cover
Contact Name
Kusroni
Contact Email
-
Phone
+628563459899
Journal Mail Official
jurnal.kaca.alfithrah@gmail.com
Editorial Address
Jurusan Ushuluddin Sekolah Tinggi Agama Islam Al Fithrah Surabaya Jl. Kedinding Lor No.30 Surabaya, Jawa Timur
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Kaca (Karunia Cahaya Allah) : Jurnal Dialogis Ilmu Ushuluddin
ISSN : 22525890     EISSN : 25976664     DOI : https://doi.org/10.36781/kaca
Core Subject : Religion, Education,
KACA (Karunia Cahaya Allah) : Jurnal Dialogis Ilmu Ushuluddin diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Agama Islam Al Fithrah Surabaya. Jurnal ini memuat kajian-kajian keislaman yang meliputi Tafsir, Hadis, Tasawuf, Pemikiran Islam, dan kajian Islam lainnya. Terbit satu kali setahun, yaitu bulan Februari-Agustus.
Articles 36 Documents
Kehidupan Setelah Kematian Bashori, Achmad Imam
KACA (Karunia Cahaya Allah): Jurnal Dialogis Ilmu Ushuluddin Vol 10 No 1 (2020): Februari
Publisher : Jurusan Ushuluddin Sekolah Tinggi Agama Islam Al Fithrah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36781/kaca.v10i1.3070

Abstract

Pemahaman yang mendalam tentang kandungan ayat al-Qur’an, bagi seorang mufasir mewajibkan memahami dengan baik serta mendalami ilmu-ilmu atau alat bantu yang berkaitan dengan dunia tafsir. Salah satu alat bantu dan ilmu yang harus dikuasai adalah ilmu asbab al-nuzul. Asbab al-nuzul merupakan piranti yang tidak boleh ditinggalkan dalam menafsirkan dan menakwilkan Qur’an. Dalam pandangan Abd al-Qadir Mansur, saat menafsirkan sebuah ayat, seorang mufasir harus benar-benar memperhatikan dengan seksama asbab al-nuzul dari sebuah ayat. Sebab dengan mengetahui asbab al-nuzul seorang mufasir dapat mengejawentahkan makna yang terkandung dari sebuah ayat dengan dalam serta mendekatkan penafsiran pada kebenaran. Oleh karenanya tak salah bila Sahiron Syamsuddin dalam tesisnya yang berjudul An Examination of Bint al-Shati’’s Methode of Interpreting the Qur’an mengatakan bahwa tiada perselisihan paham dalam urgensi ilmu asba>b al-nuzu>l bagi seorang mufasir saat melakukan interpretasi ayat Qur’an. Hal itu berguna ketika ada pertanyaan tentang bagaimana aplikasi sebuah ayat saat ditemukan ketidakpahaman pada tekstualitas ayat. Pada taraf yang lebih jauh, jika kita menelaah isi al-Qur’an maka akan ditemukan ayat-ayat al-Qur’an yang turun tanpa adanya asba>b nuzu>l-nya. Umumnya diketahui bahwa ayat yang turun tanpa asba>b al-nuzu>l adalah ayat-ayat yang berkaitan dengan keimanan pada Allah, hari akhir, problematika tauhid, sifat surga dan neraka, cerita-cerita umat terdahulu, serta yang tak ketinggalan cerita sepak terjang para nabi-nabinya. Adapun asba>b al-nuzu>l menemukan perannya yang disignifikan pada tashri’ hukum halal-haram, perundang-undangan serta legal-formal aturan-aturan yang berkaitan dengan interaksi dalam beragama. Biasanya asba>b al-nuzu>l muncul oleh sebuah kejadian ataupun pertanyaan yang datang dari para sahabat Nabi. Kata kunci: Kehidupan, kematian, Ilmu Sabab Nuzul
Perkembangan Ilmu Hadis Periode Keempat dan Kelima Bistara, Raha
KACA (Karunia Cahaya Allah): Jurnal Dialogis Ilmu Ushuluddin Vol 10 No 1 (2020): Februari
Publisher : Jurusan Ushuluddin Sekolah Tinggi Agama Islam Al Fithrah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36781/kaca.v10i1.3071

