cover
Contact Name
Studi Budaya Nusantara
Contact Email
jsbn@ub.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jsbn@ub.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Studi Budaya Nusantara
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : -     EISSN : 26211068     DOI : -
Jurnal Studi Budaya Nusantara (SBN) adalah media komunikasi ilmiah yang diterbitkan oleh Jurusan Seni dan Antropologi Budaya, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Brawijaya Malang. Jurnal ini dimaksudkan untuk mewadahi hasil penelitian dan kajian ilmiah di bidang seni dan budaya Nusantara sebagai bentuk sumbangan masyarakat ilmiah bagi pengembangan wawasan seni dan budaya dalam kehidupan masyarakat yang lebih luas. Terbit 2 kali setahun (Juni dan Desember).
Arjuna Subject : -
Articles 174 Documents
FENOMENA DAN KONTROVERSI HAK CIPTA KASUS PENCURIAN KESENIAN REOG PONOROGO Arinda Emilia Putri; Miftachul Chusna; Nurhafiza Nurhafiza; Hafilda Sabila
Studi Budaya Nusantara Vol 3, No 2 (2019)
Publisher : Studi Budaya Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.sbn.2019.003.02.01

Abstract

ABSTRAKKebudayaan daerah mengalami perubahan dari berbagai sudut, disertai masuknya unsur-unsur luar yang menantang identitas lokal. Namun desentralisasi politik di Indonesia dan pemindahan kewenangan dalam bidang pendidikan dan kebudayaan ke dalam tangan Pemerintah Daerah mendorong pengembalian kepada identitas budaya daerah tersebut. Dalam konteks ini, pada tahun 2007 sebuah kontroversi muncul di Indonesia mengenai salah satu kesenian tradisional yang berasal dari Kabupaten Ponorogo. Kontroversi itu berdasarkan persepsi masyarakat Ponorogo dan masyarakat luas Indonesia bahwa Malaysia telah mengklaim kesenian Reog Ponorogo lewat pencantuman kesenian tersebut dalam sebuah iklan pariwisata Malaysia. Tujuan dari penilitian ini adalah untuk mengetahui pentingnya reog sebagai identitas Ponorogo dan mengetahui penyebab kontroversi mengenai pencurian reog tersebut. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif, data diperoleh melalui wawancara dengan informan (Kepala Dinas Kebudayaan dan Informan Pariwisata Kebudayaan) merupakan teknik utama dalam proses pengumpulan data dalam penelitian ini. Hasil penelitian menunjukkan adanya sebuah kesalah pahaman yang disebabkan oleh miss comunication. Pemahaman masyarakat Indonesia khususnya masyarakat Ponorogo mereka beranggapan bahwa Reog benar-benar diklaim oleh Malaysia. 
Pergelaran Bantengan “Banteng Wareng” Madyopuro Malang: Telaah Antropologi Kesenian hanifati alifa radhia
Studi Budaya Nusantara Vol 3, No 2 (2019)
Publisher : Studi Budaya Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.sbn.2019.003.02.04

