cover
Contact Name
Idhoofiyatul Fatin
Contact Email
idhofatin.pbsi@fkip.um-surabaya.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
stilistika@um-surabaya.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Stilistika: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra
ISSN : 19788800     EISSN : 26141327     DOI : -
Core Subject : Education,
Stilistika: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra merupakan jurnal yang diterbitkan oleh Prodi S1 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Muhammadiyah Surabaya. Jurnal ini menfokuskan pada publikasi hasil penelitian berupa artikel ilmiah tentang bahasa, sastra dan pengajaran Bahasa Indonesia. Jurnal ini terbit setiap Januari dan Juli dengan nomor P-ISSN 1978-8800 dan E-ISSN 2614-3127.
Arjuna Subject : -
Articles 444 Documents
Implementasi Profil Pelajar Pancasila dalam Pembelajaran Teks Anekdot di Kelas X DKV SMK Negeri 3 Balikpapan Ari Musdolifah; Nurliani Maulida; Yosef Nober Yankiapoli
Stilistika: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol 16 No 1 (2023)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/st.v16i1.15700

Abstract

ABSTRAKProfil  Pelajar  Pancasila  adalah  cara  untuk  menguatkan  nilai  karakter khususnya peserta didik dari pengaruh pergeseran budaya. Tujuan penelitian ini  adalah  (1)  mendeskripsikan  implementasi  mendeskripsikan implementasi Profil Pelajar Pancasila dalam pelajaran bahasa Indonesia di Kelas  X  DKV  SMK  Negeri  3  Balikpapan  (2)  mendeskripsikan  metode  untuk menguatkan karakter Profil Pelajar Pancasila dalam pelajaran bahasa Indonesia di kelas X DKV SMK Negeri 3 Balikpapan. Penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Sumber data penelitian ini adalah 36 peserta didik kelas X DKV SMK Negeri 3 Balikpapan. Teknik pengumpulan data penelitian ini adalah  wawancara,  observasi,  dan  dokumentasi.  Teknik  analisis  data penelitian  ini  dilakukan  dengan  reduksi  data,  penyajian  data,  dan kesimpulan. Hasil  dalam penelitian ini adalah implementasi Profil Pelajar Pancasila telah diterapkan dengan baik oleh peserta didik karena guru kelas selalu mengingatkan dan memberi nasihat kepada peserta didik. Hal tersebut tampak pada pembelajaran bahasa Indonesia materi teks aknekdot. Metode yang dilakukan sebagai penguatan Profil Pelajar Pancasila sudah diterapkan ke dalam pembelajaran dan akan terus dikembangkan melalui RPP.Kata Kunci: Teks anekdot, Profil Pelajar Pancasila.ABSTRACTPancasila Student Profile is a way to strengthen character values, especially students from the influence of cultural shifts. The objectives of this study are (1) describing the implementation of the Pancasila Student Profile in Indonesian language lesson in Class X DKV SMK Negeri 3 Balikpapan (2) Describing methods to strengthen the character of the Pancasila student profile in Indonesian language lessons in class X DKV SMK Negeri 3 Balikpapan. This type of research is descriptive qualitative. The source of this research data is 36 students of class X DKV SMK Negeri 3 Balikpapan. The data collection techniques of this study are interviews, observations, and documentation.  Data analysis techniques of this study were carried out by reducing data, presenting data, and conclusions. Results in this research is the implementation of profile students pancasila has been applied in advance by student because class teachers always remind and provides advice to the students. This can be seen in the learning Indonesian language of the anecdote text material. The method carried out as a strengthening of the Pancasila Student Profile has been applied to learning and will continue to be developed through lesson plan.Keywords: anecdote text, Pancasila Student Profile.
Penggunaan Konjungsi “Kecuali” dan “Selain” dalam Bahasa Buku Kesatu Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (Burgerlijk Wetboek Voor Indonesie) Aruna Asista; Rafiqa Sari
Stilistika: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol 16 No 1 (2023)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/st.v16i1.16211

