cover
Contact Name
Fransisca Iriani Rosmaladewi
Contact Email
fransiscar@fpsi.untar.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jmishs@untar.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
ISSN : 25796348     EISSN : 25796356     DOI : -
Core Subject : Art, Social,
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni (P-ISSN 2579-6348 dan E-ISSN 2579-6356) merupakan jurnal yang menjadi wadah bagi penerbitan artikel-artikel ilmiah hasil penelitian dalam bidang Ilmu Sosial (seperti Ilmu Psikologi dan Ilmu Komunikasi), Humaniora (seperti Ilmu Hukum, Ilmu Budaya, Ilmu Bahasa), dan Seni (seperti Seni Rupa dan Design). Jurnal ilmiah ini diterbitkan oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara. Dalam satu tahun, jurnal ini terbit dalam dua nomor, yaitu pada bulan April dan Oktober.
Arjuna Subject : -
Articles 723 Documents
Dukungan Internal atau Eksternal; Self-Compassion dan Perceived Social Support Sebagai Prediktor Stres Lim, Maria Theresia Astrid Felicia; Kartasasmita, Sandi
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 2, No 2 (2018): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v2i2.1587

Abstract

The purpose of this study is to find out which variable is more accurate at predicting stress caused by daily hassles in university students; self-compassion or perceived social support. Stress is a condition that arise when individuals perceive that there is a discrepancy between the experienced demands and the resources needed to fulfill these demands. Daily hassles are everyday demands or problems that are irritating, trigger frustration, and cause stress. Self-compassion is the attitude of treating yourself well, understanding, supporting, and full of compassion. Perceived social support is an individual perception that social support will be available when needed, and make individuals feel that other people love, care, and respect said individual. The participants for this study are 573 students aged 17 to 26 years. Measuring instruments used consist of the Perceived Stress Scale-10, Self-Compassion Scale, and Multidimensional Scale of Perceived Social Support. Data analysis was performed by multiple regression analysis technique. The result of the study shows several findings. First, the self-compassion variable is more accurate  at predicting stress caused by daily hassles compared to perceived social support variable. Second, the dimension of self-compassion is the strongest predictor of stress because daily hassles are the dimension of isolation. Third, the source of perceived social support that is most able to predict stress due to daily hassles is the perceived social support from friends.Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui variabel mana yang lebih kuat memprediksi stres yang disebabkan daily hassles pada mahasiswa; self-compassion atau perceived social support. Stres merupakan kondisi yang dihasilkan saat individu mempersepsikan bahwa terdapat diskrepansi antara tuntutan-tuntutan yang dialami dan sumber-sumber yang diperlukan untuk memenuhi tuntutan-tuntutan tersebut. Daily hassles merupakan tuntutan atau masalah sehari-hari yang menjengkelkan, memicu frustrasi, dan menyebabkan stres. Self-compassion merupakan sikap memperlakukan diri sendiri dengan baik, pengertian, mendukung, dan penuh kasih sayang. Perceived social support merupakan persepsi individu bahwa dukungan sosial akan diterima saat diperlukan, dan membuat individu merasa orang lain cinta, sayang, peduli, dan menghargai individu tersebut. Partisipan penelitian merupakan 573 mahasiswa berusia 17 hingga 26 tahun. Alat-alat ukur yang digunakan terdiri dari Perceived Stress Scale-10, Self-Compassion Scale, dan Multidimensional Scale of Perceived Social Support. Analisis data dilakukan dengan teknik analisa regresi ganda. Hasil penelitian menunjukkan beberapa hal. Pertama, variabel self-compassion lebih kuat memprediksi stres yang disebabkan daily hassles dibandingkan dengan variabel perceived social support. Kedua, dimensi self-compassion yang paling kuat memprediksi stres karena daily hassles adalah dimensi isolation. Ketiga, sumber perceived social support yang paling mampu memprediksi stres karena daily hassles adalah perceived social support yang didapatkan dari teman. 
PENERAPAN GROUP GESTALT THERAPY BAGI WARGA BINAAN LAPAS NARKOTIKA X YANG MENGALAMI KECEMASAN MENJELANG BEBAS Konghoiro, Imelda; Kartasasmita, Sandi; Subroto, Untung
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 1, No 2 (2017): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v1i2.921

