Metahumaniora
Metahumaniora adalah jurnal dalam bidang bahasa, sastra, dan budaya yang diterbitkan oleh Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran sejak tahun 2012 dan bertujuan menyebarluaskan pemikiran-pemikiran konseptual maupun hasil riset yang telah dicapai dalam rumpun ilmu humaniora. Fokus dan ruang lingkup Jurnal Metahumaniora adalah kajian dalam rumpun ilmu humaniora, meliputi bidang bahasa (linguistik mikro, linguistik makro, dan linguistik interdisipliner), sastra, filologi, sejarah, dan kajian budaya. Metahumaniora diterbitkan pertama kali pada 10 Februari 2012 dalam versi cetak dengan nomor ISSN 2085-4838. Dan seiring dengan perkembangan sistem teknologi dalam bidang literasi, pada tanggal 12 April 2019 Jurnal Metahumaniora telah menggunakan Online Journal System (OJS) dengan nomor EISSN 2657-2176. Redaksi menerima tulisan yang diangkat dari hasil penelitian, gagasan konseptual, kajian, dan aplikasi teori, serta ulasan buku. Naskah yang diserahkan harus sesuai dengan fokus dan ruang lingkup jurnal serta sesuai dengan format penulisan yang telah ditetapkan (rujuk format penulisan). Penerbitan Metahumaniora dilakukan tiga kali dalam setahun, yaitu April, September, dan Desember. Meskipun demikian, penerimaan naskah dilakukan sepanjang tahun. Proses penyerahan, penilaian, dan penerbitan naskah seluruhnya dilakukan secara online. Metahumaniora menerapkan proses peer review. Semua artikel yang dikirimkan akan direview secara tertutup (blind review) oleh para mitra bestari. Pada umumnya, setiap artikel akan direview oleh satu sampai dua orang reviewer. Tanggapan dari para reviewer ini akan dijadikan landasan bagi Editor untuk menentukan apakah suatu artikel dapat diterima (accepted), diterima apabila direvisi (accepted with major/minor revision), atau ditolak (rejected).
Articles
263 Documents
Analysis of Crime News in The Jakarta Globe by Graduation Systems
Dien Novita
Metahumaniora Vol 12, No 1 (2022): METAHUMANIORA, APRIL 2022
Publisher : Universitas Padjadjaran
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24198/metahumaniora.v12i1.38776
This research looked into the Graduation systems in The Jakarta Globe's crime coverage. The study used mixed-method research and categorized six works. The Appraisal Systems Theory was used to examine the data. The study sought to determine the graduation systems of crime news in The Jakarta Globe, as well as to characterize the writer’s viewpoints on measuring the force of the message in crime news. According to the data, The Jakarta Globe presents 55% of the force dominantly. Furthermore, while reporting on crime, the authors of The Jakarta Globe utilize intensifier terms.
Translation of Physical Aspects of Women Image From Indonesian Into German: An Appraisal Analysis
Cicu Finalia
Metahumaniora Vol 12, No 1 (2022): METAHUMANIORA, APRIL 2022
Publisher : Universitas Padjadjaran
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24198/metahumaniora.v12i1.38154
This study discusses the translation of aspects of physical image related to image of women in Eka Kurniawan’s “Lelaki Harimau” novel into German, and describes the types of attitude associated with the physical image of women. Using Martin & Rose’s theory of appraisal (2007) and Molina & Hurtado Albir’s theory of translation techniques (2002), aspects of physical image compiled grammatical items, lexical items or metaphors related to image of women in the novel into domains to classify the aspects of physical image and the translation techniques used to translate the aspects of physical image. From the results of the initial and earlier discussion it was found that the translator of the novel “Lelaki Harimau” into German are using nine translation techniques – mostly established equivalent and modulation. The use of these certain translation techniques is one indicator that translation technique determines the image shifting.
