cover
Contact Name
Hadrian Erlanda
Contact Email
hadrian2011@live.com
Phone
-
Journal Mail Official
hadrian2011@live.com
Editorial Address
-
Location
Kota bukittinggi,
Sumatera barat
INDONESIA
Human Care Journal
ISSN : 26855798     EISSN : 2528665X     DOI : -
Core Subject : Health, Science,
Jurnal Human Care akan menerbitkan artikel tentang, keperawatan, kesehatan masyarakat, kebidanan, fisioterapy, farmacologi dan analis kesehatan, ilmu kedokteran jurnal ini akan terbit 3 kali dalam satu tahun pada bulan Februari, Juni dan Oktober, jurnal Human Care diterbitkan oleh Stikes Fort De Kock bekerja sama dengan organisasi profesi kesehatan dan organisasi peneliti kesehatan Indonesia.
Arjuna Subject : -
Articles 475 Documents
PENGARUH PEMBERIAN JUS KACANG HIJAU (PHASEOLUS RADIATUS L) TERHADAP PENINGAKATAN KADAR HEMOGLOBIN SERUM PADA PENDERITA ANEMIA REMAJA PUTRI Kartika Mariyona
HUMAN CARE JOURNAL Vol 5, No 4 (2020): Human Care Journal
Publisher : Universitas Fort De Kock

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32883/hcj.v5i4.825

Abstract

Anemia di Indonesia masih tinggi prevalensi anemia pada remaja yaitu 57,1.%. Kacang hijau memiliki kandungan gizi yang lengkap salah satu yaitu zat besi sebesar 6,7 / 100 gr kacang hijau diyakini mampu meningkatkan kadar hemoglobin pada penderita anemia. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh pemberian jus kacang hijau terhadap kadar hemoglobin pada penderita anemia remajaPenelitian ini menggunakan design  quasi eksperimen pada 34 orang remaja anemia. Subjek dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu kelompok kontrol dan intervensi secara random. Kelompok intervensi diberikan 200gr jus kacang hijau yang di olah menjadi jus selama 7 hari. Analisis data menggunakan uji statistik t-dependent dengan derajat kemaknaan α=0,05. Hasil penelitian menujukan rata – rata kadar hemoglobin sebelum intervensi pada kelompok intervensi adalah 10,24 gr% dan sesudah  intervensi adalah14,05 gr%. Rata - rata kadar hemoglobin pada kelompok kontrol sebelum intervensi adalah 10,26 gr% dan sesudah intervensi 10,98 gr%. Hasil analisis statistik menunjukan bahwa ada pengaruh pemberian jus kacang hijau terhadap peningkatan kadar hemoglobin pada penderita anemia dengan  nilai p< 0,05. Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan terdapatnya pengaruh pemberian jus kacang hijau terhadap peningkatan kadar hemoglobin pada penderita anemia remaja putri. Disarankan kepada remaja putri untuk selalu mengkonsumsi kacang hijau untuk meningkatkan kadar hemoglobin.
ANALISIS FAKTOR YANG MENYEBABKAN STUNTING DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS KEMANGKON Lusy Rustiyani; Rakhmat Susilo
HUMAN CARE JOURNAL Vol 5, No 4 (2020): Human Care Journal
Publisher : Universitas Fort De Kock