Abstract

The Use Of The Conjunction "Except" And "Besides" In The Language Of The First Book Of The Civil Code (Burgerlijk Wetboek Voor Indonesie)ABSTRAKHukum dan bahasa adalah dua entitas yang terpisah, tetapi sangat erat hubungannya. Hukum bergantung pada bahasa, dan tanpa bahasa hukum tidak dapat memanifestasikan bentuknya sehingga dapat dipahami oleh mereka yang kepadanya hukum itu disampaikan. Penulisan yang dilakukan untuk memaknai konjungsi “kecuali” dan “selain” yang terdapat dalam buku kesatu Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUH Perdata) bersumber pada Burgerlijk Wetboek peninggalan kolonial Belanda yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan diresmikan melalui Staatsblad Nomor 23 Tahun 1847, BAB IV tentang Perkawinan. Pendekatan yang digunakan dalam penulisan ini adalah pendekatan kualitatif deskriptif. Jenis penelitian yang digunakan oleh penulis adalah jenis analisis deskriptif. Hasil penulisan ini menunjukan bahwa penggunaan konjungsi “kecuali” dan “selain” dalam buku kesatu Kitab Undang-Undang Hukum Perdata bersumber pada Burgerlijk Wetboek, sudah sesuai dengan penempatannya, yaitu pasal 31 ayat 1, pasal 33, 34, 39, 45, 57, 69, 70 aline pertama, 99 dan 100. Sedangkan, satu pasal yang terdapat konjungsi “selain”, yaitu pasal 36.Kata kunci: undang-undang, bahasa, konjungsiABSTRACTLaw and language are two separate entities, but they are very closely related. The law depends on language, and without language the law cannot manifest its form so that it can be understood by those to whom it is delivered. The writing carried out to interpret the conjunction "except" and "besides" contained in the first book of the Civil Code (Civil Code) is sourced from Burgerlijk Wetboek of Dutch colonial heritage which was translated into Indonesian and inaugurated through the Staatsblad No. 23 of 1847, CHAPTER IV on Marriage. The approach used in this writing is a descriptive qualitative approach.  The type of research used by theauthor is a type of descriptive analysis.   The results of this paper show that the use of the conjunction "except" and "besides" in the first book of the Civil Code sourced from Burgerlijk Wetboek, is in accordance with its placement, namely article 31 paragraph 1, articles 33, 34, 39, 45, 57, 69, 70 first inline, 99 and 100. Meanwhile, one article that has a conjunction "besides", namely article 36.Keyword: legislation, language, and conjunctions
Kohesi Gramatikal dan Leksikal dalam Novel Cinta dalam Kardus Karya Raditya Dika & Salman Aristo Fadhila Dwi Juliyanti; Atiqa Sabardila
Stilistika: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol 16 No 1 (2023)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/st.v16i1.13951

Abstract

Gramatical Cohesion and Lexical The Novel Cinta dalam Kardus By Raditya Dika & Salman AristoABSTRAKArtikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk  kohesi gramatikal dan leksikal pada kalimat yang terdapat dalam  novel Cinta dalam Kardus karya Raditya Dika dan Salma Aristo. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu menggunakan  metode deskriptif kualitatif. Dengan metode tersebut peneliti mencoba memaparkan analisis tentang kohesi gramatikal dan leksikal   pada sebuah novel yang berjudul Cinta dalam Kardus  karya Raditya Dika dan Salman aristo. Metode deskriptif yamg digunakan  pada penelitian ini dengan  menganalisis dan mendeskripsikan kohesi gramatikal dan leksikal pada novel Cinta dalam Kardus.  Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis data dokumen. Hasil penelitian ini yakni terdapat  adanya unsur-unsur suatu kohesi gramatikal dan leksikal. Unsur-unsur kohesi gramatikal meliputi referensi, perangkaian, subtitusi dan pelepasan. Unsur-unsur kohesi leksikal meliputi referensi, hiponimi, antonimi, repetisi dan ekuivalensi.Kata kunci: Novel, Kohesi gramatikal, Kohesi leksikalABSTRACTThis article aims to describe the forms of grammatical and lexical cohesion in sentences contained in the novel Cinta dalam Kardus by Raditya Dika and Salma Aristo. The method used in this research is using descriptive qualitative method. Through this method the researcher tries to explain the analysis of grammatical and lexical cohesion in a novel entitled Cinta dalam Kardus by Raditya Dika and Salman Aristo. The descriptive method used in this research is to analyze and describe the grammatical and lexical cohesion in the novel Cinta dalam Kardus. The data collection technique used in this research is document data analysis. The results of this research show that there are elements of grammatical and lexical cohesion. The elements of grammatical cohesion include reference, concatenation, substitution and detachment. The elements of lexical cohesion include reference, hyponymy, antonym, repetition and equivalence.Keyword:  Novel, Grammatical cohesion, Lexical cohesion 
Nilai Tuturan dalam Tahapan Perkawinan Adat Masyarakat Desa Suelain Kecamatan Lobalain Kabupaten Rote Ndao Yessy Mervilen Fanggidae; Sanhedri Boimau
Stilistika: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol 16 No 1 (2023)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/st.v16i1.16294

