cover
Contact Name
Nelly Budiharti
Contact Email
iijti@scholar.itn.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
iijti@scholar.itn.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Industri Inovatif : Jurnal Teknik Industri
ISSN : 20878869     EISSN : 26153866     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Terbit dua kali dalam setahun pada bulan Maret dan September. Berisi gagasan, konseptual, kajian teori, aplikasi teori dan kajian buku Teknik Industri. Makalah yang masuk ditelaah oleh mitra bestari yang kompeten di bidang teknik dan manajemen industri.
Arjuna Subject : -
Articles 383 Documents
POTENSI DAUN ALPUKAT (PERSEA AMERICANA MILLER) SEBAGAI MINUMAN TEH HERBAL YANG KAYA ANTIOKSIDAN Dwi Ana Anggorowati; Gita Priandini; Thufail Thufail
Industri Inovatif : Jurnal Teknik Industri Vol 6 No 1 (2016): Inovatif Vol. 6 No. 1
Publisher : Prodi Teknik Industri S1 Institut Teknologi Nasional Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tanaman avocado yang terkenal dengan nama alpukat (Persea americana miller) sangat banyak di temukan di Indonesia. Walau bukan tanaman asli Indonesia, tetapi keberadaannya tidak asing lagi bagi masyarakat. Tanaman ini merupakan salah satu tanaman obat yang sangat penting dan dimanfaatkan sebagai obat tradisional untuk pengobatan seperti sariawan, kencing batu, darah tinggi, kulit muka kering sakit gigi, bengkak karena perandangan dan kecing manis.Kandungan zat aktif yang terdapat di daun alpukat (Persea americana miller) adalah flavonoid dan quersetin. Daun alpukat (Persea americana miller) rasanya pahit berkhasiat sebagai diuretik dan menghambat pertumbuhan beberapa bakteri seperti Staphylococcus sp, Pseudomonas sp, Proteus sp, Escherichea sp, dan Bacillus sp. Selain itu, berkhasiat untuk menyembuhkan kencing batu, darah tinggi, dan sakit kepala. Daun yang dibuat teh dapat menyembuhkan nyeri saraf, nyeri lambung, bengkak saluran pernapasan dan haid tidak teratur.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan pengaruh variasi suhu pemanasan yaitu suhu 40°C, 50°C, 60°C, 70°C, 80°C dan lama waktu pengeringan 30, 50, 70, 90, 110 menit terhadap pembuatan minuman teh herbal dari daun alpukat sebagai antioksidan alami dengan kualitas optimalBerdasarkan penelitian yang telah dilakukan maka dapat diambil kesimpulan bahwa variasi suhu pemanasan dan waktu pengeringan mempengaruhi kadar antioksidan pada minuman teh daun alpukat. Kadar antioksidan tertinggi terdapat pada suhu 40 ºC dengan lama waktu pengeringan 30 menit dengan nilai IC50 24,863 μg/ml , sedangkan kadar antioksidan terendah terdapat pada suhu 80 ºC dengan lama waktu pengeringan 110 menit dengan nilai IC50 38,216 μg/ml. Untuk suhu 50 °C dan waktu 50 menit merupakan suhu dan waktu yang optimum untuk pembuatan minuman teh daun alpukat. Karena pada suhu ini memiliki nilai IC50 yang rendah yaitu 29,568 μg/ml, sesuai dengan kandungan flavonoid dan kuersetin dalam ekstrak daun alpukat bahwa pada suhu 50 °C dan lama waktu 50 menit, nilai Rf pada KLT untuk klorofil pada ekstrak daun alpukat dan sampel teh daun alpukat sama, yaitu 0,9333 dan 0,75, sedangkan pada kandungan kuersetin pada ekstrak daun alpukat dan sampel daun alpukat adalah 0,8963 dan 0,75, dari hasil tersebut nilai Rf kedua sampel tersebut mengalami penurunan 0,1463, tetapi nilai penurunan tersebut tidak terlalu jauh.Sehingga dapat disimpulkan bahwa teh daun alpukat terbukti masih terkandung zat aktif flavanoid dan kuersetin yang tinggi
