cover
Contact Name
Studi Budaya Nusantara
Contact Email
jsbn@ub.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jsbn@ub.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Studi Budaya Nusantara
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : -     EISSN : 26211068     DOI : -
Jurnal Studi Budaya Nusantara (SBN) adalah media komunikasi ilmiah yang diterbitkan oleh Jurusan Seni dan Antropologi Budaya, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Brawijaya Malang. Jurnal ini dimaksudkan untuk mewadahi hasil penelitian dan kajian ilmiah di bidang seni dan budaya Nusantara sebagai bentuk sumbangan masyarakat ilmiah bagi pengembangan wawasan seni dan budaya dalam kehidupan masyarakat yang lebih luas. Terbit 2 kali setahun (Juni dan Desember).
Arjuna Subject : -
Articles 173 Documents
Pendidikan Interkultural di Sekolah Melalui Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia Sebagai Pembentuk Ruang Nasionalisme Dinamis Scarletina Vidyayani Eka; Fredy Nugroho Setiawan; Muhamad Rozin
Studi Budaya Nusantara Vol 2, No 2 (2018)
Publisher : Studi Budaya Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (181.295 KB) | DOI: 10.21776/ub.sbn.2018.002.02.03

Abstract

Masyarakat Indonesia terdiri dari individu-individu yang memiliki latar belakang budaya, agama, suku dan bahasa yang beragam. Dengan semakin banyaknya masalah sosial saat ini, perlu adanya sebuah ruang baru bagi masyarakat dimana nilai-nilai harmoni, toleransi, dan kohesi hadir di dalamnya. Pemerintah melalui sekolah berupaya menanamkan nilai-nilai tersebut. Salah satu upaya yangdapatdilakukan oleh sekolah adalah melalui pendidikan interkultural (intercultural education). Coles & Vincent dalam bukunya The Intercultural City Making The Most of Diversity(2006) mengatakan bahwa pendidikan interkultural pada dasarnya adalah pengembangan dari pendidikan multikultural anti-rasisme yang bermuara pada tercapainya dua agenda, yakni masyarakat yang kohesif dan kesetaraan ras. Pendidikan interkultural dapat diintegrasikan ke dalam berbagai aspek kegiatan sekolah, salah satunya adalah pengajaran mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia. Disini, penulis ingin memetakan sejauh mana konsep pendidikan interkultural hadir melalui materi ajar dengan mengambil studi kasus di SMAN 3 Malang. Untuk menganalisis konsep pembelajaran pendidikan interkultural di SMAN 3 Malang, penulis menelaah materi ajar sastra yang dipakai oleh guru dan proses Kegiatan Belajar Mengajar-nyadi dalam ruang-ruang kelas. Hasil analisis menunjukkan bahwa materi ajar sastra yang dipakai di SMAN 3 Malang sudah berisi muatan pendidikan interkultural dan konsep tersebut sudah teraplikasikan di proses belajar mengajar. Hasil ini sejalan dengan Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar Bahasa Indonesia yang digariskan oleh Pemerintah dalam usaha membentuk ruang masyarakat Indonesia yang toleran dan harmonis.
KESADARAN EKOLOGI DALAM MITOS DI TELAGA RAMBUT MONTE DESA KRISIK, KECAMATAN GANDUSARI, KABUPATEN BLITAR Fitrahayunitisna Fitrahayunitisna
Studi Budaya Nusantara Vol 3, No 1 (2019)
Publisher : Studi Budaya Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (457.105 KB) | DOI: 10.21776/ub.sbn.2019.003.01.03

