cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota tangerang selatan,
Banten
INDONESIA
Jurnal Teknik Mesin Cakram
Published by Universitas Pamulang
ISSN : -     EISSN : 26860597     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Jurnal Teknik Mesin Cakram merupakan Jurnal Ilmiah milik Prodi Teknik Mesin Universitas Pamulang yang berorientasi pada bidang Mesin Konversi Konversi Energi, Kontruksi, Material, Automasi, dan Sensor. Jurnal Teknik Mesin Cakram terbit (2) dua kali setahun pada bulan April dan November.
Arjuna Subject : -
Articles 106 Documents
Analisis Laju Perpindahan Panas Air dan Gas Freon pada System Heat Exchanger Double Tube AC Sebagai Pemanas Air Handoko, Yan Chris; Atifah, Nailul
Jurnal Teknik Mesin Cakram Vol. 8 No. 1 (2025): Jurnal Teknik Mesin Cakram
Publisher : Universitas Pamulang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32493/jtc.v8i1.46926

Abstract

Penelitian ini mencoba memanfaatkan energi panas yang diproduksi oleh sistem pendingin AC. Dalam hal ini, AC split dapat dimanfaatkan untuk keperluan tersebut dengan merancang alat penukar panas, AC split dipasangkan heat exchanger tipe double tube sebagai alat penukar panas. Alat penukar ini nantinya akan digunakan untuk memanaskan air tanpa memerlukanya kekuatan atau energi ekstra karena hanya menggunakan tambahan penukar panas yang berfungsi sebagai pemanas air pada sistem pendingin udara. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai dari perpindahan panas pada heat exchanger yang dialami oleh air dengan memanfaatkan discharge pada kompresor pada air conditioner 1 pk dengan menggunakan variasi dari heat exchanger 5 laluan dan 3 laluan yang digunakan sebagai alat penukar kalor. Penelitian dilakukan dengan 10 kali pengambilan data dengan waktu per-5 menit. Berdasarkan data hasil pengujian yang telah diperoleh, heat exchanger yang berbeda sebagai media penghantar panasnya, maka dapat mempengaruhi besarnya selisih kenaikan temperatur air keluar (Two) yang dihasilkan. Nilai rata rata selisih kenaikan temperatur air keluar (Two) pada heat exchanger 5 laluan adalah sebesar 3,1°C, sedangkan heat exchanger 3 laluan sebesar 3,6°C. Temperatur air keluar (Two) heat exchanger 5 laluan mendapatkan suhu sebesar 59℃ pada menit ke-50, sedangkan temperatur air keluar (Two) heat exchanger 3 laluan adalah sebesar 64℃ pada menit ke-50. Hal tersebut dipengaruhi dari besarnya kalor yang dilepaskan oleh heat exchanger 3 laluan lebih besar dibandingkan heat exchanger 5 laluan. Pada heat exchanger 3 laluan didapatkan 2.103 Watt sampai dengan 13.868 Watt, sedangkan pada heat exchanger 5 laluan 4.416 Watt sampai dengan 10.291 Watt. Semakin besar kalor yang didapatkan semakin tinggi panas temperatur discharge, dan semakin tinggi temperatur discharge semakin cepat panas yang dituju. Hal tersebut membuktikan harapan untuk semakin panjangnya pipa (banyaknya laluan) dan banyaknya air yang masuk tidak bisa menjadikan air panas yang semakin cepat karena adanya pembuktian Analisis tersebut.
Analisa Kegagalan Sistem Pengereman Pada Kampas Rem Mobil Tipe SUV Studi Kasus Kendaraan 2500 CC Prijono, Kusdi; Halimah, Natasya Nurul Umi; Awwaluddin, Muhammad
Jurnal Teknik Mesin Cakram Vol. 7 No. 1 (2024)
Publisher : Universitas Pamulang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32493/jtc.v7i1.47876

