cover
Contact Name
Endah Yuniarti
Contact Email
endah.yuniarti13@gmail.com
Phone
+628159460696
Journal Mail Official
jtk@unsurya.ac.id
Editorial Address
Fakultas Teknologi Kedirgantaraan R.215 Kampus A Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma Jl. Halim Perdanakusuma Jakarta - 13610 Telp. 021 8093475 ext 16 Fax. 021 8009246 email: jtk@unsurya.ac.id http://jurnal.ftkunsurya.com/index.php/jtk/about/submissions
Location
Kota adm. jakarta timur,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Teknologi Kedirgantaraan (JTK)
ISSN : 25282778     EISSN : 26849704     DOI : https://doi.org/10.35894/jtk.v6i2
Jurnal Teknologi Kedirgantaraan (JTK) memuat artikel-artikel hasil penelitian dan kajian analitis kritis bidang teknik penerbangan yang belum pernah dipublikasikan pada media lain. Adapun lingkup bahasan meliputi: propulsi, avionik, struktur, material pesawat terbang, pemeliharaan dan operasional pesawat terbang dan topik-topik yang berkaitan. Tujuan utama dari Jurnal Teknologi Kedirgantaraan adalah mempublikasikan hasil penelitian yang dilakukan dan memotivasi produktivitas karya ilmiah dalam bidang Teknik Penerbangan/Aeronautika. Jurnal Teknologi Kedirgantaraan (JTK) terbit secara berkala dua volume dalam satu tahun. Kami selaku pengelola juga selalu melakukan pembenahan dan perbaikan agar Teknologi Kedirgantaraan ini dapat diakui secara nasional maupun internasional.
Articles 166 Documents
Peluang Bisnis Industri Perawatan Pesawat Maintenance Repair & Overhaul (MRO) di Indonesia dan Permasalahannya Freddy Franciscus
Jurnal Teknologi Kedirgantaraan Vol 1 No 1 (2016): Jurnal Teknologi Kedirgantaraan
Publisher : FTK UNSURYA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35894/jtk.v1i1.196

Abstract

Pertumbuhan industri penerbangan di Indonesia yang cukup besar yaitu sekitar 15%-20% membuat pertumbuhan yang cukup besar juga terhadap armada pesawat terbang yang ujung-ujungnya meningkatkan kebutuhan terhadap perawatan pesawat dan membuka peluang bisnis yang cukup besar kepada fasilitas perawatan pesawat atau MRO (Maintenance Repair & Overhaul). Pada Tahun 2015 tercatat ongkos belanja industri penerbangan Indonesia untuk keperluan perawatan pesawat milik maskapai Indonesia (termasuk perawatan engine & komponen) adalah sekitar US$ 900 juta dan tumbuh sekitar 15% per tahun, hingga menjadi sekitar US$ 2 Milliar Tahun 2020.Peluang bisnis MRO yang cukup menjanjikan tersebut ternyata pada Tahun 2015 baru terserap sekitar 30% oleh MRO Indonesia. Hanya terserap sekitar US$ 270 juta dari total US$ 900 juta yang dibelanjakan. Hal tersebut antara lain disebabkan oleh karena terbatasnya MRO berkualitas internasional yang punya sertifikat FAA/EASA, keterbatasan shop capability, Turn Around Time/waktu delivery perawatan pesawat yang lama tidak on time dan kurangnya perhatian pemerintah dalam mendukung pertumbuhan MRO Indonesia.Asosiasi MRO Indonesia yaitu Indonesia Aircraft Maintenance Service Association (IAMSA) bersama para anggota aktifnya mentargetkan penyerapan dua kali lipat menjadi sekitar 60% dari total belanja perawatan pesawat Indonesia dalam beberapa tahun mendatang. Untuk mencapai target tersebut diusulkan solusi yang komprehensif jangka panjang membentuk wadah bersama (konsorsium) yang berada di lokasi steril (bonded area) dan menyediakan semua kebutuhan dari hulu hingga hilir untuk kebutuhan perawatan pesawat. Selain itu juga beberapa usulan parsial jangka pendek seperti peningkatan kualitas untuk mendapatkan sertifikat FAA/EASA, pelayanan custom clearance satu atap, dan membangun fasilitas perawatan engine pesawat B737NG (CFM56-7) yang menghabiskan porsi ongkos belanja perawatan cukup besar dengan populasi sekitar 200 engine terpasang di pesawat B737NG Garuda Indonesia, Lion dan Sriwijaya
Analisis Kapasitas Belly Cargo pada Penerbangan Berjadwal Domestik Indonesia Mufti Arifin
Jurnal Teknologi Kedirgantaraan Vol 1 No 1 (2016): Jurnal Teknologi Kedirgantaraan
Publisher : FTK UNSURYA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35894/jtk.v1i1.197