Abstract

Mitos di Jawa merupakan cerita yang memuat kepercayaan orang Jawa terhadap hal-hal gaib. Hal yang menarik dari mitos-mitos yang ada di Rambut Monte adalah adanya kritik ekologi dalam bentuk kesadaran terhadap kelestarian lingkungan. Mitos yang dipercayai masyarakat tentang Rambut Monte memberi implikasi terhadap kelestarian alam. Hal ini merupakan salah satu bentuk peran dan fungsi mitos dalam masyarakat. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif  deskriptif.  Pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara, observasi, dan studi dokumentasi. Pengolahan data dilakukan dengan cara mentraskrip hasil wawancara dari informan. Kemudian, hasil transkrip tersebut diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Data yang berasal dari observasi dan dokumentasi diorganisasi secara ulang sebagai pendukung  informasi dari hasil wawancara. Selanjutnya, analisis data dilakukan berdasarkan rumusan masalah dan mengaitkan dengan wacana kritik ekologi. Mitos yang ditemukan dalam penelitian ini adalah mitos tentang asal-usul nama Rambut Monte, mitos air telaga suci, mitos ikan dewa, mitos pohon-pohon tua, dan mitos penunggu Rambut Monte. Nilai kesadaran ekologi yang ditemukan dalam mitos tersebut adalah nilai menghormati alam, nilai konservasi, nilai menghormati mahluk hidup, dan nilai keselarasan ekologi. Mitos-mitos tersebut juga  berfungsi sebagai pembawa pesan dan sarana pendidikan untuk menanamkan nilai kesadaran ekologi kepada masyarakat. Maka dari itu, mitos-mitos tersebut juga berfungsi sebagai pengurai disekuilibrium relasi manusia dengan alam.
Belis dan Harga Seorang Perempuan Sumba (Perkawinan Adat Suku Wewewa, Sumba Barat Daya, NTT) Dony Kleden
Studi Budaya Nusantara Vol 1, No 1 (2017)
Publisher : Studi Budaya Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (540.993 KB) | DOI: 10.21776/ub.sbn.2017.oo1.01.03

Abstract

Perkawinan antara laki-laki dan perempuan, atau bahkan sesama jenis sekali pun di sana selalu hadir yang namanya kebutuhan akan saling menyayangi, mencintai dan memberikan diri satu sama lain. Dengan demikian, di dalam perkawinan itu sendiri ada rasa saling ketergantungan, saling membutuhkan, saling memberi dan menerima, ada resiprositas antar pribadi. Dan tentu, di tiap daerah atau suku, selalu mempunyai keunikan dan kekhasan terkait dengan proses atau pagelaran perkawinan. Suku Wewewa, yang adalah salah satu suku yang berada di Pulau Sumba, mempunyai kekahasan juga dalam hal proses perkawinan. Belis (mas kawin) selalu menjadi kata kunci untuk membuka pintu pembicaraan kalau memang ada rencana untuk mengadakan sebuah perkawinan. Dan karena belis selalu menjadi kata kunci, maka tidak heran, kalau rasa cinta dalam banyak kasus pernikahan menjadi alpa. Tulisan singkat saya ini akan fokus pada macam-macam jenis pernikahan yang ada di Suku Wewewa dengan segala akrobat dan rakayasa. Tulisan ini berangkat dari hasil penelitian saya beberapa bulan yang lalu, dengan pendekatan observasi partisipasi. Di akhir tulisan ini, akan saya berikan catatan kritis dengan menggunakan teori resiprositas. ABSTRACTMarriage betwen man and woman, even man and man, or woman and woman, there is always talk about necessity to love one each other, and to need one each other. There for, in marriage, there are any dependence, any necessity, any reciprocity betwen man and woman, or minimal two persons. Of course, every place and culture, has uniqueness about the process or celebration of marriage. Wewewa ethnic is one of ethnic in Sumba island has uniqueness too in celebrationing marriage. Belis (bride-price) always be key of word if they want to talk about marriage. And because Belis always to be the key of marriage, feel of love sometimes not be the first of the marriage. This my short writing will be focused to many kinds of marriage in Wewewa ethnic and all games in itself. This writing based of my research few moths ago, with observation-participation approach. At the end of this writing, I will give my critical note using reciprocity theory.
SEBUAH STUDI TENTANG KOMUNIKASI RITUAL DALAM TARIAN SEBLANG BANYUWANGI Dinar Prihastuti; Yun Fitrahyati Laturrakhmi
Studi Budaya Nusantara Vol 1, No 2 (2017)
Publisher : Studi Budaya Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (280.972 KB) | DOI: 10.21776/ub.sbn.2017.oo1.02.01

