cover
Contact Name
Studi Budaya Nusantara
Contact Email
jsbn@ub.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jsbn@ub.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Studi Budaya Nusantara
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : -     EISSN : 26211068     DOI : -
Jurnal Studi Budaya Nusantara (SBN) adalah media komunikasi ilmiah yang diterbitkan oleh Jurusan Seni dan Antropologi Budaya, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Brawijaya Malang. Jurnal ini dimaksudkan untuk mewadahi hasil penelitian dan kajian ilmiah di bidang seni dan budaya Nusantara sebagai bentuk sumbangan masyarakat ilmiah bagi pengembangan wawasan seni dan budaya dalam kehidupan masyarakat yang lebih luas. Terbit 2 kali setahun (Juni dan Desember).
Arjuna Subject : -
Articles 174 Documents
Batara Kala Masa Kini: Transformasi Slametan Ruwatan pada Masyarakat Jawa di Malang Selatan Edlin Dahniar
Studi Budaya Nusantara Vol 1, No 2 (2017)
Publisher : Studi Budaya Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (489.585 KB) | DOI: 10.21776/ub.sbn.2017.oo1.02.04

Abstract

AbstrakTulisan ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana slametan ruwatan mengalami pergeseran, dari yang semula Jawa menjadi ruwatan kombinasi Jawa dan Islam. Ruwatan merupakan salah satu slametan (selamatan) untuk memohon keselamatan yang menjadi tradisi masyarakat Jawa Kejawen. Slametan ini diperuntukkan bagi suatu keluarga yang jumlah dan urutan jenis kelamin anaknya termasuk ke dalam orang-orang sukerta, yaitu orang yang harus melakukan ruwatan untuk memohon keselamatan. Pada masa sekarang, ruwatan sudah banyak ditinggalkan orang. Hal ini terkait dengan semakin banyaknya masyarakat Jawa yang menjadikan syariat Islam sebagai pedoman hidup dan mulai meninggalkan ajaran-ajaran selain itu. Dalam setiap pelaksanaannya, ruwatan digelar dengan melibatkan para tetangga dan saudara terdekat. Permasalahan menjadi muncul ketika salah satu keluarga Jawa berniat mengadakan ruwatan di tengah-tengah masyarakat yang mulai meninggalkan dan tidak mempercayai tradisi tersebut. Untuk menjembatani hal ini, keluarga yang ingin menggelar ruwatan memadukan acaranya dengan kegiatan yang Islami. Hal yang sama juga dilakukan sang dalang dengan memadukan pertunjukan wayang Batara Kala dengan ajaran Islam, bahkan dengan membacakan salah satu ayat Al Quran. Sang Dalang juga memberikan makna yang berbeda pada tokoh Batara Kala yang dikaitkan dengan ajaran Islam tentang konsep waktu. Penelitian ini dilakukan di Desa Sumberejo, Kecamatan Gedangan, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi partisipasi dengan wawancara mendalam. AbstractThis paper aims to find out how slametan Ruwatan experienced a shift, from which Java originally became ruwatan combination of Java and Islam. Ruwatan is one of slametan (salvation) to ask for the salvation that became the Javanese tradition of Kejawen. This Slametan is destined for a family whose number and sex sequence of sons belongs to the sukers, that is, one who must perform ruwatan to ask for salvation. In the present time, Ruwatan has been abandoned by many people. This is related to the increasing number of Javanese people who make the Shari'a of Islam as a guide of life and begin to abandon the teachings other than that. In every implementation, Ruwatan performed by involving the neighbors and closest relatives. Problems arise when one of the Javanese families intends to hold ruwatan in the midst of a society that begins to leave and does not believe in the tradition. To bridge this, families who want to hold Ruwatan combine the show with Islamic activities. The same thing is done by the puppeteer by combining Batara Kala puppet show with the teachings of Islam, even by reading one verse of the Qur'an. The Dalang also gives a different meaning to the character of Batara Kala which is associated with Islamic teachings about the concept of time. This research was conducted in Sumberejo Village, Gedangan District, Malang Regency, East Java. The research method used in this research is participant observation with in-depth interview.
ANALISIS PENGEMBANGAN INDUSTRI KREATIF BERBASIS KEARIFAN LOKAL SEBAGAI UPAYA PELESTARIAN BUDAYA MAJAPAHIT (Studi Kasus Di Kampung Majapahit, Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto) Isma Farikha Latifatun Nuzulia; Ananda Ilham Mulia; Muhammad Yogi Arifky Zuhri; Dyah Rahayuningtyas
Studi Budaya Nusantara Vol 2, No 2 (2018)
Publisher : Studi Budaya Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (200.923 KB) | DOI: 10.21776/ub.sbn.2018.002.02.01

