Articles
81 Documents
SENAM ERGONOMIK UNTUK MENGATASI HIPERGLIKEMI PADA LANSIA DENGAN DM DI PANTI WREDA HARAPAN IBU SEMARANG
Lilik Nurmalika;
Chandra Hadi Prasetiya
Jurnal Manajemen Asuhan Keperawatan Vol 3 No 2 (2019): Jurnal Manajemen Asuhan Keperawatan
Publisher : Universitas Widya Husada Semarang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33655/mak.v3i2.73
Diabetes melitus adalah ketika tubuh tidak dapat menghasilkan insulin sehingga kelebihan kadar glukosa didalam tubuh yang melebihi batas normal (hiperglikemia). Diabetes melitus jika tidak ditangani dengan tepat dapat menimbulkan berbagai komplikasi dalam tubuh. Tujuan studi kasus ini menyusun resume asuhan keperawatan (pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan, implementasi dan evaluasi). Dalam pemberian senam ergonomik untuk mengatasi hiperglikemi pada lansia dengan DM. Subjek dari penelitian ini adalah dua klien dengan kriteria inklusi dalam studi kasus ini adalah pasien DM dimana kadar glukosa darah yang tinggi diatas 200 mg/dl sebanyak 2 klien, klien mengeluh sering buang air kecil. Lansia yang berusia ± 60 tahun, lansia yang tidak mengalami luka terutama dibagian kaki, lansia yang tidak mengalami gangguan mobilisasi, lansia kooperatif. Hasil studi menunjukkan bahwa ke 2 responden didapatkan hasil klien 1 dan 2 yang telah dilakukan senam ergonomik mengalami penurunan terhadap hiperglikemi. Disimpulkan bahwa senam ergonomik dapat mengatasi hiperglikemi pada lansia dengan DM.
PENERAPAN KOMPRES HANGAT UNTUK MENURUNKAN HIPERTERMIA PADA ANAK DENGAN DEMAM TYPOID
Firda Nofitasari;
Wahyuningsih Wahyuningsih
Jurnal Manajemen Asuhan Keperawatan Vol 3 No 2 (2019): Jurnal Manajemen Asuhan Keperawatan
Publisher : Universitas Widya Husada Semarang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33655/mak.v3i2.74
Hipertermia merupakan suhu inti tubuh diatas kisaran normal di urnal karena kegagalan termoregulasi. Hipertermia atau suhu tubuh yang tinggi dapat diturunkan dengan berbagai cara. Kompres air hangat metode untuk menurunkan suhu tubuh. kompres air hangat adalah kompres pada area yang memiliki pembuluh darah besar menggunakan air hangat. Tujuan studi kasus ini penerapan terapi kompres hangat untuk menurunkan hipertermia pada anak demam typoid. Jenis penelitian ini adalah deskriptif dengan menggunakan metode pendekatan studi kasus. Subjek dari studi kasus ini adalah dua pasien dengan kriteria inklusi mengalami hipertermia, pasien yang bersedia menjadi responden dan bersedia menandatanhani informed consent. Studi kasus ini adalah anak dengan demam typoid mengalami hipertermia. Hasil studi kasus pasien I dan pasien II terjadi penurunan suhu tubuh. jadi dapat disimpulkan bahwa terapi kompres hanngat dapat menurunkan suhu tubuh pada anak demam typoid yang mengalami hipertermia.
GAMBARAN KARAKTERISTIK PEMBIMBING KLINIK
Maria Agustina Ermi Tri Sulistiyowati
Jurnal Manajemen Asuhan Keperawatan Vol 4 No 1 (2020): Jurnal Manajemen Asuhan Keperawatan
Publisher : Universitas Widya Husada Semarang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33655/mak.v4i1.75
Latar Belakang: Pembelajaran praktik klinik memegang peranan penting dalam proses pendidikan mahasiswa keperawatan. Pembelajaran klinik memberikan pengalaman nyata kepada mahasiswa dalam memberikan asuhan keperawatan. Pencapaian ketrampilan mahasiswa dalam praktik klinik tidak lepas dari peran pembimbing klinik. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi karakteristik pembimbing klinik. Metode: Jenis penelitian adalah penelitian deskriptif. Sampel penelitian adalah pembimbing klinik di ruang rawat inap yang digunakan untuk praktik klinik mahasiswa keperawatan. Data dikumpulkan dengan kuesioner. Hasil: Berdasarkan tingkat pendidikannya, sebagian besar pembimbing klinik (53.85 %) adalah Ners. Berdasarkan jenjang karirnya, semua pembimbing klinik (100%) memiliki jenjang karir perawat klinik III. Berdasarkan pelatihan pembimbing klinik yang diikuti, sebagain besar pembimbing klinik (69.23 % ) telah mengikuti pelatihan pembimbing klinik. Simpulan: Sebagian besar pembimbing klinik (53.85%) adalah Ners. Semua pembimbing klinik (100%) memiliki jenjang karir perawat klinik III. Sebagain besar pembimbing klinik (69.23 % ) telah mengikuti pelatihan pembimbing klinik. Saran: Perlu dilakukan peningkatkan kompetensi pembimbing klinik melalui pendidikan formal ataupun non formal.
