cover
Contact Name
Fransisca Iriani Rosmaladewi
Contact Email
fransiscar@fpsi.untar.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jmishs@untar.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
ISSN : 25796348     EISSN : 25796356     DOI : -
Core Subject : Art, Social,
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni (P-ISSN 2579-6348 dan E-ISSN 2579-6356) merupakan jurnal yang menjadi wadah bagi penerbitan artikel-artikel ilmiah hasil penelitian dalam bidang Ilmu Sosial (seperti Ilmu Psikologi dan Ilmu Komunikasi), Humaniora (seperti Ilmu Hukum, Ilmu Budaya, Ilmu Bahasa), dan Seni (seperti Seni Rupa dan Design). Jurnal ilmiah ini diterbitkan oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara. Dalam satu tahun, jurnal ini terbit dalam dua nomor, yaitu pada bulan April dan Oktober.
Arjuna Subject : -
Articles 723 Documents
URGENSI PEMBENTUKAN PERATURAN DAERAH PROVINSI BALI TENTANG PERLINDUNGAN DAN PENGELOLAAN HUTAN MANGROVE BERLANDASKAN KEARIFAN LOKAL Ahmad Redi; Tundjung Herning Sitabuana; Fakhrana Izazi Hanifati; Putri Nabila Kurnia Arsyad
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 3, No 1 (2019): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v3i1.3517

Abstract

Indonesia memiliki kekayaan sumber daya alam melimpah yang tersebar di 17.504 pulau salah satunya adalah hutan mangrove. Hutan mangrove sebaga bagian dari ekosistem memiliki banyak manfaat, diantaranya adalah sebagai penyerap karbon terbesar untuk melawan pemanasan global dan pemecah ombak sehingga meminimalisir abrasi. Salah satu wilayah Indonesia yang memiliki banyak hutan mangrove adalah Provinsi Bali. Namun, perlindungan dan pengelolaan hutan mangrove di Provisi Bali belum terlaksana dengan baik. Seperti adanya penyerobotan lahan kawasan hutan mangrove, pemanfaatan lahan untuk keperluan yang tidak sesuai peruntukkannya, perambahan, pencemaran, dan lain sebagainya. Meskipun terdapat regulasi yang membahas mengenai pengelolaan dari hutan mangrove, namun belum ada suatu payung hukum yang khusus membahas pemulihan ekosistem hutan mangrove yang mulai rusak. Sehingga diperlukan adanya suatu payung hukum dengan memperhatikan kearifan lokal masyarakat Provinsi Bali guna melindungi ekosistem hutan mangrove yang tetap sejalan dengan prinsip Tri Hita Karana. Tujuan penelitian ini adalah untuk memaparkan bagaimana urgensi pembentukan Peraturan Daerah Provinsi Bali tentang perlindungan dan pengelolaan hutan mangrove dengan menyesuaikan dengan kearifan lokal masyarakat Bali. Penelitian ini menggunakan metode penelitian hukum normatif empiris dengan studi literatur dan teknik wawancara In-Depth Interview. Hasil dari penelitian ini adalah telah terdapat berbagai regulasi nasional untuk melindungi dan mengelola hutan mangrove namun belum terdapat peraturan ditingkat daerah Provinsi Bali yang mengatur secara khusus padahal pada Tahun 2015 sebanyak 172 Ha Hutan Mangrove pada Kabupaten Badung telah rusak, kemudian pada Kabupaten Buleleng sebanyak 128,5 Ha Hutan Mangrove telah rusak yang dalam hal ini lebih banyak daripada jumlah hutan mangrove yang tidak rusak yakni 114,5 Ha, lalu pada Kota Denpasar hutan mangrove yang telah rusak adalah sebanyak 81,4 Ha, kemudian 63,5 Ha hutan mangrove di Jembrana juga telah rusak, dan Di Kabupaten Klungkung sebanyak 9,5 Ha telah rusak. Urgensi pembentukan peraturan daerah ini dapat dinilai sebagai realisasi Pasal 28H ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Kesimpulan penelitian ini adalah diperlukan untuk adanya suatu peraturan daerah yang mengatur mengenai pengelolaan dan pengawasan hutan mangrove di Bali dengan melibatkan masyarakat hukum adat, memuat ketentuan pidana, dilandaskan pada kearifan lokal Bali seperti Tri Hita Karana yang berarti tiga penyebab keharmonisan, terdiri dari parahyangan, pawongan dan palemahan. Indonesia possesses a wealth of abundant natural resources spread over 17,504 islands, one of which is mangrove forests. Mangrove forests as part of an ecosystem provides many benefits, including being the most effective carbon sink to combat global warming, and breaking incoming waves so as to minimize abrasion. One area of Indonesia with plenty of mangrove forests is the Province of Bali. However, the protection and management of mangrove forests in the Province of Bali has not been implemented well. Examples of which include land grabbing of the mangrove forest area, clearing said forest for uses that are not in accordance with its purpose, encroachment, pollution, and so forth. Despite regulations that discuss the management of mangrove forests, there is not yet a legal protection that specifically addresses the restoration of damaged mangrove forest. Therefore, legal protection with regards to the local wisdom of the people of Bali Province is necessary in order to protect the mangrove forest ecosystem which remains in line with the principles of Tri Hita Karana. The purpose of this study is to explain the urgency of the formation of the Bali Provincial Regulation concerning the protection and management of mangrove forests with regards to the local wisdom of the Balinese people. This research used empirical normative legal research method with literature studies and in-depth interview. The result of this study is that there have been various national regulations to protect and manage mangrove forests, however there is no regulation at the provincial level in Bali for similar purposes, whereas in 2015 as many as 172 Ha of Mangrove Forest in Badung Regency was damaged, and then in Buleleng Regency 128 5 Ha of mangrove forest was damaged, which is more than the 114.5 Ha of mangrove forest that is still undamaged. Then, in Denpasar, 81.4 Ha of mangrove forest, in Jembrana, 63.5 Ha of mangrove forest, and in Klungkung Regency 9.5 Ha was damaged. The urgency of establishing this regional regulation can be seen as the realization of Article 28H paragraph (1) of the 1945 Constitution of the Republic of Indonesia. The conclusion of this study is that it is necessary for a regional regulation governing the management and supervision of mangrove forests in Bali by involving the customary law community, which contains criminal provisions, and based on Balinese local wisdom such as Tri Hita Karana which means three sources of harmony, consisting of parahyangan, pawongan and palemahan.
PENGARUH RASA TIDAK AMAN BEKERJA TERHADAP SUBJECTIVE WELL-BEING DAN KUALITAS TIDUR DENGAN JOB EMBEDDEDNESS SEBAGAI MODERATOR Theresia Meirosa Purba; P. Tommy Y.S. Suyasa
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 3, No 1 (2019): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v3i1.3556