KEMAMPUAN FILTRASI UPFLOW PENGOLAHAN FILTRASI UP FLOW DENGAN MEDIA PASIR ZEOLIT DAN ARANG AKTIF DALAM MENURUNKAN KADAR FOSFAT DAN DETERJEN AIR LIMBAH DOMESTIK Anis Artiyani; Nano Heri Firmansyah
Industri Inovatif : Jurnal Teknik Industri Vol 6 No 1 (2016): Inovatif Vol. 6 No. 1
Publisher : Prodi Teknik Industri S1 Institut Teknologi Nasional Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Limbah cair rumah tangga merupakan salah satu bahan sisa dari aktivitas manusia sehari-hari. Air buangan dari kamar mandi, WC, tempat cuci atau tempat memasak di bedakan menjadi black water dan grey water, jenis limbah yang akan diolah pada penelitian ini yaitu grey water. Penelitian ini akan dilakukan pengolahan secara fisik yaitu proses pengolahan limbah tanpa adanya reaksi kimia atau biologi, tahapan pemisahan materi tersuspensi dari fase fluidanya dengan proses filtrasi up flow. Filtrasi up flow yaitu proses filtrasi dimana air mengalir secara vertikal dari bawah ke atas. Pengolahan limbah cair domestik (grey water) dengan proses filtrasi up flow menggunakan media pasir, zeolit dan arang aktif tempurung kelapa. Pengolahan filtrasi up flow bertujuan untuk menyisihkan konsentrasi deterjen dan fosfat dengan variasi ketinggian media: reaktor 1 (RI) tinggi 10 cm pasir : zeolit 15 cm : arang aktif : 15 cm; reaktor 2 (R2) tinggi 15 cm pasir : 15 cm zeolit : 10 cm arang aktif; reaktor 3 (R3) tinggi 15 cm pasir : 10 cm zeolit : 15 cm arang aktif dan variasi waktu operasional 70 menit, 80 menit, 90 menit, 100 menit, 110 menit dengan debit 10 ml/detik. Prosentase penurunan konsentrasi deterjen dan fosfat tertinggi pada Reaktor 1 dengan nilai prosentase penyisihan deterjen sebesar 62.78% dan prosentase penyisihan fosfat sebesar 67.71%. Dengan demikian filtrasi Up flow dengan variasi ketinggian media dan waktu operasional mampu menurunkan kadar deterjen dan fosfat.
RANCANG BANGUN TUNGKU PELEBUR LIMBAH KACA UNTUK SENTRA UKM MANIK-MANIK KACA Priscilla Tamara; Peniel Immanuel Gultom
Industri Inovatif : Jurnal Teknik Industri Vol 6 No 1 (2016): Inovatif Vol. 6 No. 1
Publisher : Prodi Teknik Industri S1 Institut Teknologi Nasional Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Proses peleburan limbah kaca di UKM saat ini dilakukan dengan 2 cara yaitu tradisional yaitu brander saja yang „ditembakkan‟ ke limbah kaca (400° C - 500° C) yang menghabiskan waktu sangat lama disebabkan kapasitas yang sangat terbatas dan modern yaitu tungku pelebur logam yang dimodifikasi namun hanya bisa untuk produksi kaca tiup serta tungku keramik yang dimodifikasi namun harganya sangat mahal sulit untuk dijangkau oleh pengrajin UKM dengan kapasitas peleburan yang besar menggunakan tungku peleburan besar (≤1800˚ C), yang juga lama karena butuh waktu untuk mencapai suhu tinggi dan secara keseluruhan membutuhkan biaya yang besar.Tujuan dari penelitian ini adalah merancang tungku pelebur limbah kaca yang sesuai dengan karakteristik khusus peleburan limbah kaca dengan menggunakan metode QFD (Quality Function Deployment) dan AHP (Analitycal Hierarchy Process), sehingga sesuai dengan kebutuhan para pengrajin di UKM kerajinan limbah kaca.Hasil dari penelitian adalah tungku pelebur limbah kaca yang sesuai dengan karakteristik peleburan limbah kaca, dapat memproduksi kaca tiup dan kaca cetak lembaran, menggunakan material refraktori tinggi dari hasil penelitian sebelumnya yang mampu untuk peleburan sampai dengan suhu 1800˚ C serta harganya pun tidak terlalu mahal sehingga dapat dijangkau oleh pengrajin UKM.