Abstract

AbstrakPenelitian ini menganalisis perkembangan industri kreatif yang ada di Desa Bejijong, Kabupaten Mojokerto sebagai suatu kawasan desa wisata. Dalam perkembangannya Desa Bejijong memiliki potensi berupa di kenal dengan desa cor kuningan, penemuan situs-situs bersejarah dan pembangunan Rumah Majapahit oleh pemerintah. Pengembangan industri kreatif sangat dibutuhkan untuk mendukung potensi wisata ini. Selain untuk meningkatkan perekonomian masyarakat juga untuk melestarikan budaya Majapahit. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif yang menjabarkan menggunakan kata-kata tertulis. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik wawanca dan observasi partisipan terhadap informan yang sesuai kriteria serta dokumentasi. Hasil penelitian ini nantinya dapat menjadi rekomendasi bagi pemerintah, kalangan akademisi dan masyarakat setempat.AbstractThis research analysis development of the creative industries in the Bejijong Village, Mojokerto Regency as the one of the  tourism village area. In the Bejijong Village has potential as foundry known as Brass Sheet Village, found an archaeological sites and building Majapahit House by the government. Development of creative industries is very needed for support this tourism potential. Be sides to increase economy to societies, it is also to converse Majapahit culture. This research uses qualitative research that discuss with written words. Research design uses interview and participant observant toward the society has the criteria, and also the documentation. The result of this research can give the recommendation for the government, the academician, and the society.  
KAMPUNG KULSERVASI (KULINER DAN KONSERVASI) WANAMERTA, TENGGER: KONSEP PARIWISATA HIJAU Sony Sukmawan; Maulfi Saiful Rizal; Muh. Fatoni Rohman
Studi Budaya Nusantara Vol 2, No 2 (2018)
Publisher : Studi Budaya Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (213.784 KB) | DOI: 10.21776/ub.sbn.2018.002.02.06

Abstract

AbstrakKekayaan dan keberlimpahan sumber daya alam Tengger sangat menjanjikan harapan, namun masyarakat setempat tidak cukup produktif dan tidak pandai memanfaatkan sumberdaya alam mereka yang melimpah tersebut, salah satunya adalah tanaman terong belanda. Pada awalnya, masyarakat telah memproduksi olahan terong Belanda berupa sirup. Namun, produksi sirup terong belanda ini dalam beberapa tahun telah terhenti. Penyebabnya adalah permasalahan yang ada dalam proses produksi dan pemasaran. Selain itu, semakin kritisnya keberadaan tanaman terong belanda akibat penebangan masal juga mengancam produktivitas usaha yang tengah dirintis masyarakat. Lebih jauh, lingkungan  Tengger juga terancam keseimbangnnya. Artikel ini berfokus kepada pemberdayaan ekonomi produktif masyarakat Dusun Wanamerta, Desa Tosari, Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan melalui pemanfaatan terong belanda sebagai pangkal pengembangan usaha kecil dan menengah (UKM) masyarakat setempat. Langkah-langkah yang dilaksanakan adalah  (i) penyuluhan, pelatihan, dan pengawetan sari buah terong belanda, (ii) pelatihan dan aksi pembibitan terong belanda. Melalui langkah-langkah ini diharapkan tumbuh kesadaran berwirausaha mandiri dengan menjadikan potensi sumber daya alam lokal sebagai aset sekaligus bahan baku produksi. Selanjutnya, upaya ini diarahkan untuk  membangun sebuah sajian wisata kuliner yang bertumpu kepada kakayaan lokal sekaligus konservatif terhadap alam.AbstractThe wealth and abundance of Tengger's natural resources is very promising, but the local community is not productive enough and not good at utilizing their abundant natural resources, one of which is the tamarillo (terong belanda). In the beginning, the community had produced processed tamarillo in the form of syrup. However, the production of the tamarillo syrup has stopped in a few years. The reason is the problems that exist in the production and marketing process. In addition, the more critical existence of tamarillo plant due to mass logging also threatens the business productivity that is being pioneered by the community. Furthermore, the Tengger environment is also threatened by its balance. This article focuses on the productive economic empowerment of the Wanamerta Village community, Tosari Village, Tosari District, Pasuruan Regency through the use of Dutch eggplant as a base for developing small and medium enterprises (SMEs) in the local community. The steps taken are (i) counseling, training, and preservation of Dutch eggplant juice, (ii) Dutch eggplant training and nursery action. Through these steps it is expected to grow awareness of independent entrepreneurship by making the potential of local natural resources as assets as well as raw materials for production. Furthermore, this effort is directed at building a culinary tourism dish that relies on local culture as well as being conservative towards nature.
KAJIAN ESTETIKA SENI BATIK KONTEMPORER MELALUI KARYA KOLABORASI SENIMAN AGUS ISMOYO-NIA FLIAM Ernawati Ernawati
Studi Budaya Nusantara Vol 3, No 1 (2019)
Publisher : Studi Budaya Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1438.402 KB) | DOI: 10.21776/ub.sbn.2019.003.01.05