Abstract

Speech Value in The Stage of Marriage Custom of The Suelain Village Community, Lobalain Districts Rote Ndao Regency ABSTRAKPerkawinan merupakan suatu ikatan sosial/perjanjian hukum, baik secara adat maupun Agama bagi seorang laki-laki dan seorang perempuan untuk hidup berumah tangga. Tujuan penelitian ini adalah memaparkan dan mendeskripsikan nilai budaya yang tergurat dalam tuturan adat perkawinan masyarakat Desa Suelain Kecamatan Lobalain Kabupaten Rote-Ndao. Penelitian ini menggunakan teori Linguistik Antropologi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah  metode deskriptif kualitatif. Sumber data dalam penelitian ini adalah Tokoh-tokoh adat masyarakat Suelain Kecamatan Lobalain Kabupaten Rote Ndao. Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan teknik (1) observasi; (2) wawancara; (3) perekaman dan pencatatan. Sementara pengolahan datanya dilakukan melalui (a) pengaksaran, (b) terjemahan, (c) analisis, dan (d) simpulan. Hasil penelitian dan pembahasan menunjukkan bahwa perkawinan adat masyarakat Desa Suelain Kecamatan Lobalain Kabupaten Rote-Ndao terdiri atas 7 tahap yaitu : (1) Tahap peminangan disebut Hengga Mbotik; (2) Tahap perundingan belis; (3) Tahap pengumpulan belis (Tu’u belis); (4) Tahap penyerahan belis; (5) Tahap terang kampung disebut Nggani Eik’; (6)Tahap pengukuhan adat disebut Natudu sasao; dan (7) Tahap pengantaran mempelai perempuan diantara ke rumah mempelai laki-laki disebut Dode. Dari ketujuh tahap tuturan adat perkawinan ini, memiliki (1) Nilai Religius; (2)  Nilai kebersamaan; dan (3) Nilai Etika.Kata kunci: Masyarakat, Perkawinan, Tuturan,  Nilai ABSTRACTMarriage is a social bond/legal agreement, both according to custom and religion for a man and a woman to live as a household. The purpose of this research is to explain and describe the cultural values that are inscribed in the custom marriage speech of the people of Suelain Village, Lobalain District, Rote-Ndao Regency. This study uses the theory of Anthropological Linguistics. The method used in this research is descriptive qualitative method. The data sources in this study were from traditional leaders of the Suelain community, Lobalain District, Rote Ndao Regency. Collecting data in this study used techniques (1) Observation; (2) Interview; (3) Recording and recording. While processing the data is done through (a) Recognizing, (b) Translation, (c) Analysis, and (d) Conclusion. The results of the research and discussion show that the custom marriage of the people of Suelain Village, Lobalain District, Rote-Ndao Regency consists of 7 stages, namely: (1) The proposal stage is called Hengga Mbotik; (2) Purchase negotiation stage; (3) Belis collection stage (Tu'u belis); (4) Purchase submission stage; (5) The bright stage of the village is called Nggani Eik'; (6) The customary confirmation stage is called Natudu sasao; and (7) The stage of delivering the bride to the groom's house is called Dode. Of the seven stages of traditional marriage speech, it has (1) religious values; (2) Togetherness values; and (3) Ethical Values. Keyword: Society, Marriage, Speech Values
Analisis Makna Konotatif pada Leksem “Kampret” dalam Grup Telegram Diskusi Skincare Isnaini Qodriyatul Jannah
Stilistika: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol 16 No 1 (2023)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/st.v16i1.13499