Abstract

Perkembangan ilmu hadis mencapai puncaknya pada masa keempat dan disempurnakan pada masa kelima. Mengapa dianggap demikian, karena pada masa keenam proses pembelajaran ilmu hadis berhenti dan tidak ada yang melanjutkan suatu discourse tentang ilmu hadis yang nanti baru akan muncul kembali pada masa ketujuh. Dalam suatu proses pengkajian keilmuan tidak bisa dilepaskan dari adayanya seorang tokoh yang meprakasia perubahan pada masanya bebgitu juga dengan ilmu hadis pada masa kempat dan kelima dengan memghasilkan tohoh seperti Imama Malik bin Anas dan Isma’il bin Ibrahim atau yang sering kita kenal sebagai Imam al-Bukhari. Mereka berdua adalah tokoh yang paling menonjol pada masanya walaupun banyak tokoh-tokoh yang lain. Maka dari itu pada masa keempat dan kelima bisa dikatakan sebagai masa Revolusioner dalam suatu discourse tentang hadis. Kata kunci: Imam Malik, Imam al-Bukhari, Revolusioner, dan Ilmu Hadis
Hukuman Riddah dalam Perspektif Ijtihad Progresif Abdullah Saeed Firdaus, Mohamad Anang
KACA (Karunia Cahaya Allah): Jurnal Dialogis Ilmu Ushuluddin Vol 10 No 1 (2020): Februari
Publisher : Jurusan Ushuluddin Sekolah Tinggi Agama Islam Al Fithrah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36781/kaca.v10i1.3072

Abstract

Hukum Islam sekarang berada di tengah arus perubahan dan perkembangan zaman. Kaummuslimdituntut harus mampu menguasai dasar-dasar Islam dan problematika kontemporer untuk menemukan solusi melalui proses berfikir metodologis. Sanksi berupa hukuman mati terhadap pelaku riddah sebagaimana yang di-nash-kan Nabi Saw haruslah dikaji menurut konteks sosio-historis yang melingkupinya. Ketika nashal-Qur’ân dan Hadis dipisahkan dari konteksnya, maka akan mengakibatkan kesalahan pemahaman yang mempunyai dampak yang luas. Islam dipandang sebagai agama yang mengekang pemeluknya, dan tidak menghargai nyawa dan nilai kemanusiaan. Abdullah Saeed menawarkan apa yang ia sebut dengan Ijtihad Progresif, yang bertumpu pada konteks sebuah nash. Makalah ini akan mengkaji hukum riddah dalam perspektif metodologi Ijtihad progresif Abdullah Saeed. Kata Kunci: Riddah, Ijtihad Progresif, Tujuh Pendekatan.
Mengurai Makna Kemiripan Narasi Al-Qur’an melalui Metode Tafsir Muqarin Kusroni, Kusroni
KACA (Karunia Cahaya Allah): Jurnal Dialogis Ilmu Ushuluddin Vol 10 No 1 (2020): Februari
Publisher : Jurusan Ushuluddin Sekolah Tinggi Agama Islam Al Fithrah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36781/kaca.v10i1.3073

