cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota samarinda,
Kalimantan timur
INDONESIA
Borneo Nursing Journal (BNJ)
ISSN : 26548453     EISSN : 26855054     DOI : -
Core Subject : Health,
Borneo Nursing Journal (BNJ) adalah jurnal yang diterbitkan dua kali dalam satu tahun oleh Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda bekerjasama dengan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Yarsi Pontianak. Adapun ruang lingkup/topik dalam BNJ adalah bidang Keperawatan.
Arjuna Subject : -
Articles 57 Documents
Search results for , issue "Vol. 7 No. 2 (2025)" : 57 Documents clear
Penerapan Pursed Lips Breathing Dalam Asuhan Keperawatan Pada Pasien Ensefalopati Hepatikum Dengan Pola Nafas Tidak Efektif Di Ruang High Care Unit (HCU) RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Selnia Anindia Pramesti; Adiratna Sekar Siwi; Eike Irliana Wahyuni
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 7 No. 2 (2025)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v7i2.133

Abstract

Ensefalopati hepatikum merupakan gangguan neurologis akibat akumulasi racun dalam darah, seperti amonia, yang seharusnya disaring oleh hati. Gejala klinis yang kerap ditemui salah satunya adalah sesak napas akibat pola napas tidak efektif. Kondisi ini kerap dijumpai pada pasien dengan riwayat penggunaan jangka panjang Obat Anti Tuberkulosis (OAT) yang bersifat hepatotoksik. Salah satu intervensi nonfarmakologis yang dapat diterapkan untuk mengatasi keluhan tersebut adalah teknik Pursed Lips Breathing (PLB). Studi kasus ini bertujuan untuk menggambarkan penerapan teknik pursed-lip breathing pada pasien Ensefalopati Hepatikum dengan pola napas tidak efektif di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo. Studi dilakukan melalui observasi selama 3 hari, dengan intervensi PLB selama 2 x 24 jam pada tanggal 11–12 Maret 2025. Hasil studi menunjukkan bahwa pada hari pertama, pasien mengalami sesak napas berat dengan frekuensi napas 24x/menit dan saturasi oksigen 96%. Setelah dilakukan intervensi PLB, hari kedua menunjukkan adanya peningkatan saturasi menjadi 98%, dan pasien mulai merasa lebih nyaman. Pada hari ketiga, sesak napas semakin berkurang dengan frekuensi napas menurun menjadi 22 x/menit dan saturasi tetap stabil di angka 98%. Penerapan teknik Pursed Lips Breathing selama 2 x 24 jam terbukti efektif dalam menurunkan keluhan sesak napas dan memperbaiki pola napas pasien.
Gambaran Tingkat Pengetahuan Tentang Penerapan Komunikasi Sbar Pada Mahasiswa Keperawatan Anestesiologi Universitas Harapan Bangsa Bheta Chintia Agustina; Amin Susanto; Asmat Burhan
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 7 No. 2 (2025)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v7i2.136

Abstract

Pengetahuan yang kurang tentang komunikasi SBAR menyebabkan kualitas pelayanan kesehatan rendah. Oleh sebab itu, penting untuk memiliki pengetahuan yang baik mengenai komunikasi SBAR untuk meningkatkan keselamatan pasien. Teknik komunikasi SBAR adalah metode yang dipakai oleh anggota tim kesehatan untuk menginformasikan kondisi pasien. SBAR terbukti meningkatkan berbagai aspek dalam pengaturan klinis, seperti kejelasan komunikasi perawat, kompetensi klinis dan kepuasan kerja. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui gambaran tingkat pengetahuan tentang penerapan komunikasi SBAR pada mahasiswa keperawatan anestesiologi Universitas Harapan Bangsa. Metode penelitian diskriptif, jenis penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Responden penelitian ini yaitu mahasiswa aktif Program Studi Keperawatan Anestesiologi Program Sarjana Terapan angkatan 2021, semester 8 di Universitas Harapan Bangsa. Hasil penelitian ini menunjukan gambaran karakteristik jenis kelamin laki-laki 48 responden (28,6%) perempuan 120 responden (71,4%), dan mayoritas usia responden 22 tahun (40,5%). Tingkat pengetahuan responden berada di katagori baik sebanyak 139 responden (82,7%). Tingkat pengetahuan berdasarkan jenis kelamin perempuan sebanyak 98 responden (58,3%), dan laki-laki 40 responden (24,4%) memiliki tingkat pengetahuan baik. Tingkat pengetahuan berdasarkan usia 22 tahun 55 responden (32,7%) memiliki tingkat pengetahuan baik.
Konstruksi Model Intervensi Stunting Berbasis Riset Ilmiah: Tinjauan Literarur Dedeng Nurkholik Sidik Permana; Arlin Adam
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 7 No. 2 (2025)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v7i2.154