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32883/hcj.v5i4.837

Abstract

Latar Belakang: Kejadian balita pendek atau biasa di sebut dengan stunting merupakan  kejadian yang sedang di alami oleh balita di dunia saat ini. Pada tahun 2017 22,2 % atau sekitar 150,8 juta balita di dunia mengalami stunting. Faktor penyebab stunting terdiri dari faktor basic seperti faktor ekonomi dan pendidikan ibu, kemudian faktor intermedier seperti jumlah anggota keluarga, tinggi badan ibu, usia ibu, dan jumlah anak ibu, selanjutnya adalah faktor proximal seperti pemberian ASI ekslusif, usia anak dan BBLR. Tujuan: Untuk Menganalisis faktor-faktor penyebab stunting di wilayah Kerja Puskesmas Kemangkon. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang berbentuk deskriptif kualitatif. Sampel dikumpulkan dengan cara snowball sampling, sebanyak 7. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan berusia >40 tahun sebanyak 2 orang, berusia 25-40 tahun sebanyak 5 orang. 3 orang memiliki pendidikan SD,  1 orang tidak sekolah, 1 orang memiliki pendidikan SMA dan 2 orang memiliki pendidikan SMP. Terdapat 5 faktor yang menyebabkan stunting seperti: karakteristik informan yang mengalami stunting, faktor pendidikan ibu, faktor ekonomi, faktor jumlah anggota keluarga dan faktor pola asuh balita dengan kejadian stunting di Wilayah Kerja Puskesmas Kemangkon. Simpulan: Pola asuh dan ekonomi pada informan sebagian besar dalam keadaan kurang yang dapat menyebabkan kejadian stunting pada balita      
STUDI KEBIJAKAN PROGRAM MAKANAN TAMBAHAN BISKUIT PADA BALITA KURANG GIZI DI KOTA SOLOK TAHUN 2020 Esinelya Esinelya; Masrul Masrul; Firdawati Firdawati
HUMAN CARE JOURNAL Vol 6, No 2 (2021): Human Care Journal
Publisher : Universitas Fort De Kock

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32883/hcj.v6i2.1215

Abstract

ABSTRACTOne of the policies of the Ministry of Health in preventing and overcoming nutritional problems in children under five is the supplementary feeding program. This program has been started since 1998, however, the success rate in reducing the prevalence of nutritional problems has not been as expected. To find out the implementation of the biscuit complementary food program and its problems, researchers conducted the research in Solok city. This research conduct by mixed methods. The informants were the Head of the Health Office, the Head of the Nutrition Kesga Section, the Nutrition Program Manager, the Head of primery health centre, the Nutritionist, the Pustu/Poskeskel supervisors and the Toddler Mother. Measurement of body weight of toddlers can additional food program is done to determine the average weight gain per month. Results: input, the policy of the biscuit additional food program, which refers to the technical guidelines. Fund utilization has not been optimal. Human resources, inadequate quality. The biscuit storage space is not fulfill the standard. Availability of target characteristics is incomplete. The process is that there is no SOP and POA, the target biscuit recipients have not referred to the technical instructions, the taking of biscuits is irregular, the understanding of mothers about program,  nutrition education, recording/reporting, monitoring evaluation are not optimal. Output, 67,4% of toddlers are unable to finish biscuits because they do not like it, bored and consumed by other family members. Output 41,2% of children under five have gained weight less than KBM. It is suggested that the public health office be able to motivate to understanding to mother about the purpose and objectives of providing biscuit and improve the quality of nutrition services guided by toddler nutrition care Keywords : Malnourished toddlers, Biscuit additional food ABSTRAKSalah satu kebijakan Kementerian Kesehatan dalam mencegah dan menanggulangi masalah gizi balita adalah program pemberian makanan tambahan sejak tahun 1998, namun tingkat keberhasilannya dalam menurunkan prevalensi masalah gizi belum sesuai harapan. Untuk mengetahui pelaksanaan program makanan tambahan biskuit dan permasalahannya, peneliti melakukan penelitian di kota Solok. Penelitian menggunakan metode studi kebijakan. Informan  Kepala Dinas Kesehatan, Kasi Kesga Gizi, pengelola program gizi, Kepala Puskesmas, Tenaga Gizi Puskesmas, petugas Pustu/Poskeskel dan ibu balita. Pengukuran berat badan balita dapat MT biskuit dilakukan untuk mengetahui kenaikan berat badan rata-rata per bulan. Hasil Penelitian : input, kebijakan pelaksanaan program MT biskuit mengacu pada petunjuk teknis. Pemanfaatan dana belum optimal. SDM  sebagian kualitasnya kurang, penyimpanan biskuit belum sesuai standar. Ketersediaan karakteristik sasaran belum lengkap. Proses, belum tersedia SOP dan POA, sasaran  dapat biskuit belum mengacu pada petunjuk teknis, ketidakteraturan pengambilan biskuit, pemahaman ibu tentang program, edukasi gizi, pencatatan/pelaporan dan monev belum optimal. Output,  64,7% balita tidak mampu menghabiskan biskuit karena tidak suka, bosan dan dikonsumsi oleh anggota keluarga lain. 41,2% balita mengalami kenaikan berat badan < KBM. Disarankan dinas kesehatan dapat motivasi dan memberi pemahaman lebih dalam pada ibu tentang maksud/ tujuan pemberian MT biskuit sehingga biskuit dapat dikonsumsi sesuai anjuran serta meningkatkan kualitas pelayanan gizi dengan berpedoman pada Asuhan Gizi Balita. Kata Kunci : Balita Kurang Gizi, Makanan Tambahan Biskuit
HUBUNGAN MASSA KERJA DAN SIKAP KERJA TERHADAP TIMBULNYA LBP PADA PENENUN DI PANDAI SIKEK Siti Munawarah; Riri Segita
HUMAN CARE JOURNAL Vol 6, No 1 (2021): Human Care Journal
Publisher : Universitas Fort De Kock

