is called HAM is basically a human obligation to God, or God's rights to humans. In addition to owning a unique doctrine that is unique to Islamic human rights, of course it has values and essences that are similar to modern human rights which are now defeated, and even have values that are also present in the modern democratic system. universal values that support democracy, namely human rights, also have a central and essential place in Islamic teachings. Key Word: Essence, human rights in Islam and democracy.
Peran Orang Tua Sebagai Pendidik Anak Dalam Keluarga Adrian, Adrian; Syaifuddin, Muhammad Irfan
Edugama: Jurnal Kependidikan dan Sosial Keagamaan Vol. 3 No. 2 (2017): Edugama: Jurnal Kependidikan dan Sosial Keagamaan
Publisher : PASCASARJANA IAIN SYAIKH ABDURRAHMAN SIDDIK BANGKA BELITUNG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32923/edugama.v3i2.727

Abstract

Abstract This article discusses the role of parents as child educators in the household. Many Muslim scholars quoted quran verses and hadith as the basis for the importance of children's education in the family. The family is the smallest instrument in the community and is the basic platform as well as a place for early education for every child. The role of parents is very important in children's education. Parents who are able to position themselves as protectors, protectors, and educators of children will certainly be coherent in the hope that they will get good future generation candidates, because the nature of children is in need of love and attention from their parents. Will of Lukman al-Hakim in Q.S. Luqman verses 13-19 is a manifestation of the importance of children's education by parents in the family. Education in the family is not only limited to religious education, but also provides moral, personality and social education. Parents should be able to carry out holistic education to children in the family so that they can realize the goal of education, namely to make a complete person balanced between emotions, intellectuals, and spirituality Abstrak Artikel ini membahas tentang peran orang tua sebagai pendidik anak dalam rumah tangga. Para sarjana Muslim banyak menukil ayat-ayat qur’an dan hadis sebagai dasar petingnya pendidikan anak dalam keluarga. Keluarga sebagai instrumen terkecil dalam masyarakat dan sebagai peletak dasar sekaligus tempat pendidikan awal bagi setiap anak. Peran orang tua sangatlah pentingdalam pendidikan anak. Orang tua yang mampu memposisikan diri sebagai pelindung, pengayom, dan pendidik anak tentunya akan koheren dengan harapan agar mendapat calon generasi penerus yang baik, karena sifat dasar anak adalah membutuhkan kasih sayang dan rhatian dari orang tuanya. Wasiat Lukman al-Hakim dalam Q.S. Luqman ayat 13-19 merupakan manifestasi dari pentingnya pendidikan anak oleh orang tua dalam keluarga. Pendidikan dalam keluarga bukan hanya dibatasi dalam pendidikan agama saja, namun juga memberikan pendidikan akhlaq, kepribadian, dan sosial. Orang tua sepantasnya mampu melaksanakan pendidikan holistik kepada anak dalam keluarga sehingga mampu mewujudkan tujuan pendidikan yaitu menjadikan insan paripurna yang seimbang antara emosi, intelektual, dan spiritual.
Development of Learning Module STAIN SAS Babel Cakrawala, Cakrawala
Edugama: Jurnal Kependidikan dan Sosial Keagamaan Vol. 3 No. 2 (2017): Edugama: Jurnal Kependidikan dan Sosial Keagamaan
Publisher : PASCASARJANA IAIN SYAIKH ABDURRAHMAN SIDDIK BANGKA BELITUNG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32923/edugama.v3i2.728

Abstract

Abstract This study uses a quantitative research. The aim to produce a product. The study consisted of three stages, namely: 1. Reconnaissance 2. 3. Procurement model development product. Questionnaire data were analyzed using simple statistics and interviews were analyzed with descriptive quantitative techniques. Children begin to recognize verbal communication with their environment called the children's language pemerolahan. The first language acquisition occurs when the child who from the beginning without language has now gained one language. At the time of child language acquisition, the child is more directed at the communications functions of the form language.In the field of sistaksis, children begin speaking by uttering a single word. This word for children is actually full sentences, but because he has not been able to say more than one word, he only took one word of the whole sentence.Learning module is needed to assist the student in the learning process diperkuliahan, learning modules for students are good, but need further improvements in order to improve this module book. Based on the research that learning modules for students can improve student learning. Abstrak Penelitian ini menggunakan penelitian kuantitatif. Tujuannya untuk menghasilkan suatu produk. Penelitian terdiri dari tiga tahap, yaitu: 1. Pengintaian 2. 3. Pengembangan produk model pengadaan. Data kuesioner dianalisis menggunakan statistik sederhana dan wawancara dianalisis dengan teknik kuantitatif deskriptif. Anak-anak mulai mengenali komunikasi verbal dengan lingkungan mereka yang disebut pemeriksa bahasa anak-anak. Perolehan bahasa pertama terjadi ketika anak yang sejak awal tanpa bahasa kini telah memperolehsatu bahasa. Pada saat penguasaan bahasa anak, anak lebih diarahkan pada fungsi komunikasi dari bentuk bahasa. Di bidang sistaksis, anak-anak mulai berbicara dengan mengucapkan satu kata. Kata ini untuk anak-anak sebenarnya adalah kalimat penuh, tetapi karena ia belum dapat mengatakan lebih dari satu kata, ia hanya mengambil satu kata dari seluruh kalimat. Modul pembelajaran diperlukan untuk membantu siswa dalam proses pembelajaran yang diperkuliahan, modul pembelajaran untuk siswa baik, tetapi perlu perbaikanlebih lanjut untuk meningkatkan buku modul ini. Berdasarkan penelitian bahwa modul pembelajaran untuk siswa dapat meningkatkan pembelajaran siswa.
Implementasi Manajemen Kepemimpinan Madrasah Aliyah di Bangka Belitung Suparta, Suparta
Edugama: Jurnal Kependidikan dan Sosial Keagamaan Vol. 4 No. 2 (2018): Edugama: Jurnal Kependidikan dan Sosial Keagamaan
Publisher : PASCASARJANA IAIN SYAIKH ABDURRAHMAN SIDDIK BANGKA BELITUNG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32923/edugama.v4i2.732