Abstract

ABSTRAK  Beberapa studi telah dilakukan untuk menggali bagaimana komunikasi ritual dalam tradisi-tradisi yang berlaku di Indonesia. Namun, belum banyak studi yang menyoroti dimensi sejarah dari suatu ritual. Menindaklanjuti hal tersebut, studi ini ditujukan untuk menggali lebih jauh tentang makna ritual Tarian Seblang oleh masyarakat Desa Olehsari, Banyuwangi dalam perspektif komunikasi ritual serta melihat pergeseran yang terjadi dalam praktik ritual Tarian Seblang sejak masa Hindu, masuknya Islam dan ritual saat ini. Melalui studi etnografi, diperoleh hasil bahwa Tarian Seblang dimaknai sebagai ritual untuk mengungkapkan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, ritual untuk menjaga keselamatan desa, serta upaya menghormati nenek moyang. Dari sisi sejarah, terjadi modifikasi terhadap praktik ritual ini dari masa Hindu, masuknya Islam hingga praktik saat ini, hingga menunjukkan terjadinya akulturasi pada salah satu prosesi. Adanya campur tangan pemerintah melalui promosi pariwisata dalam ritual Tarian Seblang dinilai dapat memudarkan nilai sakral dari ritual Tarian Seblang. ABSTRACTSeveral studies have been conducted to explore some practices of ritual communication in various traditions in Indonesia. However, those studies have not analysed the historical dimension of the ritual. The aim of this research is to explore the shared meaning about Tarian Seblang in the Olehsari people’s, Banyuwangi through ritual communication lens. Furthermore, the study also is conducted to reveal modified practices in Tarian Seblang which has been performed since Hindu era. Through an ethnographical study, the result of this study shows that Tarian Seblang is interpreted as an expressing gratitude to God, as an act to preventing some disaster and plagues, also as an honour to the ancestors. In the historical dimensions, this research reveals some modified practices within the ritual according to the cultural practices in Hindu era, Islamic era and the contemporary era. Some cultural practices also indicate the acculturation between Hindu values and Islamic values. The promotional efforts toward Tarian Seblang organized by the local government are considered to diminish the sacred value of this ritual.
REVITALISASI CERITA PANJI DALAM WAYANG BEBER Femi Eka Rahmawati
Studi Budaya Nusantara Vol 2, No 1 (2018)
Publisher : Studi Budaya Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (256.079 KB) | DOI: 10.21776/ub.sbn.2018.002.01.04

Abstract

 AbstrakCeritera Panji merupakan salah satu harta karun terpendam yang dimiliki Jawa Timur. Ceritera-ceritera Panji menyebar ke banyak negara hingga mancanegara dan beredar dalam berbagai ceritera rakyat. Dalam ceritera-ceritera rakyat tersebut juga diadopsi oleh ceritera pada lakon-lakon wayang. Salah satunya adalah wayang beber yang merupakan salah satu wayang tertua di Indonesia, dan banyak berkembang di Jawa pada zaman dahulu. Wayang beber merupakan bentuk wayang yang unik karena dalam penceritaan kisahnya dengan cara digelar (dibeber), yang apabila dikembangkan sekarang diidentikkan dengan ceritera bergambar / komik. Dimana visualisasi wayang beber tersebut sama dengan visualisasi narasi ceritera gambar yang ada di relief-relief candi Jawa Timur yang berbentuk khas dua dimensi. Revitalisasi ceritera Panji yang mempunyai nilai filosofis dan ajaran serta makna historis yang tinggi dengan mengaplikasikannya pada wayang beber merupakan bentuk dari pelestarian budaya dan menjaga kebudayaan tradisi asli Nusantara dalam menangkal ekspansi kebudayaan negara asing. Untuk itulah wayang beber sebagai bentuk manifestasi kebudayaan yang menceritakan siklus cerita Panji sudah seharusnya dihidupkan kembali, agar pesan kesan yang terkandung di dalam cerita Panji bisa disampaikan kepada generasi penerus. Abstract“Panji Stories” is one of East Java’s Treasures. These stories had been spreadedall over the world in the form of various legends. Besides, these stories were also adapted by the caracters in many ‘Wayang” stories, one of them is Wayang Beber. Wayang Beber is one of the oldest Wayang in Indonesiaand and it was developed in Java. It was a uniq wayang since it was performed by showing every scene in a background (dibeber in Javanis language), now days it will be almost the same as picture series in comics. The visualization of this wayang beber is exactly the same as the visualization of the stories in the two dimentions sculptures of temples in East Java. Panji Stories revitalization provides philosophy values and high historical values. Therefore, by applaying those story in Wayang Beber, it will be a way to conserve Indonesian’s culture and a way to filter the expantion of foreign culture. In sum, wayang beber becomes cultural manifestation to deliver cultural and historical values from Panji Stories for young generation. 
FOOD CULTURE ACCULTURATION OF MARTABAK CUISINE ORIGINALLY FROM INDIA TO INDONESIA Angelina Rianti
Studi Budaya Nusantara Vol 2, No 1 (2018)
Publisher : Studi Budaya Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (803.13 KB) | DOI: 10.21776/ub.sbn.2018.002.01.06