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32883/hcj.v6i1.1026

Abstract

Dalam upaya untuk meningkatkan pembangunan diperlukan Sumber Daya Masyarakat yang sehat sehingga mampu memenangkan persaingan yang semakin ketat. Sumber Daya Masyarakat yang cukup berkualitas jika mengalami masalah kesehatan dapat menurunkan produktifitas kerja. Salah satu masalah yang bisa menurunkan produktivitas kerja adalah Low Back Pain. Low Back Pain (LBP) adalah masalah kesehatan yang sangat umum di antara populasi dan penyebab utama kecacatan yang memengaruhi kinerja dan kesejahteraan kerja. LBP bisa akut, subakut atau kronis. LBP memengaruhi anak-anak hingga lansia dan merupakan alasan yang banyak ditemukan. Global Burden of Disease (GBD) 2010 memperkirakan bahwa sakit punggung merupakan 10 penyakit utama penyakit terbanyak dan menyebabkan cedera. DALY’s (disability-adjusted life years). Jenis penilitian ini merupakan penelitian analitik dengan pendekatan cross sectional jumlah subyek dalam penelitian ini 100 subyek penenun aktif. Hasil penelitian bivariat menggunakan chi square menggambarkan adanya hubungan massa kerja dengan timbulnya LBP penenun dengan Pvalue 0,033 dan hubungan sikap kerja dengan timbulnya LBP dengan Pvelue 0.011. Disimpulkan bahwa ada hubungan massa kerja dengan sikap kerja terhadap timbulnya kejadian low back pain pada penenun di pandai sikek kab. Tanah datar.Kata Kunci : Massa Kerja, Sikap Kerja, LBP Penenun.
PERBEDAAN PEMBERIAN TERAPI RENDAM KAKI AIR HANGAT DAN SENAM JANTUNG SEHAT TERHADAP PERUBAHAN TEKANAN DARAH PADA LANSIA HIPERTENSI DI DESA SUMBANG Desi Pratiwi; Rakhmat Susilo
HUMAN CARE JOURNAL Vol 5, No 4 (2020): Human Care Journal
Publisher : Universitas Fort De Kock

