Metahumaniora
Metahumaniora adalah jurnal dalam bidang bahasa, sastra, dan budaya yang diterbitkan oleh Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran sejak tahun 2012 dan bertujuan menyebarluaskan pemikiran-pemikiran konseptual maupun hasil riset yang telah dicapai dalam rumpun ilmu humaniora. Fokus dan ruang lingkup Jurnal Metahumaniora adalah kajian dalam rumpun ilmu humaniora, meliputi bidang bahasa (linguistik mikro, linguistik makro, dan linguistik interdisipliner), sastra, filologi, sejarah, dan kajian budaya. Metahumaniora diterbitkan pertama kali pada 10 Februari 2012 dalam versi cetak dengan nomor ISSN 2085-4838. Dan seiring dengan perkembangan sistem teknologi dalam bidang literasi, pada tanggal 12 April 2019 Jurnal Metahumaniora telah menggunakan Online Journal System (OJS) dengan nomor EISSN 2657-2176. Redaksi menerima tulisan yang diangkat dari hasil penelitian, gagasan konseptual, kajian, dan aplikasi teori, serta ulasan buku. Naskah yang diserahkan harus sesuai dengan fokus dan ruang lingkup jurnal serta sesuai dengan format penulisan yang telah ditetapkan (rujuk format penulisan). Penerbitan Metahumaniora dilakukan tiga kali dalam setahun, yaitu April, September, dan Desember. Meskipun demikian, penerimaan naskah dilakukan sepanjang tahun. Proses penyerahan, penilaian, dan penerbitan naskah seluruhnya dilakukan secara online. Metahumaniora menerapkan proses peer review. Semua artikel yang dikirimkan akan direview secara tertutup (blind review) oleh para mitra bestari. Pada umumnya, setiap artikel akan direview oleh satu sampai dua orang reviewer. Tanggapan dari para reviewer ini akan dijadikan landasan bagi Editor untuk menentukan apakah suatu artikel dapat diterima (accepted), diterima apabila direvisi (accepted with major/minor revision), atau ditolak (rejected).
Articles
263 Documents
RESISTENSI PRIBUMI TERHADAP PANDANGAN ORIENTALIS KOLONIAL DALAM FILM BUMI MANUSIA (2019)
Nahla Faizah;
Joesana Tjahjani
Metahumaniora Vol 11, No 3 (2021): METAHUMANIORA, DESEMBER 2021
Publisher : Universitas Padjadjaran
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24198/metahumaniora.v11i3.35771
Indonesia yang dulu bernama Hindia-Belanda pernah menjadi sasaran para kaum kolonial untuk menjalankan praktik dominasinya selama berabad-abad. Eksploitasi, konflik, perlawanan serta otonomi menjadi catatan sejarah bagi Indonesia pada masa kolonial. Isu mengenai kolonialisme hari ini masih banyak muncul dalam berbagai media kehidupan, serperti misalnya pada media film. Pada tahun 2019, Falcon Pictures merilis film Bumi Manusia sebagai adaptasi dari novel karya sastrawan legendaris indonesia, Pramoedya Ananta Toer. Film yang disutradarai oleh Hanung Bramantyo ini menceritakan kebingungan tokoh utama Minke yang terjebak di antara kekaguman dan kebencian terhadap kebudayaan dan kemajuan inovasi dan teknologi bangsa Eropa yang pada saat itu sedang menduduki Hindia-Belanda. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana film Indonesia sebagai bagian dari negara Timur merepresentasikan pandangan Orientalisme Barat pada masa kolonialisme dalam film Bumi Manusia (2019). Analisis dilakukan dengan menggunakan pendekatan poskolonial Edward Said, teori struktur film Boggs & Petrie serta struktur drama Gustav Freytag. Hasil penelitian menujukkan bahwa film ini menampilkan adanya diskursus tandingan (counter discourse) terhadap Orientalisme yang diupayakan sebagai pembalikkan stereotip Timur terhadap Barat melalui re-presentasi atau penggambaran kembali pribadi pribumi yang sesungguhnya sebagai alat resistensi pribumi di masa kolonial.
SEJARAH MARITIM FILIPINA: ETNIS, AGAMA, KEBUDAYAAN, DAN KEHIDUPAN SUKU-SUKU MARITIM DI LAUT SULU ABAD KE-18 – 20.
