cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota tangerang selatan,
Banten
INDONESIA
Jurnal Teknik Mesin Cakram
Published by Universitas Pamulang
ISSN : -     EISSN : 26860597     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Jurnal Teknik Mesin Cakram merupakan Jurnal Ilmiah milik Prodi Teknik Mesin Universitas Pamulang yang berorientasi pada bidang Mesin Konversi Konversi Energi, Kontruksi, Material, Automasi, dan Sensor. Jurnal Teknik Mesin Cakram terbit (2) dua kali setahun pada bulan April dan November.
Arjuna Subject : -
Articles 106 Documents
Desain Perancangan Mesin Cetak Rengginang Berbasis Simulasi Aranda, Irwan; Simbolon, Silviana; Purnomo, Herlono Mawardi; Gulo, Elvin Cinta Kasih; Muanifah, Suciati; Yunus, Muhammad
Jurnal Teknik Mesin Cakram Vol. 8 No. 2 (2025): Jurnal Teknik Mesin Cakram
Publisher : Universitas Pamulang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32493/jtc.v8i2.54885

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk merancang dan menganalisis mesin cetak rengginang dengan kapasitas produksi 10 kg/jam menggunakan pendekatan simulasi SolidWorks. Kapasitas mesin dihitung menghasilkan 333 keping rengginang per jam dengan siklus operasi sebanyak 84 siklus per jam dan gaya tekan aktuator sebesar 3600 N. Kekuatan sambungan pengelasan dianalisis dengan luas penampang titik las sebesar 961 × 10⁻⁶ m², menghasilkan tegangan geser sebesar 7,14 MPa dan faktor keamanan sambungan las sebesar 14,00. Simulasi struktur menggunakan perangkat lunak SolidWorks menunjukkan nilai stress sebesar 0,3744 MPa, displacement sebesar 0,009212 mm, dan faktor keamanan sebesar 668,3. Hasil perhitungan teoritis menunjukkan stress sebesar 1,531 MPa, displacement 0,001378 mm, dan faktor keamanan 163,3. Perbedaan hasil simulasi dan teoritis mengindikasikan bahwa desain mesin telah memenuhi aspek kekuatan dan keamanan dengan efisiensi tinggi. Studi ini memberikan dasar yang kuat untuk pengembangan mesin cetak rengginang yang aman, efisien, dan optimal dalam produksi. Abstract: This study aims to design and analyze a rengginang printing machine with a production capacity of 10 kg/hour using SolidWorks simulation. The machine capacity is calculated to produce 333 rengginang pieces per hour with an operating cycle of 84 cycles per hour and an actuator pressing force of 3600 N. The weld joint strength was analyzed with a weld spot area of 961 × 10⁻⁶ m², resulting in a shear stress of 7.14 MPa and a weld joint safety factor of 14.00. Structural simulation using SolidWorks showed a stress value of 0.3744 MPa, displacement of 0.009212 mm, and a safety factor of 668.3. The theoretical calculations indicated a stress of 1.531 MPa, displacement of 0.001378 mm, and a safety factor of 163.3. The differences between simulation and theoretical results indicate that the machine design meets strength and safety requirements with high efficiency. This study provides a solid foundation for developing a safe, efficient, and optimal rengginang printing machine.
Analisa Ketebalan Dinding Shell (Splitting) Dengan Metode Pengukuran Temperatur Tinggi Menggunakan Alat Ultrasonic Thickness Pada Fatty Acid Plant Di PT XYZ Darmadi, Herry; Tarigan, Agrifa Bremanata; Purba, Ulfani Ikhwana; Lumbantoruan, Sorta; Bintang, Nurul Shadrina; Faulianur, Rizki; Kurnia, Dian
Jurnal Teknik Mesin Cakram Vol. 8 No. 2 (2025): Jurnal Teknik Mesin Cakram
Publisher : Universitas Pamulang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32493/jtc.v8i2.48831

