cover
Contact Name
Surya Farid Sathotho
Contact Email
suryafarid@isi.ac.id
Phone
+62818462800
Journal Mail Official
tonil@isi.ac.id
Editorial Address
Jurusan Teater Institut Seni Indonesia Yogyakarta
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Tonil, Jurnal Kajian Sastra, Teater dan Sinema
ISSN : 14116464     EISSN : 26858274     DOI : DOI: https://doi.org/10.24821/tnl.v19i2
Core Subject : Humanities, Art,
Tonil: Journal of Literature, Theatre, and Cinema Studies, issn: 1411-6464 (print) and issn: 2685-8274 (online), is a scientific journal in the fields of Theatre/Arts creations & studies under the publication banner of Theatre Department, Faculty of Performing Arts in Indonesia Institute of the Arts Yogyakarta (ISI Yogyakarta). TONIL publication emphasizes its role as a medium for communication, discussion, advocation and literary refinement. TONIL serves as a vessel to accommodate the ideas and criticism from the artists, scientists, practitioners, and also all positions involved in the field of Theatre and Performing Arts
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 21, No 2: September 2024" : 6 Documents clear
TRANSMISI BUDAYA MASYARAKAT ADAT BATAK TOBA DALAM PERGELARAN BUDAYA ULAON UNJUK DI TAPANULI UTARA Tama, Krisna; Sathotho, Surya Farid; Sahid, Nur
TONIL: Jurnal Kajian Sastra, Teater dan Sinema Vol 21, No 2: September 2024
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/tnl.v21i2.13759

Abstract

This research examines the Ulaon Unjuk ritual in Sigotom Julu on December 2, 2022, with the aim of analyzing the performance elements and the cultural values transmitted through its execution. Ulaon Unjuk is a traditional marriage ritual of the Batak Toba community, which plays a crucial role in fulfilling the existential goals of hagabeon (prosperity in descendants), hamoraon (wealth), and hasangapon (honor). To this day, the Ulaon Unjuk ritual remains a mandatory practice to ensure that the bride and groom receive social validation as members of the Batak Toba indigenous community. As a marriage ritual, Ulaon Unjuk constitutes a cultural performance that encompasses elements of a staged event and facilitates the transmission of cultural values. This study employs a qualitative ethnographic approach for data collection, with the data subsequently analyzed narratively and inductively using a cultural performance framework. The findings are documented through ethnographic writing techniques. The results reveal that the Ulaon Unjuk ritual is carried out according to specific sequences and rules, is non-productive in nature, utilizes symbolic objects, and involves a designated performance space. These findings imply that Ulaon Unjuk includes performative aspects akin to theater. The ritual also incorporates the concept of Dalihan Na Tolu, which is central to the cultural values of the Batak Toba community, encompassing aspects such as patrilineality, clan (marga), marhobas (mutual assistance), tudu-tudu sipanganon (sharing of food), jambar (division of ritual objects), marsisisean (mutual respect), ulos (traditional cloth), tortor (traditional dance), tandok (ritual container), and others. In conclusion, the Ulaon Unjuk ritual represents a cultural performance that embodies theatrical elements and transmits the cultural values of the Batak Toba indigenous community through its enactment.Keywords: Batak Toba, Cultural Transmission, Dalihan Na Tolu, Ulaon Unjuk
PERANCANGAN SKENARIO FILM PULANG TERINSPIRASI DARI KEKERASAN JALANAN: STUDI KASUS FENOMENA KLITIH DI YOGYAKARTA Wibowo, Philipus Nugroho Hari
TONIL: Jurnal Kajian Sastra, Teater dan Sinema Vol 21, No 2: September 2024
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/tnl.v21i2.11027