Heru Mulyanto
Metahumaniora Vol 11, No 3 (2021): METAHUMANIORA, DESEMBER 2021
Publisher : Universitas Padjadjaran
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24198/metahumaniora.v11i3.36423
Penelitian ini bertujuan menjelaskan kebudayaan-kebudayaan masyarakat maritim di Laut Sulu, etnis-etnis pendukungnya, agama yang dianut, dan kebudayaan masyarakat di wilayah Mindanao hingga ke pesisir Kalimantan Utara. Selain itu, dalam penelitian ini dibahas pula perbedaan jenis-jenis kapal yang digunakan oleh etnis maritim Laut Sulu dengan jenis-jenis kapal lain di Asia Tenggara. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif-kualitatif dengan sumber literatur yang diwujudkan melalui tahapan-tahapan penelitian sejarah, yaitu heuristik, verifikasi, interpretasi, dan historiografi. Hasil yang di dapat penelitian ini menunjukkan kesimpulan bahwa peristiwa perompakan pada abad ke-18 yang terjadi di Asia Tenggara dilatarbelakangi oleh kepentingan etnis-etnis maritim di Laut Sulu dan sekitarnya yang terdesak oleh tuntutan perdagangan internasional dan sebagian besar masyarakatnya berafiliasi di Maguindanao (Mindanao tengah) dan Kesultanan Sulu. Perampokan, penawanan dan perbudakan berperan penting dalam pembentukan struktur sosial dan ekonomi masyarakat ini. Budaya nomaden mereka juga masih dilestarikan hingga kini dan karena hal tersebut, sebagian besar suku laut seberti Sama-Bajau tidak memiliki kewarganegaraan manapun dan hidup di atas perahu dengan berpindah-pindah pulau.
AGAMA DAN IRONI DALAM FILM HIJAB KARYA HANUNG BRAMANTYO
Lilis Suryani;
Aquarini Priyatna;
Ari J. Adipurwawidjana
Metahumaniora Vol 11, No 3 (2021): METAHUMANIORA, DESEMBER 2021
Publisher : Universitas Padjadjaran
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24198/metahumaniora.v11i3.34675
AbstrakFilm Hijab (2015) karya Hanung Bramantyo menyajikan kisah tentang proses pembuatan film oleh tokoh Chucky. Film Chucky itu sendiri merekam kisah empat tokoh perempuan yang bercerita tentang alasan mereka berhijab dan pengalaman hidupnya. Tulisan ini bertujuan untuk menunjukkan agama dan ironi yang ditampilkan baik dalam film Hanung maupun film Chucky. Film Hijab menunjukkan bagaimana Hanung dalam filmnya menyampaikan isu religius yang punya kesadaranbahwa filmnya akan menuai kontroversi jika membahas isu religiositas. Film Hijab ini tampaknya dibuat sebagai respons terhadap kontroversi yang sebelumnya diakibatkan oleh film yang dibuatnya. Dengan demikian, film ini merupakan film tentang permasalahan film, atau metafilm. Metafilm ini beroperasi dengan peranti ironi yang merupakan elemen penting dalam struktur genre komedi. Jadi bukan hanya agama yang dikomedikan sebagai alternatif pandangan supaya bisa dinegosiasi tetapi pembuatan film pun dinegosiasikan. Hanung sadar ada polemik bahwa setiap membuat film religius sering menuai kontroversi, tetapi Hanung tetap menunjukkan di dalam filmnya. Hanung menunjukkannya dengan metafilm yang diwakili oleh tokoh Chucky sebagai sutradara. Ironi menunjukkan adanya kesenjangan pengetahuan antartokoh, pembaca dan penonton. Kesenjangan itu membuat adanya ruang negosiasi dan menciptakan aspek humor dalam komedi. Agama dan film dikomedikan untuk membuka ruang pandangan alternatif. Kata kunci: Hanung Bramantyo, agama, ironi AbstractThe film Hijab (2015) by Hanung Bramantyo presents a story about the making of a film that directed by Chucky. Chucky's film itself records the story of four female characters who tell their reasons for wearing the hijab, and how they experiencing life. This paper aims to show how the religion and the irony that be shown in both the Hanung and Chucky films. The Hijab film itself shows how Hanung in his film conveys religious issues which was generate controversy if it discusses the issue of religiosity. This Hijab film seems to be made to responsed the controversy