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui estetika seni batik kontemporer karya kolaborasi dari seniman Agus Ismoyo-Nia Fliam. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan kritik seni dan estetika, dari aspek makna dan fungsi karya. Hasil dari penelitian ini, menunjukan bahwa makna pada karya batik kontemporer mengandung nilai estetik meliputi nilai budaya kosmologis yang diwujudkan dengan bentuk visual yang terilhami dari alam/kosmos, nilai simbolik yaitu citra yang mengandung makna dan nilai etika atau sikap dari orientasi kehidupan berbudaya. Karya memiliki fungsi personal dan fungsi sosial. Hal ini penting dalam menyikapi karya seniman sebagai pengetahuan intangible, metode tranfser pengetahuan berbasis lokal, dan nilai akar tradisi sebagai konsep tumbuh dalam berkarya seni.
Tradisi Seni Patrol dan Identitas Budaya Kampung Bandulan di Kota Malang Annise Sri Maftuchin; Ary Budiyanto
Studi Budaya Nusantara Vol 1, No 1 (2017)
Publisher : Studi Budaya Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (482.618 KB) | DOI: 10.21776/ub.sbn.2017.oo1.01.05

Abstract

Tradisi lokal tidak selalu mengalami pelemahan budaya di ranah global. Tradisi seni patrol di Bandulan Malang adalah salah satunya, seni ini tumbuh dalam proses invented tradition yang diwadahi lewat aktivitas festival. Invented tradition dari konsep Hobsbawn (2000), menjelaskan bahwa pemunculan tradisi difungsikan agar tradisi tidak dipandang sebagai sesuatu yang tua atau identik dengan kuno. Penelitian mengenai tradisi seni patrol ini ditujukan untuk menjawab permasalahan mengenai bagaimana masayarakat Bandulan menciptakan identitas baru bernuansa lokal di ranah global? Untuk menjawab permasalahan tersebut, peneliti menggunakan pendekatan secara antropologis dimana observasi, observasi partisipasi dan wawancara mendalam dilakukan. Metode tersebut menjadi tumpuan dalam menguraikan fenomena di masyarakat Bandulan. Hasil penelitian ini menunjukan adanya proses invented tradidition secara berkesinambungan dan didukung penuh oleh proses globalisasi yang ada pada ranah festival. Tradisi seni patrol yang di-invented-kan merupakan pengembangan dari tradisi patrol sahur lokal. Dalam perkembangannya konsep culture contact Liep (2001) juga turut berperan mengaktifkan proses pembentukan identitas dari konsep Hall (1990). Kajian ini melibatkan unsur identity as being Bandulan yang dipertemukan dengan budaya luar Bandulan dan budaya global. Percampuran ini kemudian menyatu menjadi hasil akhir suatu kebudayaan utuh dimana cita rasa lokal masih terasa kuat disana. Tradisi seni patrol tampil menjadi suatu produk identity as becoming pada festival patrol di Bandulan. Seni patrol bandulan memiliki karakteristik yang berbeda dengan referensinya yaitu ul-daul meskipun sekilas sama, namun seni patrol Bandulan memiliki corak musik yang khas. Karakteristik campursari yang berkembang di Bandulan dan ritme ketukan yang lebih pelan dari pada ul-daul menjadi patokan bahwa penciptaan identitas seni patrol lewat referensi lokal berupa tradisi adalah benar adanya.    ABSTRACTLocal traditions are not always weakened traditional form of culture in the global area. Bandulan patrol art tradition in Malang is one of them, this art is growed by invented tradition process with festival mode. Invented tradition is Hobwbawn (2000) concept which describe of the appearance of a tradition that is not viewed as old. This patrol art traditions research is intended to answer a research problem about how Bandulan local society make create in a new identity on the global area? To answer these problems, researchers used anthropological methode where observation, participatory observation and in-depth interview are used by the research. The method form use to describing phenomena in the Bandulan society. These results indicate the existence of a process invented tradidition going on basis