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32883/hcj.v5i4.838

Abstract

Latar Belakang: Hipertensi merupakan masalah besar, tidak hanya dinegara barat tapi juga di Indonesia. Terapi obat telah lama menjadi penatalaksanaan hipertensi, namun terapi komplementer juga dapat menurunkan tekanan darah seperti terapi rendam kaki air hangat dan senam jantung sehat. Tujuan: Mengetahui perbedaan pemberian terapi rendam kaki air hangat dan senam jantung sehat terhadap perubahan tekanan darah pada lansia Hipertensi di desa Sumbang. Metode: Jenis penelitian adalah deskriptif kuantitatif dengan menggunakan metode Quasi Eksperiment. Populasi penelitian ini adalah lansia Hipertensi di Desa Sumbang. Teknik sampling yang digunakan adalah simple random  sampling sebanyak 32 responden. Analisis yang digunakan uji statistik independent t test. Hasil Penelitian: Pada penelitian ini di dapatkan hasil jumlah responden pada kelompok terapi rendam kaki air hangat sebanyak 16 responden perempuan (100%). Sedangkan pada kelompok senam jantung sehat dengan 1 orang laki-laki (6,2%) dan 15 orang perempuan (93,8%). Uji independent t test diperoleh tekanan darah sistolik pada kedua kelompok <0,05, sedangkan tekanan darah diastolic pada kedua kelompok >0,05. Kesimpulan: Ada perbedaan yang siginfikan pada tekanan darah sistolik dan diastolic pada pemberian terapi rendam kaki air hangat dan senam jantung sehat terhadap perubahan tekanan darah pada lansia hipertensi di Desa Sumbang.
STUDI IMPLEMENTASI KEBIJAKAN PERATURAN MENTERI KESEHATAN NO.97 TAHUN 2014 TENTANG PEMERIKSAAN STATUS ANEMIA CATIN WANITA DI PUSKESMAS WILAYAH KERJA KOTO TANGAH Yessi Kartalina
HUMAN CARE JOURNAL Vol 6, No 2 (2021): Human Care Journal
Publisher : Universitas Fort De Kock

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32883/hcj.v6i2.1265

Abstract

Phenomenon of implementation Health Minister Rule No 97 2014 about checking anaemia for bride is to become background of this research. Unfortunately it is less to get response in low level. This research aims at analysing rule policy of it, start from (1) input, encompasses policy, man, money, material and method in checking bride anaemia in Koto Tangah community health center. (b) Process, encompasses planning, organising, actuating, controlling, recording/reporting (c) Output, to increase in term of checking anaemia status to the bride. This research uses policy analyses and it is qualitative. There are five areas as a locus. All of them are located in Koto Tangah Districts and under Koto Tangah Community Health Center. The research had conducted from October 2020 to April 2021. Rationale of locus is based on less optimum in checking anaemia for brides when they conduct general check-up in health community centre. Besides, the most of brides check their health and go to the District Religious Office in Koto Tangah than other districts. Informan in this research are purposives. They are chosen because they are seemed eligible to give information on anaemia checking to the brides. The results point out that (1) input, Padang City do not have derivative policies related to the examination of bride’s anemia status. There is no special budget for this activity. The written SOP for catin services is only available in the Air Dingin Community Health Center. The MOU with Districts Religious  Office in Koto Tangah is already exists. However, mutual commitment is still lacking. The infrastructure, which consists of Hb examination tools, reagents and Fe tablets and leaflet / form for healthy bride and groom cards, are readily available. However, the Hb examination tools at the community health centers are different. (2) The process is, there is no planning, the rule of the bride inspection officer is not there, a double standard of financing for paint inspection is found. Monitoring has never been done. (3) There is no output of anaemia status examination for puskesmas, so it cannot be analyzed because targets and achievements do not exist yet. It is recommended to the Padang City Government to make a local regulation related with Health Minister Rule No. 97 of 2014 to cross-related sectors, namely DKK Padang City, Ministry of Religion of Padang City, districts religion office (KUA) and at community health center further strengthen the input to output policy system.
PENGARUH PEMBELAJARAN DARING TERHADAP PSIKOLOGIS SISWA AKIBAT COVID-19 hendri yazid
HUMAN CARE JOURNAL Vol 6, No 1 (2021): Human Care Journal
Publisher : Universitas Fort De Kock