Abstract

 AbstractMartabak is a popular street food snack that is easy and widely found in the countries of India, Indonesia, Saudi Arabia, and Malaysia. Martabak was first introduced in India, precisely in the region of Kerala. Martabak is an appetizer, side dish or some kind of snack. Indian traders and people who migrate to other countries bring and introduce martabak and become as a process of acculturation of food culture. Martabak itself introduced from India as a dish of stuffed fried bread with topping like meat and vegetables with main ingredient of eggs. In Indonesia, the culture of martabak food is adjusted and modified to form a new sweet martabak textured like pancake that has a thicker texture than savoury martabak. In Saudi Arabia, martabak is also known as two types which are sweet and savoury and often referred as "mutabbaq", while in Malaysia, sweet type of martabak known as "apam balik". AbstractMartabak adalah jajanan popular yang mudah dan banyak ditemukan di negara India, Indonesia, Arab Saudi, dan Malaysia. Awal mulanya martabak diperkenalkan di negara India, tepatnya di wilayah Kerala. Makanan ini diperkenalkan sebagai hidangan pembuka, hidangan sampingan, atau sejenis kudapan. Para pedagang dan warga India yang bermigrasi ke negara lain membawa dan memperkenalkan hidangan ini dan menjadi sebuah proses akulturasi budaya pangan. Martabak sendiri diperkenalkan dari India sebagai sajian roti goreng yang diberi isian seperti daging dan sayur dan bahan utama telur. Di Indonesia, budaya pangan martabak disesuaikan dan dimodifikasi hingga terbentuknya martabak manis seperti panekuk yang memiliki tekstur lebih tebal dari martabak asin. Di Arab Saudi, martabak juga dikenal dua jenis, yaitu manis dan asin yang sering disebut sebagai “mutabbaq”, sedangkan di Malaysia, martabak berjenis manis dikenal dengan “apam balik”. 
IMAJINASI DALAM RUANG POLITIK NASIONAL Sigit Prawoto
Studi Budaya Nusantara Vol 2, No 2 (2018)
Publisher : Studi Budaya Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (350.03 KB) | DOI: 10.21776/ub.sbn.2018.002.02.05