Abstract

Perubahan adalah suatu hal yang tidak terelakkan. Perubahan yang terjadi dalam organisasi bahkan disebut dapat menjadi salah satu sumber stress pada karyawan. Adanya gejala stress yang dialami karyawan tampak dari rasa tidak aman mengenai masa depan ataupun kelanjutan pekerjaannya. Bahkan rasa tidak aman bekerja diprediksi dapat berpengaruh terhadap kondisi emosi dan kualitas tidur karyawan. Dengan mengembangkan penelitian terdahulu, penelitian ini bertujuan mengidentifikasi pengaruh dari rasa tidak aman bekerja terhadap subjective well-being dan kualitas tidur pada karyawan Perusahaan X, dengan job embeddedness sebagai variabel moderator. Sebagai suatu gejala stress, rasa tidak aman bekerja (job insecurity) diartikan sebagai ancaman kehilangan pekerjaan yang dirasakan individu serta rasa khawatir yang berkaitan dengan ancaman tersebut. Dampak dari rasa tidak aman tersebut tampak pada subjective well-being yang diartikan sebagai penilaian keseluruhan individu terhadap pengalaman emosional, serta tampak pula pada kualitas tidur, yaitu aspek kuantitatif dan subyektif dari pengalaman tidur individu. Job embeddedness sebagai moderator didefinisikan sebagai faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan seseorang untuk bertahan pada pekerjaan dan organisasi atau perusahaan. Penelitian ini berbentuk studi kuantitatif non-eksperimental dengan melibatkan 110 karyawan tetap dari Perusahaan X. Pengambilan data dilakukan melalui metode survey dengan menyebarkan e-form. Kemudian data dianalisis dengan metode regresi linear melalui program SPSS 24.0. dan menunjukkan hasil di mana secara umum job embeddedness tidak menunjukkan peran sebagai moderator pada pengaruh dari rasa tidak aman bekerja terhadap subjective well-being maupun kualitas tidur. Namun demikian, job embeddedness pada level tertentu akan menunjukkan peran sebagai moderator. Change is inevitable Changes that occur in an organization might even be a stressor for employees. One symptom of stress experienced by employees is the insecurity about the future or the continuation of their employment. This feeling of work insecurity is predicted to affect the emotional condition and quality of sleep of employees. By improving on previous research, this study aims to identify the effect of work insecurity on subjective well-being and sleep quality in Company X employees, with job embeddedness as a moderating variable. As a symptom of stress, job insecurity is defined as the threat of job loss felt by individuals as well as the worry associated with said threat. The impact of insecurity on subjective well-being is defined as an overall individual assessment of emotional experience, which is reflected on the quality of sleep, namely the quantitative and subjective aspects of individual sleep experience. Job embeddedness as the moderator is defined as the factors that influence a person's decision to stay with the job and organization or company. This research is a non-experimental quantitative study involving 110 employees from Company X. Data was collected through a survey by distributing e-forms. Then, the data were analyzed using linear regression method on SPSS 24.0. which shows that, in general, job embeddedness does not serve as moderator of the influence of work insecurity on subjective well-being and sleep quality. However, job embeddedness, at a certain level serves as moderator.
MODALITAS GANDA DALAM BAHASA INGGRIS DAN PADANANNYA DALAM BAHASA INDONESIA: KAJIAN SINTAKSIS DAN SEMANTIK Deden Novan Setiawan Nugraha; Fitriani Reyta
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 3, No 1 (2019): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v3i1.3334

Abstract