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32883/hcj.v6i1.1084

Abstract

Sejak pandemi COVID- 19 melanda Indonesia di tahun 2020, Daring merupakan solusi efektif yang digunakan pemerintah dalam dunia pendidikan. Namun hal tersebut tidak sepenuhnya dapat berjalan efektif untuk perkembangan psikologis siswa. Interaksi sosial siswa pada lingkungan sekitar menjadi berkurang, hal ini mengakibatkan siswa mudah jenuh dalam menerima pelajaran dan membuat keefektifan belajar menjadi menurun. Tujuan dibuatnya artikel ini adalah untuk meneliti bagai mana pengaruh pembelajaran daring terhadap psikologis siswa akibat pandemi COVlD-19. Pendekatan yang digunakan dengan riset kualitatif. Data yang dikurnpulkan bersumber dari literatur-literatur pembelajaran daring, psikologis siswa, dan COVID-19. Data dikumpulkan melakukan penelusuran terhadap sumber terkait, baik secara manual maupun digital. Analisis data  menggunakan analisis model Moleong. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran Daring tidak efektif bagi siswa dikarenakan terjadinya gangguan pada psikologis siswa. Dapat disimpulkan, bahwa pembelajaran Daring sangat efektif dilakukan saat pandemi COVID- 19, namun adanya masalah atau gangguan pada psikologis siswa. Pembelajaran Daring bisa lebih dimodifikasi agar lebih efektif dengan memperhatikan psikologis kepribadian peserta didik.
ANALISA PELAKSANAAN INVESTIGASI KONTAK DAN PEMBERIAN TERAPI PENCEGAHAN TUBERKULOSIS PADA ANAK DI KOTA PARIAMAN TAHUN 2020 Muhammad Hendri; Finny Fitry Yani; Edison edison
HUMAN CARE JOURNAL Vol 6, No 2 (2021): Human Care Journal
Publisher : Universitas Fort De Kock

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32883/hcj.v6i2.1255

Abstract

Tuberkulosis (TB) anak merupakan penyakit yang menjadi permasalahan kesehatan baik ditingkat Global, Nasional, sampai ketingkat kabupaten/kota. Dampak tidak dilakukannya penemuan kasus TB pada anak terutama balita yaitu beresiko tertular kuman TB yang menyebabkan balita menjadi sakit TB. Jika tidak diobati maka balita akan mengalami TB berat hingga terjadinya kematian. Masih rendahnya penemuan kasus TB pada balita disebabkan penemuan kasus masih bersifat pasif, yaitu menunggu di Puskesmas. Kebijakan Kementerian Kesehatan RI dalam penemuan kasus yaitu menggunakan pelaksanaan investigasi kontak TB. Penemuan kasus TB anak di Kota Pariaman 3 (tiga) tahun terakhir mengalami penurunan dan pemberian terapi pencegahan pada balita di Kota Pariaman belum pernah dilaksanakan dalam 3 (tiga) tahun tarakhir ini. Tujuan penelitian ini untuk melihat gambaran pelaksanaan investigasi kontak dan pemberian terapi pencegahan di Kota Pariaman Tahun 2020. Metode yang dipakai pada penelitian ini yaitu menggunakan mix methode. Hasil penelitian pelaksanaan investigasi kontak TB belum berjalan optimal yang disebabkan karena masih lemahnya pernecanaan program TB sehingga tidak adanya anggaran khusus dalam pelaksanaan investigasi kontak. Selain perencanaan yang lemah, penyebab belum optimalnya pelaksanaan investigasi kontak adalah masih kurangnya koordinasi serta monitoring dan evaluasi baik dari tingkat Dinas Kesehatan maupun dari pihak Puskesmas.Kata kunci: TB balita, investigasi kontak TB, Terapi Pencegahan TB
DETERMINAN PENGGUNAAN ALAT KONTRASEPSI TRADISIONAL DI JAWA TIMUR Mursyidul Ibad; Indah Lutfiya; Ali Imron; Mardiyono Mardiyono
HUMAN CARE JOURNAL Vol 6, No 1 (2021): Human Care Journal
Publisher : Universitas Fort De Kock