Abstract

 Analysis of Conotative Meaning on “Kampret” Lexeme in Skincare Discussion Telegram GroupABSTRAKPenelitian ini dilatarbelakangi oleh leksem kampret sering digunakan sebagai makna makian, keburukan, sehingga leksem ini dikatakan makna konotasi negatif. Leksem kampret sering muncul di berbagai macam media sosial, salah satunya telegram. Peneliti ingin membahas makna konotatif pada leksem kampret dalam grup telegram diskusi skincare. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui makna konotatif pada leksem kampret dalam grup telegram diskusi skincare. Berdasarkan hasil dan pembahasan dalam penelitian ini menemukan 32 data leksem kampret dalam grup telegram diskusi skincare, tetapi makna konotatifnya terdapat 42 makna konotatif negatif, di antaranya leksem kampret  pada makna konotatif negatif (tidak pantas) terdapat 11 data, makna konotatif negatif (keras) terdapat 17 data, dan makna konotatif negatif (kasar) terdapat 14 data, total keseluruhan terdapat 42 makna konotatif negatif. Dalam pembahasan tersebut, makna konotatif negatif pada leksem kampret dalam grup telegram diskusi skincare yang paling dominan muncul ialah makna konotatif negatif (keras) terdapat 17 data karena pemilik akun-akun telegram tersebut tidak dapat mengontrol diri dalam melakukan segala hal, jadi ia menggunakan leksem kampret yang bersifat mengeraskan makna.Kata kunci: Semantik, makna konotatif, leksem kampret, grup telegram diskusi skincareABSTRACTThe background of this research is the lexeme kampret is often used as a meaning of swearing, badness. Therefore, this lexeme is said to have a negative connotation. Lexeme Kampret often appears on various social media, one of which is telegram. Researchers want to discuss the connotative meaning of lexeme kampret in the skincare discussion telegram group. The method used in this research is descriptive qualitative method. The purpose of this study was to find out the connotative meaning of lexeme kampret in the skincare discussion telegram group. Based on the results and discussion in this study, it found 32 data on the skin care telegram discussion group, but there were 42 negative connotative meanings on the connotative meaning, including 11 data on the negative connotative meaning (inappropriate) and the negative (hard) connotative meaning. 17 data, and negative connotative meaning (rude) there are 14 data, in total there are 42 negative connotative meanings. In this discussion, the negative connotative meaning of lexeme in the skincare telegram discussion group that most dominantly appears is the negative connotative meaning (hard) there are 17 data because the owner of these telegram accounts cannot control himself in doing everything, so he uses lexeme kampret which is meaningful.Keyword: Semantic, connotative meaning, kampret lexeme, skincare discussion telegram group
Pengaruh Mitos Terhadap Sikap Masyarakat pada Penyandang Disabilitas dalam Cerpen Pelangi dalam Kenangan Indah Fadhilla; Dinniaty Dinniaty; Rachmayanti Rachmayanti; Anwar Ilham; Zikri Ibnu Zar
Stilistika: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol 16 No 1 (2023)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/st.v16i1.15735

Abstract

The Influence of Myth on Society Attitude to Disability People  in The Short Stories  Pelangi dalam Kenangan ABSTRAK                        Cerpen Pelangi dalam Kenangan memberikan gambaran mental dan fisik penyandang disabilitas yang dilihat melalui kutipan cerpen kemudian dimaknai secara denotasi dan konotasi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat makna denotasi dan makna konotasi dari beberapa simbol yang hadir di dalam cerpen ini sebagai respon atau sikap masyarakat terhadap tokoh penyandang disabilitas. Sikap atau respon yang ditunjukkan masyarakat dipengaruhi oleh mitos-mitos yang berkembang di masyarakat terkait para penyandang disabilitas. Penelitian ini menggunakan teori semiotika Roland Barthes dengan metode deskriptif analisis. Sumber data penelitian adalah cerpen Pelangi dalam Kenangan. Teknik pengumpulan data adalah teknik baca, simak, dan catat. Berdasarkan hasil penelitian terdapat tiga simbol yang menggambarkan fisik dan mental penyandang disabilitas dalam cerpen yaitu simbol “Nyiur”, “Mata Kopong/juling”, dan “Keistimewaan”. Di dalam teks juga digambarkan sikap atau respon masyarakat terhadap tokoh penyandang disabilitas yang dominan memberikan respon negatif. Hanya tokoh Aku yang memberikan respon positif. Suara tokoh Aku mengajak pembaca untuk meningkatkan empati kepada penyandang disabilitas.Kata kunci: Denotasi, Konotasi, Mitos, Respon, DisabilitasABSTRACTThe short story Pelangi in Memories provides a mental and physical picture of persons with disabilities which is seen through the short story quotations which are then interpreted in terms of denotations and connotations. The purpose of this research is to look at the denotative meanings and connotative meanings of several symbols that are present in this short story as a response or attitude of society towards figures with disabilities. The attitude or response shown by the community is influenced by the myths that develop in society regarding persons with disabilities. This research uses Roland Barthes' semiotic theory with a descriptive analysis method. The source of the research data is the short story Pelangi in Memories. Data collection techniques are reading, observing, and note-taking techniques. Based on the results of the study, there are three symbols that describe the physical and mental abilities of persons with disabilities in short stories, namely the symbols "Nyiur", "Eyes Kopong/squint", and "Specialties". The text also describes the attitude or response of the community towards figures with disabilities who predominantly give negative responses. Only my character gave a positive response. Character's voice I invite readers to increase empathy for disability people.Keyword:  Denotation, Connotation, Myth, Response, Disability
Posisi Aktor dalam Novel Lusi Lindri Karya Y.B. Mangunwijaya Andi Anugrah Batari Fatimah
Stilistika: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol 16 No 1 (2023)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/st.v16i1.16049