Abstract

Fat splitting atau hidrolisis adalah istilah di mana lemak atau minyak direaksikan dengan air untuk membentuk gliserol dan asam lemak. Tujuan proses di section Splitting Column bertujuan untuk memisahkan asam lemak dan gliserin. Senyawa trigliserida yang terdapat dalam minyak atau lemak dihidrolisis dengan air menghasilkan asam lemak dan gliserin. Tujuan penelitian ini adalah untuk menghitung nilai tebal dinding shell splitting dari hasil pengukuran ultrasonik akibat adanya perbedaan temperatur antara blok kalibrasi dengan temperatur dinding shell. Pengukuran dilakukan dengan metode NDT (Non-Destructive Test), salah satu pengujian yang dapat dilakukan pada suatu material, komponen, atau struktur untuk mengukur beberapa karakteristik tanpa merusak komponen atau material benda uji tersebut. Salah satu jenis NDT yang digunakan adalah ultrasonic thickness test. Uji ultrasonik termasuk salah satu uji tanpa rusak, terutama untuk mendeteksi cacat internal dan ketebalan dinding. Dari data hasil pengukuran didapat kesimpulan bahwa setelah dilakukan perhitungan, nilai tebal tertinggi adalah 61,89 mm pada shell 18000 di titik 270°, dan nilai tebal terendah yaitu 60,05 mm pada shell 24000 di titik 180° pada unit splitting. Abstract: Fat splitting or hydrolysis is a term where fat or oil is reacted with water to form glycerol and fatty acids. The purpose of the process in the Splitting Column section is to separate fatty acids and glycerin. Triglyceride compounds contained in oil or fat are hydrolyzed with water to produce fatty acids and glycerin. The purpose of this study is to calculate the shell splitting wall thickness value from the results of ultrasonic measurements due to the temperature difference between the calibration block and the shell wall temperature. Measurements are carried out using the NDT method. Non-Destructive Test is one of the tests that can be carried out on a material, component, or structure to measure several characteristics without damaging the component or material of the test object. One type of NDT used is the ultrasonic thickness test. Ultrasonic testing is one of the non-destructive tests, especially for detecting internal defects and wall thickness. From the measurement data, it can be concluded that after calculating the thickness value, the highest thickness value was 61.89 mm on the 18000 shell at the 270° point, and the lowest thickness value was 60.05 mm on the 24000 shell at the 180° point on the splitting unit.
Investigasi Pengaruh Pipa Paraffin terhadap Aplikasi Thermal Storage Yunus, Muhammad; Rachmanto, Raka Andrew
Jurnal Teknik Mesin Cakram Vol. 8 No. 2 (2025): Jurnal Teknik Mesin Cakram
Publisher : Universitas Pamulang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32493/jtc.v8i2.53904

Abstract

Panel fotovoltaik surya memiliki peran yang sangat besar dalam pengembangan pembangkit energi terbarukan. Namun, hingga saat ini, perkembangan teknologi fotovoltaik hanya mampu mencapai efisiensi tertinggi sekitar 15–20%. Selain itu, bagian dari penyinaran yang tidak dikonversi menjadi listrik meningkatkan suhu panel fotovoltaik dan efisiensinya menurun seiring dengan peningkatan suhu. Pada penelitian ini akan dilakukan kajian lebih lanjut mengenai penggunaan phase change material (PCM) dalam sistem penyerapan panas. Konfigurasi sistem penyerap panas terdiri dari pipa tembaga sebagai tempat paraffin dan air yang dipanaskan yang mengalir dalam tabung akrilik. Dalam penelitian ini divariasikan debit air 1,5 lpm dan 3 lpm serta jumlah lekukan pipa. Dalam penelitian ini akan diperoleh data untuk mengetahui proses perubahan temperatur dan freezing pada paraffin, perubahan fasa melting paraffin, serta mengetahui perbandingan temperatur masukan (Tinput) dan temperatur keluaran (Toutput) air. Metode penelitian ini dilakukan secara eksperimen. Dari hasil penelitian eksperimen, pengaruh bentuk pipa penyimpanan paraffin dengan peningkatan aliran debit menghasilkan kenaikan durasi dari keadaan padat hingga paraffin mengalami keadaan melting di pipa bentuk 2, 3, dan 4 siku, yaitu diperoleh waktu sebesar 70 detik, 90 detik, dan 130 detik. Abstract: Solar photovoltaic panels play a significant role in the development of renewable power generation. However, current photovoltaic technology has only achieved a maximum efficiency of approximately 15–20%. In addition, the portion of irradiance that is not converted into electricity increases the temperature of the photovoltaic panel, causing its efficiency to decline as the temperature rises. This study conducts a further investigation of the use of phase change materials (PCM) in heat absorption systems. The heat absorber system configuration consists of copper pipes used to contain paraffin, as well as heated water flowing through an acrylic tube. In this study, the water flow rates were varied at 1.5 lpm and 3 lpm, along with the number of pipe bends. The study aims to examine the temperature variation and freezing process of paraffin, the phase change during paraffin melting, and the comparison between the inlet and outlet temperatures of the water. The research method employed is experimental. The experimental results show that the geometry of the paraffin storage pipe, combined with an increase in flow rate, leads to an extended duration from the solid state until the paraffin reaches the melting phase. For pipes with 2, 3, and 4 bends, the melting onset times obtained were 70 seconds, 90 seconds, and 130 seconds, respectively.
Pengaruh Viskositas Oli terhadap Reduksi Amplitudo Getaran pada Sistem Redaman Viskus: Studi Eksperimental Alfi, Rizki; Rudianto; Harif, Muhammad; Sukma, Ari Aditia
Jurnal Teknik Mesin Cakram Vol. 8 No. 2 (2025): Jurnal Teknik Mesin Cakram
Publisher : Universitas Pamulang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32493/jtc.v8i2.54685