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32883/hcj.v6i1.1107

Abstract

Abstract: Determinant of Traditional Contraceptive Use in East Java. The 2002-2017 IDHS data showed an increasing percentage of traditional contraceptive users in Indonesia, including in East Java from 2.8% to 6.7%. This study aimed to analyze the determinants of traditional contraceptive use in East Java. This study was a non-randomized study with cross sectional design using 2017 IDHS secondary data. The sample study was 5,583 married reproductive age women aged 19-49 years from the 2017 IDHS data of East Java. Data were analyzed by multiple logistic regression. The determinant factors of traditional contraceptive use in 2017 IDHS data of East Java were Method Information Index (p = 0,000), age of woman (p = 0,025), education (p = 0,000), place of residence (0,004), knowledge of woman’s fertile period (p = 0,006), and information from TV (p = 0.005). While information from radio (0.142) was not related to the use of traditional contraceptives. A policy on the use of modern contraceptives is needed, which is targeted and focused on women of childbearing age married with a higher education background in urban areas. Optimizing the role of family planning counselors to increase family planning knowledge is very important in increasing the use of modern contraceptives in East Java. Keywords: determinant, traditional contraceptive, married reproductive age women Abstrak: Determinan Penggunaan Alat Kontrasepsi Tradisional di Jawa Timur. Data SDKI 2002-2017 menunjukkan peningkatan persentase pengguna alat kontrasepsi tradisional di Indonesia, termasuk di Jawa Timur dari 2,8% menjadi 6,7%. Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor determinan penggunaan alat kontrasepsi tradisional di Jawa Timur. Penelitian ini merupakan penelitian nonreaksional dengan desain cross-sectional menggunakan data sekunder SDKI 2017. Sampel penelitian 5.583 WUS kawin 19-49 tahun dari data SDKI Jawa Timur 2017. Data dianalisis dengan regresi logistik ganda. Faktor determinan penggunaan alat kontrasepsi tradisional di Jawa Timur 2017 diantaranya Method Information Index (p=0,000), umur wanita (p=0,025), pendidikan (p=0,000), tempat tinggal (0,004), pengetahuan masa subur (p=0,006), dan sumber informasi TV (p=0,005). Sedangkan informasi dari radio (0,142) tidak berhubungan dengan penggunaan alat kontrasepsi tradisional. Diperlukan kebijakan penggunaan alat kontrasepsi modern yang lebih tepat sasaran dan memfokuskan pada WUS kawin dengan latar pendidikan tinggi di perkotaan. Optimalisasi peran PKB untuk meningkatkan pengetahuan KB sangat penting dalam peningkatan penggunaan alat kontrasepsi modern di Jawa Timur. Kata kunci: determinan, alat kontrasepsi tradisional, WUS kawin
MANAJEMEN LOW VISION PADA ANAK USIA SEKOLAH Zulhijjah Yati Syari
HUMAN CARE JOURNAL Vol 6, No 1 (2021): Human Care Journal
Publisher : Universitas Fort De Kock

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32883/hcj.v6i1.1065

Abstract

Low vision according to the World Health Organization (WHO) is a person who has impaired visual function after treatment or standard refraction correction and has visual acuity less than 6/18 (20/60) until the light perception or field of view is less than 100 from the fixation point and is still can use residual vision to perform certain activities. Low vision cases according to WHO is 3-4 times greater than cases of blindness. The prevalence of blindness in children varies from region to region or country, ranging from 0.15 to 1.5 per 1000 children. Of the 1.4 million children who are blind, 90% are in developing countries. In addition, there are 7 million low vision children. The prevalence of low vision in children is 11 times more than blindness in children. Low vision in children can be caused by eye abnormalities both congenitally and including cataracts, glaucoma, retinitis pigmentosa, clouding of the cornea, and retinopathy of prematurity (ROP). The clinical symptoms are blurred vision, limited field of view, accompanied by functional complaints such as decreased contrast sensitivity, glare, and color vision disorders so that visual aids are needed in low vision. Low vision examination consists of anamnesis, visual acuity measurement (examination of visus distance and close range), visual field examination, contrast sensitivity test, glare examination, and color blindness test. In this paper, we report cases of low vision in children where the management uses low vision aids according to their needs.Keywords: low vision, etiology, clinical symptoms, examination, low vision aids, management