Abstract

Selama menjalani masa pidana di lapas, warga binaan (tahanan) akan kehilangan hak kebebasan sehingga kebebasan dari masa pidana merupakan hal yang sangat ditunggu oleh warga binaan. Namun tidak sedikit warga binaan merasakan kecemasan karena bingung menghadapi masa depan saat kembali berada di tengah masyarakat terutama ketika harus menghadapi pandangan negatif dari masyarakat. Oleh sebab itu dibutuhkan terapi untuk mengurangi kecemasan yang dirasakan oleh warga binaan. Terdapat beberapa teknik terapi untuk mengatasi kecemasan, salah satunya adalah terapi kelompok gestalt. Tujuan terapi kelompok ini untuk mengurangi kecemasan warga binaan dengan mengaplikasikan terapi kelompok gestalt. Terapi ini mampu mengatasi perasaan yang belum selesai (unfinished problems) yaitu kecemasan warga binaan menjelang kebebasan dengan lingkungannya masingmasing dengan menerapkan teknik kursi kosong (empty chair). Partisipan dalam penelitian sebanyak lima orang. Partisipan akan diminta untuk bertukar peran dan berdialog dengan sumber kecemasannya. Partisipan juga akan diminta untuk melakukan relaksasi terlebih dahulu agar partisipan dapat merasa lebih tenang. Relaksasi yang digunakan yaitu breathing exercise dan progressive muscle relaxation (PMR).Intervensi dilakukan sebanyak enam sesi. Hasil akan diukur dengan membandingkan skor pretest-posttest dari Beck Anxiety Inventory. Setelah dilakukan intervensi, partisipan menunjukkan penurunan skor kecemasan pada skor posttest. Selama intervensi berlangsung, partisipan mampu mengikuti intervensi dengan cukup positif. Sehingga didapatkan hasil penurunan skor pada saat posttest diberikan. Hal ini menunjukkan adanya penurunan tingkat kecemasan pada warga binaan menjelang bebas.
DESKRIPSI INTIMACY, PASSION, DAN COMMITMENT PASANGAN SUAMI ISTRI YANG MENIKAH SECARA KATOLIK Tjajadi, Octavia Putri; Ajisuksmo, Clara R. P.
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 1, No 2 (2017): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v1i2.858

Abstract

Pernikahan merupakan perjanjian antara pria dan wanita untuk membentuk keluarga bersama. Selain menikah secara agama, pasangan suami istri diwajibkan untuk mengurus dokumen di catatan sipil, sehingga pasangan suami istri ini dinyatakan sah dalam pernikahan. Hubungan pernikahan pun tidak lepas dari cinta. Menurut Sternberg, cinta terdiri dari tiga komponen, yakni intimacy, passion, dan commitment. Setiap komponen memiliki elemen tersendiri, yaitu intimacy terdiri dari sepuluh elemen, passion terdiri dari lima elemen, dan commitment terdiri dari tujuh elemen. Penelitian ini bertujuan untuk melihat gambaran intimacy, passion, dan commitment pada pasangan yang menikah secara Katolik, dengan mengunakan skala cinta Sternberg. Penelitian ini mengunakan metode kualitatif dengan pengumpulan data melalui wawancara. Subjek dalam penelitian ini adalah tiga pasang suami istri (6 orang) yang menikah secara Katolik dan memiliki anak. Peneliti menggunakan metode analisis Fenomenologi. Kredibilitas penelitian dilihat dari hasil jawaban setiap subjek, kemudian dianalisis secara mendalam. Hasil penelitian dari keenam subjek hampir berbeda pada setiap komponen. Intimacy ditunjukkan dengan keingian meningkatkan kesejahteraan pasangan, di mana ketiga suami melakukan peran dalam bertanggungjawab untuk mencari nafkah bagi keluarga; pemahaman satu sama lain; dan menjalin komunikasi terbuka. Sementara dari ketiga istri intimacy terbentuk karena istri sebagai partner dalam menjaga hubungan pernikahan, yakni dengan memberikan perhatian kepada suami, mencoba saling mengenal, dan memberikan dukungan untuk suami terutama ketika sakit. Selanjutnya dari passion, hanya satu subjek yang menyebutkan bahwa ia tertarik pada pasangan secara fisik dan kelima subjek menyebutkan bukan faktor fisik melainkan kecocokan kepribadian.Commitment terlihat dari pengorbanan yang berupa tindakan dan keyakinan hubungan dapat terus berlanjut. Hasil penemuan teori segitiga Sternberg memiliki tiga komponen, tetapi yang paling utama dipenelitian ini adalah komitmen sebagai komponen utama.
PERAN JOB EMBEDDEDNESS TERHADAP KINERJA DENGAN KETERIKATAN KERJA DAN KEINGINAN UNTUK MENETAP SEBAGAI MEDIATOR Elvina Pekasa; Rostiana Rostiana
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 2, No 1 (2018): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v2i1.1635