IDENTIFIKASI LINGKUNGAN UNTUK MENCEGAH RISIKO CEDERA PADA KLIEN DEMENSIA DI PANTI WREDA SEMARANG
Asih Lestari;
Chandra Hadi Prasetiya
Jurnal Manajemen Asuhan Keperawatan Vol 4 No 1 (2020): Jurnal Manajemen Asuhan Keperawatan
Publisher : Universitas Widya Husada Semarang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33655/mak.v4i1.76
Demensia adalah suatu sindrom klinik yang meliputi hilangnya fungsi intelektual dan ingatan atau memori sedemikian berat sehingga menyebabkan disfungsi hidup sehari-hari. Demensia jika tidak ditangani akan menyebabkan hilangnya intelektual atau mudah lupa. Tujuan studi kasus ini menyusun resume asuhan keperawatan (pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan, implementasi dan evaluasi). Dalam pemberian identifikasi lingkungan untuk mencegah risiko trauma atau cedera pada lansia yang mengalami demensia. Subjek dari penelitian ini adalah dua klien dengan kriteria inklusi dalam studi kasus ini adalah pasien Demensia yang berisiko jatuh dimana lansia yang memiliki riwayat jatuh. Lansia yang berusia ± 60 tahun, lansia yang mempunyai riwayat jatuh, lansia yang mengalami demensia. Lansia kooperatif. Hasil studi menunjukkan bahwa ke 2 responden didapatkan hasil klien 1 dan 2 yang telah dilakukan identifikasi lingkungan untuk mencegah risiko trauma atau cedera jatuh pada lansia yang mengalami demensia mengalami penurunan terhadap risiko jatuh. Disimpulkan bahwa identifikasi lingkungan untuk mencegah risiko trauma atau cedera pada lansia yang mengalami demensia dapat mengatasi risiko jatuh pada lansia dengan Demensia.
PENERAPAN SLOW DEEP BREATHING UNTUK MENURUNKAN KELETIHAN PADA PASIEN GAGAL GINJAL KRONIK
Ria Astarina Pertiwi;
Dyah Restuning Prihati
Jurnal Manajemen Asuhan Keperawatan Vol 4 No 1 (2020): Jurnal Manajemen Asuhan Keperawatan
Publisher : Universitas Widya Husada Semarang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33655/mak.v4i1.77
Gagal ginjal adalah hilangnya fungsi ginjal. Apabila hanya 10% dari ginjal yang berfungsi, pasien dikatakan sudah sampai pada penyakit ginjal end-stage renal disease (ESRD) atau penyakit ginjal tahap akhir. Tanda gejala dari pasien gagal ginjal sangat beragam, salah satunya yaitu keletihan. Keletihan adalah rasa letih yang luar biasa dan terus-menerus serta penurunan kapasitas kerja fisik serta mental pada tingkat yang biasanya. Pasien gagal ginjal yang mengalami keletihan perlu diatasi, salah satunya dengan pemberian terapi Slow Deep Breathing. Slow Deep Breathing adalah relaksasi yang disadari untuk mengatur pernapasan secara dalam dan lambat. Tujuan studi kasus ini adalah untuk mengatasi keletihan pasien gagal ginjal. Jenis penelitian ini adalah deskriptif dengan menggunakan bentuk rancangan one group pretest posttest. Subyek dari penelitian ini adalah 2 responden dengan kriteria pasien dengan penyakit gagal ginjal yang akan menjalani hemodialisa (prehemodialisa), mengalami keletihan sedang, tidak mempunyai gangguan penglihatan dan pendengaran. Hasil studi menunjukkan bahwa ada perubahan pada tingkat keletihan yang awalnya mengalami keletihan sedang menjadi keletihan ringan setelah diberikan terapi Slow Deep Breathing selama 3 hari. Rekomendasi perlu konsisten perawat pengawasan dalam melakukan terapi untuk meningkatkan kesehatan pasien.