Abstract

Abstract Based on the results of observations and interviews of researchers the implementation of leadership management in MAN I Tanjung Pandan can be categorized in two respects. The two categories are: First, leadership management seen from the aspect of leadership style. Second, leadership management is seen from the aspects they lead. The implementation of the first aspect which became the main actor was the Principal while in the second aspect the main actor was the deputy principals, teachers, staff and students of MAN I Tanjung Pandan The leadership style implemented in MAN I Tanjung Pandan is dominated by two leadership styles, namely democratic and charismatic leadership styles. However, from the two styles, the most dominant one carried out daily is the style of democratic leadershipIn other words, the leadership style is flexible based on the interests that must be implemented. Sometimes it uses a paternalistic management style and sometimes also uses open management. This is in accordance with Hasibuan stating that the management style can be divided into first management father (Paternalistic management), both closed management (closed management), third open management (open management), fourth democratic management (democratic management). Abstrak Berdasarkan hasil Observasi dan wawancara peneliti implementasi manajemen kepemimipinan di MAN I Tanjung Pandan dapat dikategorikan dalam dua hal. Adapun kedua kategori itu yaitu: Pertama, manajemen kepemimpinan yang dilihat dari aspek gaya memeimipinnya. Kedua, manajemen kepemimpinan yang dilihat dari aspek yang dipimpinnya. Implementasi pada aspek pertama yang menjadi aktor utamanya adalah Kepala Sekolahsedangkan pada aspek kedua yang menjadi aktor utamanya adalah para wakil kepala sekolah, para guru, para staf dan para siswa MAN I Tanjung Pandan. Gaya kepemimipinan yang dilaksanakan di MAN I Tanjung Pandan didominasi oleh dua gaya kepemimipinan yaitu gaya kepemimpinan demokratis dan kharismatis. Namun demikian dari kedua gaya tersebut yang paling dominan dilaksnakan sehari-hari adalah gaya kepemimpinan demokratis. Dengan kata lain, gaya kepemimipinannya fleksibel berdasarkan kepentingan yang harus dilaksanakan. Kadang-kadang menggunakan gaya paternalistik management dan terkadang juga menggunakan open managamant. Hal ini sesuai dengan Hasibuan menyatakan gaya menejemn dapat dibedakan atas: pertama manjemen bapak ( Paternalistik managamant), kedua manajemen tertutup ( closed managamant), ketiga manajemen terbuka (open managamant), keempat manajemen demokrasi ( democration managamant)
Peran Sufisme Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah Terhadap Perkembangan Keagamaan Islam Melayu di Kota Pangkalpinang Rajab, Hadarah
Edugama: Jurnal Kependidikan dan Sosial Keagamaan Vol. 4 No. 2 (2018): Edugama: Jurnal Kependidikan dan Sosial Keagamaan
Publisher : PASCASARJANA IAIN SYAIKH ABDURRAHMAN SIDDIK BANGKA BELITUNG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32923/edugama.v4i2.733