Abstract

Analisa kegagalan sistem pengereman pada kampas rem mobil tipe suv studi kasus kendaraan 2500 cc. Kegagalan sistem pengereman merupakan permasalahan serius pada sebuah kendaraan yang dapat menyebabkan kerusakan pada sistem pengereman maupun terjadinya kecelakaan sehingga perlu segera dicari penyebabnya. Oleh karena ini penelitian ini penting untuk dilakukan guna melakukan analisa terhadap kegagalan sistem pengereman mobil tipe SUV studi kendaraan 2500 cc. Metode yang digunakan adalah dengan menguji kekerasan serta uji visual menggunakan mikroskop optic pada permukaan kampas rem. Dari hasil uji kekerasan diperoleh nilai rata rata kekerasan kampas rem yang mengalami kegagagalan sistem pengereman sebesar 11.69 HV, sedangkan yang tidak mengalami kegagalan adalah 7.35 HV. Dari uji visual, permukaan kampas rem yang mengalami kegagalan sistem pengereman lebih halus dibandingkan dengan kampas rem yang tidak mengalami kegagalan sistem pengereman.
Simulasi Computational Fluid Dynamics (CFD) Aliran Fluida Pada Sistem Perpipaan Untuk Desalinasi Air Laut Wijaya, Handika Yanu; Setiyono, Joko; Putri, Sunny Ineza
Jurnal Teknik Mesin Cakram Vol. 7 No. 1 (2024)
Publisher : Universitas Pamulang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32493/jtc.v7i1.47877

Abstract

: Proses desalinasi air laut merupakan solusi potensial untuk mengatasi kekurangan air bersih di berbagai daerah. Dalam penelitian ini diusulkan perpipaan untuk komponen alat desalinasi air laut sebagai transportasi air. penelitian ini bertujuan untuk mengusulkan perpipaan yang cocok digunakan untuk mengalirkan air laut dari tangki penampungan air menuju hot tank untuk desalinasi air laut. Pipa yang digunakan dalam percobaan memiliki ukuran 1/2 inch, 3/4 inch, dan 1 inch. Hasil perhitungan manual menunjukkan bahwa pipa dengan ukuran 1/2 inch memiliki pressure drop tertinggi sebesar 28.595 Pa, sedangkan pip a dengan diameter 1 inch memiliki pressure drop terendah sebesar 19.826 Pa. Metode Simulasi menggunakan Ansys memperlihatkan hasil yang sejalan, dengan pressure drop tertinggi pada pipa 1/2 inch sebesar 29.210 Pa dan terendah pada pipa 1 inch sebesar 20.330 Pa. dari hasil tersebut menunjukkan bahwa dimana semakin kecil pipa, maka semakin besar penurunan tekanannya dan semakin besar laju alirnya maka semakin besar penurunan tekanannya. Perbedaan antara hasil perhitungan matematis dan simulasi menunjukkan variasi maksimum sebesar 9,09% dan minimum sebesar 3,02%. Faktor seperti properti material, kondisi batas, dan meshing yang digunakan dalam simulasi turut mempengaruhi hasil. Adanya perbedaan antara perhitungan manual dan simulasi Meskipun demikian, beberapa faktor seperti asumsi yang berbeda dan non-linearitas sistem dapat berkontribusi pada perbedaan hasil yang teramati.
Analisa Pengaruh Jumlah Sudu Turbin Penggerak Mikro Hidro Terhadap Daya Yang Dihasilkan Dari Generator Maulana, Wahrul Andrian; Solihat, Ihat
Jurnal Teknik Mesin Cakram Vol. 7 No. 1 (2024)
Publisher : Universitas Pamulang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32493/jtc.v7i1.47878

Abstract

: Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) adalah salah satu pilihan untuk penyediaan listrik ke desa-desa terutama yang tidak terhubung dengan jaringan PLN. Pada dasarnya mikrohidro memanfaatkan potensi air terjun. Semakin tinggi air terjun maka semakin besar energi potensial air yang dapat diubah menjadi energi listrik. Tujuan dilakukan penelitian ini untuk menganalisa pengaruh jumlah sudu terhadap kinerja turbin archimedes screw sehingga di hasilkan daya output generator tertinggi dan nilai efisiensi maksimum. Metode yang digunakan dengan langsung mendisain dan mengukur langsung daya output dan efisiensi yang dihasilkan. Dengan memvariasikan sudu turbin 7,9, dan 11 menghasilkan daya output 3,612Watt, 2,373Watt, dan 1,298Watt. Dari hasil penelitian ini diperoleh efisiensi maksimum sebesar 16,8% pada jumlah sudu turbin 7 sedangkan yang paling rendah pada jumlah sudu 11 yaitu 6,43%.
Efek Pemberian Campuran Cuka dan Air Garam Terhadap Laju Korosi Material SS HL 201 dan SS HL 304 Wazdi, Farid
Jurnal Teknik Mesin Cakram Vol. 7 No. 1 (2024)
Publisher : Universitas Pamulang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32493/jtc.v7i1.47879