Abstract

Stunting adalah masalah kesehatan masyarakat global yang memerlukan pendekatan multidimensi. Artikel ini memperkenalkan model multifaktorial dalam penanganan stunting dengan mengintegrasikan intervensi kader kesehatan untuk mendukung ketahanan pangan keluarga dengan pola makan dan sanitasi. Artikel ini menggunakan pendekatan program riset ilmiah dengan mengembangkan model untuk menggabungkan teori-teori sebelumnya sehingga menghasilkan kerangka baru yang lebih komprehensif. Penelitian ini menggunakan metode literatur review dari jurnal-jurnal akademik sebanyak 20 jurnal dari pubmed, science direct dan proquest, dalam 10 tahun terakhir untuk merumuskan pendekatan multifaktorial yang mencakup intervensi kader, ketahanan pangan, pola makan, dan sanitasi. Hasil menunjukkan bahwa keterlibatan kader kesehatan dapat meningkatkan ketahanan pangan keluarga, kualitas pola makan, dan akses sanitasi, yang secara signifikan menurunkan prevalensi stunting
Pengaruh Video Animasi Terhadap Pengetahuan Remaja Tentang Pencegahan Perkawinan Anak Siti Naili Ilmiyani; Nurannisa Fitria Aprianti
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 7 No. 2 (2025)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v7i2.160

Abstract

Latar belakang : Perkawinan anak tidak hanya merupakan pelanggaran terhadap anak perempuan, tetapi juga dapat menghambat pendidikan dan mengurangi kekerasan berbasis gender. Beberapa faktor penyebab perkawinan anak adalah: tekanan ekonomi, tingkat pendidikan, kesulitan mencari pekerjaan, sikap orang tua, pekerjaan, pendapatan, gaya pengasuhan, keyakinan dan peran teman sebaya sangat mempengaruhi perkawinan anak dini. Di Indonesia, faktor lain seperti: agama, sikap, budaya, sosial dan media, semuanya dapat berkontribusi terhadap perkawinan anak sebelum dewasa adalah: Kesehatan, Psikologis dan Ekonomi. Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh video animasi terhadap pengetahuan remaja tentang pencegahan perkawinan anak. Metode : Penelitian ini menggunakan metode penelitian pra-eksperimental dengan desain One Group Pretest-Posttest. Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah Total Sampling, dengan total ukuran sampel 35 orang, dan analisis bivariat dalam penelitian ini menggunakan uji Wilcoxon. Hasil : Hasil menunjukkan bahwa ada pengaruh terhadap pengetahuan remaja sebelum dan sesudah diberikan video animasi, yang terlihat dari nilai p tes Wilcoxon – 0,000 < tingkat pengetahuan 0,05. Kesimpulan : Peneliti berharap penelitian ini dapat memberikan manfaat dan motivasi untuk meningkatkan pengetahuan dalam mencegah perkawinan anak.
Penerapan Relaksasi Benson Dalam Manajemen Nyeri Akut Pada Pasien Cholelithiasis Post Laparatomi Colesistectomy Di Ruang Wijaya Kusuma Bawah RSUD Kardinah Kota Tegal Salsa Dwi Ayuni; Tri Sumarni; Laelly Rahmawati
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 7 No. 2 (2025)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v7i2.137