Abstract

Kekerasan Jalanan berupa klitih menjadi fenomena yang meresahkan, dan memprihatinkan mengingat pelaku klitih adalah pelajar yang masih mencari jati diri. Permasalahan klitih sampai saat ini belum bisa di temukan secara pasti penyebabnya. Klitih merupakan tindakan kekerasan. Pendekatan perancangan skenario ini menggunakan pemahaman  Sizek tentang kekerasan. Sizek membagi kekerasan menjadi dua bentuk kekerasan subjektif dan kekerasan objektif. Kekerasan subjektif adalah kekerasan yang paling dapat dilihat dalam kehidupan sehari-hari seperti: pembunuhan, pencurian, perampokan dan lain sebagainya sedangkan  kekerasan subjektif adalah bentuk imaginer (tak kasat mata) dari kekerasan objektif.Perancangan ini merujuk pada tahapan-tahapan penciptaan kreatif yang dikemukakan oleh Graham Wallas yaitu, (a) Preparation, (b) Incubation, (c) Ilumination, (d) Verification. Perancangan skenario film ini diharapkan menjadi media penyadaran masyarakat tentang bahaya klitih, khususnya lingkup pendidikan yang paling kecil yaitu keluarga.Kata kunci: Kekerasan Jalanan, Klitih, Skenario Film Pulang, Sizek, Graham Wallas 
PENCIPTAAN PERTUNJUKAN SHADOW PUPPET DALAM UPAYA PELESTARIAN GUMUK DI KABUPATEN JEMBER Sutrisna, Natalius Yudha
TONIL: Jurnal Kajian Sastra, Teater dan Sinema Vol 21, No 2: September 2024
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/tnl.v21i2.12647

Abstract

Pembangunan merupakan suatu upaya pemerintah dan masyarakat dalam melakukan pengembangan di bidang sosial, ekonomi, dan politik. Proses pembangunan sering kali melibatkan penggunaan sumber daya alam sebagai bahan dasar material yang berdampak pada masalah kerusakan lingkungan. Pertambangan gumuk yang terjadi di Kabupaten Jember merupakan contoh nyata kegiatan eksploitasi sumber daya alam yang menghadirkan konflik pembangunan dan pelestarian lingkungan. Dalam fenomena ini, peneliti mencoba untuk memproyeksikan gagasan mengenai kesadaran pelestarian lingkungan melalui sebuah penciptaan teater shadow puppet dengan judul “Misteri Gumuk Keramat”. Pertunjukan shadow puppet menggunakan pendekatan eko-dramaturgi sebagai acuan dalam menciptakan karya pertunjukannya. Eko-dramaturgi adalah praktik teater yang menyoroti hubungan antara ekologi, sosial dan budaya. Dalam konsep ini, eko-dramaturgi menganggap teater sebagai medium yang efektif dalam mendekati isu-isu lingkungan dan menerapkannya dalam sebuah karya pertunjukan. Research methods for the art adalah pendekatan metodologis yang digunakan peneliti dalam menyusun proses penciptaan karya. Tahapan dalam Research methods for the art berfokus pada proses pengumpulan data (observasi), proses eksperimentasi dan presentasi karya. Kata Kunci : Eko-dramaturgi, Pertambangan gumuk, Penciptaan Teater, Shadow puppet. 
REPRESENTASI PELECEHAN SEKSUAL DALAM FILM PENYALIN CAHAYA KARYA WREGAS BHANUTEJA Firdaus, Sajidah Al-Lathifah; Harini, Yostiani Noor Asmi; Durachman, Memen
TONIL: Jurnal Kajian Sastra, Teater dan Sinema Vol 21, No 2: September 2024
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/tnl.v21i2.13547