Representasi Islam dalam Pidato Presiden Prancis Terkait Kebijakan Melawan Separatisme
Ayudhia Ratna Wijaya;
B.R. Suryo Baskoro
Metahumaniora Vol 12, No 1 (2022): METAHUMANIORA, APRIL 2022
Publisher : Universitas Padjadjaran
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24198/metahumaniora.v12i1.36643
AbstrakPenelitian ini berfokus pada representasi Islam dala pidato Presiden Prancis Emmanuel Macron yang berjudul “discours du president de la République sur le thème de la lute contre les séparatismes”. Pidato tersebut menimbulkan banyak polemik di berbagai negara muslim terkait opini atas pemahaman isi pidato tersebut. Pemberitaan yang ditampilkan oleh berbagai media lokal prancis maupun internasional dunia belum memberikan penggambaran menyeluruh atas analisis pidato tersebut yang berkaitan dengan representasi muslim. Oleh karena itu, melalui analisis wacana kritis van Leeuwen dan pendekatan korpus linguistik berbasis software AntConc, penelitian ini mengungkap representasi islam yang ditampilkan dalam pidato tersebut. Berdasarkan hasil penelitian ditemukan bahwa dominasi penggunaan leksem sebesar 73% pada pidato tersebut yang menggambarkan maksud pemerintah prancis dalam upaya melindungi negara dari berbagai ancaman radikalisme. Selanjutnya, 27% konkordansi leksem ditemukan representasi islam yang diasosiasikan dengan gerakan separatism, ektrimisme, dan radikalisme. Asosiasi tersebut tidak secara langsung menggeneralisasi islam sebagai agama radikal, melainkan secara khusus mengacu pada salafi dan wahabi sebagai contoh gerakan separatis islam. Kata kunci: Representasi Islam; Emmanuel Macron; Separatisme Abstract This study focuses on the representation of Islam in French President Emmanuel Macron's speech entitled "discours du president de la République sur le thème de la lutte contre les separatismes". The speech caused a lot of polemics in various Muslim countries regarding the opinions on the understanding of speech's contents. The local French media and international media have not provided a comprehensive analysis of the speech related to Muslim representation in the speech. Therefore, through van Leeuwen's critical discourse analysis and AntConc's software-based corpus linguistics approach, this research reveals the representation of Islam that is displayed in the speech. Based on the results of the study, it was found that 73% of dominance lexemes in the speech described the French government's intention in an effort to protect the country from various threats of radicalism. Furthermore, only 27% of lexeme concordance represented Islam which is associated with separatism, extremism, and radicalism movements. The association does not directly generalize Islam as a radical religion, but specifically refers to the Salafi and Wahhabism as examples of Islamic separatist movements.Keywords: Islam Representation; Emmanuel Macron; Separatism
Pemberitaan Aksi Massa Pasca Kematian George Floyd oleh Media Daring New York Post dan CNN: Analisis Wacana Framing
I Gede Agus Sastrawan
Metahumaniora Vol 12, No 1 (2022): METAHUMANIORA, APRIL 2022
Publisher : Universitas Padjadjaran
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24198/metahumaniora.v12i1.37836
Penelitian ini bertujuan menganalisis berita yang dimuat oleh New York Post dan CNN terkait aksi massa pasca kematian George Floyd (46). Peristiwa ini menarik perhatian berbagai kalangan di seluruh belahan dunia karena dua hal: (1) pembunuhan yang dilakukan oleh pihak kepolisian masif terjadi di Amerika. Tercatat 5000 lebih korban meninggal oleh polisi Amerika, menurut The Washington Post pada statistik yang berjudul Fatal Force. Oleh karena topik ini menarik perhatian massa, banyak media mulai memberitakannya. Namun bahasa tidak digunakan secara transparan dan objektif oleh media. Hal ini menyebabkan media dikatakan memiliki ideologi dalam penyampaian informasi. Untuk menguak fenomena kebahasaan dalam media, penelitian ini menggunakan metode kualitatif dan kuantitatif serta aplikasi Lexico untuk melihat frekuensi kata yang digunakan. Data penelitian ini bersumber pada NY Post & CNN dan dianalisis menggunakan model framing Pan dan Kosicki: struktur sintaksis, skrip, tematik, dan retoris. Hasilnya menunjukan bahwa NY Post cenderung berpihak kepada instasi negara, sedangkan CNN berfokus pada paham kemanusian dan solidaritas
Grammar Similarity: A Study of Comparative Linguistic in French and Spanish Bilingual Song
Muhammad Zudi Hardiansyah
Metahumaniora Vol 12, No 1 (2022): METAHUMANIORA, APRIL 2022
Publisher : Universitas Padjadjaran
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24198/metahumaniora.v12i1.36818
Prancis dan Spanyol adalah bahasa Roman. Kedua Bahasa ini berasal dari bahasa Latin vulgar, membuatnya menjadi Bahasa saudara. Dikarenakan bahasa Prancis dan Spanyol adalah bahasa saudara, keduanya memiliki banyak kesamaan, termasuk di bidang tata bahasa, meskipun masing-masing pastilah mempunyai keunikannya sendiri. Tujuan penulisan artikel ini adalah untuk menemukan, menganalisis, dan menjelaskan persamaan gramatikal yang ditemukan pada lagu-lagu bilingual Prancis dan Spanyol. Hal ini dapat memperkuat pembuktian jika kedua bahasa tersebut merupakan bahasa saudara dengan adanya kesamaan dari segi tata bahasa. Metode penelitian yang digunakan dalam penulisan artikel ini adalah kualitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik simak bebas cakap dan teknik lanjutan catat. Metode komparatif, tinjauan pustaka, dan elaborasi naratif merupakan teknik yang digunakan dalam analisis data.Kata kunci: Prancis, Spanyol, Gramatika, Persamaan