Bahasa memiliki fungsi utama sebagai alat komunikasi. Setiap bahasa memiliki keunikan tersendiri serta memiliki aturan agar pemakai bahasa dapat menggunakan bahasa secara baik dan benar dalam berkomunikasi. Bahasa Inggris dan bahasa Indonesia memiliki keunikan tersendiri salah satunya mengenai modalitas. Modalitas merupakan sikap pembicara atas keterlibatannya terhadap kebenaran proposisi tuturannya. Sikap ini bisa dimarkahi dengan pemarkah leksikal yang berbeda yaitu dalam bentuk kata, frasa, atau klausa. Modalitas ada dalam tataran semantik yang berarti dapat muncul dalam semua bahasa dengan bentuk pengungkapnya masing masing. Dengan menggunakan metode deskriptif, penelitian ini mendeskripsikan modalitas ganda dalam bahasa Inggris dan padanannya dalam bahasa Indonesia. Secara sintaksis, bentuk modalitas ganda yang digunakan dalam penelitian ini yaitu verba bantu modal have to dikombinasikan dengan adverb (kata keterangan). Data penelitian ini diambil dari korpus linguistik bernama COCA (Corpus of Contemporary American English). Secara semantik, hasil penelitian menunjukkan terdapat kombinasi antara verba bantu modal yaitu have to dan modal leksikal berupa kata keterangan yaitu surely, certainly yang merupakan pengungkap kesimpulan logis (logical necessity) dan termasuk ke dalam modalitas epistemik yang memiliki makna kepastian yang subjektif. Pengungkapan modalitas epistemik ditunjukkan oleh pemunculan kepastian penutur yang melibatkan pengetahuannya atau keyakinannnya. Dalam hal ini terlihat bahwa penutur telah menarik suatu kesimpulan dari hal-hal yang telah diketahui atau diamati sebelumnya. Padanan have to dalam bahasa Indonesia menjadi ‘seharusnya’ dan termasuk ke dalam pengungkap ekstraklausal, dimana terdapat kecenderungan penutur untuk menyatakan bahwa keharusan yang diungkapkan tersebut berasal dari dirinya sendiri, bukan dari orang lain. The main function of a language is as a communication tool. Each language is unique and governed by rules for language speakers to use the language properly and correctly in communicating. English and Indonesian are unique in the sense of modality. The modality is the speaker's attitude towards his/her involvement in the truth of his/her speech proposition. This attitude can be marked by different lexical markers in the form of words, phrases or clauses. Modality exists on semantic level which means that it can appear in all languages with their respective expressions. Using descriptive method, this study describes dual modalities in English and their equivalents in Indonesian. Syntactically, the form of double modality used in this study is the “have to” combined with adverbs. The research data was taken from a linguistic corpus called COCA (Corpus of Contemporary American English). Semantically, the result of the study shows a combination between modal auxiliary verb “have to” and lexical modal in the form of adverbs “surely”, “certainly” which are expressions of logical necessity belonging to epistemic modality with subjective meaning of certainty. Disclosure of epistemic modality is demonstrated by the appearance of the certainty of the speaker who involves his/her knowledge or beliefs. In this case it appears that the speaker has drawn a conclusion from the things previously known or observed. The equivalent to “have to” in Indonesian is “seharusnya” and is included in extraclausal disclosures, where there is a tendency for the speaker to state that the expressed obligation originates from him/herself and not from others.
LEARNING AGILITY PADA KARYAWAN GENERASI MILLENNIAL DI JAKARTA Devi Jatmika; Karentia Puspitasari
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 3, No 1 (2019): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v3i1.3446