STUDI DESKRIPTIF PEMANFAATAN POSYANDU LANSIA
Siti Juwariyah;
Resa Nirmala Jona
Jurnal Manajemen Asuhan Keperawatan Vol 4 No 1 (2020): Jurnal Manajemen Asuhan Keperawatan
Publisher : Universitas Widya Husada Semarang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33655/mak.v4i1.78
Peningkatan jumlah warga berusia lanjut hingga 4 kali dalam kurun waktu 35 tahun, sejak tahun 1990 hingga 2025. Pada tahun 2020, perkiraan penduduk lanjut usia di Indonesia mencapai 25,5 juta jiwa. Pertambahan usia menyebutkan kemampuan fisik dan mental. Aspek kesehatan pada lansia lebih diperhatikan mengingat kondisi anatomi dan fungsi organ-organ tubuhnya sudah tidak sempurna seperti ketika berusia muda. Perawatan dan perhatian terhadap diri sendiri semakin menurun kualitas dan kuantitasnya. Sehingga perlunya peningkatan kualitas hidup lansia. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pemanfaatan posyandu lansia oleh lansia. Metode penelian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif deskriptif. Subjek penelitian berjumlah 50 lansia yang hadir di posyandu lansia. Data penelitian diperoleh dengan mengunakan dokumentasi dan kuesioner dukungan keluarga. Tehnik pengumpulan data dengan menggunakan simple random sampling. Analisis data pada penelitian ini menggunakan statistik deskriptif. Secara umum pemanfaatanposyandu lansia tidak sepenuhnya dimanfaatkan dengan baik oleh lansia. Hal ini terjadi karena lansia menganggap bahwa sakit itu biasa dan akan periksa kalo memang benar-benar sudah sangat mengganggu. Berdasarkan observasi bahwa peran keluarga dan lingkungan sangat penting karena lansia sangat membutuhkan dukungan. Ketidakhadiran lansia ke posyandu lansia disebabkan oleh kondisi fisik yang terjadi pada lansiaa seperti sedang sakit, tidak adanya anggota keluarga yang mengantarkan ke posyandu.
RELAKSASI OTOT PROGRESIF UNTUK MENURUNKAN KECEMASAN PADA PASIEN ASMA BRONCHIAL
Patri Ambarwati;
Endang Supriyanti
Jurnal Manajemen Asuhan Keperawatan Vol 4 No 1 (2020): Jurnal Manajemen Asuhan Keperawatan
Publisher : Universitas Widya Husada Semarang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33655/mak.v4i1.79
Keadaan seseorang yang mengalami asma bronchial dapat menimbulkan rasa berdebar-debar, tangan kaki sering berkeringat, kesemutan, dan merasa tremor. Keluhan tersebut termasuk kedalam tanda dan gejala dari kecemasan. Kecemasan dapat diatasi menggunakan relaksasi otot progresif karena dapat mempengaruhi hipotalamus yang menurunkan kerja sistem saraf simpatis melalui peningkatan kerja saraf parasimpatis, sehingga dapat menurunkan tingkat kecemasan pada pasien asma brochial. Tujuan studi kasus ini adalah menyusun resume asuhan keperawatan (pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan, implementasi dan evaluasi) dengan penerapan relaksasi otot progresif untuk menurunkan kecemasan pada pasien asma bronchial. Subyek dari penelitian ini adalah dua pasien dengan kriteria inklusi pasien dewasa yang mengalami asma serangan berulang dengan tingkat kecemasan sedang dan bersedia menjadi responden. Hasil studi menunjukan bahwa pasien I dan II yang telah dilakukan terapi relaksasi otot progresif mengalami penurunan kecemasan dari tingkat kecemasan sedang menjadi normal atau tidak cemas. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa relaksasi otot progresif dapat menurunkan kecemasan pada pasien asma bronchial. Sehingga pasien dianjurkan untuk melakukan relaksasi otot progresif bila tanda dan kecemasan muncul lagi.