Abstract

Actor's Position in The Novel Lusi LindriBy. Y.B. Mangunwijaya ABSTRAKNovel sebagai sebuah wacana dapat merepresentasikan fenomena dan posisi aktor dalam ceritanya. Novel Lusi Lindri memuat permasalahan gender, yakni sikap diskriminatif dan subordinasi patriarki terhadap posisi aktor perempuan. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan posisi aktor sebagai subjek maupun objek yang mengalami bentuk ketidakadilan gender, berdasarkan pandangan analisis wacana kritis Sara Mills, digunakan sebagai media literasi sastra berbasis gender di perguruan tinggi. Penelitian ini memanfaatkan metode kualitatif-linguistik kritis bersifat deskriptif. Data penelitian berupa kata, frasa, klausa, kalimat yang bersumber pada novel Lusi Lindri karya Y.B. Mangunwijaya. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan teknik dokumentasi, baca simak, dan pencatatan. Peneliti sebagai instrumen kunci penelitian. Teknik analisis data melalui prosedur mengidentifikasi, mengklasifikasi, menganalisis, dan membuat kesimpulan. Hasil penelitian ditemukan posisi aktor sebagai subjek terdominasi dan objek terodominasi yang mengalami (a) marginalisasi (b) subordinasi (c) stereotip (d) kekerasan verbal, fisik, dan psikis (e) beban ganda perempuan.Kata kunci:Analisis Wacana Kritis, Posisi Aktor, Ketidakdilan gender, Novel, Pembelajaran Literasi SastraABSTRACTThe novel as a discourse can represent the phenomena and positions of the actors in the story. Lusi Lindri's novel contains gender issues, namely discriminatory attitudes and patriarchal subordination to the position of female actors. This study aims to describe the position of actors as subjects and objects who experience forms of gender inequality, based on the views of Sara Mills' critical discourse analysis, used as a medium for gender-based literary literacy in tertiary institutions. This research utilizes a descriptive qualitative-critical linguistic method. The research data are in the form of words, phrases, clauses, sentences that originate from the novel Lusi Lindri by Y.B. Mangunwijaya. Data collection techniques were carried out using documentation, reading and recording techniques. Researchers as key research instruments. Data analysis techniques through identifying procedures, classifying, analyzing, and making conclusions. The results of the study found that the position of actors as dominated subjects and dominated objects experienced (a) marginalization (b) subordination (c) stereotypes (d) verbal, physical and psychological violence (e) the double burden of womenKeyword: Critical Discourse Analysis, Actor's Position, Gender Inequality, Novels, Literary Literacy Learning. 
Analisis Sebaran Level Kognitif HOTS Berdasarkan Taksonomi Bloom pada Soal Penilaian Harian Materi Teks Pidato Persuasif di SMPN 1 Bambanglipuro Bantul Riswanda Himawan; Pujiati Suyata
Stilistika: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol 16 No 1 (2023)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/st.v16i1.14208