Abstract

Penelitian ini merupakan studi antropologi kesenian mengenai pergelaran Bantengan kelompok “Banteng Wareng” di Kelurahan Madyopuro, Kota Malang. Bantengan merupakan perpaduan pertunjukan tari, olah kanuragan, serta atraksi hewan banteng yang dimainkan oleh dua orang sebagai kepala dan ekor. Atraksi utama pergelaran Bantengan adalah adanya roh leluhur yang memasuki tubuh para pemain sehingga terjadi trance (kesurupan). Pergelaran Bantengan melibatkan praktik magis tengah populer di era globalisasi. Dalam antropologi kesenian dikenal pendekatan konteks yakni mendeskripsikan fenomena kesenian yang menekankan pada sisi sosial-kultural. Pengumpulan data penelitian ini menggunakan pengamatan (observation) dan wawancara mendalam (indepth interview). Hasil penelitian menunjukkan adanya dimensi-dimensi pada pergelaran Bantengan“Banteng Wareng” di Kelurahan Madyopuro. Pertama, dimensi sosial, yakni pergelaran Bantengan di Madyopuro hidup dan tumbuh atas inisiatif warga setempat untuk menghidupkan kegiatan lingkungan serta berfungsi sebagai hiburan. Kedua, dimensi kultural, yakni  Bantengan memuat tradisi budaya Jawa yang masih dilestarikan hingga saat ini. Tradisi tersebut tampak dalam praktik ritual sebelum pergelaran Bantengan yang dilakukan di pohon beringin. Di pohon beringin inilah berdiam arwah leluhur yang dipercaya sebagai pembabat alas Desa Madyopuro. Praktik-praktik dalam pergelaran Bantengan ini tidak rasional, di luar nalar manusia, serta mengandung sisi magis. Fenomena sosial-budaya dalam pergelaran Bantengan dapat didekonstruksi dalam sudut pandang posmodernisme. Pemikiran posmodernisme menghargai, menggali kearifan masa lalu dan bersikap mendengar segala pemikiran yang dianggap tabu, irasional, mistis dan magis. Seperti halnya pergelaran Bantengan yang diberi nafas kehidupan oleh kelompok“Banteng Wareng”, sejatinya menandai adanya gerakan revitalisasi budaya.
Nilai-Nilai Pancasila Dalam Budaya Larung Sesaji Gunung Kelud Sebagai Harapan Untuk Menciptakan Pertanian Gemah Ripah Loh Jinawi Di Kediri Jawa Timur Raihana Fatimah; Putri Dewi Andan Arum; Tri Ayu Ratnasari; Sintia Dewi
Studi Budaya Nusantara Vol 3, No 2 (2019)
Publisher : Studi Budaya Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.sbn.2019.003.02.03

Abstract

Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui nilai-nilai pancasila dalam budaya larung sesaji gunung kelud sebagai harapan untuk menciptakan pertanian Gemah Ripah Loh Jinawi di kediri Jawa Timur. Latar belakang dari penelitian ini berasal dari keragaman budaya dan kepercayaan di Indonesia. Keberagaman ini berfungsi mempertahankan dasar identitas masyarakat. Salah satunya dalam bidang pertanian yaitu Larung Sesaji Gunung Kelud yang didalamnya terdapat nilai-nilai  pancasila. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan September-November 2019 di Wilayah Desa Sugihwaras Kecamatan Ngancar Kabupaten Kediri Jawa Timur, dan menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data melakukan wawancara, observasi, dokumentasi, dan studi lieratur. Berdasarkan hasil penelitian kegiatan Larung Sesaji mencerminkan nilai-nilai dari kelima sila Pancasila dan menurut kepercayaan masyarakat setempat kegiatan tersebut sebagai wujud syukur atas hasil pertanian di Kabupaten Kediri dengan harapan menjadi wilayah yang Gemah Ripah Loh Jinawi.
PERANCANGAN ¬BUKU KOMIK BUDAYA JAWA “MAHABARATHA” SEBAGAI MEDIA PENUNJANG PENDIDIKAN KARAKTER DI SEKOLAH Ahmad Syarifuddin Rohman
Studi Budaya Nusantara Vol 3, No 2 (2019)
Publisher : Studi Budaya Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.sbn.2019.003.02.05

Abstract

Program pendidikan karkater disekolah bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan bertanggung jawab. Permasalahan yang timbul adalah kesulitan guru untuk menerapkan pendidikan karakter dalam  pembelajaran di sekolah. Persoalan yang ada selama ini adalah kurangnya media untuk menunjang penerapan pendidikan karakter di sekolah. Guru merasa kesulitan dalam memahami dan menerapkan kebijakan program pendidikan karakter tersebut. Dalam penelitian pengembangan ini model pengembangan yang digunakan adalah model pengembangan 4D oleh Thiagarajan dkk. Validasi media meliputi ahli media dan ahli materi. Pengembangan ini untuk menghasilkan media berupa buku komik tentang pengenalan kesenian wayang berbasis salah satu cerita “Mahabaratha” untuk siswa SMA. Tokoh yang diangkat dalam media ini meliputi Arjuna dan Kresna sebagai pemeran utama wayang.
AKSIOLOGI BUDAYA LOKAL JAWA-BALI PADA PROSES KREATIF BERKARYA PELUKIS BALI DI YOGYAKARTA I Gede Arya Sucitra; Septiana Dwiputri Maharani
Studi Budaya Nusantara Vol 3, No 2 (2019)
Publisher : Studi Budaya Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.sbn.2019.003.02.02