GENGGAM BOLA UNTUK MENGATASI HAMBATAN MOBILITAS FISIK PADA PASIEN STROKE NONHEMORAGIK
Nur Azizah;
Wahyuningsih Wahyuningsih
Jurnal Manajemen Asuhan Keperawatan Vol 4 No 1 (2020): Jurnal Manajemen Asuhan Keperawatan
Publisher : Universitas Widya Husada Semarang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33655/mak.v4i1.80
Stroke non hemoragik (SNH) yaitu sumbatan oleh bekuan darah penyempitan sebuah arteri atau beberapa arteri yang mengarah ke otak, atau embolus yang terlepas dari jantung atau arteri ekstrakranial (arteri yang berada di luar tengkorak) menyebabkan sumbatan di satu atau beberapa arteri intrakranial arteri yang berada di dalam tengkorak. Tujuan studi kasus yaitu menyusun resum asuhan keperawatan (pengkajian, diagnosa, perencanaan, implementasi dan evaluasi) dalam penerapan genggam bola untuk mengatasi hambatan mobilitas fisik pada pasien stroke non hemoragik. Jenis studi kasus ini adalah deskriptif, menggunakan metode pendekatan studi kasus dengan instrumen skala nilai kekuatan otot, lembar observasi dan SOP genggam bola. Subyek dari studi kasus ini adalah 2 orang pasien stroke non hemoragik dengan kriteria pasien mengalami hemiparesis sebagian. Studi kasus dilakukan di RSUD Dr. Adhyatma, MPH Semarang di ruang Alamanda selama 6 hari dengan diberikan pemanasan genggam bola dalam waktu 3-10 menit. Hasil studi kasus pada pasien I dan II mengalami peningkatan skala kekuatan otot. Disimpulkan bahwa studi kasus dalam penerapan genggam bola dapat mengatasi hambatan mobilitas fisik pada pasien SNH.
PENERAPAN TEHNIK DISTRAKSI NAFAS RITMIK UNTUK MENURUNKAN NYERI PADA PASIEN POST APENDIKTOMI
Vivi Rahmatun;
Wijanarko Heru
Jurnal Manajemen Asuhan Keperawatan Vol 4 No 1 (2020): Jurnal Manajemen Asuhan Keperawatan
Publisher : Universitas Widya Husada Semarang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33655/mak.v4i1.81
Apendisitis merupakan suatu kondisi dimana infeksi terjadi pada umbai cacing dan sering dijumpai di negara maju. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh tehnik distraksi nafas ritmik terhadap penurunan tingkat nyeri post apendiktomi di ruang Anggrek dan Amarilis. Desain penelitian ini adalah studi kasus dengan metode deskriptif dan rancangan yang diambil adalah One Group PreTest – PostTest. Instrumen yang digunakan melalui observasi tentang pemeriksaan intensitas nyeri dan penerapan tehnik ditraksi nafas ritmik. Penelitian yang dilakukan di RSUD Dr. Dahyatma, MPH Semarang pada tanggal 28 November – 4 Desember 2018. Dari pengkajian awal kedua responden memiliki tingkat skala nyeri yang berbeda didapatkan data intensitas nyeri skala 4 dan skala 3 (dari 0-10), setelah diberikan terapi distraksi nafas ritmik selama 3 hari berturut-turut dengan kondisi pasien tidak dalam pengaruh obat didapatkan data pada responden 1 dari awalnya skala nyeri 4 menjadi skala 1 dan pada responden 2 awalnya skala nyeri 3 menjadi skala 1. Melihat hasil penelitian ini maka dianjurkan kepada penderita apendiktomi untuk melakukan tehnik distraksi nafas ritmik sebagai terapi alternatif untuk menurunkan tingkat nyeri post apendiktomi selain terapi farmakologis.
PEMBERIAN JUS DAUN KATUK UNTUK KESIAPAN PENINGKATAN PEMBERIAN ASI PADA IBU POSTPARTUM PRIMIPARA
Sri Fajar Lestari;
Heny Prasetyorini
Jurnal Manajemen Asuhan Keperawatan Vol 4 No 1 (2020): Jurnal Manajemen Asuhan Keperawatan
Publisher : Universitas Widya Husada Semarang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33655/mak.v4i1.82
Rendahnya cukupan ASI ekslusif disebabkan oleh beberapa faktor seperti kurangnya pengetahuan tentang pemberian ASI apalagi ibu postpartum primipara yang belum mempunyai pengalaman dalam pemberian ASI. ASI merupakan sumber gizi utama bayi yang belum dapat mencerna makanan padat.tujuan studi kasus ini menyusun resume asuhan keperawatan (pengkajian, diagnose kperawatan, perencanaan, implementasi dan evaluasi) dalam pemberian jus daun katuk untuk meningkatkan pemberian ASI pada ibu postpartum primipara. Subyek dari penelitian ini adalah dua pasien dengan kriteria inklusi dalam studi kasus ini adalah ibu postpartm hari pertama yang baru melahirkan anak pertama kali dan pasien mengeluh ASI yang keluar sedikit atau tidak lancar, pasien mampu diberikan jus daun katuk, pasien kooperatif. Hasil studi menunjukkan bahwa ke 2 responden didapatkan hasil pasien I dan II yang telah diberikan jus daun katuk mengalami peningkatan terhadap pemberian ASI. Disimpulkan bahwa pemberian jus daun katuk dapat meningkatkan pemberian ASI terhdap ibu postpartum primipara.