Abstract

Analysis of Hots Cognitive Level Distribution Based on Bloom's Taxonomy on Daily Assessment Questions of Persuasive Speech Text at SMPN 1 Bambanglipuro Bantul ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan hasil sebaran level kognitif HOTS sesuai dengan Taksonomi Bloom pada soal Penilaian Harian (PH) materi teks pidato persuasif di SMPN 1 Bambanglipuro Bantul. Penelitian ini termasuk ke dalam jenis penelitian deskriptif kuantitaif. Data dikumpulkan dengan teknik dokumentasi. Penelitian ini meliputi beberapa langkah, yaitu (1) memberikan lembar soal dan telaah soal berkaitan dengan kesesuaian tiap butir soal terhadap indikator level kognitif HOTS berdasarkan taksonomi Bloom di antarannya adalah C4, C5, dan C6; (2) menganalisis hasil telaah soal yang sudah diuji validitas nya oleh expert; (3) mengkorelasikan hasil penilaian ahli dengan rumus Aiken V; (4) mengelompkkan masing-masing butir soal sesuai dengan level kognitifnya; (5) mendeskripsikan level kognitif yang dominan digunakan guru terhadap soal evaluasi yang dibuat dan diujikan kepada peserta didik. Hasil penelitian menujukkan bahwa berdasarkan hasil validitas yang dilakukan kepada ahli yang dikorelasikan dengan rumus Aiken V diperoleh skor 0,40-0,80 dengan kategori sangat valid. Dari 27 soal yang dikembangkan dan dianalisis memperoleh hasil 13 soal dengan level kognitif C4 (menemukan), 9 soal dengan level kognitif C5 (mengevaluasi), dan 5 soal dengan level kognitif C6 (mencipta).Kata kunci: Analisis, Level, Kognitif, PH, SMP 1 BambanglipuroABSTRACTThis study aims to describe the results of the distribution of HOTS cognitive levels according to Bloom's Taxonomy on the Daily Assessment (PH) material for persuasive speech texts at SMPN 1 Bambanglipuro Bantul. This research is included in the type of quantitative descriptive research. Data were collected by documentation technique. This research includes several steps: (1) provide question sheets and questions analysis related to the suitability of each item to the HOTS cognitive level indicators based on Bloom's taxonomy including C4, C5, and C6; (2) analyzing the results of the questions analysis that have been tested for validity by the expert; (3) correlate the results of the expert assessment with the Aiken V formula; (4) grouping each item according to its cognitive level; (5) describe the dominant cognitive level used by the teacher on evaluation questions made and tested on students. The results of the study show that based on the results of the validity carried out to experts who correlated with the Aiken V formula, a score of 0.40-0.80 was obtained with a very valid category. Based on the 27 questions which are developed and analyzed, the results obtained 13 questions with a cognitive level of C4 (finding), 9 questions with a cognitive level of C5 (evaluating), and 5 questions with a cognitive level of C6 (creating).Keyword: Analysis, Cognitive Level, Daily Assessment, SMP 1 Bambanglipuro
Pengembangan Buku Pengayaan Menulis Teks Berita Berbasis TIK untuk Peserta Didik Kelas VIII SMP Moh. Rizqi Abdillah; Agus Milu Susetyo; Yerry Mijianti; Astri Widyaruli Anggraeni
Stilistika: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol 16 No 1 (2023)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/st.v16i1.15412