Abstract

ABSTRACT Every human being has aspects of life which include philosophy, belief, science, and art. These four aspects interact and complement each other into one whole system. This research seeks to investigate deeper about the axiological aspects of the acculturation of local cultural values in the interaction of the environment of society (culture) of different ethnic, racial, religious, and local genius values which have a shared awareness of mutual respect, tolerance and “open” to the presence of other cultures. The object of this research material is Balinese artists / painters diaspora who are creative in Yogyakarta, and their formal object is Axiology.By investigating and examining the expression of art and the output of works of art produced by Balinese diaspora painters in Yogyakarta, it can be seen the condition of the development of art, adaptation of cultural values, and the personal abilities of artists as personal and social creatures in mingling and sometimes syncretic. Artists as part of cultural support, certainly can not be separated from the various influences that are in the surrounding environment. Theory of ethics, aesthetics, and habitus become a strong capital to see the 'touch' and the mix of local cultural values between artists and the local culture that they inhabit, so that it will look at how social relations and reflections of visual relations in the work. Researching and observing the development of art through the path of creation, indeed leads us to the axiology dimension of unique and personal ethical and aesthetic values. Each artist has an apparently autonomous world and the application of ethical values in the process of his work but still able to ground themselves to adapt, tolerance and multicultural life.  ABSTRAKSetiap diri manusia memiliki aspek-aspek kehidupan yang meliputi filsafat, kepercayaan, ilmu, dan seni. Keempat aspek tersebut saling berinteraksi dan saling melengkapi menjadi satu sistem yang utuh. Penelitian ini berupaya menyelidiki lebih dalam mengenai aspek aksiologi akulturasi nilai-nilai budaya lokal pada interaksi lingkungan masyarakat (kebudayaan) yang berbeda-beda suku,  ras,  agama, dan nilai local genius-nya yang mana memiliki kesadaran bersama untuk saling menghormati, toleran dan ‘terbuka’ atas kehadiran budaya lain. Objek material penelitian ini yakni perupa/pelukis perantauan Bali yang proses kreatif di Yogyakarta, dan objek formalnya yakni Aksiologi.Dengan menyelidiki dan meneliti ekspresi kesenian serta luaran karya seni yang dihasilkan olehpelukis perantauan Bali di Yogyakarta, maka dapat dilihat kondisi perkembangan berkesenian, adaptasi nilai-nilai budaya, dan kemampuan personal perupa sebagai diri pribadi dan makhluk sosial dalam berbaur dan terkadang sinkretis. Perupa sebagai bagian dari penyangga kebudayaan, tentu tidak bisa terlepas dari berbagai pengaruh yang berada di lingkungan sekitarnya. Teori etika, estetika, dan habitus menjadi modal yang kuat untuk melihat ‘persentuhan’ dan bauran nilai budaya lokal antara perupa dan budaya setempat yang mereka diami, sehingga akan tampak bagaimana relasi sosial dan refleksi relasi visual dalam karya.Meneliti dan mengamati perkembangan seni rupa melalui jalur penciptaan, memang mengantarkan kita pada dimensi aksiologi nilai etika dan estetika yang unik dan personal. Setiap perupa memiliki dunia rupanya yang otonom serta pengendapaan nilai etika dalam proses berkaryanya namun tetap mampu membumikan diri untuk beradaptasi, toleransi dan hidup multikultur.  
PUBLIC-PRIVATE: Relasi Negara-Masyarakat dalam Tiga Cerita Rumah Tangga Widya Ayu Permatasari; Suraya Abdulwahab Afiff
Studi Budaya Nusantara Vol 3, No 2 (2019)
Publisher : Studi Budaya Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.sbn.2019.003.02.06