Abstract

Kinerja adalah salah satu hal kunci yang harus diperhatikan oleh semua perusahaan. Banyak variabel yang sudah terbukti dapat memprediksi kinerja, namun penelitian selama satu dekade terakhir ini mulai mengembangkan sebuah konsep baru yaitu job embeddedness. Job embeddedness diasumsikan berhubungan dengan kinerja melalui keterikatan kerja dan intention to stay akan tetapi belum ada penelitian yang membuktikan hal ini. Penelitian ini dilakukan di PT X, sebagai salah satu perusahaan manufaktur otomotif terbesar di Indonesia. Jumlah sampel yang digunakan sejumlah 305 orang. Metode analisis dilakukan dengan regresi ganda. Dari hasil analisis data ditemukan bahwa peran job embeddedness terhadap kinerja dimediasi secara parsial oleh keterikatan kerja dan keinginan untuk menetap.
Perspektif Praktisi Televisi Indonesia terhadap Konvergensi Televisi dan Internet dalam Persaingan Penyajian Informasi di Internet Muhammad Adi Pribadi; Muhammad Gafar Yoedtadi; Kurniawan Hari Siswoko
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 1, No 1 (2017): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v1i1.372

Abstract

Masyarakat Indonesia mulai menggunakan internet untuk mencari informasi. Jumlah pengguna internet terus bertambah dari tahun ke tahun. Biaya internet dan teknologi komunikasi memudahkan masyarakat untuk mendapatkan informasi. Beberapa stasiun televisi di Indonesia melihat perubahan perilaku pemirsanya yang mulai mencari berita di Internet. Jumlah penyedia informasi melalui internet semakin banyak. Perubahan pola pencarian berita oleh pemirsa televisi dan persaingan dengan penyedia informasi di internet menyebabkan terjadinya konvergensi televisi dan internet pada tiga stasiun televisi di Indonesia. Ke tiga stasiun televisi tidak hanya menyediakan informasi melalui saluran televisi saja tetapi mereka juga menyediakan informasi melalui internet. Informasi yang cepat dan akurasi yang bisa dipertanggung jawabkan oleh stasiun televisi memberi keuntungan tersendiri bagi masyarakat. Perubahan ini memberikan keuntungan bagi stasiun televisi karena perubahan ini menjadi penambah pendapatan bagi stasiun televisi. Penelitian ini menggunakan metodologi kualitatif dengan metode fenomenologi. Dengan teknik ini, peneliti mengumpulkan dan menganalisis data yang diperoleh dari tiga jurnalis pada tiga stasiun televisi nasional yang masuk dalam kategori 10 besar menurut AC NIELSEN.Kata kunci: televisi, konvergensi, internet
Pengujian neuroticism sebagai moderator pada hubungan antara sensitivitas atasan dengan perilaku kerja kontraproduktif bawahan (studi kasus di PT XYZ) Hartati, Tri
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 2, No 2 (2018): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v2i2.1800

