cover
Contact Name
Nafiah Solikhah
Contact Email
nafiahs@ft.untar.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jmstkik@untar.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan
ISSN : 25796402     EISSN : 25796410     DOI : -
Jurnal ini memuat artikel ilmiah dalam bidang Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan. Setiap artikel yang dimuat telah melalui proses review. Jurnal Muara diterbitkan dalam rangka mendukung upaya pemerintah Republik Indonesia, khususnya Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi untuk meningkatkan jumlah publikasi ilmiah di tingkat Nasional. Jurnal Muara ini juga dapat menjadi wadah publikasi bagi para mahasiswa (S1, S2 maupun S3) dan dosen di lingkungan perguruan tinggi. Jurnal ini dikelola oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat - Universitas Tarumanagara (DPPM - UNTAR).
Arjuna Subject : -
Articles 373 Documents
PENGEMBANGAN DESTINASI WISATA DESA GIRITENGAH UNTUK MEWUJUDKAN PARIWISATA BERKELANJUTAN Titin Fatimah; Fransisca Iriani Roesmala Dewi; Endah Setyaningsih
Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Vol. 6 No. 2 (2022): Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan
Publisher : Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmstkik.v6i2.23011

Abstract

The Covid-19 pandemic that has hit the world since the end of 2019 has had a very significant impact. However, apart from the impacts and challenges posed by Covid-19, it turns out that there are positive opportunities for rural areas, because they have proven to be more resilient in facing difficulties during the pandemic. The Borobudur area is a world heritage area that needs to be preserved. Currently Borobudur is one of the 5 Super Priority Tourism Destinations set by the Ministry of Tourism and Creative Economy. Currently the tourism trend in the Borobudur area is starting to develop in the form of alternative tours to the surrounding villages. The problem is the current development and management for the 20 potential villages are insufficient. For this reason, a strategy is needed to develop villages in the Borobudur area to become qualified tourism destinations. One of these villages was chosen as the research locus/place, namely Giritengah Village. Based on previous research, it was found that Giritengah village has problems including: a lack of quality human resources and a lack of awareness and participation of residents. It can be seen the lack of harmony in the relationship between communities, so that it becomes an obstacle in managing village tourism. In addition, the lack of facilities to support tourism activities at each existing destination, so it is necessary to prepare tourist facilities to support comfort and safety, both during the day and at night. The aim of the research is to formulate the development concept of rural tourism destinations which includes designing tourism destination and its supporting facilities, and then strengthening tourism awareness behavior for the local community. The research method used: mixed qualitative and quantitative methods (mix-method). Data collection techniques used field observations, interviews, literature studies, Focus Group Discussions (FGD), questionnaires and simulations. The results obtained are an increase in the tourism awareness of the Giritengah community, tourism destination design, and area lighting design for selected destination. Keywords: destination development; tourist village; area lighting design; sustainable tourism; Borobudur Abstrak Pandemi Covid-19 yang melanda dunia yang terjadi sejak akhir 2019 memberikan dampak yang sangat signifikan. Namun, selain dampak dan tantangan yang ditimbulkan oleh Covid-19, ternyata ada peluang positif bagi pedesaan, karena terbukti lebih tangguh menghadapi kesulitan selama masa pandemi. Kawasan Borobudur merupakan sebuah kawasan world heritage yang perlu dilestarikan. Saat ini Borobudur menjadi salah satu dari 5 Destinasi Pariwisata Super Prioritas yang ditetapkan Kemenparekraf. Saat ini tren wisata di kawasan Borobudur mulai berkembang berupa wisata alternatif ke desa sekitarnya. Permasalahannya, pengembangan dan pengelolaan lebih lanjut untuk 20 desa di Borobudur belum optimal. Untuk itu diperlukan strategi pengembangan desa-desa di Kawasan Borobudur untuk menjadi destinasi pariwisata yang berkualitas. Salah satu desa tersebut dipilih sebagai lokus/tempat riset, yaitu Desa Giritengah. Berdasarkan riset sebelumnya ditemukan, Desa Giritengah memiliki permasalahan antara lain: kurangnya kualitas SDM pengelola dan kurangnya kesadaran dan partisipasi warga, dapat dilihat kekurangharmonisan hubungan antar komunitas, sehingga menjadi kendala dalam pengelolaan pariwisata desa. Selain itu, minimnya fasilitas penunjang kegiatan wisata pada masing-masing destinasi yang ada, sehingga perlu penyiapan fasilitas wisata untuk mendukung kenyamanan dan keamanan, baik wisata di siang hari maupun malam hari. Tujuan penelitian untuk menyusun konsep pengembangan destinasi wisata pedesaan yang meliputi penataan kawasan objek kunjungan, fasilitas pendukung, dan penguatan perilaku sadar wisata bagi pengelola dan masyarakat. Metode penelitian menggunakan metode gabungan antara kualitatif dan kuantitatif (mix-method). Teknik pengumpulan data menggunakan observasi lapangan, wawancara, studi literatur dan Focus Group Discussion (FGD), kuesioner dan simulasi. Hasil yang didapatkan adalah peningkatan sadar wisata masyarakat Giritengah, desain kawasan, dan desain pencahayaan kawasan destinasi terpilih.
PENGARUH PEMBERIAN PAKIS MIDING (STENOCHLAENA PALUSTRIS) TERHADAP PENINGKATAN KADAR HEMOGLOBIN PADA IBU HAMIL DENGAN ANEMIA DI TEPIAN ALIRAN SUNGAI KAPUAS KABUPATEN SINTANG TAHUN 2021 Kurniati, Paskalia Tri; Sunarti, Sunarti
Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Vol. 7 No. 1 (2023): Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan
Publisher : Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmstkik.v7i1.15330