Aspek Kebudayaan Dalam Toponimi pada Naskah Bujangga Manik: Kajian Linguistik Antropologi
Salehudin Salehudin;
Gugun Gunardi;
Dian Indira
Metahumaniora Vol 12, No 1 (2022): METAHUMANIORA, APRIL 2022
Publisher : Universitas Padjadjaran
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24198/metahumaniora.v12i1.37741
Penelitian berjudul “Toponimi Aspek Kebudayaan dalam Naskah Bujangga Manik: Kajian Linguistik Antropologi”. Objek penelitian ini adalah toponimi yang merupakan bagian dari identitas kebudayaan. Penelitian bertujuan untuk mengidentifikasi struktur dan makna leksikal toponimi, mendeskripsikan nilai kebudayaan pada toponimi dalam nama-nama tempat pada naskah Bujangga Manik. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan analisis data secara deskriptif. Dalam penelitian ini digunakan pendekatan linguistik dan antropologi dalam menganalisis data. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah metode metode simak dan teknik catat. Metode analisis data yang digunakan adalah padan dengan alat penentu bahasa tulis. Data yang digunakan dalam penelitian ini terbagi atas data primer yang bersumber pada naskah Bujangga Manik dan data sekunder yang bersumber pada dokumen atau pustaka terdahulu. Hasil penelitian menunjukkan aspek kebudayan terdiri dari satu jenis data monomorfemis dengan yaitu Bobodo dan sepuluh data polimorfemis yaitu Gunung Mahameru, Gunung Marapi, Ci Pamali, Ci Ronabaya, Gunung Brahma, Gunung Hiang, Gunung Larang, Gunung Rajuna, Gunung Wayang, dan Medang Kahiangan.
Makna Pesan Verbal Lagu "Nasib Bunga" Karya Rhoma Irama
Bunga Dessri Nur Ghaliyah
Metahumaniora Vol 12, No 1 (2022): METAHUMANIORA, APRIL 2022
Publisher : Universitas Padjadjaran
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24198/metahumaniora.v12i1.37798
ABSTRAKTulisan ini merupakan analisis terhadap lirik lagu “Nasib Bunga” yakni salah satu lagu dangdut yang diciptakan Rhoma Irama dan dipopulerkan oleh Noer Halimah. Penelitian berjenis kualitatif ini dilakukan untuk mengetahui makna pesan verbal dalam lagu tersebut melalui analisis semiotika-Michael Riffaterre yang terdiri atas pembacaan heuristik dan hermeneutik. Melalui analisis yang berbasis pada data-data yang dikumpulkan dari hasil studi pustaka dan wawancara, dapat diketahui bahwa lagu “Nasib Bunga” mengandung makna mendalam yang secara garis besar berpesan untuk senantiasa berpikir sebelum bertindak agar tidak terjerumus kepada hal yang dapat merugikan dan disesali di kemudian hari. Selain itu, dapat diketahui pula bahwa makna lagu Nasib Bunga dibalut menggunakan redaksi kata dan simbol yang “tepat” sehingga lagu ini menjadi karya dakwah yang dapat diterima di masyarakat. Kata Kunci : Nasib Bunga; Makna; Lirik; Semiotika; Michael Riffaterre ABSTRACTThis paper is an analysis of the lyrics of the song "Nasib Bunga" which is one of the dangdut songs created by Rhoma Irama and popularized by Noer Halimah. This type of qualitative research was conducted to determine the meaning of the verbal message in the song through the semiotic analysis of Michael Riffaterre which consists of heuristic and hermeneutic readings. Through analysis based on data collected from the results of literature studies and interviews, it can be seen that the song "Nasib Bunga" contains a deep meaning which in general is a message to always think before acting so as not to fall into things that can be detrimental and regret later. day. In addition, it can also be seen that the meaning of the song Nasib Bunga is wrapped using the "right" wording and symbols so that this song becomes a propaganda work that can be accepted by the community. Keywords : Nasib Bunga; Meaning; Lyric; Semiotics; Michael Riffaterre
KEBERPIHAKAN MEDIA BERITA LOKAL PAPUA DAN NASIONAL TERKAIT PERISTIWA KEKERASAN KIWIROK 13 SEPTEMBER 2021: ANALISIS TRANSITIVITAS
Yenny Kurniawati
Metahumaniora Vol 12, No 3 (2022): METAHUMANIORA, DESEMBER 2022
Publisher : Universitas Padjadjaran
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24198/metahumaniora.v12i3.40013
Penelitian ini bertujuan mengungkap ideologi media berita lokal Papua (Jubi.co.id) dan media berita nasional (Kompas.com) terkait pemberitaan kekerasan Kiwirok, Papua yang melibatkan militer OPM dan militer Indonesia yang terjadi pada tanggal 13 September 2021 melalui analisis transitivitas M.A.K Halliday. Metode penelitian menggunakan metode kualitatif dan kuantitatif. Data berupa 15 artikel berita dari laman Jubi.co.id dan 15 artikel berita Kompas.com dikumpulkan dalam korpus lalu diolah dengan Antconc untuk membantu pengolahan data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada enam proses dalam artikel pemberitaan kekerasan Kiwirok 13 September 2021 di dua media berita, yaitu proses material, verbal, behavioral, mental, relasional, dan eksistensial. Proses material mendominasi artikel pemberitaan dengan frekuensi tertinggi ada di artikel Kompas. Proses material dalam artikel Kompas kebanyakan dipakai untuk menggambarkan secara detail aksi-aksi yang dilakukan oleh aktor utama kekerasan. Ideologi dilihat dari bagaimana keberpihakan media terhadap aktor sosial dalam peristiwa kekerasan. Aktor sosial konflik Papua berdasarkan riset LIPI digolongkan menjadi tiga: pro NKRI, kelompok tengah, dan pro Merdeka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Jubi cenderung berpihak kepada kelompok tengah sedangkan Kompas cenderung berpihak kepada kelompok pro NKRI.