Abstract

Globalisasi mengakibatkan perkembangan dunia ekonomi dan bisnis bergerak sangat cepat, dinamis dan terus berubah. Generasi millennial atau generasi Y merupakan generasi terbanyak saat ini dan menjadi aset bagi kemajuan perusahaan. Sehingga, untuk menghadapi tantangan perubahan ini generasi millennial memerlukan learning agility, yaitu kesediaan untuk belajar dan menerapkan hal yang telah dipelajari dalam situasi baru. Namun, generasi millennial dikenal sebagai generasi yang instan, cepat bosan, dan kurang tangguh. Tujuan dari penelitian ini adalah untuck mengetahui gambaran learning agiity pada generasi millennial di Jakarta. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kuantitatif deskriptif. Kuesioner dibuat berdasarkan empat dimensi learning agility dari Choices Quetionnaire (Eichinger & Lombardo, 1997). Empat dimensi dari learning agility terdiri dari people agility, results agility, change agility, dan mental agility. Teknik sampling yang digunakan adalah convenience sampling. Jumlah sampel penelitian sebanyak 136 orang dengan kriteria usia generasi millennial, berusia 18- 37 tahun dan merupakan karyawan tetap di sebuah organisasi di Jakarta. Teknik analisa data deskriptif menggunakan perbandingan mean hipotetik dan mean empirik. Hasil penelitian menunjukkan learning agility karyawan generasi millennial berada pada kategori tinggi. Dari hasil penormaan setiap dimensi, diketahui keempat dimensi juga berada di kategori tinggi. Karyawan generasi millennial memiliki keinginan yang tinggi untuk belajar, fleksibel untuk menghadapi perubahan.  Globalization promotes rapid, dynamic, and constantly changing development in the economic and business world. Being the current most prominent generation, the millennial generation, also known as generation Y serves as an asset for company development. Therefore, in order to overcome this challenge of change, the millennial generation requires learning agility, which i a willingness to learn and apply what has been learned in new situations. The work attitude of the millennial generation in overcoming change still requires investigation, that organizations can have better understanding of their employees. The purpose of this study was to determine the level of learning agility of millennial employees in Jakarta. The research method used was descriptive quantitative research. The research instrument was constructed based on four dimensions of learning agility, namely = people agility, results agility, change agility, and mental agility. The sampling technique used was convenience sampling. Participants of the study were 136 millenials who worked as full-time employees aged 18-37 years. Descriptive data analysis was conducted by comparing hypothetical mean and empirical mean, along with differential test with independent sample t-test and one-way ANOVA. Results show that the learning agility of millennial generation employees was considered high. The mean score of mental agility was the highest, followed by results agility, change agility and the lowest mean score was people agility. The differential test found no differences in learning agility based on age and gender.
AKTIVISME DAN KAPITALISME DIGITAL: KONSTRUKSI BRANDING WARUNG KOPI MELALUI INSTAGRAM Nabilla Nailur Rohmah; Shuri Mariasih Gietty Tambunan
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 3, No 1 (2019): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v3i1.3505