Abstract

Domestic air cargo using narrow body passenger (pax) aircraft belly has limited capacity as remaining from maximum payload minus pax payload. The ratio of revenue cargo and revenue pax from schedule domestic airlines production data from 2004-2014 rely at 9 kg/pax and highest at 14 kg/pax. This study compares belly cargo capacity from ten aircraft types that operates in Indonesia’s domestic route to air cargo demand estimation based on ratio data. All types at load factor 0.8 have belly cargo capacity larger than demand estimation. At full pax condition, ATR42-500, ATR72-500, ATR72-600, B737-300, B737-800, B737-900ER, and CRJ1000 still have belly cargo capacity larger than demand estimation. Smaller belly cargo capacity than demand only at A320, B737-400, and B737-500 with ratio 14 kg/pax, and only at A320 with ratio 9 kg/pax.
Pemilihan Motor Listrik Sebagai Penggerak Utama dan Propeller Sebagai Alat Gerak Pada Sistem Propulsi Pesawat Flying Wing PX Endah Yuniarti; Tri Susilo; Albi Nuari Hastono
Jurnal Teknologi Kedirgantaraan Vol 1 No 1 (2016): Jurnal Teknologi Kedirgantaraan
Publisher : FTK UNSURYA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35894/jtk.v1i1.198

Abstract

Election electric motor as main motor engine and propeller as mechanical device of propulsion system Flying Wing PX aircraft has been done. The types of investigated electrics motor are EMAX BL 2382/05, NTM Pprop Drive Series 42-58 and Turnigy 3648. The propellers that have been tested are 12x8, 13x8, 14x7 and 15x7 dimension propeller. Parameters that have been investigated are power, velocity of motor, velocity of propeller and thrust. Effect of parameters on aircraft performance has been analyzed. Power as result from motor currents multiplied 11,1 volt baterai voltage. Velocities of motors as result from value of KV that technical term for explain how many motor rotation each second in 1 volt applied voltage. Propeller velocities were measured by Tachometer device. Air flow velocities were measured by Digital Anemometer Air Flow Meter. Furthermore, it’s used for thrust calculation. The result showed that the highest power and motor velocities obtained by EMAX BL 2382/05 is 888 watts and 8935 rpm. With the 888 watts as highest power, the aircraft is able to do sport performance. The propeller velocities which is appropriate with motor velocities maximum limit is 13x8 and 14x7 dimensions, but the highest thrust obtained by 14x7 dimensions. Thus, EMAX BL 2382/05 electric motor and 14x7 dimension propeller can used at Flying Wing PX aircraft in order to aircraft performance is maximal.
Review Ketersediaan Spare Parts untuk Pemeliharaan Pesawat Terbang di Indonesia Freddy Franciscus
Jurnal Teknologi Kedirgantaraan Vol 2 No 1 (2017): Jurnal Teknologi Kedirgantaraan
Publisher : FTK UNSURYA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35894/jtk.v2i1.199