Abstract

Tulisan ini mengetengahkan salah satu metode dalam khazanah tafsir al-Qur’an, yakni metode muqarin atau perbandingan. Sebagai salah satu dari empat metode tafsir yang telah tumbuh dan berkembang di kalangan sarjana al-Qur’an, yakni ijmali, tahlili, mawd}u‘i, dan muqarin bisa dibilang sebagai metode yang cukup populer dan eksis hingga sekarang. Hal ini terbukti dengan banyaknya kajian dan tugas akhir mahasiswa prodi Tafsir di PTKI yang menggunakan metode tafsir muqarin. Kajian muqarin yang dilakukan oleh para mahasiswa biasanya membandingkan pendapat antar mufasir lintas keilmuan, kecenderungan maupun masa hidupnya. Bisa juga berupa perbandingan antara mufasir klasik dengan modern, sunni dengan syi’i, atau juga dengan mufasir sealiran atau ideologi. Tulisan ini mencoba memberikan sumbangsih kajian tafsir muqarin dengan tipe atau model membandingkan antar ayat dalam al-Qur’an yang memiliki kemiripan secara redaksional. Mengingat karya tulis tugas akhir belum banyak yang melakukan tipe muqarin jenis ini, diharapkan dengan tulisan ini menjadikan kajian tafsir muqarin model perbandingan antar ayat bisa lebih berkembang dalam diskursus kajian tafsir di zaman modern ini. Tulisan ini menemukan bahwa, kemiripan redaksi ayat dalam al-Qur’an memiliki makna tersendiri, dalam artian tidak hanya bermakna tunggal. Hal ini semakin menunjukkan atas eksistensi salah satu nilai kemu’jizatan al-Qur’an dalam aspek kebahasaan (al-‘ijaz al-lughawi). Kata kunci :tafsir muqarin, kemiripan redaksi al-Qur’an.
Memahami Tafsir Nuzuli Al-Qur’an Al Zahrah, Fatimah
KACA (Karunia Cahaya Allah): Jurnal Dialogis Ilmu Ushuluddin Vol 10 No 2 (2020): Agustus
Publisher : Jurusan Ushuluddin Sekolah Tinggi Agama Islam Al Fithrah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36781/kaca.v10i2.3075

Abstract

Tulisan ini terfokus pada metode tafsir nuzuli dalam penafsiran al-Qur’an yang digunakan oleh M. Quraish Shihab dalam memahami kandungan al-Qur’an yang berjudul Tafsir al-Qur’an al-Karim: Tafsir atas Surat-surat Pendek Berdasarkan Urutan Turunnya Wahyu. Baginya memahami al-Qur’an yang menyesuaikan susunan kronologis merupakan sebuah pemahaman yang membuat pembaca dapat melihat proses turunnya ayat-ayat al-Qur’an sebagai petunjuk ilahi yang diberikan pada Nabi Saw. Selain itu, metode tafsir nuzuli merupakan pemahaman yang akan menyentuh aspek historis al-Qur’an dan memberikan makna yang objektif, yang tujuannya agar sesuai dengan zaman kekinian. Dalam pemilihan surat-surat al-Qur’an, buku ini terfokus pada surat-surat pendek, yang masuk dalam perioderisasi Makkah. Di sisi lain, pemilihan suratnya hanya pada surat-surat tertentu, yang berkaitan dengan persoalan hidup beragama, bermasyarakat, dan berbangsa. Sebagaimana motivasi dan visinya dalam menafsirkan al-Qur’an agar sesuai dengan kondisi dan zaman saat ini, serta dapat dipahami oleh kaum awam. Dari itu dapat terlihat tafsir nuzuli yang digunakannya juga bernuansa adab al-ijtima’i.
Memahami Hadis Tentang Isbal Ummi, Za'im Kholilatul
KACA (Karunia Cahaya Allah): Jurnal Dialogis Ilmu Ushuluddin Vol 10 No 2 (2020): Agustus
Publisher : Jurusan Ushuluddin Sekolah Tinggi Agama Islam Al Fithrah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36781/kaca.v10i2.3080