Abstract

Berkembangnya teknologi digital dan demokratisasi di berbagai aspek kehidupan di Indonesia saat ini telah mendorong pesatnya gerakan sosial, budaya maupun politik di ruang publik. Salah satunya adalah bermunculannya warung kopi sebagai tempat berkumpul, menyuarakan pendapat, dan mendiskusikan berbagai permasalahan. Studi kasus penelitian ini adalah bisnis warung kopi yang mengasosiasikan diri dengan aktivisme dan seiring dengan penciptaan tren konsumsi dan gaya hidup kelas menengah urban. Fenomena tersebut tidak terlepas dari wacana third wave coffeee yang sedang menarik perhatian dan minat para aktivis untuk menghubungkan specialty coffee dengan pemberdayaan petani dan pengembangan bisnis skala mikro. Dalam masyarakat jejaring (the network society) saat ini, banyak di antara para pengelola bisnis warung kopi menggunakan media sosial sebagai sarana untuk membangun jejaring dan promosi. Media sosial menjadi salah satu media promosi yang strategis karena menawarkan efektifitas dalam menyampaikan gagasan aktivisme serta kepentingan bisnis sekaligus. Artikel ini membahas bagaimana bisnis warung kopi mengasosiasikan diri dengan dunia aktivisme dan memosisikan branding mereka melalui media sosial Instagram. Penelitian ini menggunakan pendekatan Cultural Studies, dan dilakukan dengan menggabungkan metode digital etnografi dan metode analisis tekstual. Tiga akun Instagram, @kopikultur, @kopikintamani dan @kedaikopi_kalimetro, dianalisis untuk mendiskusikan kompleksitas konstruksi branding warung kopi dalam kaitannya dengan isu identitas gerakan, transformasi sosial, dan kepentingan ekonomi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konstruksi branding warung kopi di Instagram memuat adanya upaya penciptaan transformasi sosial melalui aktivisme konsumen serta artikulasi identitas gerakan dalam rangka akumulasi kapital sosial dan simbolik. The development of digital technology and democratization of various aspects of life in Indonesia today has encouraged rapid social, cultural and political movements in public forum. One such example is the emergence of coffee shops as a place to gather, voice opinions, and discuss various issues. The case study of this research is a coffee shop businesses associating themselves with activism and going hand in hand with the consumption trends and lifestyle of the urban middle class. This phenomenon is inseparable from the discourse of third wave coffee which is attracting the attention and interest of activists to connect specialty coffee with the empowerment of farmers and micro-scale business development. In current network society, many coffee shop business managers use social media as a mean to build networks and for promotions. Social media is a strategic promotion media for its effectiveness in conveying activism ideas along with business interests. This article discusses how coffee shop businesses associate themselves with activism and position their branding through Instagram. This study used Cultural Studies approach, and was carried out by combining digital ethnographic method and textual analysis method. Three Instagram accounts, @kopikultur, @kopikintamani and @kedaikopi_kalimetro, were analyzed to discuss the complexity of the coffee shop branding construction in relation to issues of movement identity, social transformation, and economic interests. The result showed that the construction of a coffee shop branding on Instagram carries along an effort to create social transformation through consumer activism as well as the articulation of movement identity in the context of the accumulation of social and symbolic capital.
HUBUNGAN PSYCHOLOGICAL DISTRESS DAN KARAKTERISTIK INDIVIDU, KELUARGA DAN LINGKUNGAN KERJA PADA TENAGA KERJA WANITA (TKW) INDONESIA DI TAIWAN Bianca Marella
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 3, No 1 (2019): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v3i1.3399