Abstract

Kebutuhan belanja spare parts pesawat terbang untuk pemeliharaan pesawat terbang di Indonesia terus meningkat sejalan dengan pertumbuhan market pemeliharaan pesawat yaitu sekitar 12,87% per tahun. Belanja spare parts lima tahun ke depan antara US$ 0,89-1,56 Miliar.Belanja spare parts pesawat untuk kebutuhan pemeliharaan pesawat di Indonesia relatif lebih besar dibandingkan dengan Negara ASEAN yang lain yaitu nomor 2(dua) setelah Negara Singapore. Hampir seluruh spare parts untuk kebutuhan pemeliharaan pesawat adalah buatan dan berasal dari luar negeri sehingga timbul beberapa permasalahan dalam proses pengelolaan pengadaam spare parts tersebut yaitu antara lain harga mahal, delivery cukup lama dan kwalitas tidak sesuai standar. Beberapa penyebab permasalahan di atas antara lain proses pengadaan yang tidak transparan, waktu pembayaran melebihi 45 hari yaitu waktu standar Term of Payment yang disepakati, terlalu banyak vendor sehingga tidak ada volume discount dan proses pengiriman tidak efisien, belum ada ‘spare parts mall’ di Indonesia, perencanaan minimum stock spare parts yang kurang akurat, spare parts sebagian besar di beli dari luar negeri yang memerlukan waktu untuk proses custom clearance, masih ada spare parts yang di beli dimana fisik dan atau dokumennya tidak sesuai dengan persyaratan authority tentang aeronautical products. Mengatasi permasalahan pengelolaan pengadaan spare parts, beberapa hal yang dapat dilakukan agar proses pengadaan spare parts lebih efektif dan efisien antara lain adalah proses pengadaan yang transparan dengan E auction, pengadaan secara paket/blanket order dan kontrak jangka panjang, proses penerimaan, pengecheckan dan pengeluaran spare parts melalui bonded area dan solusi komprehensif dengan membangun ‘spare parts mall’ tempat belanja spare parts terintegrasi.
Studi Exciter APU 131-9B Problem pada Pesawat Boeing 737-NG dengan Menggunakan Metode Fault Tree Analysis M. Alvin Yulizar; Tri Susilo; Aprilia Sakti K
Jurnal Teknologi Kedirgantaraan Vol 2 No 1 (2017): Jurnal Teknologi Kedirgantaraan
Publisher : FTK UNSURYA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35894/jtk.v2i1.200

Abstract

Mengacu pada defect report terdapat beberapa kasus kerusakan komponen Auxiliary Power Unit (APU). Salah satu komponen APU yang rusak adalah exciter. Exciter adalah salah satu bagian dari generator yang berfungsi sebagai penguat arus listrik. Banyak faktor yang menyebabkan kerusakan exciter sehingga banyak cara yang dilakukan untuk pencegahannya. Metode yang digunakan untuk mencari kemungkinan penyebab kerusakan dan persentase dari faktor penyebab kerusakan tersebut dengan menggunakan metode Fault Tree Analysis (FTA). Fault Tree Analysis adalah suatu teknik yang digunakan untuk mengidentifikasi resiko yang berperan terhadap terjadinya kegagalan. Metode ini dilakukan dengan pendekatan yang bersifat top down, yang diawali dengan asumsi kegagalan atau kerugian dari kejadian puncak (Top Event) kemudian merinci sebab-sebab suatu Top Event sampai pada suatu kegagalan dasar (root cause). Hasilnya adalah terdapat 10 faktor penyebab kerusakan dengan metode analisa kualitatif dan mendapat angka 0,364 kemungkinan terjadinya dengan metode analisa kuantitatif.
Rancang Bangun Alat Pencuci untuk Kompresor Mesin Arriel 1S1 pada Helikopter Sikorsky S-76 Di PT. XYZ Silalahi, Sanggam Tuani; Tri Susilo; Aprilia Sakti K
Jurnal Teknologi Kedirgantaraan Vol 2 No 1 (2017): Jurnal Teknologi Kedirgantaraan
Publisher : FTK UNSURYA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35894/jtk.v2i1.201