PENGARUH SETTING FRONT FIXED PLATS XLX DENGAN SILINDER DAN TOTAL DRAFT TERHADAP KETIDAKRATAAN SLIVER DAN JUMLAH NEP/100 SQ” Kiswandono Kiswandono
Industri Inovatif : Jurnal Teknik Industri Vol 6 No 1 (2016): Inovatif Vol. 6 No. 1
Publisher : Prodi Teknik Industri S1 Institut Teknologi Nasional Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36040/industri.v6i1.940

Abstract

Benang merupakan olahan bahan baku serat yang dihasilkan melalui proses pemintalan. Benang yang berkualitas baik adalah benang yang memiliki jumlah nep dan ketidakrataan sliver yang rendah. Namun dari proses pemintalan, sering dihasilkan benang dengan jumlah nep dan ketidakrataan sliver yang tinggi yang disebabkan karena setting silinder dengan front fixed flats xlx dan total draft yang tidak tepat. Oleh karena itu, dilakukan analisa tentang pengaruh variasi setting front fixed flats xlx dengan silinder dan total draft terhadap jumlah nep /100 SQ” dan ketidakrataan sliver pada mesin carding, dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas sliver yang dihasilkan dari mesin carding. Untuk memperoleh gambaran tentang pengaruh yang ditimbulkan oleh perubahan setting tersebut, peneliti menggunakan metode eksperimental dan diuji menggunakan analisa of variance. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan, bahwa variasi setting front fixed flats xlx pada mesin carding berpengaruh terhadap jumlah nep/100 SQ” dan ketidakrataan sliver, dengan jumlah nep/100 SQ” yang paling rendah yaitu sebesar 1,055 terjadi dengan setting front fixed flats xlx dengan silinder 0,1 mm dan total draft 109, dan ketidakrataan sliver yang paling rendah yaitu sebesar 3,865 terjadi dengan setting front fixed flats xlx dengan silinder 0,1 mm dan total draft 109.
PENGKAJIAN PENERAPAN 5S DI PT.CONBLOC INDOTAMA SURYA Thomas Priyasmanu; Ida Bagus Suardika; Hanggana Raras Mumpuni
Industri Inovatif : Jurnal Teknik Industri Vol 6 No 1 (2016): Inovatif Vol. 6 No. 1
Publisher : Prodi Teknik Industri S1 Institut Teknologi Nasional Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

tajam. Selain itu harapan pelanggan akan produk yang dihasilkan juga semakin meningkat baik dari segi kualitas dan kuantitasnya. Maka setiap perusahaan hendaknya secara terus menerus meningkatkan kualitas perusahaannya dengan selalu berusaha untuk meminimalisasi ketidaksesuaian dan pemborosan. Hal ini diperlukan untuk menjaga kepercayaan konsumen dalam kelajutan ordernya. Budaya kerja yang baik di dalam suatu perusahaan sangatlah dibutuhkan untuk perkembangan perusahaan di masa yang akan datang. Guna menciptakan budaya kerja yang baik di Perusahaan, maka diperlukan banyak usaha untuk mencapainya. Salah satunya dengan melakukan penerapan 5S. 5S terdiri dari Seiri, Seiton, Seiso, Seiketsu, dan Shitsuke. Sedangkan bila diartikan dalam bahasa Indonesia menjadi 5R, yaitu Ringkas, Rapi, Resik, Rawat, Rajin. Melalui penerapan 5S diharapkan berbagai pemborosan yang ada dapat diminimalkan.PT. Conbloc Indotama Surya sebuah perusahaan yang bergerak dibidang industri manufaktur yang memproduksi bahan bangunan seperti paving, kanstein, pipa, dan pagar. Perusahaan ini belum menerapkan 5S sehingga perlu dikaji bagaimana keadaan di