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran neuroticism sebagai moderator pada hubungan antara sensitivitas atasan dengan perilaku kerja kontraproduktif-organisasi. Karyawan menunjukkan perilaku kerja kontraproduktif yang tinggi, indikatornya adalah datang terlambat, menggunakan waktu kerja untuk kepentingan pribadi, memperpanjang waktu istirahat melebihi yang ditentukan. Perilaku kerja kontraproduktif merupakan perilaku sukarela yang melanggar norma/aturan organisasi atau aturan anggota-anggotanya, atau keduanya. Sensitivitas atasan yaitu perilaku memahami, perasaan tulus, dan kesiapan menolong yang ditunjukan oleh atasan kepada bawahannya. Neuroticism yaitu suatu kecemasan, tidak aman, kesadaran diri, dan temperamental, dengan dasar perilaku seperti cemas, gelisah, dan ketakutan yang tidak rasional. Sampel dalam penelitian ini sebanyak 123 partisipan. Tehnik pengambilan sampel dengan menggunakan simple random sampling. Metode yang digunakan untuk analis data yaitu descriptive statistic untuk mengetahui gambaran masing-masing variabel, parametrik pearson untuk menguji matriks korelasi, serta Moderated Regression Analysis (MRA) untuk menguji peran neuroticism sebagai moderator. Hasil pada penelitian ini adalah neuroticism belum terbukti dapat berperan sebagai moderator dalam hubungan antara sensitivitas atasan dengan perilaku kerja kontraproduktif. Kata kunci: Perilaku kerja kontraproduktif, sensitivitas atasan, neuroticismThis study aims to determine the role of neuroticism as a moderator in the relationship between the sensitivity of the superiors and counterproductive-organizational work behavior. Employees exhibiting highly counterproductive work behavior, where the indicators include arriving late, using work time for personal gain, extending breaks over specified time period. Counterproductive work behavior is a voluntary behavior that violates organizational norms / rules or the rules of its members, or both. The sensitivity of the superiors includes understanding behavior, sincere feelings, and readiness to help shown by superiors to subordinates. Neuroticism is an anxiety, insecurity, self-awareness, and temperamental, with basic behaviors such as anxious, restless, and irrational fear. The sample in this study are 123 participants. Sampling techniques used is simple random sampling. The method used for data analysis is descriptive statistics to describe each variable, Pearson parametric to test the correlation matrix, and Moderated Regression Analysis (MRA) to test the role of neuroticism as a moderator. The result of this study is that neuroticism has not been proven to be able to act as a moderator in the relationship between the sensitivity of superiors and counterproductive work behavior.Keywords: counterproductive work behavior, sensitivity of the superiors, neuroticism
PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR MAHASISWA DENGAN MENCIPTAKAN LINGKUNGAN BELAJAR YANG KONDUSIF Santoso, Anton Budi; Oktafien, Shinta
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 2, No 1 (2018): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v2i1.1755

Abstract

Lingkungan belajar dapat didefinisikan sebagai tempat di mana mahasiswa melakukan kegiatan belajar dan bersosialisasi dengan orang lain yang ada di lingkungan tersebut. Menciptakan lingkungan belajar yang kondusif dapat berpengaruh terhadap prestasi belajar mahasiswa yang semakin meningkat karena bilamana mahasiswa merasa nyaman melakukan proses belajar mengajar di kampusnya sendiri, maka semangat mahasiswa tersebut untuk menyelesaikan masa perkuliahannya menjadi semakin tinggi, sehingga dengan sendirinya dapat berpengaruh terhadap hasil belajar yang semakin lebih baik. Adapun yang menjadi tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengetahui sampai seberapa besar pengaruh lingkungan belajar terhadap prestasi belajar mahasiswa yang menempuh mata kuliah Etika Bisnis kelas A pada semester Genap TA. 2016/2017. Untuk metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini merupakan metode asosiatif dengan jenis penelitian survey yang informasi dan data yang berhubungan dengan masalah yang diteliti dikumpulkan daftar pertanyaan tertulis/ kuesioner yang dibagikan kepada para mahasiswa Prodi. Manajemen D3, terutama mahasiswa yang mengambil mata kuliah Etika Bisnis kelas A sebagai respondennya, dengan jumlah sampel sebanyak 27 orang mahasiswa dan untuk teknik pengolahan dan analisis data digunakan analisis regresi linier berganda yang perhitungannya sendiri dilakukan dengan menggunakan bantuan program SPSS versi 21.0. Berdasarkan hasil perhitungan dan pengolahan data, diketahui bahwa tidak adanya pengaruh yang berarti atau signifikan di antara kedua variabel yang diteliti dalam penelitian ini yang berarti bahwa peningkatan prestasi belajar mahasiswa tidak selalu ditentukan oleh faktor penciptaan lingkungan belajar yang kondusif
Problematika Lembaga Pemasyarakatan dalam Sistem Peradilan Terpadu Hutabarat, Rugun Romaida
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 1, No 1 (2017): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v1i1.333