that previously caused by the film he made. Thus, this film is a film that shown us about the problem of making a film, or a metafilm. This metafilm operates by the device of irony which is an important element in the structure of the comedy genre. So it was not only religion that was being made as a comedy which shown us an alternative point of view so that it can be negotiated, but filmmaking itself is also being negotiated. Hanung is aware that there is a polemic if he makes a religious film, he often gets controversy, but still Hanung shows it in his film. Hanung shows it by a metafilm that be represented by Chucky's character as the director. The Irony shows that there is a knowledge gap between characters, readers and viewers. The gap itself creates a space for negotiation and creates an aspect of humor in comedy. Religion in the film itself was comedic that open space for alternative views. Keywords:Hanung Bramantyo, religi , irony
SUBJEKTIVITAS PEREMPUAN DALAM FILM ARINI (2018) SEBAGAI KARYA ALIH WAHANA
Jena Sinanda
Metahumaniora Vol 11, No 3 (2021): METAHUMANIORA, DESEMBER 2021
Publisher : Universitas Padjadjaran
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24198/metahumaniora.v11i3.36722
Film merupakan media hiburan yang paling banyak diminati saat ini. Ide cerita yang dikembangkan dalam film salah satunya berasal dari novel populer. Banyaknya penikmat novel populer menjadikan karya tersebut berpotensi untuk dialihwahanakan dalam bentuk film. Film Arini (2018) yang disutradarai oleh Ismail Basbeth merupakan salah satu film yang diadaptasi dari novel populer Mira. W berjudul Masih Ada Kereta yang Akan Lewat (1982). Proses alih wahana dari novel ke film Arini menunjukkan adanya ideologi pembuat film terkait isu perempuan yang berkembang pada konteks sosial-budaya saat itu. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap bagaimana ideologi baru terkait subjektivitas perempuan direpresentasikan dalam film Arini (2018) sebagai karya alih wahana. Kajian struktural Todorov dan Bordwell & Thompson digunakan untuk menganalisis unsur naratif novel dan film serta memperlihatkan transformasi teks terkait posisi dan pergerakan perempuan. Selanjutnya, teori adaptasi Linda Hutcheon digunakan untuk mengkaji adaptasi film berdasarkan perbedaan struktural. Teori tersebut dielaborasikan dengan kerangka berpikir Simone de Beauvoir untuk menelaah lebih dalam terkait ideologi subjektivitas perempuan dalam alih wahana dari novel ke film Arini (2018). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa film Arini (2018) karya Ismail Basbeth merepresentasikan citra perempuan masa kini yang berpandangan terbuka dan berpartisipasi aktif di ranah publik sebagai upaya pembuktian eksistensi diri. Film tersebut mengukuhkan subjektivitas perempuan dengan mengaburkan narasi perselingkuhan dan lebih menekankan pada kesadaran diri perempuan sebagai subjek untuk memperoleh kebermaknaan hidup secara utuh.
VOICES OF THE SCIENTIFIC AND THE SUPERNATURAL IN LESTI, NYATAKAH DIA?, A SCIENCE FICTION NOVEL BY SOEHARIO PADMODIWIRIO
Sandya Maulana
Metahumaniora Vol 11, No 3 (2021): METAHUMANIORA, DESEMBER 2021
Publisher : Universitas Padjadjaran
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24198/metahumaniora.v11i3.37527
Artikel ini bertujuan memaparkan sikap terhadap sains dan folklor dalam Lesti, Nyatakah Dia?, sebuah novel fiksi sains karya Soehario Padmodiwirio (2006). Novel ini menampilkan upaya memediasi hubungan antara sains dan folklor Jawa melalui interaksi antara sains spekulatif dan unsur-unsur folklor Jawa, yang dimanifestasikan dalam karakter Lesti, yang digambarkan sekaligus sebagai makhluk asing luar angkasa berteknologi tinggi dan makhluk mistik supernatural. Pemaparan ini penting untuk memahami motif kompromi antara sains dan folklore yang berulang dalam fiksi sains Indonesia.