Perusahaan. Adapun dampak dari belum diterapkannya 5S Di PT. Conbloc Indotama Surya yaitu waktu yang terbuang untuk mencari bahan baku yang dibutuhkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji berdasarkan metode 5S di PT.Conbloc Indotama Surya. Pengumpulan data penelitian ini dengan menggunakan kuesioner yang disebarkan kepada karyawan PT. Conbloc Indotama Surya sebanyak 30 kuesioner. Pengolahan data penelitian ini menggunakan SPSS versi 12. Uji statistik, dalam penelitian ini menggunakan uji normalitas, uji validitas dan uji reliabilitas. Perhitungan statistik penelitian ini menggunakan analisis faktor. Hasil penelitian didapatkan 30 sampel kuesioner yang disebarkan kepada karyawan PT.Conbloc Indotama Surya dan seluruh variabel mempunyai korelasi yang baik. Temuan hasil skripsi ini adalah reduksi variabel diperoleh dari 18 variabel menjadi 3 faktor dan diberi nama Perlakuan tempat kerja, peningkatan sarana dan prasarana, dan penataan barang.
BATU BATA DENGAN CAMPURAN ABU SEKAM PADI DI DESA SAPTORENGGO, KECAMATAN PAKIS, KABUPATEN MALANG Munasih Munasih; Thomas Priyasmanu
Industri Inovatif : Jurnal Teknik Industri Vol 6 No 1 (2016): Inovatif Vol. 6 No. 1
Publisher : Prodi Teknik Industri S1 Institut Teknologi Nasional Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Batu bata masih merupakan bahan penutup (dinding) masih yang sangat diminati masyarakat, namun pengarjin batu bata yang ada di Desa Saptorenggo Kecamatan Pakis Kabupaten Malang masih banyak yang belum memahami tentang standar mutu batu bata. Selama ini pengrajin dalam pembuatan batu bata hanya mengandalkan pengalaman sehingga tidak mengetahui batu bata yang dihasilkan sudah memenuhi standar SNI atau belum. Dalam penelitian ini akan diadakan dilakukan penelitian batu bata yang diproduksi oleh pengrajin di desa Saptorenggo, Kecamata Pakis Kabupaten Malang agar masyarakat pengguna batu bata mendapatkan kepastian mutu dari batu bata tersebut.Dalam penelitian ini batu bata yang digunakan adalah batu bata padat yang berbentuk persegi panjang, dengan panjang 23 cm, lebar 11 cm, dan tinggi 5 cm. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis mutu batu bata ditinjau terhadap kuat tekan, kuat lentur dan daya serap air. Bahan campuran yang digunakan adalah abu sekam padi dengan komposis campuran yang mendekati keadaan yang sebenarnya karena pengrajin belum menggunakan takaran yang baku.Hasil penelitian menyatakan penggunaan bahan tambahan abu sekam berpengaruh terhadap peningkatan sifat mekanis batu bata. Untuk peningkatan kuat tekan batu bata campuran abu sekam dengan presentase 25%, 30%, 35% yakni 1.201 Mpa = 12.02 kg/cm². 12.02 Mpa = 12.02 kg/cm². 12.17 Mpa = 12.17 kg/cm². Sedangkan untuk daya serap air mengalami penurunan. Untuk bahan tambah abu sekam dengan presentase 25%, 30%, 35% yakni 33,98 %, 33,712 %, 33,31%
ANALISIS PERBANDINGAN MODEL CACAT CORAN PADA BAHAN BESI COR DAN ALUMINIUM DENGAN VARIASI TEMPERATUR TUANG SISTEM CETAKAN PASIR Aladin Eko Purkuncoro; Achmad Taufik
Industri Inovatif : Jurnal Teknik Industri Vol 6 No 1 (2016): Inovatif Vol. 6 No. 1