and is fully supported by the process of globalization that exist in the festival media. patrol Art tradition which processed by invented is development of a local patrol sahur tradition , that the development is processed by contact culture who concepted by Liep (2001) helped to describe for process of establishing the identity of of Hall concept (1990). The pattern is related identity as being Bandulan confronted with foreign cultures and global cultures. This mixed process form is fused into the end result of a culture intact where local taste of culture still feels strong up there. The tradition of the art patrol appear to be a identity product of the becoming on the art festival patrol in Bandulan. Bandulan art patrol have different characteristics with ul–daul music though near same , but the Bandulan art patrol has a different style of music that have identic character. Bandulan art patrol has a identic style of typical of art music patrol . Characteristics campursari music what growing up in Bandulan and the slowler rhythm beats than ul-daul be identic style from the creation of identity what have style of local culture which can survive in global area that is true.  
Pola Hidup Nelayan Migran di Pelabuhan Pantai Sadeng Kecamatan Girisubo Kabupaten Gunung Kidul DIY Af’idatul Lathifah; Lydia Christianti
Studi Budaya Nusantara Vol 2, No 1 (2018)
Publisher : Studi Budaya Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (253.067 KB) | DOI: 10.21776/ub.sbn.2018.002.01.01

Abstract

AbstrakSektor perikanan adalah salah satu sektor ekonomi yang saat ini sedang gencar diitngkatkan performanya oleh pemerintah Negara Indonesia. Salah satu pelabuhan ikan yang ada adalah Pelabuhan Pantai Sadeng di Kecamatan Girisubo Kabupaten Gunung Kidul. Sebagai pelabuhan buatan, Pantai Sadeng tidak memiliki sumber daya manusia yang berprofesi sebagai nelayan, sehingga muncullah nelayan-nelayan migran yang didatangkan dari provinsi-provinsi lain di Indonesia. Kehidupan nelayan migran yang merupakan pendatang di Gunung Kidul memiliki pola yang berbeda dengan nelayan lokal. Profesi nelayan adalah profesi utama, sehingga para nelayan migran lebih memilih menggunakan kapal besar dan berlayar hingga berhari-hari. Agenda pulang kampung dilaksanakan rata-rata setahun dua kali ketika musim laut sedang tidak baik. Pemukiman nelayan migran juga merupakan pemukiman tidak tetap, mereka hanya menyewa dari pemerintah daerah. Selain itu, muncul pula kebudayaan sedekah laut yang sebelumnya tidak memiliki akar budaya dari warga lokal, sehingga pelaksanaan sedekah laut pun bervariasi dari waktu ke waktu.AbstractThe fishery sector is one of the economic sectors that is currently being intensively perceived by the government of Indonesia. One of the existing fish port is the Port of Sadeng Beach in Girisubo District Gunung Kidul Regency. As an artificial harbor, Sadeng Beach does not have human resources as a fisherman, so emerging migrant fishermen are imported from other provinces in Indonesia. The life of migrant fishermen who are migrants in Gunung Kidul have different patterns with local fishermen. Fisherman profession is the main profession, so the migrant fishermen prefer to use large boats and sail for days. The agenda for returning home is done on average twice a year when the seasons are not good. Migrant fishermen settlements are also non-permanent settlements, they only rent from local government. In addition, there is also a culture of sea alms that previously did not have cultural roots from local residents, so that the implementation of sea alms also varied from time to time.  
Tradisi Petik Laut dalam Komodifikasi Pariwisata Sendang Biru Dyah Rahayuningtyas; Thiovilia Siahaya
Studi Budaya Nusantara Vol 1, No 2 (2017)
Publisher : Studi Budaya Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (341.6 KB) | DOI: 10.21776/ub.sbn.2017.oo1.02.05