Abstract

Belum banyak upaya dilakukan untuk mengetahui kesehatan mental tenaga kerja wanita yang berada di luar negeri. Penelitian ini bertujuan untuk melihat gambaran dan faktor-faktor yang berhubungan dengan kesehatan kesehatan mental pada Tenaga Kerja Indonesia yang bekerja di Taiwan. Data diambil menggunakan metode kuantitatif dengan alat ukur the Hopkins Symptoms Checklist-25 (HSCL-25) untuk mengetahui tingkat distres psikologis dan pertanyaan mengenai karakteristik sosiodemografik. Partisipan penelitian ini adalah 181 tenaga kerja wanita Indonesia yang sudah bekerja di Taiwan selama minimal enam bulan, dikumpulkan dengan teknik convenience sampling dan snowball sampling. Berdasarkan penghitungan statistik, sebanyak 17% dari total partisipan mengalami gejala depresi dan kecemasan. Dari uji hipotesis, diketahui terdapat hubungan positif signifikan antara distres psikologis dan komunikasi rutin dengan keluarga, keaktifan di komunitas, dan alasan kerja untuk mencari kesempatan lebih baik. Little effort has been made to find out the mental health of women workers who are abroad. This study aims to look at the picture and factors related to mental health health in Indonesian Workers who work in Taiwan. Data were collected using quantitative methods using the Hopkins Symptoms Checklist-25 (HSCL-25) to determine the level of psychological distress and questions about sociodemographic characteristics. The participants of this study were 181 Indonesian female workers who had worked in Taiwan for a minimum of six months, collected using convenience sampling and snowball sampling techniques. Based on statistical calculations, as many as 17% of the total participants experienced symptoms of depression and anxiety. From the hypothesis test, it is known that there is a significant positive relationship between psychological distress and routine communication with family, activity in the community, and the reasons for work to look for better opportunities.
PERAN EMPATI DAN SELF-EFFICACY GURU TK TERHADAP GAYA PENGATURAN KELAS DALAM KONTEKS UNJUSTIFIED AGGRESSION Carolyne Sutradjaja; Riana Sahrani; Fransisca Iriani Roesmala Dewi
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 3, No 2 (2019): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v1i1.5677

Abstract

Penelitian sebelumnya mengaitkan empati dan self-efficacy dengan kemungkinan guru TK merespon situasi bullying. Akan tetapi belum ada penelitian yang mengaitkan empati dan self-efficacy dengan actual behaviour guru TK di dalam kelas. Maka penelitian ini dilakukan untuk melihat peran empati dan self-efficacy terhadap gaya pengaturan kelas guru TK dalam konteks unjustified aggression. Hal ini dipertimbangkan karena gaya pengaturan kelas kerap dikaitkan dengan perilaku konkrit yang diterapkan oleh guru di dalam kelas. Partisipan dalam penelitian ini adalah 124 guru TK dan preschool, teknik pengambilan sampel menggunakan non-probability dan snowball sampling. Analisis data dilakukan menggunakan regresi berganda (multiple regression) dan didapatkan bahwa tingkat empati dan self-efficacy guru TK memiliki peran signifikan terhadap gaya pengaturan kelas sebesar 17.5% (F = 14.045, p = 0.00 < 0.05). Hal ini mengindikasikan bahwa tingkat empati dan self-efficacy guru TK dapat memprediksi bagaimana mereka mengelola kelas, yang terlihat dalam perilaku saat mereka menetapkan kontrol serta membangun interaksi dengan siswa. Analisis lebih lanjut dilakukan untuk melihat peran empati dan self-efficacy terhadap masing-masing dimensi dalam gaya pengaturan kelas, yaitu kontrol dan keterlibatan guru. Dari analisis tersebut ditemukan bahwa konstruk empati memiliki peran signifikan terhadap keterlibatan guru, sedangkan konstruk self-efficacy memiliki peran signifikan terhadap disiplin. Previous research linked empathy and self-efficacy to the possibility of kindergarten teachers responding to bullying situations. However, there are no studies that relate empathy and self-efficacy with the actual kindergarten teacher behaviour in the classroom. Therefore this study was conducted to examine the role of empathy and self-efficacy towards the classroom management style of kindergarten teachers in the context of unjustified aggression. This is considered because the style of classroom management is often associated with concrete behaviour that is applied by the teacher in the classroom. Participants were 124 kindergarten and preschool teachers, the sampling technique was non-probability and snowball sampling. Data analysis was performed using multiple regression (multiple regression) and it was found that the level of empathy and self-efficacy of kindergarten teachers had a significant role in the style of classroom management by 17.5% (F = 14,045, p = 0.00 <0.05). This indicates that the level of empathy and self-efficacy of kindergarten teachers can predict how they manage the classroom, which is seen in behavior when they establish controls and build interactions with students. Further analysis was carried out to see the role of empathy and self-efficacy towards each dimension in the style of classroom management, namely teacher control and involvement. From the analysis it was found that the construct of empathy has a significant role on teacher involvement, while the construct of self-efficacy has a significant role on discipline.
PERAN ORIENTASI KESADARAN SOSIAL TERHADAP KARAKTERISTIK DAN REAKSI UMPAN BALIK Sartika Zumria; P. Tommy Y.S. Suyasa; Bonar Hutapea
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 3, No 2 (2019): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v3i2.3574