Abstract

Correctional criminal justice system be seen from the issue of crime system, the idea of coaching, over capacity, and the adverse effects of imprisonment. The new alternative of imprisonment to be important. This study uses normative. This paper will discuss the implementation of associated ideas correctional imprisonment in Indonesia current legislation and the future alternative accordance with the idea of humanity. The answer above problems: first, over capacity in prisons into correctional implications have not been the implementation of selective and limited idea. Second, in the future should give consideration criteria such as medical, family, professional or social considerations that force/urgent. Considering there are still many problems in the implementation of imprisonment, over capacity, not the realization of the idea of correctional, adverse effects of imprisonment and global criticisms, then alternative imprisonment integrating the idea of humanity, saving, rehabilitation and selective expected to realize the integrated criminal justice system. Keywords: policy, correctional ide, integrated criminal justice system
Daftar Isi Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 2 No 1 DPPM UNTAR
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 2, No 1 (2018): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Daftar Isi Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 2 No 1
PERAN KUALITAS KEHIDUPAN KERJA DAN PERSEPSI PELUANG KERJA TERHADAP INTENSI PINDAH KERJA Yudhistira Victoria; Zamralita Zamralita; Kiky Dwi Hapsari Saraswati
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 1, No 2 (2017): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v1i2.906

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis peran dari kualitas kehidupan kerja dan persepsi peluang kerja terhadap intensi pindah kerja karyawan PT. X berperan terhadap intensi pindah kerja. Intensi pindah kerja adalah keinginan individu untuk keluar dari suatu organisasi dan berpindah ke organisasi lain. Kualitas kehidupan bekerja adalah persepsi pekerja terhadap suasana dan pengalaman pekerja di tempat kerja mereka. Sedangkan persepsi terhadap peluang kerja adalah proses tanggapan yang terjadi dalam diri individu terhadap keadaan pasar tenaga kerja. Tinggi dan rendahnya kesesuaian keadaan antara pencari kerja dan pekerjaan yang ditawarkan akan menentukan besarnya intensi karyawan untuk meninggalkan organisasi. Penelitian ini melibatkan 300 responden yang merupakan karyawan PT. X. Metode survei secara online melalui portal karyawan berbentuk closed-ended question diberikan kepada responden. Data dianalisis dengan menggunakan regresi linear ganda. Hasil penelitian menunjukkan nilai F sebesar 70,780 dengan signifikansi (p) sebesar 0,000 (p < 0,05) dan nilai R2 sebesar 0,323 yang berarti terdapat peran yang signifikan antara kualitas kehidupan kerja dan persepsi peluang kerja terhadap intensi pindah kerja karyawan di PT. X dengan kontribusi sebesar 32,3%, sedangkan kontribusi peran kualitas kehidupan kerja adalah 30% dan kontribusi persepsi peluang kerja adalah 3,7%. Intervensi yang dilakukan adalah menyusun program pelatihan dan memperbaiki uraian pekerjaan sesuai dengan kebutuhan perusahaan saat ini.

Filter by Year

2017 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 9 No. 3 (2025): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora dan Seni Vol. 9 No. 2 (2025): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora dan Seni Vol. 9 No. 1 (2025): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora dan Seni Vol. 8 No. 3 (2024): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora dan Seni Vol. 8 No. 2 (2024): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol. 8 No. 1 (2024): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora , dan Seni Vol. 7 No. 3 (2023): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol. 7 No. 2 (2023): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol. 7 No. 1 (2023): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol. 6 No. 3 (2022): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol. 6 No. 2 (2022): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol. 6 No. 1 (2022): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 6, No 1 (2022): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 5, No 2 (2021): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 5, No 1 (2021): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 4, No 2 (2020): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 4, No 1 (2020): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 3, No 2 (2019): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 3, No 1 (2019): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 2, No 2 (2018): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 2, No 1 (2018): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 1, No 2 (2017): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 1, No 1 (2017): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni More Issue