Publisher : Prodi Teknik Industri S1 Institut Teknologi Nasional Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dalam proses pembuatan spesimen uji ini, bahan yang digunakan adalah aluminium dan besi cor dengan metode pengecoran. Cetakan yang digunakan adalah cetakan pasir basah untuk aluminium dan cetakan coran untuk besi cor. Proses peleburan untuk aluminium digunakan dapur crusible dan untuk peleburan besi cor digunakan dapur kupola. Temperatur penuangan untuk aluminium 700°C, 800°C, 900°C dan Temperature penuangan untuk besi cor 1200°C, 1300°C, 1400°C. Langkah selanjutnya adalah finishing yaitu dengan merapian hasil coran menggunakan mesin gerinda. Pemeriksaan yang dilakukan adalah pemeriksaan merusak spesimen dengan membelah dan memotong spesimen uji hasil pengecoran aluminium dan besi cor. Pengujian yang dilakukan pengujian kekerasan Rockwell, struktur makro. Nilai kekerasan pada temperatur penuangan untuk aluminium 700°C = 72 Hrb , 800°C = 59,65 Hrb, 900°C= 43,1 Hrb dan Temperature penuangan untuk besi cor 1200°C =72,45 Hrb, 1300°C= 60,95 Hrb, 1400°C= 55,3 Hrb. Hasil dari pengujian dapat disimpulkan yaitu perbedaan bentuk dan ukuran butir – butir pasir cetak dapat mempengaruhi ruangan porus untuk mengeluarkan gas yang ada dalam logam cair maupun cetakan pada waktu proses penuangan agar gas tidak terperangkap di dalam hasil coran yang menyebabkan cacat coran. Perbedaan temperature penuangan pada proses pengecoran aluminium dan besi coran mempengaruhi laju pembekuan yang menyebabkan meningkatnya cacat coran yang terjadi. Semakin meningkatnya temperature penuangan akan menghasilkan bentuk struktur dan sifat mekanis yang berbeda. Sebab semakin tinggi temperature penuangan menyebabkan terjebaknya gas hydrogen semakin banyak sehingga nilai kekerasan mengalami penurunan.
APLIKASI TEST ONLINE PADA SD LABORATORIUM UM MALANG Joseph Dedy Irawan; Emmalia Adriantantri; Yudi Arta Trirensila; M. Zainuri Hasan; Vikar Teguh Yudistira; Kahpi Harhab
Industri Inovatif : Jurnal Teknik Industri Vol 6 No 1 (2016): Inovatif Vol. 6 No. 1
Publisher : Prodi Teknik Industri S1 Institut Teknologi Nasional Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Evaluasi hasil belajar berupa ujian merupakan salah satu alat untuk mengukur tingkat keberhasilah proses belajar mengajar, karena dengan ujian dapat diukur sampai dimana pemahaman siswa terhadap materi yang sudah diajarkan oleh guru, akan tetapi pada saat pelaksanaan ujian terdapat beberapa kendala diantaranya adalah terjadi kecurangan pada saat ujian yaitu siswa mencontek jawaban siswa yang lain, selain itu kendala yang lain adalah proses koreksi yang harus dilakukan oleh guru membutuhkan waktu karena jumlah siswa yang banyak.Dengan memanfaatkan teknologi informasi dapat dibuat suatu sistem test online, dimana guru dapat memasukkan soal ke database dan siswa dapat melakukan test secara bersama-sama di laboratorium komputer, dimana sistem ini akan secara otomatis melakukan penilaian dari test yang dilakukan oleh siswa sehingga guru tidak perlu lagi melakukan proses koreksi secara manual, selain itu untuk meminimalisasi kecurangan siswa sistem akan melakukan pengacakan soal dimana setiap siswa walaupun duduk bersebelahan akan mendapatkan urutan soal yang berbeda, sehingga akan menyulitkan bagi mereka untuk mencotek jawaban siswa yang lain.