Abstract

Anemia is a condition in which blood hemoglobin (Hb) levels are lower than normal (pregnant women <11g%) as a result of the inability of red blood cell-forming tissues in their production to maintain hemoglobin levels at normal levels. Anemia, if not treated immediately can have a negative impact on the mother and fetus, and increase the Maternal Mortality Rate and Infant Mortality Rate. The purpose of this study was to determine the effect of miding fern (Stenochlaena palustris) on increasing hemoglobin levels in pregnant women with anemia on the banks of the Kapuas River, Sintang Regency. The research method used in this study used a quasi-experimental one group pre-test-post-test design. A total of 50 samples with a total sampling of all pregnant women who experienced anemia in the Kapuas riverside area, Sintang district, were given additional food intake in with shape miding fern vegetable. (Stenochlaena palustris) for 3 months. Data analysis used paired t test with normal data distribution. The results showed that the administration of miding fern (Stenochlaena palustris) could increase hemoglobin levels by 0.41 with an average Hb value of 8.98g% (before giving miding fern) increased to 9.39g% (after miding fern). The Paired Sample t-test results obtained a p-value =0,002, meaning that statistically, the provision of miding ferns had a significant effect on increasing hemoglobin levels in pregnant women with anemia on the banks of the Kapuas River, Sintang Regency. Keywords: Miding Fern, Anemia; Anemia of Pregnant Women Abstrak Anemia adalah suatu keadaan dengan kadar hemoglobin (Hb) darah yang lebih rendah dari normal (wanita hamil <11g%) sebagai akibat ketidakmampuan jaringan pembentuk sel darah merah dalam produksinya guna mempertahankan kadar hemoglobin pada tingkat normal. Anemia jika tidak diatasi segera dapat berdampak buruk bagi ibu dan janin, serta meningkatkan Angka Kematian Ibu dan Angka Kematian Bayi. Tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh pemberian pakis miding (Stenochlaena palustris) terhadap peningkatan kadar hemoglobin pada ibu hamil dengan anemia di tepian aliran Sungai Kapuas Kabupaten Sintang. Metode Penelitian yang digunakan pada penelitian ini   menggunakan rancangan quasi–eksperimental. Desain penelitian yaitu satu grup dengan perlakuan tes awal dan tes akhir. Sebanyak 50 sampel dengan total sampling yaitu seluruh ibu hamil yang mengalami anemia di daerah tepian Sungai Kapuas Kabupaten Sintang yang diberikan asupan makanan tambahan berupa sayur pakis miding (Stenochlaena palustris) selama 3 bulan.Analisis data menggunakan  paired t-test dengan sebaran data normal. Hasil penelitian menunjukkan pemberian pakis miding (Stenoclaena palustris) dapat meningkatkan kadar hemoglobin sebesar 0,41 dengan nilai menjadi 9,39g% (sesudah pemberian pakis miding). Hasil uji statistic diperoleh p-value = 0,002 artinya secara statistik pemberian pakis miding berpengaruh signifikan terhadap peningkatan kadar hemoglobin pada ibu hamil dengan anemia di tepian aliran Sungai Kapuas Kabupaten Sintang.
INSOMNIA DAN KEBIASAAN LATE NIGHT EATING SERTA SKIPPING BREAKFAST PADA MAHASISWA FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TARUMANAGARA Vantya, Shalisha Marvela; Silaban, Dorna Yanti
Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Vol. 7 No. 1 (2023): Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan
Publisher : Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmstkik.v7i1.18045