Abstract

AbstrakIndonesi adalah negara memiliki beragam secara geografis dan budaya dan memiliki kekayaan sumberdaya yang cukup melimpah untuk dikembangkan sebagai petani destinasi wisata. Salah satu yang potensial untuk dikembangkan adalah kawasan pesisir dengan segala kebudayaan dan masyarakatnya contohnya tradisi Petik Laut yang hanya dimiliki oleh masyarakat pesisir. Meskipun begitu, pengembangan pariwisata yang berbasis pada nilai-nilai tradisi dan budaya membawa konsekuensi lain yakni menjadikan tradisi tersebut sebagai bagian dari komoditas pariwisata. Diperlukan strategi-strategi tertentu agar suatu tradisi mampu diperhitungkan sebagai destinasi wisata. Salah satunya adalah adalah dengan melakukan komodifikasi kebudayaan sehingga mampu menarik wisatawan. Terlepas dari dampak negatif dan positif, sampai saat ini pariwisata masih menjadi andalan Indonesia untuk meningkatkan kesejahteraan terutama masyarakat pesisir. AbstractIndonesia is a country that has a diversity both geographically and culturally. Through the diversity of Indonesia can develop resources in that is quite abundant as a tourist destination. One of the potential to be developed is the coastal area with all the cultures and communities, for example is “Petik Laut” tradition that is only owned by coastal communities. Although the development of tourism based on tradition and cultural values brings other consequences, namely making the tradition a part of tourism commodities. It takes certain strategies for a destination can be calculated as a tourist destination, one of which is to do the commodification, so as to attract tourists. Regardless of the positive or negative impacts, to date tourism is still a mainstay of Indonesia to improve the welfare, especially coastal communities.  
RUANG BERUBAH BERSAMA-SAMA: ANTROPOLOGI DALAM TRANSFORMASI SOSIAL BUDAYA PAPUA I Ngurah Suryawan
Studi Budaya Nusantara Vol 2, No 2 (2018)
Publisher : Studi Budaya Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (368.351 KB) | DOI: 10.21776/ub.sbn.2018.002.02.02

Abstract

AbstrakThe biggest challenge of anthropology, especially in frontier areas (front lines) like in Papua, is to place it in the context of the vortex of the meaning of socio-cultural transformation experienced by humans themselves. Anthropology, thus becoming a "weapon" in the face of the inevitable social and cultural changes. This article reflects the power of ethnography in the long span of the journey of reproducing Papuan cultural knowledge. This study argues that ethnographic reproduction produced with a colonialistic perspective will lack power and language in describing the complexity and transformation of culture in the Land of Papua. The reality of the Papuan people is high mobility, interconnected with other cultural ethnicities with cultural diversity, and their relationship with the power of global investment. It was during these meeting moments that the Papuan people had the opportunity to think about their renewal of identity and culture.AbstractThe biggest challenge of anthropology, especially in frontier areas (front lines) like in Papua, is to place it in the context of the vortex of the meaning of socio-cultural transformation experienced by humans themselves. Anthropology, thus becoming a "weapon" in the face of the inevitable social and cultural changes. This article reflects the power of ethnography in the long span of the journey of reproducing Papuan cultural knowledge. This study argues that ethnographic reproduction produced with a colonialistic perspective will lack power and language in describing the complexity and transformation of culture in the Land of Papua. The reality of the Papuan people is high mobility, interconnected with other cultural ethnicities with cultural diversity, and their relationship with the power of global investment. It was during these meeting moments that the Papuan people had the opportunity to think about their renewal of identity and culture.
FUNGSI TRADISI BEDAH BLUMBANG DALAM PELESTARIAN AREA KONSERVASI AIR DI KAKI GUNUNG UNGARAN KABUPATEN SEMARANG Reny Wiyatasari; Afidatul Lathifah
Studi Budaya Nusantara Vol 3, No 1 (2019)
Publisher : Studi Budaya Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1046.59 KB) | DOI: 10.21776/ub.sbn.2019.003.01.01