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menguji peran orientasi kesadaran sosial sebagai moderator hubungan antara karakteristik umpan balik dan reaksi umpan balik. Umpan balik bagi karyawan menjadi salah satu hal yang dapat meningkatkan kinerja dan motivasi. Hasil penelitian mengenai umpan balik terdahulu menunjukkan bahwa reaksi karyawan terhadap umpan balik dapat dipengaruhi oleh proses pemberian umpan balik itu sendiri. Selain itu penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa terdapat faktor lain yang dapat mempengaruhi bagaimana individu yang berbeda dapat bereaksi terhadap umpan balik, salah satunya adalah orientasi kesadaran sosial yang dimiliki tiap individu. Karakteristik umpan balik dalam penelitian ini terdiri dari kredibilitas pemberi umpan balik dan penyampaian umpan balik. Penelitian ini melibatkan 92 partisipan yang terdiri dari 23 laki-laki dan 69 perempuan. Partisipan merupakan karyawan yang bekerja di bidang layanan administrasi akademik di beberapa universitas di Jakarta. Sebanyak 60 orang (65%) diantaranya bekerja di universitas swasta, sedangkan 32 orang lainnya (35%) bekerja di universitas negeri. Berdasarkan hasil uji hipotesis didapatkan bahwa kredibilitas pemberi umpan balik dan penyampaian umpan balik terbukti dapat menjadi prediktor dari reaksi umpan balik pada karyawan layanan administrasi akademik. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa orientasi kesadaran sosial tidak dapat menjadi moderator hubungan antara karakteristik umpan balik dan reaksi umpan balik pada karyawan layanan administrasi akademik. This study aims to examine the role of social awareness orientation as a moderator of the relationship between feedback characteristics and feedback reactions. Feedback for employees can improve performance and motivation. The results of previous studies on feedback indicate that employee reactions to feedback can be influenced by the process of feedback itself. In addition, previous studies have shown that there are other factors that can affect how different individuals react to feedback, one of which is the orientation of social awareness that every individual possesses. Feedback characteristics in this study consist of the credibility of the feedback provider and the delivery of feedback. The study involved 92 participants consisting of 23 men and 69 women. Participants are employees who work in the field of academic administrative services in several universities in Jakarta. As many as 60 people (65%) of them work at private universities, while 32 others (35%) work at public universities. Based on the results of the hypothesis test, it is found that the credibility of the feedback provider and the delivery of feedback are proven to be a predictor of feedback reactions in academic administrative service employees. This study also shows that social awareness orientation fails to become a moderator of the relationship between feedback characteristics and feedback reactions in academic administrative service employees.
Peranan Humor terhadap Stres dengan Subjective Well Being (SWB) sebagai Mediator pada Dewasa Awal Erik Wijaya
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 1, No 1 (2017): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v1i1.377

Abstract

Penelitian ini ingin menguji peran humor stres dengan subjektif kesejahteraan sebagai variabel mediator pada dewasa awal. Penelitian tentang humor di Indonesia telah dilakukan dengan melibatkan subjek mahasiswa yang sedang menulis tesis, seorang mahasiswa pada tahun pertama, mahasiswa pascasarjana, serta pada masa dewasa tengah. Berdasarkan ini, para peneliti ingin melakukan penelitian lebih lanjut untuk menekankan peran humor dengan subjektif kesejahteraan (SWB) sebagai mediator pada awal masa dewasa awal. Penelitian dilakukan pada awal masa dewasa karena sumber-sumber stres dari pekerjaan yang dilakukan dan keluarga hidup sebagai bagian dari tugas-tugas perkembangan. Berdasarkan hasil penelitian ini ditemukan subjective well being memiliki peran sebagai variabel mediator dari humor superiority terhadap stres.Kata kunci: humor, subjective well being (swb), stress.
ANALISIS BUTIR SELF-HARM INVENTORY Damara Agustin; Rizky Qastrunada Fatria; Puti Febrayosi
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 3, No 2 (2019): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v3i2.3880