Abstract

The establishment of a gold mining company in Desa S caused the split of society into two part. The first part of the community supported mining companies and the second part, some of them refused the establishment of mining companies. So far, the phenomenon of the split of society into two part, often seen in the national and local domains. Whereas, this study wants to see this phenomenon occur in the realm of the household. The division of society in the realm of households is interesting to understand when the role of local state actors is in it. This condition occurred in my research, where there were three households in which there were local level state actors. The position of these state actors is quite dilemma, on the one hand, a family member supports a mining company, on the other hand, one family member rejects a mining company. The study of state-society relations is an appropriate study in understanding these conditions. In this study, the approach used in assessing the relation of state-society is Migdal's ‘state in society’. One of Migdal's main arguments in this approach is that the state works on two levels, practice and image, where Migdal presupposes an entity to have a social boundary between the public (state and agency) and private (subject to state rules). However, what happened in the research that I did, there was no separation between public and private in the state-society relations in the household domain. Therefore, this study would like to show that the boundary between public and private is blended and overlaps each other in the relations of the state-society in the household domain. Berdirinya perusahaan pertambangan emas di Desa S menyebabkan terbelahnya masyarakat menjadi dua kubu. Kubu pertama sebagian masyarakat mendukung perusahaan pertambangan dan kubu kedua sebagian masyarakat lainnya menolak berdirinya perusahaan pertambangan. Selama ini fenomena perpecahan masyarakat, sering dilihat dalam ranah nasional maupun lokal. Penelitian ini ingin melihat fenomena tersebut terjadi dalam ranah rumah tangga. Terbelahnya masyarakat dalam ranah rumah tangga menarik untuk dipahami ketika peran aktor negara tingkat lokal berada di dalamnya. Dalam penelitian saya, terdapat tiga rumah tangga yang di dalamnya terdapat aktor-aktor negara tingkat lokal. Posisi aktor-aktor negara ini cukup dilematis, di satu sisi salah seorang anggota rumah tangga mendukung perusahaan pertambangan, di sisi lain salah seorang anggota rumah tangga menolak perusahaan pertambangan. Kajian relasi negara-masyarakat adalah kajian yang tepat dalam memahami kondisi tersebut. Dalam penelitian ini, pendekatan yang digunakan dalam mengkaji relasi negara-masyarakat adalah state in society milik Migdal. Salah satu argumen utama Migdal dalam pendekatan ini adalah negara bekerja di dua level, yaitu praktek dan citra, dimana Migdal mengandaikan suatu entitas memiliki batas sosial antara public (negara dan agensinya) dan private (subjek aturan negara). Namun, yang terjadi dalam penelitian yang saya lakukan, tidak ada pemisahan mengenai public dan private dalam relasi negara-masyarakat di ranah rumah tangga. Oleh karena itu, penelitian dengan menggunakan kerangkan etnografi ini ingin memperlihatkan bahwa batasan antara public dan private itu blured dan saling tumpang tindih dalam relasi negara-masyarakat di ranah rumah tangga.
MEMBINGKAI RELASI ORANG HIDUP DAN MATI MELALUI TRADISI LISAN UPACARA TEING HANG Fabianus Selatang
Studi Budaya Nusantara Vol 4, No 1 (2020)