Abstract

One of the most common sleep disorders in teenagers and adults is insomnia. Sleep disorders either with quality or quantity and associated with one or more other sleep problems (difficulty initiating sleep, difficulty maintaining sleep, or early-morning awakening with inability to return to sleep) are the characteristic of insomnia. About 10% population in Indonesia suffer from insomnia. Late night eating is one of habits that can arise due to insomnia and can influence their next eating behavior which is skipping breakfast. The aim of this study was to analyze the relationship between insomnia with late night eating and skipping breakfast habits among medical students of Tarumanagara University. This study is an observational study with a cross-sectional design of 188 subjects that was obtained using simple random sampling and conducted using an unpaired categorical analytical formula. Data were collected by using questionnaire distributed via online which include subject identity, insomnia, late night eating and skipping breakfast assessment. Data were analyzed by Chi-Square. Around 73,4% of subjects in this study experience insomnia. The results of the Chi-square analysis showed no significant association between insomnia and late-night eating habits (p=0,445) but there was a significant association between insomnia and skipping breakfast habits (p=0,035). As conclusion, insomnia was not associated with late-night eating but with skipping breakfast among medical students of Tarumanagara University. Keywords: insomnia; late night eating; skipping breakfast. Abstrak Salah satu jenis gangguan tidur yang umum terjadi pada remaja dan dewasa adalah insomnia. Gangguan tidur baik secara kualitas dan kuantitas serta diikuti oleh satu atau lebih kondisi tidur lain (sulit memulai tidur, sulit mempertahankan waktu tidur atau terbangun lebih cepat di pagi hari dan tidak mampu untuk kembali tidur) merupakan tanda-tanda dari insomnia. Sekitar 10% orang Indonesia mengalami insomnia. Late night eating merupakan salah satu kebiasaan yang dapat muncul akibat insomnia. Hal ini kemudian dapat memengaruhi perilaku makan selanjutnya yaitu skipping breakfast. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan insomnia dengan kebiasaan late night eating dan skipping breakfast pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara. Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan desain potong lintang pada 188 orang subjek penelitian yang diperoleh dengan cara simple random sampling dan menggunakan rumus analitik katagorik tidak berpasangan. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner serta disebarkan melalui daring yaitu berupa identitas responden, penilaian insomnia, kebiasaan late night eating dan skipping breakfast. Data dianalisis dengan menggunakan uji Chi- Square. Sebesar 73,4% subjek penelitian didapatkan mengalami insomnia. Hasil uji Chi-Square menunjukkan tidak terdapat hubungan yang bermakna antara insomnia dengan perilaku late night eating (p=0,445) namun terdapat hubungan yang bermakna antara insomnia dengan perilaku skipping breakfast (p=0,035). Kesimpulan dari penelitian ini adalah insomnia tidak berhubungan dengan perilaku late night eating namun memengaruhi perilaku skipping breakfast pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara.
ASUPAN KAFEIN DAN GEJALA KAFEIN WITHDRAWAL PADA MAHASISWA FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TARUMANAGARA Cendranita, Nesya; Silaban, Dorna Yanti Lola
Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Vol. 7 No. 1 (2023): Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan
Publisher : Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmstkik.v7i1.18046