Abstract

Sebagai perusahaan penyewaan helikopter, PT. XYZ diwajibkan melaksanakana positioning flight ke berbagai tempat/ bandar udara. Mayoritas konsumen PT. XYZ adalah perusahaan yang bergerak di bidang industri minyak bumi dan gas yang beroperasi di remote area. Dalam melaksanakan positioning flight ke remote area memerlukan waktu beberapa hari karena jarak yang jauh dan daya jelajah yang terbatas dari helikopter Sikorsky S-76 dan juga melewati atmosfir korosif. Pada panduan perawatan mesin Arriel 1S1, jika mesin beroperasi di kondisi atmosfir korosif diharuskan melaksanakan perawatan rinsing pada mesin setelah penerbangan terakhir pada hari tersebut. PT. XYZ harus mempersiapkan alat pencuci kompresor untuk mesin dibeberapa bandar udara tempat helikopter bermalam. Hal ini menyebabkan biaya tambahan untuk penyewaaan maupun pengiriman alat tersebut. Tujuan dirancangnya alat pencuci untuk kompresor mesin adalah: untuk mengurangi biaya tambahan penerbangan dari penyediaan alat tersebut. Hasil perhitungan: dibutuhkan tangki stainless steel 304 dengan ketebalan 1,5 mm, pipa flexible PVC dengan ketebalan 2,75 mm dan pompa torak diaphragm (memiliki kemampuan self-priming) dengan daya 60 watt (12 vdc, 5 A)   – As a air charter company, PT. XYZ required to carry out positioning flights to different places/ airports. The majority of PT. XYZ consumers are oil and gas company which operating in remote areas. Performing positioning flight to the remote areas take several days because of the distance, Sikorsky S-76 helicopter endurance and also passes the saline atmosphere. In the Arriel 1S1 engine maintenance manual, if the engine is operated in a saline atmosphere required to carry out engine rinsing  after the last flight of the day. PT. XYZ must prepare engine compressor washer in some airports where the helicopter remain overnight. This leads to additional costs for rent and delivery of the equipment. The purpose of designed engine compressor washer are: to reduce the additional costs from the provision of the equipment. The results of calculations: it needs stainless steel 304 tank with a thickness of 1.5 mm, flexible PVC pipe with a thickness of 2.75 mm and the piston diaphragm pump (has the ability to self-priming) with a power of 60 watts (12 vdc, 5 A)
Analisis Karakteristik Aerodinamika Terhadap Kinerja Sayap Pesawat yang Menggunakan Winglet dengan Variasi Cant Angle Bismil Rabeta
Jurnal Teknologi Kedirgantaraan Vol 2 No 1 (2017): Jurnal Teknologi Kedirgantaraan
Publisher : FTK UNSURYA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35894/jtk.v2i1.202

Abstract

Performa pesawat terbang sangat dipengaruhi oleh induce drag yang diakibatkan oleh vortex diujung sayap (wingtip vortices). Winglet merupakan sebuah komponen vertikal yang memiliki sudut perpanjangan pada bagian wingtips, yang berfungsi untuk meminimalisir pembentukan vortex dengan tujuan untuk meningkatkan efisiensi bahan bakar (fuel). Pada penelitian ini dilakukan perhitungan dengan menggunakan analisis computational fluid dynamics (CFD) yang dilakukan pada prototipe sayap persegi panjang (rectangular wing)  dengan dan tanpa menggunakan winglet dari NACA 653-218. Tujuan dari analisis ini untuk membandingkan karakteristik aerodinamika dan menyelidiki performa dari winglet dengan cant angle 0°, 30°, 45°dan 60°dengan variasi sudut serang (Angle of Attack). Simulasi CFD ini dilakukan pada kecepatan aliran udara subsonik 35 m/s dengan menggunakan perangkat lunak Solid ANSYS CFX Solver yang menggunakan metoda volume berhingga (finite volume method). Karakteristik aerodinamika dari koefisien gaya angkat (CL), koefisien gaya hambat (CD) dan rasio gaya angkat terhadap gaya hambat, L/D (Lift to drag ratio) dibandingkan dalam penelitian ini. Hasil penelitian menyatakan bahwa setiap kenaikan AOA dengan konfigurasi cant angle winglet yang bervariasi memiliki nilai performa CL, CD dan L/D yang berbeda, yang dapat disimpulkan bahwa winglet yang tetap tidak memberikan performa yang optimum pada kondisi penerbangan yang berbeda   Aircraft performance is highly affected by induced drag caused by wingtip vortices. Winglets, referred to as vertical or angled extensions at aircraft wingtips, are used to minimise vortices formation to improve fuel efficiency. This paper describes a Computational Fluid Dynamics (CFD) analysis, performed on a rectangular wing prototype (with and without winglet) of NACA 653-218 aerofoil section. The objectives of the analysis were to compare the aerodynamic characteristics and to investigate the performance of winglet at cant angles 0°, 30°, 45° and 60° at various angles of attack (AOA). The CFD simulations were performed at low subsonic flow speed at 35 m/s with in ANSYS CFX solver using Finite Volume Method. Spalart – Allmaras turbulence model and 3-dimensional unstructured tetrahedral mesh were used to compute the flow around the model. The aerodynamic characteristics of lift coefficient (CL), drag coefficient (CD) and lift-to-drag ratio (L/D) were compared and it was found that each winglet configuration at a particular AOA had different CL, CD and L/D values, indicating that fixed winglets do not provide optimum aircraft performance at different phases of flight.
Studi Thrust Reverser Illuminate Problem pada Pesawat Boeing 737 – NG dengan Menggunakan Metode Fault Tree Analysis Suwendi; Tri Susilo; Aprilia Sakti K
Jurnal Teknologi Kedirgantaraan Vol 2 No 1 (2017): Jurnal Teknologi Kedirgantaraan
Publisher : FTK UNSURYA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35894/jtk.v2i1.203