Abstract

ABSTRAKPenelitian  ini  dilakukan  untuk  mengembangkan  buku  pengayaan  menulis teks  berita  berbasis  TIK.  Dengan  adanya  Buku  Pengayaan  Menulis  Teks Berita  Berbasis  TIK,  peneliti  berasumsi  jika  mampu  membantu  kegiatan belajar mengajar guru dan peserta didik dalam di kelas. Peneliti modifikasi sepuluh tahapan penelitian pengembangan menurut Borg and Gall menjadi lima  tahap  sesuai  dengan  kebutuhan  penelitian  (1)  penelitian  dan pengelompokan  data,  (2) pengembangan  produk  awal,  (3)  pengujian validitas,  (4)  revisi  produk,  dan  (5)  pengujian  di  lapangan. Berdasarkan penilaian  ahli  bahan  ajar  pada  buku  pengayaan  menulis  teks  berita  yang memuat  TIK  didapatkan  skor  rata-rata  81,7  artinya  hasil  tersebut  masuk kedalam  kategori  “Sangat Baik”  dan  Sangat  Layak,  tanpa  perlu  adanya direvisi. Uji validasi dari ahli materi buku pengayaan menulis berita berbasis TIK mendapat kriteria “Baik” setelah mendapat penilaian dengan mendapat skor  72,3  yang  artinya  sesuai  dan  tidak  perlu  dilakukannya  revisi.  Buku pengayaan menulis teks berita berbasis TIK memperoleh nilai rata-rata 95,8 berdasarkan hasil penilaian dari respon siswa, yang artinya buku pengayaan masuk dalam kategori “Sangat Baik” dan hasil respon guru didapatkan skor rata-rata  80,  dengan  yang  artinya  buku  pengayaan  yang  dikembangkan masuk kedalam kriteria “baik”.Kata Kunci: Buku Pengayaan, Berita, TIKABSTRACTThis research was conducted to develop an enrichment news text book based on ICT. With an enrichment news text book based on ICT, researchers assume if it is able to help the teaching and learning activities of teachers and students in the classroom. Researchers modify the ten stages of development research based on Borg and Gall into five stages according to research needs (1) research and data grouping, (2) preliminary product development, (3) validity testing, (4) product revision, and (5) field testing.  field.  Based on the assessment of teaching material expert’s evaluation, the enrichment news text book based on ICT, achieved an average score of 81.7 means that the results fall into the category of "Very Good" and Very Eligible, without the need for revision.  The validation test from the material experts on ICT-based news writing enrichment books received the "Good" criterion after receiving an assessment with a score of 72.3, which means it is appropriate and no revision is needed. The enrichment news text book based on ICT obtained an average score of 95.8 based on the results of the student responses assessment, which means that the enrichment book is in the "Very Good" category and the teacher's response results obtained an average score of 80, which means that the enrichment book developed into the criteria of "good".Keyword: Enrichment Book, News, ICT
Penampil dan Khalayak dalam Pertunjukan Sastra Lisan Bagurau Saluang Dendang Klasik di Kecamatan Lima Kaum Sufi Anugrah; Ferdinal Ferdinal; Sudarmoko Sudarmoko
Stilistika: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol 16 No 1 (2023)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/st.v16i1.16329

Abstract

Performers and Audiences in The Classical Bagurau Saluang Dendang Oral Literary Performance at The District of Lima KaumABSTRAKDalam perkembangannya pertunjukan sastra lisan bagurau saluang dendang dikolaborasikan dengan kesenian modern. Sehingga memunculkan berbagai genre seperti saluang dangdut, saluang remix, saluang orgen, dan saluang joget. Artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan keterlibatan penampil dan khalayak dalam pertunjukan sastra lisan bagurau saluang dendang klasik. Data pada artikel ini dikumpulkan dengan metode wawancara dan perekaman. Untuk pembahasannya digunakan strategi pembacaan dekonstruksi Derida. Artikel ini menyimpulkan bahwa penampil dan khalayak berkolaborasi dalam mengemas pertunjukan sastra lisan bagurau saluang dendang klasik. Bentuk penampil dalam pertunjukan ini terdiri dari beberapa unsur yaitu;  juru mudi, tukang dendang, dan tukang saluang. Ketiganya memiliki peran yang sama dalam menciptakan teks dan membangun suasana pertunjukan. Sementara, khalayak merupakan masyarakat penikmat atau penonton sastra lisan bagurau yang juga memiliki peran dalam membangun suasana dan menciptakan teks dalam pertunjukan sastra lisan bagurau saluang dendang klasik.Kata kunci: Sastra Lisan, Bagurau, Saluang Dendang Klasik, Penampil, Khalayak, DekonstruksiABSTRACTIn its development, the performance of the Bagurau Saluang Dendang oral literature is collaborated with modern art. It leads to various genres such as Saluang Dangdut, Saluang Remix, Saluang Orgen, and Saluang Joget. It aims to describe the involvement of performers and spectators in the classical performance of bagurau saluang dendang oral literature. It collected data with interview and recording methods. For the discussion, Derida's deconstruction reading strategy is used. It concludes that actors and audiences are experts in packaging the classical performances of bagurau saluang dendang oral literature. The form of performers in this show consists of several elements, namely; helmsman, chanter, and saluang handyman. All three have the same role in creating the text and building the atmosphere of the show. While the audience is the connoisseurs or spectators of bagurau oral literature who also play a role in building the atmosphere and creating texts in the classical Bagurau Saluang Dendang oral literature performance.Keyword: Oral Literary, Bagurau Saluang Dendang Klasik,  Performers, Audiences, Deconstruction