Abstract

Caffeine which is found in coffee, tea, energy drinks, soft drinks and chocolate is psychoactive substance that acts as antagonist to adenosine receptor. The desired effects by student when consuming caffeine are increased alertness and concentration also loss of drowsiness. One of the negative effects of caffeine consumption is caffeine withdrawal which is the appearance of symptoms when you stop caffeine consumption suddenly. Headache, drowsiness, feeling tired, disturbed mood and concentration, flu-like symptoms are caffeine withdrawal symptoms that occur 12-24 hours after the last caffeine consumption and will improve when caffeine is consumed again. The aim of this study is to examine the relationship between caffeine intake and caffeine withdrawal among medical students of Tarumanagara University. This research has obtained permission from the research and community service unit of Faculty of Medicine, Tarumanagara University. The study design was observational analytic cross-sectional. Research subject were 186 people and obtained using simple random sampling. Data were collected through google form (g-form) which was distributed to research subject consisting of basic characteristics data, food frequency questionnaire (FFQ) and caffeine withdrawal questionnaire. Data processing was carried out with spss using Chi-square test. Chi-square test showed there was no relationship between gender (p=0,949) and year class (p=0,302) with caffeine withdrawal. In addition, there was a relationship between age (p=0,047), frequency and amount of caffeine consumption (p<0,001; PR>1) with caffeine withdrawal. The conclusion is there is a relationship between caffeine consumption and caffeine withdrawal among students of Faculty of Medicine, Tarumanagara University. Keywords: caffeine;college students;caffeine withdrawal Abstrak Kafein yang banyak ditemukan pada kopi, teh, minuman energi, minuman bersoda dan cokelat merupakan zat psikoaktif yang bekerja secara antagonis terhadap reseptor adenosine. Efek yang diinginkan oleh mahasiswa saat mengonsumsi kafein ialah meningkatnya kewaspadaan dan konsentrasi serta hilangnya rasa kantuk. Salah satu efek negatif konsumsi kafein ialah terjadinya kafein withdrawal yaitu munculnya gejala-gejala apabila penghentian konsumsi kafein dilakukan secara tiba-tiba. Sakit kepala, mengantuk, merasa lelah, terganggunya mood dan konsentrasi serta flu-like symptoms ialah gejala kafein withdrawal yang dapat muncul 12-24 jam sehabis konsumsi kafein terakhir serta akan membaik apabila kafein kembali dikonsumsi. Tujuan penelitian ini ialah untuk melihat hubungan antara asupan kafein dengan gejala kafein withdrawal pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara (FK UNTAR). Penelitian ini sudah mendapatkan ijin dari unit penelitian dan pengabdian masyarakat FK UNTAR. Desain studi yang digunakan adalah analitik observasional cross-sectional. Subjek dalam penelitian berjumlah 186 orang dan diperoleh dengan menggunakan simple random sampling. Data dikumpulkan melalui google form (g-form) yang disebar kepada subjek penelitian yang terdiri dari data karakteristik dasar, food frequency questionnaire (FFQ) dan kuesioner kafein withdrawal. Pengolahan data dilakukan dengan spss menggunakan uji Chi-square. Uji Chi-square menunjukkan hasil bahwa tidak terdapat hubungan antara jenis kelamin (p=0,949) serta angkatan kuliah (p=0,302) dengan terjadinya gejala kafein withdrawal. Selain itu, terdapat hubungan antara usia (p=0,047), frekuensi dan jumlah konsumsi kafein (p<0,001; PR >1) dengan gejala kafein withdrawal. Kesimpulan dalam penelitian ini ialah adanya hubungan antara asupan konsumsi kafein dengan peristiwa kafein withdrawal pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara.
JMSTKIK V7N1 (April 2023) - Cover UNTAR, LPPM
Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Vol. 7 No. 1 (2023): Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan
Publisher : Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

JMSTKIK V7N1 (April 2023) - Cover
HUBUNGAN TINGKAT PENDAPATAN DENGAN STRES KERJA PADA PENGEMUDI OJEK ONLINE DI JAKARTA BARAT, TAHUN 2020 Tanzia, Sherren; Ernawati, Ernawati
Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Vol. 7 No. 1 (2023): Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan
Publisher : Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmstkik.v7i1.10100