Publisher : Studi Budaya Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakPraktik upacara teing hang kepada leluhur atau orang meninggal sudah membudaya dalam masyarakat Manggarai. Meskipun praktik upacara ini sudah membudaya, tetapi masih menyisahkan banyak persoalan. Pertanyaan yang seringkali muncul adalah apakah ini bentuk sinkretisme? Apakah ini penghayatan iman yang dualistis? Apakah ini tidak bertentangan dengan isi dan inti iman Kristiani? Apakah ini bentuk penyembahan berhala? Beragam pertanyaan ini mendorong penulis untuk menelisik kedalaman makna dan pesan di balik upacara teing hang. Penelitian ini bertujuan untuk melihat relasi orang hidup dan mati dalam bingkai tradisi lisan upacara teing hang. Secara konseptual, gagasan relasi yang dimaksudkan di sini didasarkan pada konsep kelahiran. Dalam bingkai konsep kelahiran ini, kemudian orang Manggarai membangun pola relasi dengan leluhur atau orang yang sudah meninggal. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Teknik analisa data menggunakan analisa struktur dan semiotika. Data diperoleh dari tokoh adat di desa N Kecamatan Macang Pacar, Kabupaten Manggarai Barat. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa praktik upacara teing hang kepada leluhur atau orang yang sudah meninggal bukanlah bentuk sinkretisme atau penyembahan berhala. Praktik upacara teing hang sesungguhnya sarana pewartaan iman yang kontekstual. Dengan adanya upacara teing hang, Gereja menyadarkan umatnya (masyarakat Manggarai) akan dunia yang bersifat adikodrati yang tidak tuntas dijelaskan oleh akal budi. Dengan demikian, upacara teing hang memberikan pemaknaan baru terhadap pengungkapan iman yang ditandai dengan bahasa-bahasa simbolik. AbstractThe teing hang, a traditional ceremony in honour to the ancestors or the deceased is deeply rooted within the  culture of the Manggarai society. Although this ritual  is part of the local culture it still has many unresolved issues. The questions that often arise are: is teing hang a religious syncretism? Is it a dualistic faith practice? Does this not contradict to the content and the essence of Christian faith? Is this a form of idolatry? These  questions encourage writers to explore the depth of the significance and the message of the teing hang ceremony. This study aims to explore the relationship between the living and the dead based on the oral tradition of the teing hang ceremony. Conceptually, the idea of the relationship meant here is based on the concept of birth. In the frame of the birth concept, the Manggarai has built a pattern of relationship with the ancestors or deceased people. This research is carried out through the use of qualitative methods. The data is analysed through structural and semiotic studies. The data is taken from a traditional figure in village N Sub-district Macang Pacar, West Manggarai regency. The results of this study show that the practice of  the teing hang ceremony in honour to the ancestors or deceased people is not a form of syncretism or idolatry. This is actually a way of proclaiming faith. The Church wants to say to the Manggarai society that by the teing hang ceremony there is a supranatual power that isn’t enough explained by reason completely. The Church wishes to show to its believers that the message of the teing hang ceremony is far beyond what is visible to the human eyes. It is a spirituality rich ceremony that envelopes supernatural realities. Thus, the teing hang ceremony provides a new means of expressing faith through symbolic languages.
FUNGSI DAN MAKNA SIMBOLIK TINGKULUAK KOTO NAN GADANG PAYAKUMBUH Desra Imelda
Studi Budaya Nusantara Vol 4, No 1 (2020)
Publisher : Studi Budaya Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