Abstract

Korosi pada stainless steel adalah kromium oksida, yang terbentuk pada permukaan material karena afinitas tinggi kromium untuk bergabung dengan oksigen. Laju korosi ini akan dipengaruhi oleh media pengkorosian oleh karena itu pemilihan material yang tepat akan menghemat biaya produksi dan perawatannya sehingga mengurangi biaya produksi. Salah satu jenis material yang cukup menarik untuk diteliti adalah SS HL 201 dan SS HL 304 karena sifatnya yang tahan karat. Maka dari itu, perlu dilakukan pengujian korosi untuk mengetahui ketahanan korosi pada masing-masing material SS HL 201 dan SS HL 304. Lapisan kromium oksida ini bersifat pasif (tidak aktif secara kimiawi), kuat (melekat kuat pada permukaan baja tahan karat), dan dapat diperbarui sendirimetodologi penelitian dilakukan dengan cara korosi paksa menggunakan sistem elektrochemical dengan media larutan campuran cuka dan dan air garam, dengan variasi waktu dan tegangan yang bebeda setiap pengujiannya kemudian hasil korosinya dengan pengambilan gambar menggunakan optik dan SEM. Perhitungan penelitian dengan menggunakan rumus CR (Corrotion Rate) dimana konstanta faraday 96500 C/mol, atomic weight = 288,16 kg/mol, electron valensi 2, density material 7800 kg/m3 dan nilai berubah-ubah sesuai dengan tegangan yang telah ditentukan. Pada pengujian laju korosi masing-masing plat SS HL 201 dalam sembilan kali pengujian spesimen yang diberi tegangan dari - 16 volt dengan proses oksidasi oleh media campuran larutan garam dan cuka memiliki nilai rata-rata laju korosi oksidasi oleh media campuran larutan garam dan cuka memiliki rata-rata laju korosi (corrosion rate) 1,043434386 mm3/s. Pada pengujian laju korosi setiap plat SS HL 304 dalam Sembilan kali pengujian spesimen yang diberi tegangan dari 3 – 13 volt, dengan proses oksidasi oleh media campuran larutan garam dan cuka memiliki nilai rata-rata laju korosi 0,9725707 mm3/s.
Analisis Energi, Eksergi, dan Ekonomi Sistem Desalinasi Air Laut Tenaga Surya Handoyo, Satria Putra; Kawet, Natalia Magdalena; Setiyono, Joko; Putri, Sunny Ineza
Jurnal Teknik Mesin Cakram Vol. 7 No. 1 (2024)
Publisher : Universitas Pamulang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32493/jtc.v7i1.47880

Abstract

Kebutuhan akan air bersih terus meningkat seiring pertumbuhan populasi dan aktivitas manusia, sementara sumber daya air tawar semakin terbatas. Salah satu solusi potensial adalah desalinasi air laut, namun teknologi ini sering menghadapi tantangan berupa konsumsi energi yang tinggi dan biaya operasional yang mahal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis aspek energi, eksergi, dan ekonomi dari sistem desalinasi air laut yang menggunakan tenaga surya sebagai sumber energi utamanya. Analisis energi dilakukan dengan menghitung efisiensi termal sistem, sedangkan analisis eksergi difokuskan pada pengukuran kerugian energi dalam proses desalinasi. Studi ekonomi dilakukan untuk menentukan kelayakan finansial proyek dengan mempertimbangkan biaya investasi awal, biaya operasional, dan potensi penghematan biaya jangka panjang. Hasil analisis energi menunjukkan bahwa efisiensi termal sistem desalinasi adalah 30,8 % untuk volume 500 ml dan 54,2% untuk volume 750 ml. Pada analisis eksergi, ditemukan bahwa efisiensi eksergi sistem adalah 25%, mengindikasikan adanya kerugian eksergi yang signifikan dalam proses desalinasi, terutama pada tahap pemanasan air laut. Dari perspektif ekonomi, nilai NPV negatif sebesar Rp 6.655.015,58 dan Indeks Profitabilitas (PI) sebesar 0,382. Penelitian ini menyimpulkan bahwa sementara sistem desalinasi tenaga surya menawarkan solusi ramah lingkungan dan tantangan signifikan terkait dengan biaya investasi. Penelitian lebih lanjut disarankan untuk fokus pada peningkatan efisiensi sistem dan pengurangan biaya, yang dapat menjadikan teknologi ini lebih praktis dan ekonomis di masa depan.
Analisis Penambahan Water Heater Kapasitas 20 Liter Terhadap Konsumsi Daya Listrik AC Split 1 PK Cahyatullah, Mimin Andika; Atifah, Nailul
Jurnal Teknik Mesin Cakram Vol. 7 No. 1 (2024)
Publisher : Universitas Pamulang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32493/jtc.v7i1.47882