Abstract

Work stress is  a physical or emotional response that occurs when a job does not match the skills, abilities, and work requirements. Based on a study of The American Institude of Stress in 2017 found work stress reached 61% in 3.440 people with age >18th. Work stress can affect anyone who works in the internal or external environment. In East Bekasi in 2019 found 68 (60,2%) of truck drivers had a high level of stress. The high number of online motorcycle drivers to earn income has increased competition between online motorcycle drivers that can cause work stress. In 2018 at Tegal found that 60 (62,5%) online motorcycle drivers had medium stress level. The purpose of this study was to look at the relationship between the income levels and work stress on online motorcycle drivers in West Jakarta,2020. This study was an analytical study with cross-sectional design. The statistic test using the Chi-square test. This study was conducted in January-May 2020 with the number of respondents being 162 online motorcycle drivers. From the 162 respondents, 76 respondents with income < Rp 3.940.973 suffered work stress of 93,8% and 77 respondents with income ³ Rp3.940.973 was 95,1%. There was no relationship between the income levels and work stress (p-value=0,128), but income level had an opportunity as a work stress prevention factor (PR = 0,987). Key words : income level; online motorcycle drivers; work stress Abstrak Stres kerja adalah suatu respon fisik maupun emosional yang terjadi jika suatu pekerjaan tidak sesuai dengan keterampilan, kemampuan, dan kebutuhan pekerja. Berdasarkan studi The American Institude of Stress tahun 2017 didapatkan stres kerja mencapai 61% pada 3.440 orang yang berusia diatas 18 tahun. Stres kerja dapat mengenai siapapun baik yang bekerja di lingkungan internal maupun eksternal. Di Bekasi Timur pada tahun 2019 didapatkan sebanyak 68 (60,2%) pengemudi truk memiliki tingkat stres kerja yang berat. Tingginya jumlah pengemudi ojek online untuk mencari penghasilan telah meningkatkan persaingan antar pengemudi sehingga akhirnya dapat menyebabkan stres kerja. Di Tegal pada tahun 2018 sebanyak 60 (62,5%) pengemudi ojek online mengalami stres kategori sedang. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah terdapat hubungan yang bermakna antara tingkat pendapatan dengan stres kerja pada pengemudi ojek online di Jakarta Barat tahun 2020. Penelitian ini adalah penelitian analitik dengan desain cross-sectional. Uji statistik menggunakan uji Chi-square. Penelitian ini dilakukan pada bulan Januari-Mei 2020 dengan jumlah responden yaitu 162 pengemudi ojek online. Dari 162 responden, sebanyak 76 responden yang berpendapatan   < Rp 3.940.973 mengalami stres kerja sebesar 93,8% dan 77 responden berpendapatan ³ Rp3.940.973 sebesar 95,1% mengalami stres kerja. Tidak terdapat hubungan antara tingkat pendapatan dengan stres kerja (p-value = 0,128). Namun, tingkat pendapatan memiliki peluang sebagai faktor pencegah stres kerja (PR =0,987).
GAMBARAN TINGKAT PENGETAHUAN DAN KESADARAN TENTANG HEMOROID MAHASISWA FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TARUMANAGARA ANGKATAN 2017-2018 Ratana, Angelica Devi; Lumbantobing, Lamhot Asnir
Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Vol. 7 No. 2 (2023): Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan
Publisher : Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmstkik.v7i2.13275