NORMA PENGGUNAAN VERBA DISCLOSE DAN REVEAL PADA CORPUS OF CONTEMPORARY AMERICAN ENGLISH (COCA): KAJIAN LINGUISTIK KORPUS
Fitri Nurul Falah;
Susi Yuliawati;
Eva Tuckyta Sari Sujatna
Metahumaniora Vol 12, No 2 (2022): METAHUMANIORA, SEPTEMBER 2022
Publisher : Universitas Padjadjaran
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24198/metahumaniora.v12i2.40187
Penelitian ini bertujuan mengkaji pola penggunaan verba yang bersinonimi, yaitu disclose dan reveal, berdasarkan teori norms and exploitation (TNE) dari Hanks (2013) dalam Corpus of Contemporary American English (COCA) dengan menggunakan kajian linguistik korpus. Kesamaan makna antara verba disclose dan reveal dalam ragam lisan dan tulisan pada korpus COCA dianalisis berdasarkan frekuensi penggunaan, tipe semantis, dan profil sintagmatik. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah rancangan metode gabungan (kuantitatif dan kualitatif) dengan strategi eksplanatoris sekuensial. Metode kuantitatif digunakan pada tahap pengumpulan data dan pengindentifikasian tingkat kemunculan verba. Sementara itu, metode kualitatif digunakan dalam menafsirkan data berdasarkan tipe semantis dan profil sintagmatik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua verba tersebut lebih frekuentatif dalam ragam tulis daripada lisan. Keduanya juga sering digunakan untuk mengungkap informasi dengan adanya tipe semantis information yang hampir muncul di setiap pola penggunaan. Perbedaannya terletak pada jumlah pola dalam profil sintagmatik, verba disclose memiliki lima pola, sedangkan verba reveal memiliki enam pola. Selain itu, verba disclose lebih sering digunakan mengungkapkan informasi apabila subjeknya adalah orang atau institusi, sedangkan subjek pada verba reveal adalah tindakan, aktivitas, atau peristiwa.
PROSES MORFOFONOLOGIS VERBA IMPERATIF PADA TUTURAN LISAN ANIME ORANGE
Fahri Delfariyadi;
Riza Lupi Ardiati;
Nandang Rachmat
Metahumaniora Vol 12, No 3 (2022): METAHUMANIORA, DESEMBER 2022
Publisher : Universitas Padjadjaran
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24198/metahumaniora.v12i3.41459
Ketika bertutur kata, tuturan yang dihasilkan dapat berbeda dengan aturan kebahasaan, baik secara struktur bahasa atau pun pembentukan kata. Akibatnya adalah terbentuknya variasi kata baru. Penelitian ini bertujuan untuk menginvestigasi proses morfofonologis verba bahasa Jepang, spesifiknya verba imperatif. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif dan menggunakan teknik catat pada tahapan pengumpulan data. Sumber data penelitian ini adalah anime Orange. Adapun temuan dari penelitian ini adalah ditemukannya dua proses morfofonologis pada verba kategori perintah dan larangan. Proses morfofonologis pada kategori perintah adalah penghilangan bunyi vokal [i] dan sebagian dari sufiks nasai. Namun, proses morfofonologis yang terjadi pada kategori larangan adalah nasalisasi. Implikasi lain yang ditemukan adalah adanya fenomena pengurangan bunyi pada kategori perintah dan pengaruh lingkungan fonologis pada kategori larangan dan terjadi pengurangan mora pada verba.