Abstract

Cholelithiasis atau batu empedu merupaka batu yang terbentuk di kantung empedu yang tersusun oleh kolesterol, bilirubin, dan empedu. Laparatomy merupakan salah satu prosedur pembedahan mayor abdomen. Setiap pembedahan dapat menyebabkan ketidaknyamanan dan trauma bagi pasien. Salah satu yang sering dikeluhkan pasien adalah nyeri. Salah satu intervensi nonfarmakologis yang dapat diterapkan untuk mengatasi keluhan tersebut adalah Teknik relaksasi benson. Studi kasus ini bertujuan untuk menggambarkan penerapan teknik relaksasi benson pada pasien cholelithiasis post laparatomy colesistectomy dengan nyeri akut di RSUD Kardinah Kota Tegal. Studi dilakukan melalui observasi selama 3 hari, dengan intervensi selama 3x 24 jam pada tanggal 16–18 April 2025. Metode dalam desain studi kasus ini adalah studi kasus deskriptif dengan subjek satu pasien berusia 50 tahun. Data dikumpulkan melalui pengkajian nyeri sebelum dan sesudah intervensi relaksasi Benson. Hasil menunjukkan penurunan signifikan pada skala nyeri dari 7 menjadi 3 setelah penerapan teknik relaksasi Benson. Teknik relaksasi Benson efektif dalam mengurangi nyeri pada pasien post laparatomy colesistectomy, meningkatkan kenyamanan dan mempercepat proses penyembuhan.
Hubungan Pemasangan Endotracheal Tube (ETT) Dengan Kejadian Nyeri Tenggorokan Pada Pasien Pasca Anestesi Umum Di RSUD Kardinah Tegal Sepfia Ananda Belista; Tophan Heri Wibowo; Indri Heri Susanti
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 7 No. 2 (2025)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v7i2.138

Abstract

Pemasangan endotracheal tube (ETT) sering dilakukan pada pasien yang menjalani operasi dengan anestesi umum. Salah satu keluhan yang sering muncul setelah operasi adalah nyeri tenggorokan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan nyeri tenggorokan pasca operasi pada pasien bedah sentral di RSUD Kardinah Tegal. Penelitian dilakukan pada bulan Februari-Maret 2025 dengan menggunakan desain kuantitatif observasional dan pendekatan cross-sectional. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik purposive sampling, melibatkan 88 responden. Nyeri tenggorokan diukur menggunakan skala Numeric Rating Scale (NRS), dan data dianalisis menggunakan uji Spearman Rank. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ukuran ETT tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan nyeri tenggorokan (p=0,276), sedangkan lama intubasi menunjukkan hubungan yang signifikan (p=0,000) dengan nilai Contingency Coefficient (CC) agak lemah sebesar 0,596. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa lama intubasi berhubungan dengan kejadian nyeri tenggorokan pasca operasi dengan hubungan yang agak lemah, sementara ukuran ETT tidak berpengaruh secara signifikan terhadap nyeri tenggorokan pasca operasi.
Penerapan Fisioterapi Dada Pada Pasien Pneumonia Dengan Masalah Bersihan Jalan Napas Di Ruang HCU RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Astuti, Winda Eka; Siwi, Adiratna Sekar; Eike Irliana Wahyuni
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 7 No. 2 (2025)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v7i2.139