Abstract

Redaman viskus memiliki peranan penting dalam pengendalian getaran mekanik dengan mengonversi energi osilasi menjadi energi panas melalui fluida pelumas. Penelitian ini menyajikan evaluasi eksperimental pengaruh tingkat viskositas oli terhadap karakteristik peluruhan amplitudo pada sistem massa–pegas–peredam yang berosilasi bebas. Empat oli komersial digunakan sebagai variabel redaman, yakni SAE 20, SAE 40, SAE 60, dan SAE 140. Parameter utama yang diamati meliputi pengurangan logaritmik (δ), rasio redaman (ζ), dan persentase peluruhan amplitudo dalam beberapa siklus osilasi. Hasil memperlihatkan adanya peningkatan yang konsisten pada kemampuan redaman seiring kenaikan viskositas; nilai ζ meningkat dari 0,08 (SAE 20) menjadi 0,18 (SAE 140) dan persentase peluruhan amplitudo dari 8,02% menjadi 17,10%. Temuan ini menegaskan bahwa pemilihan viskositas fluida merupakan parameter desain kunci untuk meningkatkan disipasi energi pada sistem redaman viskus di berbagai aplikasi, termasuk suspensi kendaraan dan peredam industri. Abstract: Viscous damping plays a crucial role in controlling mechanical vibrations by converting oscillatory energy into heat energy through a lubricating fluid. This study presents an experimental evaluation of the effect of oil viscosity on the amplitude decay characteristics of a freely oscillating damper–spring–mass system. Four commercial oils were used as damping variables, namely SAE 20, SAE 40, SAE 60, and SAE 140. The main parameters measured include logarithmic decrement (δ), damping ratio (ζ), and percentage decay amplitude over several oscillation cycles. The results show a consistent increase in damping capability with increasing viscosity; the ζ value increases from 0.08 (SAE 20) to 0.18 (SAE 140), and the percentage decay amplitude from 8.02% to 17.10%. These findings confirm that fluid viscosity selection is a key design parameter for improving energy dissipation in viscous damping systems in various applications, including vehicle suspension components and industrial dampers.
Analisis Critical Speed pada Poros Akibat Crack Menggunakan Metode Teoritis dan Metode FEA (Finite Element Analysis) Ali; Wijaya, Supriatna
Jurnal Teknik Mesin Cakram Vol. 8 No. 2 (2025): Jurnal Teknik Mesin Cakram
Publisher : Universitas Pamulang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32493/jtc.v8i2.54973