Abstract

Salah satu bentuk perilaku dari seseorang yang mengalami depresi atau mempunyai pikiran untuk bunuh diri adalah self-harm atau menyakiti diri sendiri. Self-harm atau perilaku merusak diri biasanya merupakan perilaku yang biasanya ditandai dengan adanya bekas atau tanda di tangan setelah melakukan melukai diri, mengigit diri sendiri, terbakar, merusak mata, dan kulit yang rusak (Pattison & Kahan, 1983). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui intensitas self-harm pada remaja sampai dewasa awal dengan menggunakan Self-Harm Inventory oleh Sansone & Sansone. Penelitian ini menggunakan Self-harm Inventory yang dikembangkan oleh Sansone & Sansone (1998) dan terdapat 22 item yang berisi pertanyaan berdasarkan pengalaman pernah melukai diri sendiri. Alat ukur ini disebarkan dengan menggunakan kuesioner online dan diperoleh sebanyak 1071 partisipan yang mengikuti penelitian ini. Hasil penelitian ini didapati reliabilitas item sebesar 1.00 di mana hal ini membuktikan bahwa Self-harm Inventory cukup baik untuk digunakan dan setelah melakukan uji validitas terdapat tiga item yaitu 6, 7, dan 11 tidak valid karena tidak memenuhi syarat validitas menurut Sumintono & Widhiarso (2015). Pada penelitian ini diperoleh hasil bahwa Self-harm Inventory sudah bisa dikatakan reliabel dan valid jika menggunakan item yang sudah diterjemahkan. Kelemahan dalam penelitian ini adalah ketiga item yang tidak valid dapat disebabkan oleh kurangnya pemahaman responden mengenai item tersebut. One indicative behavior of someone who is depressed or has thoughts of suicide is self-harm. Self-harm or self-destructive behavior is a behavior that is usually characterized by the presence of marks on the arms after self-injury, biting oneself, burning, damaged eyes, and damaged skin (Pattison & Kahan, 1983). The purpose of this study was to determine the intensity of self-harm in adolescents to early adult using the Self-Harm Inventory by Sansone & Sansone. This study uses Self-harm Inventory developed by Sansone & Sansone (1998) with 22 items that contain questions based on the experience of having hurt yourself. This measuring instrument was distributed using an online questionnaire and as many as 1071 participants participated in this study. The results of this study found an item reliability of 1.00 where this proves that the Self-harm Inventory is good enough to be used and after conducting a validity test, three items, namely item 6, 7, and 11 are invalid because they do not meet the validity requirements according to Sumintono & Widhiarso (2015). This study proves that the Self-harm Inventory is reliable and valid if using translated items. The weakness in this study are the three items that are invalid which can be caused by a lack of respondents' understanding of these items.

Filter by Year

2017 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 9 No. 3 (2025): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora dan Seni Vol. 9 No. 2 (2025): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora dan Seni Vol. 9 No. 1 (2025): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora dan Seni Vol. 8 No. 3 (2024): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora dan Seni Vol. 8 No. 2 (2024): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol. 8 No. 1 (2024): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora , dan Seni Vol. 7 No. 3 (2023): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol. 7 No. 2 (2023): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol. 7 No. 1 (2023): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol. 6 No. 3 (2022): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol. 6 No. 2 (2022): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol. 6 No. 1 (2022): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 6, No 1 (2022): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 5, No 2 (2021): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 5, No 1 (2021): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 4, No 2 (2020): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 4, No 1 (2020): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 3, No 2 (2019): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 3, No 1 (2019): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 2, No 2 (2018): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 2, No 1 (2018): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 1, No 2 (2017): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 1, No 1 (2017): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni More Issue