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dampak penambahan water heater kapasitas 20 liter terhadap konsumsi daya listrik, suhu hembusan luaran evaporator, dan Coefficient of Performance (COP) AC split 1 PK. Dalam eksperimen ini, AC split 1 PK diuji dalam dua kondisi yaitu tanpa water heater dan dengan water heater. Penelitian ini dilakukan dalam kurun waktu 40 menit, karena dalam 40 menit suhu air dalam tangki sudah mencapai suhu yang diinginkan untuk kebutuhan mandi yaitu 40° C - 45° sesuai dengan standar panas water heater. Hasil penelitian selama 40 menit menunjukkan bahwa penambahan water heater kapasitas 20 liter menyebabkan penurunan konsumsi daya listrik dari 0,631 kWh menjadi 0,597 kWh atau sebesar 5,3%. Suhu hembusan udara dari evaporator meningkat dari rata-rata 15,32°C menjadi 20,26°C setelah penambahan water heater. Selain itu, nilai COP mengalami kenaikan dari 2,942 menjadi 3,061 atau sebesar 5%. Temuan ini mengindikasikan bahwa penambahan water heater dapat menambah efisiensi energi dan menurunkan konsumsi daya listrik pada system Air Conditioner.
Pengaruh Kedalaman Pemakanan dan Feedrate pada Mesin Frais Terhadap Hasil Getaran dan Kekasaran Permukaan Hidayat, Muh Farid; Ahmad, Fadil
Jurnal Teknik Mesin Cakram Vol. 8 No. 1 (2025): Jurnal Teknik Mesin Cakram
Publisher : Universitas Pamulang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32493/jtc.v8i1.48184

Abstract

Proses permesinan dengan mesin frais merupakan salah satu metode utama dalam industri manufaktur untuk menghasilkan komponen dengan bentuk kompleks dan akurasi tinggi. Kualitas hasil pemotongan sangat dipengaruhi oleh parameter permesinan, terutama kedalaman pemakanan dan kecepatan pemakanan (feedrate). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh kedalaman pemakanan dan feedrate terhadap getaran serta kekasaran permukaan dalam proses permesinan menggunakan mesin frais. Material benda kerja yang digunakan adalah baja karbon rendah ST42. Parameter permesinan yang divariasikan meliputi kecepatan pemakanan sebesar 16 mm/min, 21 mm/min, dan 41 mm/min, serta kedalaman pemakanan 1 mm dan 2 mm. Pengukuran getaran dilakukan menggunakan Lutron VT-8204 dan kekasaran permukaan dianalisis menggunakan Mitutoyo SJ-310. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan kecepatan pemotongan pada kedalaman pemakanan 1 mm menyebabkan peningkatan kekasaran permukaan, dengan nilai tertinggi sebesar 6.46 µm. Sebaliknya, pada kedalaman pemakanan 2 mm, peningkatan kecepatan pemotongan cenderung menurunkan kekasaran permukaan, dengan nilai terendah 2.68 µm pada kecepatan potong 41 mm/min. Getaran terbesar terjadi pada kecepatan pemotongan tertinggi, sementara pada beberapa kondisi, variasi getaran tidak signifikan.
Perencanaan Knalpot Valvetronic Kendaraan Roda Dua Dengan Simulasi Finite Element Analysis (FEA) & Pengujian Kebisingan Arif, Syaiful; Qadri, Munzir
Jurnal Teknik Mesin Cakram Vol. 8 No. 1 (2025): Jurnal Teknik Mesin Cakram
Publisher : Universitas Pamulang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32493/jtc.v8i1.48385