 ABSTRAKKoto Nan Gadang merupakan salah satu  nagari di Payakumbuh Utara yang masih melestarikan pakaian adat Minangkabau, ini bisa dilihat pada waktu melaksanakan upacara-upacara adat seperti acara pernikahan, batagak penghulu, dan lain-lain masyarakar masih menjunjung tinggi adat budaya daerahnya dengan masih memakai pakaian adat selama proses acara berlangsung.Penelitian ini tentang Tingkuluak Koto Nan Gadang yang dikhususkan pada fungsi dan makna simbol yang terkandung pada masing-masing tingkuluak. Diperoleh kesimpulan bahwa Tingkuluak Koto Nan Gadang memiliki beberapa fungsi yaitu sebagai pakaian adat mamanggia, pakaian untuk maanta, dan pakaian untuk menanti tamu. Tingkuluak Koto Nan Gadang juga merupakan simbol dan tanda bagi si pemakainya, orang lain akan bisa mengetahui status si pemakai dari pakaian yang dia pakai. ABSTRACT Koto Nan Gadang is one of the nagari in North Payakumbuh that still preserves Minangkabau traditional clothes, this can be seen when carrying out traditional ceremonies such as weddings, batagak pengulu, and others. The community still respects the local cultural customs by still wearing traditional clothing during the event process.This research is about Tingkuluak Koto Nan Gadang which is devoted to the function and meaning of the symbols contained in each tingkuluak. It was concluded that Tingkuluak Koto Nan Gadang has several functions, namely as mamanggia traditional clothes, clothes for maanta, and clothes to await guests. Tingkuluak Koto Nan Gadang is also a symbol and sign for the wearer, others will be able to know the status of the wearer from the clothes he wears.
STRUKTUR KELAS DAN OTONOMI PEREMPUAN TENGGER DESA ARGOSARI KECAMATAN SENDURO KABUPATEN LUMAJANG Aliffiati Aliffiati; I Ketut Kaler
Studi Budaya Nusantara Vol 4, No 1 (2020)
Publisher : Studi Budaya Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perempuan dalam sebuah rumahtangga turut berperan dalam menjaga kestabilan dan kebertahanan ekonomi keluarga, demikian yang dialami oleh sebagian besar perempuan di pedesaan.  Ketimpangan gender yang terjadi di masyarakat khususnya di pedesaan merupakan salah satu masalah  yang menarik untuk dikaji dengan berbagai pendekatan, salah satunya ilmu antropologi.Kajian berikut menganalisa  perempuan petani etnis Tengger di wilayah Desa Argosari Kecamatan Senduro Kabupaten Lumajang Jawa Timur.  Tujuan penelitian untuk mengetahui dan mengidentifikasi tentang strafikasi sosial perempuan di masyarakat terkait dengan status dan peran perempuan di ranah domestik dan publik. Penelitian dilakukan mengggunakan metode pendekatan etnografi sebagai salah satu varian pendekatan kualitatif.Masyarakat Tengger merupakan sub etnis Jawa, yang masih teguh memegang tradisi khususnya  mempertahankan sebagian budaya jaman Majapahit, terlebih masyarakat Tengger Argosari.  Mereka meyakini keturunan Roro Anteng dan Joko Seger.  Dibalik  legenda Roro Anteng dan Joko Seger yang merupakan  folklore tentang asal usul etnis Tengger, memiliki makna sebagai  visi tentang kesetaraan gender.  Tradisi Tengger menempatkan para perempuan dalam kehidupan keluarga, masyarakat, dan ritual. Tradisi Tengger menganggap laki-laki dan perempuan mempunyai posisi yang sederajat, sama-sama berperan dalam kehidupan keluarga maupun masyarakat.
BOKOL MONGONG-KELI REPIS DALAM KONSEPSI TANGGUNG JAWAB EMMANUEL LEVINAS Marianus Wele
Studi Budaya Nusantara Vol 4, No 1 (2020)
Publisher : Studi Budaya Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini mengkaji kearifan lokal dalam tradisi budaya Riung yaitu Bokol Mongong-Keli Repis. Bokol Mongong-Keli Repis mengandung pengertian untuk menjaga persatuan yang sudah terjalin agar tetap lestari dan untuk merajut kembali yang selama ini tercerai-berai dan saling “berjauhan”. Bokol Mongong-Keli Repis sebagai obyek material akan ditelaah dengan obyek formal yaitu konsepsi tanggung jawab Emmanuel Levinas. Metode penelitian ini menggunakan kualitatif fenomenologis dengan beberapa langkah yaitu melakukan deskripsi, wawancara, dan melakukan interpretasi. Hasil penelitian ditemukan bahwa Bokol Mongong-Keli Repis merupakan (1) ungkapan kerinduan untuk bersatu bersama dan berdamai; (2) mempunyai kandungan fungsi relasional; (3) menghargai liyan; (4) tanggung jawab dalam hidup bersama; dan (5) adanya cinta sebagai pengikat. Konsepsi tanggung jawab bisa menjadi rekomendasi untuk dasar untuk mewadahi relasi dalam tradisi budaya Riung.

Page 4 of 18 | Total Record : 174