Abstract

Hemorrhoids occur due to an increase in the pressure gradient that causes widening and protrusion of the hemorrhoidal plexus. Patients have a tendency to be ashamed of the disease because of its location so that many patients tend not to want to do examinations and treatment at the hospital. The level of awareness is needed to live a good life behavior by applying the knowledge of hemorrhoids obtained so that they can avoid and reduce daily habits that can be risk factors for hemorrhoids and can maximize performance and health status. This study aims to describe the level of knowledge and awareness about hemorrhoids for students of the Faculty of Medicine, Tarumanagara University class 2017-2018. This study is a cross-sectional descriptive observational study and was followed by 135 respondents who met the inclusion criteria. The average value of the hemorrhoidal knowledge level of students was 87.18 with the highest score 100 and the lowest score 53.85. The average value of the student's level of awareness about hemorrhoids is 65.29 with the lowest score 43.53 and the highest score 85.88. The conclusion of this research is that respondents have a high level of knowledge and have a moderate level of awareness. Keywords: awareness; hemorrhoids; medical students; knowledge Abstrak Hemoroid terjadi karena adanya peningkatan gradien tekanan yang menyebabkan pelebaran dan penonjolan pada plexus hemorrhoidalis. Pasien memiliki kecenderungan malu akan penyakit tersebut karena lokasinya sehingga banyak pasien yang cenderung tidak ingin melakukan pemeriksaan dan perawatan di rumah sakit. Tingkat kesadaran dibutuhkan untuk menjalani perilaku hidup yang baik dengan mengaplikasikan pengetahuan hemoroid yang didapatkan sehingga dapat mengurangi kebiasaan sehari-hari yang dapat menjadi faktor risiko hemoroid dan memaksimalkan kinerja serta status kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran tingkat pengetahuan dan kesadaran tentang hemoroid mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara angkatan 2017-2018. Penelitian ini merupakan studi observasional deskriptif potong lintang dan diikuti 135 responden yang memenuhi kriteria inklusi. Diperoleh nilai rata-rata tingkat pengetahuan hemoroid mahasiswa adalah 87,18 dengan nilai tertinggi yaitu 100 dan nilai terendah yaitu 53,85. Nilai rata-rata tingkat kesadaran tentang hemoroid mahasiswa adalah 65,29 dengan nilai terendah adalah 43,53 dan nilai tertinggi adalah 85,88. Kesimpulan penelitian ini adalah didapatkan responden memiliki tingkat pengetahuan yang tinggi dan memiliki tingkat kesadaran yang sedang.
KARAKTERISTIK KLINIS DAN KOMORBID PASIEN COVID-19 DI RUMAH SAKIT JAKARTA BARAT Susanto, Devy Fransiska; Gunawan, Paskalis Andrew
Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Vol. 7 No. 2 (2023): Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan
Publisher : Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmstkik.v7i2.13678

Abstract

Coronavirus disease 2019 (COVID-19) is a novel infectious disease thas has been declared a pandemic since March 11, 2020. As of 26 November 2020, Indonesia has reported 511.836 confirmed cases and 16.225 death cases. Elders and comorbidities are risk factors for severe COVID-19. Signs and symptoms may vary from asymptomatic to symptomatic. This research aims to discover the characteristics of clinical manifestations, and comorbidities in COVID-19 patient to allow strategies for early COVID-19 and transmission prevention. This is a descriptive research with cross-sectional study design with 313 respondents gathered from the medical records of a hospital in West Jakarta. The data taken are the characteristics of the respondents, comorbidities, clinical manifestations, physical examinations, and diagnosis of COVID-19 patients. From data collections, COVID-19 is slightly dominated by women (53%) around the age of 46-55 years (26,5%). Most commonly found clinical manifestations include cough (83,7%), fever (70,6%), and difficulty of breathing (64,9%). The most common comorbidities found are hypertension (23,6%), diabetes mellitus (20,4%), and heart disease (6,7%). The physical examinations show that most of the patients suffer moderate illness and compos mentis (96,5%). The vital sign examinations show that majority of patients have optimal blood pressure (30,5%), normal heart rate (53,7%), and normal respiratory rate (52,9%). The average body temperature was 37,3(±0.9)°C with oxygen saturation 91,7(±9,9)%. The most common chest examinations’ result found was bilateral rhonchi (84,7%). The contact history of COVID-19 patient was 18,7%. Keywords: COVID-19; clinical manifestation; comorbidity; physical examination Abstrak Coronavirus disease 2019 (COVID-19) telah menjadi pandemi sejak 11 Maret 2020. Hingga 26 November 2020, terdapat 511.836 kasus konfirmasi dan 16.225 kasus kematian akibat COVID-19 di Indonesia. Faktor risiko berupa usia lanjut dan komorbid mempengaruhi tingkat keparahan COVID-19. Gejala klinis pasien COVID-19 bervariasi, mulai dari asimptomatik hingga simptomatik. Penelitian ini bertujuan untuk mengenali karakteristik manifestasi klinis dan komorbid pasien COVID-19 sehingga dapat disusun strategi dalam mendeteksi dini penyakit dan memutuskan rantai penularan COVID-19. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan desain cross-sectional. Penelitian ini dilaksanakan di salah satu Rumah Sakit Jakarta Barat dengan 313 responden dari data sekunder rekam medik. Data yang diobservasi yaitu karakteristik demografis responden, komorbid, gejala klinis awal, serta pemeriksaan fisik awal dan diagnosa pasien COVID-19. Dari hasil pengumpulan data, COVID-19 sedikit didominasi oleh jenis kelamin perempuan (53%) dengan rentang usia 46-55 tahun (26,5%) . Manifestasi klinis terbanyak didapatkan batuk (83,7%), demam (70,6%), dan sesak napas (64,9%). Berdasarkan data komorbid, diperoleh komorbid terbanyak yaitu hipertensi (23,6%), diabetes melitus (20,4%), dan penyakit jantung (6,7%). Pada pemeriksaan fisik awal didapatkan keadaan umum mayoritas pasien COVID-19 (60,0%) dengan sakit sedang dan kesadaran kompos mentis (96,5%). Pada pemeriksaan tanda-tanda vital didapatkan mayoritas tekanan darah pasien optimal (30,5%), frekuensi nadi (57,3%) serta frekuensi napas (52,9%) dalam batas normal. Pemeriksaan suhu tubuh didapatkan rerata 37,3 (±0,9)°C dengan saturasi oksigen 91,7(±9,9)%. Pemeriksaan toraks kebanyakan pasien didapatkan temuan rhonki positif bilateral (84,7%). Riwayat kontak pasien COVID-19 diperoleh sebesar 18,7% pasien.
GAMBARAN TINGKAT PENGETAHUAN IBU TENTANG DIARE PADA BALITA DI DESA CICAU KABUPATEN BEKASI Winova, Virdha Hanggraenie; Budiarso, Linda S
Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Vol. 7 No. 2 (2023): Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan
Publisher : Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmstkik.v7i2.16483