Abstract

Abstract Tasawuf and Sufism have succeeded in donating their contributions to Islam. Follow conquering the nations that have not been touched by Islamic teachings. Its influence is most likely to reach Bangka whose motives could have an impact on the Muslim Community of multicultural Pangkalpinang City, also known as the Malay Muslim community that has a common sense with the Sumatran Muslim community in general (Palembang, Bengkulu, Padang, Riau to Aceh). Malay Islamic societies are more dominant and can coexist with more Chinese societies after Christianity, Christianity, Hinduism, and Buddhism, attracting them because they can show the phenomenon of peaceful and mutual respectful peoples. Of course, this is important to be explored and can be used as a pilot icon for especially for conflict-laden areas. The initial data compiled by the researchers is that there is a positive indication that behind the harmony and peace of religion, especially for the ummah of Islam, it can be assumed that the general character of Pangkalpinang has its own characteristic, the influence of tarekat teachings, in general, can be expected to follow the attitudes and behavior of Muslim community in Bangka city , as well as the influence of Khalifah Naqsyabandiyah's teachings in particular is synonymous with the teachings of self-awareness and repentance from taking care of the religion and the beliefs of others. Their religious cultures are framed by the spiritual values of Sufism that are strong in their respective religions, as for the followers of Islam and the Islamic religion, they believe the supernatural powers that grow from the pure tasawuf of Islam which is then known as Sufism. Abstrak Tasawuf dan sufisme telah berhasil menyumbangkan andilnya yang tidak sedikit terhadap perluasan Islam. Ikut menaklukkan bangsa-bangsa yang selama ini belum tersentuh ajaran Islam. Pengaruhnya tentu sangat mungkin sampai ke Bangka yang motifnya bisa berdampak pada Masyarakat Muslim Kota Pangkalpinang yang multikultural juga dikenal sebagai masyarakat Islam Melayu yang memiliki matarantai dengan masyarakat Islam Sumatra secara umum (Palembang, Bengkulu, Padang, Riau hingga Aceh). Masyarakat Islam Melayu lebih dominan dan dapat hidup berdampingan dengan masyarakat Cina yang lebih banyak setelah ummat Islam, demikian Kristen, Hindu dan Budha, menariknya karena dapat menunjukkan fenomena masyarakat yang hidup damai dan saling menghormati satu sama lain. Tentu hal ini penting dieksplorasi dan bisa dijadikan sebagai icon wilayah percontohan khususnya untuk wilayah yang sarat dengan konflik. Data awal yang dihimpun oleh penelitiyaitu ada indikasi positive bahwa dibalik keharmonisan dan kedamaian menjalankan agama khususnya bagi ummat Islam, dapat diasumsikan bahwa keberagamaan masyarakat Pangkalpinang memiliki ciri khas tersendiri, pengaruh ajaran tarekat secara umum dapat diduga ikut mewarnai sikap dan perilaku masyarakat muslim di kota Bangka, demikian juga pengaruh khususnya ajaran tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah memang identik dengan ajaran yang mengedepankan kesadaran diri sendiri dan pertobatan dari pada mengurus agama dan keyakinan orang lain. Kultur keberagamaan mereka terbingkai oleh nilai-nilai Spiritual Sufisme yang kental di masing-masing agama yang dijalankannya, demikian bagi penganut agama dan spiritual Islam Melayu, mereka meyakini kekuatan supranatural yang tumbuh dari tasawuf yang murni Islam yang kemudian dikenal dengan istilah sufisme. Kata Kunci: Peran Sufisme Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah Terhadap Perkembangan Keagamaan Islam Melayu
Pendidikan Anak dalam Islam: Upaya Mempersiapkan Generasi Masa Depan Berakhlak Mulia Rifa'i, Andi Arif
Edugama: Jurnal Kependidikan dan Sosial Keagamaan Vol. 4 No. 2 (2018): Edugama: Jurnal Kependidikan dan Sosial Keagamaan
Publisher : PASCASARJANA IAIN SYAIKH ABDURRAHMAN SIDDIK BANGKA BELITUNG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32923/edugama.v4i2.744

Abstract

Abstract Marriage is a sunnatullah for Muslims with one of its aims to develop Islam at the quantitative level. But the development of Islam qualitatively must also get the attention of various groups (parents, society, and government). Highlighting the importance of the role of parents in children's education as one of the closest figures to children, they need to understand how Islam provides concrete examples in educating children. The role of the family in assisting children to reach the stages of their social-intellectual development requires to be following the educational models contained in the Qur'an (such as Lukman's letter) and also the sunnah of the Prophet Muhammad SAW. Golden age (early age) child development needs to get soft touches of education from both parents, without using physical or psychological violence to create generations of great future Muslims. Abstrak Pernikahan merupakan sunnatullah bagi umat muslim dengan salah satu tujuannya untuk mengembangkan Islam dalam tataran kuantitatif. Namun perkembangan Islam secara kualitatif juga harus mendapatkan perhatian dari berbagai kalangan (orang tua, masyarakat dan pemerintah). Menyoroti pentingnya peran orang tua dalam pendidikan anak sebagai salah satu sosok terdekat dengan anak, maka mereka perlu memahami bagaimana Islam memberikan contoh kongkrit dalam mendidik anak. Peran keluaga dalam mendampingi anak mencapai tahap-tahap perkembangan sosial-intelektualnya perlu menauladani model-model pendidikan yang tertuang dalam Al-Qur’an (seperti surat Lukman) dan juga sunnah Rasulullah Muhammad SAW. Masa keemasan (usia dini) perkembangan anak perlu mendapatkan sentuhan-sentuhan pendidikan secara lembut dari kedua orang tuanya, tanpa menggunakan kekerasan fisik maupun psiskis guna menciptakan generasi-generasi muslim masa depan yang berakhlak mulia.

Page 2 of 14 | Total Record : 137