OPTIMALISASI PROSES PEMBUATAN SUBTITUSI TEPUNG TERIGU SEBAGAI BAHAN PANGAN YANG SEHAT DAN BERGIZI Faidliyah Nilna Minah; Siswi Astuti; Jimmy Jimmy
Industri Inovatif : Jurnal Teknik Industri Vol 5 No 2 (2015): inovatif Vol. 5 No. 2
Publisher : Prodi Teknik Industri S1 Institut Teknologi Nasional Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ubi jalar ungu merupakan salah satu sumber antioksidan yang mampu menghalangi laju perusakan selradikal bebas akibat nikotin, polusi udara dan bahan kimia. Dengan pemanfaatan ubi jalar ungu sebagai tepungmaka akan dapat mengurangi kebutuhan masyarakat akan tepung terigu di Indonesia. Tepung ungu yangdihasilkan dari ubi jalar ungu ini akan diaplikasikan untuk pembuatan roti tawar karena roti tawar banyakdikonsumsi oleh masyarakat Indonesia khususnya masyarakat perkotaan sebagai pengganti makanan pokok nasi.Proses pembuatan tepung ungu ini dilakukan dengan menggunakan jenis pengawet dan waktu pengeringan yangberbeda dengan tujuan untuk mendapatkan tepung ungu yang mempunyai antioksidan yang tinggi.Selain ituuntuk mengetahui pengaruh subtitusi tepung sukun dan lama perendaman dalam larutan natrium metabisulfit(Na2S2O5) terhadap mutu kimia dan fisik cookies sukun dan tepung sukun (ArtocaRpus Altilis Fosberg).Metode penelitian substitusi tekun menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan 2 faktor yaitu konsentrasisubtitusi tepung suku (7,5%, 10%, 12,5%) dan lama waktu perendaman (10, 20, 30, 40, 60), serta tanpaperendaman Natrium Metabisulfit (Na2S2O5). Parameter kimia yang diamati yaitu kadar air, kadar abu, kadarlemak, kadar protein, kadar karbohidra, dan uji panelis untuk produk cookies tekun. Sedangkan perlakuanperendaman dalam natrium metabisulfit (Na2S2O5) berpengaruh dalam meningkatkan kelarutan warna dan dayadispersi.Disamping itu tepung ungu yang memiliki antioksidan tertinggi ini dimanfaatkan untuk proses pembuatanroti tawar dengan mensubstitusikan tepung terigu dengan perbandingan 1:4 dengan tujuan tidak mengurangikandungan protein didalam roti tawar tersebut. Hasil penelitian menunjukkan tepung ungu yang memilikikandungan antioksidan tertinggi terletak pada tepung ungu yang menggunakan pengawet garam dan natriummetabisulfit dengan waktu pengeringan selama 7 jam sebesar 2.007,8521 ppm dan 2.106,5458 ppm
PENERAPAN MESIN PERAJANG RUMPUT DI DESA NGADIREJO KECAMATAN KROMENGAN KABUPATEN MALANG Sanny Andjar Sari; Harimbi Setyawati; Salammia LA; Sri Indriani
Industri Inovatif : Jurnal Teknik Industri Vol 5 No 2 (2015): inovatif Vol. 5 No. 2