Abstract

Thrust reverser adalah sistem pembalik gaya dorong, yang berfungsi pada proses pengereman saat pesawat terbang mendarat. Penelitian ini membahas mengenai Thrust Reverser Illuminate Problem pada Pesawat Boeing 737 – NG dengan sistem propulsinya berupa mesin jenis turbofan CFM 57 – 7 menggunakan Metode Fault Tree Analysis (FTA). Hasil analisa kualitatif dengan top event yaitu Thrust Reverser Illuminate Problem adalah top event terjadi jika kejadian Kerusakan Relay, Internal Damage sync shaft, sync shaft Tersumbat, Lightning Strike, Kerusakan Proximity Sensor, Wire Failure, Switch Fails Opened, Loose Part, Parts Failure, Defective O-ring Packings, Defective rings, Improper Matching of Slide and Sleeve, Excessive clearance between slide and sleeve, Foreign material in internal passage, Leakage, Defective Spring, , Not Rigged Correctly at Installation sync shaft, Switch terbuka secara tidak tepat terjadi. Penyebabnya bisa salah satu dari kejadian tersebut, sehingga perbaikan dapat dilakukan secara terstruktur pada komponen tersebut. Hasil analisis kuantitatif adalah probabilitas munculnya kejadian Thrust Reverser Illuminate Problem sebesar 0,019734.    
Pengaruh Load Compressor Tip Clearance (T) Terhadap Performa APU GTCP 131-9B Berdasarkan Korelasi Pearson Ganjar Muhammad Nur; Tri Susilo; Endah Yuniarti
Jurnal Teknologi Kedirgantaraan Vol 2 No 1 (2017): Jurnal Teknologi Kedirgantaraan
Publisher : FTK UNSURYA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35894/jtk.v2i1.204

Abstract

Performa suatu APU ditunjukkan pada beberapa parameter, diantaranya exhaust gas temperature (EGT), fuel consumption dan bleed air. Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi nilai performa APU adalah load compressor tip clearance (T), yang merupakan jarak antara driven compressor rotor dengan driven centrifugal compressor case. Faktor ini dapat berpengaruh kepada kualitas dari bleed air yang dihasilkan dari APU tersebut. Apabila parameter dari bleed air, yaitu: air pressure, air flow, dan air temperature masuk limit maka electronic control unit (ECU) akan mengatur untuk mempertahankan APU bekerja dalam kondisi tersebut, namun apabila nilai dari parameter bleed air tersebut tidak mencukupi maka ECU akan menambah fuel consumption sehingga EGT menjadi lebih tinggi. Apabila EGT tinggi dan mendekati limit maka performa dari APU tersebut dapat dikatakan buruk. Sehingga pada penelitian ini akan diteliti korelasi antara load compressor tip clearance (T) terhadap performa aktual APU 131-9B. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode korelasi Pearson yaitu dengan cara membandingkan nilai dari load compressor tip clearance (T) pada masing-masing APU terhadap hasil performa aktualnya. Dalam pengolahan data diolah dengan bantuan software SPSS dan hasil korelasinya dinyatakan dalam koefisien korelasi. Hasil penelitian korelatif tersebut diperoleh kesimpulan bahwa dari lima paramenter performa APU, load compressor tip clearance (T) dapat berpengaruh signifikan pada dua parameter performa yaitu corrected bleed temperature (TBCOR) dan corrected fuel consumption (WFCOR).   APU performance could be shown by exhaust gas temperature (EGT), fuel consumption and bleed air. One of influence factor the APU performance is load compressor tip clearance (T) known as clearance between driven compressor rotors with driven centrifugal compressor case. It clearance is suspected having influence to quality of bleed air which produced by APU. If parameters of bleed air, eg: air pressure, air flow, and air temperature, are in limit range then electronic control unit (ECU) will be govern and maintain APU on that condition. However, if bleed air parameter is not within limit then ECU will govern in order to add fuel consumption so that EGT goes to high. If EGT is high and approach the limit then APU performance could said as poor quality. Therefore on this research will be examined the correlation between load compressor tip clearance (T) towards its actual performance on APU GTCP 131-9B. The method used on the research is Pearson correlation method which comparing value of load compressor tip clearance (T) to its performance. In the processing of data, the data processed by SPSS software and correlation results expressed in the correlation coefficient. The conclusion of this correlative research is that from five existing APU performance parameters, load compressor tip clearance (T) could affect significantly towards two performance parameters. Those two parameters are corrected bleed temperature (TBCOR) and corrected fuel consumption (WFCOR).
Analisis Perbandingan dan Model Ideal Cargo Compartment Pada Delapan Pesawat Penumpang Wide Body dan Prospek Muatan Kargonya Sopyan Gigih Nugraha; Freddy Franciscus; Endah Yuniarti
Jurnal Teknologi Kedirgantaraan Vol 2 No 2 (2017): Jurnal Teknologi Kedirgantaraan
Publisher : FTK UNSURYA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35894/jtk.v2i2.205