Abstract

Diarrhea is a disease in which bowel movements occurs more than three times in a day, characterized with watery stools. Diarrhea an be accompanied by blood, which is called as dysentery. Based on the onset, it can be acute or chronic. It caused by various types of microorganisms, including bacteria, viruses, parasites, and fungi. It spread occurs through contaminated food and water sources. WHO states that diarrhea is the second highest cause of mortality in children under five years in the world, with a total 525,000 children death in every year. The knowledge about diarrhea is necessary, so the prevention and treatment can be carried out appropriately. The aim of this study was to describe the level of mothers knowledge about diarrhea in children under five years in Cicau Village, Bekasi Regency. This study is a observational descriptive with a cross-sectional design of 113 subjects that was obtained using consecutive non-random sampling. Data were collected by using questionnaire distributed via online. The results show that majority respondents level of knowledge is good at 80 (70.8%), followed by a sufficient level of knowledge at 29 (25.7%), and poor knowledge at 4 (3.5%). Respondents level of knowledge about definition is good at 71 (62,8%), about causes is good at 77 (68,1%), signs and symptoms is good at 94 (83,2%), prevention is good at 50 (44,2%), and treatment is good at 88 (77,9%).  As conclusion, the level of mothers knowledge about diarrhea in children under five years in Cicau Village is good. Keywords: Knowledge; diarrhea; children under five years Abstrak Diare adalah penyakit yang ditandai dengan buang air besar lebih dari tiga kali dalam sehari dengan feses berbentuk cair, bila disertai darah maka dinamakan disentri. Berdasarkan onsetnya, diare dapat terjadi secara akut maupun kronis. Diare disebabkan oleh berbagai jenis mikroorganisme diantaranya bakteri, virus, parasit, dan jamur. Penyebarannya terjadi melalui makanan maupun sumber air yang terkontaminasi. WHO menyebutkan bahwa diare merupakan penyebab tertinggi kedua kematian balita di dunia, dengan jumlah sekitar 525.000 balita di setiap tahun. Pemahaman mengenai diare sangat dibutuhkan agar pencegahan serta penanganan dapat dilakukan dengan sesuai. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran tingkat pengetahuan ibu tentang diare pada balita di Desa Cicau Kabupaten Bekasi. Merupakan penelitian studi deskriptif observasional dengan pendekatan potong lintang kepada 113 responden, sampel diambil secara consecutive non- random sampling. Pengumpulan data menggunakan kuesioner yang disebarkan secara daring. Didapatkan tingkat pengetahuan ibu balita dengan kategori baik sebanyak 80 (70,8%), kategori cukup sebanyak 29 (25,7%), dan kategori kurang sebanyak 4 (3,5%). Tingkat pengetahuan pengertian diare didapatkan baik sebanyak 71 (62,8%), penyebab diare didapatkan baik sebanyak 77 (68,1%), tanda dan gejala didapatkan baik sebanyak 94 (83,2%), pencegahan didapatkan baik sebanyak 50 (44,2%), serta penanganan didapatkan baik sebanyak 88 (77,9%). Kesimpulan yang didapatkan adalah ibu balita  di Desa Cicau memiliki tingkat pengetahuan yang baik mengenai diare.
PRAKTIK KESIAPSIAGAAN DALAM MENGHADAPI BAHAYA KESELAMATAN DAN PENYAKIT SAAT BANJIR Mahda, Mahda; Nurullita, Ulfa; Mifbakhuddin, Mifabkhuddin
Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Vol. 8 No. 1 (2024): Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan
Publisher : Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmstkik.v8i1.17784