Abstract

Artikel ini menunjukkan bentuk representasi pelecehan seksual dalam film “Penyalin Cahaya” yang disutradarai Wregas Bhanuteja melalui konotasi, denotasi, dan mitos.  Peneliti menonton, mengidentifikasi, dan memaknai bentuk representasi pelecehal seksual. Terdapat 10 gambar yang representasi pelecehan seksual pada film “Penyalin Cahaya” yaitu konotasi kisah Medusa berambut ular yang memiliki makna khusus pada bahasa Inggris seperti “snake in the grass” yang mengacu pada penipuan dan pengkhianatan juga dilambangkan sebagai makhluk jahat. Selanjutnya denotasi yang lebih sering digunakan yaitu pengambilan gambar dengan medium-shot dengan sudut pandang normal menunjukkan ekspresi dari para pemerannya. Mitos yang dominan adalah sang pelaku dapat melakukan pelecehan seksual kepada siapapun tanpa memandang jenis kelamin, pakaian korban, ataupun perilaku korban.Kata kunci: representasi, pelecehan seksual, film Penyalin Cahaya.
MINANGKABAU DI PERSIMPANGAN: ANALISIS WACANA KRITIS TERHADAP FILM SURGA DI TELAPAK KAKI IBU Hidayat, Herry Nur
TONIL: Jurnal Kajian Sastra, Teater dan Sinema Vol 21, No 2: September 2024
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/tnl.v21i2.13072

Abstract

Artikel ini membahas film berjudul Surga di Telapak Kaki Ibu (2016, Sony Gaokasak). Secara umum, film ini bercerita tentang perubahan perilaku sosial di Minangkabau. Perubahan tersebut diduga terjadi oleh karena pertentangan dunia tradisi dengan modernisasi. Dalam penelitian ini, film Surga di Telapak Kaki Ibu dipandang sebagai perilaku berbahasa. Teknik analisis mendasarkan pada tangkapan layar terhadap adegan film (shot) yang dibagi dalam kategori adegan (scene) yang berurutan (sequence) yang membangun cerita (story). Di samping itu, kajian juga mempertimbangkan aspek naratif dalam kerangka mise en scene yang meliputi tokoh dan penokohan, latar dan pelataran, dan fokalisasi (point of view). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tokoh-tokoh dalam film ini merepresentasikan perubahan perilaku sosial di Minangkabau. Terdapat perubahan persepsi atas sistem kekerabatan matrilineal yang dianggap rumit dan kompleks. Di samping itu, perubahan persepsi tersebut akhirnya membawa pada perubahan persepsi atas sistem perkawinan, sistem pewarisan harta, dan kedudukan perempuan di Minangkabau.Kata kunci: Minangkabau, sosial, wacana kritis, film
DIRECTOR PREPARATION: PENYUTRADARAAN ADEGAN DRONE SHOT MENGGUNAKAN DRONE FPV Kustanto, Lilik; Widyasmoro, Agnes; Hegar Elbaraja, Dafi Muhammad
TONIL: Jurnal Kajian Sastra, Teater dan Sinema Vol 21, No 2: September 2024
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/tnl.v21i2.13721

Abstract

Sutradara bertanggung jawab dalam memvisualisasikan   sebuah naskah. Adegan dalam visualisasi tersebut sangat beragam sesuai kebutuhan cerita dan estetik yang dibangun. Salah satu nya adalah adegan FPV drone shot. Adegan yang pengambilan gambarnya menggunakan drone FPV (first person view). Drone FPV memiliki perbedaan dengan drone regular. Dari segi operasional drone regular antara pilot remote dan kamera operator terpisah. Sedangkan pada drone FPV seorang remote pilot merangkap sebagai kamera operator. Saat ini belum ada panduan pengambilan adegan FPV drone shot bagi seorang sutradara. Sehingga penelitian terapan ini penting dengan tujuan membuat sebuah panduan persiapan proses produksi adegan FPV drone shot bagi seorang sutradara. Metode penelitian menggunakan tiga tahapan produksi yang selanjutnya dibagi menjadi lima tahap. Tahap pertama adalah riset,  Tahap kedua adalah membuat rancangan video turorial dan juga rancangan materi tahap penyutradaraan  (director preparation) dalam pengambilan gambar adegan drone shot menggunakan drone FPV. Tahap ketiga produksi video tutorial persiapan sutradara untuk adegan drone shot menggunakan drone FPV. Tahap keempat adalah proses finalisasi video tutorial (paska produksi) dan membuat laporan-laporan penelitian. Tahap kelima membuat  artikel jurnal (submisi maupun publikasi) dan pendaftaran hak karya cipta (KI).  Kata kunci: Adegan drone shot, sutradara, drone FPV

Page 1 of 1 | Total Record : 6