Publisher : Prodi Teknik Industri S1 Institut Teknologi Nasional Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Umumnya para peternak memberikan rumput gajah dengan cara memotong rumput tersebut dengan sabit,dimana alat ini mempunyai banyak kekurangan, antara lain hasil potongan sabit mempunyai ukuran panjangyang bervariasi, dan kapasitasnya sedikit, sehingga untuk memenuhi kebutuhan rumput ternak memerlukanbanyak waktu dan tenaga (10 menit untuk 35 kg rumput gajah).Berkaitan dengan hal tersebut maka diperlukan alat perajang rumput ternak, yang berfungsi untukmerajang bahan baku (rumput gajah) agar didapat bahan rumput dengan ukuran tertentu, supaya amandikonsumsi oleh sapi. Dengan diterapkannya mesin perajang rumput ini diharapkan kuantitas maupun kualitashasil rajangan rumput (pakan sapi) menjadi meningkat sehingga dapat menghasilkan sapi yang sehat

Filter by Year

2011 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 15 No 1 (2025): Inovatif Vol. 15 No. 1 Vol 14 No 2 (2024): Inovatif Vol. 14 No. 2 Vol 14 No 1 (2024): Inovatif Vol. 14 No. 1 Vol 13 No 2 (2023): Inovatif Vol. 13 No. 2 Vol 13 No 1 (2023): Inovatif Vol. 13 No. 1 Vol 12 No 2 (2022): Inovatif Vol. 12 No. 2 Vol 12 No 1 (2022): Inovatif Vol. 12 No. 1 Vol 11 No 2 (2021): Inovatif Vol. 11 No. 2 Vol 11 No 1 (2021): Inovatif Vol. 11 No. 1 Vol 10 No 2 (2020): Inovatif Vol. 10 No. 2 Vol 10 No 1 (2020): Inovatif Vol. 10 No. 1 Vol 9 No 2 (2019): Inovatif Vol. 9 No. 2 Vol 9 No 1 (2019): Inovatif Vol. 9 No. 1 Vol 9 No 1 (2019): Jurnal Inovatif Industri Vol 8 No 2 (2018): Inovatif Vol. 8 No. 2 Vol 8 No 1 (2018): Inovatif Vol. 8 No. 1 Vol 8 No 2 (2018): INDUSTRI INOVATIF - JURNAL TEKNIK INDUSTRI Vol 8 No 1 (2018): INDUSTRI INOVATIF - JURNAL TEKNIK INDUSTRI Vol 7 No 2 (2017): Inovatif Vol. 7 No. 2 Vol 7 No 1 (2017): inovatif Vol. 7 No. 1 Vol 7 No 2 (2017): INDUSTRI INOVATIF - JURNAL TEKNIK INDUSTRI Vol 7 No 1 (2017): INDUSTRI INOVATIF - JURNAL TEKNIK INDUSTRI Vol 6 No 2 (2016): inovatif Vol. 6 No. 2 Vol 6 No 1 (2016): Inovatif Vol. 6 No. 1 Vol 6 No 2 (2016): Jurnal Industri INOVATIF Vol 6 No 1 (2016): Jurnal Industri INOVATIF Vol 5 No 2 (2015): inovatif Vol. 5 No. 2 Vol 5 No 1 (2015): inovatif Vol. 5 No. 1 Vol 5 No 2 (2015): Jurnal Industri INOVATIF Vol 5 No 1 (2015): Jurnal Industri INOVATIF Vol 4 No 2 (2014): inovatif Vol. 4 No. 2 Vol 4 No 1 (2014): inovatif Vol. 4 No. 1 Vol 4 No 2 (2014): Jurnal Industri INOVATIF Vol 4 No 1 (2014): Jurnal Industri INOVATIF Vol 3 No 2 (2013): inovatif Vol. 3 No. 2 Vol 3 No 1 (2013): inovatif Vol. 3 No. 1 Vol 3 No 2 (2013): Jurnal Industri INOVATIF Vol 3 No 1 (2013): Jurnal Industri INOVATIF Vol 2 No 2 (2012): inovatif Vol. 2 No. 2 Vol 2 No 1 (2012): inovatif Vol. 2 No. 1 Vol 1 No 2 (2011): inovatif Vol. 1 No. 2 Vol 1 No 1 (2011): inovatif Vol. 1 No. 1 More Issue