Abstract

Pneumonia merupakan penyakit peradangan menular yang menyerang jalan napas disertai gejala yakni batuk dan terasa sesak. Keadaan ini disebabkan oleh faktor infeksius yakni virus, bakteri mikoplasma (jamur) dan inhalasi zat lain seperti cairan dalam paru dan bercak awan (plak keruh). Gejala umum pada pasien dengan pneumonia yaitu adanya batuk, demam, hidung tersumbat, napas dangkal atau cepat, sulit bernapas dan lemas. Fisioterapi dada terdiri dari serangkaian tindakan keperawatan seperti auskultasi, clapping, vibrasi, dan postural drainase. Penggunaan teknik clapping dan vibrasi ini memungkinkan sputum lebih mudah dikeluarkan, memungkinkan sputum terlepas dari dalam saluran pernapasan, selanjutnya akan keluar dari mulut dengan proses batuk. Penelitian ini menggunakan studi kasus deskriptif untuk mengetahui masalah praktik keperawatan pada pasien pneumonia yang mengalami masalah suplai oksigen, penelitian ini dilakukan pada tanggal 10-12 Maret 2025. Subjek pada laporan kasus adalah Tn. K dengan pneumonia. Pada saat pengkajian klien mengeluh hidungnya tersumbat, terkadang merasa nyeri dada saat batuk, napas dirasakan memberat, demam, batuk grok-grok berulang. Peneliti merumuskan masalah utama dengan diagnosa bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan spasme jalan napas. Dalam melaksanakan tindakan keperawatan Tn. K dengan pneumonia dilaksanakan sesuai rencana keperawatan yang telah disusun. Hasil kunjungan keperawatan selama 3 hari pada klien didapatkan masalah teratasi. Harapan peneliti dari penulisan laporan kasus ini agar mahasiswa, institusi pendidikan dan pihak RS dapat memberikan acuan dalam pemberian asuhan keperawatan pada pasien dengan pneumonia
Withholding dan Withdrawing Life Support Therapy: Tinjauan Literatur Hukum, Etik, dan Sosial Kesehatan Rahim, Harpandi; Nilawati Uly; Andi Alim
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 7 No. 2 (2025)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v7i2.140

Abstract

Kemajuan teknologi kedokteran modern telah memungkinkan perpanjangan hidup secara artifisial melalui terapi penunjang kehidupan, seperti ventilator dan dialisis. Namun, pada kondisi terminal, praktik withholding (tidak memulai terapi) dan withdrawing (menghentikan terapi) life support therapy (WWLST) menimbulkan dilema multidimensi yang mencakup aspek hukum, etik, sosial, dan budaya. Kajian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis secara sistematis berbagai literatur yang membahas WWLST, dengan fokus pada kerangka regulasi, prinsip bioetika, praktik klinis, perspektif agama dan budaya, serta peran informed consent dan advance care planning. Metode yang digunakan adalah Systematic Literature Review (SLR) terhadap 32 artikel nasional dan internasional yang dipublikasikan antara tahun 2000 hingga 2025. Hasil kajian menunjukkan bahwa di Indonesia, WWLST masih berada dalam wilayah hukum yang ambigu, belum dilindungi secara memadai oleh regulasi nasional, dan kerap menimbulkan konflik antara tenaga medis dan keluarga pasien. Meskipun secara etik WWLST dapat dibenarkan bila dilakukan atas dasar keputusan medis kolektif dan otonomi pasien, pelaksanaannya masih menghadapi tantangan akibat rendahnya literasi hukum dan etik, serta dominasi nilai-nilai sosial dan keagamaan yang belum sepenuhnya mendukung praktik akhir hayat. Kajian ini merekomendasikan pentingnya penyusunan regulasi komprehensif, penguatan kapasitas tenaga kesehatan dalam komunikasi etik, edukasi publik, serta pembentukan tim etik klinis di fasilitas layanan kesehatan sebagai prasyarat utama penerapan WWLST yang bermartabat, legal, dan manusiawi.
Efektivitas Pendidikan dan Pelatihan Bantuan Hidup Dasar (BHD) dalam Meningkatkan Pengetahuan dan Keterampilan Remaja: Tinjauan Literatur Ketut Yudi Arparitna; Nilawati Uly; Andi Alim
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 7 No. 2 (2025)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v7i2.143