Abstract

Kajian mengenai hadis sampai saat ini telah mengalami perkembangan. Mulai dari pembahasan mengenai kualitas sampai makna yang terkandung di dalam teksnya. Teks hadis mampu dipahami dengan tepat jika menggunakan kajian pemahaman hadis. Salah satunya adalah dengan menggunakan pendekatan hermeneutik. Tulisan ini mengulas sebuah kitab syarah hadis yang sangat terkenal dan banyak digunakan sebagai rujukan. Kitab syarah ini dikenal sebagai kitab syarah terbaik karena Imam Nawawi tidak hanya mengutip dan mencantumkan pendapat-pendapat ulama saja, tetapi juga memberikan penjelasan tambahan mengenai ilmu pengetahuan terkait. Hal yang melatar belakangi penulisan syarah ini adalah adanya kesadaran Imam Nawawi terhadap menurunnya minat masyarakat pada masa itu terhadap kajian hadis.Pemilihan kitab Sahih Muslim ini, karena kitab ini termasuk dua adalah dua kitab hadis yang dianggap paling sahih dan mempunyai otoritas paling tinggi di dalam dunia ilmu pengetahuan Islam. Dalam menulis kitab ini Imam Nawawi mengikuti sistematika penulisan Imam Muslim. Adapun metode yang digunakan adalah metode muqaran dengan bentuk pemaparan bi al-ma’tsur. Imam Nawawi menggunakan pendekatan bahasa, pendekatan teologis, pendekatan sosio-hitoris, pendekatan psikologi, dan pendekatan antropologi yang dapat diterapkan dalam memahami hadis Nabi.
Makna Hijrah Perspektif Al-Qur’an dan Hadis Royyani, Izza
KACA (Karunia Cahaya Allah): Jurnal Dialogis Ilmu Ushuluddin Vol 10 No 2 (2020): Agustus
Publisher : Jurusan Ushuluddin Sekolah Tinggi Agama Islam Al Fithrah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36781/kaca.v10i2.3081

Abstract

Fenomena hijrah yang terjadi di masyarakat menimbulkan berbagai respon dari berbagai kalangan, termasuk media dan kalangan peneliti. Pro kontra di media seputar hijrah merupakan bentuk pemahaman masing-masing kelompok. Atas fenomena yang terjadi tersebut, maka perlu adanya tinjauan terhadap hadis yang menerangkan tentang hijrah serta ayat al-Qur’an yang mendukung agar dapat dipahami secara utuh makna hijrah yang sesungguhnya. Penelitian ini menyimpulkan bahwasanya ide moral yang terdapat dalam hijrah merupakan perubahan dalam berbagai dimensi kehidupan, hijrah dengan niat sungguh-sungguh menjalankan perintah Allah, serta adanya nilai kemanusiaan dan perdamaian dalam kehidupan.
Nilai-Nilai Pendidikan Tauhid, Akhlak, dan Kepemimpinan dalam Kisah Nabi Ibrahim As Faruq, Umar Al; Arifa, Zakiyah
KACA (Karunia Cahaya Allah): Jurnal Dialogis Ilmu Ushuluddin Vol 10 No 2 (2020): Agustus
Publisher : Jurusan Ushuluddin Sekolah Tinggi Agama Islam Al Fithrah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36781/kaca.v10i2.3111

Abstract

Kisah Nabi Ibrahim yang banyak dijelaskan di dalam al-Qur’an mempunyai relevansi terhadap pendidikan Islam. Tulisan ini ingin menelusuri bagaimana nilai pendidikan ketauhidan, akhlak dan kepemimpinan (leadership) Nabi Ibrahim AS dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam. Jenis penelitian ini adalah penelitian pustaka dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Pengumpulan data diperoleh dari jurnal, artikel dan buku serta ayat-ayat Qur’aniyah yang terdapat dalam beberapa surat yang terkandung dalam al-Qur’an seperti surah Maryam, Al-Shaffat, An-Nujum, Hud, Al-Anbiya’, Al-An’am, An-Nahl, Al-Baqarah, dan Al-Mumtahanah. Hasilnya menunjukkan bahwa terdapat nilai-nilai pendidikan ketauhidan dari Nabi Ibrahim yang dapat dijadikan rujukan dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) seperti keteguhan hati tanpa keraguan dalam bertauhid kepada Allah SWT, juga pendidikan akhlak seperti nilai kejujuran, kesabaran, kesantunan, menepati janji, keberanian, kedermawanan, ramah dan kelembutan. Sedangkan dalam bidang kepemimpinan, Ibrahim adalah seorang pemimpin yang berani, visioner dan memiliki suri tauladan yang baik bagi umatnya, serta bertanggungjawab.
Reinterpretasi Kata Qiwamah dalam Al-Qur’an Surah Al-Nisa’: 34 Perspektif Contextual Approach Abdullah Saeed Efendi, Mitha Mahdalena
KACA (Karunia Cahaya Allah): Jurnal Dialogis Ilmu Ushuluddin Vol 10 No 2 (2020): Agustus
Publisher : Jurusan Ushuluddin Sekolah Tinggi Agama Islam Al Fithrah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36781/kaca.v10i2.3126