Abstract

Banyak pengendara roda dua di kota-kota besar yang senang mengganti knalpot standard kendaraannya dengan knalpot racing.  Namun faktanya, umumnya knalpot racing memiliki beberapa masalah seperti terbatasnya kinerja pada rentang RPM tertentu, dan kebisingan suara yang cenderung melampaui batas yang diizinkan pemerintah yaitu 80-83 dB. Penelitian ini terfokus pada optimalisasi desain knalpot racing valvetronic yang mencakup ketahanan material, bobot, dan turbulensi. Knalpot ini dirancang untuk performa optimal di berbagai rentang RPM namun tetap sesuai dengan regulasi tingkat kebisingan yang diizinkan pemerintah. Pengujian dalam penelitian ini menggunakan perangkat lunak SolidWorks, dan dynamometer. Adapun parameter yang dikaji dalam penelitian ini yaitu tegangan, regangan dan deformasi, Lalu dilakukan simulasi menggunakan metode FEA untuk mendapatkan faktor keamanan dan menganalisa kelayakan model yang dirancang. Hasil dari simulasi kemudian dijadikan dasar dalam mengoptimalkan ketahanan material, bobot, memenuhi regulasi kebisingan, mengurangi turbulensi, serta memberikan performa optimal pada berbagai rentang RPM. Dalam penelitian ini, ditemukan bahwa ukuran inlet, ukuran knalpot, dan lekukan pada desain knalpot sangat mempengaruhi performa dan tingkat kebisingan.
Pengaruh Suhu dan Waktu Pemurnian Etanol 30% Terhadap Perpindahan Panas pada Kondensor dan Sifat Etanol Hakiki, Nurul; Wahyudi, Djoko; Noor, Muhammad Fathuddin
Jurnal Teknik Mesin Cakram Vol. 8 No. 1 (2025): Jurnal Teknik Mesin Cakram
Publisher : Universitas Pamulang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32493/jtc.v8i1.49220

Abstract

Bioetanol merupakan salah satu sumber energi terbarukan yang memiliki potensi besar sebagai pengganti bahan bakar fosil. Proses pemurnian bioetanol, khususnya dari kadar 30% menuju kadar yang lebih tinggi, membutuhkan teknologi pemisahan yang efisien, seperti kondensor. Salah satu parameter penting dalam proses ini adalah tingkat Suhu yang digunakan selama pemisahan. Metode yang digunakan meliputi eksperimen dengan variasi tingkat Suhu pada sistem kondensasi. Parameter utama yang dihasilkan pada penelitian ini adalah energi perpindahan panas konveksi pada kondensor dan karakteristik bioetanol yang dihasilkan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh tingkat Suhu terhadap produksi bioetanol dalam proses pemurnian, khususnya pada penggunaan kondensor. Dengan memahami hubungan antara Suhu dan hasil produksi, diharapkan penelitian ini dapat memberikan rekomendasi operasional yang lebih efektif dan efisien untuk meningkatkan mutu bioetanol, mengurangi pemborosan energi, dan menekan biaya produksi. Variasi suhu dan waktu pemanasan sangat mempengaruhi hasil akhir karakteristik fisik etanol, sehingga diperlukan optimasi lebih lanjut terhadap parameter operasi pemurnian agar diperoleh etanol dengan kualitas yang sesuai standar nasional.  Nilai viskositas mendekati standar SNI sebesar 1,525 N•s/m². Beberapa pengujian menunjukkan nilai viskositas yang jauh lebih tinggi dari standar, yang mengindikasikan kemungkinan adanya pengotor atau senyawa lain yang belum terpisah sempurna dalam proses pemurnian. Nilai viskositas sangat rendah, yakni 0,474 N•s/m², yang bisa mengindikasikan kehilangan sebagian komponen etanol akibat kondisi proses yang kurang optimal. Seluruh hasil pengujian, densitas menunjukkan nilai yang jauh lebih tinggi dari standar SNI sebesar 0,789 g/cm³, dengan rentang antara 0,933 hingga 0,961 g/cm³. Sementara itu, hasil titik nyala (flash point) menunjukkan nilai mendekati atau bahkan lebih rendah dari standar SNI sebesar 12°C, yakni masing-masing 13°C dan 10,5°C.

Page 9 of 11 | Total Record : 106