Abstract

Latar belakang: Bantuan Hidup Dasar (BHD) merupakan keterampilan penting dalam penanganan kondisi gawat darurat seperti henti jantung mendadak. Pendidikan BHD yang dimulai sejak usia remaja diyakini mampu meningkatkan kesiapsiagaan individu dan komunitas dalam merespons kejadian darurat. Namun, efektivitas metode pelatihan yang beragam masih menjadi perdebatan. Tujuan: Artikel ini bertujuan untuk mengkaji efektivitas berbagai metode pendidikan dan pelatihan BHD dalam meningkatkan pengetahuan dan keterampilan siswa sekolah menengah atas (SMA), serta mengevaluasi tantangan dan keberlanjutan hasil pelatihan tersebut. Metode: Kajian dilakukan melalui tinjauan literatur terhadap 40 artikel ilmiah yang diterbitkan antara tahun 2012 hingga 2025. Artikel diperoleh dari basis data Scopus, DOAJ, dan Google Scholar. Data dianalisis secara deskriptif-kualitatif berdasarkan metode intervensi, capaian pembelajaran, serta aspek keberlanjutan dan keterbatasan pelaksanaan pelatihan BHD. Hasil: Mayoritas studi menunjukkan bahwa metode ceramah dan simulasi efektif dalam meningkatkan pengetahuan dan keterampilan siswa. Pendekatan inovatif seperti media audiovisual, flipped classroom, dan Virtual Reality juga memperlihatkan hasil positif, khususnya dalam aspek psikomotorik dan afektif. Namun, retensi keterampilan cenderung menurun dalam 3–6 bulan pasca pelatihan jika tidak ada penguatan lanjutan. Keterbatasan umum dalam studi meliputi cakupan sampel yang sempit, kurangnya evaluasi jangka panjang, serta keterbatasan alat praktik. Kesimpulan: Pendidikan dan pelatihan BHD terbukti efektif, tetapi keberhasilannya sangat dipengaruhi oleh kesinambungan program, dukungan infrastruktur, dan keterlibatan aktif peserta. Diperlukan integrasi kurikulum, pelatihan ulang berkala, serta riset lanjutan dengan desain longitudinal untuk menjamin dampak jangka panjang pelatihan BHD pada remaja.
Paparan Kebisingan dan Gangguan Pendengaran pada Nelayan serta Pekerja Kelautan: Tinjauan Literatur Iin Fatimah Hanis; Nilawati Uly; Andi Alim
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 7 No. 2 (2025)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v7i2.144

Abstract

Latar Belakang: Kebisingan mesin kapal, kompresor, dan tekanan air saat menyelam menempatkan nelayan serta penyelam tradisional pada risiko tinggi Noise-Induced Hearing Loss (NIHL). Tujuan: Meringkas bukti ilmiah 2015–2024 tentang hubungan kebisingan dengan gangguan pendengaran dan dampak non-auditori di sektor kelautan serta menilai intervensi yang telah diujikan. Metode: Telaah naratif terhadap 34 artikel (24 nasional; 10 internasional) yang diidentifikasi dalam dokumen. Ekstraksi mencakup desain, sampel, paparan, dan temuan utama. Hasil: Durasi kerja ≥ 10 tahun, intensitas kebisingan > 85 dBA, frekuensi penyelaman tinggi, dan usia > 40 tahun secara konsisten terkait peningkatan ambang dengar hingga tuli sensorineural. Kebisingan juga memicu gangguan fisiologis (hipertensi, kelelahan), psikologis (stres), serta komunikasi. Intervensi edukasi melalui Program Konservasi Pendengaran (PKP) meningkatkan pengetahuan dan keterampilan mengukur kebisingan. Sistem alarm berbasis sensor dan peredam mesin tradisional menurunkan intensitas 5–10 dB namun adopsinya masih terbatas. Kesimpulan: Kebisingan merupakan determinan utama gangguan pendengaran pada pekerja kelautan. Edukasi, hearing-protection devices (HPD), rekayasa akustik, serta kebijakan K3 spesifik sektor perikanan dibutuhkan untuk perlindungan berkelanjutan.