Abstract

Pengangkutan dan pengiriman kargo dengan pesawat udara, didasarkan pada kemampuan daya angkut pesawat (payload), ruang kargo di dalam pesawat, ukuran pintu pesawat dan maximum floor load. Maka, penerimaan kargo harus memperhatikan isi di dalam kargo yang akan dikirim (content), berat kargo (weight), ukuran (dimension) dan pembungkus (packing). Terdapat beberapa tipe pesawat pengangkut kargo, salah satunya pallet kargo yang mengangkut penumpang dan kargo, dimana pallet kargo memanfaatkan space dari pesawat untuk mengangkut kargo. Jurnal ini dibuat untuk mempelajari dan membandingkan cargo compartment (ruang kargo) pada pesawat wide body sehingga diketahui pemanfaatan maksimum berdasarkan volume dan berat kargo yang dapat diangkut. Metode yang digunakan adalah perbandingan data spesifikasi dari dimensi,  kapasitas ruang kargo dan perhitungan load factor. Load factor adalah besaran yang menyatakan tingkat kepadatan jumlah penumpang pesawat pada sekali perjalanan. Hasil dari analisa perbandingan diperoleh kesimpulan bahwa pesawat yang ideal untuk mengoptimalkan pengangkutan kargo adalah pesawat B777-300 dan B787-800. Pesawat B777-300 memiliki cargo weight sebesar 76,656 kg dan cargo volume sebesar 265 m3, sedangkan B787-800 pesawat yang paling ideal untuk substitusi pax kosong menjadi muatan kargo karena memiliki selisih harga substitusi paling kecil yaitu sebesar 2,881 USD. Transport and delivery of cargo by airplane is based on the ability of aircraft (payload), cargo space in the aircraft, the size of the aircraft doors and maximum floor load. Then, receiving cargo pay attention to the contents inside the cargo to be sent (contents), weight of cargo (weights), size (dimension) and wrapping (packing). There are several types of cargo carrying aircraft, One of them pallet cargo is carrying passengers and cargo, Where a cargo pallet utilizes the space from aircraft to carrying cargo. This journal was created to study and compare the cargo compartment on wide body aircraft so that the maximum utilization of known based on volume and weight of cargo can be carrying. The method used is the comparative analysis of the data specification of dimensions, cargo space and capacity calculation of load factor. Load factor is the magnitude of the declared level of density the number of passenger aircraft in a single flight. A comparative analysis of the results obtained to the conclusion that the ideal aircraft to optimize the transport of cargo is a B777-300 and B787-800. B777-300 aircraft have a cargo weight of 76,656 Kg and cargo volume of 265 m3, while B787-800 aircraft is most ideal for substitution of empty pax becomes cargo as it has a very small substitution price difference that is of 2,881 USD.

Page 10 of 17 | Total Record : 166