Abstract

AbstrakKampanye politik menawarkan banyak kemungkinan untuk menampilkan imaji atas pribadi seseorang. Penyampaian pesan kepada publik secara tersurat maupun simbolis dapat berlangsung pada saat yang bersamaan sehingga menghasilkan wacana-wacana politik yang saling tumpang tindih. Partai-partai politik yang besar menyelenggarakan parade keliling kota yang gaduh dan mencolok sedangkan partai-partai kecil melakukannya dengan lebih sepi, bahkan terkadang mereka tidak melakukan pengumpulan massa. Besarnya jumlah peserta pawai menunjukkan besarnya sebuah partai selain memperlihatkan kemampuan finansial dari partai dan politisi yang menyelenggarakan kegiatan itu. Namun demikian, kampanye yang sama-sama masif mereka lakukan di media massa dan di media sosial. Kampanye melalui Twitter dan Facebook menjadi strategi baru dalam menarik dukungan masyarakat meskipun dalam kenyataannya kampanye politik melalui media sosial ini begitu liar karena akun Twitter dan Facebook partai politik dan para politisi bercampur dengan milik masyarakat kebanyakan. Bebasnya penggunaan kedua media sosial ini memberikan kebebasan pula dalam menampilkan sisi positif dan sisi negatif seorang politisi dan sejumlah cara penampilan itu menjadikan pemilihan umum 2014 memendam banyak kontroversi yang hingga beberapa tahun kemudian masih menjadi bahan perbincangan di dunia maya maupun di dunia nyata.AbstractThe political campaign has so many possibilities to generate an impressive personal image of a politician. The way to communicate a message to the public can be driven directly or using some symbolics peculiarity in a time so that it stimulate some overlying political discourses. The powerful political partis will animate some massif and noisy mass parades in downtown in many different places while the small ones will do it in a calme and small procession and in some cases the do not even organise a single mass parade. The number of people in these carnivals shows the potential power of the partis in the field and in the financial support from the partis and their politicians. In actual tendance the partis politics do the same massif campaign in Medias and social Medias. The mass campaign on facebook and twitter become new approaches in the way to attract the attention of the people even if the campaign in theses socials Medias turn out to be free and wild because the facebook and twitter official’s accounts of the partis politics intermingle to those of the publics. The free of the use of those Medias gives a freedom to promote the positive and negative sides of a politician and the so many ways of presentations makes the general election of 2014 hide many controversies that for some years latter on still become a topic of debate in the real and virtual realm.
SUBJEKTIVITAS KOLEKTIF : KRISIS EKSISTENSI DALAM KARYA SENI Nur Iksan
Studi Budaya Nusantara Vol 3, No 1 (2019)
Publisher : Studi Budaya Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (533.491 KB) | DOI: 10.21776/ub.sbn.2019.003.01.04

Abstract

Sebagaimana manusia merupakan makhluk dinamis yang diwajibkan selalu memperbaiki kualitas hidupnya, tidak seharusnya ia menyesuaikan dan  menetralkan nilainya pada tawaran dari luar. Idealnya, manusia menuju diri yang sejati melalui pemenuhan pada keterlibatannya dalam setiap proses untuk “menjadi subjek” didalamnya. Sebuah proses yang dilakukan untuk mendapatkan pengetahuan holistik sebagai pondasi penyempurnaan makna kehidupannya.   Menjadi diri yang berkepribadian dan membentuk diri dengan bebas serta sadar atas tindakannya. Hal ini merupakan konsekuensi yang harus dihadapi dengan menempatkan pilihan berdasarkan pada kewenangan otonom untuk sebuah keyakinan dengan penghayatan dalam beraktifitas. Tetapi ditengah arus global sekarang ini kehidupan manusia yang mampu mencapai keontetikan diri menjadi barang mewah. Realitasnya, kontruksi penguasa otoriter yang legal maupun ilegal melalui media masa telah menciptakan kebudayaan secara massal dan dalam satu pandangan. Fenomena ini dapat dilihat pada sistem kerja media masa yang menyajikan imajinasi yang artifisial secara kontinyu dengan mekanisme hipnosis sebagai teknik injeksi kesadaran. Sebuah sistem penyeragaman yang menawarkan “kemapanan” berdasarkan kebendaan, pencitraan, status sosial dan bahkan moralitas. Bentuk tawaran tersebut, tanpa didasari pengetahuan secara subjektif semakin mendorong individu mengalami krisis eksistensi.   Fenomena di atas sebagai ide gagasan penciptaan karya seni grafis dengan muatan autokritik terhadap kondisi manusia yang sedang mengalami krisis eksistensi, dengan penggunaan metode penciptaan: ekplorasi, brainstorming dan pembentukan atau perwujudan. Proses perwujudannya dengan mengolah kelebihan karya seni grafis melalui reproduksi ke dalam satu media kanvas dengan teknik Puzzele. Karya seni dari tema "Subjetivitas Kolektif" diharapakan bisa menjadi media reflektif dari manusia yang sedang mengalami krisis eksistensi.
Masyarakat Yei-Nan di Erambu dan Ritus Kematiannya: Studi Kasus untuk Menemukan Makna Ritus Kematian dalam Masyarakat Yei-Nan di Erambu, Kabupaten Merauke – Papua Maximilian Boas Pegan
Studi Budaya Nusantara Vol 1, No 1 (2017)
Publisher : Studi Budaya Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (464.518 KB) | DOI: 10.21776/ub.sbn.2017.oo1.01.04