Abstract

Tradisi bedah blumbang yang dilakukan oleh masyarakat Dusun Gintungan di kaki Gunung Ungaran merupakan rangkaian upacara merti dusun atau sering dikenal dengan tradisi bersih desa. Artikel ini membahas bagaimana peran tradisi bedah blumbang dalam praktek konservasi sumber daya air di kaki Gunung Ungaran serta makna tradisi tersebut pada masyarakat Dusun Gintungan. Praktek tradisi bedah blumbang telah mengalami berbagai perubahan serta improvisasi pelaksanaannya, mulai dari tata acara, kelengkapan upacara, hingga keterlibatan masyarakat. Tidak hanya masayarakat Dusun Gintungan saja yang terlibat, tetapi juga para pemangku kebijakan di tingkat pemerintahan. Bedah blumbang juga menjadi salah satu atraksi wisata di Dusun Gintungan. Keberlimpahan air di Dusun Gintungan juga belum terkelola dengan baik, warga masih menganggap air adalah sumber daya yang tidak akan habis sehingga warga cenderung menggunakannya tanpa batas. Akan tetapi, mitos-mitos yang berkembang di masyarakat seputar sumber mata air menjadi pengontrol masyarakat dalam memanfaatka sumber daya alam sekitar mereka, khususnya sumber daya air. Bedah blumbang kini berfungsi sebagai penjaga tradisi, penjaga kerukunan antar warga, ajang berwisata, dan sebagai pengingat leluhur mereka. proses konservasi lingkungan secara tidak langsung terjadi pada saat mengingat mitos tentang leluhur, dengan demikian warga terus menjaga kelestarian blumbang yang menjadi sumber mata air bagi warga Dusun Gintungan dan sekitarnya. Penelitian ini adalah penelitan kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara mendalam dan observasi partisipasi. Wawancara mendalam dan observasi dimaksudkan untuk mendapatkan data primer.
PEREMPUAN DAN PANGGUNG DIALOG KEINDAHAN DUA SISI DUNIA PERAN Muh Fatoni Rohman
Studi Budaya Nusantara Vol 3, No 1 (2019)
Publisher : Studi Budaya Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (322.277 KB) | DOI: 10.21776/ub.sbn.2019.003.01.06

Abstract

Risalah ini berisi tentang relasi perempuan dan panggung dalam seni pertunjukan. Selama ini relasi antara keduanya dibaca melalui pembacaan internal yang mengungkap eksistensi dan dominasi gender. Maka dalam tulisan ini, konteks eksternal dihadirkan dalam menganalisa antara relasi perempuan dan panggung seni pertunjukan. Dalam konteks ini, proses pembacaan relasi antara perempuan dengan seni pertunjukan dapat dilakukan dengan meletakkan kedua variabel tersebut dalam fungsi subyek dan obyek secara bersilangan sehingga dalam tulisan ini menghasilkan dua perspektif pembacaan, yaitu: (a) Peran perempuan dalam panggung, dan (b) Fungsi panggung bagi perempuan. Pada bagian peran perempuan dalam panggung dapat dilihat pada analisa figur perempuan seni pertunjukkan (aktris R.A. Srimulat dan Tjijih) dan fungsi perempuan dalam cerita pertunjukkan (dalam cerita lakon Sarip Tambak Oso). Sedangkan pada fungsi panggung bagi perempuan dapat dilihat bahwa sebagai sarana gerak, panggung memberikan proporsi yang sama antara laki-perempuan. Namun sebagai sarana ekspresi, panggung memberikan ruang yang lebih terbuka bagi perempuan.

Page 3 of 18 | Total Record : 174