Abstract

Adanya tulisan ini merupakan suatu upaya yang dilakukan oleh penulis dalam penggunaan tafsir kontekstual yang diperkenalkan oleh Abdullah Saeed sebagai penyempurna dari teori yang dimiliki oleh Fazlur Rahman yakni double movement. Dalam tulisan ini penulis memaparkan perihal kepemimpinan perempuan khususnya mengenai kata qiwamah yang menjadi sebuah polemik dalam ruang lingkup keilmuwan terutama di bidang tafsir. Hal ini tentunya didasari dengan beberapa pendapat yang disertai dengan dalil-dalil yang saling berhubungan satu sama lainnya. Sehingga kata qiwamah itu sendiri dapat dimaknai sebagai pemimpin yang memiliki sisi keistimewaan perempuan dibandingkan laki-laki yang memiliki kemampuan dalam memberikan nafkah kepada istri. Sehingga dengan demikian, sangat diperlukan adanya kajian lebih lanjut terkait kata qiwwamah itu sendiri mengingat pada saat ini tidak hanya laki-laki saja yang bisa menjadi pemimpin bahkan sebaliknya.
Interpretasi Sufistik dalam Al-Qur’an Syatori, Ahmad
KACA (Karunia Cahaya Allah): Jurnal Dialogis Ilmu Ushuluddin Vol 10 No 2 (2020): Agustus
Publisher : Jurusan Ushuluddin Sekolah Tinggi Agama Islam Al Fithrah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36781/kaca.v10i2.3127

Abstract

Kajian ilmiah ini di dalamnya memuat berbagai ulasan tentang sisi tasawuf dan corak pola pemikiran ijtihad para sufistik dalam memahami isi kandungan makna al-Qur'an secara ishari melalui pendekatan-pendekatan intuitif. Sebagaimana kita ketahui, bahwa tafsir adalah merupakan instrumen alat pengetahuan yang mengkaji dan membahas tentang berbagai maqasid (maksud dan tujuan) yang terkandung dalam al-Qur’an sesuai dengan batasan kemampuan manusia melalui metode penafsiran dengan berbagai disiplin ilmu tafsir. Oleh karena itulah, tafsir adalah salah satu ilmu ushuludin yang paling pokok dan utama serta memiliki kedudukan yang sangat tinggi di antara ilmu-ilmu ushuludin lainnya. Sebab, objek kajian pembahasannya adalah wahyu Allah. Adanya corak penafsiran yang beraneka-ragam adalah sebagai bukti akan kebebasan dalam penafsiran al-Quran. Namun demikian, tentu tetap dalam batas-batas koridor pakem aturan disiplin ilmu tafsir. Dalam dunia tafsir, corak-corak tafsir yang ada dan dikenal selama ini adalah corak bahasa, corak filasafat- teologi, corak penafsiran ilmiah, corak fiqih-tasawuf dan corak sastra budaya kemasyarakatan serta corak-corak lainnya. Seiring dengan perkembangan tasawuf dan alirannya, para sufi juga ikut berperan serta dan berpartisipasi dalam memberikan sumbangan dan kontribusi terhadap nilai-nilai ajaran Islam yang ada. Mereka berusaha menafsirkan al-Qur’an sesuai dengan faham tasawuf yang mereka anut, yaitu dengan menggunakan metode tafsir secara khusus yang disebut tafsir ishari atau tafsir sufi. Pada umumnya, para ahli tafsir dalam rangka menafsirkan al-Qur'an secara tekstual lebih cenderung pada pemahaman-penahaman makna secara tersurat. Akan tetapi berbeda dengan kelaziman penafsiran para sufistik, mereka di samping memahami sisi al-Qur'an dari segi tekstual, juga lebih menekankan pada pemahaman batiniyah secara tersirat.

Page 3 of 4 | Total Record : 36