MEMBACA SASTRA, MENYOAL REALITAS POLITIK PADA TAHUN 2005 MELALUI CERPEN ROKOK MBAH GIMUN KARYA F RAHARDI
Trisna Gumilar;
Baban Banita;
Mega Subekti;
Rasus Budhyono
Metahumaniora Vol 11, No 3 (2021): METAHUMANIORA, DESEMBER 2021
Publisher : Universitas Padjadjaran
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24198/metahumaniora.v11i3.36953
Cerpen Rokok Mbah Gimun karya F. Rahardi yang dimuat di harian Kompas pada tanggal 10 Juli 2005 merupakan sebuah karya sastra yang kontekstual dengan realitas politik yang terjadi pada tahun itu, yaitu pilkada (pemilihan kepala daerah). Tulisan ini mencoba mengungkapkan sisi lain dari masyarakat yang terlibat secara langsung dalam peristiwa politik yang baru pertama dilangsungkan dalam sejarah Indonesia merdeka. Utamanya, masyarakat yang direpresentasikan melalui sosok bernama Mbah Gimun dalam merespon praktik-praktik kotor terkait dengan pemilihan bupati di sebuah daerah di pulau Jawa. Penelitian ini menggunakan pendekatan semiotika dan argumentasi Lotman (1990) yang menganggap cerpen tidak saja sebagai sebuah karya sastra tetapi juga dokumen budaya yang memotret realitas sosial masyarakat. Cerpen ini terlihat mencoba menawarkan sebuah gagasan cerdas melalui suara Mbah Gimun sebagai representasi masyarakat kelas bawah dalam menghadapi suatu situasi politik yang carut-marut dalam pilkada, yaitu menghadapinya dengan keluguan sekaligus di saat yang sama menunjukkan resistensi dan kemandiriannya.
NOMINA DALAM BAHASA RUSIA DAN INDONESIA: ANALISIS KONTRASTIF DAN ANALISIS KESALAHAN
Tri Yulianty Karyaningsih;
Ladinata Ladinata;
Supian Supian
Metahumaniora Vol 11, No 3 (2021): METAHUMANIORA, DESEMBER 2021
Publisher : Universitas Padjadjaran
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24198/metahumaniora.v11i3.37046
Penelitian ini membahas nomina dalam bahasa Rusia dan Indonesia dengan menelusuri perbedaan-perbedaan yang dapat menjadi kendala dalam kondisi bilingual, seperti dalam pembelajaran bahasa, dan dapat menjadi salah satu penyebab terjadinya kesalahan berbahasa. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori morfologi dan sintaksis mengenai nomina dari Bobrova, Chaer, Effendi, dan Kostomarov & Maksimov. Metode penelitian adalah metode deskriptif-kualitatif dengan model analisis kontrastif dan analisis kesalahan. Data dalam analisis kontrastif diambil dari buku teks bahasa Rusia, sementara data kesalahan berbahasa diambil dari lembar kerja mahasiswa Sastra Rusia Unpad pada semester 6. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kategori gramatikal gender, jumlah, dan kasus merupakan perbedaan mendasar yang ada pada nomina bahasa Rusia dan Indonesia, dan pada kategori-kategori gramatikal inilah terjadi banyak kesalahan penggunaan nomina bahasa Rusia oleh para mahasiswa Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa sistem gramatika yang sangat berbeda menjadi faktor kesulitan pada kondisi bilingual, seperti dalam pembelajaran bahasa asing. Untuk itu, diperlukan penguatan mendasar dalam pengenalan dan pemahaman ciri morfologis dan sintaktis nomina bahasa Rusia, serta penggunaannya, antara lain melalui pengamatan terhadap nomina dalam kalimat pada suatu teks bahasa Rusia.
Konstruksi Fatherhood Dalam Film 27 Steps Of May
Rifki Zamzam Mustafa;
Aquarini Priyatna;
Ari J. Adipurwawidjana
Metahumaniora Vol 12, No 1 (2022): METAHUMANIORA, APRIL 2022
Publisher : Universitas Padjadjaran
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24198/metahumaniora.v12i1.34410
Artikel ini bertujuan untuk menunjukkan penggambaran konstruksi kompleks peran bapak (fatherhood) dalam film 27 Steps of May. Film ini memperlihatkan peran bapak (fatherhood) yang dikonstruksi secara kompleks dalam kontinum gender (maskulinitas dan femininitas) melalui teknik kamera dan mise-en-scene. Kompleksitas fatherhood ditemukan dalam tokoh Bapak, melalui adegan-adegan yang memperlihatkan aktivitas serta perannya sebagai orang tua tunggal bagi May yang dianalisis melalui konsep fatherhood menurut Donaldson dikaitkan dengan konsep hegemoni maskulinitas yang ditawarkan oleh Connell dan kajian film menurut Turner. Penggambaran-penggambaran interaksi yang minim dialog antara Bapak dan May, pekerjaan Bapak dan interaksinya dengan tokoh Kurir dan Pesulap menjadi indikator-indikator yang berperan dalam mengonstruksi fatherhood. Melalui pembacaan ketat yang diterapkan dalam kajian ini, dapat ditemukan bahwa penggambaran peran Bapak dalam film ini tidak semata-mata menampilkan bapak sebagai pihak sentral dalam keluarga, namun juga sebagai pihak yang bergantung pada pihak lain khususnya dalam ranah emosional. Fatherhood juga diperlihatkan sebagai bentuk perlintasan antara peran gender maskulin dan feminin, yang merupakan reaksi terhadap hegemoni maskulinitas sebagai bentuk upaya pengikisan peran bapak yang dominan dalam suatu keluarga.