Abstract

Flood disasters pose risks to safety and disease. Bandarharjo sub-district is an area prone to tidal flooding because it is located close to the coastline of Semarang City. In 2019, 3 residents suffered from Leptospirosis, of which 1 person died. The purpose of writing is to find out community preparedness practices for facing safety hazards and the dangers of disease due to floods. The method used is quantitative descriptive research using a cross sectional approach. The research subjects were 92 residents of RW 1, Bandarharjo Village, Semarang, who were interviewed using a questionnaire about their actions in dealing with safety and health hazards caused by flooding. All data was analyzed descriptively. The results of the research are that the education level of respondents who graduated from high school is 47.8%, the average length of stay in the location is 34 years, 34.78% of residents have preparedness practices for safety hazards during floods in the ready category, while 61.96% are classified as very ready in terms of preparedness practices. face the danger of disease during floods. 28.3% of respondents received sources of information via the internet, 31.5% of respondents had attended first aid outreach/training, 64.1% had attended scouting training, and 16.3% flood simulation training. Based on the analysis, the study's conclusion is that the preparedness practices of RW 1 residents of Bandarharjo Subdistrict to face safety hazards due to floods are included in the ready category, while the practices for facing the dangers of disease during floods are included in the very ready category. Keywords: Flood; Preparedness; Safety; Disease Abstrak Bencana banjir memberikan risiko pada keselamatan dan penyakit. Kelurahan Bandarharjo merupakan daerah rawan banjir rob karena berada pada posisi yang berdekatan dengan garis pantai Kota Semarang. Pada tahun 2019, 3 warga menderita Leptospirosis, di mana 1 orang di antaranya meninggal. Tujuan penulisan yaitu untuk mengetahui praktik kesiapsiagaan masyarakat menghadapi bahaya keselamatan dan bahaya penyakit akibat banjir. Metode yang digunakan adalah Penelitian deskriptif kuantitatif ini menggunakan pendekatan cross sectional. Subjek penelitian yaitu warga RW 1 Kelurahan Bandarharjo Semarang berjumlah 92 orang yang diwawancarai menggunakan kuesioner tentang tindakannya dalam menghadapi bahaya keselamatan dan kesehatan akibat banjir. Semua data dianalisis secara deskriptif.  Hasil penelitian yaitu Tingkat pendidikan responden tamat SMA 47,8%, rata-rata lama tinggal di lokasi tersebut 34 tahun,  34.78% warga mempunyai praktik kesiapsiagaan terhadap bahaya keselamatan saat banjir dalam kategori  siap, sedangkan 61,96% tergolong sangat siap dalam praktik kesiapsiagaan menghadapi bahaya penyakit saat banjir. 28.3% responden mendapatkan sumber informasi melalui internet, 31,5 % responden pernah mengikuti sosialisasi/pelatihan P3K, 64,1% pernah mengikuti pelatihan kepramukaan, dan pelatihan simulasi banjir 16,3%. Berdasarkan analisis, kesimpulan studi yaitu bahwa praktik kesiapsiagaan warga RW 1 Kelurahan Bandarharjo menghadapi bahaya keselamatan akibat banjir termasuk dalam kategori siap, sedangkan praktik menghadapi bahaya penyakit saat banjir termasuk dalam kategori sangat siap.