Abstract

Suku Yei-nan merupakan sebuah suku kecil di wilayah paling Timur Indonesia.Di dalamnya terdapat berbagai unsur budaya yang sangat kaya akan makna duniawi sekaligus religius, yang menjiwai seluruh siklus hidup manusia sejak kelahiran hingga kematian. Seperti yang terdapat dalam berbagai kebudayaan Melanesia, masyarakat Yei-nan juga melakukan berbagai ritual yang berkaitan dengan kematian. Ritual kematian berpusatkan pada upaya keluarga untuk menghantarkan orang yang meninggal menuju ke dunia roh. Namun tidak dapat dipungkiri pula bahwa ternyata ritual kematian juga menjadi sarana untuk mempererat kembali relasi manusia dengan sesama, alam dan dunia roh.ABSTRACTThe Yei-nan are a small tribe inhabiting the east mostregion of Indonesia. They posess a culture rich in both spiritual and mundane values, these distinct teachings influence all aspects of life, from birth until the passing away of tribe members. Common the most Melanesian cultures, the Yei-nan also have numerous rituals concerning mortality. The ritual centered upon the belief that the mourning family may aid in sending the deceased to the afterlife or spirit world. However this is not the sole purpose, undeniably these elaborate rituals also serve to re-strengthen the ties between man, fellow members, nature and the spirit realm.
BUDAYA DAN SENI TATO PADA PEREMPUAN TIMUR, Intan Dewi Savitri
Studi Budaya Nusantara Vol 1, No 2 (2017)
Publisher : Studi Budaya Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (279.371 KB) | DOI: 10.21776/ub.sbn.2017.oo1.02.03

Abstract

ABSTRAK Penelitian yang bertujuan untuk memberikan gambaran interpretatif yang diterima oleh seseorang ketika berusaha untuk mengekspresikan dirinya dengan cara melakukan modifikasi tubuh berwujud tato, khususnya perempuan, hal ini berangkat dari fenomena feminis di masyarakat yang cenderung memarjinalkan perempuan bertato. Budaya kontemporer yang disinyalir makin popular namun tetap dipandang sebagai pelanggaran terhadap yang arus utama (mainstream) tidak mampu melepaskan kemelekatan stigma tertentu pada perempuan ini menurut para pengedepan teori, khususnya teori feminis, adalah sebagaimana bentuk lain dalam hal ekspresi diri. Pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik wawancara dan/ kuesioner terhadap responden, dipilih dalam penelitian ini untuk dapat mendeskripsikan setepatnya gambaran yang muncul sesuai dengan jawaban yang diperoleh. Hasil penelitian menunjukkan mayoritas responden menyatakan ketidaksetujuannya terhadap ekspresi diri perempuan yang direpresentasikan oleh tato. Keberatan yang utama adalah karena stigma sosial yang menempel pada penyandangnya juga karena larangan dari ajaran agama tertentu.  ABSTRACT The aim of this research is to describe the attitude towards women who choose to modify her body as a way to express herself, and the form chosen is what scholars may devine as body ink or tattoo. Learning from a study conducted by students from one of the university overseas that recently tattoo is becoming more popular, on the other hand, the stigma social attached to it, and therefore to the women wearing them, remains. Tattoo considered more mainstream these days, but not quite. As for method employed in this research, qualitative has been chosen, and in relation to that, also descriptive. Intervieuw utilizing questionnaire was employed in data collecting with Brawijaya University’s students as participants. As a result, the majority of the participants submitted a negative answer that describe perception in relation to tattoo on women. Their opinion was supported first by stigma social holds against these women, secondly by the fact that tattoos are forbidden practice according to the teaching of a certain religion.    

Page 2 of 18 | Total Record : 173