Adaptasi Nama-Nama Tokoh dalam Drama “Inspektur Jendral” Karya N.V. Gogol
Ani Rachmat
Metahumaniora Vol 12, No 1 (2022): METAHUMANIORA, APRIL 2022
Publisher : Universitas Padjadjaran
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24198/metahumaniora.v12i1.38365
Nama-nama tokoh dalam karya-karya Gogol senantiasa mencerminkan karakter tokoh tersebut, begitu pula dengan nama tokoh dalam drama “Inspektur Jendral”. Sistem antroponim Rusia dan Eropa memiliki banyak kesamaan. Nama lengkap meliputi nama keluarga, nama depan, dan nama tengah. Ciri khas nama orang Rusia jika dibandingkan dengan nama Eropa pada umumnya adalah nama tengah yang berasal dari nama ayahnya, sering disebut patronimik. Penelitian ini membahas adaptasi nama tokoh drama “Inspektur Jendral” karya Nikolai Vasilevich Gogol dalam dua pementasan di Indonesia, di Bandung dan Jakarta, dengan judul yang sama. Metode penelitian menggunakan analisis perbandingan, etimologi, rekonstruksi nama, dan stilistika. Hasil analisis menunjukkan bahwa adaptasi nama tokoh drama ke dalam Bahasa Indonesia disesuaikan dengan tempat dan latar budaya pertunjukan lakon tersebut. Dalam adaptasi yang dilakukan oleh N. Riantiarno nama-nama tersebut menggunakan nama tokoh pewayangan, sedangkan adapatasi yang dilakukan oleh Arya Sanjaya menggunakan nama bangsawan Sunda. Arti nama-nama tokoh dalam Bahasa Rusia, tidak menunjukkan hal yang positif sebagaimana karakter tokohnya, sedangkan adapatasi dalam karya Arya Sanjaya menunjukkan hal yang sebaliknya.
Rekonstruksi Perempuan Jawa: Alih wahana Surti dan Tiga Sawunggaling karya Goenawan Mohamad Nella Putri Giriani
Nella Putri Giriani
Metahumaniora Vol 12, No 1 (2022): METAHUMANIORA, APRIL 2022
Publisher : Universitas Padjadjaran
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24198/metahumaniora.v12i1.37134
Penelitian ini membahas tentang perubahan konstruksi perempuan Jawa pada tokoh Surti dalam novel Surti+3 Sawunggaling (2018) yang merupakan alih wahana dari naskah drama monolog yang berjudul “Surti dan Tiga Sawunggaling”. Novel tersebut menghadirkan penambahan tokoh dan pengembangan cerita yang tidak ada dalam naskah monolog. Selain itu, adanya perbedaan antara novel dan naskah berupa perubahan sifat Surti menjadikan proses alih wahana ini menarik untuk diteliti. Tujuan penelitian ini ialah menampilkan rekonstruksi perempuan Jawa dalam tokoh Surti yang memiliki sifat setia, bekti, sopan, legawa (menerima), penurut, dan pemaaf menjadi sosok Surti yang berbeda. Analisis dalam penelitian ini menggunakan teori alih wahana Sapardi Djoko Damono, teori gender dari Oakley, konsep perempuan Jawa dari Serat Cendrarini dan Centhini, serta konsep perempuan di keluarga Jawa dari Geertz. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa novel Surti+3 Sawunggaling memberikan “ruang” dan konstruksi yang berbeda bagi perempuan untuk “meruntuhkan” budaya Patriarki yang terdapat dalam keluarga Jawa.Kata kunci: novelisasi; perempuan jawa; gender; alih wahana