Abstract

Poros merupakan komponen penting dalam sistem transmisi daya yang berputar dengan kecepatan tinggi dan mengalami beban berulang. Retakan pada poros mengurangi kekakuan, menurunkan frekuensi alami, dan menurunkan kecepatan kritis, yang meningkatkan risiko resonansi dan kegagalan dini. Studi ini menganalisis pengaruh variasi diameter poros (20 mm, 25 mm, 30 mm) dan kedalaman retak (2 mm, 4 mm, 6 mm) terhadap kecepatan kritis. Metode ini menggabungkan perhitungan teoretis menggunakan persamaan Euler–Bernoulli dengan Analisis Elemen Hingga (FEA) melalui Solidworks dan Ansys. Hasil menunjukkan bahwa retakan yang lebih dalam secara signifikan menurunkan kecepatan kritis. Misalnya, poros 20 mm tanpa retak memiliki kecepatan kritis mode 1 sebesar 5.638 rpm, yang turun menjadi 4.900 rpm dengan retakan 6 mm. Sebaliknya, poros 30 mm tanpa retak mencapai 8.458 rpm, menunjukkan resistansi yang lebih tinggi terhadap pengurangan frekuensi. Hasil teoretis dan simulasi menunjukkan tren yang serupa, yang menyoroti pentingnya deteksi retakan dini untuk memastikan operasi yang aman. Abstract: Shafts are essential components in power transmission systems that rotate at high speeds and are subjected to repetitive loads. Cracks in shafts reduce stiffness, lower natural frequency, and decrease critical speed, which increases the risk of resonance and premature failure. This study analyzes the influence of shaft diameter variations (20 mm, 25 mm, 30 mm) and crack depths (2 mm, 4 mm, 6 mm) on critical speed. The method combines theoretical calculations using the Euler–Bernoulli equation with Finite Element Analysis (FEA) through Solidworks and Ansys. Results indicate that deeper cracks significantly lower critical speed. For instance, a 20 mm shaft without a crack has a mode 1 critical speed of 5,638 rpm, which drops to 4,900 rpm with a 6 mm crack. Conversely, a 30 mm shaft without crack reaches 8,458 rpm, showing higher resistance to frequency reduction. Theoretical and simulation results show similar trends, highlighting the importance of early crack detection to ensure safe operation.  Keywords: Shaft, Crack, Natural Frequency, FEA.
Tinjauan Literatur: Pengaruh Temperatur pada Proses Ekstrusi Panas dan Dingin pada Material Aluminium AA6061 Terhadap Mekanisme Rekristalisasi Mahrun, Pebri Akhrus; Hastuti, Sri; Putri, Aurellia Zaini Sya'bania; Wardhani, Nova Ariska Kusuma; Cahyaningtyas, Annisa Putri; Falah, Azril Hanif
Jurnal Teknik Mesin Cakram Vol. 8 No. 2 (2025): Jurnal Teknik Mesin Cakram
Publisher : Universitas Pamulang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32493/jtc.v8i2.55206

Abstract

Penelitian ini mengkaji pengaruh suhu proses ekstrusi terhadap evolusi mikrostruktur/rekristalisasi, serta sifat mekanik paduan aluminium AA6061 melalui telaah literatur, analisis mikrostruktur, dan simulasi numerik Finite Element Method (FEM). Tiga sumber utama dianalisis, mencakup proses ekstrusi chip AA6061 komposit AA6061 RHA hasil solid-state recycling. Hasil studi menunjukkan bahwa ekstrusi pada suhu rendah didominasi oleh strain hardening yang meningkatkan kekuatan namun menurunkan keuletan dan menyebabkan ikatan antar-partikel kurang optimal. Sebaliknya, ekstrusi panas pada rentang 450-550°C memicu rekristalisasi dinamis yang menghasilkan butir halus, peningkatan fraksi batas butir sudut tinggi, serta distribusi mikrostruktur yang lebih homogen. Temuan ini diperkuat oleh simulasi FEM yang menunjukkan penurunan tegangan alir dan aliran logam yang lebih seragam pada suhu 500°C dengan kecepatan ram 1–2 mm/s, sehingga meningkatkan kualitas bonding antar-chip. Peningkatan sifat mekanik berupa kenaikan kekerasan, kekuatan tarik, ketahanan aus, dan umur lelah dilaporkan pada seluruh studi berbasis ekstrusi panas. Secara keseluruhan, ekstrusi panas terbukti memberikan performa mikrostruktural dan mekanik yang lebih unggul dibanding ekstrusi dingin, dan sangat efektif digunakan dalam proses daur ulang chip aluminium AA6061 secara metalurgi. Abstract: This study investigates the influence of extrusion temperature on the deformation mechanisms, microstructural evolution, and mechanical properties of AA6061 aluminum alloy through a comprehensive literature review, microstructural analysis, and Finite Element Method (FEM) simulations. Three primary sources were examined, including hot-extruded recycled AA6061 chips, AA6061 RHA composites. The findings show that low-temperature extrusion is dominated by strain hardening, which increases strength but reduces ductility and results in weak particle bonding with high porosity. In contrast, hot extrusion at 450–550°C activates dynamic recrystallization, producing refined grains, higher fractions of high-angle grain boundaries, and a more homogeneous microstructure. FEM simulations further confirm that billet heating at 500°C combined with a ram speed of 1–2 mm/s decreases flow stress, promotes uniform metal flow, and improves metallurgical bonding between chips. These microstructural improvements correlate with enhanced hardness, tensile strength, wear resistance, and fatigue life across all hot-extruded materials. Overall, hot extrusion provides superior mechanical performance and microstructural quality compared to cold extrusion, making it an effective approach for structural applications and metallurgical recycling of AA6061 aluminum chips.  Keywords: Hot Extrusion, Cold Extrusion, Dynamic Recrystallization, AA6061 Microstructure.

Page 11 of 11 | Total Record : 106